The Big Short (2015)

Saya membayangkan skenario begini:

Tahun 1995. Tepat 50 tahun perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Optimisme publik sedang tinggi-tingginya. Indonesia digadang-gadang akan segera lepas landas menjadi negara maju. Semua berkat jasa sang Bapak Pembangunan yang berhasil menciptakan kondisi politik dan perekonomian yang stabil. Tingkat inflasi rendah, pertumbuhan PDB terus meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap USD stabil di kisaran Rp 2000/dollar. Semua terlihat sempurna. Tapi saya tidak melihat demikian. Saya yakin betul di balik semua kecemerlangan ini ada sisi busuk yang ditutup-tutupi. Korupsi-kolusi-nepotisme merajalela di setiap lapis pemerintahan, sistem perbankan yang rapuh, kendali moneter yang lemah, dan seterusnya. Tapi tidak ada yang berani bersuara karena ancamannya adalah hilangnya nyawa. Kondisi ideal ini pasti tidak akan bertahan lama. Saya mulai berpikir untuk mencari aman sekaligus meraup keuntungan bagi diri sendiri. Maka mulailah saya menimbun dollar dengan setiap rupiah yang saya punya, meskipun pasti ditertawakan karena apa untungnya investasi valas macam itu di saat kondisi perekonomian yang sebegini stabil. Tetapi bodo amat. Saya yakin dollar adalah pegangan paling aman, di saat stabil maupun krisis. Agak berbau spekulasi memang, tapi, sekali lagi, bodo amat. Dan dua tahun kemudian terbukti. 16 bank nasional dilikuidasi. Kepercayaan publik terhempas ke level terendah. Nilai tukar rupiah terhadap USD turun drastis hingga menyentuh Rp 17.000/dollar. Inflasi merajalela. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena PHK massal dan kaburnya investor asing ke luar negeri. Negara chaos, nyaris di ambang bubar. Tapi saya tetap aman. Bahkan lebih dari itu: kekayaan saya melonjak tak terhingga. Aset saya meningkat nyaris 800% akibat depresiasi rupiah. Kasarnya saya ini sedang tertawa di atas penderitaan banyak orang: saudara sebangsa sendiri, di negara sendiri yang nyaris kolaps. Tapi peduli setan. “That’s how capitalism works,” ujar saya dalam hati. Salah sendiri tidak sigap menangkap peluang dan dengan mudahnya dibuai kenyamanan semu.

Kurang lebih pesan itu yang coba disampaikan film The Big Short (meskipun analogi yang saya gunakan mungkin kelewat sederhana). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini mengambil latar belakang krisis ekonomi global yang bermula dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat. Mengambil cerita dari tiga sudut pandang berbeda, The Big Short mencoba mengulas beberapa orang yang cukup jeli melihat rapuhnya pondasi sistem finansial di AS akibat pemberian kredit yang dilakukan dengan serampangan, dan mengambil untung besar dari kondisi tersebut. Meskipun itu berarti mereka harus bersenang-senang di atas derita orang banyak.

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Christian Bale berperan sebagai Dr. Michael Burry, seorang ilmuwan fisika berjiwa metal yang banting setir jadi fund manager di perusahaan Scion Capital dan menjadi yang pertama mengendus bobroknya sistem financing kredit kepemilikan rumah di AS. Steve Carell menjadi Mark Baum, bos FrontPoint Capital, yang bekerja sama dengan Jared Vennett (Ryan Gosling), account officer Deutsche Bank, yang terinspirasi dari tindakan Burry dan mencoba berkolaborasi bersama Baum untuk meraup untung besar dari kondisi ini. Brad Pitt berperan sebagai pensiunan bankir Ben Rickert yang menjadi mentor bagi 2 manajer investasi kecil amatiran yang juga mencoba mendapat benefit dari kebobrokan yang tak diketahui orang banyak ini. Timeline ketiganya tidak saling berkait namun punya kesamaan: semua menjadi bahan cibiran, olok-olok, dan cemoohan ketika melontarkan ide bahwa sistem finansial AS ternyata dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh, yang sarat dengan fraud dan tipu-tipu.

Bagi yang kurang familiar dengan dunia perbankan dan finansial (atau kurang paham bagaimana dahsyatnya krisis ekonomi global 2008), mungkin film ini akan sangat memusingkan (dan super membosankan). Masalahnya, penyebab krisis yang bermula di AS itu bukan berasal dari mismanajemen produk-produk investasi konvensional, tapi udah level turunan (derivatives) dari produk-produk tersebut. Bahkan derivatives-nya bukan cuma satu tingkat, tapi dua tingkat dari produk sesungguhnya. Saya aja ga yakin produk-produk investasi semacam itu udah ada di Indonesia apa belum karena saking njelimetnya (di sini mah ngejelasin unit link atau reksadana itu makhluk sejenis apa aja udah ribet, apalagi investasi derivatives kek gini?) Begitu banyak jargon-jargon ‘ajaib’ di film ini, kayak sub-prime mortgage, collateralized debt obligation (CDO), dan credit default swap,  yang terkadang harus mengundang beberapa figur terkenal untuk menjelaskan versi sederhananya dengan analogi-analogi yang bisa diterima akal sehat (atau bisa juga membaca artikel TIME ini untuk jadi bekal sebelum menonton). Tapi secara keseluruhan film ini asik sih, gaya pengambilan gambarnya ala-ala mockumentary yang bergerak dinamis. Pun demikian dengan tingkah para aktornya yang sesekali mendobrak dimensi keempat dengan berbicara kepada penonton. Juga sedikit bumbu-bumbu komedi yang cukup menghibur di sela-sela keseriusan. Film ini juga tentunya bebas spoiler karena berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi sehingga udah ketebak endingnya bakal kayak gimana.

