Jump on the Bandwagon

So here’s a thing increasingly popular right now: #30daysmusicchallenge. Never heard about it before? Check this one out:

cx_swmruqaes5cx-jpg-large

Interesting. Gonna make my version of it. But instead of posting it one by one each day (which no one would care) (and too lazy to do it), i’ll wrap it up in one post and make a YouTube playlist out of it. So here it is:

  1. Day 1: Efek Rumah Kaca – Putih
  2. Day 2: Nena – 99 Luftballons
  3. Day 3: Jimmy Cliff – I Can See Clearly Now
  4. Day 4: Oasis – Don’t Look Back in Anger
  5. Day 5: Seringai – Akselerasi Maksimum
  6. Day 6: Mansyur S. & Elvy Sukaesih – Gadis Atau Janda
  7. Day 7: Float – Pulang
  8. Day 8: Slank – Poppies Lane Memory
  9. Day 9: Beastie Boys – Intergalactic
  10. Day 10: Rama – Bertahan *ini sedih banget ya rabb :”(*
  11. Day 11: The Trees and The Wild – Berlin
  12. Day 12: Green Day – When I Come Around
  13. Day 13: John Williams – Star Wars Main Theme
  14. Day 14: Edwin McCain – I Could Not Ask For More
  15. Day 15: Destiny’s Child – Emotion
  16. Day 16: UEFA – UEFA Champions League Anthem
  17. Day 17: Yana Julio & Lita Zein – Emosi Jiwa
  18. Day 18: Toto -Africa (yang penting lagu tahun 1980-an lah.. :D)
  19. Day 19: Five For Fighting – 100 Years
  20. Day 20: Iwan Fals – Belum Ada Judul
  21. Day 21: Weezer – Jamie
  22. Day 22: Coldplay – Fix You
  23. Day 23: Benyamin S. – Seriosa
  24. Day 24: ST12 – S.K.J.
  25. Day 25: Chrisye – Merpati Putih
  26. Day 26: Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
  27. Day 27: Fadly – Anak Jalanan #lawas
  28. Day 28: Yuna – Decorate
  29. Day 29: Fajar Bahari – Game Watch (atau bahasa bekasinya “Gimbot”)
  30. Day 30: The Milo – Dunia Semu

Kapok Berurusan dengan CIMB Niaga

Apa reaksi anda ketika tiba-tiba sekonyong-konyong out of the blue menerima email dari bank dengan judul “Your E-Statement for Month xxxx”, padahal anda bukan nasabah bank tersebut dan gak pernah berurusan dengannya sebelumnya?

Yang jelas reaksi pertama pasti gak jauh-jauh dari melontarkan ekspresi kaget seraya tak lupa berseru “apa-apaan we-te-ef nih??!” Setidaknya itu yang saya lakukan ketika saya tiba-tiba menerima email dari CIMB Niaga, memberitahukan bahwa ada billing statement terlampir yang ditujukan untuk saya (yang bukan nasabah mereka). Bukan tanpa alasan tentunya, mengingat sudah sering terdengar berita orang-orang yang tiba-tiba menerima tagihan kartu kredit dari sejumlah bank padahal tidak pernah mengajukan aplikasi sama sekali. Saya awalnya berpikir kali ini mendapatkan giliran apes tersebut. Terlebih setelah lampiran file e-statement yang ada di email tidak bisa dibuka meskipun sudah dimasukkan password yang diambil dari 6 digit tanggal lahir saya. “Your password is incorrect” katanya. Hebat betul CIMB Niaga sampai bisa lebih mengetahui tanggal lahir saya yang ‘asli’. Kecurigaan menjadi makin memuncak karena di bayangan saya si marketing kartu kredit/produk tabungan nakal itu dengan sengaja menginput tanggal lahir saya secara asal-asalan demi memenuhi target mereka.

Penasaran dengan hal ini, saya pun memutuskan untuk segera menghubungi 14041, layanan Customer Service CIMB Niaga. Petugas call centre tidak begitu banyak menolong. Malah menambah kesan bahwa kasus seperti ini pernah (atau sering?) terjadi sebelumnya. Setelah melalui hold yang super lama (untuk mereka yang pernah berprofesi serupa, hal ini salah satu tabu utama yang pantang dilakukan kepada pelanggan :D) akhirnya saya disarankan untuk melaporkan keluhannya via email agar bisa lebih detail menyampaikan persoalannya.

Dalam email ke 14041(at)cimbniaga(dot)co(dot)id, selain melampirkan screenshot email e-statement yang dipermasalahkan, saya menyampaikan permintaan saya agar CIMB Niaga bisa menjelaskan isi dalam e-statement (yang tidak bisa saya buka) dan kenapa saya bisa dikirimkan email tersebut. Sederhana sebenarnya, tapi jawaban yang didapat cukup di luar dugaan: CIMB Niaga membutuhkan waktu sebanyak 2 hari kerja untuk melakukan penanganan. Ini hal pertama yang bikin ilfil. Di tahun 2016 ini ternyata masih ada contact centre suatu perusahaan jasa berskala nasional (internasional malah) yang jam kerjanya dibatasi weekdays. Nggak available 24/7. Padahal konsumen (dan juga non-konsumen) bisa mengalami masalah kapan saja. Jadi kalo ngelaporin masalahnya hari Sabtu, paling cepet Selasa baru bisa ditangani. Wow.

Tapi okelah, mungkin SOP yang dibuat CIMB Niaga untuk penanganan masalah via email masih menggunakan produk keluaran tahun 1999. Mau gak mau saya harus sabar menunggu hingga dua hari kerja ke depan. Namun email balasan ternyata baru diterima sehari sesudah tenggat waktu yang telah mereka tetapkan tersebut, dan isinya cukup gak penting: meminta agar di-forward email yang dipermasalahkan, tidak hanya sekadar screenshot. Ini ke-ilfil-an nomor 2. Ngeforward nya sih ga masalah, tapi di bayangan saya: bukannya email itu pasti ada juga di sent item mereka? Tinggal difilter berdasarkan penerima, masukin alamat email saya, dan seharusnya langsung ketemu itu barang. Simpel, cuma mungkin mereka butuh bukti kalau saya memang benar-benar menerima email e-statement tersebut, bukan cuma sekadar kompetitor yang berpura-pura komplain buat menjatuhkan pesaing usaha. Oke fine, saya forward emailnya, sambil tak lupa mengirimkan email konfirmasi telah memforward emailnya.

Hal ilfil nomor tiga terjadi tepat keesokan harinya. CIMB Niaga kembali mengirimkan email yang meminta agar di-forward email yang dipermasalahkan. Ini petugas customer care-nya pada ngecek inbox dulu gak si sebelum ngirim email?? :'(( Susah payah saya menjelaskan dalam email balasan kalau mereka telah mengirimkan email serupa kemarin dan saya langsung forward saat itu juga sambil tak lupa konfirmasi via email lagi. Keluhan (lebih berupa curhatan) panjang lebar tentang betapa kurang telitinya CIMB Niaga, ketidakprofesionalan mereka dalam melayani (bukan) pelanggan, hingga mengingatkan kembali inti masalah tentang billing statement gak jelas itu rupanya cuma dibalas (lagi-lagi) pake auto-generated email yang ujungnya bisa ditebak: harus ditunggu lagi 2-3 hari kerja.

