“Ter-” 2015

Karena penghujung tahun ini lagi musim-musimnya semua hal dibikinin kaleidoskop, maka tak ada salahnya mencoba bikin kilas balik versi personal untuk beberapa ((( PENCAPAIAN ))) di tahun yang akan berlalu ini. Here’s the list:

Album Tersering Didengar 2015

Tahun ini gak ada album artis asing satu pun di Top 5. Lebih suka karya anak bangsa™

Sebenernya gak perlu melongok statistik Last.fm untuk hal ini karena dengan kesadaran penuh saya haqqul yakin album Rasuk dari The Trees & The Wild akan jadi pemuncaknya. Bisa dibilang saya telat (banget) mengenal band asal Bekasi ini. Pada dasarnya saya bukan tipe pendengar musik yang telaten mendengar lagu album per album. Lebih suka memainkan secara acak dari semua koleksi lagu yang ada. Tapi album keluaran tahun 2009 ini isinya enak-enak semua dari awal sampe akhir. Jadi tidak mengundang untuk sering men-skip lagu. Selain album-album The Best Of, gak banyak album yang memiliki karakter yang sama. Masalahnya adalah Rasuk ini (versi digitalnya) susah banget didengar secara legal. Hampir semua situs music streaming berbayar kenamaan tidak memiliki Rasuk dalam koleksinya. Setau saya di iTunes pun juga tidak dijajakan. Walhasil, karena CD-nya pun sudah jadi barang langka yang bernilai tinggi, saya terpaksa menikmatinya dengan cara ilegal (maap ya Remedy dkk.). Mudah-mudahan mereka secepatnya ngerilis album kedua biar bisa mengapresiasi karyanya secara halalan thayyiban.

Buku Terfavorit 2015

Goodreads menyatakan bahwa tahun ini saya telah mengkhatamkan 15 buah buku. Buku pertama yang selesai dibaca pada tahun 2015 (dan hingga kini ulasannya masih terserak di draft post blog ini) adalah What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions karya Randall Munroe. Buku yang sangat menghibur untuk pengamat hal-hal gak penting macam saya ini. Ada juga Physics of the Future-nya Michio Kaku yang mencoba meneropong keseharian kehidupan manusia 100 tahun mendatang. Dari ranah domestik ada Adhitya Mulya – Sabtu Bersama Bapak dan Iksaka Banu – Semua Untuk Hindia. Tapi buku terfavorit 2015 versi saya hanyalah ini:

Beauty Is A Wound. #barunyampe #newbook #marimembaca #ngabuburit

A post shared by Wisnu Widiyantoro (@_wisnu) on

Cantik Itu Luka adalah buku Eka Kurniawan kedua yang saya baca setelah Lelaki Harimau. Tapi berhubung Lelaki Harimau itu wujudnya e-book, maka ini jadi rilisan fisik Eka Kurniawan pertama yang saya punya. Dibeli ketika bulan puasa, diniatkan buat teman ngabuburit (di saat yang lain pada sibuk ODOJ) dan mampu dikhatamkan pada bulan yang sama. Buku setebal 500 halaman lebih, spasi yang sangat rapat dengan font size mungil, puluhan nama karakter yang ajaib (Kamerad Kliwon! Edi Idiot! Maman Gendeng!), dan rentang waktu di cerita yang sangat panjang dari era kolonial hingga Orba tidak menyurutkan niat untuk melahap setiap kalimat dalam buku ini. Cantik Itu Luka memudahkan saya untuk menobatkan Eka Kurniawan sebagai penulis fiksi kontemporer Indonesia yang karya-karyanya di masa mendatang pasti akan saya beli.

Film Terfavorit 2015

Short-listed candidates: Inside Out, Mad Max: Fury Road, Kingsman: The Secret Service, Ant-Man, Star Wars Episode VII: The Force Awakens.

and the award goes to… Whiplash! :D Meskipun dirilis di AS akhir 2014, tapi Whiplash baru masuk ke sini awal tahun 2015. Film yang ketika selesai saya tonton langsung kepikiran “gua harus bikin review-nya nih!” Beruntunglah orang-orang yang sempat menonton film ini di bioskop, karena feel-nya bakal beda banget kalo ditonton ulang di TV/komputer.

