Raden Mandasia

“Anjing betul!”

Setiap kali menonton Game of Thrones, saya tak pernah berhenti berpikir kalo seharusnya ada kisah asli Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan kuno yang bisa dibikin sekeren ini. Intrik-intrik dari khasanah kearifan lokal Nusantara di era Majapahit atau Singosari mestinya gak kalah menarik dibandingkan kisah-kisah dari Westeros dan Essos. Kisah tragis Perang Bubat seharusnya bisa dibikin seciamik Red Wedding misalnya. Juga peristiwa yang menyusul pemotongan telinga utusan Kubilai Khan oleh Kertanegara. Atau mungkin cerita tentang Ken Arok dan Ken Dedes yang bikin geger. Asal dikemas dengan baik, gak kayak sinetron-sinetron laga Indosiar, rasanya bisa membuat masyarakat kembali dekat dengan cerita-cerita era kerajaan kuno Nusantara seperti ketika Saur Sepuh dan Tutur Tinular berjaya.

Tapi mungkin sudah takdirnya di Indonesia kalo yang tadinya keren di medium lain, begitu diangkat ke layar lebar/kaca hasil adaptasinya menjadi gak sebanding dengan ekspektasi awal. Saur Sepuh dan Tutur Tinular pun sebenarnya melegenda lebih pada bentuk aslinya sebagai sandiwara radio. Begitu diangkat ke layar lebar, meskipun tetap populer, namun yang paling diingat adalah rajawali tunggangan Brama Kumbara yang letoy dan bentuknya gak karuan serta adegan pertarungan one-on-one yang banyak bertaburan bubuk-bubuk putih. Juga demikian dengan Wiro Sableng, misalnya, yang lebih memikat dalam bentuknya sebagai novel silat. Eksekusi selalu menjadi PR besar di sini, yang masalahnya cukup kompleks meliputi modal yang cekak, selera produser yang ala kadarnya, sampe kemampuan penulis skenario + sutradaranya sendiri yang memang semenjana. Mimpi untuk menyaksikan TV series sehandal Game of Thrones (yang sebenernya juga hasil adaptasi dari novel) hasil karya anak bangsa pun tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika dikerjakan oleh sineas-sineas di Hollywood sana (itu pun kalau mereka tertarik).

Jika ada karya seni kontemporer Indonesia yang mengambil latar era kerajaan-kerajaan kuno Nusantara yang layak untuk diadaptasi menjadi film/series oleh studio besar Hollywood, maka saya menominasikan buku Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi untuk mendapat kehormatan tersebut. Novel (sang penulis, Yusi Avianto Pareanom, lebih suka merujuknya sebagai dongeng) setebal 448 halaman ini amat sangat layak untuk dijadikan suguhan visual yang epic. Tanpa diangkat ke layar lebar/kaca pun sebenarnya pengalaman membaca Raden Mandasia terasa tak ubahnya seperti sedang menonton sebuah tontonan yang dikemas dengan apik. Menegangkan dan penuh detail.

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah menuju Gerbang Agung

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah perjalanan menuju Gerbang Agung

Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum mulai membaca buku ini adalah.. jangan terkecoh dengan judulnya! :)) Judulnya memang “Raden Mandasia”, tapi yang menjadi tokoh utama sekaligus penutur kisah dalam dongeng ini adalah (Raden) Sungu Lembu, seorang ‘pelarian’ dari Banjaran Waru yang memiliki dendam kesumat terhadap Lord Watugunung, King of the Andals and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm Gilingwesi, kerajaan paling adikuasa pada zamannya. Bisa dibilang kisah dalam buku ini mirip dengan film Kill Bill, di mana Sungu Lembu bertindak sebagai Uma Thurman yang sedang menunaikan misi untuk membalaskan dendamnya. Perjalanan berliku untuk menuntaskan dendamnya ini yang bikin menarik, salah satunya adalah karena Raden Mandasia, si teman seperjalanan Sungu Lembu, tak lain dan tak bukan adalah salah satu anak dari Watugunung. Bukan, ini bukan spoiler, karena informasi tentang hal ini akan segera dijumpai di awal kisah.

IMG_20160422_110446661

Salah satu bab terpanjang dalam Raden Mandasia

Alur cerita dalam Raden Mandasia enak banget buat diikutin. Flashback cuma sesekali, sisanya berjalan secara linear dengan sedikit twist minor di akhir cerita. Mengundang untuk terus membuka halaman demi halaman hingga tak terasa semua sudah tuntas dibaca. Saya cuma membutuhkan waktu 3 hari buat menyelesaikan buku ini. Itu pun karena lebih banyak dihabiskan untuk tersesat di belantara internet sehabis googling beberapa kosakata baru yang saya temui di sini serta beberapa hal menarik lainnya, seperti macam-macam racun organik, anatomi perahu tradisional, silsilah raja-raja Jawa, peta daerah kekuasaan Majapahit vs Mataram, sampe yang ini:

Sumpah, kalian pasti juga bakal penasaran sama hal ini :)

Sumpah, ini ada di buku. Pasti juga bakal penasaran (dan dibikin ngiler) sama  ini :) (Pic from hovenfarms.com)

Hal menyenangkan lainnya dalam Raden Mandasia adalah karena konsepnya sebagai ‘dongeng’ yang membuat sang penulis leluasa seenak hati mencampuraduk berbagai tokoh/latar/setting ke dalam cerita. Beberapa kali saya sibuk menerka-nerka padanan lokasi-lokasi yang menjadi setting di Raden Mandasia dengan ‘lokasi beneran’nya. Seperti apakah Gilingwesi itu adalah Majapahit, Gerbang Agung terletak di Baghdad, Banjaran Waru = Gresik/Surabaya, Goparashtra = Gujarat, hingga apakah Kelapa = Sunda Kelapa/Batavia (well, this one is quite obvious). Beberapa nama, seperti Negeri Atas Angin, sudah pernah digunakan di Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sehingga tidak sulit diidentifikasi. Lainnya seperti Swarnadwipa dan Barunai juga mudah dikenali karena telah umum digunakan. Akibat latar waktu yang tak jelas, hingga hampir separuh jalan membaca pun saya masih belum yakin apakah Gilingwesi itu merujuk pada Sriwijaya, Majapahit, atau Mataram (pengetahuan sejarah saya masih secetek itu). Tidak seperti kisah-kisah tentang kerajaan kuno Nusantara lainnya, di Raden Mandasia latarnya juga tidak hanya seputar wilayah kerajaan atau Nusantara, tapi juga menyeberang lautan hingga ke kerajaan-kerajaan mancanegara. Raden Mandasia dan Sungu Lembu itu traveler sejati yang melampaui zamannya. They were backpackers before it was cool. Even Sungu Lembu was a travel blogger :D Dan adakah kisah yang lebih menarik dari petualangan di negeri asing berikut interaksinya dengan warga setempat?

Seperti halnya Game of Thrones, Raden Mandasia juga bercerita tentang perang. Perang besar yang melibatkan dua kerajaan besar dengan strategi perang yang paling advanced pada masanya dan deskripsi jatuhnya korban yang bikin ngilu. Selain itu, kesamaan keduanya  juga terletak pada melimpahnya adegan-adegan yang untuk ukuran moral adiluhung yang dianut mayoritas masyarakat NKRI sekarang tentunya akan dianggap sebagai tindakan amoral nan dimurkai Allah: sex-violence-alcohol-LGBT-swear words. A lot of swear words. Sungu Lembu sangat gemar mengumpat, dan umpatannya kadang bukan jenis umpatan yang umum dijumpai sekarang (dan ternyata mengumpat itu memang enak. Anjing memang :)))

Raden Mandasia mengubah persepsi kalo cerita-cerita sejenis harus selalu menggunakan kosakata-kosakata yang tergolong mainstream di genrenya, seperti “kisanak” (sebagai sapaan), “depa” (untuk menggambarkan jarak), “bedebah” (untuk mengumpat), dan “Ciattt!!” (oke, ini hanya cocok digunakan oleh Mantili atau Arya Kamandanu). Jika ada satu hal yang mengganggu dalam membaca buku ini adalah ketika penulis menyelipkan kata seasing “mezzanine” ketika menggambarkan suatu tempat di rumah dadu Nyai Manggis. Seharusnya ada kosakata yang lebih tepat sekaligus lebih membumi untuk menggambarkannya agar bisa lebih nge-blend dengan keseluruhan tulisan yang banyak menggunakan kosakata-kosakata ‘ajaib’ yang ternyata ada di KBBI. Tapi ya cuma itu. Paling kekurangan lainnya hanya minimnya ketersediaan buku ini di jaringan toko buku konvensional karena sepertinya hanya diedarkan secara independen (saya pun dapetnya beli online). Yang pasti, Raden Mandasia memberikan satu lagi motivasi untuk lebih giat bikin postingan di blog, karena seperti yang dibilang Loki Tua ke Sungu Lembu:

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih.

Ah, ternyata ia tak hanya piawai memasak babi panggang utuh :)

Semua Untuk Hindia

Semua Untuk Hindia adalah pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (d/h Khatulistiwa Literary Award) 2014 untuk kategori prosa. Prestasi ini menyejajarkan karya ini dengan beberapa pemenang sebelumnya, seperti Pulang-nya Leila S. Chudori dan Bilangan Fu milik Ayu Utami. Yang membedakan Semua Untuk Hindia dengan beberapa pendahulunya yang telah populer adalah bentuknya: buku ini merupakan kumpulan cerpen, bukan sebuah novel.

Semua untuk koloni Kerajaan Belanda di Nusantara

Semua untuk koloni Kerajaan Belanda di Nusantara

Iksaka Banu, sang penulis buku ini, bertutur dalam 13 cerita pendek yang (hampir) semuanya menggunakan sudut pandang orang Belanda/setengah Belanda yang sedang berada di Hindia Timur. Sebuah tantangan tersendiri bagi seorang penulis pribumi untuk menuliskan penokohan yang bukan berasal dari budayanya (dan juga zamannya) sendiri. Tapi Iksaka Banu mampu melakukannya dengan baik, dan hasilnya cukup mengesankan.