Ya Rabb... Tabahkan hamba

Ya Rabb… Tabahkan hamba

Setelah lewat seminggu diombang-ambingkan perasaaan CIMB Niaga, balasan baru datang lagi, dengan isi pesan yang bawaannya pengen banting henpon sebagai berikut:

untitled

Teori Relativitas Waktu dalam Perspektif Layanan Perbankan: Studi Kasus CIMB Niaga

I lost count of those ilfilnesses coming from CIMB Niaga. I HAD ENOUGH!!! *marah ceritanya* Untuk masalah sesederhana ini aja butuh waktu lama banget buat ditanganin. Gimana kalo hal yang lebih ribet dan complicated seperti penerbitan right issue untuk obligasi korporat yang tenornya satu semester dan jatuh tempo akhir kuartal tahun fiskal ini????!!! (ini ngarang, saya juga ga tau maksudnya apa)

Tapi beneran, pada saat itu saya udah otomatis hilang kepercayaan sama CIMB Niaga. Sudah dipastikan bank ini akan masuk black list dalam preferensi personal saya untuk segala produk perbankan dan finansial. Saya tidak akan mau menjadi nasabah dari bank yang lambat menangani masalah sepele dan hanya membutuhkan klarifikasi. Pengalaman saya sebagai outsider ketika (terpaksa) berurusan dengan mereka cukup membuat kapok dan tobat.

Hingga tibalah hari ini. Siang tadi saya iseng nelepon lagi ke 14041 untuk nanyain status komplain saya berhubung hari ini seharusnya tenggat waktu untuk hasil ‘investigasi’ mereka. Setelah kembali di-hold cukup lama, petugas call centre memberi tahu saya kalau (this is literally what she told me) hasil ‘investigasi’nya adalah “… telah menghubungi nasabah pemilik rekening untuk melakukan pembaharuan alamat email dan juga mengkonfirmasikan ke cabang pembuka rekening nasabah untuk pengecekan lebih lanjut.

Wait, what?

Jadi kesimpulannya adalah: (1) e-statement yang dikirimkan ke email saya itu salah alamat karena mestinya ditujukan ke orang yang bernama sama (sial, nama lengkap saya ternyata pasaran juga) dan beralamat email yang mirip-mirip (cuma beda 1 karakter) yang berarti kekeliruan ada di pihak CIMB Niaga; (2) CIMB Niaga memilih untuk tidak memberi tahu hal ini ke saya terlebih dahulu sebagai pihak pelapor, tapi lebih memilih menginformasikannya ke nasabah dan cabang (yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang masalah ini kalo saya gak komplain); (3) CIMB Niaga tidak proaktif menginformasikan hasil ‘investigasi’ apalah-apalah itu yang ternyata telah diselesaikan kepada saya yang telah berhari-hari menunggu. Bisa jadi kalo saya hari ini gak menghubungi ke 14041 mungkin harus menunggu lebih lama supaya tahu duduk persoalannya.

Oke, layanan pelanggan CIMB Niaga ternyata memang benar-benar tidak mencerminkan kualitas perusahaannya yang masuk Top 10 bank umum nasional di Indonesia. Sub-standar banget! Selama 15 hari menunggu klarifikasi dari keluhan yang saya layangkan, tidak sekalipun pihak CIMB Niaga menghubungi via telepon untuk menjelaskan perkembangan keluhan saya ataupun menginformasikan bahwa masalah sudah selesai dengan hasil investigasi berupa ini ini ini. Itu padahal hal yang sangat standar yang biasa dilakukan oleh contact centre mana pun untuk menghargai konsumen (maupun non-konsumen)nya yang telah berpayah-payah melaporkan celah di sistem mereka. Mungkin CIMB Niaga merasa toh pada akhirnya saya tidak dirugikan karena e-statement tadi cuma nyasar doang ke email saya jadi ga usah diwaro lah ini orang, nasabah juga bukan. Mungkin. *(uhuk) nelepon 14041 juga ngabisin pulsa kali (uhuk)* Yang pasti persepsi akan brand CIMB Niaga di mata saya kini sudah berada di level terendah. Level ampas. Mudah-mudahan hal serupa tidak dialami oleh mereka yang telah atau hendak menjadi nasabah bank ini.

Orang Bijak

Ada satu kegiatan rutin tahunan tiap Maret yang konon bisa menjadi indikator seberapa bijak suatu individu warga negara Indonesia. Kegiatan itu adalah mengisi SPT Tahunan untuk melaporkan pajak penghasilan yang telah dibayarkan selama setahun yang telah lewat. Thanks to the old-and-everlasting slogan of Direktorat Jenderal Pajak (DJP): “Orang Bijak Taat Pajak”.

Indonesia memang menganut sistem self assessment dalam hal pelaporan pajak penghasilan. Jadi si wajib pajak lah yang punya tanggung jawab buat ngitung pajak terutang/pajak yang udah dipotong sama institusi tempat dia bekerja. Dulu perkara isi mengisi SPT PPh ini ribetnya bukan main, apalagi untuk yang masih awam istilah-istilah perpajakan. Untungnya sudah dua tahun belakangan pelaporan SPT di tempat saya bekerja wajib dilakukan via e-filing (online) yang cukup memudahkan. Tidak lagi harus mengisi form-nya secara manual, melampirkan bukti potong, lalu menyetorkannya ke KPP terdekat. Kini semua dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Praktis.

Tapi ada satu hal yang cukup menggelitik hati saya tahun ini. Setelah mengisi form 1770SS (iya, penghasilan setahun saya belum memadai untuk bisa mengisi form 1770S *hiks*) yang pada dasarnya tinggal nyocokin aja sama data di bukti potong dari bendahara dan bertujuan mencapai hasil “nihil”, ternyata untuk tahun ini saya tidak perlu membayar pajak penghasilan. Nol. Tidak ada sepeser rupiah pun.

Ternyata tahun ini penghasilan tahunan saya masih di bawah treshold Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Tapi ini tak mungkin. Tahun lalu saya masih bisa memberi sumbangsih ke kas negara dengan jumlah yang cukup lumayan (menurut ukuran saya). Apa sekarang negara sudah tidak butuh kontribusi fiskal (meskipun, memang, hanya recehan) dari PNS golongan ala kadarnya macam saya ini? Di satu sisi harga diri ini bak tercabik, tapi di sisi lain ada rasa senengnya juga penghasilan tetep utuh (oh the hypocrisy).

