Orang Bijak

Ada satu kegiatan rutin tahunan tiap Maret yang konon bisa menjadi indikator seberapa bijak suatu individu warga negara Indonesia. Kegiatan itu adalah mengisi SPT Tahunan untuk melaporkan pajak penghasilan yang telah dibayarkan selama setahun yang telah lewat. Thanks to the old-and-everlasting slogan of Direktorat Jenderal Pajak (DJP): “Orang Bijak Taat Pajak”.

Indonesia memang menganut sistem self assessment dalam hal pelaporan pajak penghasilan. Jadi si wajib pajak lah yang punya tanggung jawab buat ngitung pajak terutang/pajak yang udah dipotong sama institusi tempat dia bekerja. Dulu perkara isi mengisi SPT PPh ini ribetnya bukan main, apalagi untuk yang masih awam istilah-istilah perpajakan. Untungnya sudah dua tahun belakangan pelaporan SPT di tempat saya bekerja wajib dilakukan via e-filing (online) yang cukup memudahkan. Tidak lagi harus mengisi form-nya secara manual, melampirkan bukti potong, lalu menyetorkannya ke KPP terdekat. Kini semua dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Praktis.

Tapi ada satu hal yang cukup menggelitik hati saya tahun ini. Setelah mengisi form 1770SS (iya, penghasilan setahun saya belum memadai untuk bisa mengisi form 1770S *hiks*) yang pada dasarnya tinggal nyocokin aja sama data di bukti potong dari bendahara dan bertujuan mencapai hasil “nihil”, ternyata untuk tahun ini saya tidak perlu membayar pajak penghasilan. Nol. Tidak ada sepeser rupiah pun.

Ternyata tahun ini penghasilan tahunan saya masih di bawah treshold Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Tapi ini tak mungkin. Tahun lalu saya masih bisa memberi sumbangsih ke kas negara dengan jumlah yang cukup lumayan (menurut ukuran saya). Apa sekarang negara sudah tidak butuh kontribusi fiskal (meskipun, memang, hanya recehan) dari PNS golongan ala kadarnya macam saya ini? Di satu sisi harga diri ini bak tercabik, tapi di sisi lain ada rasa senengnya juga penghasilan tetep utuh (oh the hypocrisy).

Faktanya adalah pemerintah ternyata telah menaikkan PTKP untuk tahun pajak 2015 melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 122 Tahun 2015. Untuk wajib pajak yang belum memiliki tanggungan, PTKP naik menjadi Rp 36.000.000 dari sebelumnya ‘cuma’ Rp 24.300.000. Jadi untuk yang penghasilan tahunannya di bawah Rp 36 juta, itu artinya negara don’t give a shit about your income tax anymore. The state won’t impose tax on your income because your personal wealth is not significant enough for the well-being of the country. Dengan kata lain yang lebih sederhana: I’m officially poor :”) Apalagi setelah tau kalo salah satu alasan menaikkan PTKP adalah untuk menyesuaikan dengan kenaikan UMP di beberapa provinsi (meskipun ini sebenarnya tidak apple-to-apple karena PTKP bersifat nasional, sedangkan UMP/K bersifat regional). Hitung punya hitung, UMP DKI Jakarta saja saat ini sebesar Rp 3,1 juta/bulan, yang kalau diakumulasikan selama setahun menjadi Rp 37,2 juta, telah melebihi PTKP sehingga layak menjadi objek pajak. Jadi kalo ada abdi negara yang penghasilan tahunannya bahkan masih di bawah PTKP, itu berarti……..

…pengabdian kepada bangsa dan negara itu memang tak ternilai harganya :) *diplomatis*

Jujur, awalnya rada aneh pas nyadar kalo pemerintah udah naikin PTKP lewat PMK 122/2015. Bukannya pemerintah sekarang lagi giat-giatnya naikin penerimaan negara dari pajak? Naiknya PTKP kan otomatis membuat potensi penerimaan negara dari Pajak Penghasilan jadi berkurang karena banyak yang sebelumnya penghasilannya wajib dipajakin trus sekarang jadi gak harus bayar pajak lagi? Tapi ternyata jika dilihat dari perspektif lainnya, kenaikan PTKP ini dampaknya gak terlalu signifikan pada penerimaan negara dan justru bisa menaikkan potensi penerimaan. Seperti dikutip dari rilis resmi Kementerian Keuangan terkait PMK ini:

