Putih: Cara Syahdu Mengingat Kematian

Ketika saya menulis postingan ini, entah sudah berapa puluh kali saya memutar lagu dari Efek Rumah Kaca berjudul Putih. Lagu sepanjang hampir 10 menit yang hanya bisa diungkapkan dengan dua kata: luar biasa.

Sejatinya Putih terdiri dari dua fragmen: “Tiada (untuk Adi Amir Zainun)” dan “Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)”. “Tiada” bercerita tentang kematian, garis finish hidup seorang manusia di dunia yang fana, sebelum masuk fase kekekalan abadi. “Ada” sebaliknya, berkisah tentang lahirnya kehidupan baru, siap mengarungi bahtera kehidupan yang penuh hal tak terduga.

Hal paling mencolok selama “Tiada” adalah kehadiran narator yang seolah berperan sebagai si almarhum yang kisah akhir hidupnya sedang dinyanyikan oleh Cholil. Sangat sulit untuk tidak merinding ketika mendengarkan bagian-bagian awal “Tiada” dinarasikan. Untuk kemudian ‘ditampar’ oleh lirik berikut:

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan

Damn, “Tiada” bisa menjadi lagu pengingat kematian paling powerful menggantikan posisi Bila Waktu T’lah Berakhir-nya Opick yang tak henti-hentinya dimainkan infotainment setiap ada selebritis Indonesia yang meninggal. Tapi sayang kemungkinannya kecil, karena “Tiada” lebih bernuansa keikhlasan menerima kematian yang merupakan kodratnya manusia. Lebih nrimo. Tidak memiliki pretensi untuk bersesal-sesal atas datangnya hari-H itu karena amalan yang (dirasa) belum cukup dan kesepian abadi yang menanti di dalam kubur karenanya. Sebuah kesan yang sulit diterima oleh mayoritas masyarakat NKRI yang ultra-religius ini.

Lalu kemudian tiba saatnya “Ada” menggantikan “Tiada”. Gugur satu, tumbuh seribu. Mereka yang pergi digantikan oleh generasi baru, menandakan sebuah harapan tentang kehidupan. “Ada” mampu memainkan emosi: di satu sisi menyiratkan asa dan optimisme akan hadirnya hidup baru, di sisi lain juga berbicara tentang kekhawatiran soal kehidupan yang akan dijalani nantinya. Satu setengah menit terakhir “Ada” menurut saya merupakan bagian terbaik dari “Putih”, baik dari segi musik maupun lirik.

Saya tidak dapat menepis kesan kalau Putih sangat mirip dengan Satu Satu dari Iwan Fals. Tentunya mirip di sini bukan dalam hal karya produksi, tapi kesamaan pesan yang disampaikan kedua lagu. Tentang kematian dan kehidupan yang hadir di saat yang bersamaan. Tentang kehilangan dan kedatangan. Tentang keniscayaan. Keikhlasan. Dan sebagainya. Keduanya luar biasa dalam caranya masing-masing.

Oh btw, single Putih ini memang dirilis di Soundcloud dan bisa langsung diunduh di sana. Gratis. Tapi sepertinya album ketiga ERK ini layak mendapat apresiasi lebih. Mungkin rilisan fisiknya patut dipertimbangkan untuk dimiliki begitu keluar nanti.

 

*ngomong ke diri sendiri*

#sixtydaysoftaiwan

Dulu saya pernah berniat bikin photoblog. Biar disegani warga sekitar kayak orang-orang. Namun niatan itu kandas karena terbentur kenyataan pahit: hidup saya lumayan monoton. Tidak banyak yang layak dijadikan objek foto. Gak kayak para photoblogger papan atas yang menjalani hari ke hari dengan wah dan selalu menemui hal baru. Gak mungkin kan setiap hari cuma upload foto-foto seputar KRL dan para penumpangnya? *mungkin aja sih* *monolog*

Tapi dua bulan lalu akhirnya saya menemukan momen yang pas untuk memulai suatu photoblog. Bukan di WordPress, melainkan di Instagram. Medium yang lebih nyaman dan mumpuni untuk berbagi produk visual yang diambil dengan kamera pas-pasan (because… filters!!). Lengkapnya bisa dilihat di tagar #sixtydaysoftaiwan di Instagram. Awalnya hanya dimaksudkan sebagai penghitung hari, untuk mengusir kebosanan dan rasa homesick akibat durasi training di Taiwan selama dua bulan yang (awalnya) dirasa kelamaan. Pun juga merasa akan kesulitan mencari objek foto yang bukan itu-itu aja selama dua bulan tersebut. Namun makin mendekati akhir masa training justru makin sulit memilih mana foto yang layak untuk dijadikan pic of the day saking banyaknya foto yang diambil semasa (kurang lebih) 60 hari di Taiwan.

Hashtag (yang seakan jadi) milik sendiri di Instagram

Tidak semua foto di #sixtydaysoftaiwan diambil pada hari yang sama dengan yang tertera di caption. Ada yang sifatnya insidental, langsung dijepret (aih bahasanya) dan diunggah pada hari yang sama. Biasanya ini kejadian waktu nemu objek foto unik nan mencengangkan pada saat-saat field trip dan plesiran ke luar kota. Tapi kebanyakan diambil pada satu hari tertentu, terutama weekend, untuk kemudian diunggah pada 5 hari kerja berikutnya :D Sedikit licik memang, tidak mencerminkan kondisi pada hari yang tertera di caption. Tapi itu semata demi mendukung keragaman suasana yang ditangkap dalam foto (kalo nggak, fotonya bakal cuma tentang kehidupan di sekitar asrama training centre doang).

Jadi, yah begitulah… Bisa disimak di slideshow berikut. Petualangan saya selama +/- 60 hari di Taiwan yang terekam dalam gambar (kecuali Day 31 yang urung dimasukkan karena berbentuk video).

This slideshow requires JavaScript.

Menjajal Taiwan HSR

Kesempatan memang terkadang datang tanpa dinyana dan tak terduga. Hanya dalam kurun waktu setahun setelah saya menuntaskan salah satu obsesi saya sebagai seorang self-proclaimed railfan, kini saya juga mampu mencoret satu lagi bucket list di dunia perkeretaapian. Sabtu lalu akhirnya saya berkesempatan menjajal kecepatan super Taiwan High Speed Rail (THSR) dari Stasiun Zuoying di pinggir Kota Kaohsiung menuju Hsinchu, kota tempat tinggal saya selama dua bulan belakangan. THSR berbeda dari bullet train-bullet train di negara-negara lain karena ini adalah ekspansi perdana sistem operasional beserta electric multiple units (EMU) Shinkansen, sang pionir teknologi bullet train, ke luar Jepang. Bisa dibilang menumpangi THSR 99% serupa dengan menumpang Shinkansen. Yang berbeda cuma lokasinya doang.

Wacana pembangunan bullet train di Indonesia sempat marak sebulan belakangan, meskipun kemudian berakhir secara anti klimaks. Rencana pembangunan bullet train Jakarta-Bandung diperebutkan oleh Tiongkok dan Jepang namun berujung pada kekecewaan karena pemerintah hanya mau proyek ini bersifat B-to-B, tanpa adanya pendanaan dari pemerintah. Di satu sisi, pembatalan ini bisa dimaklumi karena rute Jakarta-Bandung terlalu pendek bagi sebuah kereta cepat untuk menunjukkan performa puncaknya. Belum ditambah dengan beberapa pemberhentian di tengah-tengah rute yang membuat jarak tempuh Jakarta-Bandung dengan bullet train cuma unggul tipis dari perjalanan via Tol Cipularang. Tapi di sisi lain, pembatalan ini juga membuyarkan impian sebagian orang, termasuk saya, untuk mencicipi layanan kereta cepat di tanah air sendiri. Membangun jaringan bullet train memang bukan perkara yang murah (dan mudah) karena harus dibangun di jalur dedicated yang steril dari persilangan dengan jalan raya atau gangguan lainnya. Bayangkan berapa biaya yang dibutuhkan jika dari Jakarta-Surabaya terbentang ratusan kilometer jalan layang khusus untuk kereta ini menyusuri pantai utara Pulau Jawa. Belum ditambah pembangunan fasilitas pendukung seperti stasiun, depo, dan jaringan kelistrikan. Jadi mungkin keputusan pemerintah sudah tepat (untuk saat ini) dan semoga jika terlontar wacana serupa di masa mendatang bukan lagi sekadar PHP seperti sekarang.

Kembali ke THSR, jaringan kereta cepat ini terbentang dari ibukota Taipei di utara Pulau Formosa hingga Kaohsiung di ujung selatan. Well, technically speaking, tepatnya bukan di Kota Kaohsiung sih, tapi di distrik Zuoying, kawasan sub urban utara Kaohsiung. Perjalanan saya lakukan setelah melakukan trip seharian keliling Kaohsiung. Lokasi Stasiun HSR Zuoying nempel dengan Stasiun MRT dan Stasiun TRA (kereta api reguler) yang juga bernama sama. Stasiun ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari salah satu objek wisata terpopuler di Kaohsiung: Lotus Pond dengan pagoda kembarnya. Cuma memang agak jauh, sekitar 2 km-an atau bahkan lebih. Tapi sangat mudah ditemukan, cukup ikuti jalur pedestrian sepanjang rel kereta api.

IMG_20150919_145621791

Mendekati Stasiun HSR Zuoying

IMG_20150919_145748844_HDR

Stasiun terminus yang cukup besar, terdiri dari 3 lantai dengan peron yang terletak di lantai dasar

IMG_20150919_150137940

Masuk melalui Entrance/Exit 3. Jika keluar melalui pintu ini, akan langsung bisa dijumpai deretan bus Kenting Express terparkir di seberang jalan yang siap mengantar ke Kenting National Park.

Di setiap stasiun HSR di Taiwan tersedia dua macam metode pembelian tiket: (1) langsung melalui kounter penjualan, dan (2) melalui vending machine. Penjualan tiket di kounter biasanya selalu diwarnai antrian panjang karena juga melayani penukaran tiket yang telah dipesan via internet/convenience store maupun tiket untuk kelompok besar. Sedangkan vending machine biasanya lebih sepi, mungkin salah satunya karena banyak orang yang enggan (baca: takut) melakukan transaksi bernominal besar melalui mesin tersebut.

IMG_20150919_150706439

Deretan ticketing vending machine di Stasiun HSR Zuoying. Ada yang hanya menerima pembayaran non tunai melalui kartu debet dan kredit, ada juga yang menerima tunai dan non tunai.

IMG_20150919_150717842_HDR

Navigasi cara pembelian tiket THSR melalui vending machine terhitung sangat mudah. Jika sudah terbiasa membeli tiket single trip MRT pasti akan piawai menggunakannya.

IMG_20150919_150757690

Tiket non-reserved seat jurusan Zuoying-Hsinchu, dengan tempat duduk di gerbong 10 hingga 12 seharga TWD 1270 (TWD 1 = Rp 440) yang cukup menguras isi dompet. Tidak ada nomor bangku di tiket ini karena emang sifatnya non-reserved (secara lebih murah, huhu). Juga tidak ada nomor kereta dan jadwal keberangkatan. Valid selama digunakan pada tanggal pembelian.

