Mengenang Euro 2000

Jika dilihat dari perspektif waktu, 2016 adalah tahun yang cukup ‘mengerikan’. Terhitung sejak tahun ini, jarak ke tahun 2030 lebih dekat daripada jarak ke tahun 2000. Padahal tahun 2000, yang sering di-salah kaprah-i sebagai awal milenium baru, terasa masih sangat dekat. Tidak terasa 16 tahun telah berlalu sejak dunia dilanda kecemasan akan bug Y2K (yang akhirnya tak pernah terjadi), Ian Thorpe merajai gelanggang renang di Olimpiade Sydney 2000, dan Didier Deschamps mengangkat trofi Henry Delaunay di Stadion De Kuip, Rotterdam.

Bicara tentang tahun 2000 bagi saya tidak akan terpisahkan dari kenangan perihal Euro 2000 Belanda-Belgia. Turnamen sepakbola antar negara-negara Eropa tersebut merupakan turnamen kedua yang saya ikuti setelah Coupe du Monde France 98. Bedanya, France 98 diikuti lebih karena euforia meskipun waktu itu belum bener-bener paham bola (bahkan belum ngerti kriteria offside itu kek gimana), sedangkan Euro 2000 diikuti dalam kondisi sudah dibaptis sebagai fans layar kaca sepakbola. Sudah paham bedanya kompetisi sama turnamen, kompleksitas liga domestik dan tingkat kontinental, pemetaan posisi dalam skema permainan, dan, tentu saja, bagaimana perangkap offside bekerja. :D

Euro 2000 juga akan selamanya berada dalam top list turnamen sepakbola internasional terbaik yang pernah saya ikuti bersama dengan Piala Dunia 2006 dan Piala Dunia 1998. Salah satu alasan utamanya: Zinedine Zidane in his prime. Zizou adalah Maradona/Pele/CR7/Messi-nya generasi 90-an. Bener-bener ga ada lawan di posisi alaminya dan merupakan kemewahan tersendiri bisa menjadi saksi hidup (meskipun hanya sebagai fans layar kaca) bagaimana sang legenda ini setiap pekannya memamerkan skill di kancah Serie A bersama Juventus. Ketika Piala Dunia 98, peran Zizou, meskipun mencetak 2 gol di final, tidaklah sevital perannya di Euro 2000. Euro 2000 adalah turnamen terbaik Zidane sepanjang masa sebagaimana dunia mengenang gol volley-nya untuk Madrid di Hampden Park 2002 sebagai gol terbaik final UCL.

2 Milanese vs 1 His Majesty

2 Milanese vs 1 His Majesty

Euro 2000 dihelat di dua negara bertetangga: Belanda dan Belgia, pada tanggal 10 Juni hingga 2 Juli 2000. Ini pertama kalinya sebuah turnamen sepakbola internasional digelar di dua negara dan seolah menjadi proyek percontohan bagaimana seharusnya pergelaran Piala Dunia yang juga akan digelar di dua negara: Korea dan Jepang, berlangsung dua tahun setelahnya. Sebulan sebelum pembukaan Euro 2000 berlangsung, versi U-21 Euro 2000 telah lebih dulu diselesaikan di Slovakia dan menghasilkan Italia sebagai juaranya dengan Andrea Pirlo sebagai Player of the Tournament. Namun, tim senior Italia justru bukan unggulan utama di Euro 2000. Terlebih hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai, kiper utama mereka Gianluigi Buffon mengalami cedera tangan pada laga uji coba dan terpaksa absen dari turnamen. Bursa prediksi tim juara Euro 2000 waktu itu dipuncaki oleh Belanda. Selain sebagai tuan rumah, timnas Oranye yang ketika itu dilatih oleh Frank Rijkaard juga tengah berada di masa emasnya setelah mampu menembus semifinal France 98. Unggulan berikutnya tentu saja Perancis, sang juara dunia. Berikutnya adalah Spanyol, yang didominasi pemain-pemain Real Madrid dan Valencia sebagai 2 finalis Liga Champions 2000, dan Portugal yang generasi emasnya tengah memasuki usia emas. Negara-negara tradisional seperti Jerman, Inggris, dan Italia tidak terlalu dianggap sebagai unggulan dalam turnamen ini mengingat performa buruk mereka di turnamen besar terdahulu dua tahun sebelumnya: Piala Dunia Perancis 98. Pun demikian dengan Belgia sebagai negara tuan rumah lainnya yang dianggap tidak memiliki kekuatan mumpuni untuk bersaing. Untuk urusan logo, Euro 2000 tampil sedehana dengan cuma menampilkan siluet orang yang sedang menggiring bola dengan bendera Belanda dan Belgia sebagai ornamennya. Halaman karikatur Tabloid Bola pernah memparodikan logo ini menjadi Rama Aiphama yang sedang menggiring bola (dan sialnya, yang keinget sampe sekarang selalu itu :D)

Emang mirip sih… :p

Turnamen diikuti oleh 16 tim dengan Slovenia dan Norwegia menjadi debutan. Hal yang cukup mengejutkan adalah ketiadaan Kroasia, sang semifinalis Piala Dunia dua tahun sebelumnya, di daftar kontestan. Juga tidak ada negara-negara pecahan Uni Soviet. 16 tim tersebut dibagi menjadi 4 grup di mana juara dan runner-up grup mendapat tiket ke perempat final, format yang menurut saya sudah sangat ideal namun sayangnya diubah UEFA untuk Euro 2016 dan seterusnya dengan alasan pemerataan kesempatan berpartisipasi bagi negara-negara ‘kecil’. Pembukaan Euro 2000 dilakukan di Roi Baudoin Stadium di Brussels yang lebih dikenal dengan nama lainnya: Heysel. Di stadion bersejarah (dan berdarah) itu Belgia berhasil menundukkan Swedia 2-1, meskipun di akhir kualifikasi grup Belgia tidak mampu lolos ke perempat final. Di grup B tempat Belgia bercokol yang terus melaju ke perempat final adalah Italia dan Turki. Grup C diwakili oleh Spanyol dan Yugoslavia, dan Grup D diwakili oleh Belanda dan Perancis. Kejutan terbesar terjadi di Grup A, tempat 2 (mantan) juara dunia: Jerman dan Inggris bercokol. Kedua negara kekuatan tradisional sepakbola itu harus angkat koper lebih awal karena kalah bersaing dengan Portugal dan Romania. Dari keduanya, nasib paling mengenaskan dialami oleh juara bertahan Jerman yang harus menyudahi turnamen tanpa sekalipun mencicipi kemenangan + harus menelan kekalahan dari musuh bebuyutannya: The Three Lions Inggris. Gol semata wayang Alan Shearer membuat Inggris mampu membalaskan dendam di semifinal Piala Eropa di Wembley empat tahun sebelumnya (meskipun tidak berarti apa-apa bagi nasib Inggris dalam turnamen). Keterpurukan Jerman sendiri sudah diprediksi sebelumnya mengingat skuad yang uzur (note: Lotthar Matthaeus yang sudah berumur 39 tahun masih diikutkan dalam skuad. Darah muda skuad Jerman hanya Michael Ballack dan Sebastian Deisler dan mereka pun jarang jadi starting eleven), pelatih yang kurang meyakinkan (Erich Ribbeck), dan kemampuan pemain yang semenjana (tengok saja andalan di lini depan: Oliver Bierhoff dan Carsten Jancker).

Salah satu partai klasik yang terjadi di Charleroi (Belgia)

Kualifikasi grup menghasilkan tiga tim dengan nilai sempurna 9 dari 3 kali kemenangan, masing-masing Portugal, Italia, dan Belanda. Perempatfinal pun menyajikan satu partai menarik ketika Perancis bertemu dengan Spanyol. Kembali, Zizou menunjukkan tajinya dengan mencetak satu gol dan mengantar Perancis lolos ke semifinal untuk bertemu Portugal. Di perempat final lainnya, tuan rumah Belanda mencukur Yugoslavia 6-1 (diwarnai dengan hattrick Patrick Kluivert) dan makin mengukuhkan posisinya sebagai unggulan utama dalam turnamen. Portugal dan Italia menang meyakinkan dengan skor 2-0, masing-masing terhadap Turki dan Romania. Semifinal pun telah dipastikan. Perancis akan bertemu Portugal, sedangkan tuan rumah Belanda bertemu Italia.

Belanda berada dalam posisi yang sangat diunggulkan ketika bertemu Italia, apalagi sehabis mereka menunjukkan kedigdayaannya ketika menghabisi Yugoslavia 6-1. Berlaga di kandang sendiri, Amsterdam Arena, didukung puluhan ribu suporter Oranje, dan memiliki skuad terbaik dengan kekuatan merata di semua lini rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat Belanda melaju ke laga puncak menyingkirkan Italia. Hal itu makin mendekati kenyataan ketika di babak pertama Gli Azzurri sudah harus bermain dengan 10 orang akibat espulso yang diterima Gianluca Zambrotta dan hadiah penalti yang sayangnya berhasil ditepis Francesco Toldo. Pengaruh sang allenatore Dino Zoff sebagai benteng terakhir sistem catenaccio Italia yang berhasil memenangkan Piala Dunia 1982 terlihat ketika 10 pemain Azzurri bisa membendung Belanda tanpa gol hingga akhir waktu normal dan memaksa adanya adu penalti. Di babak penentuan ini, Toldo (yang menjadi kiper utama hanya karena absennya Buffon) kembali menunjukkan kemampuannya dengan menepis penalti Paul Bosvelt dan mengantarkan Italia ke final. Meskipun demikian, yang paling diingat dari ajang adu penalti Italia-Belanda di Euro 2000 itu bukanlah aksi penyelamatan Toldo, namun panenka dari Francesco Totti yang mampu menipu Edwin Van der Sar. Penalti Totti ini kelak akan menjadi highlight utama karirnya sebagai algojo tendangan penalti selain penalti penentuan lawan Australia di perdelapan final Germany 2006.