Ada beberapa pertimbangan pokok penyesuaian besaran PTKP di tahun ini. Pertama,untuk menjaga daya beli masyarakat. Sebagaimana diketahui dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergerakan harga  kebutuhan pokok yang cukup signifikan, khususnya di tahun 2013 dan 2014 sebagai dampak dari kebijakan penyesuaian harga BBM. Kedua, dalam beberapa tahun terakhir terjadi penyesuaian Upah Minimum Propinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di hampir semua daerah. Ketiga, terkait kondisi perekonomian terakhir yang menunjukkan tren perlambatan ekonomi, khususnya terlihat pada Q1 2015 yang hanya tumbuh sebesar 4,7%, terutama akibat dampak perlambatan ekonomi global, khususnya mitra dagang utama Indonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah sedang berupaya keras untuk mendorong naiknya kembali laju pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini melalui naiknya permintaan domestik dengan tetap mendorong daya beli masyarakat. Pemerintah menyadari bahwa saat ini kita tidak bisa mengandalkan sisi eksternal untuk mendorong kinerja ekonomi, sehingga Pemerintah mencoba mendorong permintaan domestik melalui investasi maupun konsumsi masyarakat. Kinerja investasi diharapkan dapat terdorong melalui belanja infrastruktur yang meningkat besar, sementara itu konsumsi masyarakat dapat terungkit melalui kebijakan penyesuaian PTKP dan berbagai program bantuan sosial. Dengan demikian diharapakan keduanya dapat menahan melemahnya kinerja sisi eksternal (perdagangan internasional).

Jadi, kenaikan PTKP ini justru dipandang sebagai upaya untuk memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi dengan cara mendorong masyarakat (yang penghasilannya kini terbebas dari pajak) untuk mengkonsumsi lebih banyak. Penurunan penerimaan pajak akibat kenaikan PTKP dapat dikompensasi dengan kenaikan penerimaan PPN akibat konsumsi masyarakat yang meningkat. Pendapatan yang ‘utuh’ akan mendorong belanja masyarakat sehingga pada gilirannya akan mendorong permintaan agregat baik melalui konsumsi rumah tangga maupun investasi. Salah satu rahasia Indonesia bisa bertahan di tengah kelesuan ekonomi global pasca 2008 itu salah satunya karena postur ekonominya yang gak terlalu mengandalkan pemasukan dari ekspor, tapi dari tingginya konsumsi domestik (secara populasi keempat terbesar di dunia gitu). Pemerintah tampaknya sadar akan hal ini dan ketika ada gejala ekonomi melemah karena turunnya konsumsi, dicarilah cara agar masyarakat memperoleh insentif untuk mau membelanjakan uangnya kembali sekaligus menggerakkan roda perekonomian, salah satunya ya dengan cara ‘pembebasan pajak’ bagi penghasilan kelas menengah yang belum tergolong mapvin ini. Man, I got my degree in economics not for nothing. *nyombong*

Meskipun buat saya pribadi ‘strategi’ pemerintah ini gak begitu ngaruh (karena setelah penghasilan tidak dikenakan pajak toh konsumsi saya rasanya tetep gini-gini aja), tapi tentu harapan saya asumsi pemerintah bahwa turunnya penerimaan PPh akan mampu ditutup penerimaan PPN akibat meningkatnya konsumsi dapat terwujud. Mudah-mudahan perekonomian NKRI mampu rebound dan terus tumbuh di tahun-tahun berikutnya. Pertanyaannya sekarang adalah: kalo treshold PTKP dinaikin dan penghasilan jadi tidak dikenakan pajak, yang otomatis membuat ‘tidak taat pajak’, masihkah orang-orang kayak kami ini berkesempatan menjadi ‘orang bijak’? :D

Advertisements

Nostalgia Musika Dahulu Kala

Jon Secada – If You Go

Pulang dari sekolah, langsung nonton Supermarket Sweep buat ngeliat kalkun-kalkun beku yang mahal itu diangkut ke troli. Dana Iswara dan Buletin Siang-nya sebelumnya telah menyapa. Tidur siang bentaran biar sore nanti bisa main dan nonton The Simpsons. Sebelum beranjak tiba-tiba ada video klip lagu ini. Ini Romario Faria? Yang abis menang Piala Dunia itu?? Tapi kayaknya bukan. Lumayan penyegaran nih, biasanya cuma ada video All 4 One yang I Swear atau Bon Jovi-Always. Tapi saya gak ngerti arti lagunya. Kenapa dia lari-lari terus? Kenapa nyanyinya ngotot? Kenapa gak bikin lagu yang mudah dicerna kayak Tiffany-If Love Is Blind? Lagu barat emang aneh.. Mendingan Album Minggu kemana-mana… Ada Manis Manja Grup dan Santa Hoki yang lagi naik daun. Udah ah, tidur dulu. Ntar malem baru ngerjain LKS Kunti (Tekun dan Teliti) sambil disambi nonton Layar Emas. Katanya filmnya bagus: The Bodyguard From Beijing.

Natalie Imbruglia – Torn

Di parkiran — sekaligus lapangan — sekolah. Nongkrong (literally) bareng sambil makan cilok dan batagor di kemasan plastik biar bumbu kacangnya bisa diseruput jelang penghabisan. Lengkap dengan celana pendek biru yang kerap ditarik-tarik biar menutupi dengkul. Temen ada yang pamer motor barunya: Yamaha F1ZR biru. Keren euy! Di saat yang lain cuma bawa Suzuki Tornado GS/GX atau Kawasaki Kaze R atau paling banter Honda Grand Astrea punya bokap (Supra belum keluar). Saya aja sepeda gak punya *loh kok curcol* Suasana abis ujian cawu 2, lagi class meeting. Rame. Tiba-tiba dari speaker butut yang biasa muterin lagu SKJ ’96 tiap jumat terdengar lagu ini. Ini pasti kakak kelas gaul yang lagi show off selera musik dia. Ini katanya penyanyi baru dari Australia. Konon pacarnya vokalis Silverchair. Lagunya bagus. Penyegaran, soalnya bosen liat/denger Nadila nyanyi Salahkan Aku mulu. Mencoba ngikutin liriknya meski dengan kemampuan english yang pas-pasan sampe kalimat “… lying naked on the floor”. Lalu ada yang nanya: “ngapain dia bugil di ubin?”. Entahlah. Masih menjadi misteri. Makanya dijawab “Auk ah gelap!”. Dan tawa pun berderai.