IMG_20150919_150805202

Stasiun HSR Zuoying yang cukup ramai di kala wiken

Tiket THSR berbentuk kartu tipis ber-magnetic stripe yang cukup diselipkan di mesin pembaca di tiap-tiap gate in untuk diambil kembali setelah melewatinya. Nanti di stasiun tujuan kembali ulangi langkah yang sama dan tiketnya bisa disimpan, alih-alih ditelan oleh mesin di gate out. Tidak ada pemeriksaan tiket di dalam kereta. Yang ada cuma penjaja makanan resmi yang mondar-mandir ke tiap gerbong, itu pun lebih banyak berupa minuman dingin maupun panas (tidak ada nasgor sayangnya).

IMG_20150919_151248115

Turun ke peron di lantai dasar….

...dan nemu ini. Dua! :)

…dan nemu ini. Dua! :)

IMG_20150919_151052973_HDR

Sayangnya masih verbodden. Lagi dibersihin.

Di dalam gerbong non-reserved seat. Formasi tempat duduk 3-2. Terhitung sepi, jadi bisa seenaknya pilih tempat duduk yang dipengenin.

Ada vending machine di tiap sambungan antar gerbong

Ada beverages vending machine di beberapa sambungan antar gerbong

Denah rangkaian kereta

Denah rangkaian kereta. 12 gerbong: 1 gerbong kelas bisnis, 8 gerbong standar reserved seat, 3 gerbong standar non-reserved seat.

Sayangnya tidak ada colokan, jadilah power bank menggantikan fungsinya. Juga tidak ada wi-fi on-board, padahal di beberapa review dibilangnya ada. Mungkin cuma untuk kelas bisnis.

Sayangnya tidak ada colokan, jadilah power bank menggantikan fungsinya. Juga tidak ada wi-fi on-board, padahal di beberapa review dibilangnya ada. Mungkin cuma untuk kelas bisnis.

Perjalanan dari ujung ke ujung (Zuoying – Taipei) konon mampu ditempuh hanya dalam waktu 90 menit. Tapi ternyata itu dengan ketentuan: kereta yang dinaiki adalah yang hanya berhenti di dua pemberhentian: Taichung (kota terbesar ketiga di Taiwan) dan Taoyuan (C.K.S. International Airport). Jadi hanya berlaku untuk THSR ‘versi ekspres’ yang jadwal keberangkatannya terhitung lebih banyak. Sedangkan untuk THSR ‘versi reguler’ yang singgah di lebih banyak pemberhentian (termasuk di Hsinchu), otomatis waktu tempuhnya menjadi lebih molor. Kayak kereta yang saya tumpangi yang menempuh 1 jam 20 menit dari Zuoying ke Hsinchu. Frekuensinya pun relatif lebih jarang, bisa cuma 1 jam sekali.

Untuk soal kecepatan tentu tidak diragukan lagi. Saya merasakan sendiri akselerasi dari sesaat setelah berlepas dari stasiun hingga mencapai kecepatan penuh. Sungguh takjub melihat tiang-tiang penyuplai aliran listrik di sisi rel yang tadinya tegak berdiri perlahan terlihat makin doyong seiring percepatan laju kereta. Semua terjadi nyaris tanpa suara bising dan goncangan yang signifikan. Ilustrasinya bisa dilihat pada video berikut yang diambil beberapa saat setelah kereta meninggalkan Stasiun Chiayi menuju Taichung:

 

Lalu bandingkan dengan video yang diambil waktu kereta (sepertinya) mencapai kecepatan penuh) ini:

 

Dengan top speed berkisar 300 km/jam, maka tidak mengherankan jika jarak Zuoying ke Taipei bisa ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam. Sebagai perbandingan, jarak yang sama jika ditempuh menggunakan bus yang berjalan di atas jalan bebas hambatan akan memakan waktu sekitar 5 jam. Jika diaplikasikan di Indonesia (Pulau Jawa khususnya), maka jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu hanya sekitar 3 jam. Saat ini, bahkan dengan Argo Bromo Anggrek, kereta tercepat yang dimiliki PT KAI, waktu tempuh 3 jam hanya mampu menempuh jarak dari Jakarta ke Cirebon. Sungguh akan menjadi kompetitor berat para maskapai penerbangan tanah air di masa mendatang.

IMG_20150919_170116290_HDR

Tepat pukul 17.00 kereta memasuki Stasiun HSR Hsinchu. Pemberhentian terakhir di Taipei hanya berjarak dua stasiun lagi.

Naik kereta sleeper class lintas negara udah, Shinkansen (meskipun cuma versi KW super) juga udah.. (#riya) Yang belum kesampean berarti tinggal naik Trans Siberia dari Vladivostok ke Moskow. Untuk yang satu ini kayaknya emang obsesi yang ketinggian :)) Mungkin perlu direvisi menjadi ‘hanya’ menempuh jarak dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, yaitu dari Merak ke Banyuwangi. Atau, berhubung telah merasakan kecepatan 300 km/jam, mungkin kini saatnya meningkatkan level bucket list ke tingkatan yang lebih tinggi: menjajal maglev (magnetic levitation) train yang memiliki kecepatan hingga lebih dari 600 km/jam (mampus gak tuh..) di Eropa atau Jepang sana. Semoga bukan angan yang ketinggian. Semoga.

Tentang Taiwan

Sejak awal Agustus ini saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah training yang diselenggarakan Kementerian Perekonomian Taiwan. Penugasan dari kantor ini rupanya gak sebentar, hampir dua bulan. Biasanya yang namanya international training durasinya gak nyampe dua minggu, atau mentok-mentok sebulan. Tapi buat saya yang kebetulan belum pernah menempuh studi di luar negeri, kesempatan dua bulan di negara orang ini udah lumayan banget buat nambah pengalaman. Apalagi di program training ini pesertanya gak cuma para PNS Taiwan tapi juga ada partisipan dari 10 negara lainnya (termasuk Indonesia, tentu saja). Bisa melatih kemampuan berbahasa Inggris yang tak seberapa dan juga merasakan hidup sebagai global citizen (ciee gitu).

Kota tempat program training ini berlangsung (sayangnya) bukan di Taipei, melainkan di Hsinchu, kota kecil berjarak 1 jam perjalanan dari ibukota. Kota yang mungkin masih sangat asing namanya bagi orang Indonesia tapi cukup populer di kalangan orang Taiwan sendiri karena keberadaan 2 universitas negeri favorit: National Tsing Hua University (NTHU) dan National Chao Tung University (NCTU). Iya, Hsinchu ini bisa dibilang semacam kota pelajarnya Taiwan. Mungkin itu juga yang membuat Kementerian Perekonomian Taiwan membangun pusdiklatnya di sini. Hsinchu juga dikenal sebagai Sillicon Valley-nya Taiwan akibat keberadaan mayoritas perusahaan-perusahaan ICT terkemuka asal negara tersebut yang berkantor dan memiliki industri manufaktur di kota ini.

Hampir satu bulan mengenyam pendidikan di Hsinchu membuat saya  merasa cukup menyelami seluk beluk kehidupan sehari-hari warga Taiwan (*tsaelah*). Secara umum, karakter orang Taiwan itu salah satu yang paling baik di dunia. They’re not just really nice, but like GENUINELY NICE people. Mungkin kendala utama mereka hanya masalah bahasa karena jarang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar sehingga kadang ada juga yang menjaga jarak dengan orang asing. But, once the language barrier removed, they will try their best to be your close friend.

Jika karakter manusia dianggap sebagai suatu hal yang subjektif dan tidak bisa merepresentasikan gambaran umum masyarakat Taiwan secara keseluruhan, maka berikut saya rangkum beberapa fakta tentang Taiwan yang didapat dari hasil ngobrol dan observasi pribadi selama sebulan ini:

1) Seperti halnya di Korea Selatan, Israel, atau Singapura, para pemuda Taiwan (pemudi excluded) diwajibkan untuk mengikuti satu tahun wajib militer (atau di sini disebutnya “military service”). Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, peserta  wajib militer ini rupanya tidak harus berdiam di barak dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan terkait angkatan perang selama masa bakti satu tahun tersebut. Beberapa ditempatkan di sekolah, kantor pemerintahan, dinas sosial, dsb. Semacam magang aja jadinya. Seperti salah satu officer yang ditugaskan di pusdiklat sini yang bertugas sebagai semacam liaison officer bagi para partisipan asing. Kebetulan karena dia juga sangat fasih berbahasa Inggris (pemegang paspor AS dan Taiwan) jadi diuntungkan dengan kemampuannya tersebut dan dapat slot khusus dalam penempatannya. Sedangkan buat yang tidak memiliki talenta khusus, nasib penempatannya ditentukan dengan cara diundi. Kalo lagi apes ya kedapatan bertugas di perbatasan dan garis depan setiap uji coba militer. Sometimes life just isn’t fair :)

2) Di Taiwan, jarang sekali warganya menyebut RRT dengan nama resminya: People’s Republic of China. Mungkin karena memang masih merasa sebagai pemilik klaim sah atas penamaan “Republic of China” yang telah berdiri sejak tahun 1911 dulu. Istilah yang umum digunakan di sini untuk merujuk tetangga sekaligus saudaranya itu adalah “Mainland (China)”. Tidak berhenti pada keengganan penyebutan nama, orang-orang di sini juga mayoritas antipati terhadap segala hal yang berbau Tiongkok daratan, terutama turis-turisnya yang konon OKB tapi jorok dan ndeso. Selera warga Taiwan lebih berkiblat ke Jepang, suatu hal yang mungkin dipengaruhi akibat cukup lamanya menjadi koloni negara tersebut (awal abad 20 s/d 1945). Sulit ditemui orang Taiwan yang menggunakan produk-produk (elektronik, ICT, kendaraan bermotor, you name it) Made In China. Bahkan tahun lalu para mahasiswa di sana sampe menduduki gedung parlemen untuk menolak penandatanganan FTA antara RRT dan Taiwan. Emang bukan cuma karena rasa antipati doang sih, lebih karena mereka merasa FTA tersebut akan merugikan Taiwan secara ekonomi, tapi bisa menggambarkan gimana sensitifnya hubungan antara Taiwan dengan negara jirannya itu. Googling aja Sunflower Student Movement atau bisa dilihat di sini.

3) Negara ini terhitung cukup hipster karena menolak penggunaan sistem penanggalan internasional. Saat ini di Taiwan masih tahun 104, dihitung dari pendirian Republik Tiongkok pada tahun 1911 oleh Dr. Sun Yat Sen yang mengakhiri berabad-abad kekuasaan monarki di sana. Cuma tahun aja sih yang beda, tanggal dan bulan masih menggunakan kaidah mainstream yang digunakan di belahan dunia lainnya. Jadi inget jama’ah Gereja Maradona di Argentina yang menggunakan tahun kelahiran Diego Maradona sebagai awal penanggalannya :)) (atau juga, ga usah jauh-jauh, sistem penanggalan Hijriah).

2015 Masehi = 104 Tahun Taiwan (TT) *singkatannya ga enak*

2015 Masehi = 104 Tahun Taiwan (TT) *singkatannya ga enak*

4) Meskipun hampir tiada hari tanpa babi di menu sehari-hari orang Taiwan, tapi ternyata makanan nasional mereka adalah hidangan yang (bisa dibilang) halalan toyyiban. Beef Noodle kerap dianggap sebagai duta besar kuliner Taiwan. Kalo di Indonesia mungkin semacam soto mi: isinya mi dicampur tauge dan potongan-potongan daging sapi lalu disiram kuah kaldu sapi yang pekat karena bumbu di dalam mangkok gede dan dihidangkan bersama acar. Porsinya kuli banget dan rasanya emang enak (tapi tergantung yang masak juga sih). Jika berkantong pas-pasan, beef noodle juga banyak tersedia dalam bentuk kemasan instan dengan rasa yang tidak jauh berbeda. Rata-rata dijual seharga NTD 40-50 (sekitar 16-20 ribu rupiah).