A cheeky penalty kick

Pada laga semifinal lainnya, Perancis, sang juara dunia, bertemu Portugal yang diperkuat para alumni Piala Dunia U-20 tahun 1991 macam Fernando Couto, Luis Figo, Rui Costa, dan Sergio Conceicao. Sebelum kemunculan CR7, tim ini dianggap sebagai tim terkuat yang pernah dimiliki Portugal sejak 1966. Dibandingkan partai semifinal lainnya antara Italia dan Belanda yang tidak seimbang dan monoton, laga ini jelas lebih seru dan menegangkan. Setelah di waktu normal berakhir imbang 1-1 akibat gol Nuno Gomes dan Thierry Henry, laga berlanjut ke perpanjangan waktu yang ketika itu masih berformat golden goal (gol yang tercipta selama masa 2×15 menit itu akan otomatis menghentikan pertandingan). Ketika laga mendekati akhir, terjadilah insiden hands ball yang dilakukan oleh Abel Xavier yang menepis dengan sengaja bola tendangan Sylvain Wiltord yang 90% masuk ke gawang Vitor Baia. Insiden ini sangat mirip dengan kejadian di Piala Dunia 2010 ketika Luis Suarez dengan sengaja menghalangi dengan tangan bola hasil sepakan pemain Ghana yang 99,99% menjadi gol. Kelakuan Xavier tersebut berbuah hadiah penalti bagi Perancis dan berhasil dikonversi Zidane untuk mengantar Perancis ke final Piala Eropa pertama sejak 1984.

Final Euro 2000 merupakan ulangan perdelapan final France 98 dua tahun sebelumnya. Dua tim biru: Perancis dan Italia bertemu di Stadion Feijenoord (De Kuip) Rotterdam pada 2 Juli 2000. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini Perancis yang berhak memakai seragam Les Bleus kebesarannya dan Italia terpaksa menggunakan jersey away putih. Perancis dan Italia sama-sama mencoba meraih gelar juara Eropa mereka yang kedua. Bagi Perancis, keberhasilan di Rotterdam akan mengulangi sukses tahun 1984 yang ditorehkan Michel Platini dkk. Sedangkan untuk Italia, gelar juara akan menjadi pemuas dahaga yang hakiki karena terakhir kali mereka juara adalah pada tahun 1968 bersama legenda-legenda macam Facchetti, Mazzola, dan Rivera. Di tim Perancis, formasi pemain di laga final tidak berubah banyak dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Gawang tetap dijaga oleh Fabien Barthez. Lini belakang tetap dijaga oleh kuartet Blanc-Desailly-Lizarazu-Thuram (dan Blanc tetap setia mencium kepala Barthez sebelum pertandingan dimulai :D). Deschamps-Vieira-Djorkaeff-Zidane mengisi lini tengah, dan Henry-Dugarry menjadi ujung tombak. Skuad Perancis di Euro 2000 ini terbilang lebih ‘mewah’ daripada waktu France 98. Setidaknya terlihat di kualitas pemain utama dan pemain cadangan yang tidak berbeda jauh. Lebih-lebih di sektor gelandang dan pemain depan. Cadangannya Henry-Dugarry adalah Wiltord-Anelka-Trezeguet. Sedangkan di lini tengah juga masih ada Robert Pires, Christian Karembeu, dan Emmanuel Petit. Untuk Italia, trio bek terbaik dunia (menurut saya): Maldini-Nesta-Cannavaro menjaga lini belakang bersama Francesco Toldo dan Mark Iuliano. Demetrio Albertini menjadi jangkar, diapit oleh Luigi Di Biagio dan Gianluca Pessotto. Lini serang dihuni oleh Stefano Fiore dan duo AS Roma: Francesco Totti & Marco Delvecchio. Masuknya Delvecchio di daftar starter cukup mengejutkan karena striker pilihan Dino Zoff di pertandingan-pertandingan sebelumnya biasanya adalah Filippo Inzaghi. Tapi yang paling sensasional adalah keberhasilan Stefano Fiore, pemain semenjana asal Udinese, yang berhasil menyingkirkan nama besar seperti Alessandro Del Piero untuk mengisi starter, thanks to performa yang konsisten sepanjang turnamen.

Starting formation di laga final

Starting formation di laga final

Impian Italia untuk merengkuh trofi juara Eropa nyaris terwujud ketika Marco Delvecchio mampu menjebol gawang Barthez di babak pertama. Semua upaya gempuran Perancis seakan menemui karang kokoh di hadapan Maldini-Nesta-Cannavaro bahkan hingga menit-menit injury time. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana para penghuni bangku cadangan Italia sudah berangkulan sambil berbaris rapi, menunggu peluit panjang ditiup untuk segera menghambur ke dalam lapangan. Namun petaka itu datang dari para pemain pengganti Perancis ketika Robert Pires memberi assist ke Sylvain Wiltord yang mampu menceploskan bola ke gawang Toldo di detik-detik terakhir pertandingan (suspense at its best). Pertandingan di waktu normal terpaksa berlanjut ke perpanjangan waktu yang benar-benar membawa mimpi buruk bagi Italia. Pemain pengganti Perancis lainnya, David Trezeguet (yang di kemudian hari menjadi pemain asing pencetak gol terbanyak untuk Juventus), berhasil menjebol gawang Italia yang otomatis menghentikan pertandingan dan menghasilkan Perancis sebagai kampiun Eropa baru. Ini adalah golden goal terakhir di final turnamen besar karena setelah Euro 2000, FIFA kembali ke jalan berpikir yang normal dengan mengembalikan kesempatan bagi tim yang tertinggal di perpanjangan waktu hingga usainya waktu 2×15 menit.

Kekalahan Italia di final Euro 2000 terasa menyakitkan karena inilah final terakhir Paolo Maldini sebagai kapten Gli Azzurri. Pada Piala Dunia 2002, harapan Maldini untuk setidaknya melaju ke final dipupuskan oleh wasit Byron Moreno dan tim Korea asuhan Guus Hiddink. Dengan demikian, pupuslah sudah impian fans Italia (terutama fans Milan) untuk melihat Maldini mengangkat trofi internasional bersama negaranya (karena bersama klub sudah terlalu mainstreamuntuk dirinya). Bagi Perancis sendiri, kemenangan di Euro 2000 menjadi akhir sebuah era. Ketergantungan yang semakin besar terhadap sosok Zinedine Zidane menjadi bumerang bagi tim nasional Perancis. Ini terlihat jelas ketika upaya Perancis mempertahankan gelar juara dunia di Korea-Jepang hancur berantakan di babak kualifikasi grup akibat cederanya sang pemain terpenting. Hal yang kemudian berlanjut di Portugal 2004. Perancis (dan juga Italia) akhirnya kembali merasakan berada di final turnamen besar di Piala Dunia Jerman 2006. Kedua tim masih diperkuat beberapa pemain yang turut berlaga di final Euro 2000. Bedanya, pada kesempatan ini Italia lah yang berhasil membalaskan dendamnya, sekaligus membuat Zizou menutup karirnya dengan kenangan teramat pahit. Tandukan Zidane kepada Materazzi berbuah kartu merah dan Perancis yang terpaksa bermain dengan 10 pemain harus keluar sebagai pecundang setelah kalah adu penalti di Berlin.

Maka benarlah adanya yang disampaikan Benyamin S. dalam lagu “Sariosa”:

Romantika kehidupan berputar-putar.

Seperti roda, roda gerobak.

Begitulah selamanya.

Kutukan Three Lions?

Football is a simple game; 22 men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win. – Gary Lineker

Gary Lineker gak salah. Buktinya Jerman keluar sebagai juara dunia (lagi) tahun 2014 ini. Tapi mungkin kutipan di atas, yang lahir pasca kemenangan Jerman Barat atas Inggris di semifinal Piala Dunia 1990, sekarang perlu ditambah satu kalimat lagi: “and the English always lose.”

Terakhir kali timnas Inggris menjadi juara dunia sepakbola adalah pada tahun 1966. Itu pun ketika turnamen digelar di negara mereka sendiri dan diwarnai kontroversi ‘gol hantu’ di laga final. Setelah 1966, langkah terbaik mereka adalah mencapai semifinal di Italia 1990, kalah dari Jerman (Barat) yang akhirnya menjadi juara dan melahirkan kutipan terkenal Gary Lineker di atas. Dalam empat perhelatan piala dunia terakhir, Three Lions selalu kandas bahkan sebelum mencapai babak semifinal: mentok di perempat final di Korea-Jepang 2002 dan Jerman 2006, 16 besar di Afsel 2010, dan yang paling terbaru, pada babak penyisihan grup di Brasil 2014. Reputasi yang cukup memalukan untuk ukuran sebuah negara yang selalu membanggakan diri sebagai tempat lahirnya olahraga terpopuler sejagat raya ini.