Suede – Trash

Buatlah mixtape. Ambil kaset bekas yang masih layak putar, mungkin album Ria Enes + Susan atau Trio Kwek Kwek yang kini tak berguna. Timpa dengan lagu-lagu yang bisa didapat secara gratis dari radio. Request aja di Mustang, telepon ke sana pake telepon koin di warung sebelah. Pastikan suara penyiarnya gak ikutan kerekam (makanya kadang intronya sering kepotong). Mixtape-nya tematis dong! Lagu-lagu indies britpop ajah.. Track pertama Pulp – Disco 2000. Track 2 Supergrass – Alright. Track 3 The Wannadies – You and Me Song. Oasis ga usah, kita kan #TeamBlur.. *tsah* Nah jangan lupa masukin lagu ini nih.. Beautiful Ones kan udah mainstream tuh.. *bibit-bibit hipster telah tertanam sejak dini* Brett Anderson dkk (juga band-band ‘indies’ lainnya) emang bersuara sengau dan gak manly, tapi lagunya enak-enak. Ntar jangan lupa tambahin lagu-lagu The Cure, Inspiral Carpet, Ash, Catatonia, sama Lightning Seeds yak.. “Besok di kelas jam istirahat kedua tukeran sama kaset mixtape guah. Tenang, guah bawa walkman kok!” ujar seorang teman yang hobi pake topi mancing ala Reni  The Stone Roses.

The Mighty Mighty Bosstones – The Impression That I Get

“Bisa main trombone gak? Atau saxophone gitu? Biar bisa gabung jadi brass section” Halah, boro-boro mz.. Saya aja niup suling Yamaha cuma bisa bawain Ibu Kita Kartini dan Syukur. Itu pun dengan ludah bercucuran. Waktu itu tiba-tiba jadi banyak yang pake topi pet. Trus bawa-bawa peluit. Pulang sekolah pake baju Hawaii. Virus apa ini? Tiba-tiba juga teman sebangku jadi sering gambar pria-pria berjas lengkap dengan pose seperti lagi lari di bukunya. Kemudian motif kotak-kotak putih-item ada dimana-mana. Situ mau jadi pecalang? Atau pengibar chequered flag di garis finish sirkuit F1?? Lalu band-band lokal bernama obvious pun bermunculan: Skalie, Ketupat Skayur, Toska, dll. Why so obvious?? “Tapi  band ini lagunya enak-enak nu, dengerin deh” Bener juga sih. Lebih ngebas dan manly dibanding britpop :D Lalu kemudian diperdengarkan Less Than Jake, Save Ferris, Goldfinger, Buck-O-Nine, Kemuri (wuih.. Jepang nih!), The Specials, dll. Tapi.. tapi.. tapi.. lama-lama kok monoton yah di kuping saya. Semua terdengar sama. Mungkin saya tidak berbakat jadi rudeboys :(

Robbie Williams – It’s Only Us

Senin pagi. Sambil membentuk barisan upacara, kami saling bertukar sapa: “Gimana tuh Juve? Lawan Perugia aja kalah hahaha” // “Eh Inter diem ye, ga masuk Liga Champions aje lu” // “Milan cemennn!” // “Alah, kayak Roma kagak, kalahan mulu”. Perdebatan yang tiada berujung. Serie A adalah segalanya waktu itu. Rayana Djakasuria lebih terkenal daripada Dubes RI di Roma. Ulasan Bung Kusnaeni di Tabloid Bola adalah sabda. Sudah mau selesai musim kompetisi. Bentar lagi Euro 2000 di Belgia-Belanda. RCTI yang mau nayangin berulang kali nayangin lagu ini sebagai promo berhubung jadi salah satu lagu resmi turnamen tersebut [citation needed]. Solusi terbaik dari perdebatan tentang klub jagoan masing-masing adalah dengan menyelesaikannya di arena rental PS. Tentu saja PS generasi pertama, dengan game andalan Winning Eleven 4 dan Pro Evolution Soccer. Tak lupa dengan nama pemain yang ngaco karena Konami gak bayar lisensi ke FIFA. Taro Roberto Carlos jadi striker, gunakan one-two secara intensif, dan dekatkan stik ke badan ketika mengambil tendangan penalti agar tidak diintip lawan. Niscaya akan menang. Kalo kalah, tinggal kasih alasan “stiknya gak enak”.

 

 

*tanda-tanda penuaan* :(