Dalam film Capitalism: A Love Story, Michael Moore pernah bilang kalau berkat instrumen investasi berupa derivatives, saat ini Wall Street bukan lagi sekadar bursa saham, tapi lebih berupa kasino raksasa tempat para fund manager berjudi menggunakan dana masyarakat di produk-produk yang terlihat prospektif tapi artifisial, tanpa menghiraukan dampak negatif perilaku tersebut pada perekonomian secara keseluruhan. “Greed is good”. Rasanya semua orang yang penghasilannya terkait dengan aktivitas di Wall Street setuju dengan kredo tersebut. Namun di film Big Short ini, diperlihatkan bahwa juga terdapat pertentangan batin yang dialami para pemeran utama. Di satu sisi mereka sangat mengharapkan aksi nekad mereka untuk mempertaruhkan modal dengan jumlah begitu besar untuk peristiwa yang ketika itu dianggap probabilitasnya nol dapat berbuah manis, namun di sisi lain mereka paham bahwa pengetahuan dini mereka akan bobroknya sistem finansial AS seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya resesi besar-besaran di kemudian hari. Ini terlihat jelas dalam salah satu dialog ketika Rickert ilfil melihat dua orang ‘anak asuh’ nya kegirangan ketika membayangkan untung besar yang akan diraih jika analisis dan prediksi mereka menemui kenyataan:

If we’re right, people lose homes. People lose jobs. People lose retirement savings, people lose pensions. You know what I hate about fucking banking? It reduces people to numbers. Here’s a number – every 1% unemployment goes up, 40,000 people die, did you know that?

The Big Short meraih nominasi Oscar 2016 untuk film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor pendukung terbaik untuk Christian Bale dalam perannya sebagai Dr. Michael Burry. Padahal kalo menurut saya Steve Carell juga berhak (atau malah lebih pantas) dinominasikan untuk penghargaan tersebut. Berperan sebagai Mark Baum, si bos yang emosian, Carell rasanya mampu mengubah umpatan orang “Ni orang cepet-cepet mati kek” menjadi rasa simpati selama berjalannya film, terutama ketika ia mulai terjun langsung menginvestigasi berbagai tindakan curang dan penuh keseleboran yang dilakukan pihak perbankan dalam mengucurkan kredit dan rating agencies dalam memeringkat tingkat keamanan berinvestasi. Instrumen investasi yang selama ini disebut-sebut sebagai pilihan teraman ternyata luar biasa busuknya dan sangat berpotensi menjerumuskan banyak orang menjadi jatuh miskin dan kehilangan tempat tinggal. Kebenaran yang terlambat untuk terkuak dan terlanjur menimbulkan banyak korban.
“Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry.”
Advertisements

Whiplash (2014)

Selama ini saya selalu menganggap La Vita e Bella (Life Is Beautiful) (1997) sebagai film terbaik dalam urusan bercerita tentang father-son relation. Namun, Whiplash yang baru hari ini saya tonton (cukup telat memang) ternyata juga tidak kalah mengesankannya dibanding Life Is Beautiful. Bahkan bisa dibilang lebih: karena dalam Whiplash terdapat dua kisah father-son relation. Atau lebih tepatnya: satu kisah father-son relation dan satu kisah ‘father-son’ relation.

Cerita tentang pasang surut hubungan antara Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) dan ayah kandungnya memang hanya menjadi sub-plot di film ini, namun tidak menjadikannya sebagai alur cerita minor yang layak dilupakan. Kisah tentang bagaimana seorang ayah yang meskipun kurang sreg dengan pilihan hidup anaknya sebagai musisi namun selalu berusaha suportif di setiap kesempatan ini buat saya cukup menyentuh dan tak kalah memorable dibanding kisah Roberto Benigni dan anaknya yang menjadi cerita utama di Life Is Beautiful.

Namun tentu, yang menjadi pusat perhatian di film ini adalah bagaimana hubungan antara Andrew Neiman dan ‘ayah’-nya di lingkungan akademis, yaitu dosen musik super killer bernama Terrence Fletcher yang dimainkan dengan sempurna oleh J.K. Simmons. Simmons bahkan diganjar Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik berkat aktingnya di Whiplash ini. Sebuah penghargaan yang sangat sangat layak karena sejak akting Christoph Waltz sebagai Kolonel Hans Landa di Inglourious Basterds rasanya tidak ada lagi aktor pemeran pendukung film Hollywood yang berakting sebaik (dan sesadis) Simmons.

