[mixtape] Telolet Sounds

Should’ve post this deket-deket Lebaran. #telat

Advertisements

[mixtape] Merdeka Bung!

Memilih lagu-lagu untuk dimasukkan ke dalam satu playlist bertema peringatan hari kemerdekaan RI ternyata bukanlah perkara yang mudah. Sama halnya dengan menyusun playlist untuk bulan Ramadhan, kesulitan utama adalah memilih lagu-lagu yang tidak preachy dan menyuarakan nasionalisme secara banal. Namun jika ditengok kembali, sebenarnya ini kembali ke masalah selera saja. Bagi sebagian orang, lagu ‘nasionalis’ tertentu mungkin dianggap sangat norak dan banal, terlepas dari betapapun populernya lagu tersebut (sebut nama: Cokelat – Bendera atau Netral – Garuda di Dadaku), tapi bagi sebagian orang lainnya bisa jadi berpendapat sebaliknya. Sangat subjektif penilaiannya.

Menurut saya sendiri, lagu-lagu yang patut didengar ulang pada momen peringatan tujuhbelasan tidak harus selalu bernuansa puja puji berlebihan terhadap negara. Tidak harus eksplisit tersurat dalam lirik-liriknya tentang kecintaan teramat dalam terhadap tanah air. Terkadang sebuah lagu yang tak secuil pun menyebutkan kata “Indonesia” dalam liriknya mampuĀ  menggugah rasa kesadaran berbangsa karena secara tersirat memang bertutur seputar masalah tersebut. Namun tidak ada salahnya juga lagu-lagu yang mengusung semangat nasionalis menyertakan banyak lirik berbunyi “Indonesia”, “Garuda”, “Negeri/Tanah Airku”, “Merah Putih”, dsb. Meski terkesan obvious tapi kalo lagunya enak (dan gak terlalu sering diputer di TV sehingga jadi eneg) kenapa nggak?

Tentu playlist bertema ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran lagu-lagu nasional, bukan semata lagu pop, yang telah melekat di kepala dari jaman SD. Makanya, lagu nasional favorit saya sepanjang masa, Tanah Airku ciptaan Ibu Sud, mutlak harus berada di urutan pertama. Semoga Tuhan menjamin surga untuk Ibu Sud yang telah menciptakan lagu sesederhana tapi seindah ini. Di playlist ini yang digunakan adalah yang versi instrumental oleh Addie MS atau yang juga dikenal sebagai “soundtrack kabin pesawat Garuda Indonesia ketika landing”. Juga ada lagu nasional favorit saya lainnya: Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh Nial Djuliarso.

Lagu tentang Indonesia selayaknya adalah lagu yang mengingatkan akan rumah. Tempat bermuaranya setiap perjalanan. Juga tentang keadaan ‘rumah’ tersebut. Bagaimana cara merawatnya, membesarkannya, dan menjaganya dengan baik. Tentunya juga tak terlupa dengan kehadiran lagu-lagu “pop nasionalis” yang ringan dan ngena. Semuanya terangkum dalam mixtape 8tracks berikut yang juga berisi lagu-lagu dari Pee Wee Gaskins, Efek Rumah Kaca, Chaseiro, dan lainnya. Sila nikmati dan… Merdeka!

 

Hsinchu, 17 Agustus 2015. Pertama kalinya merayakan 17an di negara orang.

[mixtape] Guilty Pleasures

Terinspirasi dari kabar akan manggungnya Boyzone (minus alm. Stephen Gately tentunya) di Jakarta Mei nanti. Boyzone euy! Kang Ronan Keating dan tiga rekannya yang entah namanya siapa :D Boyband legendaris! Lagu-lagu boyband pasti (saya haqqul yaqin akan hal ini) jadi guilty plasures bagi sebagian besar kaum adam yang melewati masa akhir dekade 90-an di bangku sekolah. Berlagak jijay padahal apal beberapa liriknya.. :p Pura-pura ga paham padahal tau nama personilnya (fast recap: Nicky, Kian, Bryan, Mark, Shane *tanpa googling*) hahaha.. Aib dan sampah banget emang. Tapi patut diakui, lagu-lagu boybands yang menjamur di era 90-an ini emang banyak yang enak. Easy listening, dan sangat membantu untuk belajar bahasa Inggris. Termasuk 10 track lagu boyband yang dari dulu ada di music library saya ini..

*tapi ga sering-sering banget kok diputernya, suer haha* *aaaak* *bongkar aib* *tutup muka* *mengasingkan diri dari peradaban*

Yang Tersisa dari Interstellar

Ah, Interstellar… Satu-satunya film yang saya tunggu kehadirannya di tahun ini. Christoper Nolan + eksplorasi antar galaksi. Tentu sangat layak dinantikan. Juga sekaligus ingin ‘membalaskan dendam’ karena waktu Inception tayang gak sempet nonton di bioskop. Sekitar tiga jam tersedot ke dalam lubang hitam dan merasakan sendiri fenomena dilatasi waktu mini ketika waktu di dalam teater bergerak lebih lambat daripada di luar. Tiga jam yang hampir tak terasa. Tapi ketika semua usai dan credit title mulai ditayangkan terasa ada yang mengganjal. Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak, menyisakan keingintahuan untuk googling lebih banyak :))

Tema tentang angkasa luar dan penjelajahan antariksa selalu menarik minat saya dari dulu: dari mulai era Star Trek: The Next Generation dengan awak USS Enterprise-nya yang tersohor itu hingga serial dokumenter Cosmos: A Spacetime Odyssey yang tayang belum lama ini. Semua karena keyakinan saya kalo alam semesta yang teramat luas ini rasanya sangat mubazir kalo hanya dihuni oleh umat manusia semata. Pasti ada suatu bentuk kehidupan lain nun jauh di sana, entah dalam bentuk paling primitif berupa bakteri dan protozoa (udah lama kan ga denger kata ini?) atau entitas dengan peradaban tingkat tinggi macam Autobots dan Decepticons.