Sebagian dari cerpen-cerpen yang ada di Semua Untuk Hindia pernah dimuat di Koran Tempo edisi hari Minggu. Itulah mengapa ada beberapa tulisan yang familiar bagi saya. Terasa deja vu malah, karena sebelumnya ternyata pernah saya baca dan waktu itu membuat terkagum-kagum. Yang paling diingat adalah Penunjuk Jalan, kisah seorang juru medis Kerajaan Belanda yang diutus ke Batavia yang bertemu dengan sang “Pangeran Kebatinan” yang merupakan salah satu tokoh sejarah perjuangan lokal (i’m trying not to give spoiler here, hehe), dan Di Ujung Belati karena kehadiran “Tuan Besar Guntur” (again, no spoiler given :p but he’s quite a famous figure tho) dalam cerita.

Beberapa momen historis dalam perjalanan sejarah bangsa dapat ditemui sebagai latar dalam cerita-cerita yang ada di buku ini. Beberapa malah jadi bagian inheren dalam cerita seperti pengasingan Pangeran Diponegoro setelah ‘tertangkap’ di Pollux, pembantaian warga Tionghoa di Batavia di Mawar di Kanal Macan, Puputan Margarana di Semua Untuk Hindia, hingga pemberontakan rakyat Banten di Tangan Ratu Adil. Namun, tidak semua tulisan di sini berangkat dari suatu peristiwa sejarah spesifik. Banyak juga yang terlepas dari kaitan suatu peristiwa historis seperti Racun Untuk Tuan, Gudang Nomor 12B, dan Keringat Dan Susu. Meskipun demikian, semuanya punya ciri yang sama: mampu berkisah dengan apik, meski singkat, tentang kondisi masyarakat pada masa itu dan fokusnya yang konsisten terhadap sisi humanis si tokoh utama, baik orang Belanda tulen maupun Indo-Peranakan.

Satu-satunya kelemahan (itu pun kalo bisa disebut kelemahan) buku ini adalah urutan berceritanya yang berjalan mundur: dari masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan di dekade 40-an hingga masa penjelajahan samudera menuju Nusantara oleh Cornelis de Houtman. Menurut saya akan lebih baik kalo ceritanya dimulai dari persentuhan pertama Belanda dengan Nusantara, baru dilanjut sampe akhir kekuasaan mereka di sini. Gaya yang mainstream memang, tapi mengingat cerita-cerita seru dalam buku ini lebih banyak yang terjadi di era keemasan VOC, rasanya itu lebih baik untuk membangun intimitas pembaca. *ini rada subjektif sih :p*

Satu lagi: seandainya aja buku ini dibikin dalam bentuk novel, tentunya akan jauh lebih menarik lagi :D Meskipun gak semua dari 13 cerpen ini potensial untuk dijadikan novel, tapi membayangkan adanya lanjutan cerita-cerita yang mendahului/mengakhiri fragmen-fragmen dalam Pollux, Racun Untuk Tuan, Penabur Benih, maupun Semua Untuk Hindia sendiri (those are my personal favourites btw) cukup buat saya untuk memastikan akan membelinya sekiranya ada :D

Untuk menyimpulkan: meskipun hanya setebal 153 halaman, dan mungkin akan habis dibaca dalam hitungan jam, bukan hari, buku ini sangat layak dibaca, terutama bagi pecinta dan pemerhati sejarah Indonesia jaman kolonial. Jika merasa berat membaca novel-novel bertema sejenis, buku ini dapat berperan sebagai appetizer yang menggugah selera.

Yang Tersisa dari Interstellar

Ah, Interstellar… Satu-satunya film yang saya tunggu kehadirannya di tahun ini. Christoper Nolan + eksplorasi antar galaksi. Tentu sangat layak dinantikan. Juga sekaligus ingin ‘membalaskan dendam’ karena waktu Inception tayang gak sempet nonton di bioskop. Sekitar tiga jam tersedot ke dalam lubang hitam dan merasakan sendiri fenomena dilatasi waktu mini ketika waktu di dalam teater bergerak lebih lambat daripada di luar. Tiga jam yang hampir tak terasa. Tapi ketika semua usai dan credit title mulai ditayangkan terasa ada yang mengganjal. Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak, menyisakan keingintahuan untuk googling lebih banyak :))

Tema tentang angkasa luar dan penjelajahan antariksa selalu menarik minat saya dari dulu: dari mulai era Star Trek: The Next Generation dengan awak USS Enterprise-nya yang tersohor itu hingga serial dokumenter Cosmos: A Spacetime Odyssey yang tayang belum lama ini. Semua karena keyakinan saya kalo alam semesta yang teramat luas ini rasanya sangat mubazir kalo hanya dihuni oleh umat manusia semata. Pasti ada suatu bentuk kehidupan lain nun jauh di sana, entah dalam bentuk paling primitif berupa bakteri dan protozoa (udah lama kan ga denger kata ini?) atau entitas dengan peradaban tingkat tinggi macam Autobots dan Decepticons.

Pertanyaan-pertanyaan yang tersisa paska nonton Interstellar akhirnya membuat saya terdampar di Youtube dan menemukan dokumenter The Science of Interstellar. Ini bukan sebuah feature behind the scene yang lazim diluncurkan bersamaan dengan rilisnya suatu film, tapi lebih berupa penjelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena-fenomena yang ada di film Interstellar. Sebuah tontonan yang sebenarnya tidak menawarkan pemahaman baru (karena di 13 episode Cosmos udah dikaji secara komprehensif), tapi mungkin cukup membantu bagi yang awam istilah-istilah dunia astrofisika. Ini juga versi yang lebih mudah dicerna daripada penjelasan dalam buku berjudul sama karangan Kip Thorne, fisikawan di balik pembuatan cerita Interstellar, yang sampai saat ini masih berupaya saya khatamkan. E-book berformat epub-nya bisa diunduh di sini.

Beberapa pertanyaan mendasar (seperti kenapa Cooper masih bisa hidup dan badannya utuh setelah terlontar dari pesawatnya dan masuk ke Gargantua, keberadaan worm hole yang masih hipotetikal, alternatif-alternatif planet pengganti bumi yang riskan karena mengorbit black hole, dsb.) memang masih belum terjawab setelah baca buku itu, namun bisa jadi jawabannya ada di bab-bab yang belum sempat saya baca. Postingan ini memang tidak dimaksudkan untuk mengulas film tersebut, tapi cuma ingin membagi kegelisahan yang sama dan nyoba mencari tahu jawabannya bareng-bareng juga untuk memenuhi target satu postingan per bulan. :))

Sebagai penutup, sebuah mixtape yang berisi lagu-lagu bertema/berjudul/berlirik seputar luar angkasa dan printilannya berikut kiranya bisa dijadikan teman membaca buku Kip Thorne tadi kalo udah diunduh. Idenya muncul waktu abis nonton Gravity tapi baru terealisasi sekarang (yah mumpung temanya masih sebelas-dua belas…). Introducing the songs from Lighthouse Family, Beastie Boys, Incubus, and many more.

 

*maafkan postingan sapu jagad yang nyampah gak jelas gini :))*

 

Kutukan Three Lions?

Football is a simple game; 22 men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win. – Gary Lineker

Gary Lineker gak salah. Buktinya Jerman keluar sebagai juara dunia (lagi) tahun 2014 ini. Tapi mungkin kutipan di atas, yang lahir pasca kemenangan Jerman Barat atas Inggris di semifinal Piala Dunia 1990, sekarang perlu ditambah satu kalimat lagi: “and the English always lose.”

Terakhir kali timnas Inggris menjadi juara dunia sepakbola adalah pada tahun 1966. Itu pun ketika turnamen digelar di negara mereka sendiri dan diwarnai kontroversi ‘gol hantu’ di laga final. Setelah 1966, langkah terbaik mereka adalah mencapai semifinal di Italia 1990, kalah dari Jerman (Barat) yang akhirnya menjadi juara dan melahirkan kutipan terkenal Gary Lineker di atas. Dalam empat perhelatan piala dunia terakhir, Three Lions selalu kandas bahkan sebelum mencapai babak semifinal: mentok di perempat final di Korea-Jepang 2002 dan Jerman 2006, 16 besar di Afsel 2010, dan yang paling terbaru, pada babak penyisihan grup di Brasil 2014. Reputasi yang cukup memalukan untuk ukuran sebuah negara yang selalu membanggakan diri sebagai tempat lahirnya olahraga terpopuler sejagat raya ini.

Berbagai analisis tentang penyebab kegagalan Inggris di piala dunia selalu bermunculan sesaat setelah mereka dipastikan harus mengepak koper terlebih dahulu dan meninggalkan negara penyelenggara lebih awal. Mayoritas mempersoalkan minimnya kohesi antar 23 pemain dalam skuad yang dibawa, cedera pemain kunci yang menurunkan performa tim secara keseluruhan, kelelahan akibat jadwal kompetisi domestik dan Eropa yang teramat padat, hingga isu tentang dominannya pemain asing dalam liga domestik yang mengakibatkan minimnya kesempatan bagi pemain lokal untuk berkembang. Tapi apakah benar hal-hal tersebut menjadi penyebab utama impotennya timnas Inggris di ajang internasional? Bab pertama dalam buku Soccernomics dengan judul “Why England Loses and Others Win” mencoba untuk menjawab pertanyaan abadi tersebut.

Yup, another per-chapter review of the book in this blog, hehe. Kuper dan Szymanski, duo penulis Soccernomics, membuka bab ini secara satir dengan mengungkapkan tujuh fase yang akan dilalui timnas Inggris setiap perhelatan Piala Dunia (dan terus berulang setiap empat tahunnya). Bagi kedua penulis, pertanyaan tentang “mengapa Inggris selalu kalah setiap Piala Dunia” mempunyai kemiripan dengan isu utama di studi Ekonomi Pembangunan, yaitu “mengapa satu negara bisa lebih miskin (less productive) dibandingkan dengan negara yang lain?”. Tiga jawaban yang umum diterima atas pertanyan di atas adalah (1) terlalu banyaknya pemain asing yang bermain di Liga Inggris, (2) dominasi kelas sosial tertentu dalam persepakbolaan Inggris, dan (3) ‘keterkucilan’ Inggris dari Eropa daratan, pusat industri sepakbola dunia.

