Sanctuary

Karena saya orangnya bukan otaku-otaku banget, jumlah manga yang pernah saya tamatkan dengan membacanya di medium online bisa dihitung pake jari sebelah tangan. Tercatat cuma Death Note, Monster, sama Eyeshield 21 doang yang pernah dikhatamkan. Tentunya ini mengecualikan riwayat membaca komik-komik Jepang terbitan Elex Media Komputindo yang sudah lebih dulu bercokol di tanah air macam Doraemon, Kungfu Boy, Dragon Ball, dan teman-temannya. Kalo itu juga diitung, koleksi khataman cergam jejepangan saya otomatis bertambah. Tapi, teteup, bisa dihitung cukup dengan jari tangan sendiri (itu pun masih nyisa).

Manga online, terutama seri-seri populer masa kini kayak One Piece, Bleach, dan Naruto, buat saya kurang begitu menarik untuk diikuti karena gak tertarik sama ceritanya, sifat kejar tayangnya yang ‘memaksa’ untuk terus ngikutin, dan tentunya karena aksesnya yang semakin susah (terima kasih InternetPositif Kemenkominfo dan proxy internet kantor!). Nyari manga yang  enak dibaca lumayan susah karena mayoritas cerita-cerita di manga yang ada sekarang kurang memancing interest saya. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah rekomendasi dari teman atau para senpai berselera bagus yang bertebaran di dunia maya.

Syahdan, mata saya tertumbuk pada suatu rekomendasi singkat di Ask.fm (btw, ini platform socmed yang menghibur dan informatif banget *dengan catatan: mem-follow orang-orang yang tepat*, meskipun cuma bikin akun untuk jadi silent reader semata) tentang manga yang mengangkat isu sosial-politik. Tersebutlah satu judul: Sanctuary. Manga yang terbit pada awal dekade 1990-an ini mengambil kisah utama yang berlatar belakang dunia organisasi mafia underground Jepang (a.k.a. yakuza) dan dinamika sistem politik domestik Jepang. Rekomendasi singkat yang cukup memantik rasa penasaran dan, okenya lagi, manganya juga udah tamat jadi bisa dikhatamkan dengan segera tanpa harus nunggu-nunggu edisi terbaru.

Screenshot_2015-07-26-22-46-47

Adalah dua sahabat: Akira Hojo dan Chiaki Asami yang menjadi tokoh utama dalam manga ini. Keduanya menempuh jalan hidup yang berbeda: Hojo menjadi anggota yakuza dan Asami berkecimpung di dunia politik. Dalam manga ini dikisahkan bagaimana keduanya terus merangsek naik dalam ‘karir’nya masing-masing hingga menjadi the rising star. Hojo menjadi don (semacam kepala geng) yakuza wilayah Kanto (mencakup Tokyo dan sekitarnya), sedangkan Asami menjelma menjadi anggota diet (parlemen Jepang) muda yang karir politiknya moncer.

Pose menerawang ala pre wed

Hanya itu? Nggak dong tentunya… Banyak intrik yang terjadi dalam proses mobilitas vertikal tersebut, termasuk yang melibatkan love, sex (spoiler: a lot of sex scenes :D) and violence. Cukup wajar mengingat cerita dibangun seputar dunia organisasi kriminal bawah tanah dan dunia politik yang (katanya) kotor. Pewatakan yang dituangkan di manga ini tidaklah hitam-putih. Bahkan dua tokoh utamanya pun tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai karakter protagonis. Asami, misalnya. Kiprahnya di dunia politik mirip-mirip Frank Underwood di House of Cards. Licin, cerdik, lihai dalam berpolitik dan sedikit culas, semua mendukung peningkatan karirnya yang sangat mulus. Sedangkan karakter Hojo, yang tentunya bukan karakter ‘baik-baik’,  mampu mendekonstruksi sosok seorang kepala mafioso yang biasanya sangar dan ga enak diliat (hint: Hercules van Tenabang), juga dengan pemikirannya yang visioner dalam mengembangkan sebuah organisasi kriminal.

Para pemerhati sistem politik di negara lain (wabilkhusus Jepang) dijamin akan sangat menikmati Sanctuary. Gimana nggak, di sini bakal bisa lebih paham konstelasi ideologi dan kekuatan partai-partai utama Jepang, mekanisme suksesi pemerintahan parlementer di Jepang, perjuangan para kader partai untuk menjadi anggota Diet, dinamika koalisi untuk membentuk pemerintahan, hingga pengaruh lobbyist dan presssure groups (termasuk, tentunya, Yakuza) terhadap jalannya pemerintahan. Semacam paket komplit Japan Politics 101 yang dihadirkan dalam bentuk komik. Hal itu ditambah dengan kualitas grafis yang memukau, beda dengan komik-komik Jepang mainstream pada umumnya.

