Raden Mandasia

“Anjing betul!”

Setiap kali menonton Game of Thrones, saya tak pernah berhenti berpikir kalo seharusnya ada kisah asli Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan kuno yang bisa dibikin sekeren ini. Intrik-intrik dari khasanah kearifan lokal Nusantara di era Majapahit atau Singosari mestinya gak kalah menarik dibandingkan kisah-kisah dari Westeros dan Essos. Kisah tragis Perang Bubat seharusnya bisa dibikin seciamik Red Wedding misalnya. Juga peristiwa yang menyusul pemotongan telinga utusan Kubilai Khan oleh Kertanegara. Atau mungkin cerita tentang Ken Arok dan Ken Dedes yang bikin geger. Asal dikemas dengan baik, gak kayak sinetron-sinetron laga Indosiar, rasanya bisa membuat masyarakat kembali dekat dengan cerita-cerita era kerajaan kuno Nusantara seperti ketika Saur Sepuh dan Tutur Tinular berjaya.

Tapi mungkin sudah takdirnya di Indonesia kalo yang tadinya keren di medium lain, begitu diangkat ke layar lebar/kaca hasil adaptasinya menjadi gak sebanding dengan ekspektasi awal. Saur Sepuh dan Tutur Tinular pun sebenarnya melegenda lebih pada bentuk aslinya sebagai sandiwara radio. Begitu diangkat ke layar lebar, meskipun tetap populer, namun yang paling diingat adalah rajawali tunggangan Brama Kumbara yang letoy dan bentuknya gak karuan serta adegan pertarungan one-on-one yang banyak bertaburan bubuk-bubuk putih. Juga demikian dengan Wiro Sableng, misalnya, yang lebih memikat dalam bentuknya sebagai novel silat. Eksekusi selalu menjadi PR besar di sini, yang masalahnya cukup kompleks meliputi modal yang cekak, selera produser yang ala kadarnya, sampe kemampuan penulis skenario + sutradaranya sendiri yang memang semenjana. Mimpi untuk menyaksikan TV series sehandal Game of Thrones (yang sebenernya juga hasil adaptasi dari novel) hasil karya anak bangsa pun tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika dikerjakan oleh sineas-sineas di Hollywood sana (itu pun kalau mereka tertarik).

Jika ada karya seni kontemporer Indonesia yang mengambil latar era kerajaan-kerajaan kuno Nusantara yang layak untuk diadaptasi menjadi film/series oleh studio besar Hollywood, maka saya menominasikan buku Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi untuk mendapat kehormatan tersebut. Novel (sang penulis, Yusi Avianto Pareanom, lebih suka merujuknya sebagai dongeng) setebal 448 halaman ini amat sangat layak untuk dijadikan suguhan visual yang epic. Tanpa diangkat ke layar lebar/kaca pun sebenarnya pengalaman membaca Raden Mandasia terasa tak ubahnya seperti sedang menonton sebuah tontonan yang dikemas dengan apik. Menegangkan dan penuh detail.

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah menuju Gerbang Agung

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah perjalanan menuju Gerbang Agung

Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum mulai membaca buku ini adalah.. jangan terkecoh dengan judulnya! :)) Judulnya memang “Raden Mandasia”, tapi yang menjadi tokoh utama sekaligus penutur kisah dalam dongeng ini adalah (Raden) Sungu Lembu, seorang ‘pelarian’ dari Banjaran Waru yang memiliki dendam kesumat terhadap Lord Watugunung, King of the Andals and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm Gilingwesi, kerajaan paling adikuasa pada zamannya. Bisa dibilang kisah dalam buku ini mirip dengan film Kill Bill, di mana Sungu Lembu bertindak sebagai Uma Thurman yang sedang menunaikan misi untuk membalaskan dendamnya. Perjalanan berliku untuk menuntaskan dendamnya ini yang bikin menarik, salah satunya adalah karena Raden Mandasia, si teman seperjalanan Sungu Lembu, tak lain dan tak bukan adalah salah satu anak dari Watugunung. Bukan, ini bukan spoiler, karena informasi tentang hal ini akan segera dijumpai di awal kisah.

