Raden Mandasia

“Anjing betul!”

Setiap kali menonton Game of Thrones, saya tak pernah berhenti berpikir kalo seharusnya ada kisah asli Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan kuno yang bisa dibikin sekeren ini. Intrik-intrik dari khasanah kearifan lokal Nusantara di era Majapahit atau Singosari mestinya gak kalah menarik dibandingkan kisah-kisah dari Westeros dan Essos. Kisah tragis Perang Bubat seharusnya bisa dibikin seciamik Red Wedding misalnya. Juga peristiwa yang menyusul pemotongan telinga utusan Kubilai Khan oleh Kertanegara. Atau mungkin cerita tentang Ken Arok dan Ken Dedes yang bikin geger. Asal dikemas dengan baik, gak kayak sinetron-sinetron laga Indosiar, rasanya bisa membuat masyarakat kembali dekat dengan cerita-cerita era kerajaan kuno Nusantara seperti ketika Saur Sepuh dan Tutur Tinular berjaya.

Tapi mungkin sudah takdirnya di Indonesia kalo yang tadinya keren di medium lain, begitu diangkat ke layar lebar/kaca hasil adaptasinya menjadi gak sebanding dengan ekspektasi awal. Saur Sepuh dan Tutur Tinular pun sebenarnya melegenda lebih pada bentuk aslinya sebagai sandiwara radio. Begitu diangkat ke layar lebar, meskipun tetap populer, namun yang paling diingat adalah rajawali tunggangan Brama Kumbara yang letoy dan bentuknya gak karuan serta adegan pertarungan one-on-one yang banyak bertaburan bubuk-bubuk putih. Juga demikian dengan Wiro Sableng, misalnya, yang lebih memikat dalam bentuknya sebagai novel silat. Eksekusi selalu menjadi PR besar di sini, yang masalahnya cukup kompleks meliputi modal yang cekak, selera produser yang ala kadarnya, sampe kemampuan penulis skenario + sutradaranya sendiri yang memang semenjana. Mimpi untuk menyaksikan TV series sehandal Game of Thrones (yang sebenernya juga hasil adaptasi dari novel) hasil karya anak bangsa pun tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika dikerjakan oleh sineas-sineas di Hollywood sana (itu pun kalau mereka tertarik).

Jika ada karya seni kontemporer Indonesia yang mengambil latar era kerajaan-kerajaan kuno Nusantara yang layak untuk diadaptasi menjadi film/series oleh studio besar Hollywood, maka saya menominasikan buku Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi untuk mendapat kehormatan tersebut. Novel (sang penulis, Yusi Avianto Pareanom, lebih suka merujuknya sebagai dongeng) setebal 448 halaman ini amat sangat layak untuk dijadikan suguhan visual yang epic. Tanpa diangkat ke layar lebar/kaca pun sebenarnya pengalaman membaca Raden Mandasia terasa tak ubahnya seperti sedang menonton sebuah tontonan yang dikemas dengan apik. Menegangkan dan penuh detail.

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah menuju Gerbang Agung

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah perjalanan menuju Gerbang Agung

Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum mulai membaca buku ini adalah.. jangan terkecoh dengan judulnya! :)) Judulnya memang “Raden Mandasia”, tapi yang menjadi tokoh utama sekaligus penutur kisah dalam dongeng ini adalah (Raden) Sungu Lembu, seorang ‘pelarian’ dari Banjaran Waru yang memiliki dendam kesumat terhadap Lord Watugunung, King of the Andals and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm Gilingwesi, kerajaan paling adikuasa pada zamannya. Bisa dibilang kisah dalam buku ini mirip dengan film Kill Bill, di mana Sungu Lembu bertindak sebagai Uma Thurman yang sedang menunaikan misi untuk membalaskan dendamnya. Perjalanan berliku untuk menuntaskan dendamnya ini yang bikin menarik, salah satunya adalah karena Raden Mandasia, si teman seperjalanan Sungu Lembu, tak lain dan tak bukan adalah salah satu anak dari Watugunung. Bukan, ini bukan spoiler, karena informasi tentang hal ini akan segera dijumpai di awal kisah.

IMG_20160422_110446661

Salah satu bab terpanjang dalam Raden Mandasia

Alur cerita dalam Raden Mandasia enak banget buat diikutin. Flashback cuma sesekali, sisanya berjalan secara linear dengan sedikit twist minor di akhir cerita. Mengundang untuk terus membuka halaman demi halaman hingga tak terasa semua sudah tuntas dibaca. Saya cuma membutuhkan waktu 3 hari buat menyelesaikan buku ini. Itu pun karena lebih banyak dihabiskan untuk tersesat di belantara internet sehabis googling beberapa kosakata baru yang saya temui di sini serta beberapa hal menarik lainnya, seperti macam-macam racun organik, anatomi perahu tradisional, silsilah raja-raja Jawa, peta daerah kekuasaan Majapahit vs Mataram, sampe yang ini:

Sumpah, kalian pasti juga bakal penasaran sama hal ini :)

Sumpah, ini ada di buku. Pasti juga bakal penasaran (dan dibikin ngiler) sama  ini :) (Pic from hovenfarms.com)

Hal menyenangkan lainnya dalam Raden Mandasia adalah karena konsepnya sebagai ‘dongeng’ yang membuat sang penulis leluasa seenak hati mencampuraduk berbagai tokoh/latar/setting ke dalam cerita. Beberapa kali saya sibuk menerka-nerka padanan lokasi-lokasi yang menjadi setting di Raden Mandasia dengan ‘lokasi beneran’nya. Seperti apakah Gilingwesi itu adalah Majapahit, Gerbang Agung terletak di Baghdad, Banjaran Waru = Gresik/Surabaya, Goparashtra = Gujarat, hingga apakah Kelapa = Sunda Kelapa/Batavia (well, this one is quite obvious). Beberapa nama, seperti Negeri Atas Angin, sudah pernah digunakan di Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sehingga tidak sulit diidentifikasi. Lainnya seperti Swarnadwipa dan Barunai juga mudah dikenali karena telah umum digunakan. Akibat latar waktu yang tak jelas, hingga hampir separuh jalan membaca pun saya masih belum yakin apakah Gilingwesi itu merujuk pada Sriwijaya, Majapahit, atau Mataram (pengetahuan sejarah saya masih secetek itu). Tidak seperti kisah-kisah tentang kerajaan kuno Nusantara lainnya, di Raden Mandasia latarnya juga tidak hanya seputar wilayah kerajaan atau Nusantara, tapi juga menyeberang lautan hingga ke kerajaan-kerajaan mancanegara. Raden Mandasia dan Sungu Lembu itu traveler sejati yang melampaui zamannya. They were backpackers before it was cool. Even Sungu Lembu was a travel blogger :D Dan adakah kisah yang lebih menarik dari petualangan di negeri asing berikut interaksinya dengan warga setempat?

Seperti halnya Game of Thrones, Raden Mandasia juga bercerita tentang perang. Perang besar yang melibatkan dua kerajaan besar dengan strategi perang yang paling advanced pada masanya dan deskripsi jatuhnya korban yang bikin ngilu. Selain itu, kesamaan keduanya  juga terletak pada melimpahnya adegan-adegan yang untuk ukuran moral adiluhung yang dianut mayoritas masyarakat NKRI sekarang tentunya akan dianggap sebagai tindakan amoral nan dimurkai Allah: sex-violence-alcohol-LGBT-swear words. A lot of swear words. Sungu Lembu sangat gemar mengumpat, dan umpatannya kadang bukan jenis umpatan yang umum dijumpai sekarang (dan ternyata mengumpat itu memang enak. Anjing memang :)))

Raden Mandasia mengubah persepsi kalo cerita-cerita sejenis harus selalu menggunakan kosakata-kosakata yang tergolong mainstream di genrenya, seperti “kisanak” (sebagai sapaan), “depa” (untuk menggambarkan jarak), “bedebah” (untuk mengumpat), dan “Ciattt!!” (oke, ini hanya cocok digunakan oleh Mantili atau Arya Kamandanu). Jika ada satu hal yang mengganggu dalam membaca buku ini adalah ketika penulis menyelipkan kata seasing “mezzanine” ketika menggambarkan suatu tempat di rumah dadu Nyai Manggis. Seharusnya ada kosakata yang lebih tepat sekaligus lebih membumi untuk menggambarkannya agar bisa lebih nge-blend dengan keseluruhan tulisan yang banyak menggunakan kosakata-kosakata ‘ajaib’ yang ternyata ada di KBBI. Tapi ya cuma itu. Paling kekurangan lainnya hanya minimnya ketersediaan buku ini di jaringan toko buku konvensional karena sepertinya hanya diedarkan secara independen (saya pun dapetnya beli online). Yang pasti, Raden Mandasia memberikan satu lagi motivasi untuk lebih giat bikin postingan di blog, karena seperti yang dibilang Loki Tua ke Sungu Lembu:

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih.