Episode Series Terfavorit 2015

Selama dua season terakhir saya rutin tiap pekan nungguin kelanjutan cerita sinetron Babad Tanah Westeros (a.k.a. Game of Thrones), setelah 3 season pendahulunya ditamatkan dengan cara marathon. Untuk season kelima tahun ini memang banyak yang bilang cukup membosankan. Apalagi di episode-episode awal. Meskipun Khalessi udah berjumpa dengan Tyrion sekalipun plotnya dirasa masih datar-datar aja. Tapi semuanya berubah di episode ke-8:Hardhome.

GoT S05E08 berhasil mementahkan asumsi awam bahwa episode ke-9 adalah episode ter-epic setiap seasonnya. Winter has finally coming, brutally. Pada akhirnya pemirsa ditunjukkan dengan gamblang bahwa ancaman terbesar bagi penduduk Seven Kingdoms bukanlah soal perebutan tahta di King’s Landing, namun berupa datangnya musim dingin tak berkesudahan yang turut membawa serta para white walkers. Setengah bagian terakhir episode ini rasa-rasanya bukan lagi TV material, tapi berkualitas sinema dan layak diputar di bioskop. Buat saya sendiri, episode Hardhome ini setingkat lebih baik daripada episode Red Wedding (terutama karena udah dapet banyak spoiler sih, hehe).

Most Overheard Song 2015

I don’t know if you guys agree with this, but for me, my ears has been exposed to this song too frikkin’ much this year. It’s like played… anywhere & everywhere. (P.S.: Tahun kemarin titel ini jadi jatahnya Magic! – Rude)

Terbuang 2015

Di tengah meningkatnya kesadaran saya dalam mengkonsumsi karya seni secara legal, sangat disayangkan Rdio harus tutup buku di tahun ini. Rdio menjadi satu-satunya layanan paid music streaming yang pernah saya subscribe. Alasannya: murah! Biaya bulanan dimulai dari Rp 10 ribu saja. Udah dapat layanan unlimited streaming dengan koleksi cukup lengkap dan bisa didengarkan offline + sinkronisasi di semua device, tanpa harus diganggu iklan yang nyempil tiap beberapa lagu layaknya penyedia layanan lainnya (terutama yang gratisan). Mungkin karena biaya berlangganannya yang (ke)murah(an) itu yang akhirnya membuat Rdio terpaksa tutup buku. Sungguh amat sangat disayangkan sekali sodara-sodara…

Terlupakan 2015

Dan saya sungguh bersyukur kepada Tuhan YME yang satu ini tidak lagi ngetren sekarang: batu akik. Pada masanya, kerumunan bapak-bapak dan para pemuda yang lagi jongkok mengelilingi mesin gerinda dan tumpukan batu dapat ditemui di tiap sudut ibukota dan suburb. Varian-varian akik pun begitu familiar di telinga: bacan, kalimaya, black opal, dan puluhan jenis bebatuan lain yang tak satu pun saya paham beda dan nilai estetikanya. Sulit dipahami bagaimana cincin batu akik pernah begitu mendominasi gaya kekinian remaja putra NKRI (dari sebelumnya hanya milik bapak-bapak old school dan Tessy Srimulat). Entah bagaimana menjelaskan fenomena ini pada generasi mendatang.

Penemuan Terbaik 2015

Satu kata: Go-jek.

Best Experience 2015

Tak dapat disangkal adalah dua hal ini: kelayapan sendirian selama seminggu melintasi tiga negara Indochina dan mencicipi dua bulan training di Taiwan. Memperluas cakrawala berpikir, mengajarkan kemandirian, memupuk keberanian, meningkatkan survival skill di tempat yang asing sama sekali, memperlancar bahasa Inggris (dan non-Inggris :p), membangun jaringan pertemanan baru, melatih perspektif yang berbeda, mencicipi kemajuan negara maju sekaligus merasakan kekurangan negara miskin, melihat keseharian yang berbeda, mengasah kepekaan dalam berinteraksi dengan sesama, menapaktilasi sejarah, melihat langsung apa yang selama ini cuma bisa ditengok di layar kaca, dan sebagainya, dan seterusnya.