Pasang surut dalam hubungan antara Neiman dan Fletcher ini jauh lebih dinamis dan mendominasi dibandingkan Neiman dan ayah kandungnya sendiri. Bahkan, saking dinamisnya, nonton Whiplash berasa seperti nonton film thriller. Kebengisan Fletcher dalam memimpin band jazz andalan Shaffer Conservatory membuatnya menjadi villain utama dalam film dan musuh bersama para penonton. Bahkan ketika penonton seolah telah diajak percaya kalau seorang Fletcher telah tobat dari sifat iblisnya itu, ia seakan membanting imaji tersebut untuk hancur berkeping-keping di penghujung film. *ups spoiler :p*

Sebagai suatu tontonan yang berlabel nomine Film Terbaik Oscar, Whiplash tergolong cukup ringan dan sangat mudah dinikmati, bahkan untuk orang yang buta nada sekalipun (kayak saya huhuhu). Menonton Whiplash mungkin sensasinya akan sama kayak mennton Tabula Rasa: meningkatkan kembali awareness dan sensitivitas kita terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang “sehari-hari” dan biasa banget. Jika di Tabula Rasa objeknya adalah masakan (Padang), di Whiplash objeknya adalah musik (jazz). Minimal persepsi saya bahwa lagu jazz itu tak lebih cuma sebuah hasil dari suatu jam session yang tak terstruktur dan lebih mengandalkan spontanitas kini jadi termentahkan. Jazz itu ternyata (sangat) serius! Setiap alat musik memiliki peran besarnya masing-masing dalam membangun struktur sebuah lagu, dan drummer, bapak ibu sekalian, drummer itu perannya juga sangat penting dalam mengisi rhythm. Dan solo drum itu ternyata bisa seciamik permainan solo guitar yang udah kadung mainstream, seperti yang ditunjukkan si Andrew di 10 menit terakhir film (yang sukses membuat satu teater hening sesenyap-senyapnya). Mungkin karena selama ini cuma pernah denger permainan solo drumnya Jelly Tobing (jiaah #lawas..) yang rada old-school haha. Pokoknya pas keluar dari teater pasti bawaannya langsung jadi audiophile wannabe gitu hahaha

*sembah*

Whiplash mungkin akan jadi satu-satunya film musikal favorit saya. Selama ini genre tersebut seakan terlalu didominasi dan diidentikkan dengan film-film seperti Moulin Rouge, Chicago, atau Dreamgirls yang sama sekali gak menarik minat saya buat ditonton. Sempat ada film-film macam August Rush atau School of Rock, tapi belum ada yang eksekusinya sekeren (dan sesederhana) Whiplash ini. Basian nonton Whiplash mungkin juga bakal sama layaknya basian nonton Guardians of the Galaxy: langsung menjadikan lagu-lagu dalam OST film tersebut sebagai playlist utama untuk minimal seminggu ke depan :)) Mungkin jika ada satu-satunya kekurangan Whiplash adalah seperti yang telah tersebut dalam ulasan yang terpajang di poster resmi film ini: “Whiplash’ will have audience cheering and begging for an encore“. Yep, an encore would be perfect to bring an end to this movie *kentang sih, semacam coitus interruptus* :))  Selebihnya gak ada kekurangan dari Whiplash. 4.5/5. Very recommended.

P.S.: Satu quote dari Terrence Fletcher di dalam film ini nampaknya akan menjadi salah satu quote film legendaris. Sayangnya, quote yang kalo direnungi memang layak mendapat pembenaran itu otomatis membuat alm. Pak Tino Sidin seolah jadi the biggest asshole in the world huhu.

(sort of) list of IR movies

A friend of mine once shared a link to an article with an ever-provoking title: Must-Watch Films for International Relations Students. A very debatable list contains 104 movies that the writer argues should be watch by all International Relations (IR) students. At first i guess this list is not in a random order i.e. some kind of “Top 104” or something. But then i realized that the author (maybe) just put all of his favorite movies that he thought fits the criteria “covered the vast range of topics in the International Relations’ studies” into the list.

International Relations itself is a very broad subject. It covers not only politics, which become a dominant part of the study, but also put a great emphasis on the understanding of historical moments, economic system, law, language, demography, faith and religions, environmental issues, and other socio-culture aspects. Moreover, nowadays the object of analysis is not only limited to Westphalian style nation-states, the primary actor in IR studies since 1648, but has expanded to include supranational bodies, international non-governmental organization, civil society, and many other non-conventional international actors. Damn, I started to sounds like an actual (ex) IR student (which no one will believe).

Considering its vast range of topics, it is somehow understandable  to see some bizarre and quite obscure kind of movies in that list. You may wondering what makes Thank You For Smoking belong to the list. Or maybe that cartoon film Persepolis. In fact, both of these movies are very IR-ish. A kind of movies that would make those IR students shouted: “HI banget!” to reinstate their witty-yet-smart taste and sheer academic brilliance :p. It perfectly shows that IR is not a study that merely deals with politics and conflicts (this can explain why all movies about World War II could be included on the list), but also handle the issue of lobbyist role in a democratic governmental decision making process or the state vis-a-vis religion relation. However, i still can’t figure out how can films like Babies (as ‘international’ as its casts) and Captain America: The First Avenger belong to the list.