Ah, ternyata ia tak hanya piawai memasak babi panggang utuh :)

The Big Short (2015)

Saya membayangkan skenario begini:

Tahun 1995. Tepat 50 tahun perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Optimisme publik sedang tinggi-tingginya. Indonesia digadang-gadang akan segera lepas landas menjadi negara maju. Semua berkat jasa sang Bapak Pembangunan yang berhasil menciptakan kondisi politik dan perekonomian yang stabil. Tingkat inflasi rendah, pertumbuhan PDB terus meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap USD stabil di kisaran Rp 2000/dollar. Semua terlihat sempurna. Tapi saya tidak melihat demikian. Saya yakin betul di balik semua kecemerlangan ini ada sisi busuk yang ditutup-tutupi. Korupsi-kolusi-nepotisme merajalela di setiap lapis pemerintahan, sistem perbankan yang rapuh, kendali moneter yang lemah, dan seterusnya. Tapi tidak ada yang berani bersuara karena ancamannya adalah hilangnya nyawa. Kondisi ideal ini pasti tidak akan bertahan lama. Saya mulai berpikir untuk mencari aman sekaligus meraup keuntungan bagi diri sendiri. Maka mulailah saya menimbun dollar dengan setiap rupiah yang saya punya, meskipun pasti ditertawakan karena apa untungnya investasi valas macam itu di saat kondisi perekonomian yang sebegini stabil. Tetapi bodo amat. Saya yakin dollar adalah pegangan paling aman, di saat stabil maupun krisis. Agak berbau spekulasi memang, tapi, sekali lagi, bodo amat. Dan dua tahun kemudian terbukti. 16 bank nasional dilikuidasi. Kepercayaan publik terhempas ke level terendah. Nilai tukar rupiah terhadap USD turun drastis hingga menyentuh Rp 17.000/dollar. Inflasi merajalela. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena PHK massal dan kaburnya investor asing ke luar negeri. Negara chaos, nyaris di ambang bubar. Tapi saya tetap aman. Bahkan lebih dari itu: kekayaan saya melonjak tak terhingga. Aset saya meningkat nyaris 800% akibat depresiasi rupiah. Kasarnya saya ini sedang tertawa di atas penderitaan banyak orang: saudara sebangsa sendiri, di negara sendiri yang nyaris kolaps. Tapi peduli setan. “That’s how capitalism works,” ujar saya dalam hati. Salah sendiri tidak sigap menangkap peluang dan dengan mudahnya dibuai kenyamanan semu.

Kurang lebih pesan itu yang coba disampaikan film The Big Short (meskipun analogi yang saya gunakan mungkin kelewat sederhana). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini mengambil latar belakang krisis ekonomi global yang bermula dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat. Mengambil cerita dari tiga sudut pandang berbeda, The Big Short mencoba mengulas beberapa orang yang cukup jeli melihat rapuhnya pondasi sistem finansial di AS akibat pemberian kredit yang dilakukan dengan serampangan, dan mengambil untung besar dari kondisi tersebut. Meskipun itu berarti mereka harus bersenang-senang di atas derita orang banyak.

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Christian Bale berperan sebagai Dr. Michael Burry, seorang ilmuwan fisika berjiwa metal yang banting setir jadi fund manager di perusahaan Scion Capital dan menjadi yang pertama mengendus bobroknya sistem financing kredit kepemilikan rumah di AS. Steve Carell menjadi Mark Baum, bos FrontPoint Capital, yang bekerja sama dengan Jared Vennett (Ryan Gosling), account officer Deutsche Bank, yang terinspirasi dari tindakan Burry dan mencoba berkolaborasi bersama Baum untuk meraup untung besar dari kondisi ini. Brad Pitt berperan sebagai pensiunan bankir Ben Rickert yang menjadi mentor bagi 2 manajer investasi kecil amatiran yang juga mencoba mendapat benefit dari kebobrokan yang tak diketahui orang banyak ini. Timeline ketiganya tidak saling berkait namun punya kesamaan: semua menjadi bahan cibiran, olok-olok, dan cemoohan ketika melontarkan ide bahwa sistem finansial AS ternyata dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh, yang sarat dengan fraud dan tipu-tipu.

Bagi yang kurang familiar dengan dunia perbankan dan finansial (atau kurang paham bagaimana dahsyatnya krisis ekonomi global 2008), mungkin film ini akan sangat memusingkan (dan super membosankan). Masalahnya, penyebab krisis yang bermula di AS itu bukan berasal dari mismanajemen produk-produk investasi konvensional, tapi udah level turunan (derivatives) dari produk-produk tersebut. Bahkan derivatives-nya bukan cuma satu tingkat, tapi dua tingkat dari produk sesungguhnya. Saya aja ga yakin produk-produk investasi semacam itu udah ada di Indonesia apa belum karena saking njelimetnya (di sini mah ngejelasin unit link atau reksadana itu makhluk sejenis apa aja udah ribet, apalagi investasi derivatives kek gini?) Begitu banyak jargon-jargon ‘ajaib’ di film ini, kayak sub-prime mortgage, collateralized debt obligation (CDO), dan credit default swap,  yang terkadang harus mengundang beberapa figur terkenal untuk menjelaskan versi sederhananya dengan analogi-analogi yang bisa diterima akal sehat (atau bisa juga membaca artikel TIME ini untuk jadi bekal sebelum menonton). Tapi secara keseluruhan film ini asik sih, gaya pengambilan gambarnya ala-ala mockumentary yang bergerak dinamis. Pun demikian dengan tingkah para aktornya yang sesekali mendobrak dimensi keempat dengan berbicara kepada penonton. Juga sedikit bumbu-bumbu komedi yang cukup menghibur di sela-sela keseriusan. Film ini juga tentunya bebas spoiler karena berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi sehingga udah ketebak endingnya bakal kayak gimana.

Dalam film Capitalism: A Love Story, Michael Moore pernah bilang kalau berkat instrumen investasi berupa derivatives, saat ini Wall Street bukan lagi sekadar bursa saham, tapi lebih berupa kasino raksasa tempat para fund manager berjudi menggunakan dana masyarakat di produk-produk yang terlihat prospektif tapi artifisial, tanpa menghiraukan dampak negatif perilaku tersebut pada perekonomian secara keseluruhan. “Greed is good”. Rasanya semua orang yang penghasilannya terkait dengan aktivitas di Wall Street setuju dengan kredo tersebut. Namun di film Big Short ini, diperlihatkan bahwa juga terdapat pertentangan batin yang dialami para pemeran utama. Di satu sisi mereka sangat mengharapkan aksi nekad mereka untuk mempertaruhkan modal dengan jumlah begitu besar untuk peristiwa yang ketika itu dianggap probabilitasnya nol dapat berbuah manis, namun di sisi lain mereka paham bahwa pengetahuan dini mereka akan bobroknya sistem finansial AS seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya resesi besar-besaran di kemudian hari. Ini terlihat jelas dalam salah satu dialog ketika Rickert ilfil melihat dua orang ‘anak asuh’ nya kegirangan ketika membayangkan untung besar yang akan diraih jika analisis dan prediksi mereka menemui kenyataan:

If we’re right, people lose homes. People lose jobs. People lose retirement savings, people lose pensions. You know what I hate about fucking banking? It reduces people to numbers. Here’s a number – every 1% unemployment goes up, 40,000 people die, did you know that?

The Big Short meraih nominasi Oscar 2016 untuk film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor pendukung terbaik untuk Christian Bale dalam perannya sebagai Dr. Michael Burry. Padahal kalo menurut saya Steve Carell juga berhak (atau malah lebih pantas) dinominasikan untuk penghargaan tersebut. Berperan sebagai Mark Baum, si bos yang emosian, Carell rasanya mampu mengubah umpatan orang “Ni orang cepet-cepet mati kek” menjadi rasa simpati selama berjalannya film, terutama ketika ia mulai terjun langsung menginvestigasi berbagai tindakan curang dan penuh keseleboran yang dilakukan pihak perbankan dalam mengucurkan kredit dan rating agencies dalam memeringkat tingkat keamanan berinvestasi. Instrumen investasi yang selama ini disebut-sebut sebagai pilihan teraman ternyata luar biasa busuknya dan sangat berpotensi menjerumuskan banyak orang menjadi jatuh miskin dan kehilangan tempat tinggal. Kebenaran yang terlambat untuk terkuak dan terlanjur menimbulkan banyak korban.
“Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry.”

Sanctuary

Karena saya orangnya bukan otaku-otaku banget, jumlah manga yang pernah saya tamatkan dengan membacanya di medium online bisa dihitung pake jari sebelah tangan. Tercatat cuma Death Note, Monster, sama Eyeshield 21 doang yang pernah dikhatamkan. Tentunya ini mengecualikan riwayat membaca komik-komik Jepang terbitan Elex Media Komputindo yang sudah lebih dulu bercokol di tanah air macam Doraemon, Kungfu Boy, Dragon Ball, dan teman-temannya. Kalo itu juga diitung, koleksi khataman cergam jejepangan saya otomatis bertambah. Tapi, teteup, bisa dihitung cukup dengan jari tangan sendiri (itu pun masih nyisa).

Manga online, terutama seri-seri populer masa kini kayak One Piece, Bleach, dan Naruto, buat saya kurang begitu menarik untuk diikuti karena gak tertarik sama ceritanya, sifat kejar tayangnya yang ‘memaksa’ untuk terus ngikutin, dan tentunya karena aksesnya yang semakin susah (terima kasih InternetPositif Kemenkominfo dan proxy internet kantor!). Nyari manga yang  enak dibaca lumayan susah karena mayoritas cerita-cerita di manga yang ada sekarang kurang memancing interest saya. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah rekomendasi dari teman atau para senpai berselera bagus yang bertebaran di dunia maya.

Syahdan, mata saya tertumbuk pada suatu rekomendasi singkat di Ask.fm (btw, ini platform socmed yang menghibur dan informatif banget *dengan catatan: mem-follow orang-orang yang tepat*, meskipun cuma bikin akun untuk jadi silent reader semata) tentang manga yang mengangkat isu sosial-politik. Tersebutlah satu judul: Sanctuary. Manga yang terbit pada awal dekade 1990-an ini mengambil kisah utama yang berlatar belakang dunia organisasi mafia underground Jepang (a.k.a. yakuza) dan dinamika sistem politik domestik Jepang. Rekomendasi singkat yang cukup memantik rasa penasaran dan, okenya lagi, manganya juga udah tamat jadi bisa dikhatamkan dengan segera tanpa harus nunggu-nunggu edisi terbaru.