Dengan jumlah volume yang hanya belasan, dengan tiap volume berisi +/- 200 halaman, Sanctuary cocok untuk dikhatamkan dalam waktu singkat. Cerita yang lebih banyak berputar di dua tokoh utama (sehingga tidak memunculkan banyak karakter minor yang gak penting) rasanya juga mempermudah pembaca untuk menamatkan. Satu hal yang mungkin agak mengganggu hanya latar cerita komik yang terjadi di era awal 90-an sehingga tampilan dan kemasan tokoh-tokoh di Sanctuary ini macam di film Catatan Si Boy II atau Rini Tomboy yang…. yagitudeh. Selebihnya, gak ada kelemahan mendasar dari komik ini. Feelingnya seperti campuran antara nonton The Godfather dan The Departed (dan Lupus era Ryan Hidayat) #halah #teteup. Very recommended (if you have the same taste with me).

Advertisements

The Great (Fire)Wall of China

Empat hari di Republik Rakyat Tiongkok membuat saya tersadar kalo ciri utama pemerintahan yang menganut asas komunisme ternyata bukan antipatinya terhadap agama. Kebalikan dari persepsi umum di Indonesia yang mengidentikkan komunisme dengan atheisme, di Tiongkok (lebih tepatnya: Beijing) ternyata cukup mudah dijumpai tempat ibadah berbagai agama, dan hampir semuanya berfungsi dengan normal. Masjid, gereja, atau kuil bukan sesuatu yang haram didirikan dan para penganut agama di sana pun bebas menjalani ibadah (meski mungkin ada penjagaan dari aparat). Seakan tidak terlihat ada perbedaan signifikan antara sebuah negara komunis dan negara ‘normal’. Tapi semua itu berubah ketika saya mencoba mengakses internet di sana.

Di Tiongkok rupanya tidak dikenal istilah “googling”.

Bayangkan situasi ini: sebelum berangkat ke Tiongkok, semua file penting telah diunggah ke Dropbox dan Google Drive. Kalo pun ada yang kelewatan, jejak-jejaknya masih bisa dicari di tumpukan attachment di inbox Gmail, juga histori korespondensi via email yang sewaktu-waktu bisa dibutuhkan. Terus kalo ada beberapa bahan penting dalam bahasa Inggris yang harus dibuat on the spot, Google Translate (seharusnya) selalu bisa diandalkan. Buat modal navigasi dan nyari-nyari alamat selama di sana juga tinggal pake Google Maps. Semua mengandalkan layanan Google Sang Maha Pemurah dan Tahu Segala.

Lalu tiba-tiba semuanya terblokir tidak bisa diakses di sana.

Ini cukup mengejutkan karena dari yang saya tau sebelumnya cuma situs-situs medsos macam Twitter dan Facebook yang diblokir oleh pemerintah Tiongkok. Tidak terpikir kalo situs tempat menggantungkan hajat hidup orang banyak seperti Google dan beragam layanannya juga diblok. Pun demikian dengan situs cloud storage macam Dropbox. Yang paling esensial dengan kerjaan saya tentunya perkara Gmail yang gak bisa dibuka. Jalur komunikasi jadi tersendat dan arsip-arsip convo penting dalam email jadi tertutup aksesnya. Tapi anehnya, situs-situs Microsoft hampir semua bisa diakses dengan normal di sana. Walhasil selama di Beijing saya harus mengandalkan Bing buat googling (eh gimana?). Juga terpaksa menggunakan Bing Translator dan Bing Maps yang semuanya menyajikan hasil bak bumi dan langit dengan kualitas layanan produk-produk Google. Bill Gates kayaknya harus dikasih tau kalo produk-produk internetnya butut dan cuma jadi pilihan kalo dalam kondisi terpaksa.

Bing sucks! (there i said it) #TeamGoogle

Pemblokiran, atau dalam bahasa yang lebih halus: penyaringan, informasi mungkin jadi fitur utama di setiap negara sosialis-komunis. Contoh paling ekstrem tentunya adalah apa yang terjadi di Republik Rakyat Demokratik Korea a.k.a. Korea Utara. Juga di Kuba dan (mungkin) Vietnam. Ekspektasi awal saya dunia perinternetan Tiongkok tidak setertutup rekan-rekan sejawatnya, namun rupanya ekspektasi saya masih ketinggian. Untuk bisa menggunakan internet dengan ‘normal’ di RRT, seseorang atau suatu lembaga harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk berlangganan jasa VPN yang menjamur di sana. Itu pun terkadang koneksi ke ‘dunia luar’ masih suka putus nyambung. Ini sepertinya praktik umum di sana dan sedikit memantik rasa penasaran saya: kalo penggunaan VPN ini sudah sebegitu lumrah, apakah hal ini tergolong tindakan ilegal yang melanggar hukum? Kalo internet diblokir tapi penyedia jasa VPN melimpah ruah (dan tidak ada sanksi bagi penyedia dan pengguna jasa), what’s the point of pemblokiran? Entahlah.