Solusi Beef Noodle murah meriah

Solusi Beef Noodle murah meriah

5) Kalo untuk minuman nasional, rasanya semua akan sepakat untuk menobatkan bubble tea drinks. Keberadaan kedai bubble tea di Taiwan bisa dibandingkan dengan warung rokok di Indonesia: tiap 100 meter ada. Beragam franchise dengan beragam pilihan isian dan kombinasi rasa tersedia. Konon  varian minuman ini memang diciptakan pertama kali di Taiwan. Menjamurnya kedai bubble tea ini juga didukung kebiasaan warga sini yang (sepertinya) ogah kalo minumannya polos macam akuwa dan sebangsanya. Jadinya di tiap keramaian selalu terlihat orang-orang pada megang gelas gede berembun dengan sedotan gede ala pop ice. Cukup mengintimidasi buat turis-turis berbudget minimalis seperti saya yang cuma bermodal botol air mineral kosong dan kemana-mana nyari drinking water dispenser buat isi ulang :(

Kedai bubble tea macam ini menjamur hingga pelosok. Tapi gak cuma jualan teh doang, kadang juga jus buah, kopi, dan minuman panas

6) Sikap warga Taiwan terhadap ‘bencana alam’ typhoon yang kerap mendera mungkin sama kayak sikap warga Kampung Pulo terhadap banjir. Saking seringnya jadi udah terbiasa dan dianggap angin lalu. Gak ada persiapan khusus untuk menyambut datangnya angin topan, paling cuma wanti-wanti kalo nanti mungkin bakal mati listrik sebentar. Seperti awal Agustus lalu ketika Typhoon Soudelor, topan berkekuatan terbesar dunia tahun ini, menghantam Taiwan. Kita-kita para peserta asing yang seumur hidup belom pernah ngerasain typhoon  parnonya setengah mampus, sampe nyetok makanan banyak-banyak seolah-olah besok kiamat. Ketika topan menghantam Hsinchu malam hingga dini hari pada gak bisa tidur karena (menurut kami) angin berhembus begitu kencang dan berputar-putar di atas gedung dormitory *takut gentengnya pada copot*.  Eh para Taiwanese classmates pas diceritain malah pada ngakak ngetawain kenorakan kami. Di Taipei sendiri yang kerusakannya lebih parah, 2 buah bus surat yang jadi doyong karena typhoon malah jadi objek wisata baru… -_-

2B3A5AD100000578-0-image-a-5_1439198634054

Taiwanese… Why??

2B399F4F00000578-0-image-a-44_1439200831214

7) Satu hal yang menurut saya sangat menarik di Taiwan adalah ihwal “English name”. Jadi di Taiwan bukanlah hal yang aneh jika seseorang mengadopsi ‘nama Inggris’ sebagai nama depannya sebagai alias atas ‘nama Cina’-nya. Contohnya para personel F4 lah: Jerry Yan, Vannes Wu, Vic Zhou, dan satu lagi saya lupa :p. Biasanya ini digunakan karena tuntutan pekerjaan (kantornya banyak berhubungan dengan warga negara asing yang sulit menghapal nama-nama asli mereka) atau emang karena pengen aja biar terkesan G4UL, penuh nuansa modernitas dan sangat kekinian. Tapi yang saya baru tau setelah berada di sini adalah: pemilihan nama Inggris untuk diadopsi sebagai nama depan itu sifatnya random abis. Suka-suka dia aja, yang sekiranya dianggap cool, keren, dan cocok. Tanpa ada pola tertentu berdasarkan kemiripan pelafalan kayak di Indonesia (Liem Sioe Liong = Sudono Salim, Tan Oei Hok = Tanoto something, dsb.) Bahkan temen saya bilang dia bebas aja nanti kalo mau ganti nama Inggris dia sekiranya udah bosen (atau sudah tidak trendy dan kekinian lagi), karena toh segala dokumen kependudukan dan identitas pribadi dia menggunakan nama asli  yang mana daripada itu merupakan nama khas Tiongkok. Jadi bisa aja sekarang dia minta dipanggil “Kevin”, tapi tahun depan ganti jadi “Richard”. Lah ngapah bisa gitu yaaakkk… :)))

8) Warga Taiwan secara umum sangat meneladani slogan Haornas era Menpora Hayono Isman: Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga. Orang-orangnya sporty-sporty banget, jarang ditemui orang Taiwan yang overweight apalagi obesitas. Tidak cukup hanya jogging di pagi hari, mereka juga melakukannya di sore hingga malam hari dan terkadang disambung olahraga lain macam basket atau pingpong. Heran, kapasitas paru-parunya berapa cc dah? Oh iya, sepakbola sangat tidak populer di sini. Bola basket dan baseball adalah cabang olahraga utama yang digilai penduduk Taiwan. Perbandingan orang-orang yang make jersey NBA vs jersey klub-klub liga ternama Eropa di tempat-tempat keramaian sepertinya 10:1. TV-TV lokal maupun satelit di sini pun gak ada yang nyiarin liga-liga Eropa tiap weekend. Gak ada yang bisa diajak ngobrol seputar isu lapangan hijau maupun si kulit bundar (ala-ala editorial Harian TopSkor). Saking butanya terhadap kancah belantika persepakbolaan dunia, pernah saya ke kelas pake jersey Milan yang bersponsor Fly Emirates lalu ditanya: “Itu kaos didapat karena pernah terbang pake Emirates ya??” *cry*

9) Skuter matic adalah andalan warga Taiwan dalam beraktivitas sehari-hari. Gak ada tuh namanya jenis-jenis motor lain macam motor bebek dan moge sporty. 90% isi jalanan di Taiwan didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua jenis ini. Merek-merek yang umum digunakan umumnya adalah Kymco (ini pemimpin pasar di sini) dan SYM yang semuanya merupakan buatan lokal. Dari mahasiswa sampe ibu-ibu hampir semuanya menggunakan jenis motor yang sama. Parkirnya pun di pinggir jalan, di atas trotoar malah. Tapi ya entah kenapa lebih civilized, terutama dibandingkan sama tingkah polah emak-emak penunggang matic di Indonesia. Di sini juga tidak ditemui parkir meter, juga tanpa keberadaan kang parkir yang secara misterius tiba-tiba muncul minta selembar duarebuan. Petugas dari dinas perparkiran setempat selalu stand by di lokasi-lokasi parkir (pinggir jalan sekalipun) untuk mengambil record setiap kendaraan yang terparkir dan menyerahkan tanda buktinya kepada sang pengemudi. Pembayaran pun tidak dilakukan langsung kepada si petugas, tapi ke rekening pemda setempat dan bisa dibayar via mobile/internet banking atau di convenience store seperti 7-11 dan Family Mart. Mudah dan nyaman.

Pemandangan yang sangat jamak di Taiwan

Pemandangan yang sangat jamak di Taiwan

10) Ini kayaknya hal terunik di Taiwan dan tidak akan ditemui di mana pun (cmiiw), juga mungkin suara yang paling memorable dan ngangenin dari Taiwan: singing garbage truck. Truk sampah (di Indonesia) kerap diidentikkan dengan kendaraan yang luar biasa jorok, bau sampah (yaiyalah..), penuh belatung, dengan air sisa limbah yang berceceran menetes sepanjang jalan. Tapi di Taiwan, truk sampahnya steril, bersih, kawaii, dan yang paling penting: bisa bernyanyi! Pas pertama saya di sini, ta’ pikir itu mobil es krim yang setiap sore lewat komplek. Rupanya suara ‘bernyanyi’ itu dimaksudkan sebagai tanda bagi para penduduk untuk membuang sampah rumah tangga mereka langsung ke truk sampah yang ngider ke pemukiman warga setiap harinya. Mungkin karena di Taiwan gak ada iuran sampah RT. Sebelum dikumpulkan di truk sampah, sampah-sampah masyarakat rumah tangga ini telah dipilah-pilah terlebih dahulu sehingga mepermudah proses daur ulang. Konon tiap hari juga ada jadwalnya: hari ini sampah kertas yang dikumpulin ke truk sampah, besok sampah organik, besoknya lagi sampah beling/kaca, dan seterusnya.

Taiwanese singing garbage truck en route to Bantar Gebang

Sementara segitu dulu yang bisa saya share tentang (ke)hidup(an) di Taiwan. Kalo ada yang keingetan akan saya tambahin. Sampai jumpa di episode On The Spot Trans|7 yang membahas 10 hal terunik yang bisa kamu temui di negara-negara lainnya (video courtesy of YouTube).

[mixtape] Merdeka Bung!

Memilih lagu-lagu untuk dimasukkan ke dalam satu playlist bertema peringatan hari kemerdekaan RI ternyata bukanlah perkara yang mudah. Sama halnya dengan menyusun playlist untuk bulan Ramadhan, kesulitan utama adalah memilih lagu-lagu yang tidak preachy dan menyuarakan nasionalisme secara banal. Namun jika ditengok kembali, sebenarnya ini kembali ke masalah selera saja. Bagi sebagian orang, lagu ‘nasionalis’ tertentu mungkin dianggap sangat norak dan banal, terlepas dari betapapun populernya lagu tersebut (sebut nama: Cokelat – Bendera atau Netral – Garuda di Dadaku), tapi bagi sebagian orang lainnya bisa jadi berpendapat sebaliknya. Sangat subjektif penilaiannya.

Menurut saya sendiri, lagu-lagu yang patut didengar ulang pada momen peringatan tujuhbelasan tidak harus selalu bernuansa puja puji berlebihan terhadap negara. Tidak harus eksplisit tersurat dalam lirik-liriknya tentang kecintaan teramat dalam terhadap tanah air. Terkadang sebuah lagu yang tak secuil pun menyebutkan kata “Indonesia” dalam liriknya mampu  menggugah rasa kesadaran berbangsa karena secara tersirat memang bertutur seputar masalah tersebut. Namun tidak ada salahnya juga lagu-lagu yang mengusung semangat nasionalis menyertakan banyak lirik berbunyi “Indonesia”, “Garuda”, “Negeri/Tanah Airku”, “Merah Putih”, dsb. Meski terkesan obvious tapi kalo lagunya enak (dan gak terlalu sering diputer di TV sehingga jadi eneg) kenapa nggak?

Tentu playlist bertema ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran lagu-lagu nasional, bukan semata lagu pop, yang telah melekat di kepala dari jaman SD. Makanya, lagu nasional favorit saya sepanjang masa, Tanah Airku ciptaan Ibu Sud, mutlak harus berada di urutan pertama. Semoga Tuhan menjamin surga untuk Ibu Sud yang telah menciptakan lagu sesederhana tapi seindah ini. Di playlist ini yang digunakan adalah yang versi instrumental oleh Addie MS atau yang juga dikenal sebagai “soundtrack kabin pesawat Garuda Indonesia ketika landing”. Juga ada lagu nasional favorit saya lainnya: Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh Nial Djuliarso.