Despite those questionable parts, overall the author made a good choices. No similar list would be complete without the inclusion of Thirteen Days, the story of 1962 Cuban Missile Crisis in the height of Cold War. The importance of this movie for IR students is like A Beautiful Mind for economic students. Clint Eastwood’s ‘twin movies’: Letters From Iwo Jima/Flags of Our Fathers are also short listed. An excellent choice to depict World War II in Pacific front. I also think that all Michael Moore’s documentaries should be included, not only Fahrenheit 9/11, Bowling For Columbine, and Sicko (yes, I’m talking about Capitalism: A Love Story). However, the author somehow left several important movies that share the same IR spirit (sounds so lame :p) with the rest. My choice of movies perhaps not as hipster-ish as the ones included in the original list. It consists of some very mainstream movies and widely popular. But, as i believe watching movies is a great way to study, i think it is important to add some new — still relevant to the topic — movies. These are some movies i suggest as an addition to complete the list:

1. Argo (2012)

How can the author forget and left Argo? It’s quite recent, it wins Oscar, and it’s also “HI banget!“. What could be more IR than the story of some (US) diplomats (!) trying to escape Tehran after the Iran Hostage Crisis post Islamic Revolution 1979?? If The Whistleblower and In The Loop (which i never heard of before :p) could be on top of the list, there’s no reason why Argo could be excluded from this list of 104 IR-ish movies.

2. Traffic (2000)

Traffic tells us a story of illegal drugs trafficking problem in United States and its southern neighbour, Mexico. It explores the cross-border drug trade from a number of perspectives: a user, an enforcer, a politician and a trafficker. Their stories are edited together throughout the film by Steven Soderbergh, the director of the Ocean’s Trilogy. A movie with all-star casts, Traffic shows how mazy the task of law enforcement on drugs trafficking is. It’s a personal favourite of mine, and as one (ex) stakeholder of IR studies (ahem!), i testify that it suits the criteria as IR movie and very recommended to watch as well.

3. Der Untergang (Downfall) (2004)

If you ever watched that Hitler-mad-at-something video meme, you probably already know that it was taken from a scene in this German movie. Der Untergang is a movie depicting final ten days of Adolf Hitler’s reign over Nazi Germany in 1945. It’s the final moments of World War II in European front as Hitler start to realize he won’t win the war when the Allied Force approaching Berlin. The Hitler in this movie would make Hitler in Inglorious Basterds ashamed. And of course that what makes it deserve to be in the list.

4. Good Bye, Lenin! (2003)

Another German movie, but this time it goes with a story of a dysfunctional family in East Germany during the falls of Berlin Wall. I couldn’t find (or in other words:  haven’t watch) any other movie with end of Cold War as its background other than this. The German Reunification is a major historical event that marks the end of an era, along with the disintegration of Soviet Union. This historical moment perhaps only become a background in Good Bye, Lenin!, but it’s more than enough to be a must-watch list for all IR students out there.

5. An Inconvenient Truth (2006)

A non-Michael Moore directed documentary that i think should also included in the list is this Al Gore’s work. An Inconvenient Truth is a movie that tries to shut the global warming naysayers’ mouth up. It has been credited for raising international public awareness of climate change and re-energizing the environmental movement in countries all over the world. As the focus of IR studies now also shifted to non-conventional issues like environment, global warming, migrant workers, etc., the screening of this movie surely reserve a place in one of the IR class as one of teaching methods.

Honorable mention: The Imitation Game, Inside Job, The Motorcycle Diaries, Blood Diamond, Apocalypse Now, Tora! Tora! Tora!, World War Z.

Yang Tersisa dari Interstellar

Ah, Interstellar… Satu-satunya film yang saya tunggu kehadirannya di tahun ini. Christoper Nolan + eksplorasi antar galaksi. Tentu sangat layak dinantikan. Juga sekaligus ingin ‘membalaskan dendam’ karena waktu Inception tayang gak sempet nonton di bioskop. Sekitar tiga jam tersedot ke dalam lubang hitam dan merasakan sendiri fenomena dilatasi waktu mini ketika waktu di dalam teater bergerak lebih lambat daripada di luar. Tiga jam yang hampir tak terasa. Tapi ketika semua usai dan credit title mulai ditayangkan terasa ada yang mengganjal. Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak, menyisakan keingintahuan untuk googling lebih banyak :))

Tema tentang angkasa luar dan penjelajahan antariksa selalu menarik minat saya dari dulu: dari mulai era Star Trek: The Next Generation dengan awak USS Enterprise-nya yang tersohor itu hingga serial dokumenter Cosmos: A Spacetime Odyssey yang tayang belum lama ini. Semua karena keyakinan saya kalo alam semesta yang teramat luas ini rasanya sangat mubazir kalo hanya dihuni oleh umat manusia semata. Pasti ada suatu bentuk kehidupan lain nun jauh di sana, entah dalam bentuk paling primitif berupa bakteri dan protozoa (udah lama kan ga denger kata ini?) atau entitas dengan peradaban tingkat tinggi macam Autobots dan Decepticons.

Pertanyaan-pertanyaan yang tersisa paska nonton Interstellar akhirnya membuat saya terdampar di Youtube dan menemukan dokumenter The Science of Interstellar. Ini bukan sebuah feature behind the scene yang lazim diluncurkan bersamaan dengan rilisnya suatu film, tapi lebih berupa penjelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena-fenomena yang ada di film Interstellar. Sebuah tontonan yang sebenarnya tidak menawarkan pemahaman baru (karena di 13 episode Cosmos udah dikaji secara komprehensif), tapi mungkin cukup membantu bagi yang awam istilah-istilah dunia astrofisika. Ini juga versi yang lebih mudah dicerna daripada penjelasan dalam buku berjudul sama karangan Kip Thorne, fisikawan di balik pembuatan cerita Interstellar, yang sampai saat ini masih berupaya saya khatamkan. E-book berformat epub-nya bisa diunduh di sini.