Berlimpahnya pemain asing di Liga Inggris sudah sangat sering dijadikan kambing hitam terkait dengan kemunduran prestasi The Three Lions. Merujuk ke konteks ilmu ekonomi, Ingris dinilai tidak menerapkan kebijakan ‘import substitution’ dalam industri sepakbolanya, dan cenderung mengagungkan kredo ‘export promotion’ ketika mengelola kompetisi domestiknya. Keterbatasan jam terbang merumput pemain asli Inggris karena jatahnya digunakan oleh pemain asing diduga menjadi penyebab minimnya bakat-bakat pribumi baru yang terdeteksi. Terdengar masuk di akal? Ternyata Kuper dan Szymanski  berpendapat lain. Justru menurut mereka, jumlah 37% pemain asli Inggris yang bermain di (arguably) liga terbaik di dunia sudah merupakan hal yang bagus. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari, misalnya, Rusia dan Kroasia yang para pemain nasionalnya mungkin hanya 5% yang mampu mencicipi atmosfer kompetisi terketat di dunia tersebut. Ironisnya, dengan hanya 5% komponen tim yang terpapar gemerlap EPL tersebut, kedua negara tadi justru mampu mengangkangi Inggris untuk lolos ke Piala Eropa Swiss-Austria 2008.

Kuper dan Szymanski berargumen bahwa dengan tingkat persaingan yang amat tinggi di EPL tiap pekannya, di mana 37% pemainnya adalah pemain asli Inggris, peak performance para pemain timnas Inggris justru telah terjadi ketika bermain di level klub. Walhasil, setiap dihelatnya turnamen internasional di musim panas, permainan yang disuguhkan menjadi ala kadarnya. Belum lagi menghitung imbas cedera dan kelelahan fisik yang didapatkan selama musim kompetisi berjalan, suatu hal yang sangat umum didapatkan ketika bermain di EPL yang mengutamakan speed + power ketimbang teknik. Jadi, permasalahannya bukan di banyaknya pemain asing yang mendominasi liga, akan tetapi bagaimana caranya agar pemain Inggris dapat ‘diekspor’ ke liga-liga lain yang tingkat kompetisinya tidak seketat EPL. Jika mengingat pemenang empat Piala Dunia terakhir yang anggota skuadnya tidak didominasi oleh pemain yang bermain di Liga Inggris (Brasil 2002, Italia 2006, Spanyol 2010, dan Jerman 2014), argumen tersebut cukup bisa diterima.

Lalu bagaimana tentang anggapan bahwa pemain sepakbola di Inggris terlalu didominasi kelas sosial tertentu? Kelas pekerja di Inggris saat ini memang menjadi penyumbang utama pemain sepakbola di negeri tersebut. Di sisi lain, keberadaan pemain yang berasal dari keluarga kelas menengah kian jarang ditemui. Padahal saat ini kelas menengah, yang indikatornya adalah mampu mengenyam pendidikan tinggi dan tidak berprofesi sebagai ‘pekerja kasar’, adalah golongan sosial mayoritas di Inggris, jauh melebihi kalangan kelas pekerja yang semakin menyusut. Akibatnya, populasi pesepakbola yang memiliki talenta bagus juga kian menyusut seiring dengan menurunnya jumlah kontributor utamanya. Selain itu, minimnya edukasi yang dimiliki pemain-pemain dari kelas pekerja ini (ini emang terlalu menggeneralisir sih..) menyebabkan sulitnya menyesuaikan diri terhadap perkembangan taktik sepakbola yang makin menekankan pada intelijensia dan kematangan mental pemain. Jadi alih-alih memberlakukan restriksi yang lebih ketat terhadap keberadaan pemain asing, industri sepakbola Inggris seyogyanya bisa mempertimbangkan cara untuk dapat menarik lebih banyak pemain dari kelas menengah.

Untuk faktor ‘keterkucilan’ Inggris dari pusat industri sepakbola dunia di Eropa daratan, tentunya sekilas terkesan masalah geografis menjadi penyebab utama. Inggris yang terpisahkan dari Eropa daratan dianggap sebagai periferi dalam peta besar Eropa. Negara-negara di jantung Eropa seperti Jerman, Perancis,Spanyol, Belanda, dan Italia, memiliki keuntungan tersendiri dalam hal mudahnya konektivitas dan membangun jejaring yang mampu meningkatkan produktivitas. Tidak heran jika negara-negara tersebut mampu berprestasi lebih baik ketimbang Inggris dalam hal sepakbola. Namun ternyata masalah Inggris lebih dari itu. Persepakbolaan Inggris telah terlalu lama menganut paham isolasionisme, meskipun sekarang sudah mulai ada upaya untuk lebih membuka diri. Hingga pertengahan 90-an, pola kick and rush yang telah usang masih mendominasi strategi klub-klub Inggris. Komersialisasi EPL dan makin menguatnya peran Uni Eropa dalam integrasi ekonomi benua birulah yang kemudian mampu mendobrak konservatisme ini. Akan tetapi, ketertinggalan Inggris masih tercermin pada minimnya pelatih-pelatih lokal yang menangani klub-klub besar. Bahkan selama beberapa tahun pun timnas Inggris terpaksa mengimpor pelatih dari Swedia dan Italia karena dianggap lebih mumpuni daripada pelatih-pelatih lokal sendiri. Inggris sebagai recovering isolasionist dianggap masih membutuhkan campur tangan Eropa daratan di industri sepakbolanya dan sebaiknya mengikis gengsi tingginya sebagai tempat lahirnya sepakbola.

To sum up: Hal-hal yang perlu dilakukan Inggris untuk lebih berprestasi di turnamen-turnamen internasional adalah (1) berhenti mengkhawatirkan pengaruh buruk keberadaan pemain asing di liga domestik, (2) mengupayakan agar kelas menengah tertarik untuk berkarir di sepakbola, dan (3) terus membuka diri terhadap ide, perspektif, dan paradigma baru terkait sepakbola yang datangnya dari Eropa daratan. Dari tiga hal tersebut, rasa-rasanya poin nomor dua yang paling susah. Sepakbola di Inggris sudah kadung dianggap sebagai olahraga kelas pekerja yang memarjinalkan peran kelas menengah. Entahlah. Mungkin di sana juga menganut sinisme khas yang sama kayak di Indonesia: sekolah tinggi-tinggi kok malah jadi pemain bola. Atau: “Sekolah yang tinggi, biar gak jadi pemain bola”.

Atau jangan-jangan, selayaknya nasib Indonesia di kancah ASEAN, udah takdir Inggris jadi Indonesia-nya Eropa dalam hal prestasi sepakbola? Wallahualam bishawab.

I Am Zlatan

Umumnya buku (oto)biografi memiliki alur cerita yang berjalan secara linear. Dimulai dari masa kecil si penulis (atau bahkan sebelum kelahirannya), masa sekolah dan remaja, hingga masa dewasa yang seringnya menjadi inti dari buku tersebut. Tapi tidak demikian halnya dengan otobiografi Zlatan Ibrahimovic ini. Di bab pertama, Zlatan langsung berkisah secara frontal tentang ketidaksukaannya terhadap Josep ‘Pep’ Guardiola, pelatih FC Barcelona kala itu (sekaligus klub profesional kelima yang dibelanya dalam kurun waktu 10 tahun). Pep dinilai sebagai sosok yang pengecut, pecundang kelas berat, dan tidak becus menangani pemain bintang. Barca di bawah asuhan Guardiola, menurut Zlatan, tak ubahnya seperti tim sekolah dasar yang menekankan konformitas dan kepatuhan terhadap otoritas serta dihuni pemain-pemain berkelakuan manis layaknya Messi, Xavi, dan Iniesta. Sebuah hal yang tak mengherankan karena tiga pemain kunci ini memang didikan La Masia, akademi sepakbola Barca, yang telah terbiasa dengan kultur di dalam klub tersebut. Namun bagi Zlatan, situasi ini terhitung konyol. Terlebih karena ia sebelumnya lima tahun bermain di Italia yang begitu mendewakan pemain bintang. Cerita di bab pertama yang diakhiri dengan kisruh di kamar ganti setelah kegagalan Barca lolos ke final Liga Champions 2009-2010, kalah selisih gol dari Inter-nya Mourinho, ini menjadi pembuka ideal yang mampu mengikat para pembaca untuk terus mengikuti kisah biografi ini hingga tuntas.

Selain sebagai strategi untuk mencuri perhatian pembaca, penempatan episode karir singkatnya di Barca sebagai pembuka cerita bisa jadi juga merupakan medium Zlatan untuk mengungkap tabir di balik karir singkat tersebut dari versi dia. Tidak banyak yang tahu tentang alasan pasti berpisahnya Zlatan dengan Barca meski baru bermain setahun. Kisah perseteruan dengan Guardiola yang diberitakan media mayoritas sumir, tidak dielaborasi dengan dalam dan menyisakan banyak tanda tanya. Dibeli oleh klub juara Eropa dengan harga yang begitu mahal dari Inter pada musim panas 2009, bersamaan dengan pembelian gila-gilaan Real Madrid atas Kaka dan Cristiano Ronaldo, Zlatan hanya bertahan satu musim untuk kemudian dilepas dengan harga murah ke klub spesialis penampung pemain murah, gratisan, dan free transfer: AC Milan. Hingga saat ini, Barca menjadi klub dengan masa bakti tersingkat bagi seorang Zlatan di dalam karir sepakbolanya, dan Zlatan menyatakan bahwa Guardiola adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sebuah penuturan yang mungkin bisa membuat para pembaca mengubah persepsinya selama ini terhadap sosok seorang Pep Guardiola.

Sosok Zlatan Ibrahimovic memang mengundang banyak perhatian. Pemain yang dikenal sebagai si bengal pembuat onar dan arogan (tapi dengan kemampuan mengolah bola yang mumpuni) memang lebih mudah dieksploitasi media untuk menaikkan oplahnya. Tak mengherankan ketika Zlatan merilis buku otobiografinya (meskipun saya gak yakin ini bisa dibilang “otobiografi” karena ditulis oleh David Lagercrantz), perhatian terhadap buku ini cukup besar dan banyak pihak yang menasbihkannya sebagai salah satu buku biografi sepakbola terbaik yang pernah ada. Cara bertutur Zlatan yang blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling (duh bahasanya!) ketika menceritakan orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupannya enak untuk dibaca dan sesekali mampu mengundang tawa. Selazimnya otobiografi lainnya, penggunaan kata ganti orang pertama di buku ini juga mampu mengakrabkan pembaca dengan sosok Zlatan karena seolah ia sendiri yang sedang berkisah dalam buku ini.