Lagu tentang Indonesia selayaknya adalah lagu yang mengingatkan akan rumah. Tempat bermuaranya setiap perjalanan. Juga tentang keadaan ‘rumah’ tersebut. Bagaimana cara merawatnya, membesarkannya, dan menjaganya dengan baik. Tentunya juga tak terlupa dengan kehadiran lagu-lagu “pop nasionalis” yang ringan dan ngena. Semuanya terangkum dalam mixtape 8tracks berikut yang juga berisi lagu-lagu dari Pee Wee Gaskins, Efek Rumah Kaca, Chaseiro, dan lainnya. Sila nikmati dan… Merdeka!

 

Hsinchu, 17 Agustus 2015. Pertama kalinya merayakan 17an di negara orang.

Sanctuary

Karena saya orangnya bukan otaku-otaku banget, jumlah manga yang pernah saya tamatkan dengan membacanya di medium online bisa dihitung pake jari sebelah tangan. Tercatat cuma Death Note, Monster, sama Eyeshield 21 doang yang pernah dikhatamkan. Tentunya ini mengecualikan riwayat membaca komik-komik Jepang terbitan Elex Media Komputindo yang sudah lebih dulu bercokol di tanah air macam Doraemon, Kungfu Boy, Dragon Ball, dan teman-temannya. Kalo itu juga diitung, koleksi khataman cergam jejepangan saya otomatis bertambah. Tapi, teteup, bisa dihitung cukup dengan jari tangan sendiri (itu pun masih nyisa).

Manga online, terutama seri-seri populer masa kini kayak One Piece, Bleach, dan Naruto, buat saya kurang begitu menarik untuk diikuti karena gak tertarik sama ceritanya, sifat kejar tayangnya yang ‘memaksa’ untuk terus ngikutin, dan tentunya karena aksesnya yang semakin susah (terima kasih InternetPositif Kemenkominfo dan proxy internet kantor!). Nyari manga yang  enak dibaca lumayan susah karena mayoritas cerita-cerita di manga yang ada sekarang kurang memancing interest saya. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah rekomendasi dari teman atau para senpai berselera bagus yang bertebaran di dunia maya.

Syahdan, mata saya tertumbuk pada suatu rekomendasi singkat di Ask.fm (btw, ini platform socmed yang menghibur dan informatif banget *dengan catatan: mem-follow orang-orang yang tepat*, meskipun cuma bikin akun untuk jadi silent reader semata) tentang manga yang mengangkat isu sosial-politik. Tersebutlah satu judul: Sanctuary. Manga yang terbit pada awal dekade 1990-an ini mengambil kisah utama yang berlatar belakang dunia organisasi mafia underground Jepang (a.k.a. yakuza) dan dinamika sistem politik domestik Jepang. Rekomendasi singkat yang cukup memantik rasa penasaran dan, okenya lagi, manganya juga udah tamat jadi bisa dikhatamkan dengan segera tanpa harus nunggu-nunggu edisi terbaru.

Screenshot_2015-07-26-22-46-47

Adalah dua sahabat: Akira Hojo dan Chiaki Asami yang menjadi tokoh utama dalam manga ini. Keduanya menempuh jalan hidup yang berbeda: Hojo menjadi anggota yakuza dan Asami berkecimpung di dunia politik. Dalam manga ini dikisahkan bagaimana keduanya terus merangsek naik dalam ‘karir’nya masing-masing hingga menjadi the rising star. Hojo menjadi don (semacam kepala geng) yakuza wilayah Kanto (mencakup Tokyo dan sekitarnya), sedangkan Asami menjelma menjadi anggota diet (parlemen Jepang) muda yang karir politiknya moncer.

Pose menerawang ala pre wed

Hanya itu? Nggak dong tentunya… Banyak intrik yang terjadi dalam proses mobilitas vertikal tersebut, termasuk yang melibatkan love, sex (spoiler: a lot of sex scenes :D) and violence. Cukup wajar mengingat cerita dibangun seputar dunia organisasi kriminal bawah tanah dan dunia politik yang (katanya) kotor. Pewatakan yang dituangkan di manga ini tidaklah hitam-putih. Bahkan dua tokoh utamanya pun tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai karakter protagonis. Asami, misalnya. Kiprahnya di dunia politik mirip-mirip Frank Underwood di House of Cards. Licin, cerdik, lihai dalam berpolitik dan sedikit culas, semua mendukung peningkatan karirnya yang sangat mulus. Sedangkan karakter Hojo, yang tentunya bukan karakter ‘baik-baik’,  mampu mendekonstruksi sosok seorang kepala mafioso yang biasanya sangar dan ga enak diliat (hint: Hercules van Tenabang), juga dengan pemikirannya yang visioner dalam mengembangkan sebuah organisasi kriminal.

Para pemerhati sistem politik di negara lain (wabilkhusus Jepang) dijamin akan sangat menikmati Sanctuary. Gimana nggak, di sini bakal bisa lebih paham konstelasi ideologi dan kekuatan partai-partai utama Jepang, mekanisme suksesi pemerintahan parlementer di Jepang, perjuangan para kader partai untuk menjadi anggota Diet, dinamika koalisi untuk membentuk pemerintahan, hingga pengaruh lobbyist dan presssure groups (termasuk, tentunya, Yakuza) terhadap jalannya pemerintahan. Semacam paket komplit Japan Politics 101 yang dihadirkan dalam bentuk komik. Hal itu ditambah dengan kualitas grafis yang memukau, beda dengan komik-komik Jepang mainstream pada umumnya.

Dengan jumlah volume yang hanya belasan, dengan tiap volume berisi +/- 200 halaman, Sanctuary cocok untuk dikhatamkan dalam waktu singkat. Cerita yang lebih banyak berputar di dua tokoh utama (sehingga tidak memunculkan banyak karakter minor yang gak penting) rasanya juga mempermudah pembaca untuk menamatkan. Satu hal yang mungkin agak mengganggu hanya latar cerita komik yang terjadi di era awal 90-an sehingga tampilan dan kemasan tokoh-tokoh di Sanctuary ini macam di film Catatan Si Boy II atau Rini Tomboy yang…. yagitudeh. Selebihnya, gak ada kelemahan mendasar dari komik ini. Feelingnya seperti campuran antara nonton The Godfather dan The Departed (dan Lupus era Ryan Hidayat) #halah #teteup. Very recommended (if you have the same taste with me).

Melintas Batas

Bulan Mei lalu saya berkesempatan melakukan perjalanan darat, sekaligus melintasi perbatasan, di tiga negara Indochina: Viet Nam-Kamboja-Thailand. Sendirian. Sebuah kondisi yang membuat ketika tiba kembali di tanah air (rata-rata, tapi ga semua) disambut dengan tatapan penuh iba. Berlibur sendirian ternyata memang masih menjadi hal yang dianggap menyedihkan bagi sebagian besar orang Indonesia. Gak asik, mana seru, garing, aneh, konyol, sok-sok’an, ntar yang motoin siapa (ini komen paling ‘yaelah’), dan beragam komentar miring lainnya mampir ke kuping (dan layar hape) saya. Yah namanya juga idup. Di Indonesia pula yang orang-orangnya demen banget ngejadiin standar kebahagiaan dia sebagai standar mutlak yang berlaku buat orang lain.. :)

Anyway, it’s a fun journey overall. Sesuai ekspektasi tentang jalan-jalan ke luar negeri sendirian, termasuk yang pait-paitnya :D. Ini sebenarnya bukan pertama kalinya melintasi perbatasan darat antara dua negara. Sebelumnya pernah ngalamin di border antara Swiss dan Liechtenstein tepat di atas Sungai Rhine. Tapi di sana ga ada pemeriksaan paspor dan security screening sama sekali (bahkan ga harus turun dari bus). Kurang afdol. Juga pernah di Woodlands CIQ (Singapura) dan Johor Bahru CIQ (Malaysia) yang sejatinya dibatasi oleh laut. Untuk yang satu ini, meskipun mengikuti prosedur melintasi perbatasan pada umumnya, tapi entah kenapa berasa standar-standar aja kesannya (mungkin karena di Singapura, dan Malaysia :p). Justru yang belum pernah itu ke perbatasan darat NKRI dengan negara-negara jiran lainnya, macam di Entikong, Sebatik, Skouw, atau Atambua. Entah kapan bisa terwujud (mudah-mudahan dalam waktu dekat).

Perjalanan mengambil rute Jakarta-Kuala Lumpur-Ho Chi Minh City-Phnom Penh-Siem Reap-Bangkok-Kuala Lumpur-Jakarta. Ditempuh selama (hampir) seminggu, menggunakan kombinasi moda transportasi pesawat dan bus. Setelah menghabiskan sehari semalam di HCMC (yang menurut saya overrated), akhirnya saya memutuskan untuk bertolak menuju Kamboja. Lebih cepat dari rencana semula, salah satunya karena ga dapet overnight bus menuju Phnom Penh dan Siem Reap. Alhasil, bus pagi menuju Phnom Penh (untuk kemudian berganti bus menuju Siem Reap) menjadi pilihan. Estimasi awal durasi perjalanan HCMC-Phnom Penh 6 jam dan Phnom Penh-Siem Reap 6 jam juga. Teorinya total 12 jam menteposkan pantat di dalam bus. Karena saya berangkat pukul 8 pagi, jadinya estimasi tiba di tujuan akhir di Siem Reap adalah pukul 8 malam. *tepok tangan*

Ticket to ride

Ticket to ride

Estimasi tersebut ternyata berantakan :) Perjalanan dari HCMC menuju Moc Bai (kota perbatasan Vietnam-Kamboja di sisi Viet Nam) memang berjalan mulus, hanya sedikit terhambat ketika hendak keluar dari kota HCMC yang macet gara-gara lautan motor bebek yang membanjiri jalanan. Sekitar pukul 11.30 bus sudah masuk ke halaman kantor imigrasi di Moc Bai dan tak lama semua penumpang sudah mendapat cap keluar Viet Nam. Proses pencapan paspor dilakukan secara kolektif oleh awak bus jadi tidak perlu mengantri lama.

Yang menarik adalah ketika bus mulai meninggalkan HCMC dan masuk jalan raya menuju Phnom Penh, si pramugara (sebut saja demikian) bus yang berasal dari Kamboja mengumpulkan paspor penumpang sembari menawarkan jasa visa on arrival Kamboja bagi turis asing yang belum punya dengan sambutan kayak gini: “Due to massive corruption in our country, the fare for Cambodian visa is USD 25, but you must pay USD 30 to bribe the officer …“. Jujur banget! :D Untungnya warga ASEAN bebas visa, jadi ga kena todong begitu haha. Kata sambutan tersebut sudah tentu menuai reaksi keras dari beberapa bule kere yang kritis. Mulai dari mempertanyakan “kenapa negara lu yang banyak koruptor gua yang kena imbasnya??”, ngomel-ngomel “this country is so fucked up!”, sampe menolak diurusin secara kolektif dan milih ngurus sendiri (meskipun udah diingetin kalo itu berpotensi memperlambat perjalanan dan merugikan penumpang lainnya). Pada akhirnya si 2 bule ini emang beneran ngurusin sendiri (ngantri di jalur biasa) dan bisa mendapatkan VoA-nya dalam waktu yang gak terlalu lama. Senyum kemenangan seakan berkata “I told you so” nampak ketika mereka menaiki bus kembali.

Welcome to Cambodia. We’re so fuckin’ proud of Angkor Wat so we put it everywhere (flag, arrival card, etc.)