Beberapa pertanyaan mendasar (seperti kenapa Cooper masih bisa hidup dan badannya utuh setelah terlontar dari pesawatnya dan masuk ke Gargantua, keberadaan worm hole yang masih hipotetikal, alternatif-alternatif planet pengganti bumi yang riskan karena mengorbit black hole, dsb.) memang masih belum terjawab setelah baca buku itu, namun bisa jadi jawabannya ada di bab-bab yang belum sempat saya baca. Postingan ini memang tidak dimaksudkan untuk mengulas film tersebut, tapi cuma ingin membagi kegelisahan yang sama dan nyoba mencari tahu jawabannya bareng-bareng juga untuk memenuhi target satu postingan per bulan. :))

Sebagai penutup, sebuah mixtape yang berisi lagu-lagu bertema/berjudul/berlirik seputar luar angkasa dan printilannya berikut kiranya bisa dijadikan teman membaca buku Kip Thorne tadi kalo udah diunduh. Idenya muncul waktu abis nonton Gravity tapi baru terealisasi sekarang (yah mumpung temanya masih sebelas-dua belas…). Introducing the songs from Lighthouse Family, Beastie Boys, Incubus, and many more.

 

*maafkan postingan sapu jagad yang nyampah gak jelas gini :))*

 

Wadjda

Nama event-nya: Europe On Screen 2014, judul filmnya: Wadjda. Di buku panduannya tertulis film dari Jerman.

Tapi kok pemain, sutradara, sama bahasa filmnya Arab semua??

Ternyata film ini memang diproduseri dan diproduksi dengan biaya yang mayoritas berasal dari Jerman. Yah cukup untuk memenuhi kriteria untuk disebut sebagai film Eropa lah.. Yang bikin unik adalah setting film ini sepenuhnya berada di Riyadh, ibukota Arab Saudi.

Iya, Saudi yang ultra konservatif itu.

Dan memang ini adalah film pertama Saudi yang diedarkan ke seluruh dunia setelah bertahun-tahun tidak berproduksi dan film pertama yang disutradarai oleh sutradara perempuan Arab Saudi. Terlebih lagi, ini film yang juga berkisah tentang perempuan. Tingkat monumentalnya tinggi banget, mungkin setara dengan kalo misalnya Korea Utara memproduksi film drama non-propaganda untuk konsumsi internasional.

Untuk ceritanya sebenarnya sederhana, mirip-mirip gabungan cerita film Iran Children of Heaven dan A Separation. Kisah seorang anak perempuan bernama Wadjda untuk bisa membeli sepeda yang bakal ia gunakan untuk balapan sama temannya bernama Abdullah. Masalahnya, di Saudi anak perempuan hukumnya harom untuk menaiki sepeda. Tapi dasar si Wadjda ini jiwanya rebel, dia tetep kekeuh ngumpulin duit dan mencari peruntungan biar bisa kebeli itu sepeda, salah satunya dengan mengikuti lomba MTQ (di film istilahnya bukan ini sih :D) di sekolahnya. Di sini letak sedikit kemiripan dengan Children of Heaven yang pemeran utamanya bertujuan untuk membeli sepatu. Nah, side story dari film ini yang mirip A Separation adalah kisah retaknya rumah tangga orangtua si Wadjda karena sang ibu tak kunjung bisa memberi keturunan anak laki-laki (yang sangat diutamakan di masyarakat Arab yang patriarki abis) sehingga suaminya dipaksa oleh keluarga untuk menikah lagi. Selebihnya tonton aja sendiri yah hehe..

Meskipun cerita dasarnya sederhana, tapi justru printilan-printilannya yang menarik. Ini film tentang Saudi gitu! Yang lumayan tertutup dari dunia luar untuk masalah kehidupan sehari-hari, apalagi yang menyangkut perempuan. Dulu, kisah-kisah tentang kehidupan di Saudi dan bagaimana besarnya tekanan hidup perempuan di sana cuma sebatas rumor yang beredar di antara masyarakat Indonesia. Kisah tentang gimana pervert-nya cowok-cowok Saudi karena gak pernah liat cewek dalam wujud aslinya, cewe-cewe Saudi yang di balik abayanya ternyata dandan menor dan stylish, penerapan hukum syariah yang super ketat (dan banyaknya penyimpangan pelaksanaannya di kalangan warganya sendiri), budaya patriarki yang mengurat akar, sampe kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan pemukiman warga biasa Riyadh semuanya ada di sini. Komplit! Beberapa cukup bikin geleng-geleng sih, misalnya pas adegan Wadjda dan teman-teman sekolahnya dilarang bicara dan ketawa cekikikan karena suara dan tertawanya perempuan adalah sumber fitnah dan kemaksiatan (mampus gak tuh? :D) sama waktu guru memberi selamat kepada teman sekelas Wadjda yang baru aja menikah…. padahal dia masih (kira-kira) kelas 5 SD :/

Yang cukup mengganjal bagi saya di film ini waktu pas si Wadjda awal-awal dites baca Quran dan kemudian agak terbata-bata membacanya.. Is that possible? Kitab itu ditulis dalam bahasa ibu dia gitu, dan sehari-hari menggunakan bahasa yang sama pula. Tapi gak berapa lama udah fasih sih, dan bahkan udah bisa dilagukan segala pula.. :D Bener-bener membuktikan bahwa masyarakat Arab (bahkan sebelum munculnya Islam) adalah masyarakat yang sangat menjunjung budaya lisan. Gak ada yang mampu menyaingi keindahan pendarasan ayat-ayat suci di dalam Quran selain penutur aslinya, penduduk Arab yang bermukim di Kerajaan Arab Saudi. Seandainya saya bukan muslim pun kayaknya pasti bakal tergerak dengan keindahan lantunannya.

