Mengenang Euro 2000

Jika dilihat dari perspektif waktu, 2016 adalah tahun yang cukup ‘mengerikan’. Terhitung sejak tahun ini, jarak ke tahun 2030 lebih dekat daripada jarak ke tahun 2000. Padahal tahun 2000, yang sering di-salah kaprah-i sebagai awal milenium baru, terasa masih sangat dekat. Tidak terasa 16 tahun telah berlalu sejak dunia dilanda kecemasan akan bug Y2K (yang akhirnya tak pernah terjadi), Ian Thorpe merajai gelanggang renang di Olimpiade Sydney 2000, dan Didier Deschamps mengangkat trofi Henry Delaunay di Stadion De Kuip, Rotterdam.

Bicara tentang tahun 2000 bagi saya tidak akan terpisahkan dari kenangan perihal Euro 2000 Belanda-Belgia. Turnamen sepakbola antar negara-negara Eropa tersebut merupakan turnamen kedua yang saya ikuti setelah Coupe du Monde France 98. Bedanya, France 98 diikuti lebih karena euforia meskipun waktu itu belum bener-bener paham bola (bahkan belum ngerti kriteria offside itu kek gimana), sedangkan Euro 2000 diikuti dalam kondisi sudah dibaptis sebagai fans layar kaca sepakbola. Sudah paham bedanya kompetisi sama turnamen, kompleksitas liga domestik dan tingkat kontinental, pemetaan posisi dalam skema permainan, dan, tentu saja, bagaimana perangkap offside bekerja. :D

Euro 2000 juga akan selamanya berada dalam top list turnamen sepakbola internasional terbaik yang pernah saya ikuti bersama dengan Piala Dunia 2006 dan Piala Dunia 1998. Salah satu alasan utamanya: Zinedine Zidane in his prime. Zizou adalah Maradona/Pele/CR7/Messi-nya generasi 90-an. Bener-bener ga ada lawan di posisi alaminya dan merupakan kemewahan tersendiri bisa menjadi saksi hidup (meskipun hanya sebagai fans layar kaca) bagaimana sang legenda ini setiap pekannya memamerkan skill di kancah Serie A bersama Juventus. Ketika Piala Dunia 98, peran Zizou, meskipun mencetak 2 gol di final, tidaklah sevital perannya di Euro 2000. Euro 2000 adalah turnamen terbaik Zidane sepanjang masa sebagaimana dunia mengenang gol volley-nya untuk Madrid di Hampden Park 2002 sebagai gol terbaik final UCL.

2 Milanese vs 1 His Majesty

2 Milanese vs 1 His Majesty

Euro 2000 dihelat di dua negara bertetangga: Belanda dan Belgia, pada tanggal 10 Juni hingga 2 Juli 2000. Ini pertama kalinya sebuah turnamen sepakbola internasional digelar di dua negara dan seolah menjadi proyek percontohan bagaimana seharusnya pergelaran Piala Dunia yang juga akan digelar di dua negara: Korea dan Jepang, berlangsung dua tahun setelahnya. Sebulan sebelum pembukaan Euro 2000 berlangsung, versi U-21 Euro 2000 telah lebih dulu diselesaikan di Slovakia dan menghasilkan Italia sebagai juaranya dengan Andrea Pirlo sebagai Player of the Tournament. Namun, tim senior Italia justru bukan unggulan utama di Euro 2000. Terlebih hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai, kiper utama mereka Gianluigi Buffon mengalami cedera tangan pada laga uji coba dan terpaksa absen dari turnamen. Bursa prediksi tim juara Euro 2000 waktu itu dipuncaki oleh Belanda. Selain sebagai tuan rumah, timnas Oranye yang ketika itu dilatih oleh Frank Rijkaard juga tengah berada di masa emasnya setelah mampu menembus semifinal France 98. Unggulan berikutnya tentu saja Perancis, sang juara dunia. Berikutnya adalah Spanyol, yang didominasi pemain-pemain Real Madrid dan Valencia sebagai 2 finalis Liga Champions 2000, dan Portugal yang generasi emasnya tengah memasuki usia emas. Negara-negara tradisional seperti Jerman, Inggris, dan Italia tidak terlalu dianggap sebagai unggulan dalam turnamen ini mengingat performa buruk mereka di turnamen besar terdahulu dua tahun sebelumnya: Piala Dunia Perancis 98. Pun demikian dengan Belgia sebagai negara tuan rumah lainnya yang dianggap tidak memiliki kekuatan mumpuni untuk bersaing. Untuk urusan logo, Euro 2000 tampil sedehana dengan cuma menampilkan siluet orang yang sedang menggiring bola dengan bendera Belanda dan Belgia sebagai ornamennya. Halaman karikatur Tabloid Bola pernah memparodikan logo ini menjadi Rama Aiphama yang sedang menggiring bola (dan sialnya, yang keinget sampe sekarang selalu itu :D)