Stands out in the (blurry) crowd

Stands out in the (blurry) crowd

Setelah diawali dengan bab pertama yang bombastis, alur cerita dalam buku ini barulah mengikuti pakem yang umum: mengalir secara runut dari masa kecil hingga awal karir dan seterusnya. Zlatan kecil hidup di area suburb Rosengard (keren ya, kayak di Middle Earth..) pinggiran kota Malmo di Swedia. Latar belakang kedua orang tuanya yang imigran, beda etnis dan agama, lalu kemudian bercerai membuat pelarian ke sepakbola menjadi hal yang lumrah. Ini kayaknya pola umum yang dialami beberapa bintang sepakbola dunia: tumbuh di keluarga yang disfungsional, menemukan sepakbola sebagai satu-satunya pelarian dari masalah dan ajang pembuktian eksistensi diri, hingga dilirik oleh pemandu bakat klub-klub terkenal. Sayangnya saya gak begitu tertarik sama kisah personal Zlatan sebelum nyemplung di dunia sepakbola profesional, jadi pas baca beberapa bab tentang ini cuma selintas lalu doang. Meskipun ada beberapa fakta menarik yang terungkap, salah satunya tentang bagaimana dulu Arsene Wenger pernah hampir menarik Zlatan ke Arsenal. Beberapa bab yang gak terlalu menarik memang, tapi minimal jadi tau gimana interaksi sosial antar etnis (native vs imigran) di Swedia sana.

Bagian ketika Zlatan bergabung dengan Malmo FF, klub profesional pertamanya, juga biasa-biasa aja. Minim konflik dan cerita behind the scene yang menarik. Cerita baru mulai menarik lagi ketika telah memasuki episode dijual ke Ajax. Pertama karena Zlatan (akhirnya) menyadari kalo agen pertamanya ngibulin dia (dijual sebagai pemain termahal di klub lama tapi dengan gaji terendah di klub barunya :D) dan berikutnya karena di Ajax juga dia nemuin musuh(-musuh) besarnya (Louis Van Gaal dan Rafael Van der Vaart) dan dua orang yang dihormati (Leo Beenhakker dan Maxwell). Maxwell sendiri malah jadi BFF Zlatan: ngikut terus dari Ajax, Inter, Barca, hingga PSG sekarang. Kedatangan Zlatan ke Ajax bersamaan juga dengan datangnya Mido Hossam, pemain asal Mesir. Ini yang masih saya inget sampe sekarang karena dulu, ketika masih sering beli Tabloid Bola, foto kedua pemain baru Ajax ini berdampingan dengan dua pemain anyar Milan, yaitu Rui Costa dan Pippo Inzaghi. Waktu itu beritanya terkait dengan penyelenggaraan Turnamen Amsterdam, sebuah turnamen pra musim yang diikuti antara lain oleh Ajax, Milan, dan Liverpool  yang juga diceritakan dalam buku ini. Di Ajax, Zlatan mewarisi nomor punggung 9 yang pernah dipakai Marco Van Basten dan sejak itu sering digadang-gadang sebagai “The New Van Basten” berkat kemiripan postur, posisi, dan cara bermain.

Belajar dari pengalaman ditipu agen ketika pindah dari Malmo ke Ajax, Zlatan kemudian menemukan sosok agen pemain yang ideal dan kompatibel dengan karakternya pada seorang Mino Raiola. Cukup banyak interaksi antara Zlatan dan Raiola yang diceritakan di buku ini. Yang paling intens tentunya pada saat berkisah tentang proses transfer Zlatan ke Juventus, Inter, Barca, hingga Milan. Banyak kisah-kisah behind the scene yang terungkap di buku ini seputar proses-proses transfer tersebut, yang semuanya tak terlepas dari kelicinan Raiola dalam bernegosiasi. Satu yang paling menyesakkan buat saya sebagai seorang fans layar kaca Milan adalah ketika Zlatan bercerita bagaimana ia tinggal selangkah lagi bergabung dengan I Rossoneri setelah Juve terdegradasi ke Serie B tahun 2006, namun kemudian di injury time Massimo Moratti mengintervensi sehingga ia berlabuh ke sisi kota Milano yang lain.

Yang menarik dari seorang Zlatan Ibrahimovic adalah ia selalu berhasil mempersembahkan gelar juara liga domestik ke klub yang dibelanya, terhitung sejak Ajax musim 2002-2003 (dengan pengecualian Milan di musim keduanya). Setiap momen menentukan dalam perjalanan meraih juara liga terdokumentasikan dengan apik di sini. Dua gelar back-to-back bersama Juve, tiga gelar beruntun bersama Inter dan masing-masing satu gelar untuk Barca dan Milan menjadi lumbung cerita yang mendominasi dua pertiga akhir buku ini. Mulai dari kekagumannya terhadap sosok Fabio Capello, hormatnya kepada Jose Mourinho, perseteruannya dengan rekan setim (Zebina di Juve, Mihajlovic di Inter, dan Onyewu di Milan), drama di laga-laga penentuan gelar juara, perebutan capocannonieri, hingga gol-gol spektakuler yang dicetaknya.

Ya, bicara tentang Zlatan pasti tidak lepas dari gol-gol yang spektakuler dan out of the box. Beberapa gol terindah yang pernah dibuatnya mendapat porsi khusus untuk diceritakan di sini. Sayangnya memang buku ini sudah selesai ditulis ketika Zlatan mencetak gol luar biasa kala Swedia menjamu Inggris tahun 2012 lalu, tapi beberapa gol indah lainnya dikisahkan dengan lengkap di sini (dengan nada pongah karena hampir setiap tahun selalu memenangi gelar gol terbaik pilihan pemirsa :p). Gol Zlatan ketika masih berseragam Juve melawan Roma yang berkesudahan 4-0, ‘gol kungfu’ waktu Euro 2004 ketika Swedia berhadapan dengan Italia, gol aneh bin ajaib ketika membela Inter melawan Bologna, gol-gol ketika El Clasico dan Barca vs Arsenal di Liga Champions, serta tentunya gol terakhir dia sewaktu membela Ajax ke gawang NAC Breda berikut:

Kekurangan buku ini cuma satu: keterbatasan masa bercerita. Buku ini cuma mentok di akhir musim pertama Zlatan bersama Milan. Sedangkan musim kedua, ketika akhirnya setelah sekian lama Zlatan tidak menghasilkan gelar juara liga untuk klub yang tengah dibelanya, tidak tercover dalam cerita. Begitu pun dengan lanjutan kisah Zlatan ketika pindah ke PSG dan dilatih oleh pelatih hebat lainnya: Carlo Ancelotti. Selebihnya sulit mencari kekurangan buku ini. Sebagai perbandingan, ketika saya membaca buku otobiografi Andrea Pirlo setelah baca I Am Zlatan ini, baru bab pertama aja udah ngerasa bosen karena gaya bertuturnya yang terlalu bertele-tele dan kurang makjleb. Kembali ke karakter pribadi sih emang, tapi secara keseluruhan bukunya Zlatan ini emang lebih enak dibaca. Karena saya adalah insan yang menjunjung tinggi HKI (yeah right..), link download e-book buku ini tidak saya sertakan di tulisan ini. Bisa didonlot sendiri via torrent, tinggal search aja “I Am Zlatan”.

Mari membajak. #eh

Football vs Football

On any given Sunday any team in our league can beat any other team.

Awal bulan ini rakyat Amerika Serikat (AS) ‘merayakan’ event tahunan yang boleh dibilang sangat khas Amerika. Mungkin cuma Thanksgiving yang bisa mengalahkan ke-Amerika-an event ini. Yup, tak lain dan tak bukan adalah Super Bowl. Pertandingan final liga American Football nasional (NFL) yang, bagi orang AS, merupakan ajang final suatu kompetisi/turnamen olahraga paling spektakuler di dunia ini. Glorifikasi yang terasa berlebihan memang, namun fakta berupa rating TV tertinggi sepanjang sejarah dapat menjadi justifikasi mereka untuk sedikit membusungkan dada (meskipun kita semua tau kalo rating dan hype itu hanya terjadi di negara mereka saja.. Oh Murica!)

Saingan terberat Super Bowl yang berkarakteristik sama (sebuah final turnamen olahraga tahunan yang mengundang atensi sedemikian banyak) tentu saja adalah malam final UEFA Champions League. All German final musim lalu antara FC Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund mencatatkan rekor 150 juta penonton TV. Memang gak begitu jomplang bedanya sama jumlah pemirsa Denver Broncos vs Seattle Seahawks tahun ini yang berada di kisaran 115 juta pemirsa, tapi dari segi persebaran populasi final UCL jauuuuuuh lebih unggul (“u”-nya ada 6). Hype dan euforia final UCL lebih mengglobal, tidak hanya terkonsentrasi di satu negara saja. Lagipula, saya yakin para pemirsa final UCL ini memang tujuannya semata untuk menonton pertandingan yang akan berlangsung. Tidak seperti Super Bowl yang ada half time entertainment show, yang mampu mengundang pirsawan pirsawati non fans olahraga tersebut untuk turut duduk manis di depan TV menyaksikan acara itu. Belum lagi parade iklan-iklan bombastis yang kemunculannya selalu ditunggu-tunggu. Penonton banyak? Oke, tapi emang pada ngerti dan niatnya cuma buat nonton pertandingan? Pffftt…

Sikap holier-than-thou yang ditunjukkan mayoritas fans sepakbola ini emang sangat jamak ditunjukkan untuk cabang olahraga favorit orang Amerika tadi haha.. Biasanya yang jadi persoalan utama adalah masalah penyebutan nama olahraga tersebut. Fans sepakbola umumnya paling anti kalo olahraga favorit mereka ini disebut sebagai “Soccer” dan menggugat habis penamaan “Football” di American Football. “Soccer” dianggap sebagai nama yang derogatory, tidak sesuai khittahnya sebagai olahraga yang memainkan bola dengan kaki (meskipun nama “soccer” sendiri berasal dari kata “association football”) dan tak lupa mencemooh logika berpikir orang Amerika sana yang bisa-bisanya menamakan olahraga yang memainkan bola (itu pun kalo bisa disebut sebagai bola dengan pengertian yang umum) dengan tangan sebagai “(American) Football”.