Berbagai analisis tentang penyebab kegagalan Inggris di piala dunia selalu bermunculan sesaat setelah mereka dipastikan harus mengepak koper terlebih dahulu dan meninggalkan negara penyelenggara lebih awal. Mayoritas mempersoalkan minimnya kohesi antar 23 pemain dalam skuad yang dibawa, cedera pemain kunci yang menurunkan performa tim secara keseluruhan, kelelahan akibat jadwal kompetisi domestik dan Eropa yang teramat padat, hingga isu tentang dominannya pemain asing dalam liga domestik yang mengakibatkan minimnya kesempatan bagi pemain lokal untuk berkembang. Tapi apakah benar hal-hal tersebut menjadi penyebab utama impotennya timnas Inggris di ajang internasional? Bab pertama dalam buku Soccernomics dengan judul “Why England Loses and Others Win” mencoba untuk menjawab pertanyaan abadi tersebut.

Yup, another per-chapter review of the book in this blog, hehe. Kuper dan Szymanski, duo penulis Soccernomics, membuka bab ini secara satir dengan mengungkapkan tujuh fase yang akan dilalui timnas Inggris setiap perhelatan Piala Dunia (dan terus berulang setiap empat tahunnya). Bagi kedua penulis, pertanyaan tentang “mengapa Inggris selalu kalah setiap Piala Dunia” mempunyai kemiripan dengan isu utama di studi Ekonomi Pembangunan, yaitu “mengapa satu negara bisa lebih miskin (less productive) dibandingkan dengan negara yang lain?”. Tiga jawaban yang umum diterima atas pertanyan di atas adalah (1) terlalu banyaknya pemain asing yang bermain di Liga Inggris, (2) dominasi kelas sosial tertentu dalam persepakbolaan Inggris, dan (3) ‘keterkucilan’ Inggris dari Eropa daratan, pusat industri sepakbola dunia.

Berlimpahnya pemain asing di Liga Inggris sudah sangat sering dijadikan kambing hitam terkait dengan kemunduran prestasi The Three Lions. Merujuk ke konteks ilmu ekonomi, Ingris dinilai tidak menerapkan kebijakan ‘import substitution’ dalam industri sepakbolanya, dan cenderung mengagungkan kredo ‘export promotion’ ketika mengelola kompetisi domestiknya. Keterbatasan jam terbang merumput pemain asli Inggris karena jatahnya digunakan oleh pemain asing diduga menjadi penyebab minimnya bakat-bakat pribumi baru yang terdeteksi. Terdengar masuk di akal? Ternyata Kuper dan Szymanski  berpendapat lain. Justru menurut mereka, jumlah 37% pemain asli Inggris yang bermain di (arguably) liga terbaik di dunia sudah merupakan hal yang bagus. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari, misalnya, Rusia dan Kroasia yang para pemain nasionalnya mungkin hanya 5% yang mampu mencicipi atmosfer kompetisi terketat di dunia tersebut. Ironisnya, dengan hanya 5% komponen tim yang terpapar gemerlap EPL tersebut, kedua negara tadi justru mampu mengangkangi Inggris untuk lolos ke Piala Eropa Swiss-Austria 2008.

Kuper dan Szymanski berargumen bahwa dengan tingkat persaingan yang amat tinggi di EPL tiap pekannya, di mana 37% pemainnya adalah pemain asli Inggris, peak performance para pemain timnas Inggris justru telah terjadi ketika bermain di level klub. Walhasil, setiap dihelatnya turnamen internasional di musim panas, permainan yang disuguhkan menjadi ala kadarnya. Belum lagi menghitung imbas cedera dan kelelahan fisik yang didapatkan selama musim kompetisi berjalan, suatu hal yang sangat umum didapatkan ketika bermain di EPL yang mengutamakan speed + power ketimbang teknik. Jadi, permasalahannya bukan di banyaknya pemain asing yang mendominasi liga, akan tetapi bagaimana caranya agar pemain Inggris dapat ‘diekspor’ ke liga-liga lain yang tingkat kompetisinya tidak seketat EPL. Jika mengingat pemenang empat Piala Dunia terakhir yang anggota skuadnya tidak didominasi oleh pemain yang bermain di Liga Inggris (Brasil 2002, Italia 2006, Spanyol 2010, dan Jerman 2014), argumen tersebut cukup bisa diterima.

Lalu bagaimana tentang anggapan bahwa pemain sepakbola di Inggris terlalu didominasi kelas sosial tertentu? Kelas pekerja di Inggris saat ini memang menjadi penyumbang utama pemain sepakbola di negeri tersebut. Di sisi lain, keberadaan pemain yang berasal dari keluarga kelas menengah kian jarang ditemui. Padahal saat ini kelas menengah, yang indikatornya adalah mampu mengenyam pendidikan tinggi dan tidak berprofesi sebagai ‘pekerja kasar’, adalah golongan sosial mayoritas di Inggris, jauh melebihi kalangan kelas pekerja yang semakin menyusut. Akibatnya, populasi pesepakbola yang memiliki talenta bagus juga kian menyusut seiring dengan menurunnya jumlah kontributor utamanya. Selain itu, minimnya edukasi yang dimiliki pemain-pemain dari kelas pekerja ini (ini emang terlalu menggeneralisir sih..) menyebabkan sulitnya menyesuaikan diri terhadap perkembangan taktik sepakbola yang makin menekankan pada intelijensia dan kematangan mental pemain. Jadi alih-alih memberlakukan restriksi yang lebih ketat terhadap keberadaan pemain asing, industri sepakbola Inggris seyogyanya bisa mempertimbangkan cara untuk dapat menarik lebih banyak pemain dari kelas menengah.

Untuk faktor ‘keterkucilan’ Inggris dari pusat industri sepakbola dunia di Eropa daratan, tentunya sekilas terkesan masalah geografis menjadi penyebab utama. Inggris yang terpisahkan dari Eropa daratan dianggap sebagai periferi dalam peta besar Eropa. Negara-negara di jantung Eropa seperti Jerman, Perancis,Spanyol, Belanda, dan Italia, memiliki keuntungan tersendiri dalam hal mudahnya konektivitas dan membangun jejaring yang mampu meningkatkan produktivitas. Tidak heran jika negara-negara tersebut mampu berprestasi lebih baik ketimbang Inggris dalam hal sepakbola. Namun ternyata masalah Inggris lebih dari itu. Persepakbolaan Inggris telah terlalu lama menganut paham isolasionisme, meskipun sekarang sudah mulai ada upaya untuk lebih membuka diri. Hingga pertengahan 90-an, pola kick and rush yang telah usang masih mendominasi strategi klub-klub Inggris. Komersialisasi EPL dan makin menguatnya peran Uni Eropa dalam integrasi ekonomi benua birulah yang kemudian mampu mendobrak konservatisme ini. Akan tetapi, ketertinggalan Inggris masih tercermin pada minimnya pelatih-pelatih lokal yang menangani klub-klub besar. Bahkan selama beberapa tahun pun timnas Inggris terpaksa mengimpor pelatih dari Swedia dan Italia karena dianggap lebih mumpuni daripada pelatih-pelatih lokal sendiri. Inggris sebagai recovering isolasionist dianggap masih membutuhkan campur tangan Eropa daratan di industri sepakbolanya dan sebaiknya mengikis gengsi tingginya sebagai tempat lahirnya sepakbola.

To sum up: Hal-hal yang perlu dilakukan Inggris untuk lebih berprestasi di turnamen-turnamen internasional adalah (1) berhenti mengkhawatirkan pengaruh buruk keberadaan pemain asing di liga domestik, (2) mengupayakan agar kelas menengah tertarik untuk berkarir di sepakbola, dan (3) terus membuka diri terhadap ide, perspektif, dan paradigma baru terkait sepakbola yang datangnya dari Eropa daratan. Dari tiga hal tersebut, rasa-rasanya poin nomor dua yang paling susah. Sepakbola di Inggris sudah kadung dianggap sebagai olahraga kelas pekerja yang memarjinalkan peran kelas menengah. Entahlah. Mungkin di sana juga menganut sinisme khas yang sama kayak di Indonesia: sekolah tinggi-tinggi kok malah jadi pemain bola. Atau: “Sekolah yang tinggi, biar gak jadi pemain bola”.

Atau jangan-jangan, selayaknya nasib Indonesia di kancah ASEAN, udah takdir Inggris jadi Indonesia-nya Eropa dalam hal prestasi sepakbola? Wallahualam bishawab.

I Am Zlatan

Umumnya buku (oto)biografi memiliki alur cerita yang berjalan secara linear. Dimulai dari masa kecil si penulis (atau bahkan sebelum kelahirannya), masa sekolah dan remaja, hingga masa dewasa yang seringnya menjadi inti dari buku tersebut. Tapi tidak demikian halnya dengan otobiografi Zlatan Ibrahimovic ini. Di bab pertama, Zlatan langsung berkisah secara frontal tentang ketidaksukaannya terhadap Josep ‘Pep’ Guardiola, pelatih FC Barcelona kala itu (sekaligus klub profesional kelima yang dibelanya dalam kurun waktu 10 tahun). Pep dinilai sebagai sosok yang pengecut, pecundang kelas berat, dan tidak becus menangani pemain bintang. Barca di bawah asuhan Guardiola, menurut Zlatan, tak ubahnya seperti tim sekolah dasar yang menekankan konformitas dan kepatuhan terhadap otoritas serta dihuni pemain-pemain berkelakuan manis layaknya Messi, Xavi, dan Iniesta. Sebuah hal yang tak mengherankan karena tiga pemain kunci ini memang didikan La Masia, akademi sepakbola Barca, yang telah terbiasa dengan kultur di dalam klub tersebut. Namun bagi Zlatan, situasi ini terhitung konyol. Terlebih karena ia sebelumnya lima tahun bermain di Italia yang begitu mendewakan pemain bintang. Cerita di bab pertama yang diakhiri dengan kisruh di kamar ganti setelah kegagalan Barca lolos ke final Liga Champions 2009-2010, kalah selisih gol dari Inter-nya Mourinho, ini menjadi pembuka ideal yang mampu mengikat para pembaca untuk terus mengikuti kisah biografi ini hingga tuntas.

