Jump on the Bandwagon

So here’s a thing increasingly popular right now: #30daysmusicchallenge. Never heard about it before? Check this one out:

cx_swmruqaes5cx-jpg-large

Interesting. Gonna make my version of it. But instead of posting it one by one each day (which no one would care) (and too lazy to do it), i’ll wrap it up in one post and make a YouTube playlist out of it. So here it is:

  1. Day 1: Efek Rumah Kaca – Putih
  2. Day 2: Nena – 99 Luftballons
  3. Day 3: Jimmy Cliff – I Can See Clearly Now
  4. Day 4: Oasis – Don’t Look Back in Anger
  5. Day 5: Seringai – Akselerasi Maksimum
  6. Day 6: Mansyur S. & Elvy Sukaesih – Gadis Atau Janda
  7. Day 7: Float – Pulang
  8. Day 8: Slank – Poppies Lane Memory
  9. Day 9: Beastie Boys – Intergalactic
  10. Day 10: Rama – Bertahan *ini sedih banget ya rabb :”(*
  11. Day 11: The Trees and The Wild – Berlin
  12. Day 12: Green Day – When I Come Around
  13. Day 13: John Williams – Star Wars Main Theme
  14. Day 14: Edwin McCain – I Could Not Ask For More
  15. Day 15: Destiny’s Child – Emotion
  16. Day 16: UEFA – UEFA Champions League Anthem
  17. Day 17: Yana Julio & Lita Zein – Emosi Jiwa
  18. Day 18: Toto -Africa (yang penting lagu tahun 1980-an lah.. :D)
  19. Day 19: Five For Fighting – 100 Years
  20. Day 20: Iwan Fals – Belum Ada Judul
  21. Day 21: Weezer – Jamie
  22. Day 22: Coldplay – Fix You
  23. Day 23: Benyamin S. – Seriosa
  24. Day 24: ST12 – S.K.J.
  25. Day 25: Chrisye – Merpati Putih
  26. Day 26: Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
  27. Day 27: Fadly – Anak Jalanan #lawas
  28. Day 28: Yuna – Decorate
  29. Day 29: Fajar Bahari – Game Watch (atau bahasa bekasinya “Gimbot”)
  30. Day 30: The Milo – Dunia Semu
Advertisements

Putih: Cara Syahdu Mengingat Kematian

Ketika saya menulis postingan ini, entah sudah berapa puluh kali saya memutar lagu dari Efek Rumah Kaca berjudul Putih. Lagu sepanjang hampir 10 menit yang hanya bisa diungkapkan dengan dua kata: luar biasa.

Sejatinya Putih terdiri dari dua fragmen: “Tiada (untuk Adi Amir Zainun)” dan “Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)”. “Tiada” bercerita tentang kematian, garis finish hidup seorang manusia di dunia yang fana, sebelum masuk fase kekekalan abadi. “Ada” sebaliknya, berkisah tentang lahirnya kehidupan baru, siap mengarungi bahtera kehidupan yang penuh hal tak terduga.

Hal paling mencolok selama “Tiada” adalah kehadiran narator yang seolah berperan sebagai si almarhum yang kisah akhir hidupnya sedang dinyanyikan oleh Cholil. Sangat sulit untuk tidak merinding ketika mendengarkan bagian-bagian awal “Tiada” dinarasikan. Untuk kemudian ‘ditampar’ oleh lirik berikut:

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan

Damn, “Tiada” bisa menjadi lagu pengingat kematian paling powerful menggantikan posisi Bila Waktu T’lah Berakhir-nya Opick yang tak henti-hentinya dimainkan infotainment setiap ada selebritis Indonesia yang meninggal. Tapi sayang kemungkinannya kecil, karena “Tiada” lebih bernuansa keikhlasan menerima kematian yang merupakan kodratnya manusia. Lebih nrimo. Tidak memiliki pretensi untuk bersesal-sesal atas datangnya hari-H itu karena amalan yang (dirasa) belum cukup dan kesepian abadi yang menanti di dalam kubur karenanya. Sebuah kesan yang sulit diterima oleh mayoritas masyarakat NKRI yang ultra-religius ini.

Lalu kemudian tiba saatnya “Ada” menggantikan “Tiada”. Gugur satu, tumbuh seribu. Mereka yang pergi digantikan oleh generasi baru, menandakan sebuah harapan tentang kehidupan. “Ada” mampu memainkan emosi: di satu sisi menyiratkan asa dan optimisme akan hadirnya hidup baru, di sisi lain juga berbicara tentang kekhawatiran soal kehidupan yang akan dijalani nantinya. Satu setengah menit terakhir “Ada” menurut saya merupakan bagian terbaik dari “Putih”, baik dari segi musik maupun lirik.