Screenshot_2015-07-26-22-46-47

Adalah dua sahabat: Akira Hojo dan Chiaki Asami yang menjadi tokoh utama dalam manga ini. Keduanya menempuh jalan hidup yang berbeda: Hojo menjadi anggota yakuza dan Asami berkecimpung di dunia politik. Dalam manga ini dikisahkan bagaimana keduanya terus merangsek naik dalam ‘karir’nya masing-masing hingga menjadi the rising star. Hojo menjadi don (semacam kepala geng) yakuza wilayah Kanto (mencakup Tokyo dan sekitarnya), sedangkan Asami menjelma menjadi anggota diet (parlemen Jepang) muda yang karir politiknya moncer.

Pose menerawang ala pre wed

Hanya itu? Nggak dong tentunya… Banyak intrik yang terjadi dalam proses mobilitas vertikal tersebut, termasuk yang melibatkan love, sex (spoiler: a lot of sex scenes :D) and violence. Cukup wajar mengingat cerita dibangun seputar dunia organisasi kriminal bawah tanah dan dunia politik yang (katanya) kotor. Pewatakan yang dituangkan di manga ini tidaklah hitam-putih. Bahkan dua tokoh utamanya pun tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai karakter protagonis. Asami, misalnya. Kiprahnya di dunia politik mirip-mirip Frank Underwood di House of Cards. Licin, cerdik, lihai dalam berpolitik dan sedikit culas, semua mendukung peningkatan karirnya yang sangat mulus. Sedangkan karakter Hojo, yang tentunya bukan karakter ‘baik-baik’,  mampu mendekonstruksi sosok seorang kepala mafioso yang biasanya sangar dan ga enak diliat (hint: Hercules van Tenabang), juga dengan pemikirannya yang visioner dalam mengembangkan sebuah organisasi kriminal.

Para pemerhati sistem politik di negara lain (wabilkhusus Jepang) dijamin akan sangat menikmati Sanctuary. Gimana nggak, di sini bakal bisa lebih paham konstelasi ideologi dan kekuatan partai-partai utama Jepang, mekanisme suksesi pemerintahan parlementer di Jepang, perjuangan para kader partai untuk menjadi anggota Diet, dinamika koalisi untuk membentuk pemerintahan, hingga pengaruh lobbyist dan presssure groups (termasuk, tentunya, Yakuza) terhadap jalannya pemerintahan. Semacam paket komplit Japan Politics 101 yang dihadirkan dalam bentuk komik. Hal itu ditambah dengan kualitas grafis yang memukau, beda dengan komik-komik Jepang mainstream pada umumnya.

Dengan jumlah volume yang hanya belasan, dengan tiap volume berisi +/- 200 halaman, Sanctuary cocok untuk dikhatamkan dalam waktu singkat. Cerita yang lebih banyak berputar di dua tokoh utama (sehingga tidak memunculkan banyak karakter minor yang gak penting) rasanya juga mempermudah pembaca untuk menamatkan. Satu hal yang mungkin agak mengganggu hanya latar cerita komik yang terjadi di era awal 90-an sehingga tampilan dan kemasan tokoh-tokoh di Sanctuary ini macam di film Catatan Si Boy II atau Rini Tomboy yang…. yagitudeh. Selebihnya, gak ada kelemahan mendasar dari komik ini. Feelingnya seperti campuran antara nonton The Godfather dan The Departed (dan Lupus era Ryan Hidayat) #halah #teteup. Very recommended (if you have the same taste with me).

Whiplash (2014)

Selama ini saya selalu menganggap La Vita e Bella (Life Is Beautiful) (1997) sebagai film terbaik dalam urusan bercerita tentang father-son relation. Namun, Whiplash yang baru hari ini saya tonton (cukup telat memang) ternyata juga tidak kalah mengesankannya dibanding Life Is Beautiful. Bahkan bisa dibilang lebih: karena dalam Whiplash terdapat dua kisah father-son relation. Atau lebih tepatnya: satu kisah father-son relation dan satu kisah ‘father-son’ relation.

Cerita tentang pasang surut hubungan antara Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) dan ayah kandungnya memang hanya menjadi sub-plot di film ini, namun tidak menjadikannya sebagai alur cerita minor yang layak dilupakan. Kisah tentang bagaimana seorang ayah yang meskipun kurang sreg dengan pilihan hidup anaknya sebagai musisi namun selalu berusaha suportif di setiap kesempatan ini buat saya cukup menyentuh dan tak kalah memorable dibanding kisah Roberto Benigni dan anaknya yang menjadi cerita utama di Life Is Beautiful.

Namun tentu, yang menjadi pusat perhatian di film ini adalah bagaimana hubungan antara Andrew Neiman dan ‘ayah’-nya di lingkungan akademis, yaitu dosen musik super killer bernama Terrence Fletcher yang dimainkan dengan sempurna oleh J.K. Simmons. Simmons bahkan diganjar Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik berkat aktingnya di Whiplash ini. Sebuah penghargaan yang sangat sangat layak karena sejak akting Christoph Waltz sebagai Kolonel Hans Landa di Inglourious Basterds rasanya tidak ada lagi aktor pemeran pendukung film Hollywood yang berakting sebaik (dan sesadis) Simmons.

Pasang surut dalam hubungan antara Neiman dan Fletcher ini jauh lebih dinamis dan mendominasi dibandingkan Neiman dan ayah kandungnya sendiri. Bahkan, saking dinamisnya, nonton Whiplash berasa seperti nonton film thriller. Kebengisan Fletcher dalam memimpin band jazz andalan Shaffer Conservatory membuatnya menjadi villain utama dalam film dan musuh bersama para penonton. Bahkan ketika penonton seolah telah diajak percaya kalau seorang Fletcher telah tobat dari sifat iblisnya itu, ia seakan membanting imaji tersebut untuk hancur berkeping-keping di penghujung film. *ups spoiler :p*

Sebagai suatu tontonan yang berlabel nomine Film Terbaik Oscar, Whiplash tergolong cukup ringan dan sangat mudah dinikmati, bahkan untuk orang yang buta nada sekalipun (kayak saya huhuhu). Menonton Whiplash mungkin sensasinya akan sama kayak mennton Tabula Rasa: meningkatkan kembali awareness dan sensitivitas kita terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang “sehari-hari” dan biasa banget. Jika di Tabula Rasa objeknya adalah masakan (Padang), di Whiplash objeknya adalah musik (jazz). Minimal persepsi saya bahwa lagu jazz itu tak lebih cuma sebuah hasil dari suatu jam session yang tak terstruktur dan lebih mengandalkan spontanitas kini jadi termentahkan. Jazz itu ternyata (sangat) serius! Setiap alat musik memiliki peran besarnya masing-masing dalam membangun struktur sebuah lagu, dan drummer, bapak ibu sekalian, drummer itu perannya juga sangat penting dalam mengisi rhythm. Dan solo drum itu ternyata bisa seciamik permainan solo guitar yang udah kadung mainstream, seperti yang ditunjukkan si Andrew di 10 menit terakhir film (yang sukses membuat satu teater hening sesenyap-senyapnya). Mungkin karena selama ini cuma pernah denger permainan solo drumnya Jelly Tobing (jiaah #lawas..) yang rada old-school haha. Pokoknya pas keluar dari teater pasti bawaannya langsung jadi audiophile wannabe gitu hahaha

*sembah*

Whiplash mungkin akan jadi satu-satunya film musikal favorit saya. Selama ini genre tersebut seakan terlalu didominasi dan diidentikkan dengan film-film seperti Moulin Rouge, Chicago, atau Dreamgirls yang sama sekali gak menarik minat saya buat ditonton. Sempat ada film-film macam August Rush atau School of Rock, tapi belum ada yang eksekusinya sekeren (dan sesederhana) Whiplash ini. Basian nonton Whiplash mungkin juga bakal sama layaknya basian nonton Guardians of the Galaxy: langsung menjadikan lagu-lagu dalam OST film tersebut sebagai playlist utama untuk minimal seminggu ke depan :)) Mungkin jika ada satu-satunya kekurangan Whiplash adalah seperti yang telah tersebut dalam ulasan yang terpajang di poster resmi film ini: “Whiplash’ will have audience cheering and begging for an encore“. Yep, an encore would be perfect to bring an end to this movie *kentang sih, semacam coitus interruptus* :))  Selebihnya gak ada kekurangan dari Whiplash. 4.5/5. Very recommended.

P.S.: Satu quote dari Terrence Fletcher di dalam film ini nampaknya akan menjadi salah satu quote film legendaris. Sayangnya, quote yang kalo direnungi memang layak mendapat pembenaran itu otomatis membuat alm. Pak Tino Sidin seolah jadi the biggest asshole in the world huhu.

Semua Untuk Hindia

Semua Untuk Hindia adalah pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (d/h Khatulistiwa Literary Award) 2014 untuk kategori prosa. Prestasi ini menyejajarkan karya ini dengan beberapa pemenang sebelumnya, seperti Pulang-nya Leila S. Chudori dan Bilangan Fu milik Ayu Utami. Yang membedakan Semua Untuk Hindia dengan beberapa pendahulunya yang telah populer adalah bentuknya: buku ini merupakan kumpulan cerpen, bukan sebuah novel.

Semua untuk koloni Kerajaan Belanda di Nusantara

Semua untuk koloni Kerajaan Belanda di Nusantara

Iksaka Banu, sang penulis buku ini, bertutur dalam 13 cerita pendek yang (hampir) semuanya menggunakan sudut pandang orang Belanda/setengah Belanda yang sedang berada di Hindia Timur. Sebuah tantangan tersendiri bagi seorang penulis pribumi untuk menuliskan penokohan yang bukan berasal dari budayanya (dan juga zamannya) sendiri. Tapi Iksaka Banu mampu melakukannya dengan baik, dan hasilnya cukup mengesankan.