Selepas Moc Bai, bus pun tiba di Bavet, kota perbatasan Kamboja-Viet Nam di sisi Kamboja. Perbedaan signifikan antara Moc Bai dan Bavet hanya terletak pada penggunaan aksara Khmer yang menggantikan huruf latin beraksen khas Viet Nam di setiap penjuru. Selebihnya sama: sama-sama gersang, panas, dan sepi. Tapi secara umum, dibandingkan daerah-daerah Viet Nam yang dilewati sepanjang jalan, daerah di Kamboja ini terkesan lebih gersang. Bangunan di sekitar pos perbatasan pun hanya berupa hotel-hotel kelas melati dan kasino. Entah kenapa keberadaan kasino selalu menjadi fitur utama di perbatasan negara-negara Indochina ini (di perbatasan Kamboja-Thailand juga banyak). Mungkin pajaknya lebih rendah kalo didirikan di perbatasan, atau mungkin juga regulasinya memang mengatur demikian.

Berbeda dengan pemandangan jalan sepanjang HCMC-Moc Bai yang kiri kanan dihiasi sawah menguning (menjelaskan kenapa Viet Nam adalah lumbung padi Asia Tenggara), pemandangan sepanjang Bavet-Phnom Penh lebih banyak berupa hamparan tanah kosong tidak produktif yang terhampar luas hingga ufuk horison. Saya gak tau ini emang karena bukan musim tanam atau gimana, tapi sejauh mata memandang jarang terlihat lahan yang dalam kondisi digarap. Cuma sesekali terlihat sapi-sapi kurus leyeh-leyeh di bekas ladang dan kubangan. Juga pohon lontar dimana-mana (saking banyaknya saya sempat mengira bus ini masuk wormhole dan keluar di NTT). Sepertinya memang Kamboja tidak memiliki sistem irigasi yang handal dan hanya mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Padahal ada sungai sebesar Sungai Mekong yang rasanya debit airnya sangat mencukupi jika didistribusikan ke lahan pertanian di seluruh negeri.

Speaking of Sungai Mekong, hingga beberapa bulan lalu jalur perjalanan dari HCMC menuju Phnom Penh harus menggunakan kapal ferry untuk menyeberangi salah satu sungai terpanjang (dan terlebar) di Asia ini. Tapi pas saya ke sana ternyata jembatan yang menghubungkan dua wilayah yang terpisah oleh Sungai Mekong telah dioperasikan. Masih brand new dan kinyis-kinyis. Juga masih menjadi objek foto-foto paling hype di sana, terlihat dari banyaknya warga yang memarkir motornya di Jembatan dan ber-selfie ria, meskipun pas tengah hari bolong.

About to cross Cambodian Golden Gate

About to cross Cambodian Golden Gate

The majestic Mekong River from the bridge

The majestic Mekong River from the bridge

Terminal bayangan di Phnom Penh. 11-12 sama Kampung Melayu

Terminal bayangan di Phnom Penh. 11-12 sama Kampung Melayu

Karena diselingi berhenti makan siang dan insiden 2 bule kere yang ogah rugi ngurus VoA sendiri, lama perjalanan dari HCMC ke Phnom Penh molor jadi tujuh jam. Sekitar pukul 15 bus tiba di pemberhentian akhir, semacam pool untuk bus-bus dari PO Sorya Transport, perusahaan bus yang saya tumpangi. Saya yang memang tidak berniat menghabiskan malam di kota Phnom Penh harus menunggu sekitar 1 jam untuk menunggu kedatangan bus yang akan membawa saya ke Siem Reap. Agak menyesal waktu itu tidak mengaktifkan roaming data karena setelah dicek di Google Maps ternyata lokasinya tepat di pusat kota dan deket banget sama Phnom Penh Central Market. Lumayan padahal satu jam bisa ngelayap sebentar. Akibat buta orientasi arah, saya terpaksa cuma nongkrong di sekitaran terminal sambil mengamati keseharian penduduk di sana. Salah satu hal yang cukup ekstrem waktu melihat kulkas dua pintu (!) dimasukin ke dalam bagasi bus :D Di minimarket dekat terminal mendapati beberapa produk Indonesia dijual dan akhirnya beli teh botol Sosro + biskuit produksi Mayora buat teman perjalanan. Lumayan, daripada sepanjang jalan makanin sate nanas (cuma nanas biasa yang ditusuk pake bambu tipis) terus-terusan, atau ngemil biji teratai yang saya ga berani cobain.

Ini makannya gimana?

Ini makannya gimana?

Ketika bus mulai berjalan meninggalkan Phnom Penh, saya sudah sadar kalo paling cepet nyampe ke Siem Reap mungkin pukul 10-an. Tapi ternyata dugaan itu kembali meleset :p Dalam perjalanan Phnom Penh-Siem Reap, bus sekali terhenti rombongan pejabat Kamboja yang mau lewat, dua kali berhenti untuk makan, dan berkali-kali tertahan karena kondisi jalan yang suram abis. Berbeda dengan bus HCMC-Phnom Penh yang didominasi turis, bus Phnom Penh lebih banyak diisi warga lokal. Turis asing hanya segelintir. Tentu saja hal itu membuat suasana di dalam bus lebih rame dan jauh lebih semerbak karena bawaan penumpang yang eksotis (ada yang bawa ikan asin satu keranjang hahaha). Meskipun rute dari Phnom Penh ke Siem Reap mengambil jalan yang berlabel “National Highway No. 6”, pada kenyataannya tidak seperti jalan bebas hambatan (jalan tol) yang biasa ditemui di Indonesia. Pada dasarnya ini hanya jalan nasional biasa, semacam jalur Pantura, dengan lajur yang tak terlalu besar tanpa adanya median jalan. Bahkan di sebagian ruas jalan masih berupa tanah merah yang belum diaspal dan harus dilewati secara bergantian. Juga sama sekali tidak ada penerangan jalan umum. Semua cahaya di sepanjang jalan hanya berasal dari lampu kendaraan dan rumah-rumah penduduk.

Ada yang cukup unik ketika malam tiba di jalur antara Phnom Penh dan Siem Reap. Puluhan lampu neon yang berpijar terang nampak ditegakkan di halaman rumah-rumah dan dikitari jaring semacam kelambu. Saya menduga itu untuk menjaring serangga malam untuk kemudian dijual sebagai snack bercitarasa eksotis. Tapi ini banyak banget sehingga kayaknya juga untuk diekspor ke negara tetangga (atau mungkin juga buat dikonsumsi sendiri). Warga Kamboja secara fisik mirip banget dengan orang Indonesia, dan, menurut pendapat subjektif saya, lebih ramah daripada orang Viet Nam. Penguasaan bahasa Inggris mereka pun rata-rata lebih bagus, dengan logat yang gak terlalu medok. Meskipun, memang, secara kondisi ekonomi, warga Kamboja setingkat di bawah warga Viet Nam.

Bus dari Phnom Penh akhirnya tiba di Siem Reap pada pukul 23.30. Total perjalanan dari HCMC ke Siem Reap ternyata mencapai hampir 16 jam! Beberapa hal yang bikin perjalanan jadi molor sedemikian rupa adalah kondisi jalanan di sana yang cukup mengenaskan, bus yang beberapa kali berhenti buat cari makan (padahal yang makan cuma dikit), dan beberapa kali nurunin penumpang (yang bawaannya seabrek-abrek) di tengah jalan. Yang bikin ngeselin emang pas rehat buat makan itu. Pertama karena sebenernya ga penting-penting amat turun makan sampe 2 kali, trus juga karena ga ada yang bisa dimakan (sama saya) di sana. Karena merasa tidak yakin dengan menu dalam tulisan Khmer yang seolah semuanya bertuliskan “Mengandung Babi”, terpaksa saya mengurungkan niat untuk mengisi perut. Lagipula, di Kamboja transaksi lebih banyak pake dollar ketimbang riel. Eman-eman..

Cukup satu setengah hari di Siem Reap dan saya pun bertolak menuju Bangkok. Melintas batas lagi. Bedanya dengan pas HCMC-Phnom Penh-Siem Reap, perjalanan dari Siem Reap ke Bangkok tidak sepenuhnya menggunakan bus karena setelah memasuki teritori Thailand di Aranyaprathet, penumpang menuju Bangkok akan dibawa dengan menggunakan minivan sejenis dengan mobil-mobil travel shuttle Jakarta-Bandung. Dari Siem Reap menuju Poi Pet, kota terakhir Kamboja sebelum memasuki Thailand, memakan waktu sekitar 3 jam dengan kondisi jalanan yang lurus terus menerus dan berkualitas jauh lebih baik daripada jalur Phnom Penh-Siem Reap. Aspal hotmix mulus sepanjang jalan, dengan pemandangan yang (kembali) didominasi lahan tak produktif, sapi-sapi kurus yang sedang merumput, dan pohon lontar dimana-mana.

Another ticket to ride

Another ticket to ride

Kantor imigrasi Kamboja di Poi Pet bentuknya kayak loket puskesmas, bertempat di bangunan semenjana di tepi jalan. Meskipun begitu, proses pengambilan data biometrik di sini komplit abis. Semua sidik jari di setiap jari di tangan dipindai, bahkan lebih komprehensif dari prosedur imigrasi di Moc Bai dan  Aranyaprathet. Kebetulan saya bertemu dengan sesama pejalan solo asal Indonesia di sini dan sempat ngobrol-ngobrol gak penting tentang kondisi di sini. Termasuk tentang kenapa setelah lewat perbatasan harus berganti moda transportasi. Jawabnya ada di ujung langit kita ke sana dengan seorang anak adalah (setidaknya yang bisa kami simpulkan): karena Thailand dan Kamboja menganut dua sistem kemudi yang berbeda. Kamboja setir kiri, Thailand setir kanan. Kalo dipaksain pake kendaraan yang sama dengan yang ditumpangi dari Kamboja begitu masuk jalanan Thailand yang ada supirnya kagok :D Diskusi ga penting (tapi menurut saya ini penting) lainnya adalah kenapa turis-turis bule ini lebih milih negara-negara macam Viet Nam-Kamboja-Thailand ketimbang Indonesia sebagai tempat berwisata. Teman baru saya ini berpendapat kalo ini lebih ke soal kepraktisan dari sisi geografis: karena Indonesia tidak berada di mainland Asia Tenggara. Jadi ongkosnya jatuhnya lebih mahal. Sedangkan saya mikirnya karena Indonesia kurang ‘eksotis’, dalam pengertian Indonesia mayoritas penduduknya muslim, bukan Buddha yang kadung dianggap sebagai “agama Timur yang eksotis”. Mereka, si bule-bule ini, pergi berlibur ke Asia pengen melihat sesuatu yang mereka anggap berciri ketimuran, dan Islam sepertinya tidak masuk hitungan (ini juga menjelaskan kenapa Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, menjadi tujuan wisata utama di Indonesia). Ngobrol ngalor ngidul yang lumayan mencerahkan.

IMG_20150515_122604935_HDR

Meskipun kayak warung remang-remang, tapi imigrasi Kamboja di Poi Pet ini menerapkan sistem identifikasi full biometric. *don’t judge a book by its cover*

ASEAN 10 Community di tengah kegersangan

ASEAN 10 Community di tengah kegersangan

10 langkahan kaki menuju Thailand

500 meter menuju Thailand

Welcome to Thailand

Welcome to Thailand (ngambilnya dari jauh takut ditangkep kalo moto pas di imigrasinya :p)

Hanya berjalan sekitar 100 meter melintasi jembatan kecil sampailah saya di kantor imigrasi Thailand. Di kantor imigrasi Aranyaprathet ini saya baru tersadar kalo selama perjalanan melintas batas darat dari Viet Nam ke Kamboja dan Kamboja ke Thailand ini sama sekali gak pernah ada pemeriksaan barang bawaan pake mesin X-ray! Bebas aja gitu melenggang kangkung masuk negara orang bawa bawaan apapun. Padahal bisa jadi ada yang bawa narkoba, mayat, budak belian, dan barang-barang haram lainnya. Bukannya negara-negara ini masuk daftar hitam penyelundupan narkoba dunia ya? Juga (mungkin) human trafficking asal Kamboja ke Thailand mencari penghidupan yang lebih baik?