Setelah beberapa kali terekspos sama budaya dan praktek Islam Syiah di film-film Iran (misalnya: bersumpah atas nama imam), di Wadjda ini barulah saya bisa melihat budaya Islam puritan sesungguhnya: Islam mazhab Wahabbi. Gak begitu kelihatan sih, cuma dalam praktik sholat dan adab membaca Quran, tapi cukup sebagai insight bagaimana penerapan aliran itu di tempat lahirnya. Dari film ini juga keliatan kalo penduduk Saudi gak konservatif-konservatif amat, tapi kayaknya itu cuma berlaku di kalangan kelas menengahnya. Tingkat adaptasi mereka terhadap budaya barat dan teknologi modern sangat tinggi. Mungkin salah satunya karena negara mereka juga emang pada dasarnya kaya (gak kayak Korea Utara). Kayaknya tinggal nunggu mereka dapat raja yang berpikiran progresif (kayak sheikh di kerajaan tetangganya: UEA) untuk bisa ngeliat perkembangan Saudi dari negara yang ultra-ortodoks serta serba membatasi perilaku warganya menjadi sedikit lebih terbuka dan gak katro-katro amat dalam hal pemahaman beragama.

Yeah, unfortunately you can’t bring back all Islamic historical sites from Rasulullah era that already destroyed in the name of greed and capitalism…

Anyway, here’s the trailer of the movie:

Pacific Rim

I’m not a Japanese and barely know about Hideo Kojima before. Rentetan twit ini saya ketahui dari RT-an seseorang di timeline twitter saya awal Juli lalu. Sebuah endorsement, bahkan bernuansa hasutan, untuk menonton Pacific Rim. Twitter sebenarnya bukan lagi tempat yang terpercaya untuk sebuah review atau endorsement atas suatu produk/karya seperti film. Terlalu banyak buzzer yang mendistorsi selera awam dengan kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Namun, dari yang saya baca, Hideo Kojima terkesan sangat tulus dalam menyampaikan opininya. Orang dengan reputasi seperti Kojima, yang ternyata adalah VP Konami Digital Entertainment dan kreator seri game populer Metal Gear, rasanya tidak akan mempertaruhkan namanya untuk memberikan testimoni yang terlalu positif atas film ini, dan saya pun percaya. Pacific Rim memang digadang-gadang dari awal tahun sebagai film termegah tahun ini dan, berkat endorsement Kojima, saya pun makin tak sabar untuk menontonnya (dan akhirnya berbalas manis).

Image

Saya bukanlah reviewer handal yang bisa mengkritisi aspek teknis, logika, atau estetika suatu karya film dengan bahasa dewanya lengkap dengan segala pretensi untuk terlihat smart dan insightful. Saya bahkan bukan movie goer rutin yang rajin menyambangi bioskop setiap ada film baru dan bisa dibilang agak perhitungan (baca: pelit) untuk menseleksi film mana yang layak ditonton di layar lebar (sisanya? serahkan ke kickasstorrents dan mekanisme pasar bursa tukar menukar HDD di kampus). Sekadar penikmat film biasa yang menyandarkan infonya pada IMDb, sering colongan buka spoiler full plot di Wikipedia, dan rada gak percaya sama Rotten Tomatoes. Jadi mungkin review ini tidak bisa dijadikan rujukan yang memadai sebagai panduan untuk memilih tontonan anda.

Review singkat saya terhadap film ini: KEREN! Pacific Rim sukses bikin saya cengo sepanjang film. Tepat ketika film berakhir, saya sudah meyakini kalau film ini tidak hanya cukup ditonton sekali (dan akhirnya saya sukses nonton film ini untuk kedua kalinya dalam jangka waktu satu minggu hehe..). Tidak hanya menawarkan sesuatu yang megah dan mematok benchmark yang teramat tinggi untuk film-film bergenre sejenis, sisi artistik Pacific Rim juga terjalin dengan rapi tanpa diselingi adegan-adegan cheesy nan corny macam seri Transformers (well, setelah ditonton kedua kalinya ada sih beberapa dialog yang bisa bikin facepalm. Tapi setidaknya, gak ada penampakan dua jaeger mini tengil bergigi tonggos). Suguhan visual yang setara dengan Avatar, Lord of the Rings series, dan Jurassic Park ketika pertama kali saya tonton. Yang saya suka dari film ini dibanding Transformers adalah keberadaan robot-robot (atau lebih tepatnya “mech” yang disebut Jaeger) yang bukan merupakan alien dari planet lain, tapi lebih berupa produk kecerdasan manusia dan sepenuhnya dikendalikan oleh manusia juga. Terlepas dari cerita tentang keberadaan kaiju dan portal antar dimensi yang membawa mereka ke bumi, pengembangan jaeger sebagai alutsista (tsaelah..) buat saya tidak sepenuhnya kisah fiktif karena bisa jadi, selaras dengan perkembangan iptek dan imtaq, hal itu dapat terwujud di masa depan.