IMG_20160422_110446661

Salah satu bab terpanjang dalam Raden Mandasia

Alur cerita dalam Raden Mandasia enak banget buat diikutin. Flashback cuma sesekali, sisanya berjalan secara linear dengan sedikit twist minor di akhir cerita. Mengundang untuk terus membuka halaman demi halaman hingga tak terasa semua sudah tuntas dibaca. Saya cuma membutuhkan waktu 3 hari buat menyelesaikan buku ini. Itu pun karena lebih banyak dihabiskan untuk tersesat di belantara internet sehabis googling beberapa kosakata baru yang saya temui di sini serta beberapa hal menarik lainnya, seperti macam-macam racun organik, anatomi perahu tradisional, silsilah raja-raja Jawa, peta daerah kekuasaan Majapahit vs Mataram, sampe yang ini:

Sumpah, kalian pasti juga bakal penasaran sama hal ini :)

Sumpah, ini ada di buku. Pasti juga bakal penasaran (dan dibikin ngiler) sama  ini :) (Pic from hovenfarms.com)

Hal menyenangkan lainnya dalam Raden Mandasia adalah karena konsepnya sebagai ‘dongeng’ yang membuat sang penulis leluasa seenak hati mencampuraduk berbagai tokoh/latar/setting ke dalam cerita. Beberapa kali saya sibuk menerka-nerka padanan lokasi-lokasi yang menjadi setting di Raden Mandasia dengan ‘lokasi beneran’nya. Seperti apakah Gilingwesi itu adalah Majapahit, Gerbang Agung terletak di Baghdad, Banjaran Waru = Gresik/Surabaya, Goparashtra = Gujarat, hingga apakah Kelapa = Sunda Kelapa/Batavia (well, this one is quite obvious). Beberapa nama, seperti Negeri Atas Angin, sudah pernah digunakan di Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sehingga tidak sulit diidentifikasi. Lainnya seperti Swarnadwipa dan Barunai juga mudah dikenali karena telah umum digunakan. Akibat latar waktu yang tak jelas, hingga hampir separuh jalan membaca pun saya masih belum yakin apakah Gilingwesi itu merujuk pada Sriwijaya, Majapahit, atau Mataram (pengetahuan sejarah saya masih secetek itu). Tidak seperti kisah-kisah tentang kerajaan kuno Nusantara lainnya, di Raden Mandasia latarnya juga tidak hanya seputar wilayah kerajaan atau Nusantara, tapi juga menyeberang lautan hingga ke kerajaan-kerajaan mancanegara. Raden Mandasia dan Sungu Lembu itu traveler sejati yang melampaui zamannya. They were backpackers before it was cool. Even Sungu Lembu was a travel blogger :D Dan adakah kisah yang lebih menarik dari petualangan di negeri asing berikut interaksinya dengan warga setempat?

Seperti halnya Game of Thrones, Raden Mandasia juga bercerita tentang perang. Perang besar yang melibatkan dua kerajaan besar dengan strategi perang yang paling advanced pada masanya dan deskripsi jatuhnya korban yang bikin ngilu. Selain itu, kesamaan keduanya  juga terletak pada melimpahnya adegan-adegan yang untuk ukuran moral adiluhung yang dianut mayoritas masyarakat NKRI sekarang tentunya akan dianggap sebagai tindakan amoral nan dimurkai Allah: sex-violence-alcohol-LGBT-swear words. A lot of swear words. Sungu Lembu sangat gemar mengumpat, dan umpatannya kadang bukan jenis umpatan yang umum dijumpai sekarang (dan ternyata mengumpat itu memang enak. Anjing memang :)))