Saya tidak dapat menepis kesan kalau Putih sangat mirip dengan Satu Satu dari Iwan Fals. Tentunya mirip di sini bukan dalam hal karya produksi, tapi kesamaan pesan yang disampaikan kedua lagu. Tentang kematian dan kehidupan yang hadir di saat yang bersamaan. Tentang kehilangan dan kedatangan. Tentang keniscayaan. Keikhlasan. Dan sebagainya. Keduanya luar biasa dalam caranya masing-masing.

Oh btw, single Putih ini memang dirilis di Soundcloud dan bisa langsung diunduh di sana. Gratis. Tapi sepertinya album ketiga ERK ini layak mendapat apresiasi lebih. Mungkin rilisan fisiknya patut dipertimbangkan untuk dimiliki begitu keluar nanti.

 

*ngomong ke diri sendiri*

[mixtape] Merdeka Bung!

Memilih lagu-lagu untuk dimasukkan ke dalam satu playlist bertema peringatan hari kemerdekaan RI ternyata bukanlah perkara yang mudah. Sama halnya dengan menyusun playlist untuk bulan Ramadhan, kesulitan utama adalah memilih lagu-lagu yang tidak preachy dan menyuarakan nasionalisme secara banal. Namun jika ditengok kembali, sebenarnya ini kembali ke masalah selera saja. Bagi sebagian orang, lagu ‘nasionalis’ tertentu mungkin dianggap sangat norak dan banal, terlepas dari betapapun populernya lagu tersebut (sebut nama: Cokelat – Bendera atau Netral – Garuda di Dadaku), tapi bagi sebagian orang lainnya bisa jadi berpendapat sebaliknya. Sangat subjektif penilaiannya.

Menurut saya sendiri, lagu-lagu yang patut didengar ulang pada momen peringatan tujuhbelasan tidak harus selalu bernuansa puja puji berlebihan terhadap negara. Tidak harus eksplisit tersurat dalam lirik-liriknya tentang kecintaan teramat dalam terhadap tanah air. Terkadang sebuah lagu yang tak secuil pun menyebutkan kata “Indonesia” dalam liriknya mampu  menggugah rasa kesadaran berbangsa karena secara tersirat memang bertutur seputar masalah tersebut. Namun tidak ada salahnya juga lagu-lagu yang mengusung semangat nasionalis menyertakan banyak lirik berbunyi “Indonesia”, “Garuda”, “Negeri/Tanah Airku”, “Merah Putih”, dsb. Meski terkesan obvious tapi kalo lagunya enak (dan gak terlalu sering diputer di TV sehingga jadi eneg) kenapa nggak?

Tentu playlist bertema ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran lagu-lagu nasional, bukan semata lagu pop, yang telah melekat di kepala dari jaman SD. Makanya, lagu nasional favorit saya sepanjang masa, Tanah Airku ciptaan Ibu Sud, mutlak harus berada di urutan pertama. Semoga Tuhan menjamin surga untuk Ibu Sud yang telah menciptakan lagu sesederhana tapi seindah ini. Di playlist ini yang digunakan adalah yang versi instrumental oleh Addie MS atau yang juga dikenal sebagai “soundtrack kabin pesawat Garuda Indonesia ketika landing”. Juga ada lagu nasional favorit saya lainnya: Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh Nial Djuliarso.

Lagu tentang Indonesia selayaknya adalah lagu yang mengingatkan akan rumah. Tempat bermuaranya setiap perjalanan. Juga tentang keadaan ‘rumah’ tersebut. Bagaimana cara merawatnya, membesarkannya, dan menjaganya dengan baik. Tentunya juga tak terlupa dengan kehadiran lagu-lagu “pop nasionalis” yang ringan dan ngena. Semuanya terangkum dalam mixtape 8tracks berikut yang juga berisi lagu-lagu dari Pee Wee Gaskins, Efek Rumah Kaca, Chaseiro, dan lainnya. Sila nikmati dan… Merdeka!

 

Hsinchu, 17 Agustus 2015. Pertama kalinya merayakan 17an di negara orang.