Selain sebagai strategi untuk mencuri perhatian pembaca, penempatan episode karir singkatnya di Barca sebagai pembuka cerita bisa jadi juga merupakan medium Zlatan untuk mengungkap tabir di balik karir singkat tersebut dari versi dia. Tidak banyak yang tahu tentang alasan pasti berpisahnya Zlatan dengan Barca meski baru bermain setahun. Kisah perseteruan dengan Guardiola yang diberitakan media mayoritas sumir, tidak dielaborasi dengan dalam dan menyisakan banyak tanda tanya. Dibeli oleh klub juara Eropa dengan harga yang begitu mahal dari Inter pada musim panas 2009, bersamaan dengan pembelian gila-gilaan Real Madrid atas Kaka dan Cristiano Ronaldo, Zlatan hanya bertahan satu musim untuk kemudian dilepas dengan harga murah ke klub spesialis penampung pemain murah, gratisan, dan free transfer: AC Milan. Hingga saat ini, Barca menjadi klub dengan masa bakti tersingkat bagi seorang Zlatan di dalam karir sepakbolanya, dan Zlatan menyatakan bahwa Guardiola adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sebuah penuturan yang mungkin bisa membuat para pembaca mengubah persepsinya selama ini terhadap sosok seorang Pep Guardiola.

Sosok Zlatan Ibrahimovic memang mengundang banyak perhatian. Pemain yang dikenal sebagai si bengal pembuat onar dan arogan (tapi dengan kemampuan mengolah bola yang mumpuni) memang lebih mudah dieksploitasi media untuk menaikkan oplahnya. Tak mengherankan ketika Zlatan merilis buku otobiografinya (meskipun saya gak yakin ini bisa dibilang “otobiografi” karena ditulis oleh David Lagercrantz), perhatian terhadap buku ini cukup besar dan banyak pihak yang menasbihkannya sebagai salah satu buku biografi sepakbola terbaik yang pernah ada. Cara bertutur Zlatan yang blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling (duh bahasanya!) ketika menceritakan orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupannya enak untuk dibaca dan sesekali mampu mengundang tawa. Selazimnya otobiografi lainnya, penggunaan kata ganti orang pertama di buku ini juga mampu mengakrabkan pembaca dengan sosok Zlatan karena seolah ia sendiri yang sedang berkisah dalam buku ini.

Stands out in the (blurry) crowd

Stands out in the (blurry) crowd

Setelah diawali dengan bab pertama yang bombastis, alur cerita dalam buku ini barulah mengikuti pakem yang umum: mengalir secara runut dari masa kecil hingga awal karir dan seterusnya. Zlatan kecil hidup di area suburb Rosengard (keren ya, kayak di Middle Earth..) pinggiran kota Malmo di Swedia. Latar belakang kedua orang tuanya yang imigran, beda etnis dan agama, lalu kemudian bercerai membuat pelarian ke sepakbola menjadi hal yang lumrah. Ini kayaknya pola umum yang dialami beberapa bintang sepakbola dunia: tumbuh di keluarga yang disfungsional, menemukan sepakbola sebagai satu-satunya pelarian dari masalah dan ajang pembuktian eksistensi diri, hingga dilirik oleh pemandu bakat klub-klub terkenal. Sayangnya saya gak begitu tertarik sama kisah personal Zlatan sebelum nyemplung di dunia sepakbola profesional, jadi pas baca beberapa bab tentang ini cuma selintas lalu doang. Meskipun ada beberapa fakta menarik yang terungkap, salah satunya tentang bagaimana dulu Arsene Wenger pernah hampir menarik Zlatan ke Arsenal. Beberapa bab yang gak terlalu menarik memang, tapi minimal jadi tau gimana interaksi sosial antar etnis (native vs imigran) di Swedia sana.

Bagian ketika Zlatan bergabung dengan Malmo FF, klub profesional pertamanya, juga biasa-biasa aja. Minim konflik dan cerita behind the scene yang menarik. Cerita baru mulai menarik lagi ketika telah memasuki episode dijual ke Ajax. Pertama karena Zlatan (akhirnya) menyadari kalo agen pertamanya ngibulin dia (dijual sebagai pemain termahal di klub lama tapi dengan gaji terendah di klub barunya :D) dan berikutnya karena di Ajax juga dia nemuin musuh(-musuh) besarnya (Louis Van Gaal dan Rafael Van der Vaart) dan dua orang yang dihormati (Leo Beenhakker dan Maxwell). Maxwell sendiri malah jadi BFF Zlatan: ngikut terus dari Ajax, Inter, Barca, hingga PSG sekarang. Kedatangan Zlatan ke Ajax bersamaan juga dengan datangnya Mido Hossam, pemain asal Mesir. Ini yang masih saya inget sampe sekarang karena dulu, ketika masih sering beli Tabloid Bola, foto kedua pemain baru Ajax ini berdampingan dengan dua pemain anyar Milan, yaitu Rui Costa dan Pippo Inzaghi. Waktu itu beritanya terkait dengan penyelenggaraan Turnamen Amsterdam, sebuah turnamen pra musim yang diikuti antara lain oleh Ajax, Milan, dan Liverpool  yang juga diceritakan dalam buku ini. Di Ajax, Zlatan mewarisi nomor punggung 9 yang pernah dipakai Marco Van Basten dan sejak itu sering digadang-gadang sebagai “The New Van Basten” berkat kemiripan postur, posisi, dan cara bermain.

Belajar dari pengalaman ditipu agen ketika pindah dari Malmo ke Ajax, Zlatan kemudian menemukan sosok agen pemain yang ideal dan kompatibel dengan karakternya pada seorang Mino Raiola. Cukup banyak interaksi antara Zlatan dan Raiola yang diceritakan di buku ini. Yang paling intens tentunya pada saat berkisah tentang proses transfer Zlatan ke Juventus, Inter, Barca, hingga Milan. Banyak kisah-kisah behind the scene yang terungkap di buku ini seputar proses-proses transfer tersebut, yang semuanya tak terlepas dari kelicinan Raiola dalam bernegosiasi. Satu yang paling menyesakkan buat saya sebagai seorang fans layar kaca Milan adalah ketika Zlatan bercerita bagaimana ia tinggal selangkah lagi bergabung dengan I Rossoneri setelah Juve terdegradasi ke Serie B tahun 2006, namun kemudian di injury time Massimo Moratti mengintervensi sehingga ia berlabuh ke sisi kota Milano yang lain.

Yang menarik dari seorang Zlatan Ibrahimovic adalah ia selalu berhasil mempersembahkan gelar juara liga domestik ke klub yang dibelanya, terhitung sejak Ajax musim 2002-2003 (dengan pengecualian Milan di musim keduanya). Setiap momen menentukan dalam perjalanan meraih juara liga terdokumentasikan dengan apik di sini. Dua gelar back-to-back bersama Juve, tiga gelar beruntun bersama Inter dan masing-masing satu gelar untuk Barca dan Milan menjadi lumbung cerita yang mendominasi dua pertiga akhir buku ini. Mulai dari kekagumannya terhadap sosok Fabio Capello, hormatnya kepada Jose Mourinho, perseteruannya dengan rekan setim (Zebina di Juve, Mihajlovic di Inter, dan Onyewu di Milan), drama di laga-laga penentuan gelar juara, perebutan capocannonieri, hingga gol-gol spektakuler yang dicetaknya.

Ya, bicara tentang Zlatan pasti tidak lepas dari gol-gol yang spektakuler dan out of the box. Beberapa gol terindah yang pernah dibuatnya mendapat porsi khusus untuk diceritakan di sini. Sayangnya memang buku ini sudah selesai ditulis ketika Zlatan mencetak gol luar biasa kala Swedia menjamu Inggris tahun 2012 lalu, tapi beberapa gol indah lainnya dikisahkan dengan lengkap di sini (dengan nada pongah karena hampir setiap tahun selalu memenangi gelar gol terbaik pilihan pemirsa :p). Gol Zlatan ketika masih berseragam Juve melawan Roma yang berkesudahan 4-0, ‘gol kungfu’ waktu Euro 2004 ketika Swedia berhadapan dengan Italia, gol aneh bin ajaib ketika membela Inter melawan Bologna, gol-gol ketika El Clasico dan Barca vs Arsenal di Liga Champions, serta tentunya gol terakhir dia sewaktu membela Ajax ke gawang NAC Breda berikut:

Kekurangan buku ini cuma satu: keterbatasan masa bercerita. Buku ini cuma mentok di akhir musim pertama Zlatan bersama Milan. Sedangkan musim kedua, ketika akhirnya setelah sekian lama Zlatan tidak menghasilkan gelar juara liga untuk klub yang tengah dibelanya, tidak tercover dalam cerita. Begitu pun dengan lanjutan kisah Zlatan ketika pindah ke PSG dan dilatih oleh pelatih hebat lainnya: Carlo Ancelotti. Selebihnya sulit mencari kekurangan buku ini. Sebagai perbandingan, ketika saya membaca buku otobiografi Andrea Pirlo setelah baca I Am Zlatan ini, baru bab pertama aja udah ngerasa bosen karena gaya bertuturnya yang terlalu bertele-tele dan kurang makjleb. Kembali ke karakter pribadi sih emang, tapi secara keseluruhan bukunya Zlatan ini emang lebih enak dibaca. Karena saya adalah insan yang menjunjung tinggi HKI (yeah right..), link download e-book buku ini tidak saya sertakan di tulisan ini. Bisa didonlot sendiri via torrent, tinggal search aja “I Am Zlatan”.