Sebagian dari cerpen-cerpen yang ada di Semua Untuk Hindia pernah dimuat di Koran Tempo edisi hari Minggu. Itulah mengapa ada beberapa tulisan yang familiar bagi saya. Terasa deja vu malah, karena sebelumnya ternyata pernah saya baca dan waktu itu membuat terkagum-kagum. Yang paling diingat adalah Penunjuk Jalan, kisah seorang juru medis Kerajaan Belanda yang diutus ke Batavia yang bertemu dengan sang “Pangeran Kebatinan” yang merupakan salah satu tokoh sejarah perjuangan lokal (i’m trying not to give spoiler here, hehe), dan Di Ujung Belati karena kehadiran “Tuan Besar Guntur” (again, no spoiler given :p but he’s quite a famous figure tho) dalam cerita.

Beberapa momen historis dalam perjalanan sejarah bangsa dapat ditemui sebagai latar dalam cerita-cerita yang ada di buku ini. Beberapa malah jadi bagian inheren dalam cerita seperti pengasingan Pangeran Diponegoro setelah ‘tertangkap’ di Pollux, pembantaian warga Tionghoa di Batavia di Mawar di Kanal Macan, Puputan Margarana di Semua Untuk Hindia, hingga pemberontakan rakyat Banten di Tangan Ratu Adil. Namun, tidak semua tulisan di sini berangkat dari suatu peristiwa sejarah spesifik. Banyak juga yang terlepas dari kaitan suatu peristiwa historis seperti Racun Untuk Tuan, Gudang Nomor 12B, dan Keringat Dan Susu. Meskipun demikian, semuanya punya ciri yang sama: mampu berkisah dengan apik, meski singkat, tentang kondisi masyarakat pada masa itu dan fokusnya yang konsisten terhadap sisi humanis si tokoh utama, baik orang Belanda tulen maupun Indo-Peranakan.

Satu-satunya kelemahan (itu pun kalo bisa disebut kelemahan) buku ini adalah urutan berceritanya yang berjalan mundur: dari masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan di dekade 40-an hingga masa penjelajahan samudera menuju Nusantara oleh Cornelis de Houtman. Menurut saya akan lebih baik kalo ceritanya dimulai dari persentuhan pertama Belanda dengan Nusantara, baru dilanjut sampe akhir kekuasaan mereka di sini. Gaya yang mainstream memang, tapi mengingat cerita-cerita seru dalam buku ini lebih banyak yang terjadi di era keemasan VOC, rasanya itu lebih baik untuk membangun intimitas pembaca. *ini rada subjektif sih :p*

Satu lagi: seandainya aja buku ini dibikin dalam bentuk novel, tentunya akan jauh lebih menarik lagi :D Meskipun gak semua dari 13 cerpen ini potensial untuk dijadikan novel, tapi membayangkan adanya lanjutan cerita-cerita yang mendahului/mengakhiri fragmen-fragmen dalam Pollux, Racun Untuk Tuan, Penabur Benih, maupun Semua Untuk Hindia sendiri (those are my personal favourites btw) cukup buat saya untuk memastikan akan membelinya sekiranya ada :D

Untuk menyimpulkan: meskipun hanya setebal 153 halaman, dan mungkin akan habis dibaca dalam hitungan jam, bukan hari, buku ini sangat layak dibaca, terutama bagi pecinta dan pemerhati sejarah Indonesia jaman kolonial. Jika merasa berat membaca novel-novel bertema sejenis, buku ini dapat berperan sebagai appetizer yang menggugah selera.

Tentang Moto G

Ini sekadar review kecil-kecilan sih. Sebuah ulasan tentang produk yang belum genap seminggu ada di tangan saya: Motorola Moto G 16GB (insert hashtag: #riyaterselubung).

Hape ini dibeli secara online di Lazada, secara cuma mereka yang punya hak eksklusif untuk mengedarkan produk ini di Indonesia. Harga untuk yang 16GB sekitar Rp 2,2 juta (sudah termasuk PPN), sedangkan yang 8GB sekitar Rp 1,9 juta. Update terakhir dari websitenya: yang ready stock sekarang cuma yang 16GB. Ini free ongkir btw, jadi yang dibayarkan udah bersih sesuai harga bandrolnya. Bisa COD juga kalo masih ragu sama keamanan berbelanja online di situ. Cuma opsi itu gak saya pake karena gak punya duit cash sebanyak itu.. :)) *forza nyicil!*

Lazada membundling hape Moto G ini dengan kartu perdana Simpati yang konon bisa dapet internet gratis selama 6 bulan. Faktanya: promo itu hanya berlaku untuk nomor yang diaktivasi sebelum 31 Juli 2014. Jadi yang rencana mau beli sekarang ya… wassalam. :)) Keuntungannya jadi cuma dapet kartu perdana gratisan aja. Itu pun kalo mau dipake. Pengiriman barang sangat cepat. Order kamis malam, sabtu sudah terima barang. Dalam kemasan pengiriman, selain box Moto G beserta perabotan lenongnya (charger, earphone, dan buku manual), juga disertakan beberapa lembar brosur dan bonus tonik anti rambut rontok dari Clear (sungguh menarik untuk ditelaah korelasi antara pembelian produk hape dan bonus berupa produk perawatan rambut!)

Setelah proses unboxing, hape dinyalakan untuk pertama kali dan….waaaaaaaaahhhh… animasi bootloader-nya Motorola ternyata ciamik! Hape ini tampilan fisiknya sekilas rada mirip hape Andromax-nya Smartfren. Agak tebal dan curvy. Layar 4.5″-nya juga sebenernya kurang pas dalam genggaman saya yang sudah terbiasa dengan bentuk candybar klasik HTC One V yang handy. Bodinya pun berasa kurang ‘kokoh’, secara bukan didesain dalam bentuk unibody layaknya hape-hape premium papan atas dan ada bagian-bagian tertentu yang terbuat dari plastik (just like *cough* Samsung phones *cough*).

Moto G by default udah pake OS Android KitKat 4.4.2 (ini versi OS atau formasi bola?) dan gak lama setelah diaktifkan bakal ada OTA upgrade ke versi 4.4.4, OS Android paling mutakhir saat ini. Sekilas di KitKat gak ada perubahan yang mendasar dalam tampilan menu dibanding sama Jelly Bean. Masih berlatar belakang hitam dan dibagi dalam tampilan apps dan widgets. Swipe bawah-ke-atas dari home screen juga langsung masuk ke Google Now. Yang sedikit bikin pangling cuma notification centre-nya doang. Bentuknya jadi kek gini sekarang:

Kelemahan utama: gak ada tombol pengaturan untuk screen orientation!

Kelemahan utama: gak ada tombol pengaturan untuk screen orientation!

Sudah 4.4.4 (atau kalo di Tiongkok disebutnya 3A.3A.3A)

Sudah 4.4.4 (atau kalo di Tiongkok disebutnya 3A.3A.3A)

Berhubung Motorola (was) a Google company, dapat dipastikan Moto G bakal dapet urutan terdepan untuk upgrade ke OS Android L kira-kira akhir 2014 ini. Jadi lumayan buat investasi jangka panjang, ga perlu ganti-ganti handheld lagi buat nyicipin OS yang katanya bakal serevolusioner perubahan iOS 6 ke iOS 7.

Kembali ke fitur-fitur dasar, Moto G punya dua kelemahan yang bisa dibilang fatal dalam hal aplikasi bawaan standar suatu hape: gak ada aplikasi sound recorder dan aplikasi flashlight. Dua-duanya harus didonlot sendiri dari Play Store. Kelemahan lainnya yang cukup mengganggu adalah kualitas kameranya. Kamera belakang sebesar 5 MP dan kamera depan sebesar 1,3 MP menghasilkan gambar yang cenderung lebih gelap daripada warna aslinya. Menu yang berupa carousel/wheel bawaan Motorola pun kurang user friendly. Tidak adanya tombol shutter dedicated, baik di bodi hape maupun layar, juga lumayan bikin kagok (update: kalo udah diupgrade ke 4.4.4 jadi bisa gunain tombol lock/volume sebagai tombol shutter). Dan gongnya adalah: kameranya tidak memiliki fitur timer! Bayangkan, bagaimana nasib jama’ah al-selfieah akibat ketiadaan fitur penyokong narsisme publik ini? Solusinya untuk sementara adalah menginstal aplikasi Google Camera yang bisa menambal beberapa kekurangan dari aplikasi kamera bawaan Motorola ini.

Tampilan menu kamera Moto G yang kurang ens

Tampilan menu kamera Moto G yang kurang ens. Gak ada ‘tombol’ shutter-nya.

Itu kekurangannya. Kalo kelebihannya sendiri cukup banyak: prosesor udah quadcore yang menjamin kelancaran dalam penggunaan, layar udah Gorilla Glass yang bening dan anti gores, dapet tambahan kuota Google Drive 60 GB yang cukup mengkompensasi ketiadaan slot kartu memori, kemampuan dual SIM card biar ga lagi nenteng-nenteng 2 hape, dukungan OS yang dipastikan selalu ter-update, dst. dst. yang semuanya bisa didapatkan hanya dengan harga serendah itu. Desainnya sendiri pun gak mengecewakan, baik dalam hal perangkat keras maupun tampilan UI-nya. Tanpa dioprek-oprek pake custom ROM pun udah tjakep (ya daripada produk semsang.. *samsung lagi*). Moto G ini bisa dibilang smartphone kualitas premium setara produk-produk flagship dari brand-brand lain yang biasanya dilepas dengan harga > 6 juta, tapi dengan penampilan yang semenjana dan berpijak ke bumi.. #tsahh Sejauh ini sih gak ngerasa rugi ngebeli produk ini, dan mudah-mudahan seterusnya juga tetap berpandangan yang sama. It’s the best you can get for such price.

Pamer home screen B-)

Pamer home screen B-)

Wadjda

Nama event-nya: Europe On Screen 2014, judul filmnya: Wadjda. Di buku panduannya tertulis film dari Jerman.

Tapi kok pemain, sutradara, sama bahasa filmnya Arab semua??