Yang bikin tambah nyebelin, jasa VPN yang biasa saya pake di Indonesia dan telah terinstal di hape & laptop (Tunnel Bear dan Zenmate) ternyata juga tidak bisa dipake di Tiongkok :D Satu-satunya cara untuk bisa menikmati kebebasan berselancar di dunia maya selayaknya di Indonesia hanya dengan menggunakan jaringan hasil tethering operator GSM Indonesia yang telah aktif layanan data roaming internasionalnya. Selebihnya, jika hanya bertumpu pada wifi hotel atau jaringan SIM card operator sana, ucapkanlah selamat tinggal untuk sementara pada gegap gempita media sosial :). Twitter, Facebook, Instagram, WordPress, Blogspot, Tumblr, Youtube, Google+ semuanya diblok. Saya gak tau kalo Path karena emang ga punya, tapi kalo Ask.fm masih bisa dibuka pake jaringan sana. Swarm dan Foursquare juga masih bisa diakses.

Mungkin ada sisi baiknya juga banyak situs media sosial yang diblokir begitu. Warga Tiongkok jadi berkurang derajat kekepoan dan narsisnya *padahal mah tetep di Weibo kali* Juga bisa lebih fokus ke kerjaan dan waktunya gak tersita banyak untuk mantengin media sosial. Atau bisa juga maksudnya untuk mengurangi derajat kekepoan dan (terutama) narsisme juga hasrat menggebu untuk pamer milik turis-turis NKRI yang berkunjung ke sana hehe.. Yang pasti, pengalaman merasakan sendiri bagaimana negara bisa mengatur asupan informasi yang bisa diterima rakyatnya ini cukup membuka mata. Baru berasa kalo pemblokiran situs (yang berguna) emang bisa bikin senewen. Cukuplah Kementerian Kominfo stick with their internet positif atau apalah itu namanya yang cuma buat ngeblokir situs bokep, situs pendukung terorisme, ISIS, dan sebangsanya. Jangan sampe tiba-tiba Google diblok karena dianggap “menumbuhkan rasa ingin tahu dan mendorong masyarakat jadi berpikiran liberal”.. :)

…or worse: Google diblok, dan segenap tumpah darah Indonesia diwajibkan pake Bing.

Bekasi: Myths Debunked

Hal yang paling mainstream di jagad media sosial NKRI seminggu belakangan adalah mencela-cela Bekasi. Bekasi, kota terkutuk yang nun jauh di galaksi lain, penuh polutan, lapisan ozonnya bolong, kering kerontang, kumuh-alay-katro-you name it. Semua predikat buruk seolah layak disematkan pada Kota Patriot ini. Mending kalo yang mengolok-olok adalah warga DKI Jakarta yang memang selevel di atas Bekasi, lah warga suburb lain yang sebenernya kondisi kotanya 11-12 sama Bekasi juga pada ikutan pekan bully nasional ini. Entahlah, mungkin di daerah mereka tidak tersedia cermin. Atau mungkin karena memang penderita rabun dekat sehingga gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan bisa kelihatan.. *kok jadi serius gini yak huhu*

Kota tempat Parto, Akri, dan Eko ngelaba

Kota tempat Parto, Akri, dan Eko ngelaba.. #itupatrio #diperjelas

Apa memang benar Bekasi seburuk itu? Bukankah daerah penyangga ibukota lain juga punya problematika sejenis tapi tidak terekspos gila-gilaan layaknya Bekasi? Tidakkah ada secuil rasa empati untuk warga Bekasi yang tercabik hatinya melihat tempat tinggalnya diperolok sedemikian rupa? Dimana keadilan??? (di Mahkamah Agung RI Jl. Medan Merdeka Utara No. 9 -13, Jakarta Pusat 10110)

Tiga hal yang jadi poin utama puluhan meme hiperbolis tentang Bekasi adalah jauh, panas, dan macet (susah diakses). Panas dan macet sebenernya karakteristik yang juga melekat ke Jakarta sih, entah kenapa cuma Bekasi yang dibesar-besarkan. Untuk jauh juga relatif: apakah Parung terhitung dekat dari ibukota? Sawangan? Serpong? Karawaci? Rasanya semua juga gak dekat-dekat amat. Sebagai warga Bekasi yang berbudi luhur dan bersendikan Pancasila + UUD ’45, rasanya perlu untuk meluruskan persepsi publik terhadap kota langganan banjir ini (hey folks, you forget about this!). Tentunya penjelasan akan menggunakan referensi yang dapat dirujuk ulang dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah (atau anggap saja begitu). Ini memang blog amatiran, tapi bukan website pkspiyungan.