Faktanya adalah pemerintah ternyata telah menaikkan PTKP untuk tahun pajak 2015 melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 122 Tahun 2015. Untuk wajib pajak yang belum memiliki tanggungan, PTKP naik menjadi Rp 36.000.000 dari sebelumnya ‘cuma’ Rp 24.300.000. Jadi untuk yang penghasilan tahunannya di bawah Rp 36 juta, itu artinya negara don’t give a shit about your income tax anymore. The state won’t impose tax on your income because your personal wealth is not significant enough for the well-being of the country. Dengan kata lain yang lebih sederhana: I’m officially poor :”) Apalagi setelah tau kalo salah satu alasan menaikkan PTKP adalah untuk menyesuaikan dengan kenaikan UMP di beberapa provinsi (meskipun ini sebenarnya tidak apple-to-apple karena PTKP bersifat nasional, sedangkan UMP/K bersifat regional). Hitung punya hitung, UMP DKI Jakarta saja saat ini sebesar Rp 3,1 juta/bulan, yang kalau diakumulasikan selama setahun menjadi Rp 37,2 juta, telah melebihi PTKP sehingga layak menjadi objek pajak. Jadi kalo ada abdi negara yang penghasilan tahunannya bahkan masih di bawah PTKP, itu berarti……..

…pengabdian kepada bangsa dan negara itu memang tak ternilai harganya :) *diplomatis*

Jujur, awalnya rada aneh pas nyadar kalo pemerintah udah naikin PTKP lewat PMK 122/2015. Bukannya pemerintah sekarang lagi giat-giatnya naikin penerimaan negara dari pajak? Naiknya PTKP kan otomatis membuat potensi penerimaan negara dari Pajak Penghasilan jadi berkurang karena banyak yang sebelumnya penghasilannya wajib dipajakin trus sekarang jadi gak harus bayar pajak lagi? Tapi ternyata jika dilihat dari perspektif lainnya, kenaikan PTKP ini dampaknya gak terlalu signifikan pada penerimaan negara dan justru bisa menaikkan potensi penerimaan. Seperti dikutip dari rilis resmi Kementerian Keuangan terkait PMK ini:

Ada beberapa pertimbangan pokok penyesuaian besaran PTKP di tahun ini. Pertama,untuk menjaga daya beli masyarakat. Sebagaimana diketahui dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergerakan harga  kebutuhan pokok yang cukup signifikan, khususnya di tahun 2013 dan 2014 sebagai dampak dari kebijakan penyesuaian harga BBM. Kedua, dalam beberapa tahun terakhir terjadi penyesuaian Upah Minimum Propinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di hampir semua daerah. Ketiga, terkait kondisi perekonomian terakhir yang menunjukkan tren perlambatan ekonomi, khususnya terlihat pada Q1 2015 yang hanya tumbuh sebesar 4,7%, terutama akibat dampak perlambatan ekonomi global, khususnya mitra dagang utama Indonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah sedang berupaya keras untuk mendorong naiknya kembali laju pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini melalui naiknya permintaan domestik dengan tetap mendorong daya beli masyarakat. Pemerintah menyadari bahwa saat ini kita tidak bisa mengandalkan sisi eksternal untuk mendorong kinerja ekonomi, sehingga Pemerintah mencoba mendorong permintaan domestik melalui investasi maupun konsumsi masyarakat. Kinerja investasi diharapkan dapat terdorong melalui belanja infrastruktur yang meningkat besar, sementara itu konsumsi masyarakat dapat terungkit melalui kebijakan penyesuaian PTKP dan berbagai program bantuan sosial. Dengan demikian diharapakan keduanya dapat menahan melemahnya kinerja sisi eksternal (perdagangan internasional).

Jadi, kenaikan PTKP ini justru dipandang sebagai upaya untuk memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi dengan cara mendorong masyarakat (yang penghasilannya kini terbebas dari pajak) untuk mengkonsumsi lebih banyak. Penurunan penerimaan pajak akibat kenaikan PTKP dapat dikompensasi dengan kenaikan penerimaan PPN akibat konsumsi masyarakat yang meningkat. Pendapatan yang ‘utuh’ akan mendorong belanja masyarakat sehingga pada gilirannya akan mendorong permintaan agregat baik melalui konsumsi rumah tangga maupun investasi. Salah satu rahasia Indonesia bisa bertahan di tengah kelesuan ekonomi global pasca 2008 itu salah satunya karena postur ekonominya yang gak terlalu mengandalkan pemasukan dari ekspor, tapi dari tingginya konsumsi domestik (secara populasi keempat terbesar di dunia gitu). Pemerintah tampaknya sadar akan hal ini dan ketika ada gejala ekonomi melemah karena turunnya konsumsi, dicarilah cara agar masyarakat memperoleh insentif untuk mau membelanjakan uangnya kembali sekaligus menggerakkan roda perekonomian, salah satunya ya dengan cara ‘pembebasan pajak’ bagi penghasilan kelas menengah yang belum tergolong mapvin ini. Man, I got my degree in economics not for nothing. *nyombong*

Meskipun buat saya pribadi ‘strategi’ pemerintah ini gak begitu ngaruh (karena setelah penghasilan tidak dikenakan pajak toh konsumsi saya rasanya tetep gini-gini aja), tapi tentu harapan saya asumsi pemerintah bahwa turunnya penerimaan PPh akan mampu ditutup penerimaan PPN akibat meningkatnya konsumsi dapat terwujud. Mudah-mudahan perekonomian NKRI mampu rebound dan terus tumbuh di tahun-tahun berikutnya. Pertanyaannya sekarang adalah: kalo treshold PTKP dinaikin dan penghasilan jadi tidak dikenakan pajak, yang otomatis membuat ‘tidak taat pajak’, masihkah orang-orang kayak kami ini berkesempatan menjadi ‘orang bijak’? :D

Mengenang Euro 2000

Jika dilihat dari perspektif waktu, 2016 adalah tahun yang cukup ‘mengerikan’. Terhitung sejak tahun ini, jarak ke tahun 2030 lebih dekat daripada jarak ke tahun 2000. Padahal tahun 2000, yang sering di-salah kaprah-i sebagai awal milenium baru, terasa masih sangat dekat. Tidak terasa 16 tahun telah berlalu sejak dunia dilanda kecemasan akan bug Y2K (yang akhirnya tak pernah terjadi), Ian Thorpe merajai gelanggang renang di Olimpiade Sydney 2000, dan Didier Deschamps mengangkat trofi Henry Delaunay di Stadion De Kuip, Rotterdam.

Bicara tentang tahun 2000 bagi saya tidak akan terpisahkan dari kenangan perihal Euro 2000 Belanda-Belgia. Turnamen sepakbola antar negara-negara Eropa tersebut merupakan turnamen kedua yang saya ikuti setelah Coupe du Monde France 98. Bedanya, France 98 diikuti lebih karena euforia meskipun waktu itu belum bener-bener paham bola (bahkan belum ngerti kriteria offside itu kek gimana), sedangkan Euro 2000 diikuti dalam kondisi sudah dibaptis sebagai fans layar kaca sepakbola. Sudah paham bedanya kompetisi sama turnamen, kompleksitas liga domestik dan tingkat kontinental, pemetaan posisi dalam skema permainan, dan, tentu saja, bagaimana perangkap offside bekerja. :D

Euro 2000 juga akan selamanya berada dalam top list turnamen sepakbola internasional terbaik yang pernah saya ikuti bersama dengan Piala Dunia 2006 dan Piala Dunia 1998. Salah satu alasan utamanya: Zinedine Zidane in his prime. Zizou adalah Maradona/Pele/CR7/Messi-nya generasi 90-an. Bener-bener ga ada lawan di posisi alaminya dan merupakan kemewahan tersendiri bisa menjadi saksi hidup (meskipun hanya sebagai fans layar kaca) bagaimana sang legenda ini setiap pekannya memamerkan skill di kancah Serie A bersama Juventus. Ketika Piala Dunia 98, peran Zizou, meskipun mencetak 2 gol di final, tidaklah sevital perannya di Euro 2000. Euro 2000 adalah turnamen terbaik Zidane sepanjang masa sebagaimana dunia mengenang gol volley-nya untuk Madrid di Hampden Park 2002 sebagai gol terbaik final UCL.