Emang mirip sih… :p

Turnamen diikuti oleh 16 tim dengan Slovenia dan Norwegia menjadi debutan. Hal yang cukup mengejutkan adalah ketiadaan Kroasia, sang semifinalis Piala Dunia dua tahun sebelumnya, di daftar kontestan. Juga tidak ada negara-negara pecahan Uni Soviet. 16 tim tersebut dibagi menjadi 4 grup di mana juara dan runner-up grup mendapat tiket ke perempat final, format yang menurut saya sudah sangat ideal namun sayangnya diubah UEFA untuk Euro 2016 dan seterusnya dengan alasan pemerataan kesempatan berpartisipasi bagi negara-negara ‘kecil’. Pembukaan Euro 2000 dilakukan di Roi Baudoin Stadium di Brussels yang lebih dikenal dengan nama lainnya: Heysel. Di stadion bersejarah (dan berdarah) itu Belgia berhasil menundukkan Swedia 2-1, meskipun di akhir kualifikasi grup Belgia tidak mampu lolos ke perempat final. Di grup B tempat Belgia bercokol yang terus melaju ke perempat final adalah Italia dan Turki. Grup C diwakili oleh Spanyol dan Yugoslavia, dan Grup D diwakili oleh Belanda dan Perancis. Kejutan terbesar terjadi di Grup A, tempat 2 (mantan) juara dunia: Jerman dan Inggris bercokol. Kedua negara kekuatan tradisional sepakbola itu harus angkat koper lebih awal karena kalah bersaing dengan Portugal dan Romania. Dari keduanya, nasib paling mengenaskan dialami oleh juara bertahan Jerman yang harus menyudahi turnamen tanpa sekalipun mencicipi kemenangan + harus menelan kekalahan dari musuh bebuyutannya: The Three Lions Inggris. Gol semata wayang Alan Shearer membuat Inggris mampu membalaskan dendam di semifinal Piala Eropa di Wembley empat tahun sebelumnya (meskipun tidak berarti apa-apa bagi nasib Inggris dalam turnamen). Keterpurukan Jerman sendiri sudah diprediksi sebelumnya mengingat skuad yang uzur (note: Lotthar Matthaeus yang sudah berumur 39 tahun masih diikutkan dalam skuad. Darah muda skuad Jerman hanya Michael Ballack dan Sebastian Deisler dan mereka pun jarang jadi starting eleven), pelatih yang kurang meyakinkan (Erich Ribbeck), dan kemampuan pemain yang semenjana (tengok saja andalan di lini depan: Oliver Bierhoff dan Carsten Jancker).

Salah satu partai klasik yang terjadi di Charleroi (Belgia)

Kualifikasi grup menghasilkan tiga tim dengan nilai sempurna 9 dari 3 kali kemenangan, masing-masing Portugal, Italia, dan Belanda. Perempatfinal pun menyajikan satu partai menarik ketika Perancis bertemu dengan Spanyol. Kembali, Zizou menunjukkan tajinya dengan mencetak satu gol dan mengantar Perancis lolos ke semifinal untuk bertemu Portugal. Di perempat final lainnya, tuan rumah Belanda mencukur Yugoslavia 6-1 (diwarnai dengan hattrick Patrick Kluivert) dan makin mengukuhkan posisinya sebagai unggulan utama dalam turnamen. Portugal dan Italia menang meyakinkan dengan skor 2-0, masing-masing terhadap Turki dan Romania. Semifinal pun telah dipastikan. Perancis akan bertemu Portugal, sedangkan tuan rumah Belanda bertemu Italia.