ImageFootball no, handegg yes :D

Sebagai fans sepakbola yang berdedikasi (cieeh..) saya pun tentu ikut dalam arus utama tersebut. Meskipun kerap terpapar budaya pop AS yang banyak berlatar American Football, saya tetep gak bisa menemukan asiknya nonton olahraga yang kesannya kayak sruduk-srudukan doang ini. Ngerti pun paling dikit-dikit, sebatas tau istilah touchdown dan quarterback doang. Tapi untuk sistem skor, aturan main, format kompetisi, dll nol besar. Mungkin minimnya akses ke pertandingan live olahraga ini di TV juga sedikit banyak mempengaruhi antipati dan minimnya pengetahuan saya tentang handegg… eh football. Lagipula seperti kata pepatah: tak kenal maka Tata Young, bukan? (plesetan ini masih jaman gak sih?)

Bigotry dan fanatisme sempit dalam hal apapun sepertinya emang gak baik. Sedikit-sedikit saya mulai coba mengikis antipati terhadap American football biar bisa ngerti dikit apa yang ada di balik obsesi para warga AS terhadap olahraga ini, salah satunya dengan memaksakan diri nonton pertandingan di TV tiap ada kesempatan (dan itu hanya bisa dilakukan tiap nginep atas biaya kantor di hotel yang ada pay TV-nya. Cheap bastard.. :p). Teman saya menyarankan untuk membaca manga Eyeshield 21 yang ceritanya tentang klub ekskul American Football di sebuah SMA di Jepang. Manga yang bagus dan lucu meskipun rada hiperbolis (namanya juga Jepang), namun menurut saya jauh lebih bagus daripada komik-komik spakbola bikinan Jepang macam Captain Tsubasa, Kickoff atau Offside (emang bukan selera saya sih). Di manga ini, premis bahwa American Football adalah olahraga yang hanya menguntungkan pemain dengan kondisi fisik tertentu (tinggi-gede-intimidatif) dimentahkan oleh sang tokoh utama. Mungkin analoginya kayak Lionel Messi tiba-tiba join NFL. Ngebayanginnya pasti dalam sekejab tubuh dia udah habis tercabik-cabik terjangan pemain-pemain yang bobotnya rata-rata di atas 100 kg, tapi kalo di manga ini diceritakannya ya bisa-bisa aja tuh… (namanya juga komik). Kalo untuk pengantar yang singkat dan padat untuk lebih mengenal American Football mungkin bisa dimulai dengan menonton ini:

Di buku Soccernomics juga ada satu bab yang didedikasikan khusus untuk menelaah perbandingan antara sepakbola dengan ‘football’. Bab kedelapan dengan judul “Football Versus Football” ini awalnya memberi penjelasan kenapa sepakbola lebih bisa mendunia dibandingkan dengan football. Rupanya ini disebabkan karena sifat yang cukup bertolakbelakang dari dua negara yang pernah/sedang menjadi kekuatan utama dunia: Inggris dan Amerika Serikat. Di masa kejayaan imperium Britania Raya pada abad 19 hingga awal abad 20, pedagang dan pengusaha-pengusaha Inggris adalah pihak yang paling berjasa dalam menyebarkan nilai-nilai ke-Inggris-an ke seluruh dunia, salah satunya adalah sepakbola. Ini juga yang bisa menjelaskan kenapa sepakbola justru kurang populer di koloni resmi Inggris sendiri (India dan Australia misalnya, karena memiliki resistensi akibat dicap sebagai ‘budaya kolonial’), namun berkembang pesat di negara-negara yang banyak berbisnis dengan soft power Inggris (kekuatan dagangnya) seperti Brasil dan Argentina. Di lain pihak, AS sebagai kekuatan utama dunia sejak awal abad 20 tidak pernah berniat  untuk ‘menguasai’ dunia dengan kolonisasi dan menciptakan imperium seperti halnya Inggris. “Go in, do the job, get out” adalah prinsip utama politik luar negeri AS ketika terlibat dalam suatu konflik di negara lain. Budaya-budaya khas Amerika, termasuk dalam bentuk cabang olahraga favorit, dengan demikian tidak memiliki pondasi yang kuat untuk berkembang di luar AS.

Di Amerika, sepakbola menjadi olahraga yang marjinal, kalah bersaing dengan olahraga-olahraga yang ‘lebih Amerika’ seperti American football, baseball, bola basket, hingga hoki es. Sepakbola rata-rata hanya dimainkan oleh anak usia sekolah dan dianggap kurang ‘manly’. Tapi justru posisi yang marjinal ini telah berjasa menjadikan sepakbola sebagai olahraga terbesar di kalangan anak sekolah di AS mengalahkan jumlah gabungan pemain keempat cabang olahraga tersebut. Minimnya popularitas kompetisi sepakbola profesional di AS (MLS) dibanding NFL, MLB, NBA atau NHL justru dianggap menguntungkan bagi orang tua yang tidak ingin anak-anaknya di masa depan menjadi atlet profesional. Sifat sepakbola yang less violent, less money-involved, dan less black (nigga ain’t gonna like this) menjadikan dasar pertimbangan utama para orang tua (mayoritas) kulit putih untuk memilih sepakbola sebagai olahraga yang pas bagi anak-anak mereka di masa sekolah.

Di bagian selanjutnya dari bab ini lebih berisi analisis ekonometri untuk membuktikan apakah kompetisi American Football (NFL) lebih equal dibandingkan dengan kompetisi sepakbola (BPL). Perimbangan kekuatan di antara klub-klub NFL, seperti yang termaktub dalam slogan yang di-quote di awal tulisan, seringkali menjadi hal yang dibanggakan para peminat American Football karena kekuatan yang terlalu dominan di suatu kompetisi dalam jangka waktu yang lama dianggap  membosankan dan tidak menarik minat karena kurang unsur kejutannya. Ternyata secara empiris anggapan itu salah dalam dua hal. Pertama, NFL tidaklah se-equal yang digembar-gemborkan. Kedua, ternyata fans tidak menganggap inequality of power di suatu kompetisi sebagai hal yang dapat membuat mereka berhenti menonton kompetisi tersebut. Fans ternyata lebih menyukai kondisi yang memungkinkan adanya situasi David vs Goliath, entah klub favorit mereka bertindak sebagai si David atau Goliath-nya, ketimbang suatu kompetisi yang sama rata sama rasa ala sosialis.

Ketiadaan inequality of power dan klub yang dominan ini juga yang dinilai menyebabkan MLS sebagai kompetisi sepakbola profesional di AS dianggap kurang memiliki daya pikat setara dengan liga-liga di Eropa. Seperti halnya kompetisi olahraga lain di AS, MLS juga menerapkan sistem salary cap yang membuat mustahil klub-klub disana menarik pemain-pemain terbaik dunia untuk bermain di AS. Selain itu, sistem franchise klub yang berlaku di MLS (dan juga NBA, NFL, dll) masih sangat asing dan mengundang resistensi bagi fans sepakbola di luar AS. Gak kebayang misalnya kalo AC Milan tiba-tiba bubar karena pemilik klubnya mendapat tawaran yang lebih menggiurkan dari Pemerintah Kota Roma untuk memindahkan basis klubnya ke ibukota (jadi AC Roma dong..). Belum lagi ketiadaan sistem promosi-degradasi yang membuat persaingan menjadi kurang menarik. Semua ini berkontribusi pada rendahnya feasibilitas MLS (maupun NFL yang punya sistem sejenis) untuk mengembangkan sayap pengaruhnya ke luar AS.

Jadi apakah Super Bowl punya kans untuk menjadi perhatian global tahun-tahun ke depan? Sepertinya tidak. Terlebih setelah  final UCL berpindah ke Sabtu malam waktu Eropa (sebelum tahun 2010 masih digelar Rabu malam) untuk mengakomodasi audiens yang lebih besar. Our Super Saturday is bigger than your Super Sunday. :)

Does size matter?

Ini bukan postingan tentang Mak Erot. Bukan. Ini adalah review tentang salah satu chapter di buku Soccernomics: Why England Loses, Why Germany and Brazil Win, and Why the US, Japan, Australia, Turkey – and Even Iraq – Are Destined to Become the Kings of the World’s Most Popular Sport karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Buku yang tentu saja hanya akan disebut tanpa sub judulnya yang subhanallah panjangnya itu terlalu sulit untuk direview sebagai suatu kesatuan utuh. Ini dikarenakan tiap-tiap bab di dalamnya bisa berdiri sendiri dan terlalu menarik untuk dilewatkan dalam suatu ulasan singkat. Seperti halnya pada bab ketujuh dari buku ini dengan judul “The Suburban Newsagent: City Sizes and Soccer Prizes”.

Pernah gak kepikiran untuk merhatiin daftar juara liga domestik negara-negara besar sepakbola Eropa, atau daftar juara UEFA Champions League sepanjang masa? Coba cek klub-klub mana aja yang jadi penguasa sejarah. Di Inggris itu adalah Manchester United dan Liverpool, di Italia Juventus dan dua klub Milano bersaudara, di Jerman tentunya klub Bavaria dari kota Muenchen, dan di Perancis dipastikan bukan klub asal kota Paris. Kesamaan dari klub-klub tersebut? Semuanya adalah bukan klub yang berasal dari ibukota negara. Kedigdayaan klub-klub non-ibukota ini berlanjut hingga tataran Eropa. AC Milan, dan bukan AS Roma atau Lazio, adalah pengoleksi trofi Liga Champions terbanyak untuk Italia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Liverpool untuk Inggris dan bukan oleh klub-klub London. Di Jerman lagi-lagi klub Bavaria dari kota Muenchen yang jadi jawaranya, bukan klub asal Berlin atau Bonn (ketika belum reunifikasi). Bahkan di Belanda juga sebenarnya Ajax bisa saja dihitung bukan sebagai klub ibukota, yang semestinya dinisbatkan kepada ADO Den Haag. Atau tiga serangkai asal Istanbul: Galatasaray, Fenerbahce dan Besiktas, bukannya klub-klub Ankara, yang merajai kompetisi domestik Turki (meski dulunya Istanbul a.k.a Konstantinopel pernah juga jadi ibukota Ottoman). Tentu saja ada pengecualian bernama Real Madrid yang menjadi raja Spanyol di La Liga maupun tingkat tertinggi Eropa, tapi Kuper dan Szymanski punya penjelasan tentang hal ini.