Ternyata film ini memang diproduseri dan diproduksi dengan biaya yang mayoritas berasal dari Jerman. Yah cukup untuk memenuhi kriteria untuk disebut sebagai film Eropa lah.. Yang bikin unik adalah setting film ini sepenuhnya berada di Riyadh, ibukota Arab Saudi.

Iya, Saudi yang ultra konservatif itu.

Dan memang ini adalah film pertama Saudi yang diedarkan ke seluruh dunia setelah bertahun-tahun tidak berproduksi dan film pertama yang disutradarai oleh sutradara perempuan Arab Saudi. Terlebih lagi, ini film yang juga berkisah tentang perempuan. Tingkat monumentalnya tinggi banget, mungkin setara dengan kalo misalnya Korea Utara memproduksi film drama non-propaganda untuk konsumsi internasional.

Untuk ceritanya sebenarnya sederhana, mirip-mirip gabungan cerita film Iran Children of Heaven dan A Separation. Kisah seorang anak perempuan bernama Wadjda untuk bisa membeli sepeda yang bakal ia gunakan untuk balapan sama temannya bernama Abdullah. Masalahnya, di Saudi anak perempuan hukumnya harom untuk menaiki sepeda. Tapi dasar si Wadjda ini jiwanya rebel, dia tetep kekeuh ngumpulin duit dan mencari peruntungan biar bisa kebeli itu sepeda, salah satunya dengan mengikuti lomba MTQ (di film istilahnya bukan ini sih :D) di sekolahnya. Di sini letak sedikit kemiripan dengan Children of Heaven yang pemeran utamanya bertujuan untuk membeli sepatu. Nah, side story dari film ini yang mirip A Separation adalah kisah retaknya rumah tangga orangtua si Wadjda karena sang ibu tak kunjung bisa memberi keturunan anak laki-laki (yang sangat diutamakan di masyarakat Arab yang patriarki abis) sehingga suaminya dipaksa oleh keluarga untuk menikah lagi. Selebihnya tonton aja sendiri yah hehe..

Meskipun cerita dasarnya sederhana, tapi justru printilan-printilannya yang menarik. Ini film tentang Saudi gitu! Yang lumayan tertutup dari dunia luar untuk masalah kehidupan sehari-hari, apalagi yang menyangkut perempuan. Dulu, kisah-kisah tentang kehidupan di Saudi dan bagaimana besarnya tekanan hidup perempuan di sana cuma sebatas rumor yang beredar di antara masyarakat Indonesia. Kisah tentang gimana pervert-nya cowok-cowok Saudi karena gak pernah liat cewek dalam wujud aslinya, cewe-cewe Saudi yang di balik abayanya ternyata dandan menor dan stylish, penerapan hukum syariah yang super ketat (dan banyaknya penyimpangan pelaksanaannya di kalangan warganya sendiri), budaya patriarki yang mengurat akar, sampe kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan pemukiman warga biasa Riyadh semuanya ada di sini. Komplit! Beberapa cukup bikin geleng-geleng sih, misalnya pas adegan Wadjda dan teman-teman sekolahnya dilarang bicara dan ketawa cekikikan karena suara dan tertawanya perempuan adalah sumber fitnah dan kemaksiatan (mampus gak tuh? :D) sama waktu guru memberi selamat kepada teman sekelas Wadjda yang baru aja menikah…. padahal dia masih (kira-kira) kelas 5 SD :/

Yang cukup mengganjal bagi saya di film ini waktu pas si Wadjda awal-awal dites baca Quran dan kemudian agak terbata-bata membacanya.. Is that possible? Kitab itu ditulis dalam bahasa ibu dia gitu, dan sehari-hari menggunakan bahasa yang sama pula. Tapi gak berapa lama udah fasih sih, dan bahkan udah bisa dilagukan segala pula.. :D Bener-bener membuktikan bahwa masyarakat Arab (bahkan sebelum munculnya Islam) adalah masyarakat yang sangat menjunjung budaya lisan. Gak ada yang mampu menyaingi keindahan pendarasan ayat-ayat suci di dalam Quran selain penutur aslinya, penduduk Arab yang bermukim di Kerajaan Arab Saudi. Seandainya saya bukan muslim pun kayaknya pasti bakal tergerak dengan keindahan lantunannya.

Setelah beberapa kali terekspos sama budaya dan praktek Islam Syiah di film-film Iran (misalnya: bersumpah atas nama imam), di Wadjda ini barulah saya bisa melihat budaya Islam puritan sesungguhnya: Islam mazhab Wahabbi. Gak begitu kelihatan sih, cuma dalam praktik sholat dan adab membaca Quran, tapi cukup sebagai insight bagaimana penerapan aliran itu di tempat lahirnya. Dari film ini juga keliatan kalo penduduk Saudi gak konservatif-konservatif amat, tapi kayaknya itu cuma berlaku di kalangan kelas menengahnya. Tingkat adaptasi mereka terhadap budaya barat dan teknologi modern sangat tinggi. Mungkin salah satunya karena negara mereka juga emang pada dasarnya kaya (gak kayak Korea Utara). Kayaknya tinggal nunggu mereka dapat raja yang berpikiran progresif (kayak sheikh di kerajaan tetangganya: UEA) untuk bisa ngeliat perkembangan Saudi dari negara yang ultra-ortodoks serta serba membatasi perilaku warganya menjadi sedikit lebih terbuka dan gak katro-katro amat dalam hal pemahaman beragama.

Yeah, unfortunately you can’t bring back all Islamic historical sites from Rasulullah era that already destroyed in the name of greed and capitalism…

Anyway, here’s the trailer of the movie:

All Hail The King: A Tribute to Breaking Bad

5 seasons, 62 episodes, and countless death. Dari “Pilot” hingga “Felina”, Breaking Bad telah menjelma menjadi legenda pertelevisian dunia berkat jalinan ceritanya yang luar biasa, sinematografi yang fantastis, akting brilian, dan keputusannya untuk berhenti di saat yang tepat. Ya, seandainya serial tv ini berpanjang-panjang dalam bertutur mungkin nasibnya akan berbeda: membosankan dan terlupakan. Berhenti ketika masih di puncak kejayaan dan antusiasme pemirsa yang sedang tinggi-tingginya adalah keputusan bijak yang dengan suksesnya mengokohkan ke-legenda-an serial ini.

Meskipun telah tamat riwayatnya September lalu, saya baru sempat menonton serial ini dua bulan belakangan. Sebelumnya saya cuma mengikuti serial AMC lainnya: The Walking Dead, yang makin lama makin gak jelas jalan ceritanya. Gegap gempita dunia maya ketika Breaking Bad mengakhiri kisahnya tentu membuat siapa pun tergelitik untuk sekadar mencari tahu gerangan apa yang dimaksud. Solusi satu-satunya untuk turut larut dalam kegegapgempitaan ini adalah dengan menonton serial ini secara maraton (dengan berkas yang diperoleh secara ilegal tentunya). Ini sudah saya lakukan secara bertahap: season 1 & 2 diselesaikan dalam waktu seminggu (dan menghasilkan ini), 3 & 4 kurang lebih 5 hari, dan season terakhir hanya dalam kurun waktu 2 hari saja. Dan semua rasa penasaran terkikis habis berganti rasa hampa ketika tahu perjalanan ini telah menemui titik akhirnya.. :D #lebay

Ada terlalu banyak momen-momen monumental yang terekam dalam perjalanan 62 episode tersebut. Momen-momen yang terkadang membuat diri terhenyak dan geleng-geleng membayangkan ada orang sejenius ini yang bisa bertutur lewat pengkarakteran dan adegan-adegan yang agak ‘sinting’. Beberapa di antaranya saya coba rangkumkan dalam semacam award-award-an berikut:

>> WARNING: Jika tidak ingin mendapat spoiler karena belum nonton, lebih baik berhenti di sini, karena tulisan di bawah SEMUANYA mengandung spoiler :D <<

Best Teaser

Ciri khas Breaking Bad (BrBa) adalah teaser (opening) sekitar 4-5 menit yang mengawali setiap episodenya. Terkadang teaser-nya cukup klise, berupa sepenggal kisah yang mengawali/mengakhiri cerita pada episode itu. Namun, terkadang yang terjadi adalah teaser bersifat out of the box, gak pernah kepikiran kalo hal tersebut bisa dijadikan opening dari suatu episode serial drama di tv.

Beberapa teaser BrBa resmi menjadi favorit saya karena keunikan dan kenyelenehannya. Misalnya  adegan The Salamanca Cousins merangkak untuk menuju kapel pemujaan Santa Muerte (“No Más”, S03E01), yang sukses bikin penasaran tentang apa itu Santa Muerte, aksi Wendy menjajakan ‘jasa’ dan meth di “Half Measures” (S03E12), kiprah solo Mike Ehrmantraut menjinakkan pembajakan kartel Juárez (“Bullet Points”, S04E04), adegan opening full berbahasa Jerman di “Madrigal” (S05E02), dan tentu saja perjumpaan pertama di “Pilot” (S01E01). Tapi cuma dua yang menjadi all time favorite saya: teaser berupa lagu tentang Heisenberg dari Los Cuates de Sinaloa (“Negro y Azul”, S02E07) dan iklan TV Los Pollos Hermanos yang disambung dengan feature sistem distribusi blue meth di “Kafkaesque” (S03E09).

Untuk yang lagu Negro y Azul udah pernah saya kasih link-nya di postingan tentang BrBa sebelumnya di blog ini. Waktu pertama ngeliat itu mikirnya “Anjritt, kepikiran aja bikin beginian buat opening!” Di teaser itu gak cuma diliatin Los Cuates de Sinaloa pas lagi nyanyi, tapi juga kiprah Heisenberg yang bikin ketar-ketir pemain lama kancah belantika per-narkoba-an perbatasan Meksiko-AS macam kartel Juárez di latar belakangnya. Untuk yang Kafkaesque, reaksi saya juga sama: terkagum-kagum sama konsep opening-nya, melongo dari awal sampe akhir. Dari teaser episode ini juga baru ketauan kalo cara penyelundupan blue meth di sistem distribusi Los Pollos Hermanos adalah dengan mencelupkannya ke kontainer berisi adonan tepung bumbu ayam goreng. Well played, Gus Fring, well played.. :)

Jadi, Best Teaser pemenangnya ada 2: “Negro y Azul” (S02E07) dan “Kafkaesque” (S03E09).