Terlepas dari hal itu, pelayanan imigrasi di Thailand terhitung cepat dan efisien (dan AC-nya adem :D). Selama perjalanan dari Aranyaprathet ke Bangkok, terlihat hampir semua kendaraan besar sejenis truk sudah menggunakan gas sebagai bahan bakarnya. Juga dengan mobil-mobil yang lebih kecil, hampir semuanya tidak lagi menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Thailand rupanya sudah beberapa langkah lebih maju dalam hal pemanfaatan energi terbarukan, sedangkan NKRI yang justru punya sumber daya alam gas yang melimpah malah… yagitudeh. Serupa seperti di Kamboja dan Viet Nam, jalan yang ditempuh menuju Bangkok mayoritas masih berupa jalan nasional biasa, bukan jalan tol. Minivan baru masuk jalan tol setelah melewati area sekitar Bandara Suvarnabhumi. Meskipun demikian, kondisi jalan sangat ciamik dan memungkinkan kendaraan untuk dipacu kencang layaknya di jalan tol Indonesia.

Sebuah perjalanan, mau sendiri atau rame-rame, selalu memberikan kesan dan pelajaran tersendiri buat saya. Apalagi karena emang udah bawaan dari sononya selalu susah tidur selama perjalanan dan sukanya menengok ke luar jendela terus. Berlibur sendirian ternyata tidak seburuk yang tadinya saya bayangkan (meskipun orang lain tetap beranggapan seburuk yang mereka bayangkan). Karena dari perjalanan ini saya juga tersadar: melintas batas kemampuan diri sendiri terkadang lebih besar maknanya dari sekadar melintasi batas geografis :)

 

*bisa aja dah ngepas-pasinnya*

Pilihan Paket Roaming Data Internasional Terbaik

Dulu setiap kali mendapat kesempatan bepergian melewati batas teritorial NKRI, saya selalu berpikir bahwa menggunakan SIM card lokal di negara tujuan untuk keperluan internetan adalah pilihan terbaik. Koneksi via wi-fi di lokasi tujuan sepertinya tidak bisa diandalkan untuk saya yang kemana-mana selalu mengandalkan Google Maps untuk kelayapan. Juga tidak mendukung jalur komunikasi via beragam messenger apps karena sifatnya yang gak mobile. Pilihan menggunakan paket roaming data dari operator Indonesia juga hampir tidak pernah masuk hitungan karena di bayangan saya yang namanya layanan roaming (baik voice maupun data) itu pasti sudah dijamin mahal. Biayanya sudah pasti tak bersahabat bagi kantong kaum proletar.

Namun setelah beberapa kali berkesempatan menjejakkan kaki di tanah negara lain (ciee gitu), anggapan saya tersebut perlahan terkikis. Menggunakan SIM card lokal ternyata tidak selalu lebih menguntungkan daripada menggunakan layanan roaming operator Indonesia. Satu hal yang pasti: mengakses data dengan menggunakan SIM card asal Indonesia tidak seribet jika dibandingkan dengan beli SIM card di negara tujuan dan kemudian mengaktifkan paket datanya. Pertama harus cari tahu terlebih dahulu tawaran operator mana yang paling menguntungkan, kemudian harus tahu cara mengaktifkan paket datanya secara benar, lengkap dengan berbagai syarat dan ketentuannya, lalu juga mencari tempat penjual SIM card yang diminati setelah research singkat tesebut, serta printilan-printilan lainnya (potong SIM card jadi micro SIM, nyopot/masang SIM card yang sudah lama bersemayam di hape, isi pulsa, dll). Terlebih jika waktu kunjungannya hanya singkat (tidak lebih dari satu minggu). Pemakaian roaming data dari SIM card asal Indonesia dikombinasikan dengan maksimalisasi fasilitas wifi gratisan dapat menjadi solusi yang efektif (juga murah) dan unggul secara komparatif untuk mengatasi masalah sakaw internetan di luar negeri.

Mengingat hampir semua smartphone Android (sorry iPhone users..) saat ini memiliki fitur dual SIM card, maka ber-roaming data ria ketika plesiran ke luar Indonesia makin dimudahkan mengingat ada dua pilihan paket roaming data yang bisa digunakan secara bergantian. Kalo yang satu pulsanya abis, bisa pake yang satunya lagi. Atau jika tarif di kartu yang satu kemahalan, selalu ada opsi pake kartu kedua yang tarifnya lebih rendah. Untuk bisa menentukan strategi yang tepat guna menekan pengeluaran (guna menyukseskan gerakan nasional low-end living yang dicanangkan pemerintah), tentunya harus diketahui terlebih dahulu pilihan-pilihan yang tersedia. 4 besar provider GSM Indonesia: Telkomsel, Indosat, XL, dan Tri, rupanya punya beragam promo menarik dengan tarif berbeda-beda terkait roaming data internasional ini, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berikut ulasan singkatnya:

 

1. Telkomsel

Pelanggan Telkomsel (simPATI, KartuHalo, Kartu As, dan Loop) dapat menikmati layanan roaming data internasional di 70 negara. Secara umum, Telkomsel menerapkan tarif yang paling mahal jika dibandingkan operator-operator lainnya. Sebuah hal yang tidak mengherankan mengingat tarifnya di dalam negeri pun memang yang tertinggi di antara lainnya, sepadan dengan kualitas dan jangkauannya yang paling luas.

Telkomsel menerapkan sistem zonasi untuk pentarifan paket roaming data internasionalnya ini. Zona 1 terdiri dari 25 negara yang mayoritas adalah negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik dengan tarif Rp 150.000/hari. Zona 2 terdiri dari 15 negara berupa negara-negara di benua Amerika + Afrika Selatan dikenakan tarif Rp 200.000/hari. Zona 3 yang paling mahal terdiri dari 29 negara, semuanya adalah negara-negara Eropa, dibandrol dengan harga Rp 250.000/hari. Akan tetapi, khusus untuk Arab Saudi, Telkomsel menerapkan tarif khusus sebesar Rp 35.000/hari. Cukup kompetitif untuk para jamaah haji dan umroh Indonesia yang hendak bertolak ke Saudi.

Saya mengasumsikan paket ini sifatnya unlimited, tidak ada batas kuota pemakaian karena hitungannya per hari (meski tidak disebutkan jelas di dalam website-nya). Namun, selain paket yang disebut dengan nama “capped data roaming” tersebut, Telkomsel juga punya pilihan lainnya yang lebih njelimet dengan masa aktif yang tidak dihitung per hari. Untuk paket yang ini juga dibeda-bedakan dengan sistem zonasi dengan tarif termurah Rp 150.000 untuk 1 hari di Asia dan Australia hingga Rp 1.100.000 untuk 7 hari di Eropa(!). It’s a bit confusing i must say. Lebih lengkapnya bisa dilihat sendiri di sini atau di sini.

 

2.  Indosat

Indosat (Matrix, Mentari, dan IM3) menawarkan paket roaming data internasional yang lebih simpel. Rata-rata penggunaan internet dengan menggunakan jaringan mitra roaming Indosat di luar negeri dibandrol seharga Rp 79.000/hari. Tapi tidak semua negara mendapatkan tarif ini. Berhubung di website Indosat tidak tersedia tabel daftar negara beserta tarifnya, maka tarif yang berlaku per negara harus dicari secara manual dengan mengetikkannya di search box. Dari yang saya telusuri, semua negara ASEAN dikenakan tarif Rp 79.000/hari. Demikian juga di Jepang dan RRT. Hasil pencarian random menunjukkan kalo roaming data internasional menggunakan kartu Indosat di Mesir akan terkena Rp 249.000/hari, di AS sebesar Rp 169.000/hari, sama seperti di Perancis dan Inggris, serta di Australia sebesar Rp 79.000/hari. Khusus untuk Arab Saudi, Indosat menetapkan tarif Rp 35.000/hari. Nampaknya para operator GSM Indonesia saling berlomba memberikan tarif termurah untuk jamaah Indonesia di Tanah Suci.

Kebetulan saya sudah pernah mencoba layanan roaming data internasional dari Indosat ini di RRT, Kamboja, dan Thailand. Semuanya dikenakan tarif Rp 79.000/hari. Tidak perlu registrasi sama sekali, begitu terhubung dengan jaringan mitra roaming Indosat di sana dan digunakan untuk akses internet, selama pulsa masih mencukupi, akan bisa digunakan dengan lancar. Paket dari Indosat ini (sepertinya) unlimited, tidak ada batas pemakaian (meskipun tidak tertera dengan jelas di syarat dan ketentuannya). Untuk lebih jelasnya bisa ditelusuri di mari.

 

3. XL

Serupa seperti Telkomsel, XL (prabayar dan paskabayar) juga menerapkan sistem zonasi untuk pentarifan paket roaming data internasionalnya. Sama-sama punya 3 zona utama dengan tarif yang berbeda-beda. Zona 1 terdiri dari 9 negara, di antaranya adalah Malaysia, Singapura, dan Jepang, dikenakan tarif Rp 75.000/hari. Zona 2 terdiri dari 19 negara, mulai dari negara ASEAN seperti Thailand dan Viet Nam hingga negara Eropa kayak Inggris, Perancis, dan Italia, terkena tarif Rp 100.000/hari. Zona 2 ini juga mencakup AS, RRT, dan Turki. Random banget emang ni pembagiannya. Nah, Zona 3 dengan jumlah negara paling banyak dikenakan tarif Rp 200.000/hari. Dari negara ‘populer’ kayak India, Afrika Selatan, Rusia, sampe negara antah berantah macam Fiji dan Liechtenstein masuk zona ini. Bagaimana dengan Arab Saudi? XL ternyata menawarkan harga termurah untuk negara ini (Zona 4) dengan biaya hanya Rp 25.000/hari. Wow.

Info lebih lengkap sila kunjungi tautan ini.

 

4. Tri

Berbeda dengan senior-seniornya, Tri menawarkan semacam pahe (paket hemat) roaming data internasional sebagai paket dasarnya. Pengguna Tri Prabayar dan Paskabayar bisa internetan di luar negeri tanpa membongkar pasang SIM card mereka dengan tarif Rp 50.000/hari untuk pemakaian hingga 20 MB (selebihnya dikenakan tarif Rp 30.000/10 MB). Highlight paket roaming data Tri ini adalah kuota 20 MB. Memang awalnya terkesan paling murah, namun dengan kuota data yang diberikan cuma segitu, dibandingkan kompetitor lainnya yang menawarkan akses data unlimited, rasanya kurang menjanjikan untuk dijadikan andalan.

Pahe Tri ini sudah beberapa kali saya jajal mengingat Tri adalah nomor utama saya. Dan hasilnya? Selalu ‘kebobolan’ :)) Kuota yang hanya 20 MB saat ini udah ga ada artinya. Jangan pernah berpikir konsumsi data hanya terjadi ketika membuka browser/mengakses aplikasi medsos di hape, karena justru yang paling banyak menguras kuota adalah proses sinkronisasi dan update data yang terjadi tanpa disadari. Itulah mengapa saya tidak merekomendasikan menggunakan Tri sebagai provider utama untuk roaming data di luar negeri (kecuali anda benar-benar piawai mengatur arus keluar-masuk kilobyte demi kilobyte data yang akan diakses).