IMG_20151230_181344422

Memento(es)

Selamat tahun baru 2016. May the Force be with us.

Advertisements

Epilog 2014

2014 bagi saya akan selamanya terkenang sebagai tahun penuh fitnah. Kontestasi politik di Pemilu 2014, terutama pemilu presiden, rupanya menjadi sumber bahan fitnah yang tak habis digali, bahkan hingga sekarang ketika presiden definitif telah dilantik dan menjalani tugasnya. Yang lebih membuat ironis, para pelaku dan penyebar kabar bohong (yang seringkali demikian lucunya saking irasional dan terdengar bodoh) mayoritas adalah mereka yang sehari-hari ‘religius’ dan ‘taat beragama’. Agak aneh mengingat seharusnya mereka-mereka ini yang paling paham betapa merusaknya sebuah fitnah, baik bagi diri yang difitnah maupun orang-orang terdekatnya.

Ternyata bukan saya saja yang beranggapan sama.. (well, who doesn’t?). Fahd Pahdepie merangkumnya dalam sebuah cerpen yang dimuat di laman FB-nya yang bisa disimak di bawah. Sebuah pengingat bagi semua tentang mengapa agama (Islam) bahkan memandang fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Selamat tahun baru 2015, Kisanak sekalian.. Semoga kita semua terhindar dari fitnah, menyebarluaskan fitnah, mengamini fitnah, atau menjadi sumber fitnah. Tabik.

*****

“Kiai, maafkan saya! Maafkan saya!” Aku tersungkur-sungkur di kaki Kiai Husain. Aku memegangi dua tungkai kakinya yang kurus. Aku berusaha merendahkan kepalaku sedalam-dalamnya. Tetes-tetes air mata mulai menerjuni kedua tebing pipiku. “Maafkan saya, Kiai… Maafkan saya…” Aku terus-menerus mengulangi kalimat itu.

Dua tangan Kiai Husain memegang lengan kiri dan kananku, “Bangunlah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”

“Tapi, Kiai…” Aku terus berusaha merendahkan diriku di hadapan Kiai Husain yang sedang berdiri, “Bagaimana mungkin semudah itu? Bagaimana mungkin semudah itu?”

Kali ini Kiai Husain mencengkram kedua bahuku dan berusaha mengangkat tubuhku, “Berdirilah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”

Dengan lunglai, aku berdiri. Aku terus menundukkan wajahku. “Bagaimana mungkin semudah itu, Kiai?” Aku terus mengulangi ketidakpercayaanku.

Kiai Husain tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau akan belajar dari semua ini,” katanya, “Apapun yang telah kau katakan tentangku, tak akan mengubah apapun dari diriku.”

Aku terus menundukkan kepalaku. Aku didera malu luar biasa oleh sosok yang dalam beberapa minggu belakangan bahkan beberapa bulan terakhir ini kujelek-jelekkan secara membabi-buta. Bukan hanya membicarakan hal-hal buruk darinya: kiai palsu lah, kiai partisan lah, kiai liberal lah—bahkan aku juga menyebarkan fitnah-fitnah keji tentangnya: Bahwa pesantrennya dibiayai cukong-cukong hitam, bahwa ia menganut aliran sesat, bahwa ia tak Ingin Islam maju, dan apapun saja yang bisa menjatuhkan harga diri dan nama baiknya.

Aku mentap Kiai Husain yang kini sedang merapikan beberapa kitab di rak-rak di ruang bacanya. Bagaimana mungkin selama ini aku tega menghina, menjelekkan dan memfitnahnya hanya gara-gara ia memiliki pilihan dan pendapat yang berbeda denganku? Padahal aku tahu hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari ilmu agama, waktu luangnya diisi dengan membaca al-Quran dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, dan kebaikan hatinya telah meringankan serta melapangkan banyak kesulitan orang-orang di sekelilingnya. Apalah aku ini dibandingkan kemuliaan dirinya? Siapalah aku ini dibandingkan keluhuran budi pekertinya?