Belanda berada dalam posisi yang sangat diunggulkan ketika bertemu Italia, apalagi sehabis mereka menunjukkan kedigdayaannya ketika menghabisi Yugoslavia 6-1. Berlaga di kandang sendiri, Amsterdam Arena, didukung puluhan ribu suporter Oranje, dan memiliki skuad terbaik dengan kekuatan merata di semua lini rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat Belanda melaju ke laga puncak menyingkirkan Italia. Hal itu makin mendekati kenyataan ketika di babak pertama Gli Azzurri sudah harus bermain dengan 10 orang akibat espulso yang diterima Gianluca Zambrotta dan hadiah penalti yang sayangnya berhasil ditepis Francesco Toldo. Pengaruh sang allenatore Dino Zoff sebagai benteng terakhir sistem catenaccio Italia yang berhasil memenangkan Piala Dunia 1982 terlihat ketika 10 pemain Azzurri bisa membendung Belanda tanpa gol hingga akhir waktu normal dan memaksa adanya adu penalti. Di babak penentuan ini, Toldo (yang menjadi kiper utama hanya karena absennya Buffon) kembali menunjukkan kemampuannya dengan menepis penalti Paul Bosvelt dan mengantarkan Italia ke final. Meskipun demikian, yang paling diingat dari ajang adu penalti Italia-Belanda di Euro 2000 itu bukanlah aksi penyelamatan Toldo, namun panenka dari Francesco Totti yang mampu menipu Edwin Van der Sar. Penalti Totti ini kelak akan menjadi highlight utama karirnya sebagai algojo tendangan penalti selain penalti penentuan lawan Australia di perdelapan final Germany 2006.

A cheeky penalty kick

Pada laga semifinal lainnya, Perancis, sang juara dunia, bertemu Portugal yang diperkuat para alumni Piala Dunia U-20 tahun 1991 macam Fernando Couto, Luis Figo, Rui Costa, dan Sergio Conceicao. Sebelum kemunculan CR7, tim ini dianggap sebagai tim terkuat yang pernah dimiliki Portugal sejak 1966. Dibandingkan partai semifinal lainnya antara Italia dan Belanda yang tidak seimbang dan monoton, laga ini jelas lebih seru dan menegangkan. Setelah di waktu normal berakhir imbang 1-1 akibat gol Nuno Gomes dan Thierry Henry, laga berlanjut ke perpanjangan waktu yang ketika itu masih berformat golden goal (gol yang tercipta selama masa 2×15 menit itu akan otomatis menghentikan pertandingan). Ketika laga mendekati akhir, terjadilah insiden hands ball yang dilakukan oleh Abel Xavier yang menepis dengan sengaja bola tendangan Sylvain Wiltord yang 90% masuk ke gawang Vitor Baia. Insiden ini sangat mirip dengan kejadian di Piala Dunia 2010 ketika Luis Suarez dengan sengaja menghalangi dengan tangan bola hasil sepakan pemain Ghana yang 99,99% menjadi gol. Kelakuan Xavier tersebut berbuah hadiah penalti bagi Perancis dan berhasil dikonversi Zidane untuk mengantar Perancis ke final Piala Eropa pertama sejak 1984.