Pertanyaan-pertanyaan yang tersisa paska nonton Interstellar akhirnya membuat saya terdampar di Youtube dan menemukan dokumenter The Science of Interstellar. Ini bukan sebuah feature behind the scene yang lazim diluncurkan bersamaan dengan rilisnya suatu film, tapi lebih berupa penjelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena-fenomena yang ada di film Interstellar. Sebuah tontonan yang sebenarnya tidak menawarkan pemahaman baru (karena di 13 episode Cosmos udah dikaji secara komprehensif), tapi mungkin cukup membantu bagi yang awam istilah-istilah dunia astrofisika. Ini juga versi yang lebih mudah dicerna daripada penjelasan dalam buku berjudul sama karangan Kip Thorne, fisikawan di balik pembuatan cerita Interstellar, yang sampai saat ini masih berupaya saya khatamkan. E-book berformat epub-nya bisa diunduh di sini.

Beberapa pertanyaan mendasar (seperti kenapa Cooper masih bisa hidup dan badannya utuh setelah terlontar dari pesawatnya dan masuk ke Gargantua, keberadaan worm hole yang masih hipotetikal, alternatif-alternatif planet pengganti bumi yang riskan karena mengorbit black hole, dsb.) memang masih belum terjawab setelah baca buku itu, namun bisa jadi jawabannya ada di bab-bab yang belum sempat saya baca. Postingan ini memang tidak dimaksudkan untuk mengulas film tersebut, tapi cuma ingin membagi kegelisahan yang sama dan nyoba mencari tahu jawabannya bareng-bareng juga untuk memenuhi target satu postingan per bulan. :))

Sebagai penutup, sebuah mixtape yang berisi lagu-lagu bertema/berjudul/berlirik seputar luar angkasa dan printilannya berikut kiranya bisa dijadikan teman membaca buku Kip Thorne tadi kalo udah diunduh. Idenya muncul waktu abis nonton Gravity tapi baru terealisasi sekarang (yah mumpung temanya masih sebelas-dua belas…). Introducing the songs from Lighthouse Family, Beastie Boys, Incubus, and many more.

 

*maafkan postingan sapu jagad yang nyampah gak jelas gini :))*

 

Marhaban Ya Bal-balan

Juni 2014, bulannya piala dunia.. Persetan dengan pilpres yang makin sering diisi oleh black campaign oleh fanboys dua kandidat.. Ini saatnya warga dunia berpesta! Di pesta ini, berbeda dengan pesta demokrasi di Indonesia, gak akan ada pemain yang dituding gak bisa wudhu, agamanya gak bener, keturunan Cina (seolah-olah menjadi keturunan Cina adalah hal yang memalukan, dan ironisnya ini dilakukan oleh orang-orang yang nenek moyangnya berasal dari Yunan, Cina Selatan!), gak punya biji, tukang lempar hape, dsb. Di ajang empat tahunan ini, pemenang hanya akan ditentukan oleh kualitas permainannya, bukan oleh kefasihan membaca kitab suci dan kelihaian tata cara mengambil wudhu (dan anda masih heran kenapa Indonesia gak juga lolos ke Piala Dunia?)

Enough with rants. Mixtape ini menyajikan 10 lagu yang berkaitan dengan Piala Dunia dan sepakbola secara umum. Tak ada yang lebih patut mendapatkan kehormatan menjadi lagu pembuka selain “Mereka Ada di Jalan”-nya Iwan Fals. Lagu lawas yang menyiratkan keprihatinan tentang sepakbola yang semakin menjauh dari kodratnya sebagai olahraga murah dan merakyat (padahal ini lagu diciptakan jauh sebelum futsal menjadi mainstream). Kemudian lagu fenomenal tentang Piala Dunia 1998 yang didendangkan oleh Ricky Martin P-Project. Ona Sutra dan Eet Sangra juga akan berbicara tentang bola di sini. Tak lupa lagu-lagu Pet Shop Boys dan The White Stripes yang udah jadi anthem wajib pendukung klub-klub Eropa, serta beberapa lagu pengiring main Winning Eleven di rental PS jaman dulu kala..

So, just click “play” and listen.

[mixtape] JKT486

Meskipun saat ini saya sudah menjadi warga negara Republik Rakyat Bekasi, Jakarta (terutama bagian timurnya) adalah kota tempat saya dilahirkan dan tumbuh besar. Secara ius soli saya masih berhak memegang paspor DKI, jika saja Bekasi memperbolehkan kewarganegaraan ganda. Mixtape ini adalah tribute bagi kota tempat kelahiran saya yang 2 hari lagi akan berulangtahun ke-486 (debatable). Kota yang salah urus dan dihuni oleh orang-orang salah asuhan.

Introducing the songs from Iwan Fals, C’mon Lennon, Naif, Slank, etc. Enjoy Jakarta: the good the bad and the ugly.

[mixtape] Whatever happened in 14th of February?

Not a posh playlist to celebrate the 14th of February. The songs chosen purely in a random order and without any curcol intention :D

Songlist:

  1. Manis Manja Group – Jodoh
  2. UEFA – UEFA Champions League Theme
  3. Weezer – Tired of Sex
  4. UK’s – Cinta Itu Buta
  5. Efek Rumah Kaca – Cinta Melulu
  6. Kangen Band – Penantian Yang Tertunda
  7. Shooter – Life’s A Bitch
  8. The Cardigans – Lovefool