Best Episode

Menentukan episode terbaik dalam BrBa adalah salah satu hal tersulit. Beberapa episode terlihat begitu menonjol dibandingkan yang lain. Favorit saya sebelum menonton Season 5 adalah “Grilled” (S02E02) ketika Walt dan Jesse ‘diculik’ Tuco Salamanca hingga akhirnya Tuco mati di-head shot Hank, “Peekaboo” (S02E06) yang dengan kelamnya memberi gambaran nasib anak dari ayah dan ibu pecandu narkoba, upaya penyelundupan imigran gelap Meksiko yang gagal di “No Más”(S03E01),”One Minute” (S03E07) yang mencekam di menit-menit terakhir waktu The Cousins makin mendekati targetnya, “Hermanos” (S04E08) yang bercerita tentang masa lalu Gus Fring dan dominasi percakapan bahasa Spanyol di sepanjang cerita, “Salud” (S04E10) tentang pembalasan sempurna Gus Fring atas kartel Juárez, dan tentunya episode finale Season 4 “Face Off” (S04E13) yang oh-sungguh-epic-sekali adegan di panti jompo itu.

Tapi daftar yang udah cukup panjang tadi makin bertambah panjang begitu memasuki season terakhir: season ke-5. Hampir semua episode di season ini bagus dalam segala hal, dan makin menggila di paruh keduanya (episode 9 hingga 16). Di season ini favorit saya adalah kisah train heist yang matang dan jenius di “Dead Freight” (S05E05), pembantaian simultan 10 narapidana yang lokasinya terpisah dalam waktu 2 menit saja di “Gliding Over All” (S05E08), dan tiga dari empat episode pamungkas: “To’hajiilee” (S05E13), “Ozymandias” (S05E14), dan “Felina” (S05E16).

Tentang Felina udah gak usah diperdebatkan kali ya, secara episode itu adalah series finale, penghujung dari kisah Walter White a.k.a. Heisenberg yang kehilangan segalanya karena coba-coba breaking bad. To’hajiilee juga suspense-nya berasa banget di sepertiga akhir episodenya, waktu menuju dan ketika berada di gurun tempat uang haram USD 80 juta dikubur.

But Ozymandias is in different league. IMDb mencatat bahwa episode ini mendapatkan rating 10/10 dari puluhan ribu voter, satu-satunya dalam sejarah (kalo saya gak salah). Ozymandias sendiri adalah judul sebuah puisi karya Percy Bysshe Shelley yang terbit tahun 1818 di Inggris yang bercerita tentang kejatuhan seorang petinggi dari kedudukannya (terinspirasi dari jatuhnya kekuasaan Ramses II di Mesir). Setiap bait dalam puisi tersebut ternyata berkorelasi dengan jalannya cerita di episode ini. Mulai dari ketidakberdayaan Walt setelah menyaksikan terbunuhnya Hank dan Gomez (“… Half sunk, a shattered visage lies, whose frown. And wrinkled lip, and sneer of cold command …”), hingga saat Walt menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya (“… “Look on my works, ye Mighty, and despair!” Nothing beside remains. Round the decay …”). Episode ini adalah saat ketika semua menjadi terungkap, terenggut, dan tercampakkan. Nyawa anggota keluarga, hasil jerih payah, masa depan keluarga, identitas pribadi, dan sebagainya. Episode ini juga menjadi saat terakhir Walt menjadi Walter White. Sesudah Ozymandias, Bryan Cranston hanya menjadi sosok seorang Heisenberg. Di episode ini dengan jelas digambarkan how the mighty has fallen. Sebuah keniscayaan yang pahit yang ditampilkan dengan ‘indah’ melalui referensi sebuah puisi yang baru saya ketahui belakangan.

Best Episode? Tentunya Ozymandias (S05E14)

Best Character

Keistimewaan BrBa lainnya adalah penokohan yang kuat. Tidak hanya karakter-karakter utama seperti Walter White dan Jesse Pinkman yang mencuri perhatian, bahkan karakter-karakter minor pun, macam Tuco Salamanca si bandar meth yang orangnya panasan, Wendy si PSK pecandu meth, Ted Beneke, duo o’on Badger & Skinny Pete, atau Huell dan Kuby, dua staf Saul Goodman yang bodor juga bukan cuma sekadar pelengkap. Beberapa karakter favorit saya diantaranya adalah Gustavo Fring (for his damn coolness), Saul Goodman (for his bizarre legal advise but somehow always rational), baby Holly (lucu banggets!), dan terutama Mike Ehrmantraut.

Aki-aki anak buah Gus Fring yang satu ini punya karakter yang top banget. Loyal, rasional, dan selalu penuh perhitungan dalam setiap langkahnya. Skill-nya lengkap: mulai dari penyadap lihai, sniper, ahli kamuflase, stalker, informan, ahli penghilang barang bukti, dll. Gak heran sih, dulunya bekas anggota kepolisian. Aksi menawan Mike bisa dilihat ketika melabrak gerombolan kartel Juárez yang coba menyandera Duane Chow (“Full Measure”, S03E13) dan ketika seorang diri menjinakkan pembajakan kartel Juárez (“Bullet Points”, S04E04). Mike juga seorang family man, terbukti dari duit haram hasil kerjanya yang sepenuhnya diperuntukkan buat cucunya kelak. Mike juga yang pertama kali menyadari potensi Walt untuk menjadi sosok yang sangat membahayakan. Sayang sekali karakter sekeren ini mesti mengakhiri hidup dengan cara yang kurang bombastis dan berujung di larutan hydrofluoric acid. :(

Shut the fuck up and let me die in peace.” – Mike Ehrmantraut

Best Character? Hands down: Mike Ehrmantraut.

Best Death

Gimana ya, kematian emang gak seharusnya dibikin kategori penghargaan sih.. Tapi secara BrBa isinya kematian dan pembunuhan melulu, hal ini jadi gak terelakkan. Saking banyaknya, kategori ini kayaknya harus dibagi dua: (1) best personal death untuk kematian seseorang dalam satu momen tertentu, dan (2) best mass death dimana kematian terjadi untuk beberapa orang dalam waktu yang bersamaan.

Untuk kematian yang terjadi secara personal, jumlahnya cukup banyak. Mulai dari kematian Emilio dan Krazy-8 di awal-awal season 1 hingga matinya Todd di tangan Jesse di series finale. Beberapa diantaranya cukup monumental seperti matinya bodyguard Tuco Salamanca di tangan bosnya sendiri waktu pertama kali transaksi dengan Heisenberg (“A No-Rough-Stuff-Type Deal”, S01E07), matinya Spooge, si pecandu meth, di tangan istrinya sendiri ketika kepalanya ditiban mesin ATM (“Peekaboo”, S02E06), Jane Margolis yang mati tersedak isi lambungnya sendiri sehabis mengkonsumsi heroin (“ABQ”, S02E13), kematian Tortuga (“Negro y Azul”, S02E07), Gale Boetticher (“Full Measure”, S03E13), Vincent, si tangan kanan Gus Fring (“Box Cutter”, S04E01), Gus Fring sendiri (“Face Off”, S04E13), Peter Schuler (“Madrigal”, S05E02), Mike Ehrmantraut (“Gliding Over All”, S05E08), Agent Gomez dan Agent Hank (“Ozymandias”, S05E14), sampe kematian Walter White sendiri di series finale (“Felina”, S05E16).

Dari semuanya, favorit saya ada 3: Tortuga, Victor, dan Gus Fring. Tortuga mati di tangan kartel Juarez dengan cara dipenggal pake kapak oleh The Cousins. Kepalanya yang telah terpisah dari tubuh kemudian ditancapkan di atas kura-kura yang juga telah dipasangkan detonator bom di tengah gurun. Victor mati di tangan bosnya sendiri, Gus Fring, karena dianggap udah bertidak di luar garis komando dengan coba memproduksi blue meth sendiri. Lehernya digorok dalam keadaan berdiri dan proses penyembelihan disaksikan oleh Walt, Jesse, dan Mike di dalam lab. Gus Fring mati setelah terkena bom yang ditaro di kursi roda Hector Salamanca. Sesaat sebelum menemui ajal, masih sempat keluar ruangan dengan muka ancur separo ala Two Face. Jika harus memilih di antara tiga itu, maka pembunuhan Victor yang jadi pemenangnya. Sumpah sadis banget itu Gus Fring.