Mari membajak. #eh

Marhaban Ya Bal-balan

Juni 2014, bulannya piala dunia.. Persetan dengan pilpres yang makin sering diisi oleh black campaign oleh fanboys dua kandidat.. Ini saatnya warga dunia berpesta! Di pesta ini, berbeda dengan pesta demokrasi di Indonesia, gak akan ada pemain yang dituding gak bisa wudhu, agamanya gak bener, keturunan Cina (seolah-olah menjadi keturunan Cina adalah hal yang memalukan, dan ironisnya ini dilakukan oleh orang-orang yang nenek moyangnya berasal dari Yunan, Cina Selatan!), gak punya biji, tukang lempar hape, dsb. Di ajang empat tahunan ini, pemenang hanya akan ditentukan oleh kualitas permainannya, bukan oleh kefasihan membaca kitab suci dan kelihaian tata cara mengambil wudhu (dan anda masih heran kenapa Indonesia gak juga lolos ke Piala Dunia?)

Enough with rants. Mixtape ini menyajikan 10 lagu yang berkaitan dengan Piala Dunia dan sepakbola secara umum. Tak ada yang lebih patut mendapatkan kehormatan menjadi lagu pembuka selain “Mereka Ada di Jalan”-nya Iwan Fals. Lagu lawas yang menyiratkan keprihatinan tentang sepakbola yang semakin menjauh dari kodratnya sebagai olahraga murah dan merakyat (padahal ini lagu diciptakan jauh sebelum futsal menjadi mainstream). Kemudian lagu fenomenal tentang Piala Dunia 1998 yang didendangkan oleh Ricky Martin P-Project. Ona Sutra dan Eet Sangra juga akan berbicara tentang bola di sini. Tak lupa lagu-lagu Pet Shop Boys dan The White Stripes yang udah jadi anthem wajib pendukung klub-klub Eropa, serta beberapa lagu pengiring main Winning Eleven di rental PS jaman dulu kala..

So, just click “play” and listen.

Football vs Football

On any given Sunday any team in our league can beat any other team.

Awal bulan ini rakyat Amerika Serikat (AS) ‘merayakan’ event tahunan yang boleh dibilang sangat khas Amerika. Mungkin cuma Thanksgiving yang bisa mengalahkan ke-Amerika-an event ini. Yup, tak lain dan tak bukan adalah Super Bowl. Pertandingan final liga American Football nasional (NFL) yang, bagi orang AS, merupakan ajang final suatu kompetisi/turnamen olahraga paling spektakuler di dunia ini. Glorifikasi yang terasa berlebihan memang, namun fakta berupa rating TV tertinggi sepanjang sejarah dapat menjadi justifikasi mereka untuk sedikit membusungkan dada (meskipun kita semua tau kalo rating dan hype itu hanya terjadi di negara mereka saja.. Oh Murica!)

Saingan terberat Super Bowl yang berkarakteristik sama (sebuah final turnamen olahraga tahunan yang mengundang atensi sedemikian banyak) tentu saja adalah malam final UEFA Champions League. All German final musim lalu antara FC Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund mencatatkan rekor 150 juta penonton TV. Memang gak begitu jomplang bedanya sama jumlah pemirsa Denver Broncos vs Seattle Seahawks tahun ini yang berada di kisaran 115 juta pemirsa, tapi dari segi persebaran populasi final UCL jauuuuuuh lebih unggul (“u”-nya ada 6). Hype dan euforia final UCL lebih mengglobal, tidak hanya terkonsentrasi di satu negara saja. Lagipula, saya yakin para pemirsa final UCL ini memang tujuannya semata untuk menonton pertandingan yang akan berlangsung. Tidak seperti Super Bowl yang ada half time entertainment show, yang mampu mengundang pirsawan pirsawati non fans olahraga tersebut untuk turut duduk manis di depan TV menyaksikan acara itu. Belum lagi parade iklan-iklan bombastis yang kemunculannya selalu ditunggu-tunggu. Penonton banyak? Oke, tapi emang pada ngerti dan niatnya cuma buat nonton pertandingan? Pffftt…

Sikap holier-than-thou yang ditunjukkan mayoritas fans sepakbola ini emang sangat jamak ditunjukkan untuk cabang olahraga favorit orang Amerika tadi haha.. Biasanya yang jadi persoalan utama adalah masalah penyebutan nama olahraga tersebut. Fans sepakbola umumnya paling anti kalo olahraga favorit mereka ini disebut sebagai “Soccer” dan menggugat habis penamaan “Football” di American Football. “Soccer” dianggap sebagai nama yang derogatory, tidak sesuai khittahnya sebagai olahraga yang memainkan bola dengan kaki (meskipun nama “soccer” sendiri berasal dari kata “association football”) dan tak lupa mencemooh logika berpikir orang Amerika sana yang bisa-bisanya menamakan olahraga yang memainkan bola (itu pun kalo bisa disebut sebagai bola dengan pengertian yang umum) dengan tangan sebagai “(American) Football”.

ImageFootball no, handegg yes :D

Sebagai fans sepakbola yang berdedikasi (cieeh..) saya pun tentu ikut dalam arus utama tersebut. Meskipun kerap terpapar budaya pop AS yang banyak berlatar American Football, saya tetep gak bisa menemukan asiknya nonton olahraga yang kesannya kayak sruduk-srudukan doang ini. Ngerti pun paling dikit-dikit, sebatas tau istilah touchdown dan quarterback doang. Tapi untuk sistem skor, aturan main, format kompetisi, dll nol besar. Mungkin minimnya akses ke pertandingan live olahraga ini di TV juga sedikit banyak mempengaruhi antipati dan minimnya pengetahuan saya tentang handegg… eh football. Lagipula seperti kata pepatah: tak kenal maka Tata Young, bukan? (plesetan ini masih jaman gak sih?)

Bigotry dan fanatisme sempit dalam hal apapun sepertinya emang gak baik. Sedikit-sedikit saya mulai coba mengikis antipati terhadap American football biar bisa ngerti dikit apa yang ada di balik obsesi para warga AS terhadap olahraga ini, salah satunya dengan memaksakan diri nonton pertandingan di TV tiap ada kesempatan (dan itu hanya bisa dilakukan tiap nginep atas biaya kantor di hotel yang ada pay TV-nya. Cheap bastard.. :p). Teman saya menyarankan untuk membaca manga Eyeshield 21 yang ceritanya tentang klub ekskul American Football di sebuah SMA di Jepang. Manga yang bagus dan lucu meskipun rada hiperbolis (namanya juga Jepang), namun menurut saya jauh lebih bagus daripada komik-komik spakbola bikinan Jepang macam Captain Tsubasa, Kickoff atau Offside (emang bukan selera saya sih). Di manga ini, premis bahwa American Football adalah olahraga yang hanya menguntungkan pemain dengan kondisi fisik tertentu (tinggi-gede-intimidatif) dimentahkan oleh sang tokoh utama. Mungkin analoginya kayak Lionel Messi tiba-tiba join NFL. Ngebayanginnya pasti dalam sekejab tubuh dia udah habis tercabik-cabik terjangan pemain-pemain yang bobotnya rata-rata di atas 100 kg, tapi kalo di manga ini diceritakannya ya bisa-bisa aja tuh… (namanya juga komik). Kalo untuk pengantar yang singkat dan padat untuk lebih mengenal American Football mungkin bisa dimulai dengan menonton ini:

Di buku Soccernomics juga ada satu bab yang didedikasikan khusus untuk menelaah perbandingan antara sepakbola dengan ‘football’. Bab kedelapan dengan judul “Football Versus Football” ini awalnya memberi penjelasan kenapa sepakbola lebih bisa mendunia dibandingkan dengan football. Rupanya ini disebabkan karena sifat yang cukup bertolakbelakang dari dua negara yang pernah/sedang menjadi kekuatan utama dunia: Inggris dan Amerika Serikat. Di masa kejayaan imperium Britania Raya pada abad 19 hingga awal abad 20, pedagang dan pengusaha-pengusaha Inggris adalah pihak yang paling berjasa dalam menyebarkan nilai-nilai ke-Inggris-an ke seluruh dunia, salah satunya adalah sepakbola. Ini juga yang bisa menjelaskan kenapa sepakbola justru kurang populer di koloni resmi Inggris sendiri (India dan Australia misalnya, karena memiliki resistensi akibat dicap sebagai ‘budaya kolonial’), namun berkembang pesat di negara-negara yang banyak berbisnis dengan soft power Inggris (kekuatan dagangnya) seperti Brasil dan Argentina. Di lain pihak, AS sebagai kekuatan utama dunia sejak awal abad 20 tidak pernah berniat  untuk ‘menguasai’ dunia dengan kolonisasi dan menciptakan imperium seperti halnya Inggris. “Go in, do the job, get out” adalah prinsip utama politik luar negeri AS ketika terlibat dalam suatu konflik di negara lain. Budaya-budaya khas Amerika, termasuk dalam bentuk cabang olahraga favorit, dengan demikian tidak memiliki pondasi yang kuat untuk berkembang di luar AS.