Final Euro 2000 merupakan ulangan perdelapan final France 98 dua tahun sebelumnya. Dua tim biru: Perancis dan Italia bertemu di Stadion Feijenoord (De Kuip) Rotterdam pada 2 Juli 2000. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini Perancis yang berhak memakai seragam Les Bleus kebesarannya dan Italia terpaksa menggunakan jersey away putih. Perancis dan Italia sama-sama mencoba meraih gelar juara Eropa mereka yang kedua. Bagi Perancis, keberhasilan di Rotterdam akan mengulangi sukses tahun 1984 yang ditorehkan Michel Platini dkk. Sedangkan untuk Italia, gelar juara akan menjadi pemuas dahaga yang hakiki karena terakhir kali mereka juara adalah pada tahun 1968 bersama legenda-legenda macam Facchetti, Mazzola, dan Rivera. Di tim Perancis, formasi pemain di laga final tidak berubah banyak dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Gawang tetap dijaga oleh Fabien Barthez. Lini belakang tetap dijaga oleh kuartet Blanc-Desailly-Lizarazu-Thuram (dan Blanc tetap setia mencium kepala Barthez sebelum pertandingan dimulai :D). Deschamps-Vieira-Djorkaeff-Zidane mengisi lini tengah, dan Henry-Dugarry menjadi ujung tombak. Skuad Perancis di Euro 2000 ini terbilang lebih ‘mewah’ daripada waktu France 98. Setidaknya terlihat di kualitas pemain utama dan pemain cadangan yang tidak berbeda jauh. Lebih-lebih di sektor gelandang dan pemain depan. Cadangannya Henry-Dugarry adalah Wiltord-Anelka-Trezeguet. Sedangkan di lini tengah juga masih ada Robert Pires, Christian Karembeu, dan Emmanuel Petit. Untuk Italia, trio bek terbaik dunia (menurut saya): Maldini-Nesta-Cannavaro menjaga lini belakang bersama Francesco Toldo dan Mark Iuliano. Demetrio Albertini menjadi jangkar, diapit oleh Luigi Di Biagio dan Gianluca Pessotto. Lini serang dihuni oleh Stefano Fiore dan duo AS Roma: Francesco Totti & Marco Delvecchio. Masuknya Delvecchio di daftar starter cukup mengejutkan karena striker pilihan Dino Zoff di pertandingan-pertandingan sebelumnya biasanya adalah Filippo Inzaghi. Tapi yang paling sensasional adalah keberhasilan Stefano Fiore, pemain semenjana asal Udinese, yang berhasil menyingkirkan nama besar seperti Alessandro Del Piero untuk mengisi starter, thanks to performa yang konsisten sepanjang turnamen.

Starting formation di laga final

Starting formation di laga final

Impian Italia untuk merengkuh trofi juara Eropa nyaris terwujud ketika Marco Delvecchio mampu menjebol gawang Barthez di babak pertama. Semua upaya gempuran Perancis seakan menemui karang kokoh di hadapan Maldini-Nesta-Cannavaro bahkan hingga menit-menit injury time. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana para penghuni bangku cadangan Italia sudah berangkulan sambil berbaris rapi, menunggu peluit panjang ditiup untuk segera menghambur ke dalam lapangan. Namun petaka itu datang dari para pemain pengganti Perancis ketika Robert Pires memberi assist ke Sylvain Wiltord yang mampu menceploskan bola ke gawang Toldo di detik-detik terakhir pertandingan (suspense at its best). Pertandingan di waktu normal terpaksa berlanjut ke perpanjangan waktu yang benar-benar membawa mimpi buruk bagi Italia. Pemain pengganti Perancis lainnya, David Trezeguet (yang di kemudian hari menjadi pemain asing pencetak gol terbanyak untuk Juventus), berhasil menjebol gawang Italia yang otomatis menghentikan pertandingan dan menghasilkan Perancis sebagai kampiun Eropa baru. Ini adalah golden goal terakhir di final turnamen besar karena setelah Euro 2000, FIFA kembali ke jalan berpikir yang normal dengan mengembalikan kesempatan bagi tim yang tertinggal di perpanjangan waktu hingga usainya waktu 2×15 menit.

Kekalahan Italia di final Euro 2000 terasa menyakitkan karena inilah final terakhir Paolo Maldini sebagai kapten Gli Azzurri. Pada Piala Dunia 2002, harapan Maldini untuk setidaknya melaju ke final dipupuskan oleh wasit Byron Moreno dan tim Korea asuhan Guus Hiddink. Dengan demikian, pupuslah sudah impian fans Italia (terutama fans Milan) untuk melihat Maldini mengangkat trofi internasional bersama negaranya (karena bersama klub sudah terlalu mainstreamuntuk dirinya). Bagi Perancis sendiri, kemenangan di Euro 2000 menjadi akhir sebuah era. Ketergantungan yang semakin besar terhadap sosok Zinedine Zidane menjadi bumerang bagi tim nasional Perancis. Ini terlihat jelas ketika upaya Perancis mempertahankan gelar juara dunia di Korea-Jepang hancur berantakan di babak kualifikasi grup akibat cederanya sang pemain terpenting. Hal yang kemudian berlanjut di Portugal 2004. Perancis (dan juga Italia) akhirnya kembali merasakan berada di final turnamen besar di Piala Dunia Jerman 2006. Kedua tim masih diperkuat beberapa pemain yang turut berlaga di final Euro 2000. Bedanya, pada kesempatan ini Italia lah yang berhasil membalaskan dendamnya, sekaligus membuat Zizou menutup karirnya dengan kenangan teramat pahit. Tandukan Zidane kepada Materazzi berbuah kartu merah dan Perancis yang terpaksa bermain dengan 10 pemain harus keluar sebagai pecundang setelah kalah adu penalti di Berlin.