Kuper dan Szymanski lebih menitikberatkan analisisnya terhadap fenomena yang terjadi di kancah kompetisi antar klub Eropa, meskipun menurut saya sebenarnya bisa juga untuk menjelaskan kenapa klub-klub luar ibukota ini mampu mendominasi ajang domestik. Mungkin biar lebih memperjelas konteksnya bisa liat daftar pemenang Liga Champions Eropa sejak pertama kali bergulir di sini. Dari situ bisa diliat bahwa tujuh area metropolitan terbesar di Eropa: Istanbul, Paris, Moskow, London (note: buku ini dibuat sebelum Chelsea menjuarai UCL tahun 2012), St. Petersburg, Berlin, dan Athena belum sekalipun menempatkan klubnya sebagai kampiun benua biru. Sebaliknya, kota-kota gurem macam Birmingham (Aston Villa, 1982), Glasgow (Celtic, 1967), Dortmund (Borussia Dortmund, 1997), Rotterdam (Feyenoord, 1970), atau Nottingham (Nottingham Forest, 1979-1980) pernah mendapat penghargaan tertinggi sepakbola antar klub Eropa ini.

Karena ilmu ekonomi pada dasarnya bisa dibilang sebagai ilmu yang mencari korelasi antar dua fenomena, Kuper dan Szymanski mencoba mencari hubungan antara ukuran sebuah kota di Eropa dengan kesuksesan dalam hal prestasi sepakbola. Untuk tujuan tersebut, kedua penulis membagi sejarah kompetisi kata tertinggi antarklub Eropa menjadi tiga periode. Periode pertama terbentang sejak pertama kali Piala/Liga Champions bergulir di tahun 1956 hingga akhir dekade 1960-an. Pada tujuh perhelatan awal, klub juara Eropa selalu berasal dari ibukota negara yang dikuasai rezim fasis-otoriter: Real Madrid (Madrid – Jenderal Franco, 1956-1960) dan Benfica (Lisbon – Antonio Salazar, 1961-1962). Ini tentunya tidak mengherankan jika melongok lebih jauh ke sejarah pada Piala Dunia 1934 dan 1938 yang dimenangi oleh Italia yang kala itu berada di bawah kekuasaan Benito Mussolini. Rezim fasis selalu bersifat sentralistik, berorientasi pada pemusatan kekuasaan di pusat pemerintahan. Dalam konteks sepakbola ini terwakili dalam terpusatnya pemain-pemain terbaik negara fasis tersebut di klub ibukotanya yang tentunya tak lepas dari intervensi rezim yang berkuasa kala itu. Hal inilah yang mempermudah dominasi klub-klub ibukota di kompetisi internasional dan, yang jauh lebih vulgar, di kompetisi domestik. Setelah Benfica dua kali menjadi jawara Eropa di awal 1960-an, klub ini mampu menjadi runner up di tiga perhelatan selanjutnya (meskipun tidak berturut-turut), sedangkan Madrid menjuarai sekali (1966) dan runner up dua kali.

Kemunduran rezim fasis di Spanyol dan Portugal pada awal dekade 1970-an juga tercermin pada peralihan dominasi juara antarklub Eropa dari klub-klub ibukota, dimulai dari kemenangan Feyenoord dari Rotterdam di tahun 1970. Ajax dari Amsterdam memang menjuarai tiga perhelatan kompetisi ini berturut-turut di awal 1970-an, tapi perlu diingat bahwa sebenarnya ‘ibukota sejati’ Belanda, tempat monarki dan parlemen bertahta, terletak di Den Haag, bukan Amsterdam. Setelah Ajax, muncullah Bayern Muenchen yang juga menjuarai tiga kali beruntun, lalu Liverpool (2x berturut-turut), dan Nottingham Forest (2x berturut-turut juga). Klub dari ibukota negara baru muncul menjadi juara lagi pada tahun 1986 (Steaua Bucuresti – Romania) dan Red Star Belgrade dari Yugoslavia di tahun 1991. Tentu semua mafhum bahwa dua negara tersebut ketika Steaua dan Red Star menjadi juara masih dikuasai rezim komunis yang sebelas-dua belas otoriter dan sentralistiknya kayak rezim fasis Spanyol dan Portugal era Franco dan Salazar.

Kuper dan Szymanski melihat bahwa periode kedua sejarah juara Piala/Liga Champions Eropa ini dimulai tepat ketika Feyenoord menjuarainya pada tahun 1970. Kali ini giliran klub-klub dari kota-kota industri yang merajai, menyingkirkan dominasi klub-klub ibukota. Selama periode ini, finalis Piala Champions lebih banyak diisi oleh klub-klub kota industri seperti Liverpool, Amsterdam, Muenchen, dan Rotterdam yang semuanya berakhir sebagai juara, dan klub-klub dari kota (tergolong) kecil macam St. Etienne (Perancis), Moenchengladbach (Jerman), Malmo (Swedia), Leeds (Inggris), dan bahkan Brugges (Belgia) yang harus puas menjadi runner-up. Peiode kedua ini mencapai akhirnya pada awal dekade 1980-an ketika liga-liga Eropa telah mengenal kontrak TV dan dimulainya era komersialisasi sepakbola, ditandai dengan terpecahkannya rekor transfer pesepakbola oleh Trevor Francis dari Birmingham City ke Nottingham Forest sebesar 1 juta poundsterling.

Mengapa klub-klub dari kota industri dapat melebihi prestasi klub-klub ibukota pada masa itu (bahkan hingga sekarang)? Penjelasan akan hal ini dapat ditarik jauh hingga ke awal Revolusi Industri. Di awal revolusi industri di Eropa, pusat-pusat aktivitas ekonomi tidak terjadi di ibukota, melainkan di kota-kota industri baru yang mayoritas dihuni oleh para imigran. Tersebutlah kota pelabuhan + industri macam Liverpool dan Manchester di Inggris yang dipenuhi imigran asal Irlandia, kota pusat industri otomotif Italia di Turin yang menjadi tujuan utama imigran asal Sisilia dan Napoli ataupun kota pusat bisnis di Milano, dan kota pusat ekonomi Jerman di Muenchen. Imigran-imigran ini meninggalkan identitas asal mereka dan mencoba meleburkan diri ke identitas baru dimana tempat mereka berdiam kini. They need something to root for and something to belong to. Sesuatu yang dapat memberi identitas pada mereka, menjadi kebanggaan kota tempat tinggal mereka, dan lepas dari bayang-bayang kebesaran nama ibukota. Pada kondisi inilah sepakbola menjadi tempat pelarian paling mumpuni. Suporter yang fanatik dan loyal, pemain lokal yang rela berdarah-darah untuk klub kebanggaan kotanya, dan dukungan finansial tanpa batas (dan nyaris tanpa syarat) dari pengusaha setempat menjadi aset fantastis bagi klub-klub kota industri ini, jauh melebihi apa yang dimiliki klub-klub ibukota dimana sepakbola bukanlah kebanggaan dan hal paling utama di mata warga mereka.

Dominasi klub-klub kota industri Eropa masih bertahan di era sepakbola komersial yang dimulai sejak pertengahan dekade 1980-an hingga sekarang. Namun bedanya dengan periode sebelumnya, kali ini mulai terlihat pola dominasi oleh klub-klub tertentu yang sebelumnya juga sudah pernah menjuarai Piala/Liga Champions. Pada periode ketiga ini, juara akan lebih cenderung jatuh kepada klub-klub asal kota industri yang relatif lebih besar dan lebih kaya, menyisakan sedikit kesempatan pada klub-klub semenjana dari kota yang lebih kecil. Meski diselingi dengan kemenangan FC Porto (1987), PSV Eindhoven (1988), Olympique Marseille (1993), dan Borussia Dortmund (1997) yang tergolong medium size industrial cities, namun klub-klub asal kota industri/pusat ekonomi besar Eropa tetap lebih unggul dalam hal prestasi. AC Milan, Real Madrid, Bayern Muenchen, Juventus, Manchester United, dan FC Barcelona bergantian mengisi pentas final Liga Champions dekade 1990-an dan 2000-an. Madrid kembali menjadi anomali karena menjadi satu-satunya klub asal ibukota yang berjaya di periode ini, namun hal ini bisa dijelaskan sebagai legacy kebesaran Real yang telah ada sejak era Jenderal Franco.

Lalu apakah tidak ada peluang bagi klub-klub ibukota/kota metropolitan Eropa untuk menyamai, atau bahkan mengungguli, prestasi klub-klub non-ibukota? Kuper dan Szymanski mengutip Hukum Zipf tentang aturan pertumbuhan proporsional untuk memprediksi bahwa kota-kota seperti London, Moskow, Paris, dan Istanbul cepat atau lambat akan memiliki klub yang menjuarai Liga Champions. Kali ini sumber kekuatannya bukan dari bekingan rezim fasis seperti era Franco dan Salazar, namun lebih ke mekanisme pasar bebas. Dalam era globalisasi sepakbola ini, pemilik modal akan menyasar klub yang memiliki brand awareness tinggi serta sumber daya yang memadai, dan itu dimiliki oleh klub-klub asal ibukota. Melihat fenomena ekspansi bisnis Roman Abramovich di Chelsea dan Sheikh Maktoum di Paris Saint-Germain, keyakinan akan munculnya dominasi klub-klub ibukota di kancah Eropa mulai menunjukkan buktinya. Nubuat Kuper dan Szymanski semakin mendekati kenyataan setelah Arsenal dan Chelsea menjadi finalis di tahun 2006 dan 2008, dan akhirnya mewujud dalam kemenangan Chelsea di tahun 2012. So does (city) size matter for European football’s silverware? Currently yes, in term of money and investment involved.