Di Amerika, sepakbola menjadi olahraga yang marjinal, kalah bersaing dengan olahraga-olahraga yang ‘lebih Amerika’ seperti American football, baseball, bola basket, hingga hoki es. Sepakbola rata-rata hanya dimainkan oleh anak usia sekolah dan dianggap kurang ‘manly’. Tapi justru posisi yang marjinal ini telah berjasa menjadikan sepakbola sebagai olahraga terbesar di kalangan anak sekolah di AS mengalahkan jumlah gabungan pemain keempat cabang olahraga tersebut. Minimnya popularitas kompetisi sepakbola profesional di AS (MLS) dibanding NFL, MLB, NBA atau NHL justru dianggap menguntungkan bagi orang tua yang tidak ingin anak-anaknya di masa depan menjadi atlet profesional. Sifat sepakbola yang less violent, less money-involved, dan less black (nigga ain’t gonna like this) menjadikan dasar pertimbangan utama para orang tua (mayoritas) kulit putih untuk memilih sepakbola sebagai olahraga yang pas bagi anak-anak mereka di masa sekolah.

Di bagian selanjutnya dari bab ini lebih berisi analisis ekonometri untuk membuktikan apakah kompetisi American Football (NFL) lebih equal dibandingkan dengan kompetisi sepakbola (BPL). Perimbangan kekuatan di antara klub-klub NFL, seperti yang termaktub dalam slogan yang di-quote di awal tulisan, seringkali menjadi hal yang dibanggakan para peminat American Football karena kekuatan yang terlalu dominan di suatu kompetisi dalam jangka waktu yang lama dianggap  membosankan dan tidak menarik minat karena kurang unsur kejutannya. Ternyata secara empiris anggapan itu salah dalam dua hal. Pertama, NFL tidaklah se-equal yang digembar-gemborkan. Kedua, ternyata fans tidak menganggap inequality of power di suatu kompetisi sebagai hal yang dapat membuat mereka berhenti menonton kompetisi tersebut. Fans ternyata lebih menyukai kondisi yang memungkinkan adanya situasi David vs Goliath, entah klub favorit mereka bertindak sebagai si David atau Goliath-nya, ketimbang suatu kompetisi yang sama rata sama rasa ala sosialis.

Ketiadaan inequality of power dan klub yang dominan ini juga yang dinilai menyebabkan MLS sebagai kompetisi sepakbola profesional di AS dianggap kurang memiliki daya pikat setara dengan liga-liga di Eropa. Seperti halnya kompetisi olahraga lain di AS, MLS juga menerapkan sistem salary cap yang membuat mustahil klub-klub disana menarik pemain-pemain terbaik dunia untuk bermain di AS. Selain itu, sistem franchise klub yang berlaku di MLS (dan juga NBA, NFL, dll) masih sangat asing dan mengundang resistensi bagi fans sepakbola di luar AS. Gak kebayang misalnya kalo AC Milan tiba-tiba bubar karena pemilik klubnya mendapat tawaran yang lebih menggiurkan dari Pemerintah Kota Roma untuk memindahkan basis klubnya ke ibukota (jadi AC Roma dong..). Belum lagi ketiadaan sistem promosi-degradasi yang membuat persaingan menjadi kurang menarik. Semua ini berkontribusi pada rendahnya feasibilitas MLS (maupun NFL yang punya sistem sejenis) untuk mengembangkan sayap pengaruhnya ke luar AS.

Jadi apakah Super Bowl punya kans untuk menjadi perhatian global tahun-tahun ke depan? Sepertinya tidak. Terlebih setelah  final UCL berpindah ke Sabtu malam waktu Eropa (sebelum tahun 2010 masih digelar Rabu malam) untuk mengakomodasi audiens yang lebih besar. Our Super Saturday is bigger than your Super Sunday. :)

Does size matter?

Ini bukan postingan tentang Mak Erot. Bukan. Ini adalah review tentang salah satu chapter di buku Soccernomics: Why England Loses, Why Germany and Brazil Win, and Why the US, Japan, Australia, Turkey – and Even Iraq – Are Destined to Become the Kings of the World’s Most Popular Sport karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Buku yang tentu saja hanya akan disebut tanpa sub judulnya yang subhanallah panjangnya itu terlalu sulit untuk direview sebagai suatu kesatuan utuh. Ini dikarenakan tiap-tiap bab di dalamnya bisa berdiri sendiri dan terlalu menarik untuk dilewatkan dalam suatu ulasan singkat. Seperti halnya pada bab ketujuh dari buku ini dengan judul “The Suburban Newsagent: City Sizes and Soccer Prizes”.

Pernah gak kepikiran untuk merhatiin daftar juara liga domestik negara-negara besar sepakbola Eropa, atau daftar juara UEFA Champions League sepanjang masa? Coba cek klub-klub mana aja yang jadi penguasa sejarah. Di Inggris itu adalah Manchester United dan Liverpool, di Italia Juventus dan dua klub Milano bersaudara, di Jerman tentunya klub Bavaria dari kota Muenchen, dan di Perancis dipastikan bukan klub asal kota Paris. Kesamaan dari klub-klub tersebut? Semuanya adalah bukan klub yang berasal dari ibukota negara. Kedigdayaan klub-klub non-ibukota ini berlanjut hingga tataran Eropa. AC Milan, dan bukan AS Roma atau Lazio, adalah pengoleksi trofi Liga Champions terbanyak untuk Italia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Liverpool untuk Inggris dan bukan oleh klub-klub London. Di Jerman lagi-lagi klub Bavaria dari kota Muenchen yang jadi jawaranya, bukan klub asal Berlin atau Bonn (ketika belum reunifikasi). Bahkan di Belanda juga sebenarnya Ajax bisa saja dihitung bukan sebagai klub ibukota, yang semestinya dinisbatkan kepada ADO Den Haag. Atau tiga serangkai asal Istanbul: Galatasaray, Fenerbahce dan Besiktas, bukannya klub-klub Ankara, yang merajai kompetisi domestik Turki (meski dulunya Istanbul a.k.a Konstantinopel pernah juga jadi ibukota Ottoman). Tentu saja ada pengecualian bernama Real Madrid yang menjadi raja Spanyol di La Liga maupun tingkat tertinggi Eropa, tapi Kuper dan Szymanski punya penjelasan tentang hal ini.

Kuper dan Szymanski lebih menitikberatkan analisisnya terhadap fenomena yang terjadi di kancah kompetisi antar klub Eropa, meskipun menurut saya sebenarnya bisa juga untuk menjelaskan kenapa klub-klub luar ibukota ini mampu mendominasi ajang domestik. Mungkin biar lebih memperjelas konteksnya bisa liat daftar pemenang Liga Champions Eropa sejak pertama kali bergulir di sini. Dari situ bisa diliat bahwa tujuh area metropolitan terbesar di Eropa: Istanbul, Paris, Moskow, London (note: buku ini dibuat sebelum Chelsea menjuarai UCL tahun 2012), St. Petersburg, Berlin, dan Athena belum sekalipun menempatkan klubnya sebagai kampiun benua biru. Sebaliknya, kota-kota gurem macam Birmingham (Aston Villa, 1982), Glasgow (Celtic, 1967), Dortmund (Borussia Dortmund, 1997), Rotterdam (Feyenoord, 1970), atau Nottingham (Nottingham Forest, 1979-1980) pernah mendapat penghargaan tertinggi sepakbola antar klub Eropa ini.

Karena ilmu ekonomi pada dasarnya bisa dibilang sebagai ilmu yang mencari korelasi antar dua fenomena, Kuper dan Szymanski mencoba mencari hubungan antara ukuran sebuah kota di Eropa dengan kesuksesan dalam hal prestasi sepakbola. Untuk tujuan tersebut, kedua penulis membagi sejarah kompetisi kata tertinggi antarklub Eropa menjadi tiga periode. Periode pertama terbentang sejak pertama kali Piala/Liga Champions bergulir di tahun 1956 hingga akhir dekade 1960-an. Pada tujuh perhelatan awal, klub juara Eropa selalu berasal dari ibukota negara yang dikuasai rezim fasis-otoriter: Real Madrid (Madrid – Jenderal Franco, 1956-1960) dan Benfica (Lisbon – Antonio Salazar, 1961-1962). Ini tentunya tidak mengherankan jika melongok lebih jauh ke sejarah pada Piala Dunia 1934 dan 1938 yang dimenangi oleh Italia yang kala itu berada di bawah kekuasaan Benito Mussolini. Rezim fasis selalu bersifat sentralistik, berorientasi pada pemusatan kekuasaan di pusat pemerintahan. Dalam konteks sepakbola ini terwakili dalam terpusatnya pemain-pemain terbaik negara fasis tersebut di klub ibukotanya yang tentunya tak lepas dari intervensi rezim yang berkuasa kala itu. Hal inilah yang mempermudah dominasi klub-klub ibukota di kompetisi internasional dan, yang jauh lebih vulgar, di kompetisi domestik. Setelah Benfica dua kali menjadi jawara Eropa di awal 1960-an, klub ini mampu menjadi runner up di tiga perhelatan selanjutnya (meskipun tidak berturut-turut), sedangkan Madrid menjuarai sekali (1966) dan runner up dua kali.