Namun, di samping ‘paket utama’ roaming data internasional ini, Tri juga memiliki paket promo lainnya yang tak kalah menarik. Lagi-lagi promo ini tidak bersifat unlimited, tapi dibatasi kuota data yang bisa diakses, meskipun kali ini kuota yang ditawarkan cukup reasonable. Terbagi menjadi 2: Paket Internet Roaming Asia, Amerika, Kanada, dan Eropa Zona 1 dan Paket Internet Roaming Australia, Selandia Baru, dan Eropa Zona 2. Paket Internet Roaming Asia, Amerika, Kanada, dan Eropa Zona 1 bisa digunakan untuk negara-negara kayak AS, Hong Kong, India, Jepang, dan Malaysia dengan skema tarif Paket 150 MB berlaku 1 hari seharga Rp 149.000 dan Paket 250 MB berlaku 3 hari seharga Rp 249.000. Sedangkan untuk Paket Internet Roaming Australia, Selandia Baru, dan Eropa Zona 2 bisa digunakan di negara-negara yang juga memiliki provider GSM dengan brand “3” seperti Australia, Denmark, Inggris, Irlandia, dan Italia (inilah keuntungan sebuah brand internasional). Di negara-negara ini, pilihannya adalah Paket 1 GB berlaku 5 hari seharga Rp 149.000 dan Paket 1,5 GB berlaku 7 hari seharga Rp 249.000. Meskipun tidak bersifat unlimited, pilihan paket ini terbilang sangat menjanjikan mengingat kalo di-break down jadi hitungan per hari jatuhnya jadi lebih murah dan kuota yang disediakan juga sesuai dengan pemakaian wajar sehari-hari.

Untuk promo roaming data di Arab Saudi, Tri juga (kembali) menerapkan sistem paket dengan kuota data. Tersedia 2 pilihan paket: Internet Roaming 2 GB dengan masa aktif 9 Hari senilai Rp 77.000 dan Internet Roaming 3 GB dengan masa aktif 30 Hari seharga Rp 149.000. Kembali, jika di-break down jadi hitungan per hari , pilihan paket roaming data internasional dari Tri ini terhitung yang paling kompetitif dari segi harga dibandingkan provider-provider lainnya. Pas dengan kebutuhan mengingat masa aktif disesuaikan dengan durasi ibadah (Paket 9 hari pas untuk umroh dan Paket 30 hari cocok untuk haji). Lebih lengkapnya tentang pilihan yang disediakan Tri bisa ditengok di sini.

 

Verdict:

Saya coba untuk merangkum perbandingan tarif dan benefit yang ditawarkan masing-masing provider untuk paket data roaming internasionalnya di beberapa negara tujuan utama plesiran/dinas luar negeri penduduk NKRI ke dalam tabel berikut:

 

Dari tabel di atas, tidak ada provider yang unggul mutlak dalam persaingan tawaran paket roaming data internasional ini. Yang ada hanyalah beberapa provider unggul di negara tertentu dan provider lainnya unggul di negara yang lain (ini semata dalam konteks tarif yang ditawarkan, bukan dari segi kualitas layanannya ya). Telkomsel, seperti dugaan sebelumnya, menawarkan tarif yang paling tidak bersahabat untuk kalangan kelas menengah ngehe sok kaya tapi perhitungan. Untuk yang sifatnya unlimited, XL mendominasi predikat tarif roaming data termurah. Roaming data di Malaysia, Singapura, Jepang, dan Hong Kong mutlak lebih murah pake XL. Untuk Thailand dan Tiongkok diambil alih oleh Indosat. Arab Saudi (kalo hitungannya unlimited termurah per hari) kembali dikuasai XL. Tapi kuda hitam sesungguhnya adalah Tri. meskipun tidak menawarkan paket unlimited, penawaran dari Tri untuk beberapa negara cukup menggiurkan. Hal ini juga didukung dengan ketentuan fair usage yang cukup masuk akal. Untuk Inggris misalnya, hanya Rp 149.000 untuk 1 GB yang berlaku selama 5 hari. Sekitar Rp 30.000/hari! dan rasanya kuota segitu mencukupi untuk mobile selama 5 hari (sisanya numpang wifi gratisan). Hal yang sama juga berlaku untuk Australia dan Selandia Baru. Semakin menggila kalo liat yang untuk Arab Saudi yang dengan hanya Rp 77.000 bisa dapat kuota 2 GB untuk 9 hari. Cuma perlu Rp 8.500/hari untuk menunjang aktivitas komunikasi mobile dan (ini yang penting) narsisme selama umroh! Allahu Akbar!

Sayangnya, mayoritas tarif yang ditawarkan provider-provider GSM Indonesia ini berlabel “promo” sehingga bisa saja berubah sewaktu-waktu. Tapi paling nggak informasi yang ada di sini bisa dijadikan patokan sekiranya hendak menambah stempel imigrasi di paspor dalam waktu dekat. Mudah-mudahan tarifnya ga naik secara drastis atau malah ada tambahan promo tarif ciamik lainnya. Setidaknya, setelah bikin tulisan ini, kini saya tau satu hal dengan pasti: jika hendak menunaikan ibadah umroh atau haji di tanah suci, lupakan keribetan mencari nomor lokal. Pake SIM card Indonesia ternyata jauh lebih murah! :))

Jumatan di Masjid Niujie

Beijing, 27 Maret 2015

Hari itu hari Jumat, hari terakhir lawatan RI-1 ke Beijing, RRT. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 GMT+8. Kalo di Jakarta ini udah waktunya keluar dari tempat kerja menuju masjid buat jumatan. Tapi ini lagi +/- 4700 km di utara Jakarta. Adzan dzuhur di sini pun masih pukul 12.22 WB (Waktu Beijing). Dapat kabar bahwa di hotel tempat rombongan RI-1 menginap bakal diadain shalat jumat, meminjam salah satu ruangan, dengan imam dan khatib orang Indonesia tentunya. Cih, masa jauh-jauh ke sini jumatannya rasa Indonesia juga? Meskipun shalatnya bakalan sama presiden sekalipun, rasanya sayang banget kalo gak dipake buat ngerasain pengalaman ibadah bareng sama warga setempat. Kesempatan free time terbebas dari kerjaan ini akhirnya membulatkan tekad saya buat kelayapan secara syar’i untuk menuju Masjid Niujie, masjid tertua di ibukota Tiongkok.

Bisa dibilang ini masjid tertua yang pernah saya kunjungi. Masjid Niujie didirikan pertama kali pada tahun 996 M! 300-an tahun setelah kehadiran Rasulullah SAW. Tahun segitu leluhur saya mungkin masih pada nyembah pohon kali. Sempat hancur karena serbuan pasukan Genghis Khan, masjid ini kemudian dibangun kembali pada masa Dinasti Ming, dan mampu melewati masa-masa kelam Revolusi Kebudayaan untuk bisa bertahan hingga sekarang. Di Indonesia pun rasanya gak ada masjid yang setua dan sebanding dengan nilai historis Masjid Niujie ini mengingat Islam baru masuk Nusantara abad 13-an. #cmiiw

Menuju Masjid Niujie dengan ngeteng naik kendaraan umum sebenernya gampang-gampang susah. Lokasinya masih tergolong di pusat kota (Niujie Rd), letaknya pas di pinggir jalan, tapi aksesnya dari stasiun MRT terdekat yang rada jauh. Ada dua Stasiun Beijing MRT yang paling berdekatan dengan masjid ini: Changchunjie (Line 2) dan Caishikou (Line 4). Kalo dari Changchunjie, Masjid Niujie tinggal lurus aja ke arah selatan sekitar 1,5 km dan  masjidnya akan keliatan di sisi kiri jalan, sedangkan kalo dari Caishikou tinggal keluar dari exit yang mengarah ke Guanganmen Inner St. lalu belok kiri mengikuti Niujie Rd. Jaraknya kira-kira sama dengan rute pertama. Pada dasarnya selalu ada opsi untuk naik bus dari stasiun MRT ke masjid tersebut (terutama rute Changchunjie yang tinggal lurus doang), namun mengingat ini Tiongkok, di mana 90% penduduknya gak bisa bahasa Inggris dan saya juga gak tau sistem per-bus-an di Beijing kayak gimana, akhirnya saya memilih opsi praktis nan murah tapi gempor: jalan kaki. Untungnya waktu itu hawa Beijing masih basian winter menuju spring, jadi jalan kaki sejauh apa pun rasanya nyaman-nyaman aja dan tidak membuat deodoran bekerja ekstra keras.

Baik turun di Changchunjie atau Caishikou dan dilanjut jalan kaki sama aja jauhnya. Tapi rute Changchunjie lebih banyak pemandangan dan suasananya lebih dinamis. Rute Caishikou berasa kayak jalan kaki di trotoar Gatsu.

Kebetulan pas ke sana saya nyoba kedua rute tersebut *emang kurang kerjaan*. Berangkat buat jumatan di Niujie pake rute pertama. Naik MRT dari stasiun terdekat dari hotel, Stasiun Jianguomen, menuju Stasiun Changchunjie yang kebetulan sama-sama di Line 2. Tiket Beijing MRT untuk semua destinasi sekali jaan 4 yuan dan bisa dibeli melalui self service ticketing machine yang ada di semua stasiun. Dari situ tinggal keluar dan jalan kaki menuju arah selatan sampe ketemu ini:

Ini bukan kelenteng. Ini bagian depannya Masjid Niujie  :)

Begitu memasuki Niujie Rd. atmosfer Islami sudah mulai terasa. Banyak toko-toko yang memiliki papan nama bilingual: dalam bahasa Mandarin dan Arab. Supermarket halal ada di beberapa titik, dan penjual makanan berbahan dasar lamb dan mutton tersebar sepanjang jalan. Tidak susah mengidentifikasi keberadaan Masjid Niujie. Akan banyak kerumunan orang yang berkumpul di satu titik dan ada banyak penjagaan polisi juga. Entah ini hanya terjadi setiap hari Jumat saja atau memang setiap hari. Kurang nyaman juga ngeliat penjagaan ketat dan polisi yang berjumlah cukup banyak nongkrong di sana. Tapi mungkin bisa dimaklumi kalo mengingat setiap jumat akan ada konsentrasi umat Islam asal Xinjiang (Uighurstan) yang rawan isu separatisme ngumpul di sini.

IMG_20150327_140840864_HDR

Masuk ke dalam

IMG_20150327_140646885_HDR

Lebih dalam…

Batas suci.

Batas suci.

IMG_20150327_123627625_HDR

Karpet tambahannya belom pada digelar. Benda putih di sebelah kanan itu nampaknya adalah jam matahari, mungkin buat nentuin waktu shalat (tapi saya ga ngerti bacanya gimana)

IMG_20150327_123354971_HDR

Jadi inget menara Masjid Kudus

Saya tiba di Niujie sekitar pukul 12.15. Awalnya kebingungan nyari tempat wudhu, tapi begitu melihat semua jamah tidak ada yang bertelanjang kaki akhirnya jadi ikutan tayamum doang dan pake kaos kaki untuk shalat. Tidak beberapa lama dikumandangkan adzan dengan pelafalan logat Cina Tiongkok yang medok. Saya tadinya mikir bakalan sama prosesinya kayak di tanah air: 1) khotbah pertama 15-20 menitan, 2) khotbah kedua + doa 5 menitan, 3) shalat jumat 2 rakaat. Ternyata beda. Sehabis adzan, ternyata ada semacam tadarusan: masing-masing jamaah di shaf terdepan (ini kayaknya dedengkot-dedengkotnya) membacakan surah-surah pendek Juz ‘Amma secara  bergantian. Terkadang diselingi juga anak kecil yang membacakannya dengan tajwid ala kadarnya.