Mitos #1: Bekasi Jauh

Fakta: Mungkin perlu diluruskan dulu target pem-bully-an ini sebenarnya merujuk ke Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, atau keduanya? Bekasi rada mirip dengan Tangerang dan Bogor dalam hal ini: namanya digunakan untuk dua jenis wilayah administratif yang berbeda. Jika yang dimaksud adalah Kabupaten Bekasi maka sudah jelas. Memang jauh dari Jakarta. Pake banget. Tapi kalo Kota Bekasi? Itu mah masih nempel Jakarta.

Gak segitunya juga kali..

Gak segitunya juga kali..

Ungkapan ‘jauh’ itu relatif. Yang mutlak adalah berapa jarak atau waktu tempuh yang dibutuhkan dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk membandingkan Bekasi dan daerah suburb lain, di tulisan ini digunakan jarak/waktu tempuh dari stasiun KA utama di masing-masing wilayah ke titik nol kilometer Jakarta di Monumen Nasional. Perjalanan menggunakan kereta dipilih sebagai patokan karena terjadwal dan terhindar dari resiko terkena macet. Data diperoleh dari Google Maps. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Bekasi über alles

Bekasi über alles

Dari masing-masing wilayah suburb: Bekasi, Depok, dan Serpong, ternyata waktu tempuh paling singkat ke Monas ‘dimenangkan’ oleh Bekasi. Cuma 52 menit dengan KRL + jalan kaki. Depok membutuhkan waktu 1 jam 4 menit, dan Serpong 1 jam 21 menit karena harus transit 2x. Tangerang sengaja gak dimasukin ke perbandingan karena pasti ga jauh beda kayak Serpong yang harus 2x transit. Apalagi Bogor yang lokasinya jauh di selatan Depok. Buat native Bekasians (atau Bekasi-ers?) ini sih gak aneh, udah fakta yang dijalani sehari-hari. Gak tau kalo penduduk kota lain sadar atau nggak akan hal ini. Dari Bekasi ke jantung ibukota cuma kurang dari satu jam. Lo gak harus naik roket dan jalan dari kemaren lusa. Isn’t it amazing?

Mitos #2: Bekasi Panas

Fakta: Bekasi memang panas. Semacam simulasi neraka di muka bumi. Tapi masa iya suhu udara antara Jakarta dan area sekelilingnya (yang cuma berjarak belasan kilometer) bisa berbeda jauh? Pastinya kalo Bekasi panas, temperatur di Jakarta gak mungkin sejuk kayak di Puncak dong? Dengan pengecualian Bogor, hal serupa juga diduga terjadi di area suburb lainnya macam Tangsel, Depok, dan Tangerang.

Iyain aja..

Iyain aja..

Mencari data suhu rata-rata kota-kota tersebut di website BMKG ternyata berjung pada kesia-siaan. Nggak ada aja gitu! Untungnya internet adalah gudang pengetahuan yang tak terbatas. World Weather Online menyediakan data rataan temperatur bulanan untuk beberapa kota di Indonesia, termasuk untuk Jakarta dan kota-kota satelitnya. Dari data WWO tersebut diperoleh komparasi berikut:

Ternyata... tidak jauh berbeda.

Ternyata… tidak jauh berbeda.

Ada yang aneh? Gak ada, karena memang tidak ada disparitas yang terlalu jauh dalam hal temperatur antara Bekasi, Jakarta, dan Tangerang sebagai salah satu daerah suburb pembanding selain Bekasi. Suhu rata-rata maksimal pada siang hari berkisar antara 31-33 derajat celsius. Mementahkan opini publik yang sesat menyesatkan bahwa Bekasi adalah benda langit terdekat ke Matahari, bukannya Merkurius.