Maka benarlah adanya yang disampaikan Benyamin S. dalam lagu “Sariosa”:

Romantika kehidupan berputar-putar.

Seperti roda, roda gerobak.

Begitulah selamanya.

Hasta La Vista (Come As You Are)

Kalau saya nggak baca nukilan sinopsisnya, mungkin saya bakal salah mengira film ini sebagai film dokumenter tentang Nirvana (atau Kurt Cobain). Bukan, film Belgia yang judul aslinya “Hasta La Vista” ini ternyata sama sekali gak nyinggung tentang Nirvana atau Cobain. Ini lebih ke road trip movie, tapi bukan sekadar road trip movie biasa karena para pelaku road trip-nya juga bukan ‘orang-orang biasa’.

caya

Tersebutlah tiga sekawan asal Flemish (daerah berbahasa Belanda di Belgia) yang memiliki disabilitas: Jozef yang 90% buta, Philip yang punya penyakit sama kayak Stephen Hawking (entah apa namanya), dan Lars yang lumpuh karena tumor otak akut dan harus menggunakan kursi roda. Keterbatasan yang mereka miliki tidak menghalangi untuk menghalangi mimpi terbesar mereka: to not die as a virgin. :D Untuk tujuan ‘mulia’ itu, mereka akhirnya nekad kabur dari rumah untuk memulai perjalanan ke Spanyol di mana terdapat rumah bordil ‘khusus’ buat penyandang disabilitas. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dalam perjalanan itu dan apakah  akhirnya semua berhasil membuat ‘itu’-nya gak cuma dipake buat ngencing? I’m too lazy to write the spoiler so go see it yourself. :))

Tapi kalo mau nonton sekarang mungkin cuma bisa donlot di internet karena festival film Europe On Screen 2013, tempat dimana film ini diputar, sudah berakhir Ahad lalu. Sabtu kemarin jadi pengalaman pertama saya nonton di Goethe Haus (yang ternyata deket banget sama Stasiun Gondangdia.. terima kasih Google Maps!) dan ternyata pusat kebudayaan Jerman itu punya auditorium yang gede dan representatif banget buat nonton film. Enaknya di sini dibandingin Erasmus Huis, yang sama-sama punya tempat pertunjukan yang bagus, mungkin lebih karena gak berada di dalam komplek Kedubes, jadi akses masuknya gak ribet. Itung-itung pengobat kekecewaan karena gagal nonton film  The King: Jari Litmanen seminggu sebelumnya di tempat yang sama.

Kembali ke film HVL/CAYA, film ini cukup mengingatkan saya pada film Fanboys, terutama bagian perjalanan dan ide dasarnya tentang ngewujudin obsesi yang udah lama terpendam. Sama satu lagi kemiripan: adanya satu peserta road trip yang sebenarnya lagi mendekati ajal tapi ngotot pengen ikutan. Dan endingnya juga… ah sudahlah, ntar spoiler hehehe… Ada juga sisi ke-American Pie-annya dikit kalo diamat-amatin sih..

Beberapa lesson learned dari film ini adalah pantai-pantai di Eropa Barat yang luar biasa jeleknya (bersyukurlah kita hidup di negara tropis), eksistensi dua bahasa utama di Belgia: Flemish dan Perancis, stereotip tentang orang Belanda yang pelitnya kebangetan, kekinya orang Belgia sama orang Belanda (mungkin kayak orang Indonesia vs orang Malaysia :D), kerennya aksesibilitas dan kebijakan non-diskriminatif buat kaum difabel di Belgia, sampe pentingnya kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri. Cuma di film ini kayaknya kita bisa mentertawakan kekurangan orang difabel tanpa merasa ada beban moral (coz they asked for it :D). Overall, film yang cukup menghibur (seisi auditorium sering banget ngakak) dengan diselingi beberapa adegan mengharukan. Eye opener juga buat mulai memperhatikan hak-hak kaum difabel yang masih termarjinalkan banget di Indonesia.