[mixtape] Guilty Pleasures

Terinspirasi dari kabar akan manggungnya Boyzone (minus alm. Stephen Gately tentunya) di Jakarta Mei nanti. Boyzone euy! Kang Ronan Keating dan tiga rekannya yang entah namanya siapa :D Boyband legendaris! Lagu-lagu boyband pasti (saya haqqul yaqin akan hal ini) jadi guilty plasures bagi sebagian besar kaum adam yang melewati masa akhir dekade 90-an di bangku sekolah. Berlagak jijay padahal apal beberapa liriknya.. :p Pura-pura ga paham padahal tau nama personilnya (fast recap: Nicky, Kian, Bryan, Mark, Shane *tanpa googling*) hahaha.. Aib dan sampah banget emang. Tapi patut diakui, lagu-lagu boybands yang menjamur di era 90-an ini emang banyak yang enak. Easy listening, dan sangat membantu untuk belajar bahasa Inggris. Termasuk 10 track lagu boyband yang dari dulu ada di music library saya ini..

*tapi ga sering-sering banget kok diputernya, suer haha* *aaaak* *bongkar aib* *tutup muka* *mengasingkan diri dari peradaban*

Nostalgia Musika Dahulu Kala

Jon Secada – If You Go

Pulang dari sekolah, langsung nonton Supermarket Sweep buat ngeliat kalkun-kalkun beku yang mahal itu diangkut ke troli. Dana Iswara dan Buletin Siang-nya sebelumnya telah menyapa. Tidur siang bentaran biar sore nanti bisa main dan nonton The Simpsons. Sebelum beranjak tiba-tiba ada video klip lagu ini. Ini Romario Faria? Yang abis menang Piala Dunia itu?? Tapi kayaknya bukan. Lumayan penyegaran nih, biasanya cuma ada video All 4 One yang I Swear atau Bon Jovi-Always. Tapi saya gak ngerti arti lagunya. Kenapa dia lari-lari terus? Kenapa nyanyinya ngotot? Kenapa gak bikin lagu yang mudah dicerna kayak Tiffany-If Love Is Blind? Lagu barat emang aneh.. Mendingan Album Minggu kemana-mana… Ada Manis Manja Grup dan Santa Hoki yang lagi naik daun. Udah ah, tidur dulu. Ntar malem baru ngerjain LKS Kunti (Tekun dan Teliti) sambil disambi nonton Layar Emas. Katanya filmnya bagus: The Bodyguard From Beijing.

Natalie Imbruglia – Torn

Di parkiran — sekaligus lapangan — sekolah. Nongkrong (literally) bareng sambil makan cilok dan batagor di kemasan plastik biar bumbu kacangnya bisa diseruput jelang penghabisan. Lengkap dengan celana pendek biru yang kerap ditarik-tarik biar menutupi dengkul. Temen ada yang pamer motor barunya: Yamaha F1ZR biru. Keren euy! Di saat yang lain cuma bawa Suzuki Tornado GS/GX atau Kawasaki Kaze R atau paling banter Honda Grand Astrea punya bokap (Supra belum keluar). Saya aja sepeda gak punya *loh kok curcol* Suasana abis ujian cawu 2, lagi class meeting. Rame. Tiba-tiba dari speaker butut yang biasa muterin lagu SKJ ’96 tiap jumat terdengar lagu ini. Ini pasti kakak kelas gaul yang lagi show off selera musik dia. Ini katanya penyanyi baru dari Australia. Konon pacarnya vokalis Silverchair. Lagunya bagus. Penyegaran, soalnya bosen liat/denger Nadila nyanyi Salahkan Aku mulu. Mencoba ngikutin liriknya meski dengan kemampuan english yang pas-pasan sampe kalimat “… lying naked on the floor”. Lalu ada yang nanya: “ngapain dia bugil di ubin?”. Entahlah. Masih menjadi misteri. Makanya dijawab “Auk ah gelap!”. Dan tawa pun berderai.