Raden Mandasia mengubah persepsi kalo cerita-cerita sejenis harus selalu menggunakan kosakata-kosakata yang tergolong mainstream di genrenya, seperti “kisanak” (sebagai sapaan), “depa” (untuk menggambarkan jarak), “bedebah” (untuk mengumpat), dan “Ciattt!!” (oke, ini hanya cocok digunakan oleh Mantili atau Arya Kamandanu). Jika ada satu hal yang mengganggu dalam membaca buku ini adalah ketika penulis menyelipkan kata seasing “mezzanine” ketika menggambarkan suatu tempat di rumah dadu Nyai Manggis. Seharusnya ada kosakata yang lebih tepat sekaligus lebih membumi untuk menggambarkannya agar bisa lebih nge-blend dengan keseluruhan tulisan yang banyak menggunakan kosakata-kosakata ‘ajaib’ yang ternyata ada di KBBI. Tapi ya cuma itu. Paling kekurangan lainnya hanya minimnya ketersediaan buku ini di jaringan toko buku konvensional karena sepertinya hanya diedarkan secara independen (saya pun dapetnya beli online). Yang pasti, Raden Mandasia memberikan satu lagi motivasi untuk lebih giat bikin postingan di blog, karena seperti yang dibilang Loki Tua ke Sungu Lembu:

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih.

Ah, ternyata ia tak hanya piawai memasak babi panggang utuh :)

Advertisements

The Big Short (2015)

Saya membayangkan skenario begini:

Tahun 1995. Tepat 50 tahun perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Optimisme publik sedang tinggi-tingginya. Indonesia digadang-gadang akan segera lepas landas menjadi negara maju. Semua berkat jasa sang Bapak Pembangunan yang berhasil menciptakan kondisi politik dan perekonomian yang stabil. Tingkat inflasi rendah, pertumbuhan PDB terus meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap USD stabil di kisaran Rp 2000/dollar. Semua terlihat sempurna. Tapi saya tidak melihat demikian. Saya yakin betul di balik semua kecemerlangan ini ada sisi busuk yang ditutup-tutupi. Korupsi-kolusi-nepotisme merajalela di setiap lapis pemerintahan, sistem perbankan yang rapuh, kendali moneter yang lemah, dan seterusnya. Tapi tidak ada yang berani bersuara karena ancamannya adalah hilangnya nyawa. Kondisi ideal ini pasti tidak akan bertahan lama. Saya mulai berpikir untuk mencari aman sekaligus meraup keuntungan bagi diri sendiri. Maka mulailah saya menimbun dollar dengan setiap rupiah yang saya punya, meskipun pasti ditertawakan karena apa untungnya investasi valas macam itu di saat kondisi perekonomian yang sebegini stabil. Tetapi bodo amat. Saya yakin dollar adalah pegangan paling aman, di saat stabil maupun krisis. Agak berbau spekulasi memang, tapi, sekali lagi, bodo amat. Dan dua tahun kemudian terbukti. 16 bank nasional dilikuidasi. Kepercayaan publik terhempas ke level terendah. Nilai tukar rupiah terhadap USD turun drastis hingga menyentuh Rp 17.000/dollar. Inflasi merajalela. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena PHK massal dan kaburnya investor asing ke luar negeri. Negara chaos, nyaris di ambang bubar. Tapi saya tetap aman. Bahkan lebih dari itu: kekayaan saya melonjak tak terhingga. Aset saya meningkat nyaris 800% akibat depresiasi rupiah. Kasarnya saya ini sedang tertawa di atas penderitaan banyak orang: saudara sebangsa sendiri, di negara sendiri yang nyaris kolaps. Tapi peduli setan. “That’s how capitalism works,” ujar saya dalam hati. Salah sendiri tidak sigap menangkap peluang dan dengan mudahnya dibuai kenyamanan semu.

Kurang lebih pesan itu yang coba disampaikan film The Big Short (meskipun analogi yang saya gunakan mungkin kelewat sederhana). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini mengambil latar belakang krisis ekonomi global yang bermula dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat. Mengambil cerita dari tiga sudut pandang berbeda, The Big Short mencoba mengulas beberapa orang yang cukup jeli melihat rapuhnya pondasi sistem finansial di AS akibat pemberian kredit yang dilakukan dengan serampangan, dan mengambil untung besar dari kondisi tersebut. Meskipun itu berarti mereka harus bersenang-senang di atas derita orang banyak.