2 Milanese vs 1 His Majesty

2 Milanese vs 1 His Majesty

Euro 2000 dihelat di dua negara bertetangga: Belanda dan Belgia, pada tanggal 10 Juni hingga 2 Juli 2000. Ini pertama kalinya sebuah turnamen sepakbola internasional digelar di dua negara dan seolah menjadi proyek percontohan bagaimana seharusnya pergelaran Piala Dunia yang juga akan digelar di dua negara: Korea dan Jepang, berlangsung dua tahun setelahnya. Sebulan sebelum pembukaan Euro 2000 berlangsung, versi U-21 Euro 2000 telah lebih dulu diselesaikan di Slovakia dan menghasilkan Italia sebagai juaranya dengan Andrea Pirlo sebagai Player of the Tournament. Namun, tim senior Italia justru bukan unggulan utama di Euro 2000. Terlebih hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai, kiper utama mereka Gianluigi Buffon mengalami cedera tangan pada laga uji coba dan terpaksa absen dari turnamen. Bursa prediksi tim juara Euro 2000 waktu itu dipuncaki oleh Belanda. Selain sebagai tuan rumah, timnas Oranye yang ketika itu dilatih oleh Frank Rijkaard juga tengah berada di masa emasnya setelah mampu menembus semifinal France 98. Unggulan berikutnya tentu saja Perancis, sang juara dunia. Berikutnya adalah Spanyol, yang didominasi pemain-pemain Real Madrid dan Valencia sebagai 2 finalis Liga Champions 2000, dan Portugal yang generasi emasnya tengah memasuki usia emas. Negara-negara tradisional seperti Jerman, Inggris, dan Italia tidak terlalu dianggap sebagai unggulan dalam turnamen ini mengingat performa buruk mereka di turnamen besar terdahulu dua tahun sebelumnya: Piala Dunia Perancis 98. Pun demikian dengan Belgia sebagai negara tuan rumah lainnya yang dianggap tidak memiliki kekuatan mumpuni untuk bersaing. Untuk urusan logo, Euro 2000 tampil sedehana dengan cuma menampilkan siluet orang yang sedang menggiring bola dengan bendera Belanda dan Belgia sebagai ornamennya. Halaman karikatur Tabloid Bola pernah memparodikan logo ini menjadi Rama Aiphama yang sedang menggiring bola (dan sialnya, yang keinget sampe sekarang selalu itu :D)

Emang mirip sih… :p

Turnamen diikuti oleh 16 tim dengan Slovenia dan Norwegia menjadi debutan. Hal yang cukup mengejutkan adalah ketiadaan Kroasia, sang semifinalis Piala Dunia dua tahun sebelumnya, di daftar kontestan. Juga tidak ada negara-negara pecahan Uni Soviet. 16 tim tersebut dibagi menjadi 4 grup di mana juara dan runner-up grup mendapat tiket ke perempat final, format yang menurut saya sudah sangat ideal namun sayangnya diubah UEFA untuk Euro 2016 dan seterusnya dengan alasan pemerataan kesempatan berpartisipasi bagi negara-negara ‘kecil’. Pembukaan Euro 2000 dilakukan di Roi Baudoin Stadium di Brussels yang lebih dikenal dengan nama lainnya: Heysel. Di stadion bersejarah (dan berdarah) itu Belgia berhasil menundukkan Swedia 2-1, meskipun di akhir kualifikasi grup Belgia tidak mampu lolos ke perempat final. Di grup B tempat Belgia bercokol yang terus melaju ke perempat final adalah Italia dan Turki. Grup C diwakili oleh Spanyol dan Yugoslavia, dan Grup D diwakili oleh Belanda dan Perancis. Kejutan terbesar terjadi di Grup A, tempat 2 (mantan) juara dunia: Jerman dan Inggris bercokol. Kedua negara kekuatan tradisional sepakbola itu harus angkat koper lebih awal karena kalah bersaing dengan Portugal dan Romania. Dari keduanya, nasib paling mengenaskan dialami oleh juara bertahan Jerman yang harus menyudahi turnamen tanpa sekalipun mencicipi kemenangan + harus menelan kekalahan dari musuh bebuyutannya: The Three Lions Inggris. Gol semata wayang Alan Shearer membuat Inggris mampu membalaskan dendam di semifinal Piala Eropa di Wembley empat tahun sebelumnya (meskipun tidak berarti apa-apa bagi nasib Inggris dalam turnamen). Keterpurukan Jerman sendiri sudah diprediksi sebelumnya mengingat skuad yang uzur (note: Lotthar Matthaeus yang sudah berumur 39 tahun masih diikutkan dalam skuad. Darah muda skuad Jerman hanya Michael Ballack dan Sebastian Deisler dan mereka pun jarang jadi starting eleven), pelatih yang kurang meyakinkan (Erich Ribbeck), dan kemampuan pemain yang semenjana (tengok saja andalan di lini depan: Oliver Bierhoff dan Carsten Jancker).

Salah satu partai klasik yang terjadi di Charleroi (Belgia)

Kualifikasi grup menghasilkan tiga tim dengan nilai sempurna 9 dari 3 kali kemenangan, masing-masing Portugal, Italia, dan Belanda. Perempatfinal pun menyajikan satu partai menarik ketika Perancis bertemu dengan Spanyol. Kembali, Zizou menunjukkan tajinya dengan mencetak satu gol dan mengantar Perancis lolos ke semifinal untuk bertemu Portugal. Di perempat final lainnya, tuan rumah Belanda mencukur Yugoslavia 6-1 (diwarnai dengan hattrick Patrick Kluivert) dan makin mengukuhkan posisinya sebagai unggulan utama dalam turnamen. Portugal dan Italia menang meyakinkan dengan skor 2-0, masing-masing terhadap Turki dan Romania. Semifinal pun telah dipastikan. Perancis akan bertemu Portugal, sedangkan tuan rumah Belanda bertemu Italia.