Dan itu lama….

Mungkin sekitar 45 menit tadarusan baru nongol sang khatib yang kemudian langsung membawakan khotbah dengan menggebu-gebu dan penuh semangat ’49 (tahun revolusi pembentukan RRT -red.) dalam bahasa Mandarin.

"Sidang Jum'ah yang berbahagia..."

“Sidang Jum’ah yang berbahagia…”

Si khotib pertama ini pun cukup lama membawakan materinya. Ada kali setengah jam sendiri. Begitu udahan, saya kaget. KOK JAMA’AH PADA BERDIRI YA?? Awalnya saya pikir ini udah waktunya shalat jumat ‘beneran’ jadi ikutan pasang kuda-kuda. Tapi ini ga ada iqomat dan titah dari sang imam yang biasanya berbunyi: “rapatkan dan luruskan shaf-nya” (dalam bahasa Mandarin pastinya, yang tentu saja saya tidak paham). Rupanya orang-orang ini tengah menunaikan shalat sunah 4 raka’at (entah apa) di antara dua khotbah. Belum pernah ngeliat ini di tempat lain sih. Memang benar kata pepatah, lain lubuk lain ilalang (atau belalang ya?)…

Setelah pada duduk kembali, muncullah sang khatib yang satunya lagi. Semacam tag team gitu, karena biasanya kalo di Indonesia khotah pertama dan kedua dibawakan oleh orang yang sama. Ekspektasi awal khotbahnya singkat dong, cuma formalitas doang dan dilanjut doa menjelang dimulainya shalat jumat. Tapi ini beda. Ini makan waktu juga, dan kali ini semua materi khutbah (juga doa-doanya tentu) dibawakan dalam bahasa Arab. Ciamik tenan para sesepuh muslim Tiongkok ini, bilingual semua :)

"...demikian khutbah yang singkat ini..."

“…demikian khutbah yang singkat ini…” ((( SINGKAT )))

Akhirnya baru sekitar pukul 14.15 shalat jumatnya resmi dimulai dengan takbiratul ihram. Jumatan dengan durasi terlama yang pernah saya ikuti sebagai makmum (yakali gua pernah jadi imam shalat jumat..) :D Sekitar pukul 14.30, jamaah mulai keluar satu persatu dari Masjid Niujie menuju tempat aktivitasnya kembali. Dari pengamatan sekilas, cukup banyak wajah-wajah Kaukasoid  yang ikut dalam jumatan kali ini. Saya menduga itu dari korps diplomatik negara-negara Asia Tengah yang mayoritas beragama Islam, mengingat pakaiannya pada resmi berjas semua gitu. Tampang Asia Selatan dan Timur Tengah juga ada segelintir. Muka Melayu cuma 1-2, itu pun orang Malaysia (ketahuan dari logatnya). Sisanya adalah muka-muka Mongoloid yang tidak bisa saya bedakan mana etnis Han, Hui, Uighur, atau lainnya.

IMG_20150327_140456519

Bubaran jumatan #1 feat. bapak-bapak pose pengen pipis membelakangi kamera

IMG_20150327_123932261

Bubaran jumatan #2 feat. bapak-bapak fotogenic sadar kamera

IMG_20150327_140519773_HDR

Bubaran jumatan #3 feat. jamaah masbuk

Total ditambah perjalanan pergi pulang saya menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam buat numpang jumatan di Masjid Niujie :D Cukup impresif mengingat kalo di tanah air di atas satu jam (atau bahkan 45 menit) udah bisa bikin para jamaah blingsatan. Mungkin di sini orang-orang pada makan siang dulu baru jumatan. Sedikit menjelaskan kenapa kios-kios makanan halal di sepanjang Niujie Rd. rame banget menjelang siang (dan makanannya udah pada abis pas bubaran jumatan). Alhasil karena melewatkan waktu makan siang, pas perjalanan pulang menuju hotel langkah kaki terasa berat dan rada sempoyongan hehe.. (sampe hampir salah naik line MRT segala). Belakangan saya baru tau kalo Masjid Niujie ini juga jadi salah satu lokasi suting film Assalamualaikum Beijing yang cukup populer baru-baru ini. Lumayan lah, bisa menjejakkan kaki di salah satu ikon wisata Beijing yang belum begitu populer. Jadi jika berkesempatan ke Beijing, selain Forbidden City, Tiannanmen Square, Temple of Heaven, Bird Nest Stadium, atau Great Wall, sempatkan juga mampir ke Masjid Niujie ini. Tempat yang kaya nilai historis, memuaskan secara estetika, dan terbuka untuk semua golongan (untuk teman-teman yang tidak beragama Islam mungkin sebatas pelataran masjidnya saja).

0:43 & 2:22. Been there, done that.

The Great (Fire)Wall of China

Empat hari di Republik Rakyat Tiongkok membuat saya tersadar kalo ciri utama pemerintahan yang menganut asas komunisme ternyata bukan antipatinya terhadap agama. Kebalikan dari persepsi umum di Indonesia yang mengidentikkan komunisme dengan atheisme, di Tiongkok (lebih tepatnya: Beijing) ternyata cukup mudah dijumpai tempat ibadah berbagai agama, dan hampir semuanya berfungsi dengan normal. Masjid, gereja, atau kuil bukan sesuatu yang haram didirikan dan para penganut agama di sana pun bebas menjalani ibadah (meski mungkin ada penjagaan dari aparat). Seakan tidak terlihat ada perbedaan signifikan antara sebuah negara komunis dan negara ‘normal’. Tapi semua itu berubah ketika saya mencoba mengakses internet di sana.

Di Tiongkok rupanya tidak dikenal istilah “googling”.

Bayangkan situasi ini: sebelum berangkat ke Tiongkok, semua file penting telah diunggah ke Dropbox dan Google Drive. Kalo pun ada yang kelewatan, jejak-jejaknya masih bisa dicari di tumpukan attachment di inbox Gmail, juga histori korespondensi via email yang sewaktu-waktu bisa dibutuhkan. Terus kalo ada beberapa bahan penting dalam bahasa Inggris yang harus dibuat on the spot, Google Translate (seharusnya) selalu bisa diandalkan. Buat modal navigasi dan nyari-nyari alamat selama di sana juga tinggal pake Google Maps. Semua mengandalkan layanan Google Sang Maha Pemurah dan Tahu Segala.

Lalu tiba-tiba semuanya terblokir tidak bisa diakses di sana.

Ini cukup mengejutkan karena dari yang saya tau sebelumnya cuma situs-situs medsos macam Twitter dan Facebook yang diblokir oleh pemerintah Tiongkok. Tidak terpikir kalo situs tempat menggantungkan hajat hidup orang banyak seperti Google dan beragam layanannya juga diblok. Pun demikian dengan situs cloud storage macam Dropbox. Yang paling esensial dengan kerjaan saya tentunya perkara Gmail yang gak bisa dibuka. Jalur komunikasi jadi tersendat dan arsip-arsip convo penting dalam email jadi tertutup aksesnya. Tapi anehnya, situs-situs Microsoft hampir semua bisa diakses dengan normal di sana. Walhasil selama di Beijing saya harus mengandalkan Bing buat googling (eh gimana?). Juga terpaksa menggunakan Bing Translator dan Bing Maps yang semuanya menyajikan hasil bak bumi dan langit dengan kualitas layanan produk-produk Google. Bill Gates kayaknya harus dikasih tau kalo produk-produk internetnya butut dan cuma jadi pilihan kalo dalam kondisi terpaksa.

Bing sucks! (there i said it) #TeamGoogle

Pemblokiran, atau dalam bahasa yang lebih halus: penyaringan, informasi mungkin jadi fitur utama di setiap negara sosialis-komunis. Contoh paling ekstrem tentunya adalah apa yang terjadi di Republik Rakyat Demokratik Korea a.k.a. Korea Utara. Juga di Kuba dan (mungkin) Vietnam. Ekspektasi awal saya dunia perinternetan Tiongkok tidak setertutup rekan-rekan sejawatnya, namun rupanya ekspektasi saya masih ketinggian. Untuk bisa menggunakan internet dengan ‘normal’ di RRT, seseorang atau suatu lembaga harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk berlangganan jasa VPN yang menjamur di sana. Itu pun terkadang koneksi ke ‘dunia luar’ masih suka putus nyambung. Ini sepertinya praktik umum di sana dan sedikit memantik rasa penasaran saya: kalo penggunaan VPN ini sudah sebegitu lumrah, apakah hal ini tergolong tindakan ilegal yang melanggar hukum? Kalo internet diblokir tapi penyedia jasa VPN melimpah ruah (dan tidak ada sanksi bagi penyedia dan pengguna jasa), what’s the point of pemblokiran? Entahlah.

Yang bikin tambah nyebelin, jasa VPN yang biasa saya pake di Indonesia dan telah terinstal di hape & laptop (Tunnel Bear dan Zenmate) ternyata juga tidak bisa dipake di Tiongkok :D Satu-satunya cara untuk bisa menikmati kebebasan berselancar di dunia maya selayaknya di Indonesia hanya dengan menggunakan jaringan hasil tethering operator GSM Indonesia yang telah aktif layanan data roaming internasionalnya. Selebihnya, jika hanya bertumpu pada wifi hotel atau jaringan SIM card operator sana, ucapkanlah selamat tinggal untuk sementara pada gegap gempita media sosial :). Twitter, Facebook, Instagram, WordPress, Blogspot, Tumblr, Youtube, Google+ semuanya diblok. Saya gak tau kalo Path karena emang ga punya, tapi kalo Ask.fm masih bisa dibuka pake jaringan sana. Swarm dan Foursquare juga masih bisa diakses.

Mungkin ada sisi baiknya juga banyak situs media sosial yang diblokir begitu. Warga Tiongkok jadi berkurang derajat kekepoan dan narsisnya *padahal mah tetep di Weibo kali* Juga bisa lebih fokus ke kerjaan dan waktunya gak tersita banyak untuk mantengin media sosial. Atau bisa juga maksudnya untuk mengurangi derajat kekepoan dan (terutama) narsisme juga hasrat menggebu untuk pamer milik turis-turis NKRI yang berkunjung ke sana hehe.. Yang pasti, pengalaman merasakan sendiri bagaimana negara bisa mengatur asupan informasi yang bisa diterima rakyatnya ini cukup membuka mata. Baru berasa kalo pemblokiran situs (yang berguna) emang bisa bikin senewen. Cukuplah Kementerian Kominfo stick with their internet positif atau apalah itu namanya yang cuma buat ngeblokir situs bokep, situs pendukung terorisme, ISIS, dan sebangsanya. Jangan sampe tiba-tiba Google diblok karena dianggap “menumbuhkan rasa ingin tahu dan mendorong masyarakat jadi berpikiran liberal”.. :)

…or worse: Google diblok, dan segenap tumpah darah Indonesia diwajibkan pake Bing.