Image

Klimaks Battle of Hong Kong ini bikin mata gak ngedip

Memang, tak ada karya yang sempurna. Plot hole disana sini, adegan-adegan yang kurang logis (jaeger sebesar ribuan ton bisa diangkut hanya dengan 4 helikopter? Kaiju beranak? Ada bajaj di Hong Kong? Ledakan nuklir di dasar laut efeknya hanya begitu? dst.), akting yang kurang greget (kecuali Idris Elba dan pemeran Mako Mori kecil) adalah beberapa diantaranya. Tapi apa yang bisa diharapkan dari summer movies macam begini? Mau alur cerita ala Inception atau pendalaman sisi humanis karakter ala film-film Christoper Nolan? Nggak lah, ini film emang tujuannya untuk menghibur kok. Peduli setan dengan akting yang kurang maksimal atau jalan cerita yang mudah ditebak. Buat saya film ini sangat menghibur, dan saya rasa, tanpa bermaksud bias gender, ini adalah film impian setiap anak laki-laki kelahiran dekade 1980-an yang tumbuh besar dengan tontonan kartun-kartun robot Jepang.

Sayangnya, film semonumental ini tidak berdaya di jajaran box office domestik AS, kalah dari Despicable Me 2 dan (ini yang menyedihkan) Grown Ups 2. Kondisi yang menyebabkan warga amrik jadi bulan-bulanan dan bahan meme potensial di pelbagai forum internet (“Faith to humanity: not restored”, misalnya). Tampaknya peluang Warner Bros dan Legendary Pictures untuk balik modal cuma dari pendapatan di luar negeri yang semoga bisa menutup ongkos produksi. Oiya, saya nonton film ini di layar 2D dan 3D. Dapat disimpulkan kalau Pacific Rim cukup ditonton di 2D saja karena efek 3D-nya tidak terlalu banyak dan hanya muncul di awal-awal. Tapi saran saya, jika memungkinkan, tontonlah di layar terbesar dengan sound system paling maksimal yang ada. If it only possible in IMAX… be it! Ini salah satu dari sedikit film yang wajib ditonton di layar lebar, jangan nunggu keluar di Ganool (atau yang lebih parah: keliru mengunduh Atlantic Rim). Jangan sia-siakan hidup anda dengan menontonnya di layar 10/11/14 inchi di pangkuan anda. Go watch how they cancelling the apocalypse only in the big screen.

 

Hasta La Vista (Come As You Are)

Kalau saya nggak baca nukilan sinopsisnya, mungkin saya bakal salah mengira film ini sebagai film dokumenter tentang Nirvana (atau Kurt Cobain). Bukan, film Belgia yang judul aslinya “Hasta La Vista” ini ternyata sama sekali gak nyinggung tentang Nirvana atau Cobain. Ini lebih ke road trip movie, tapi bukan sekadar road trip movie biasa karena para pelaku road trip-nya juga bukan ‘orang-orang biasa’.

caya

Tersebutlah tiga sekawan asal Flemish (daerah berbahasa Belanda di Belgia) yang memiliki disabilitas: Jozef yang 90% buta, Philip yang punya penyakit sama kayak Stephen Hawking (entah apa namanya), dan Lars yang lumpuh karena tumor otak akut dan harus menggunakan kursi roda. Keterbatasan yang mereka miliki tidak menghalangi untuk menghalangi mimpi terbesar mereka: to not die as a virgin. :D Untuk tujuan ‘mulia’ itu, mereka akhirnya nekad kabur dari rumah untuk memulai perjalanan ke Spanyol di mana terdapat rumah bordil ‘khusus’ buat penyandang disabilitas. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dalam perjalanan itu dan apakah  akhirnya semua berhasil membuat ‘itu’-nya gak cuma dipake buat ngencing? I’m too lazy to write the spoiler so go see it yourself. :))

Tapi kalo mau nonton sekarang mungkin cuma bisa donlot di internet karena festival film Europe On Screen 2013, tempat dimana film ini diputar, sudah berakhir Ahad lalu. Sabtu kemarin jadi pengalaman pertama saya nonton di Goethe Haus (yang ternyata deket banget sama Stasiun Gondangdia.. terima kasih Google Maps!) dan ternyata pusat kebudayaan Jerman itu punya auditorium yang gede dan representatif banget buat nonton film. Enaknya di sini dibandingin Erasmus Huis, yang sama-sama punya tempat pertunjukan yang bagus, mungkin lebih karena gak berada di dalam komplek Kedubes, jadi akses masuknya gak ribet. Itung-itung pengobat kekecewaan karena gagal nonton film  The King: Jari Litmanen seminggu sebelumnya di tempat yang sama.