Belanda berada dalam posisi yang sangat diunggulkan ketika bertemu Italia, apalagi sehabis mereka menunjukkan kedigdayaannya ketika menghabisi Yugoslavia 6-1. Berlaga di kandang sendiri, Amsterdam Arena, didukung puluhan ribu suporter Oranje, dan memiliki skuad terbaik dengan kekuatan merata di semua lini rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat Belanda melaju ke laga puncak menyingkirkan Italia. Hal itu makin mendekati kenyataan ketika di babak pertama Gli Azzurri sudah harus bermain dengan 10 orang akibat espulso yang diterima Gianluca Zambrotta dan hadiah penalti yang sayangnya berhasil ditepis Francesco Toldo. Pengaruh sang allenatore Dino Zoff sebagai benteng terakhir sistem catenaccio Italia yang berhasil memenangkan Piala Dunia 1982 terlihat ketika 10 pemain Azzurri bisa membendung Belanda tanpa gol hingga akhir waktu normal dan memaksa adanya adu penalti. Di babak penentuan ini, Toldo (yang menjadi kiper utama hanya karena absennya Buffon) kembali menunjukkan kemampuannya dengan menepis penalti Paul Bosvelt dan mengantarkan Italia ke final. Meskipun demikian, yang paling diingat dari ajang adu penalti Italia-Belanda di Euro 2000 itu bukanlah aksi penyelamatan Toldo, namun panenka dari Francesco Totti yang mampu menipu Edwin Van der Sar. Penalti Totti ini kelak akan menjadi highlight utama karirnya sebagai algojo tendangan penalti selain penalti penentuan lawan Australia di perdelapan final Germany 2006.

A cheeky penalty kick

Pada laga semifinal lainnya, Perancis, sang juara dunia, bertemu Portugal yang diperkuat para alumni Piala Dunia U-20 tahun 1991 macam Fernando Couto, Luis Figo, Rui Costa, dan Sergio Conceicao. Sebelum kemunculan CR7, tim ini dianggap sebagai tim terkuat yang pernah dimiliki Portugal sejak 1966. Dibandingkan partai semifinal lainnya antara Italia dan Belanda yang tidak seimbang dan monoton, laga ini jelas lebih seru dan menegangkan. Setelah di waktu normal berakhir imbang 1-1 akibat gol Nuno Gomes dan Thierry Henry, laga berlanjut ke perpanjangan waktu yang ketika itu masih berformat golden goal (gol yang tercipta selama masa 2×15 menit itu akan otomatis menghentikan pertandingan). Ketika laga mendekati akhir, terjadilah insiden hands ball yang dilakukan oleh Abel Xavier yang menepis dengan sengaja bola tendangan Sylvain Wiltord yang 90% masuk ke gawang Vitor Baia. Insiden ini sangat mirip dengan kejadian di Piala Dunia 2010 ketika Luis Suarez dengan sengaja menghalangi dengan tangan bola hasil sepakan pemain Ghana yang 99,99% menjadi gol. Kelakuan Xavier tersebut berbuah hadiah penalti bagi Perancis dan berhasil dikonversi Zidane untuk mengantar Perancis ke final Piala Eropa pertama sejak 1984.

Final Euro 2000 merupakan ulangan perdelapan final France 98 dua tahun sebelumnya. Dua tim biru: Perancis dan Italia bertemu di Stadion Feijenoord (De Kuip) Rotterdam pada 2 Juli 2000. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini Perancis yang berhak memakai seragam Les Bleus kebesarannya dan Italia terpaksa menggunakan jersey away putih. Perancis dan Italia sama-sama mencoba meraih gelar juara Eropa mereka yang kedua. Bagi Perancis, keberhasilan di Rotterdam akan mengulangi sukses tahun 1984 yang ditorehkan Michel Platini dkk. Sedangkan untuk Italia, gelar juara akan menjadi pemuas dahaga yang hakiki karena terakhir kali mereka juara adalah pada tahun 1968 bersama legenda-legenda macam Facchetti, Mazzola, dan Rivera. Di tim Perancis, formasi pemain di laga final tidak berubah banyak dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Gawang tetap dijaga oleh Fabien Barthez. Lini belakang tetap dijaga oleh kuartet Blanc-Desailly-Lizarazu-Thuram (dan Blanc tetap setia mencium kepala Barthez sebelum pertandingan dimulai :D). Deschamps-Vieira-Djorkaeff-Zidane mengisi lini tengah, dan Henry-Dugarry menjadi ujung tombak. Skuad Perancis di Euro 2000 ini terbilang lebih ‘mewah’ daripada waktu France 98. Setidaknya terlihat di kualitas pemain utama dan pemain cadangan yang tidak berbeda jauh. Lebih-lebih di sektor gelandang dan pemain depan. Cadangannya Henry-Dugarry adalah Wiltord-Anelka-Trezeguet. Sedangkan di lini tengah juga masih ada Robert Pires, Christian Karembeu, dan Emmanuel Petit. Untuk Italia, trio bek terbaik dunia (menurut saya): Maldini-Nesta-Cannavaro menjaga lini belakang bersama Francesco Toldo dan Mark Iuliano. Demetrio Albertini menjadi jangkar, diapit oleh Luigi Di Biagio dan Gianluca Pessotto. Lini serang dihuni oleh Stefano Fiore dan duo AS Roma: Francesco Totti & Marco Delvecchio. Masuknya Delvecchio di daftar starter cukup mengejutkan karena striker pilihan Dino Zoff di pertandingan-pertandingan sebelumnya biasanya adalah Filippo Inzaghi. Tapi yang paling sensasional adalah keberhasilan Stefano Fiore, pemain semenjana asal Udinese, yang berhasil menyingkirkan nama besar seperti Alessandro Del Piero untuk mengisi starter, thanks to performa yang konsisten sepanjang turnamen.

Starting formation di laga final

Starting formation di laga final

Impian Italia untuk merengkuh trofi juara Eropa nyaris terwujud ketika Marco Delvecchio mampu menjebol gawang Barthez di babak pertama. Semua upaya gempuran Perancis seakan menemui karang kokoh di hadapan Maldini-Nesta-Cannavaro bahkan hingga menit-menit injury time. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana para penghuni bangku cadangan Italia sudah berangkulan sambil berbaris rapi, menunggu peluit panjang ditiup untuk segera menghambur ke dalam lapangan. Namun petaka itu datang dari para pemain pengganti Perancis ketika Robert Pires memberi assist ke Sylvain Wiltord yang mampu menceploskan bola ke gawang Toldo di detik-detik terakhir pertandingan (suspense at its best). Pertandingan di waktu normal terpaksa berlanjut ke perpanjangan waktu yang benar-benar membawa mimpi buruk bagi Italia. Pemain pengganti Perancis lainnya, David Trezeguet (yang di kemudian hari menjadi pemain asing pencetak gol terbanyak untuk Juventus), berhasil menjebol gawang Italia yang otomatis menghentikan pertandingan dan menghasilkan Perancis sebagai kampiun Eropa baru. Ini adalah golden goal terakhir di final turnamen besar karena setelah Euro 2000, FIFA kembali ke jalan berpikir yang normal dengan mengembalikan kesempatan bagi tim yang tertinggal di perpanjangan waktu hingga usainya waktu 2×15 menit.