Tapi tunggu, bisa jadi yang menyebabkan Bekasi terkesan lebih panas daripada tetangga sekitarnya adalah karena minimnya ruang terbuka hijau (RTH). Kesepakatan umum yang dianut para pakar tentang RTH ideal suatu kota adalah 30% dari luas wilayah kota tersebut. Dalam tautan ini disebutkan bahwa Bekasi hanya memiliki 14% RTH dari total wilayahnya. Terlihat sedikit? Nggak juga ternyata. DKI Jakarta hingga saat ini baru memiliki 9 persen RTH dari luas wilayahnya. Bahkan RTH di Depok hanya tersisa 5 persen and nobody seems give a shit about it. Terlepas dari kesahihan data yang dikutip, sekali lagi ini membuktikan bahwa Bekasi justru bukanlah yang terburuk.

Panasnya Bekasi bisa jadi lebih disebabkan karena kontur geografisnya yang dataran rendah landai dan terletak di pesisir. Selain itu, maraknya pusat industri berskala besar di wilayah Kota Bekasi juga menyumbang polutan dalam jumlah besar yang bisa jadi berkontribusi pada makin menipisnya lapisan ozon di langit Bekasi. Bekasi memang panas, but we’re not alone ;)

Mitos #3: Bekasi Macet dan Susah Diakses

Fakta: Macet sudah lama menjadi salah satu trade mark Bekasi. Koasi (baca: angkot) di Bekasi memang kebangetan: suka lama ngetem, berhenti sembarangan, dan ugal-ugalan. Populasi sepeda motor di Greater Bekasi juga kemungkinan yang terbesar dibandingkan area suburb Jakarta lainnya (untuk yang ini saya males nyari data-datanya lebih lanjut untuk dilakukan komparasi :p). Kombinasi dua hal tadi menyumbang kemacetan parah di jam-jam berangkat dan pulang kerja. Tapi.. bukankah selalu ada pilihan? Jika terkena macet di jalan biasa, bisa masuk ke jalan tol (yang ternyata juga macet). Atau jika udah kesel, bisa beralih ke moda transportasi berbasis rel seperti KRL yang bebas macet. Semua tersedia di Bekasi.

...dan di sini letak Bekasi, kandidat ibukota NKRI masa depan.

…dan di sini letak Bekasi, kandidat ibukota NKRI masa depan.

Sulit mencari indikator untuk mengukur tingkat kemacetan, jadinya lebih baik membahas isu yang satunya lagi: Bekasi susah diakses. Yang melontarkan opini ini mungkin belum pernah ke Bekasi atau masuk Bekasi di jam dan lewat jalan yang salah. FYI ada setidaknya 6 jalan utama yang bisa digunakan warga Bekasi untuk menuju Jakarta: Jl. Raya Bekasi, Jl. I Gusti Ngurah Rai, Jl. Kolonel Sugiono (Arteri BKT), Jl. K.H. Noer Ali (d/h Jl. Raya Kalimalang), Tol Jakarta-Cikampek, dan JORR Seksi Timur (Cikunir). Belum ditambah armada KRL Bekasi-Jakarta yang cepat dan efisien yang kedepannya akan beroperasi maksimal berkat DDT. Juga rencana pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) dan Monorel Bekasi-Cawang-Kuningan. Bandingkan dengan Depok yang hanya bisa mengandalkan ruas Margonda-Lenteng Agung-Pasar Minggu atau Sawangan-Lebak Bulus dan Tol Jagorawi + KRL. Juga Tangerang dengan Tol Merak dan Daan Mogotnya. Masalah akses ke/dari Bekasi itu sebenarnya terbilang ‘mewah’ karena banyak pilihannya. Haters gonna hate.

Ketiga mitos yang terwakili dalam meme-meme pembully Bekasi itu sudah terjawab. Panas dan macet sulit terbantahkan, tapi tidak untuk jauh dan susah diakses. Sialnya, dua yang terakhir ini yang paling sering dijadikan objek meme potensial.. :)) Padahal kalo mau digali, masih banyakhal-hal lain yang sangat khas Bekasi yang bisa dijadikan objek cela-celaan yang sulit di-counter. Soal tingkat ke-alay-an penghuninya, misalnya. :p

Semestinya fenomena pembullyan massal ini juga ditanggapi serius oleh Pemkot Bekasi. Bukan dengan klarifikasi gak penting di media massa dan menuntut pembully dengan UU ITE (karena Bekasi tidak seistimewa Jogja.. #eh), tapi dengan peningkatan kinerja pembangunan infrastruktur dan kelengkapannya untuk membuktikan kalo para haterz itu keliru dalam memandang Kota Bekasi. Permintaan warga Bekasi cuma satu kok: jadikan kota ini lebih layak huni. Itu saja.

(dan semoga kota lain juga dapet gilran untuk di-bully… Depok, anyone? :p)