Kembali ke film HVL/CAYA, film ini cukup mengingatkan saya pada film Fanboys, terutama bagian perjalanan dan ide dasarnya tentang ngewujudin obsesi yang udah lama terpendam. Sama satu lagi kemiripan: adanya satu peserta road trip yang sebenarnya lagi mendekati ajal tapi ngotot pengen ikutan. Dan endingnya juga… ah sudahlah, ntar spoiler hehehe… Ada juga sisi ke-American Pie-annya dikit kalo diamat-amatin sih..

Beberapa lesson learned dari film ini adalah pantai-pantai di Eropa Barat yang luar biasa jeleknya (bersyukurlah kita hidup di negara tropis), eksistensi dua bahasa utama di Belgia: Flemish dan Perancis, stereotip tentang orang Belanda yang pelitnya kebangetan, kekinya orang Belgia sama orang Belanda (mungkin kayak orang Indonesia vs orang Malaysia :D), kerennya aksesibilitas dan kebijakan non-diskriminatif buat kaum difabel di Belgia, sampe pentingnya kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri. Cuma di film ini kayaknya kita bisa mentertawakan kekurangan orang difabel tanpa merasa ada beban moral (coz they asked for it :D). Overall, film yang cukup menghibur (seisi auditorium sering banget ngakak) dengan diselingi beberapa adegan mengharukan. Eye opener juga buat mulai memperhatikan hak-hak kaum difabel yang masih termarjinalkan banget di Indonesia. 

Farewell, 2012!

2012 menjadi tahun yang cukup menyenangkan. Pertama kali ke luar negeri (Eropah cuuyy!), bisa sekolah lagi (gratis pula), pendapatan yang ngalhamdulillah bisa dibuat nabung, pengalaman baru, teman-teman baru, pengetahuan baru, dst. Tahun ini juga berhasil memenuhi target untuk ngeblog minimal sebulan sekali, seburuk apapun kualitas tulisannya. Mungkin juga ini tahun terakhir menggunakan jasa Posterous karena sepertinya tahun depan sudah almarhum. Oh, dan tahun ini menandai bangkitnya kecintaan membaca (dan yang terutama: membeli) buku setelah lama pudar dari prioritas. Oh oh, one more thing, tahun ini kembali menjadi survivor dari doomsday/apocalypse/kiamat atau apalah itu namanya.. :))

Maksud hati ingin membuat semacam kaleidoskop untuk tahun yang akan lewat, tapi apa daya niatan tak sampai. Jadinya posting rangkuman jejak langkah saya di ranah digital untuk tahun ini sahaja. Tentu saja ini sifatnya self centered, namanya juga blog sendiri.. #okesip

Screenshot

10 lagu yang paling sering didenger tahun 2012 berdasarkan data Last.fm. Pemuncaknya: Weezer – Across The Sea. Mudah-mudahan kesampean nonton kang Rivers cs maen di Jakarta seminggu setelah tahun baru.

Screenshot-1

Lima kata yang paling sering di-tweet tahun 2012. Sebenernya cuma quarter ke-4 tahun ini doang sih karena ada keterbatasan Twitter menampilkan database-nya, tapi rasanya cukup mewakili. Saya ternyata cukup sering ngetweet kata “tapi”. Berarti mayoritas isinya majas ironi :))

Screenshot-2

Kompilasi foto Instagram setahun terakhir dari Instagram Web Profile. Ketara banget rombongan kereta (Roker). Objeknya rata-rata kereta, stasiun, sama penghuni dan penumpangnya :D

Screenshot-4

Acara yang paling banyak ditonton pada tahun 2012 berdasarkan data check-in di Miso adalah The Walking Dead, mulai dari separo Season 2 sampe S03E08. Sampe dapet badge “Undead”! #kebanggaan #semu

Screenshot-3

Untuk Foursquare, yang dominan di 2012 ini masih hotel, bandara, sama stasiun. Untunglah bukan mall. Venue baru paling di kota-kota yang baru pertama kali dikunjungin. Eh pas lagi buka-buka check-in history tiba-tiba ada gambar ini. Waktu nyekar rutin tiap lebaran :”)

Thanks to internet, perjalanan hidup kini lebih mudah didokumentasikan, apalagi mengingat daya tampung otak yang kian terbatas :))

Farewell 2012 and welcome/benvenue/wilkommen/benvenuti/bienvenudo/marhaban/selamat datang/wilujeng sumping 2013!

Cidade de Deus

Film Brasil terbaik (karena cuma satu-satunya) yang pernah saya tonton ternyata ada full version-nya di Youtube :D

Cidade de Deus (City of God) by Fernando Meirelles. Enjoy.

Position Among The Stars

I’m a sucker for documentaries. I know that already. Regardless of what people told about documentary movies: dull, boring, strange, etc. But i do love to watch it.

Sayangnya gak semua film dokumenter yang membuat saya tertarik untuk menonton tersedia gratis di internet. Seperti film Stand Van De Sterren (Position Among The Stars) ini. Udah ngubek-ngubek banyak situs file sharing dan torrent, gak ada yang nyediain tautan unduhan gratis. Minimal streaming di Youtube deh. Gak ada semua. Mau beli legal gak tau tempatnya (dan gak ada aksesnya juga).

Alasan saya tertarik dan penasaran pengen nonton sih karena dua cuplikan adegan yang ada di bawah ini. Bener-bener kehidupan kalangan urban marginal Jakarta yang genuine. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa nonton film ini secara utuh, legal maupun ilegal. Yang penting murah. #lah