Kekalahan Italia di final Euro 2000 terasa menyakitkan karena inilah final terakhir Paolo Maldini sebagai kapten Gli Azzurri. Pada Piala Dunia 2002, harapan Maldini untuk setidaknya melaju ke final dipupuskan oleh wasit Byron Moreno dan tim Korea asuhan Guus Hiddink. Dengan demikian, pupuslah sudah impian fans Italia (terutama fans Milan) untuk melihat Maldini mengangkat trofi internasional bersama negaranya (karena bersama klub sudah terlalu mainstreamuntuk dirinya). Bagi Perancis sendiri, kemenangan di Euro 2000 menjadi akhir sebuah era. Ketergantungan yang semakin besar terhadap sosok Zinedine Zidane menjadi bumerang bagi tim nasional Perancis. Ini terlihat jelas ketika upaya Perancis mempertahankan gelar juara dunia di Korea-Jepang hancur berantakan di babak kualifikasi grup akibat cederanya sang pemain terpenting. Hal yang kemudian berlanjut di Portugal 2004. Perancis (dan juga Italia) akhirnya kembali merasakan berada di final turnamen besar di Piala Dunia Jerman 2006. Kedua tim masih diperkuat beberapa pemain yang turut berlaga di final Euro 2000. Bedanya, pada kesempatan ini Italia lah yang berhasil membalaskan dendamnya, sekaligus membuat Zizou menutup karirnya dengan kenangan teramat pahit. Tandukan Zidane kepada Materazzi berbuah kartu merah dan Perancis yang terpaksa bermain dengan 10 pemain harus keluar sebagai pecundang setelah kalah adu penalti di Berlin.

Maka benarlah adanya yang disampaikan Benyamin S. dalam lagu “Sariosa”:

Romantika kehidupan berputar-putar.

Seperti roda, roda gerobak.

Begitulah selamanya.

“Ter-” 2015

Karena penghujung tahun ini lagi musim-musimnya semua hal dibikinin kaleidoskop, maka tak ada salahnya mencoba bikin kilas balik versi personal untuk beberapa ((( PENCAPAIAN ))) di tahun yang akan berlalu ini. Here’s the list:

Album Tersering Didengar 2015

Tahun ini gak ada album artis asing satu pun di Top 5. Lebih suka karya anak bangsa™

Sebenernya gak perlu melongok statistik Last.fm untuk hal ini karena dengan kesadaran penuh saya haqqul yakin album Rasuk dari The Trees & The Wild akan jadi pemuncaknya. Bisa dibilang saya telat (banget) mengenal band asal Bekasi ini. Pada dasarnya saya bukan tipe pendengar musik yang telaten mendengar lagu album per album. Lebih suka memainkan secara acak dari semua koleksi lagu yang ada. Tapi album keluaran tahun 2009 ini isinya enak-enak semua dari awal sampe akhir. Jadi tidak mengundang untuk sering men-skip lagu. Selain album-album The Best Of, gak banyak album yang memiliki karakter yang sama. Masalahnya adalah Rasuk ini (versi digitalnya) susah banget didengar secara legal. Hampir semua situs music streaming berbayar kenamaan tidak memiliki Rasuk dalam koleksinya. Setau saya di iTunes pun juga tidak dijajakan. Walhasil, karena CD-nya pun sudah jadi barang langka yang bernilai tinggi, saya terpaksa menikmatinya dengan cara ilegal (maap ya Remedy dkk.). Mudah-mudahan mereka secepatnya ngerilis album kedua biar bisa mengapresiasi karyanya secara halalan thayyiban.

Buku Terfavorit 2015

Goodreads menyatakan bahwa tahun ini saya telah mengkhatamkan 15 buah buku. Buku pertama yang selesai dibaca pada tahun 2015 (dan hingga kini ulasannya masih terserak di draft post blog ini) adalah What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions karya Randall Munroe. Buku yang sangat menghibur untuk pengamat hal-hal gak penting macam saya ini. Ada juga Physics of the Future-nya Michio Kaku yang mencoba meneropong keseharian kehidupan manusia 100 tahun mendatang. Dari ranah domestik ada Adhitya Mulya – Sabtu Bersama Bapak dan Iksaka Banu – Semua Untuk Hindia. Tapi buku terfavorit 2015 versi saya hanyalah ini:

Beauty Is A Wound. #barunyampe #newbook #marimembaca #ngabuburit

A post shared by Wisnu Widiyantoro (@_wisnu) on

Cantik Itu Luka adalah buku Eka Kurniawan kedua yang saya baca setelah Lelaki Harimau. Tapi berhubung Lelaki Harimau itu wujudnya e-book, maka ini jadi rilisan fisik Eka Kurniawan pertama yang saya punya. Dibeli ketika bulan puasa, diniatkan buat teman ngabuburit (di saat yang lain pada sibuk ODOJ) dan mampu dikhatamkan pada bulan yang sama. Buku setebal 500 halaman lebih, spasi yang sangat rapat dengan font size mungil, puluhan nama karakter yang ajaib (Kamerad Kliwon! Edi Idiot! Maman Gendeng!), dan rentang waktu di cerita yang sangat panjang dari era kolonial hingga Orba tidak menyurutkan niat untuk melahap setiap kalimat dalam buku ini. Cantik Itu Luka memudahkan saya untuk menobatkan Eka Kurniawan sebagai penulis fiksi kontemporer Indonesia yang karya-karyanya di masa mendatang pasti akan saya beli.

Film Terfavorit 2015

Short-listed candidates: Inside Out, Mad Max: Fury Road, Kingsman: The Secret Service, Ant-Man, Star Wars Episode VII: The Force Awakens.

and the award goes to… Whiplash! :D Meskipun dirilis di AS akhir 2014, tapi Whiplash baru masuk ke sini awal tahun 2015. Film yang ketika selesai saya tonton langsung kepikiran “gua harus bikin review-nya nih!” Beruntunglah orang-orang yang sempat menonton film ini di bioskop, karena feel-nya bakal beda banget kalo ditonton ulang di TV/komputer.

Episode Series Terfavorit 2015

Selama dua season terakhir saya rutin tiap pekan nungguin kelanjutan cerita sinetron Babad Tanah Westeros (a.k.a. Game of Thrones), setelah 3 season pendahulunya ditamatkan dengan cara marathon. Untuk season kelima tahun ini memang banyak yang bilang cukup membosankan. Apalagi di episode-episode awal. Meskipun Khalessi udah berjumpa dengan Tyrion sekalipun plotnya dirasa masih datar-datar aja. Tapi semuanya berubah di episode ke-8:Hardhome.

GoT S05E08 berhasil mementahkan asumsi awam bahwa episode ke-9 adalah episode ter-epic setiap seasonnya. Winter has finally coming, brutally. Pada akhirnya pemirsa ditunjukkan dengan gamblang bahwa ancaman terbesar bagi penduduk Seven Kingdoms bukanlah soal perebutan tahta di King’s Landing, namun berupa datangnya musim dingin tak berkesudahan yang turut membawa serta para white walkers. Setengah bagian terakhir episode ini rasa-rasanya bukan lagi TV material, tapi berkualitas sinema dan layak diputar di bioskop. Buat saya sendiri, episode Hardhome ini setingkat lebih baik daripada episode Red Wedding (terutama karena udah dapet banyak spoiler sih, hehe).