Suede – Trash

Buatlah mixtape. Ambil kaset bekas yang masih layak putar, mungkin album Ria Enes + Susan atau Trio Kwek Kwek yang kini tak berguna. Timpa dengan lagu-lagu yang bisa didapat secara gratis dari radio. Request aja di Mustang, telepon ke sana pake telepon koin di warung sebelah. Pastikan suara penyiarnya gak ikutan kerekam (makanya kadang intronya sering kepotong). Mixtape-nya tematis dong! Lagu-lagu indies britpop ajah.. Track pertama Pulp – Disco 2000. Track 2 Supergrass – Alright. Track 3 The Wannadies – You and Me Song. Oasis ga usah, kita kan #TeamBlur.. *tsah* Nah jangan lupa masukin lagu ini nih.. Beautiful Ones kan udah mainstream tuh.. *bibit-bibit hipster telah tertanam sejak dini* Brett Anderson dkk (juga band-band ‘indies’ lainnya) emang bersuara sengau dan gak manly, tapi lagunya enak-enak. Ntar jangan lupa tambahin lagu-lagu The Cure, Inspiral Carpet, Ash, Catatonia, sama Lightning Seeds yak.. “Besok di kelas jam istirahat kedua tukeran sama kaset mixtape guah. Tenang, guah bawa walkman kok!” ujar seorang teman yang hobi pake topi mancing ala Reni  The Stone Roses.

The Mighty Mighty Bosstones – The Impression That I Get

“Bisa main trombone gak? Atau saxophone gitu? Biar bisa gabung jadi brass section” Halah, boro-boro mz.. Saya aja niup suling Yamaha cuma bisa bawain Ibu Kita Kartini dan Syukur. Itu pun dengan ludah bercucuran. Waktu itu tiba-tiba jadi banyak yang pake topi pet. Trus bawa-bawa peluit. Pulang sekolah pake baju Hawaii. Virus apa ini? Tiba-tiba juga teman sebangku jadi sering gambar pria-pria berjas lengkap dengan pose seperti lagi lari di bukunya. Kemudian motif kotak-kotak putih-item ada dimana-mana. Situ mau jadi pecalang? Atau pengibar chequered flag di garis finish sirkuit F1?? Lalu band-band lokal bernama obvious pun bermunculan: Skalie, Ketupat Skayur, Toska, dll. Why so obvious?? “Tapi  band ini lagunya enak-enak nu, dengerin deh” Bener juga sih. Lebih ngebas dan manly dibanding britpop :D Lalu kemudian diperdengarkan Less Than Jake, Save Ferris, Goldfinger, Buck-O-Nine, Kemuri (wuih.. Jepang nih!), The Specials, dll. Tapi.. tapi.. tapi.. lama-lama kok monoton yah di kuping saya. Semua terdengar sama. Mungkin saya tidak berbakat jadi rudeboys :(

Robbie Williams – It’s Only Us

Senin pagi. Sambil membentuk barisan upacara, kami saling bertukar sapa: “Gimana tuh Juve? Lawan Perugia aja kalah hahaha” // “Eh Inter diem ye, ga masuk Liga Champions aje lu” // “Milan cemennn!” // “Alah, kayak Roma kagak, kalahan mulu”. Perdebatan yang tiada berujung. Serie A adalah segalanya waktu itu. Rayana Djakasuria lebih terkenal daripada Dubes RI di Roma. Ulasan Bung Kusnaeni di Tabloid Bola adalah sabda. Sudah mau selesai musim kompetisi. Bentar lagi Euro 2000 di Belgia-Belanda. RCTI yang mau nayangin berulang kali nayangin lagu ini sebagai promo berhubung jadi salah satu lagu resmi turnamen tersebut [citation needed]. Solusi terbaik dari perdebatan tentang klub jagoan masing-masing adalah dengan menyelesaikannya di arena rental PS. Tentu saja PS generasi pertama, dengan game andalan Winning Eleven 4 dan Pro Evolution Soccer. Tak lupa dengan nama pemain yang ngaco karena Konami gak bayar lisensi ke FIFA. Taro Roberto Carlos jadi striker, gunakan one-two secara intensif, dan dekatkan stik ke badan ketika mengambil tendangan penalti agar tidak diintip lawan. Niscaya akan menang. Kalo kalah, tinggal kasih alasan “stiknya gak enak”.

 

 

*tanda-tanda penuaan* :(

Yang Tersisa dari Interstellar

Ah, Interstellar… Satu-satunya film yang saya tunggu kehadirannya di tahun ini. Christoper Nolan + eksplorasi antar galaksi. Tentu sangat layak dinantikan. Juga sekaligus ingin ‘membalaskan dendam’ karena waktu Inception tayang gak sempet nonton di bioskop. Sekitar tiga jam tersedot ke dalam lubang hitam dan merasakan sendiri fenomena dilatasi waktu mini ketika waktu di dalam teater bergerak lebih lambat daripada di luar. Tiga jam yang hampir tak terasa. Tapi ketika semua usai dan credit title mulai ditayangkan terasa ada yang mengganjal. Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak, menyisakan keingintahuan untuk googling lebih banyak :))