***

“Kiai, ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga nada bicaraku, tak ingin sedikitpun sekali lagi menyinggung perasaannya.

Kiai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kiai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kiai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kiai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kiai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kiai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

“Maaf, Kiai?” Aku berusaha memperjelas maksud Kiai Husain.

Kiai Husain tertawa, seperti Kiai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kiai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kiai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Kiai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Kiai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kiai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kiai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, Kiai. Maafkan saya…”

Kiai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kiai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kiai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengarkan permintaan Kiai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kiai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kiai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kiai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kiai Husain. “Ini, Kiai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kiai Husain.

Kiai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kiai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Kiai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kauhitung!”

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai. “Astagfirullah al-adzhim… Astagfirullahal-adzhim… Astagfirullah al-adzhim…” Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kiai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirullahal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kiai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… InnaLlaha tawwabur-rahiim…”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kiai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah-fitnah itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kausakiti. Ia lebih luas lagi. Demikianlah, anakku, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan…”

Sumber: https://m.facebook.com/notes/fahd-pahdepie/tentang-fitnah-fitnah-itu/10152536107832278/?p=10

Farewell, 2012!

2012 menjadi tahun yang cukup menyenangkan. Pertama kali ke luar negeri (Eropah cuuyy!), bisa sekolah lagi (gratis pula), pendapatan yang ngalhamdulillah bisa dibuat nabung, pengalaman baru, teman-teman baru, pengetahuan baru, dst. Tahun ini juga berhasil memenuhi target untuk ngeblog minimal sebulan sekali, seburuk apapun kualitas tulisannya. Mungkin juga ini tahun terakhir menggunakan jasa Posterous karena sepertinya tahun depan sudah almarhum. Oh, dan tahun ini menandai bangkitnya kecintaan membaca (dan yang terutama: membeli) buku setelah lama pudar dari prioritas. Oh oh, one more thing, tahun ini kembali menjadi survivor dari doomsday/apocalypse/kiamat atau apalah itu namanya.. :))

Maksud hati ingin membuat semacam kaleidoskop untuk tahun yang akan lewat, tapi apa daya niatan tak sampai. Jadinya posting rangkuman jejak langkah saya di ranah digital untuk tahun ini sahaja. Tentu saja ini sifatnya self centered, namanya juga blog sendiri.. #okesip

Screenshot

10 lagu yang paling sering didenger tahun 2012 berdasarkan data Last.fm. Pemuncaknya: Weezer – Across The Sea. Mudah-mudahan kesampean nonton kang Rivers cs maen di Jakarta seminggu setelah tahun baru.

Screenshot-1

Lima kata yang paling sering di-tweet tahun 2012. Sebenernya cuma quarter ke-4 tahun ini doang sih karena ada keterbatasan Twitter menampilkan database-nya, tapi rasanya cukup mewakili. Saya ternyata cukup sering ngetweet kata “tapi”. Berarti mayoritas isinya majas ironi :))

Screenshot-2

Kompilasi foto Instagram setahun terakhir dari Instagram Web Profile. Ketara banget rombongan kereta (Roker). Objeknya rata-rata kereta, stasiun, sama penghuni dan penumpangnya :D

Screenshot-4

Acara yang paling banyak ditonton pada tahun 2012 berdasarkan data check-in di Miso adalah The Walking Dead, mulai dari separo Season 2 sampe S03E08. Sampe dapet badge “Undead”! #kebanggaan #semu

Screenshot-3

Untuk Foursquare, yang dominan di 2012 ini masih hotel, bandara, sama stasiun. Untunglah bukan mall. Venue baru paling di kota-kota yang baru pertama kali dikunjungin. Eh pas lagi buka-buka check-in history tiba-tiba ada gambar ini. Waktu nyekar rutin tiap lebaran :”)

Thanks to internet, perjalanan hidup kini lebih mudah didokumentasikan, apalagi mengingat daya tampung otak yang kian terbatas :))

Farewell 2012 and welcome/benvenue/wilkommen/benvenuti/bienvenudo/marhaban/selamat datang/wilujeng sumping 2013!