Most Overheard Song 2015

I don’t know if you guys agree with this, but for me, my ears has been exposed to this song too frikkin’ much this year. It’s like played… anywhere & everywhere. (P.S.: Tahun kemarin titel ini jadi jatahnya Magic! – Rude)

Terbuang 2015

Di tengah meningkatnya kesadaran saya dalam mengkonsumsi karya seni secara legal, sangat disayangkan Rdio harus tutup buku di tahun ini. Rdio menjadi satu-satunya layanan paid music streaming yang pernah saya subscribe. Alasannya: murah! Biaya bulanan dimulai dari Rp 10 ribu saja. Udah dapat layanan unlimited streaming dengan koleksi cukup lengkap dan bisa didengarkan offline + sinkronisasi di semua device, tanpa harus diganggu iklan yang nyempil tiap beberapa lagu layaknya penyedia layanan lainnya (terutama yang gratisan). Mungkin karena biaya berlangganannya yang (ke)murah(an) itu yang akhirnya membuat Rdio terpaksa tutup buku. Sungguh amat sangat disayangkan sekali sodara-sodara…

Terlupakan 2015

Dan saya sungguh bersyukur kepada Tuhan YME yang satu ini tidak lagi ngetren sekarang: batu akik. Pada masanya, kerumunan bapak-bapak dan para pemuda yang lagi jongkok mengelilingi mesin gerinda dan tumpukan batu dapat ditemui di tiap sudut ibukota dan suburb. Varian-varian akik pun begitu familiar di telinga: bacan, kalimaya, black opal, dan puluhan jenis bebatuan lain yang tak satu pun saya paham beda dan nilai estetikanya. Sulit dipahami bagaimana cincin batu akik pernah begitu mendominasi gaya kekinian remaja putra NKRI (dari sebelumnya hanya milik bapak-bapak old school dan Tessy Srimulat). Entah bagaimana menjelaskan fenomena ini pada generasi mendatang.

Penemuan Terbaik 2015

Satu kata: Go-jek.

Best Experience 2015

Tak dapat disangkal adalah dua hal ini: kelayapan sendirian selama seminggu melintasi tiga negara Indochina dan mencicipi dua bulan training di Taiwan. Memperluas cakrawala berpikir, mengajarkan kemandirian, memupuk keberanian, meningkatkan survival skill di tempat yang asing sama sekali, memperlancar bahasa Inggris (dan non-Inggris :p), membangun jaringan pertemanan baru, melatih perspektif yang berbeda, mencicipi kemajuan negara maju sekaligus merasakan kekurangan negara miskin, melihat keseharian yang berbeda, mengasah kepekaan dalam berinteraksi dengan sesama, menapaktilasi sejarah, melihat langsung apa yang selama ini cuma bisa ditengok di layar kaca, dan sebagainya, dan seterusnya.

IMG_20151230_181344422

Memento(es)

Selamat tahun baru 2016. May the Force be with us.

[mixtape] Merdeka Bung!

Memilih lagu-lagu untuk dimasukkan ke dalam satu playlist bertema peringatan hari kemerdekaan RI ternyata bukanlah perkara yang mudah. Sama halnya dengan menyusun playlist untuk bulan Ramadhan, kesulitan utama adalah memilih lagu-lagu yang tidak preachy dan menyuarakan nasionalisme secara banal. Namun jika ditengok kembali, sebenarnya ini kembali ke masalah selera saja. Bagi sebagian orang, lagu ‘nasionalis’ tertentu mungkin dianggap sangat norak dan banal, terlepas dari betapapun populernya lagu tersebut (sebut nama: Cokelat – Bendera atau Netral – Garuda di Dadaku), tapi bagi sebagian orang lainnya bisa jadi berpendapat sebaliknya. Sangat subjektif penilaiannya.

Menurut saya sendiri, lagu-lagu yang patut didengar ulang pada momen peringatan tujuhbelasan tidak harus selalu bernuansa puja puji berlebihan terhadap negara. Tidak harus eksplisit tersurat dalam lirik-liriknya tentang kecintaan teramat dalam terhadap tanah air. Terkadang sebuah lagu yang tak secuil pun menyebutkan kata “Indonesia” dalam liriknya mampu  menggugah rasa kesadaran berbangsa karena secara tersirat memang bertutur seputar masalah tersebut. Namun tidak ada salahnya juga lagu-lagu yang mengusung semangat nasionalis menyertakan banyak lirik berbunyi “Indonesia”, “Garuda”, “Negeri/Tanah Airku”, “Merah Putih”, dsb. Meski terkesan obvious tapi kalo lagunya enak (dan gak terlalu sering diputer di TV sehingga jadi eneg) kenapa nggak?

Tentu playlist bertema ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran lagu-lagu nasional, bukan semata lagu pop, yang telah melekat di kepala dari jaman SD. Makanya, lagu nasional favorit saya sepanjang masa, Tanah Airku ciptaan Ibu Sud, mutlak harus berada di urutan pertama. Semoga Tuhan menjamin surga untuk Ibu Sud yang telah menciptakan lagu sesederhana tapi seindah ini. Di playlist ini yang digunakan adalah yang versi instrumental oleh Addie MS atau yang juga dikenal sebagai “soundtrack kabin pesawat Garuda Indonesia ketika landing”. Juga ada lagu nasional favorit saya lainnya: Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh Nial Djuliarso.

Lagu tentang Indonesia selayaknya adalah lagu yang mengingatkan akan rumah. Tempat bermuaranya setiap perjalanan. Juga tentang keadaan ‘rumah’ tersebut. Bagaimana cara merawatnya, membesarkannya, dan menjaganya dengan baik. Tentunya juga tak terlupa dengan kehadiran lagu-lagu “pop nasionalis” yang ringan dan ngena. Semuanya terangkum dalam mixtape 8tracks berikut yang juga berisi lagu-lagu dari Pee Wee Gaskins, Efek Rumah Kaca, Chaseiro, dan lainnya. Sila nikmati dan… Merdeka!

 

Hsinchu, 17 Agustus 2015. Pertama kalinya merayakan 17an di negara orang.

[mixtape] Guilty Pleasures

Terinspirasi dari kabar akan manggungnya Boyzone (minus alm. Stephen Gately tentunya) di Jakarta Mei nanti. Boyzone euy! Kang Ronan Keating dan tiga rekannya yang entah namanya siapa :D Boyband legendaris! Lagu-lagu boyband pasti (saya haqqul yaqin akan hal ini) jadi guilty plasures bagi sebagian besar kaum adam yang melewati masa akhir dekade 90-an di bangku sekolah. Berlagak jijay padahal apal beberapa liriknya.. :p Pura-pura ga paham padahal tau nama personilnya (fast recap: Nicky, Kian, Bryan, Mark, Shane *tanpa googling*) hahaha.. Aib dan sampah banget emang. Tapi patut diakui, lagu-lagu boybands yang menjamur di era 90-an ini emang banyak yang enak. Easy listening, dan sangat membantu untuk belajar bahasa Inggris. Termasuk 10 track lagu boyband yang dari dulu ada di music library saya ini..