Best Personal Death: Victor (“Box Cutter”, S04E01)

Kalo untuk kematian yang terjadi secara massal, meskipun ada beberapa, tapi yang paling diingat cuma tiga: kematian massal kartel Juarez akibat minumannya diracun Gus Fring (“Salud”, S04E10), kematian 10 orang narapidana eks mitra kerja Gus Fring oleh Uncle Jack dkk. (“Gliding Over All”, S05E08), dan matinya geng white supremacist pimpinan Uncle Jack oleh berondongan M-60 milik Walter White (“Felina”, S0516). Dari semua tadi, yang paling gila itu pas pembunuhan di “Gliding Over All”. Dalam dua menit, 10 nyawa yang tersebar di penjara-penjara seantero AS melayang. Proses eksekusinya juga beda-beda. Dan yang bikin tambah ‘sakit’, musik pengiringnya itu lagu swing jazz era 60-an yang nadanya riang gembira. Sakit jiwa emang ini yang bikin…

Best Mass Death: Mike’s lawyer and 9 Gus Fring’s associates (“Gliding Over All”, S05E08)

Best Quote

Quote (atau catchphrase) dari BrBa ada cukup banyak. Rasanya tiap karakter punya ultimate quote-nya sendiri-sendiri. Kayak “Tight! Tight! Tight!” milik Tuco Salamanca, atau “I fucked Ted.” dari Skyler White. Jesse Pinkman dengan “Yeah, science bitch!”-nya, Saul Goodman dengan “Better call Saul!”-nya, Hector Salamanca dengan “DING! DING! DING! DING! DING!”-nya :D, Mike Ehrmantraut dengan “Just because you shot Jesse James, don’t make you Jesse James“, sampe Gustavo Fring yang punya quote terkenal cukup panjang dengan makna dalam: “… And a man, a man provides. And he does it even when he’s not appreciated, or respected, or even loved. He simply bears up and does it. Because he is a man.” Tapi untuk the best quote, biarlah itu menjadi milik sang tokoh utama, Walter White. Quote ini diambil dari episode “Cornered” (S04E06):

Who are you talking to right now? Who is it you think you see? Do you know how much I make a year? I mean, even if I told you, you wouldn’t believe it. Do you know what would happen if I suddenly decided to stop going into work? A business big enough that it could be listed on the NASDAQ goes belly up. Disappears! It ceases to exist without me. No, you clearly don’t know who you’re talking to, so let me clue you in. I am not in danger, Skyler. I am the danger. A guy opens his door and gets shot and you think that of me? No. I am the one who knocks!

Worst Episode

Sebagus apapun BrBa ini ternyata juga ada satu episode yang menurut saya jelek banget dan gak berguna. Episode “Fly” di S03E10 mayoritas diambil gambarnya di dalam lab, membuatnya jadi sangat monoton. Dialog-dialog panjang antara dua tokoh utama, Walt & Jesse, menurut saya ngebosenin. Inilah satu-satunya episode BrBa dimana tangan saya memencet tombol fast forward. Isi ceritanya pun intinya cuma…. nangkep laler di dalam lab :| Kayaknya kalo episode ini diilangin dari keseluruhan season 3 juga gak ngaruh sama jalan ceritanya deh. Saking insignificant-nya..

Tapi ternyata di beberapa forum diskusi, episode ini justru dianggap brilian oleh segelintir orang. Cuma beda tipis kualitasnya dari Ozymandias. Heh, berkualitas dari Hong Kong! Mungkin saya emang gak dikaruniai citarasa seni nan adiluhung seperti para film snob itu. Otak saya gak mampu mencerna keindahan di balik episode yang katanya brilian ini. Pokoknya kalo ditanya cacatnya Breaking Bad ya cuma satu: episode “Fly” ini.

Worst Episode: “Fly” (S03E10)

Best Lookalike

Saul Goodman pernah ngaku-ngaku sebagai Kevin Costner meskipun gak mirip sama sekali (not even close, man!). Kugy, si bodyguard dan staf serabutannya, juga kalo diliat-liat (dari jauh) rada mirip Simon Pegg. Agent DEA Steve Gomez, partner setia Hank, setelah numbuhin brewok sekilas juga mirip Jamal Mirdad.. (makin jauh! :D) Sama pemeran The Salamanca Cousins juga mirip banget satu sama lain (well yeah, that’s because they’re twins. D’uh!)

Tapi gak ada yang nyaingin kemiripan orang di bawah ini dengan salah satu aktor kenamaan Holywood.

Meth-DamonMatt Damon + John Arne Riise = Todd Alquist

Best Female Character

Menemukan sosok best (baca: hottest) female di serial yang didominasi batangan ini rada susah. Justru kalo nyari yang worst gampang banget: si Wendy sama si istri psikopat yang nibanin kepala suaminya pake mesin ATM menang mutlak lah pastinya. Jadi di serial ini cewek-cewek yang menonjol (no pun intended) cuma Skyler White, Marie Schrader, Jane Margolis, Andrea Cantillo, Lydia Rodarte-Quayle, sama sekretarisnya Saul :D. Dua tokoh yang paling sering nongol adalah Skyler dan Marie. Dari keduanya, awalnya sosok Skyler terlihat lebih hot dan ‘waras’ ketimbang saudara kandungnya, Marie, yang klepto dan ember. Tapi makin kesini Skyler justru makin bitchy dan nyebelin mirip-mirip Lori Grimes dari The Walking Dead. Sebaliknya, Marie makin menunjukkan inner beauty-nya (halah) dan mengungguli ke-atraktif-an Skyler. Lagian kalo diliat-liat lagi emang cakepan Marie sih, hahaha…

Best Female Character: Marie Schrader, sang (akhirnya) janda ungu

Best Twist

Kandidat best twist yang saya ingat cuma tiga: waktu Walt berkunjung ke markas Tuco untuk nganterin meth yang ternyata adalah fulminated mercury (“Crazy Handful of Nothin”, S01E06), waktu agent-agent DEA El Paso menunggu kedatangan Tortuga, sang informan, yang ternyata tinggal kepalanya doang dan menjadi detonator ledakan bom (“Negro y Azul”, S02E07), dan ulah ‘iseng’ Walt terhadap duo pemilik Gray Matters yang seolah-olah telah menyewa sniper untuk membuntuti mereka padahal ternyata adalah Badger dan Skinny Pete (“Felina”, S05E16). Yang terbaik? Kayaknya yang terakhir deh, semata karena paling fresh dan paling baru diinget haha. Gak nyangka aja kalo ternyata bidikan laser khas senapan sniper itu cuma boong-boongan dan lebih-lebih pelakunya si duo geblek itu lagi :D

Best Twist: Badger & Skinny Pete’s fake gun laser pointer to the Schwartz couple (“Felina”, S05E16)

Best Potential for a Spin-Off

AMC udah mengumumkan bahwa karakter Saul Goodman akan dibikin spin-off nya dengan judul “Better Call Saul” yang akan mengisahkan tentang kehidupan Saul sebagai pengacara eksentrik sebelum berbagi penggalan kisah hidup yang sama dengan Walter White dkk. Sebenernya menurut saya masih ada beberapa karakter lagi yang layak dibikinin spin-off. Badger dan Skinny Pete misalnya, bisa dibikinin serial tersendiri. Saya ngebayanginnya ntar jadinya kayak Beavis and Butthead sih hahaha.. Kisah Gus Fring dan Los Pollos  juga layak difilmkan sih. Gimana dia dari seorang imigran Chile bisa merantau ke Meksiko dan akhirnya sukses menjadi pengusaha jaringan restoran cepat saji di AS. Satu lagi mungkin kisah corporate crime yang terjadi di Madrigal Electromotive dan anak perusahaannya bisa dijadikan inspirasi untuk serial tv baru. Bisa kerjasama Jerman-AS-Meksiko mungkin? :D

Best Potential for a Spin-Off: Banyak! Liat tulisan di atas aja ye..

Setelah menamatkan BrBa emang kayaknya campuran antara lega dan nelongso. Lega karena akhirnya namatin serial ini juga setelah berminggu-minggu, nelongso karena perasaan “now what?” yang tersisa itu.. :D Kayaknya selanjutnya bakal ngikutin Game of Thrones biar bisa ngerti konteks dari ribuan jokes dan meme di internet yang GoT-related. Tapi mungkin intensitas dan frekuensinya gak seintensif waktu marathon BrBa ini (well, who knows? hehe) Ini juga sekaligus postingan terakhir di tahun 2013. Selamat memasuki tahun yang baru broer and zus sekalian.. :)

Does size matter?

Ini bukan postingan tentang Mak Erot. Bukan. Ini adalah review tentang salah satu chapter di buku Soccernomics: Why England Loses, Why Germany and Brazil Win, and Why the US, Japan, Australia, Turkey – and Even Iraq – Are Destined to Become the Kings of the World’s Most Popular Sport karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Buku yang tentu saja hanya akan disebut tanpa sub judulnya yang subhanallah panjangnya itu terlalu sulit untuk direview sebagai suatu kesatuan utuh. Ini dikarenakan tiap-tiap bab di dalamnya bisa berdiri sendiri dan terlalu menarik untuk dilewatkan dalam suatu ulasan singkat. Seperti halnya pada bab ketujuh dari buku ini dengan judul “The Suburban Newsagent: City Sizes and Soccer Prizes”.

Pernah gak kepikiran untuk merhatiin daftar juara liga domestik negara-negara besar sepakbola Eropa, atau daftar juara UEFA Champions League sepanjang masa? Coba cek klub-klub mana aja yang jadi penguasa sejarah. Di Inggris itu adalah Manchester United dan Liverpool, di Italia Juventus dan dua klub Milano bersaudara, di Jerman tentunya klub Bavaria dari kota Muenchen, dan di Perancis dipastikan bukan klub asal kota Paris. Kesamaan dari klub-klub tersebut? Semuanya adalah bukan klub yang berasal dari ibukota negara. Kedigdayaan klub-klub non-ibukota ini berlanjut hingga tataran Eropa. AC Milan, dan bukan AS Roma atau Lazio, adalah pengoleksi trofi Liga Champions terbanyak untuk Italia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Liverpool untuk Inggris dan bukan oleh klub-klub London. Di Jerman lagi-lagi klub Bavaria dari kota Muenchen yang jadi jawaranya, bukan klub asal Berlin atau Bonn (ketika belum reunifikasi). Bahkan di Belanda juga sebenarnya Ajax bisa saja dihitung bukan sebagai klub ibukota, yang semestinya dinisbatkan kepada ADO Den Haag. Atau tiga serangkai asal Istanbul: Galatasaray, Fenerbahce dan Besiktas, bukannya klub-klub Ankara, yang merajai kompetisi domestik Turki (meski dulunya Istanbul a.k.a Konstantinopel pernah juga jadi ibukota Ottoman). Tentu saja ada pengecualian bernama Real Madrid yang menjadi raja Spanyol di La Liga maupun tingkat tertinggi Eropa, tapi Kuper dan Szymanski punya penjelasan tentang hal ini.