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Christian Bale berperan sebagai Dr. Michael Burry, seorang ilmuwan fisika berjiwa metal yang banting setir jadi fund manager di perusahaan Scion Capital dan menjadi yang pertama mengendus bobroknya sistem financing kredit kepemilikan rumah di AS. Steve Carell menjadi Mark Baum, bos FrontPoint Capital, yang bekerja sama dengan Jared Vennett (Ryan Gosling), account officer Deutsche Bank, yang terinspirasi dari tindakan Burry dan mencoba berkolaborasi bersama Baum untuk meraup untung besar dari kondisi ini. Brad Pitt berperan sebagai pensiunan bankir Ben Rickert yang menjadi mentor bagi 2 manajer investasi kecil amatiran yang juga mencoba mendapat benefit dari kebobrokan yang tak diketahui orang banyak ini. Timeline ketiganya tidak saling berkait namun punya kesamaan: semua menjadi bahan cibiran, olok-olok, dan cemoohan ketika melontarkan ide bahwa sistem finansial AS ternyata dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh, yang sarat dengan fraud dan tipu-tipu.

Bagi yang kurang familiar dengan dunia perbankan dan finansial (atau kurang paham bagaimana dahsyatnya krisis ekonomi global 2008), mungkin film ini akan sangat memusingkan (dan super membosankan). Masalahnya, penyebab krisis yang bermula di AS itu bukan berasal dari mismanajemen produk-produk investasi konvensional, tapi udah level turunan (derivatives) dari produk-produk tersebut. Bahkan derivatives-nya bukan cuma satu tingkat, tapi dua tingkat dari produk sesungguhnya. Saya aja ga yakin produk-produk investasi semacam itu udah ada di Indonesia apa belum karena saking njelimetnya (di sini mah ngejelasin unit link atau reksadana itu makhluk sejenis apa aja udah ribet, apalagi investasi derivatives kek gini?) Begitu banyak jargon-jargon ‘ajaib’ di film ini, kayak sub-prime mortgage, collateralized debt obligation (CDO), dan credit default swap,  yang terkadang harus mengundang beberapa figur terkenal untuk menjelaskan versi sederhananya dengan analogi-analogi yang bisa diterima akal sehat (atau bisa juga membaca artikel TIME ini untuk jadi bekal sebelum menonton). Tapi secara keseluruhan film ini asik sih, gaya pengambilan gambarnya ala-ala mockumentary yang bergerak dinamis. Pun demikian dengan tingkah para aktornya yang sesekali mendobrak dimensi keempat dengan berbicara kepada penonton. Juga sedikit bumbu-bumbu komedi yang cukup menghibur di sela-sela keseriusan. Film ini juga tentunya bebas spoiler karena berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi sehingga udah ketebak endingnya bakal kayak gimana.

Dalam film Capitalism: A Love Story, Michael Moore pernah bilang kalau berkat instrumen investasi berupa derivatives, saat ini Wall Street bukan lagi sekadar bursa saham, tapi lebih berupa kasino raksasa tempat para fund manager berjudi menggunakan dana masyarakat di produk-produk yang terlihat prospektif tapi artifisial, tanpa menghiraukan dampak negatif perilaku tersebut pada perekonomian secara keseluruhan. “Greed is good”. Rasanya semua orang yang penghasilannya terkait dengan aktivitas di Wall Street setuju dengan kredo tersebut. Namun di film Big Short ini, diperlihatkan bahwa juga terdapat pertentangan batin yang dialami para pemeran utama. Di satu sisi mereka sangat mengharapkan aksi nekad mereka untuk mempertaruhkan modal dengan jumlah begitu besar untuk peristiwa yang ketika itu dianggap probabilitasnya nol dapat berbuah manis, namun di sisi lain mereka paham bahwa pengetahuan dini mereka akan bobroknya sistem finansial AS seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya resesi besar-besaran di kemudian hari. Ini terlihat jelas dalam salah satu dialog ketika Rickert ilfil melihat dua orang ‘anak asuh’ nya kegirangan ketika membayangkan untung besar yang akan diraih jika analisis dan prediksi mereka menemui kenyataan:

If we’re right, people lose homes. People lose jobs. People lose retirement savings, people lose pensions. You know what I hate about fucking banking? It reduces people to numbers. Here’s a number – every 1% unemployment goes up, 40,000 people die, did you know that?