*tapi ga sering-sering banget kok diputernya, suer haha* *aaaak* *bongkar aib* *tutup muka* *mengasingkan diri dari peradaban*

Nostalgia Musika Dahulu Kala

Jon Secada – If You Go

Pulang dari sekolah, langsung nonton Supermarket Sweep buat ngeliat kalkun-kalkun beku yang mahal itu diangkut ke troli. Dana Iswara dan Buletin Siang-nya sebelumnya telah menyapa. Tidur siang bentaran biar sore nanti bisa main dan nonton The Simpsons. Sebelum beranjak tiba-tiba ada video klip lagu ini. Ini Romario Faria? Yang abis menang Piala Dunia itu?? Tapi kayaknya bukan. Lumayan penyegaran nih, biasanya cuma ada video All 4 One yang I Swear atau Bon Jovi-Always. Tapi saya gak ngerti arti lagunya. Kenapa dia lari-lari terus? Kenapa nyanyinya ngotot? Kenapa gak bikin lagu yang mudah dicerna kayak Tiffany-If Love Is Blind? Lagu barat emang aneh.. Mendingan Album Minggu kemana-mana… Ada Manis Manja Grup dan Santa Hoki yang lagi naik daun. Udah ah, tidur dulu. Ntar malem baru ngerjain LKS Kunti (Tekun dan Teliti) sambil disambi nonton Layar Emas. Katanya filmnya bagus: The Bodyguard From Beijing.

Natalie Imbruglia – Torn

Di parkiran — sekaligus lapangan — sekolah. Nongkrong (literally) bareng sambil makan cilok dan batagor di kemasan plastik biar bumbu kacangnya bisa diseruput jelang penghabisan. Lengkap dengan celana pendek biru yang kerap ditarik-tarik biar menutupi dengkul. Temen ada yang pamer motor barunya: Yamaha F1ZR biru. Keren euy! Di saat yang lain cuma bawa Suzuki Tornado GS/GX atau Kawasaki Kaze R atau paling banter Honda Grand Astrea punya bokap (Supra belum keluar). Saya aja sepeda gak punya *loh kok curcol* Suasana abis ujian cawu 2, lagi class meeting. Rame. Tiba-tiba dari speaker butut yang biasa muterin lagu SKJ ’96 tiap jumat terdengar lagu ini. Ini pasti kakak kelas gaul yang lagi show off selera musik dia. Ini katanya penyanyi baru dari Australia. Konon pacarnya vokalis Silverchair. Lagunya bagus. Penyegaran, soalnya bosen liat/denger Nadila nyanyi Salahkan Aku mulu. Mencoba ngikutin liriknya meski dengan kemampuan english yang pas-pasan sampe kalimat “… lying naked on the floor”. Lalu ada yang nanya: “ngapain dia bugil di ubin?”. Entahlah. Masih menjadi misteri. Makanya dijawab “Auk ah gelap!”. Dan tawa pun berderai.

Suede – Trash

Buatlah mixtape. Ambil kaset bekas yang masih layak putar, mungkin album Ria Enes + Susan atau Trio Kwek Kwek yang kini tak berguna. Timpa dengan lagu-lagu yang bisa didapat secara gratis dari radio. Request aja di Mustang, telepon ke sana pake telepon koin di warung sebelah. Pastikan suara penyiarnya gak ikutan kerekam (makanya kadang intronya sering kepotong). Mixtape-nya tematis dong! Lagu-lagu indies britpop ajah.. Track pertama Pulp – Disco 2000. Track 2 Supergrass – Alright. Track 3 The Wannadies – You and Me Song. Oasis ga usah, kita kan #TeamBlur.. *tsah* Nah jangan lupa masukin lagu ini nih.. Beautiful Ones kan udah mainstream tuh.. *bibit-bibit hipster telah tertanam sejak dini* Brett Anderson dkk (juga band-band ‘indies’ lainnya) emang bersuara sengau dan gak manly, tapi lagunya enak-enak. Ntar jangan lupa tambahin lagu-lagu The Cure, Inspiral Carpet, Ash, Catatonia, sama Lightning Seeds yak.. “Besok di kelas jam istirahat kedua tukeran sama kaset mixtape guah. Tenang, guah bawa walkman kok!” ujar seorang teman yang hobi pake topi mancing ala Reni  The Stone Roses.

The Mighty Mighty Bosstones – The Impression That I Get

“Bisa main trombone gak? Atau saxophone gitu? Biar bisa gabung jadi brass section” Halah, boro-boro mz.. Saya aja niup suling Yamaha cuma bisa bawain Ibu Kita Kartini dan Syukur. Itu pun dengan ludah bercucuran. Waktu itu tiba-tiba jadi banyak yang pake topi pet. Trus bawa-bawa peluit. Pulang sekolah pake baju Hawaii. Virus apa ini? Tiba-tiba juga teman sebangku jadi sering gambar pria-pria berjas lengkap dengan pose seperti lagi lari di bukunya. Kemudian motif kotak-kotak putih-item ada dimana-mana. Situ mau jadi pecalang? Atau pengibar chequered flag di garis finish sirkuit F1?? Lalu band-band lokal bernama obvious pun bermunculan: Skalie, Ketupat Skayur, Toska, dll. Why so obvious?? “Tapi  band ini lagunya enak-enak nu, dengerin deh” Bener juga sih. Lebih ngebas dan manly dibanding britpop :D Lalu kemudian diperdengarkan Less Than Jake, Save Ferris, Goldfinger, Buck-O-Nine, Kemuri (wuih.. Jepang nih!), The Specials, dll. Tapi.. tapi.. tapi.. lama-lama kok monoton yah di kuping saya. Semua terdengar sama. Mungkin saya tidak berbakat jadi rudeboys :(

Robbie Williams – It’s Only Us

Senin pagi. Sambil membentuk barisan upacara, kami saling bertukar sapa: “Gimana tuh Juve? Lawan Perugia aja kalah hahaha” // “Eh Inter diem ye, ga masuk Liga Champions aje lu” // “Milan cemennn!” // “Alah, kayak Roma kagak, kalahan mulu”. Perdebatan yang tiada berujung. Serie A adalah segalanya waktu itu. Rayana Djakasuria lebih terkenal daripada Dubes RI di Roma. Ulasan Bung Kusnaeni di Tabloid Bola adalah sabda. Sudah mau selesai musim kompetisi. Bentar lagi Euro 2000 di Belgia-Belanda. RCTI yang mau nayangin berulang kali nayangin lagu ini sebagai promo berhubung jadi salah satu lagu resmi turnamen tersebut [citation needed]. Solusi terbaik dari perdebatan tentang klub jagoan masing-masing adalah dengan menyelesaikannya di arena rental PS. Tentu saja PS generasi pertama, dengan game andalan Winning Eleven 4 dan Pro Evolution Soccer. Tak lupa dengan nama pemain yang ngaco karena Konami gak bayar lisensi ke FIFA. Taro Roberto Carlos jadi striker, gunakan one-two secara intensif, dan dekatkan stik ke badan ketika mengambil tendangan penalti agar tidak diintip lawan. Niscaya akan menang. Kalo kalah, tinggal kasih alasan “stiknya gak enak”.

 

 

*tanda-tanda penuaan* :(