Kemunduran rezim fasis di Spanyol dan Portugal pada awal dekade 1970-an juga tercermin pada peralihan dominasi juara antarklub Eropa dari klub-klub ibukota, dimulai dari kemenangan Feyenoord dari Rotterdam di tahun 1970. Ajax dari Amsterdam memang menjuarai tiga perhelatan kompetisi ini berturut-turut di awal 1970-an, tapi perlu diingat bahwa sebenarnya ‘ibukota sejati’ Belanda, tempat monarki dan parlemen bertahta, terletak di Den Haag, bukan Amsterdam. Setelah Ajax, muncullah Bayern Muenchen yang juga menjuarai tiga kali beruntun, lalu Liverpool (2x berturut-turut), dan Nottingham Forest (2x berturut-turut juga). Klub dari ibukota negara baru muncul menjadi juara lagi pada tahun 1986 (Steaua Bucuresti – Romania) dan Red Star Belgrade dari Yugoslavia di tahun 1991. Tentu semua mafhum bahwa dua negara tersebut ketika Steaua dan Red Star menjadi juara masih dikuasai rezim komunis yang sebelas-dua belas otoriter dan sentralistiknya kayak rezim fasis Spanyol dan Portugal era Franco dan Salazar.

Kuper dan Szymanski melihat bahwa periode kedua sejarah juara Piala/Liga Champions Eropa ini dimulai tepat ketika Feyenoord menjuarainya pada tahun 1970. Kali ini giliran klub-klub dari kota-kota industri yang merajai, menyingkirkan dominasi klub-klub ibukota. Selama periode ini, finalis Piala Champions lebih banyak diisi oleh klub-klub kota industri seperti Liverpool, Amsterdam, Muenchen, dan Rotterdam yang semuanya berakhir sebagai juara, dan klub-klub dari kota (tergolong) kecil macam St. Etienne (Perancis), Moenchengladbach (Jerman), Malmo (Swedia), Leeds (Inggris), dan bahkan Brugges (Belgia) yang harus puas menjadi runner-up. Peiode kedua ini mencapai akhirnya pada awal dekade 1980-an ketika liga-liga Eropa telah mengenal kontrak TV dan dimulainya era komersialisasi sepakbola, ditandai dengan terpecahkannya rekor transfer pesepakbola oleh Trevor Francis dari Birmingham City ke Nottingham Forest sebesar 1 juta poundsterling.

Mengapa klub-klub dari kota industri dapat melebihi prestasi klub-klub ibukota pada masa itu (bahkan hingga sekarang)? Penjelasan akan hal ini dapat ditarik jauh hingga ke awal Revolusi Industri. Di awal revolusi industri di Eropa, pusat-pusat aktivitas ekonomi tidak terjadi di ibukota, melainkan di kota-kota industri baru yang mayoritas dihuni oleh para imigran. Tersebutlah kota pelabuhan + industri macam Liverpool dan Manchester di Inggris yang dipenuhi imigran asal Irlandia, kota pusat industri otomotif Italia di Turin yang menjadi tujuan utama imigran asal Sisilia dan Napoli ataupun kota pusat bisnis di Milano, dan kota pusat ekonomi Jerman di Muenchen. Imigran-imigran ini meninggalkan identitas asal mereka dan mencoba meleburkan diri ke identitas baru dimana tempat mereka berdiam kini. They need something to root for and something to belong to. Sesuatu yang dapat memberi identitas pada mereka, menjadi kebanggaan kota tempat tinggal mereka, dan lepas dari bayang-bayang kebesaran nama ibukota. Pada kondisi inilah sepakbola menjadi tempat pelarian paling mumpuni. Suporter yang fanatik dan loyal, pemain lokal yang rela berdarah-darah untuk klub kebanggaan kotanya, dan dukungan finansial tanpa batas (dan nyaris tanpa syarat) dari pengusaha setempat menjadi aset fantastis bagi klub-klub kota industri ini, jauh melebihi apa yang dimiliki klub-klub ibukota dimana sepakbola bukanlah kebanggaan dan hal paling utama di mata warga mereka.

Dominasi klub-klub kota industri Eropa masih bertahan di era sepakbola komersial yang dimulai sejak pertengahan dekade 1980-an hingga sekarang. Namun bedanya dengan periode sebelumnya, kali ini mulai terlihat pola dominasi oleh klub-klub tertentu yang sebelumnya juga sudah pernah menjuarai Piala/Liga Champions. Pada periode ketiga ini, juara akan lebih cenderung jatuh kepada klub-klub asal kota industri yang relatif lebih besar dan lebih kaya, menyisakan sedikit kesempatan pada klub-klub semenjana dari kota yang lebih kecil. Meski diselingi dengan kemenangan FC Porto (1987), PSV Eindhoven (1988), Olympique Marseille (1993), dan Borussia Dortmund (1997) yang tergolong medium size industrial cities, namun klub-klub asal kota industri/pusat ekonomi besar Eropa tetap lebih unggul dalam hal prestasi. AC Milan, Real Madrid, Bayern Muenchen, Juventus, Manchester United, dan FC Barcelona bergantian mengisi pentas final Liga Champions dekade 1990-an dan 2000-an. Madrid kembali menjadi anomali karena menjadi satu-satunya klub asal ibukota yang berjaya di periode ini, namun hal ini bisa dijelaskan sebagai legacy kebesaran Real yang telah ada sejak era Jenderal Franco.

Lalu apakah tidak ada peluang bagi klub-klub ibukota/kota metropolitan Eropa untuk menyamai, atau bahkan mengungguli, prestasi klub-klub non-ibukota? Kuper dan Szymanski mengutip Hukum Zipf tentang aturan pertumbuhan proporsional untuk memprediksi bahwa kota-kota seperti London, Moskow, Paris, dan Istanbul cepat atau lambat akan memiliki klub yang menjuarai Liga Champions. Kali ini sumber kekuatannya bukan dari bekingan rezim fasis seperti era Franco dan Salazar, namun lebih ke mekanisme pasar bebas. Dalam era globalisasi sepakbola ini, pemilik modal akan menyasar klub yang memiliki brand awareness tinggi serta sumber daya yang memadai, dan itu dimiliki oleh klub-klub asal ibukota. Melihat fenomena ekspansi bisnis Roman Abramovich di Chelsea dan Sheikh Maktoum di Paris Saint-Germain, keyakinan akan munculnya dominasi klub-klub ibukota di kancah Eropa mulai menunjukkan buktinya. Nubuat Kuper dan Szymanski semakin mendekati kenyataan setelah Arsenal dan Chelsea menjadi finalis di tahun 2006 dan 2008, dan akhirnya mewujud dalam kemenangan Chelsea di tahun 2012. So does (city) size matter for European football’s silverware? Currently yes, in term of money and investment involved.

*now Mak Erot should give me incentive for this free endorsement*

Pada Mulanya adalah Selebrasi

Pada mulanya adalah ini:

Original

Dibilang selebrasi bukan, dibilang gak merayakan juga bukan. Yang pasti, pose ini jadi santapan empuk para pembuat internet meme. Hingga muncullah ini:

Balo2

lalu ini:

Balo1

dan ini:

Balo3

terus ini:

Balo6

juga ini:

Balo7

dan lagi, lagi, lagi dan lagi…

Balo11
Balo13
Balo22
Balo9

Balo5

Balo23
Balo17

Balo4
Balo8
Balo14
Balo20

Balo16

Balo15
Balo24

Lesson learned: watch your words. It may turns against you one day. :)

Balo12

Ceko, Cek, Ceska atau Cheska?

Rasanya tidak ada satu negara pun* di dunia ini yang bisa membuat orang Indonesia bersilang pendapat tentang cara penyebutannya selain Czech Republic atau Republik Ceko, atau Republik Cek, atau Republik Ceska, atau ahh.. terserah dah.. Fenomena ini bisa dilihat secara gamblang setiap kali ada turnamen besar yang melibatkan negaranya Pavel Nedved tersebut. Yang paling anyar waktu Rusia meluluhlantakkan *tsahh.. sadis bahasanya* negara yang dulunya duet bareng Slovakia ini dengan skor 4-1 di partai awal Grup A Euro 2012 Polandia-Ukraina. Selalu saja tiap-tiap media massa menggunakan istilah yang berbeda untuk menyebut satu negara yang sama ini. Media dari Grup Tempo setia menggunakan “Republik Cek”, Kompas dan Detik kukuh dengan “(Republik) Ceko”, sedangkan Republika dari dulu sampai sekarang selalu memakai “Ceska”.

Saya gak tau apa susahnya ada suatu konsensus di antara media-media nasional untuk menggunakan satu nama saja untuk negara yang satu ini. Bukankah ada KBBI sebagai referensi? Ternyata, setelah melongok ke Daftar Nama Negara menurut KBBI IV, penyebutan yang tepat adalah…. *jeng-jeng-jeng* Republik Cheska. Iyak benar, pake “h”, seperti bisa dilihat pada tautan sebelumnya di nomor 157. Jadi, total ada 4 versi penyebutan nama untuk negara republik ini: Cek, Ceko, Ceska, dan Cheska. Hiduplah Bahasa Indonesia… :)

Dari dulu saya sebenernya lebih sreg dengan nama “Ceko”. Nama resmi negara itu sendiri ??eská Republika sih, tapi bukan berarti padanan dalam Bahasa Indonesia harus ngikutin nama yang sama bukan? Lha wong negara dengan nama seanggun Côte d’Ivoire aja bisa di-Indonesiakan menjadi Pantai Gading (yang populasinya berbeda pigmentasi kulit 180 derajat dari sesama Gading di utara ibukota). Penggunaan Ceska menurut saya sih cukup masuk di akal dan masih tolerable. Tapi ‘Cheska’, yang ironisnya dianut oleh KBBI IV, sungguh teramat aneh. Cheska? Pake ‘h’?? Itu diambil dari mana ya?! J.S. Badudu mana J.S. Badudu?