Kuper dan Szymanski lebih menitikberatkan analisisnya terhadap fenomena yang terjadi di kancah kompetisi antar klub Eropa, meskipun menurut saya sebenarnya bisa juga untuk menjelaskan kenapa klub-klub luar ibukota ini mampu mendominasi ajang domestik. Mungkin biar lebih memperjelas konteksnya bisa liat daftar pemenang Liga Champions Eropa sejak pertama kali bergulir di sini. Dari situ bisa diliat bahwa tujuh area metropolitan terbesar di Eropa: Istanbul, Paris, Moskow, London (note: buku ini dibuat sebelum Chelsea menjuarai UCL tahun 2012), St. Petersburg, Berlin, dan Athena belum sekalipun menempatkan klubnya sebagai kampiun benua biru. Sebaliknya, kota-kota gurem macam Birmingham (Aston Villa, 1982), Glasgow (Celtic, 1967), Dortmund (Borussia Dortmund, 1997), Rotterdam (Feyenoord, 1970), atau Nottingham (Nottingham Forest, 1979-1980) pernah mendapat penghargaan tertinggi sepakbola antar klub Eropa ini.

Karena ilmu ekonomi pada dasarnya bisa dibilang sebagai ilmu yang mencari korelasi antar dua fenomena, Kuper dan Szymanski mencoba mencari hubungan antara ukuran sebuah kota di Eropa dengan kesuksesan dalam hal prestasi sepakbola. Untuk tujuan tersebut, kedua penulis membagi sejarah kompetisi kata tertinggi antarklub Eropa menjadi tiga periode. Periode pertama terbentang sejak pertama kali Piala/Liga Champions bergulir di tahun 1956 hingga akhir dekade 1960-an. Pada tujuh perhelatan awal, klub juara Eropa selalu berasal dari ibukota negara yang dikuasai rezim fasis-otoriter: Real Madrid (Madrid – Jenderal Franco, 1956-1960) dan Benfica (Lisbon – Antonio Salazar, 1961-1962). Ini tentunya tidak mengherankan jika melongok lebih jauh ke sejarah pada Piala Dunia 1934 dan 1938 yang dimenangi oleh Italia yang kala itu berada di bawah kekuasaan Benito Mussolini. Rezim fasis selalu bersifat sentralistik, berorientasi pada pemusatan kekuasaan di pusat pemerintahan. Dalam konteks sepakbola ini terwakili dalam terpusatnya pemain-pemain terbaik negara fasis tersebut di klub ibukotanya yang tentunya tak lepas dari intervensi rezim yang berkuasa kala itu. Hal inilah yang mempermudah dominasi klub-klub ibukota di kompetisi internasional dan, yang jauh lebih vulgar, di kompetisi domestik. Setelah Benfica dua kali menjadi jawara Eropa di awal 1960-an, klub ini mampu menjadi runner up di tiga perhelatan selanjutnya (meskipun tidak berturut-turut), sedangkan Madrid menjuarai sekali (1966) dan runner up dua kali.

Kemunduran rezim fasis di Spanyol dan Portugal pada awal dekade 1970-an juga tercermin pada peralihan dominasi juara antarklub Eropa dari klub-klub ibukota, dimulai dari kemenangan Feyenoord dari Rotterdam di tahun 1970. Ajax dari Amsterdam memang menjuarai tiga perhelatan kompetisi ini berturut-turut di awal 1970-an, tapi perlu diingat bahwa sebenarnya ‘ibukota sejati’ Belanda, tempat monarki dan parlemen bertahta, terletak di Den Haag, bukan Amsterdam. Setelah Ajax, muncullah Bayern Muenchen yang juga menjuarai tiga kali beruntun, lalu Liverpool (2x berturut-turut), dan Nottingham Forest (2x berturut-turut juga). Klub dari ibukota negara baru muncul menjadi juara lagi pada tahun 1986 (Steaua Bucuresti – Romania) dan Red Star Belgrade dari Yugoslavia di tahun 1991. Tentu semua mafhum bahwa dua negara tersebut ketika Steaua dan Red Star menjadi juara masih dikuasai rezim komunis yang sebelas-dua belas otoriter dan sentralistiknya kayak rezim fasis Spanyol dan Portugal era Franco dan Salazar.

Kuper dan Szymanski melihat bahwa periode kedua sejarah juara Piala/Liga Champions Eropa ini dimulai tepat ketika Feyenoord menjuarainya pada tahun 1970. Kali ini giliran klub-klub dari kota-kota industri yang merajai, menyingkirkan dominasi klub-klub ibukota. Selama periode ini, finalis Piala Champions lebih banyak diisi oleh klub-klub kota industri seperti Liverpool, Amsterdam, Muenchen, dan Rotterdam yang semuanya berakhir sebagai juara, dan klub-klub dari kota (tergolong) kecil macam St. Etienne (Perancis), Moenchengladbach (Jerman), Malmo (Swedia), Leeds (Inggris), dan bahkan Brugges (Belgia) yang harus puas menjadi runner-up. Peiode kedua ini mencapai akhirnya pada awal dekade 1980-an ketika liga-liga Eropa telah mengenal kontrak TV dan dimulainya era komersialisasi sepakbola, ditandai dengan terpecahkannya rekor transfer pesepakbola oleh Trevor Francis dari Birmingham City ke Nottingham Forest sebesar 1 juta poundsterling.

Mengapa klub-klub dari kota industri dapat melebihi prestasi klub-klub ibukota pada masa itu (bahkan hingga sekarang)? Penjelasan akan hal ini dapat ditarik jauh hingga ke awal Revolusi Industri. Di awal revolusi industri di Eropa, pusat-pusat aktivitas ekonomi tidak terjadi di ibukota, melainkan di kota-kota industri baru yang mayoritas dihuni oleh para imigran. Tersebutlah kota pelabuhan + industri macam Liverpool dan Manchester di Inggris yang dipenuhi imigran asal Irlandia, kota pusat industri otomotif Italia di Turin yang menjadi tujuan utama imigran asal Sisilia dan Napoli ataupun kota pusat bisnis di Milano, dan kota pusat ekonomi Jerman di Muenchen. Imigran-imigran ini meninggalkan identitas asal mereka dan mencoba meleburkan diri ke identitas baru dimana tempat mereka berdiam kini. They need something to root for and something to belong to. Sesuatu yang dapat memberi identitas pada mereka, menjadi kebanggaan kota tempat tinggal mereka, dan lepas dari bayang-bayang kebesaran nama ibukota. Pada kondisi inilah sepakbola menjadi tempat pelarian paling mumpuni. Suporter yang fanatik dan loyal, pemain lokal yang rela berdarah-darah untuk klub kebanggaan kotanya, dan dukungan finansial tanpa batas (dan nyaris tanpa syarat) dari pengusaha setempat menjadi aset fantastis bagi klub-klub kota industri ini, jauh melebihi apa yang dimiliki klub-klub ibukota dimana sepakbola bukanlah kebanggaan dan hal paling utama di mata warga mereka.

Dominasi klub-klub kota industri Eropa masih bertahan di era sepakbola komersial yang dimulai sejak pertengahan dekade 1980-an hingga sekarang. Namun bedanya dengan periode sebelumnya, kali ini mulai terlihat pola dominasi oleh klub-klub tertentu yang sebelumnya juga sudah pernah menjuarai Piala/Liga Champions. Pada periode ketiga ini, juara akan lebih cenderung jatuh kepada klub-klub asal kota industri yang relatif lebih besar dan lebih kaya, menyisakan sedikit kesempatan pada klub-klub semenjana dari kota yang lebih kecil. Meski diselingi dengan kemenangan FC Porto (1987), PSV Eindhoven (1988), Olympique Marseille (1993), dan Borussia Dortmund (1997) yang tergolong medium size industrial cities, namun klub-klub asal kota industri/pusat ekonomi besar Eropa tetap lebih unggul dalam hal prestasi. AC Milan, Real Madrid, Bayern Muenchen, Juventus, Manchester United, dan FC Barcelona bergantian mengisi pentas final Liga Champions dekade 1990-an dan 2000-an. Madrid kembali menjadi anomali karena menjadi satu-satunya klub asal ibukota yang berjaya di periode ini, namun hal ini bisa dijelaskan sebagai legacy kebesaran Real yang telah ada sejak era Jenderal Franco.

Lalu apakah tidak ada peluang bagi klub-klub ibukota/kota metropolitan Eropa untuk menyamai, atau bahkan mengungguli, prestasi klub-klub non-ibukota? Kuper dan Szymanski mengutip Hukum Zipf tentang aturan pertumbuhan proporsional untuk memprediksi bahwa kota-kota seperti London, Moskow, Paris, dan Istanbul cepat atau lambat akan memiliki klub yang menjuarai Liga Champions. Kali ini sumber kekuatannya bukan dari bekingan rezim fasis seperti era Franco dan Salazar, namun lebih ke mekanisme pasar bebas. Dalam era globalisasi sepakbola ini, pemilik modal akan menyasar klub yang memiliki brand awareness tinggi serta sumber daya yang memadai, dan itu dimiliki oleh klub-klub asal ibukota. Melihat fenomena ekspansi bisnis Roman Abramovich di Chelsea dan Sheikh Maktoum di Paris Saint-Germain, keyakinan akan munculnya dominasi klub-klub ibukota di kancah Eropa mulai menunjukkan buktinya. Nubuat Kuper dan Szymanski semakin mendekati kenyataan setelah Arsenal dan Chelsea menjadi finalis di tahun 2006 dan 2008, dan akhirnya mewujud dalam kemenangan Chelsea di tahun 2012. So does (city) size matter for European football’s silverware? Currently yes, in term of money and investment involved.

*now Mak Erot should give me incentive for this free endorsement*