Tema tentang angkasa luar dan penjelajahan antariksa selalu menarik minat saya dari dulu: dari mulai era Star Trek: The Next Generation dengan awak USS Enterprise-nya yang tersohor itu hingga serial dokumenter Cosmos: A Spacetime Odyssey yang tayang belum lama ini. Semua karena keyakinan saya kalo alam semesta yang teramat luas ini rasanya sangat mubazir kalo hanya dihuni oleh umat manusia semata. Pasti ada suatu bentuk kehidupan lain nun jauh di sana, entah dalam bentuk paling primitif berupa bakteri dan protozoa (udah lama kan ga denger kata ini?) atau entitas dengan peradaban tingkat tinggi macam Autobots dan Decepticons.

Pertanyaan-pertanyaan yang tersisa paska nonton Interstellar akhirnya membuat saya terdampar di Youtube dan menemukan dokumenter The Science of Interstellar. Ini bukan sebuah feature behind the scene yang lazim diluncurkan bersamaan dengan rilisnya suatu film, tapi lebih berupa penjelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena-fenomena yang ada di film Interstellar. Sebuah tontonan yang sebenarnya tidak menawarkan pemahaman baru (karena di 13 episode Cosmos udah dikaji secara komprehensif), tapi mungkin cukup membantu bagi yang awam istilah-istilah dunia astrofisika. Ini juga versi yang lebih mudah dicerna daripada penjelasan dalam buku berjudul sama karangan Kip Thorne, fisikawan di balik pembuatan cerita Interstellar, yang sampai saat ini masih berupaya saya khatamkan. E-book berformat epub-nya bisa diunduh di sini.

Beberapa pertanyaan mendasar (seperti kenapa Cooper masih bisa hidup dan badannya utuh setelah terlontar dari pesawatnya dan masuk ke Gargantua, keberadaan worm hole yang masih hipotetikal, alternatif-alternatif planet pengganti bumi yang riskan karena mengorbit black hole, dsb.) memang masih belum terjawab setelah baca buku itu, namun bisa jadi jawabannya ada di bab-bab yang belum sempat saya baca. Postingan ini memang tidak dimaksudkan untuk mengulas film tersebut, tapi cuma ingin membagi kegelisahan yang sama dan nyoba mencari tahu jawabannya bareng-bareng juga untuk memenuhi target satu postingan per bulan. :))

Sebagai penutup, sebuah mixtape yang berisi lagu-lagu bertema/berjudul/berlirik seputar luar angkasa dan printilannya berikut kiranya bisa dijadikan teman membaca buku Kip Thorne tadi kalo udah diunduh. Idenya muncul waktu abis nonton Gravity tapi baru terealisasi sekarang (yah mumpung temanya masih sebelas-dua belas…). Introducing the songs from Lighthouse Family, Beastie Boys, Incubus, and many more.

 

*maafkan postingan sapu jagad yang nyampah gak jelas gini :))*

 

Mencoba Spotify

Saat ini pilihan untuk layanan music streaming di Indonesia sudah cukup beragam. Mulai dari pemain lokal kayak Ohdio dan Langit Musik hingga penyedia layanan dari luar negeri macam Rdio, Guvera, dan Deezer. Khusus untuk yang pemain internasional, ketiga nama terakhir cukup mumpuni untuk memenuhi dahaga para pecandu musik tanah air yang melek tehnolohi. Masing-masing punya keunggulannya sendiri-sendiri, seperti Guvera yang menyediakan beragam editor picked playlist (salah satu yang epic adalah playlist Musik di Mini Market :D), Rdio yang biaya langganannya paling murah (Rp 20.000 per bulan untuk unlimited access dan sync offline), dan Deezer yang koleksi lagunya lumayan komplit.

Tapi cuma satu penyedia layanan yang ditunggu-tunggu dari dulu kehadiran resminya di Indonesia: Spotify. Mungkin selain faktor nama besar dan reputasinya sebagai garda terdepan layanan music streaming sejagad, faktor lain yang membuat Spotify ditunggu-tunggu kehadirannya adalah karena cuma ini yang menawarkan layanan free dalam artian sebenarnya. Guvera, Rdio, dan Deezer memang (awalnya) juga gratis, tapi setelah melewati masa free trial maka untuk menikmati layanan yang fitur-fiturnya sama seperti pada masa free trial harus berlangganan dengan nominal tertentu. Sedangkan Spotify itu… gratis! Beneran gratis dan ga ada masa free trial. Hanya saja memang ‘kegratisan’nya itu harus ditebus dengan kerelaan mendengarkan 30 detik iklan setiap selesai beberapa lagu, juga adanya suggested song yang ganggu karena nongol tiba-tiba, dan keterbatasan dalam nge-skip lagu dan dengerin lagu tanpa harus nge-shuffle satu album. Semua gangguan itu pada dasarnya bisa dihilangkan jika berlangganan fitur premium (bisa aje nyari duitnye..), tapi tanpa berlangganan pun sebenernya udah lumayan banget buat kaum miskin papa yang fakir gratisan.