Tapi nama Ceko yang buat saya paling bener itu sendiri kalo dipikir-pikir juga salah. Dulu memang nama negaranya “Czechoslovakia” yang dialihbahasakan menjadi “Cekoslovakia”, dimana kurang lebih artinya “Cek dan Slovakia” (atau “Slowakia”, tapi saya gak mau buka front perdebatan baru :p). Huruf “o” disini lebih sebagai kata penghubung, sama kayak di Sao Tome e Principe, Serbija i Crna Gora (Serbia & Montenegro), atau Trinidad and Tobago. Jadi seharusnya, ketika dua negara itu telah berpisah secara baik-baik (dengan bantuan Pengadilan Agama dan pembagian harta gono-gini yang adil) dan telah menjadi dua entitas berdaulat yang mandiri, yang satu akan menggunakan nama “Cek” dan satu lagi menggunakan nama “Slovakia”. Namun, entah mengapa, buat saya kedengarannya masih janggal. Setiap ada yang ngomong “Republik Cek”, saya masih mengharapkan adanya tambahan “..ko” di ujung ucapan. Suatu kebiasaan yang sulit hilang.

Gak tau juga apa orang Cekonya sendiri ambil pusing dengan penamaan negaranya ini. Tapi setau saya, beberapa korps diplomatik negara-negara asing di Jakarta sangat strict untuk penyebutan negaranya. Misal, jangan pernah nulis “South Korea” alih-alih “Republic of Korea/Korea Republic” untuk menyebut Korea Selatan, atau “North Korea” alih-alih DPR Korea untuk tetangga sebelah utaranya. Belum lagi negara-negara kayak Belarus (bukan “Belarusia”), Viet Nam (bukan “Vietnam”), Lao PDR (bukan “Laos”), atau yang juga cukup sensitif: Republic of China a.k.a. Taiwan. Selama Indonesia masih menganut One China Policy, biarkanlah negeri Pulau Formosa itu tetap bernama Taiwan. 

Mungkin ada yang mikir “Alaah, nama negara lain aja lo pikirin amat!” Hmmm.. ini lebih ke pemuasan rasa penasaran pribadi aja sih. Sukur-sukur kalo ada yang tergerak untuk mengambil langkah progresif untuk menyatukan perbedaan nomenklatur ini (halah! who do you think you is?). Karena tidak selamanya perbedaan itu adalah anugerah, dan tidak selamanya penyeragaman adalah musibah. *hey, it rhymes! :D*

 

*) Tentu saja tidak akan terlupa dengan kontroversi “Cina”, “China” atau “Tiongkok” untuk menyebut People’s Republic of China (nama yang terakhir ini kayaknya eksklusif digunakan di tempat saya berkerja). Tapi bedanya dengan Ceko (atau Cek, atau Ceska, atau.. sudahlah, biar Tuhan Yang Maha Tahu yang menentukan), perbedaan penyebutan ini lebih dipengaruhi rasa ‘gak enakan’ karena dianggap mengandung unsur merendahkan sebagian kelompok masyarakat. Jadi ini saya anggap gak masuk itungan.

Jersey of Honour

Jersey_of_honor

Really cool picture.

But hey, where is Herbert Kilpin's name?
No Juan Schiaffino nor Jose Altafini?
And Manuel? You mean Manuel Rui Costa???
Well, some might disagree, but i think Rui is not yet qualified to be on the same list with those names.
Anyway, the evolution of Milan's jersey is best described in this website:??http://www.oldfootballshirts.com/en/teams/a/ac-milan/old-ac-milan-football-shirts-t353.html
My personal favorite is the special Centenario edition in season 1999/2000.
Season 2008/2009's home jersey come second.
And of course, the classic Adidas shirt with Mediolanum as sponsor from the Dream Team era.
Red and black are definitely the most beautiful colors in the football field.

Haters gonna hate.

Campioni Senza Intercettazioni!

Campioni_sansiro

Ini adalah suasana San Siro pada tanggal 16 Mei 2004, waktu Milan menghadapi Brescia yang berkesudahan 4-2 dan menjadi partai kandang terakhir Milan musim 2003/2004. Musim ketika terakhir kali Milan memenangkan gelar Campioni d’Italia (untuk ke-17 kalinya) dan berhak menyandang emblem Scudetto di kostum musim berikutnya. Dua pekan sebelumnya, Milan sukses menekuk Roma 1-0 melalui gol cepat Andriy Shevchenko di awal pertandingan sekaligus memastikan scudetto untuk Milan. Itu adalah tujuh tahun yang lalu. Waktu itu Serie A masih disiarin di SCTV, full (dan gratis) dari awal musim untuk semua match day dan match time, tanpa pernah terpikir itulah musim terakhir Serie A disiarkan secara ‘normal’ oleh stasiun TV terestrial nasional. Tujuh tahun lalu, Paolo Maldini dan Billy Costacurta masih bermain, Leonardo masih menjadi salah satu tokoh dalam manajemen klub, dan protagonista utama Milan adalah dua pemain ini:

Wallpaper_sheva_kaka

How i miss those days when they played together for us..

 

Tujuh tahun kemudian, banyak hal telah berubah. Tradisi siaran langsung Serie A secara gratis di TV swasta Indonesia yang telah berjalan sejak awal 1990-an telah lama hilang. Loyalis Serie A terpaksa mengandalkan streaming internet, atau paling apes LiveScore.com untuk mengikuti jalannya kompetisi. Calciopoli mengubah semuanya. Serie A tidak lagi dipandang kompetitif karena terlalu didominasi satu klub tertentu, dianggap lamban, penuh dengan pemain old crack, dan tidak menjual. Milan mengalami kondisi ziru tituli sejak tahun 2007, dan terpaksa melihat pemandangan gak enak ketika setiap musim tetangga sebelah selalu merayakan gelar demi gelar yang seakan tidak berhenti datang sejak terungkapnya (atau mungkin lebih tepat ‘diungkapkannya’) Calciopoli. Kebetulan? Patut diakui klub-klub lain, termasuk Milan, memang tidak cukup kompetitif untuk bersaing dalam rentang waktu tersebut. Kekuatannya dipreteli habis-habisan sampai sulit untuk bangkit kembali. Kalau pendukung klub tetangga tentu menyebutnya sebagai ‘karma’, tapi dominasi mereka apakah layak disebut sebagai ‘kebetulan’? Atau ‘kebetulan yang direncanakan’?? Ah sudahlah, saya tidak mau mencampuri urusan ‘klub terjujur’ sedunia akhirat..

 

7 Mei 2011, Stadion Olimpico Roma. Penantian tujuh tahun untuk menjadi penguasa Italia berakhir sudah. Ini sekaligus memutuskan dominasi lima musim berturut-turut yang ditorehkan tetangga sebelah (jika Scudetto pemberian FIGC musim 2005/2006 juga diitung). Dua kali menang di derby dalam satu musim sudah cukup jadi pertanda kalau sesuatu yang indah telah menunggu di akhir musim. 

218de9e2275b722ef2990395026eb99b-getty-fbl-ita-as_roma-ac_milanD7b57c72aa4b2aa2e7c9d4b691e16275-getty-fbl-ita-as_roma-ac_milanJ5g0610xDeb10

 

Dan saat selebrasi itu pun tiba. 14 Mei 2011, Milan vs Cagliari. Partai kandang terakhir musim ini. Baik pertandingan maupun selebrasinya berlangung spektakuler. Meskipun, jujur, level permainan skuad musim ini masih satu tingkat di bawah skuad 2004, tapi tidak mengurangi rasa apresiasi saya kepada mereka, terutama antusiasme dan kengototan bermain yang sudah cukup lama menghilang dari permainan klub ini. Grazie ragazzi, grazi campione. Forza, lotta, vincerai, non ti lasceremo mai!

 

230555_10150199566961937_147054831936_7251158_1503236_nPhoca_thumb_l_milan_cagliari_16

18th! Champions without intervention indeed.


227935_10150199477141937_147054831936_7250502_6734132_n

…and we win it all on the field!!


Cqws4dcf3983038e4

Sorry neighbour, this time is our turn to rule the peninsula.

 

872b4dcf36460f492

Una grande squadra, sempre in festa ole’..


Tactic

The squad of our 3 last scudetti. Memories.


234828135-db05950b-b59e-4bd7-881d-46c67db6c9ee

..dan Piazza del Duomo pun berpesta..

 

225825_10150199647851937_147054831936_7251671_5250224_n225730_10150199647786937_147054831936_7251669_8004077_n

I presented you the champions of Italy

 

Vx2f4dcf35267a771

Forza ragazzi!


18

And as an icing in the cake, this is the epic post-match celebration. Ngedengerin Inno Milan dimainin sambil ngeliat footage video kompilasi perjuangan tim di musim ini, ditambah suasana San Siro malam itu.. bikin merinding + perasaan berkecamuk *halah*. Di akhir video, KPB memenuhi kaulnya untuk moonwalking di depan 80.000 penonton. Cekidot.