*now Mak Erot should give me incentive for this free endorsement*

World War Z (the book, not the movie)

Kapan terakhir kali tergugah untuk beli buku setelah nonton suatu film yang terinspirasi dari buku tersebut?

Waktu Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring pertama keluar awalnya saya penasaran pengen beli trilogi novel JRR Tolkien yg mendasari film itu, semata karena gak sabaran menunggu dua film lanjutannya. Tapi setelah melihat penampakan bukunya (edisi terjemahan bahasa Indonesia), langsung mundur teratur. Tebel dan kurang menggugah untuk dibaca karena kebanyakan nama tokoh Middle Earth yang susah dihapal. Kayaknya mending nunggu filmnya aja deh hehehe..

LoTR memang nampaknya pengecualian dalam hal adaptasi novel menjadi film (atau film yang terinspirasi dari novel. Same thing). Biasanya kan yang udah pernah baca suatu novel kemudian nonton film adaptasinya pasti langsung bereaksi negatif. Kurang dapet feel-nya lah, ceritanya disiingkat-singkat lah, castingnya gak cocok, dsb. Tapi sejauh ini saya nggak (baca: jarang) mendengar ada keluhan dari para pembaca terhadap adaptasi yang dilakukan oleh Peter Jackson. Seringnya malah dibilang melebihi ekspektasi dan mampu mewujudkan imajinasi dalam buku ke layar lebar.

Yang teranyar dengan kasus serupa kayak LoTR mungkin Life of Pi. Sisanya rata-rata pada bilang film adaptasi novel pasti lebih kacrut dibanding buku aslinya. Below expectation guaranteed. Eragon, Harry Potter (yang film-film awal pas masih dipegang Chris Columbus), Da Vinci Code, atau… Twilight (mungkin.. belom pernah baca & nonton soalnya :D) adalah contohnya. Dan korban kritikisme (halah, “criticism” padanannya apa ya?) paling mutakhir soal novel-jadi-film ini adalah World War Z. Secara umum, film ini cukup sukses di pasaran sih, bahkan sekarang udah jadi pemecah rekor pemasukan untuk film bergenre zombie. Saya pun udah nonton dan memvonis film ini bagus dan layak ditonton. Cuma buat orang yang udah pernah baca novelnya, cerita film ini dianggap terlalu menyimpang. Hanya mengambil tema besarnya saja tanpa mengikuti alur cerita yang disuguhkan oleh novelnya.

Saking penasarannya sama novel World War Z yang dibilang jauh lebih kompleks ceritanya daripada di film, saya akhirnya terhasut buat beli juga. Di toko-toko buku online rata-rata gak nemu ini buku, mungkin karena memang belum ada edisi terjemahan bahasa Indonesianya jadi cukup susah dicari. Apalagi di Gramedia yang isinya cuma buku-buku Dahlan Iskan/Jokowi/SuJu/One Direction/selebtwit.. Dipastikan gak ada. Tapi setelah browsing-browsing lagi, ternyata di Periplus Online bukunya ada dan, ini di luar perkiraan, tergolong murah untuk ukuran buku impor (gak nyampe 100 ribu).

ImageJangan tertipu penampakannya karena aslinya buku ini cukup mungil

World War Z: An Oral History of the Zombie War karya Max Brooks akhirnya tiba ke haribaan ibu pertiwi setelah ditebus dengan harga Rp 85.000 ++ dan menunggu 4 hari kerja. Sayangnya buku yang saya terima ini udah yang terbitan terbaru, covernya pake poster film World War Z, bukan yang versi orisinil. Jadi terkesan baru dibeli cuma karena termakan hype semata (haha, sisi hipster saya sedikit terusik :p). Bukunya ringkas dan mungil, cukup tebal (420 halaman), dan, kalo udah selesai dibaca, akan menjadi buku fiksi berbahasa Inggris kedua yang saya tamatkan setelah Dracula-nya Bram Stoker jaman SMA dulu.

Buku ini terdiri dari 8 chapter dengan diawali semacam introduction yang menceritakan asal muasal ‘hadirnya’ buku ini. Max Brooks sebagai penulis disini ceritanya berperan sebagai petugas penyusun UN Postwar Commission Report, sebuah komisi PBB yang dibentuk paska terjadinya perang dunia akibat merebaknya virus zombie. Alkisah, draft laporan awal yang disusun penulis ditolak untuk menjadi laporan akhir Komisi karena dianggap terlalu personal dan tidak layak untuk dijadikan suatu laporan resmi. Chairperson Komisi kemudian menyarankan agar kisah-kisah yang dihimpun penulis selama ia bertugas, yang  tidak mungkin dijadikan laporan akhir Komisi, sebaiknya dibukukan untuk menjadi dokumentasi alternatif yang lebih humanis. And the rest is history.

Cerita dalam World War Z dikemas dengan sangat runut, bermula dari chapter “Warnings” yang mengulas cikal bakal munculnya virus zombie. Dikisahkan kalau semua ini berawal dari Patient Zero, penderita pertama yang tercatat dalam rekam medis, yang ada di RRC (disini letak perbedaan pertama dengan versi film yang menyebutkan bahwa asal muasal virusnya dari Korea Selatan). Kisah bertutur dalam penggalan-penggalan wawancara Brooks dengan tokoh-tokoh terkait. Jadi buku ini semacam kumpulan sudut pandang dari berbagai macam orang dan profesi (ada kali 30-an lebih) yang tersebar di seluruh dunia. Enjoyable banget sih, apalagi 3 bab awal (“Warnings”, “Blame”, sama “The Great Panic”). Mungkin salah satu faktornya karena saya selalu penasaran sama situasi sebelum kondisi post-acopalyptic terjadi. Itu kan yang jarang dijelaskan dalam banyak cerita zombie populer (sebut saja: The Walking Dead). Film/TV series yang telah ada rata-rata lebih banyak bercerita tentang situasi setelah merebaknya virus dan penanggulangannya, bukan pada saat-saat awal kemunculannya.

Fantasi Brooks cukup liar. Disini dia menuturkan kalo paska Perang Dunia Z, waktu latar ketika ia melakukan wawancara, konstelasi politik global sudah berubah total. RRC telah menjadi United Federation of China, Federasi Rusia menjadi Holy Russian Empire, Lasha di Tibet jadi kota terpadat di dunia, sampe Israel yang mundur ke garis batas pra-1967. Bicara tentang Israel, mungkin satu-satunya yang konsisten antara kisah di buku dengan di film adalah bahwa Israel menjadi negara pertama yang menyadari ancaman global ini dan langsung menerapkan isolationist policy. Brooks juga  bisa membuat orang yang baca buku ini sadar kalo bahaya penyebaran virus mematikan ini, yang awalnya disebut “rabies Afrika”, tidak hanya bisa terjadi via cara-cara konvensional  seperti kontak fisik. Perdagangan ilegal organ tubuh ternyata juga bisa jadi medium yang ampuh buat menyebarkan wabah ke seluruh dunia! Di chapter-chapter awal ini Indonesia juga sempet sekali disebut tapi lupa di bagian mana. Yang pasti kita diceritakan udah gagal mencegah outbreak (why we don’t surprised, eh?).

Selepas chapter “The Great Panic”, tensi ketegangan mulai turun karena fokusnya sekarang beralih ke strategi negara-negara dunia untuk mengatasi penyebaran virus ini sekaligus mencegah kepunahan umat manusia. Buat saya chapter “Turning the Tide” sama “Home Front USA” rada monoton dan membosankan sih.. Bahasannya tentang Amerika melulu dan bahasa yang digunakan kebanyakan pake jargon-jargon khas G.I. yang nggak umum atau dialek American redneck hillbilly. Cerita baru mulai menarik lagi ketika masuk ke chapter “Around the World, and Above”. Isinya seputar gerakan resistensi dari pelbagai negara buat membebaskan wilyah mereka dari the undead. Yang paling saya inget dan jadi favorit saya adalah yang cerita di Jepang, yang tokoh utamanya otaku anti-sosial kelas berat. Terus juga yang testimoni penjaga DMZ Korut-Korsel. Dan yang paling epic: laporan pandangan mata dari Stasiun Luar Angkasa ISS ketika zombie outbreak terjadi dan selama World War Z. Ada juga kisah tentang segerombolan desertir militer RRC dan keluarganya di kapal selam nuklir yang bertahan hidup di kedalaman Pasifik. Lengkap semua sudut pandang dari segala penjuru bumi ada di sini: atas, bawah, timur, barat, utara, selatan (ada yang di Antartika juga).

Dua chapter tersisa: “The Total War” sama “Good-Byes” rasanya kayak tinggal untuk menggugurkan kewajiban aja hehe.. Gak minat lagi dibaca serius karena yang seru-serunya udah lewat. Setelah tuntas dibaca, rasanya keputusan untuk memfilmkan hanya sepenggal dari kisah asli yang tertera dalam buku cukup masuk akal. Karena kalo dibikin sama persis plek kayak yang di buku, durasi filmnya mungkin bisa mencapai 5 jam. Overall, buku ini menarik buat dibaca karena akan memberi banyak pengetahuan baru (oh so cliché..) dan cukup memberikan gambaran buruk menjurus traumatis kalo hal ini benar-benar kejadian di dunia nyata. Bayangin kalo tiba-tiba kasus flu babi/flu burung/SARS nongol lagi, dan kali ini merebaknya lebih cepat karena udah bisa human-to-human infection.. Bisa jadi apa yang dikhayalkan Max Brooks dalam buku ini kejadian beneran, dan itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun tetep, virus zombie itu bener-bener berada di level yang berbeda dari penyakit-penyakit tadi, karena seperti dikutip dalam salah satu fragmen di buku ini:

“All armies, be they mechanized or mountain guerilla, have to abide three basic restrictions: they have to be bred, fed, and led. … Bred, fed, and led; and none of these restrictions applied to the living dead.”