Sayangnya emang sampai sekarang Spotify belum masuk di Indonesia. Kalo ngakses website-nya aja selalu di-direct ke page yang ada tulisan “Kami belum tiba di Indonesia!”. Pun demikian jika membukanya di Google Play Store (untuk pengguna Android ya, ga tau apa kalo di app store iOS dan Windows Phone juga sama). Bakalan ada notifikasi kalo this item is not available in your country. Cih.. Kurang apa NKRI padahal? Emangnya kami negara dunia ketiga? *emang…*

Meh!

Bukan orang Indonesia namanya kalo gak bisa ngakalin segala peraturan dan larangan untuk kepentingan pribadinya. Ternyata bisa-bisa aja untuk menggunakan layanan Spotify di wilayah kedaulatan NKRI, baik di desktop ataupun di handset.. #telat. Modal utamanya tentunya adalah virtual private network (VPN) yang berfungsi sebagai alat penyamaran bagi WNI-WNI bandel agar seolah-olah tampak sebagai pengguna dari negara lain yang sudah memiliki akses ke Spotify. Dulunya saya mikir kalo VPN ini harus diaktifin setiap kali membuka aplikasinya, tapi ternyata hanya cukup menggunakannya ketika mengunduh, menginstal, dan proses registrasi. Selebihnya, meski tetap menggunakan identitas asli sebagai pengguna internet dari Indonesia namun semuanya berjalan lancar-lancar saja tak kurang sesuatu pun.

Untuk yang mau menapaktilasi pengalaman saya mencoba Spotify (khususnya bagi pengguna robot ijo), pertama pastikan dulu menginstal aplikasi VPN. Saya menggunakan aplikasi TunnelBear, meskipun tersedia banyak pilihan aplikasi sejenis lainnya. Alasannya lebih karena tampilan antarmukanya yang sederhana dan mudah digunakan oleh saya yang sebelumnya buta tentang VPN-VPN-an ini. Begitu sudah diinstal di handset, pilih negaranya AS, dan nyalakan VPN-nya.

Tell the bear to wake up

Tell the bear to wake up

Jika sudah aktif sebagai (pura-puranya) pengguna internet di negeri Paman Sam, tinggal lanjut ke Play Store nya aja. Waktu itu saya coba buka melalui aplikasi di hape ternyata masih not available in your country, jadinya saya aksesnya melalui Play Store di website play.google.com. Di situ langsung search aja Spotify Music dan tinggal klik untuk diinstal ke handset. Setelah terinstal dengan sempurna, jangan langsung uninstal aplikasi TunnelBear-nya. Lanjut registrasi dulu dan coba dites aja dengerin satu-dua lagu. Kalo udah oke semua baru dinonaktifkan VPN-nya dan bisa juga sekaligus di-uninstal aplikasi VPN-nya tadi (meskipun ada juga yang bilang kalo sesekali harus tetep sign in pake VPN untuk tetap mengelabui sistem). Untuk di desktop (kebetulan saya pake Ubuntu, tapi rasanya di Windows juga sama prosesnya) pada prinsipnya juga sama dengan proses instalasi di handset tadi: instal aplikasi VPN-aktifkan VPN-instal Spotify-non aktifkan VPN-streaming musik seenak jidat. Hanya saja keunggulan aplikasi Spotify di desktop adalah bisa maenin setiap lagu tanpa harus nge-shuffle dan format share ke socmed-nya juga lebih memadai ketimbang aplikasi di hape. Kini udah satu minggu lebih saya menggunakan jasa baik Spotify di hape dan desktop saya dan rasanya sekarang kuota internet semakin ga ada artinya: cepet banget abis karena keseringan dipake striming. Ini memang benar-benar pemiskinan yang terstruktur, sistematis, dan masif!

...tapi sepadan lah :)) #asolole

…tapi sepadan lah :)) #asolole