Yep, unlike those who suffers from SARS/AI who can only end up dead, zombie virus infection will end up initiated massive numbers of living dead, reanimated shortly after their death. And they can create ‘army’ of their own. And they will hunt you, me, and us. And that’s what scary about them.

So, let’s all together cancelling the apocalypse! *manasin jaeger* *salah film*

Membaca Pramoedya

 

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran,

 apalagi dalam perbuatan.”

 

Sebelum dicela, saya akan mengakui hal ini dulu: Ya, saya sangat telat. Ketika orang lain sudah mengkhatamkan Tetralogi Buru (atau bahkan mungkin berkali-kali) sejak bertahun-tahun lalu, saya baru sekarang ini berkesempatan membaca mahakarya Pramoedya Ananta Toer yang membuatnya berkali-kali dinominasikan menjadi peraih Nobel Sastra. Padahal beberapa dari buku ini dulu bertebaran dimana-mana: di kosan temen, di bazaar buku murah kampus, di toko2 buku sekitaran Kober (yang pastinya bajakan), dll., tapi entah kenapa dulu gak ada minat buat ngebaca, minjem, atau beli (hmm.. beli? i don’t think it’s an option back then… :p) 

Screenshot-6

I guess the second one :p

Persentuhan pertama saya dengan karya Pramoedya adalah buku pertama dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia. Belinya pun tanpa direncanakan, dibeli pas mampir di Gramedia Malioboro Mall. Mungkin aura Jogja sebagai kota pelajar berhasil menggerakkan hati saya untuk membeli buku ini. Bumi Manusia pun menjadi buku termahal yang pernah saya beli. Saya memang punya apresiasi yang rendah terhadap buku, meskipun pada dasarnya suka banget mbaca. Jadilah harga Rp 90.000 yang digunakan untuk menebus buku ini terasa sangat berlebihan untuk ambang batas harga wajar yang saya anut bagi sebuah buku (yaitu… gocap. #krik). Pembuktian kembali keabsahan Teori Relativitas Uang: di tempat lain (baca: mall dan tempat perayaan konsumerisme lainnya) uang 90 ribu bisa terasa sangat kurang, di toko buku terasa sangat berlebihan.

Pengorbanan itu terbayar tuntas. Saya yang sebelumnya mulai lupa tentang apa enaknya baca buku dalam bentuk fisik (bukan ebook berformat .pdf atau .epub) menjadi tersedot sedemikian rupa ke alam pikiran Bung Pram. Kemana saja saya selama ini??? Buku terakhir yang bisa membuat saya terlarut macam begini itu Rahasia Meede karya E.S. Ito, dan ia pun disebut-sebut orang sebagai “Pramoedya Baru”. Aneh juga waktu itu bisa-bisanya saya gak tergerak buat nyari karya Pram buat sekadar melakukan komparasi. Jika “Pramoedya Baru” aja bisa membuat saya terkesima, apalagi kalo Pramoedya beneran?

Ketekunan mengikuti kisah Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, dkk. membuat saya bisa mengkhatamkan Bumi Manusia dalam waktu kurang dari seminggu. Sebuah prestasi jika mengingat minimnya waktu yang tersedia untuk bisa membuka buku ini kecuali di dalam KRL sepulang kerja atau pas weekend. Sialnya, ketika hasrat untuk menyelesaikan tetralogi ini sampai tuntas masih menggebu-gebu, ternyata ketersediaan buku lanjutannya di toko buku mainstream sangat terbatas. Walhasil, solusi berupa pembelian online pun menjadi obat penawar yang cukup memuaskan. Meskipun ternyata harga paket Tetralogi Buru yang sudah di-bundling lebih murah daripada beli ketengan… *nasib*

Img_20120526_225251

Totally worth the price!

Pembacaan terhadap keempat karya Pramoedya yang lahir semasa kegetiran penahanan tanpa pengadilan di pulau Buru membuat saya berada di posisi yang sulit untuk menentukan mana karya terbaiknya. Awalnya, saya menempatkan Bumi Manusia di urutan teratas mengingat suspense yang dibangun, cerita yang mengalir tanpa putus, dan mungkin juga karena waktu itu belum ada perbandingan dengan tiga buku lainnya (fyi, saya membaca tetralogi ini secara linear, sesuai urutannya gak melompat-lompat). Namun, buku terakhir, Rumah Kaca, meninggalkan kesan yang serupa dengan kesan saya terhadap Bumi Manusia. Rumah Kaca menawarkan sudut pandang baru untuk melihat tiga rangkaian cerita sebelumnya, memiliki bahasa yang lebih sinis dan getir, serta menyuguhkan lebih banyak fakta sejarah yang bisa dirujuk ulang. It’s a close call between Bumi Manusia and Rumah Kaca , but i tend to rate the last a bit higher. Yang pasti, dari keempat buku ini, bisa dibilang yang agak membosankan cuma Jejak Langkah. Di samping menjadi yang paling tebal, Jejak Langkah juga lebih banyak berisi monolog pergumulan ide Minke yang membuat mata malas berlama-lama membaca. Untuk Anak Semua Bangsa ya bisa dibilang rata-rata air.. Nggak “meh”, tapi juga nggak “wow”.

Apa yang membuat Tetralogi Buru begitu memukau? Secara subjektif saya bisa berpendapat kalo Pram berbagi keresahan yang sama terhadap saya sebagai sesama orang Jawa yang muak dengan praktik-praktik feodalisme yang masih jamak terjadi di sekitar lingkungan. Saya bisa begitu mudahnya mengidentifikasi diri pada sosok Minke, sebagaimana Pram telah melakukannya terlebih dahulu. Kebencian Minke (yang notabene adalah seorang priyayi) atas praktik feodalisme priyayi Jawa yang kebangetan pada jamannya terangkum dalam fragmen di Bumi Manusia sebagai berikut:

Sungguh, teman-teman sekolah akan mentertawakan aku sekenyangnya melihat sandiwara bagai mana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang harus berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-nenek moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?           

  Atau ini:

Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang anthusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi ummat manusia. Dan entah berapa kali lagi aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah–pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.                                                             

Tetralogi Buru juga suatu karya yang sangat menggugah rasa nasionalisme yang gak klise. Nasionalisme yang dimiliki oleh para pendiri bangsa: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, dkk. Mengingatkan saya bahwa sesuatu yang awalnya terlihat utopis, jika diperjuangkan sungguh-sungguh niscaya akan berhasil, sebagaimana kemerdekaan Indonesia, atau lebih mendasar lagi, mampunya penduduk Hindia untuk memerintah diri sendiri, berdiri mandiri terlepas dari kuasa Kerajaan Belanda. Sebagai penggemar dan pemerhati sejarah kolonial juga rasanya sangat terpuaskan dengan deskripsi Pram atas suasana ko
ta-kota di Hindia Belanda pada saat itu. Misalnya yang paling saya inget di awal Jejak Langkah ketika Minke baru tiba di Batavia dan naik trem menuju STOVIA. Membuat saya teringat kembali lamunan setiap kali naik Kopaja P-20 dari Senen ke arah Kuningan yang melewati banyak situs-situs bersejarah zaman Hindia Belanda — dari Waterlooplein, Katholiekskerk, Willemskerk, Koningsplein, dst.

Alasan lainnya untuk menyukai buku ini adalah rasanya semua kalimat di buku-buku ini bisa dijadikan quote trus di +1-in, seperti beberapa yang dinukilkan di bawah ini:

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.” – Bumi Manusia

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusans etiap orang yang berpikir.” – Anak Semua Bangsa

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri” – Anak Semua Bangsa

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Anak Semua Bangsa

“Apa bisa diharapkan dari mereka yang hanya bercita-cita jadi pejabat negeri, sebagai apapun, yang hidupnya hanya penantian datangnya gaji?” – Jejak Langkah

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” – Rumah Kaca

“Seorang tanpa prinsip adalah sehina-hina orang manusia. Setengik-tengiknya.” – Rumah Kaca

Yang jadi pertanyaan saya sampe sekarang, dimanakah nilai-nilai Komunisme/Marxisme/Leninisme yang dituduhkan rezim Orba terhadap rangkaian buku ini sehingga dilarang beredar? Memang ada beberapa bagian yang menampilkan tentang Sneevliet dan Semaoen, tapi rasanya gak signifikan terhadap bangun cerita yang disusun. Dari awal membaca hingga tuntas pun gak ada sekalipun kalimat Pram yang secara spesifik menyebutkan kata-kata sakral tentang komunisme dan teman-temannya. Yang paling mendekati menurut saya cuma ini:

Sahaya hanya ingin jadi manusia bebas, tidak diperintah, tidak memerintah, Bunda. (Minke – Bumi Manusia)

Hmmm… “manusia bebas”, “tidak diperintah, tidak memerintah”… ini sih lebih deket ke Anarkisme, bukan sama rata-sama rasa-nya Komunisme… Tapi rada mirip juga sama konsepsi masyarakat tanpa kelas.. Mungkin Orba waktu itu ngelarang peredaran buku-buku ini karena merasa kegeeran, seolah-olah sosok Gubermen lalim yang diceritakan disini adalah mereka. Atau bisa juga buku-buku ini dikhawatirkan bisa memantik kesadaran rakyat untuk melawan ketidakadilan, membuat rakyat menjadi terbuka pikirannya dan berbalik melawan otoritas. Wallahualam bisshawab.

Jadi, adakah alasan untuk tidak membaca buku-buku ini? Tidak ada, dan akan lebih afdhol lagi jika dibeli. Selain bermanfaat menjadi jendela dunia, setelah selesai dibaca buku-buku ini cukup mumpuni untuk dijadikan bahan pajangan di rak buku guna menunjukkan intellectual snobbery di depan tamu *seperti yang juga akan saya lakukan hehe..*. Kalau untuk saya sendiri, paling tidak saya bisa mewariskan salah satu (atau salah empat?) karya sastra terbaik bangsa yang telah diakui dunia kepada anak cucu kelak. Mudah-mudahan mereka dapat lebih awal mengenal karya Pram ini daripada leluhurnya, sehingga pemahaman atas nilai kebangsaan dan perjuangan kebangkitan nasional dapat tertanam lebih dini.

 

Deposuit potentes de sede et exaltavat humiles. Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikkan mereka yang terhina.