The Big Short meraih nominasi Oscar 2016 untuk film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor pendukung terbaik untuk Christian Bale dalam perannya sebagai Dr. Michael Burry. Padahal kalo menurut saya Steve Carell juga berhak (atau malah lebih pantas) dinominasikan untuk penghargaan tersebut. Berperan sebagai Mark Baum, si bos yang emosian, Carell rasanya mampu mengubah umpatan orang “Ni orang cepet-cepet mati kek” menjadi rasa simpati selama berjalannya film, terutama ketika ia mulai terjun langsung menginvestigasi berbagai tindakan curang dan penuh keseleboran yang dilakukan pihak perbankan dalam mengucurkan kredit dan rating agencies dalam memeringkat tingkat keamanan berinvestasi. Instrumen investasi yang selama ini disebut-sebut sebagai pilihan teraman ternyata luar biasa busuknya dan sangat berpotensi menjerumuskan banyak orang menjadi jatuh miskin dan kehilangan tempat tinggal. Kebenaran yang terlambat untuk terkuak dan terlanjur menimbulkan banyak korban.
“Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry.”

Putih: Cara Syahdu Mengingat Kematian

Ketika saya menulis postingan ini, entah sudah berapa puluh kali saya memutar lagu dari Efek Rumah Kaca berjudul Putih. Lagu sepanjang hampir 10 menit yang hanya bisa diungkapkan dengan dua kata: luar biasa.

Sejatinya Putih terdiri dari dua fragmen: “Tiada (untuk Adi Amir Zainun)” dan “Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)”. “Tiada” bercerita tentang kematian, garis finish hidup seorang manusia di dunia yang fana, sebelum masuk fase kekekalan abadi. “Ada” sebaliknya, berkisah tentang lahirnya kehidupan baru, siap mengarungi bahtera kehidupan yang penuh hal tak terduga.

Hal paling mencolok selama “Tiada” adalah kehadiran narator yang seolah berperan sebagai si almarhum yang kisah akhir hidupnya sedang dinyanyikan oleh Cholil. Sangat sulit untuk tidak merinding ketika mendengarkan bagian-bagian awal “Tiada” dinarasikan. Untuk kemudian ‘ditampar’ oleh lirik berikut:

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan

Damn, “Tiada” bisa menjadi lagu pengingat kematian paling powerful menggantikan posisi Bila Waktu T’lah Berakhir-nya Opick yang tak henti-hentinya dimainkan infotainment setiap ada selebritis Indonesia yang meninggal. Tapi sayang kemungkinannya kecil, karena “Tiada” lebih bernuansa keikhlasan menerima kematian yang merupakan kodratnya manusia. Lebih nrimo. Tidak memiliki pretensi untuk bersesal-sesal atas datangnya hari-H itu karena amalan yang (dirasa) belum cukup dan kesepian abadi yang menanti di dalam kubur karenanya. Sebuah kesan yang sulit diterima oleh mayoritas masyarakat NKRI yang ultra-religius ini.

Lalu kemudian tiba saatnya “Ada” menggantikan “Tiada”. Gugur satu, tumbuh seribu. Mereka yang pergi digantikan oleh generasi baru, menandakan sebuah harapan tentang kehidupan. “Ada” mampu memainkan emosi: di satu sisi menyiratkan asa dan optimisme akan hadirnya hidup baru, di sisi lain juga berbicara tentang kekhawatiran soal kehidupan yang akan dijalani nantinya. Satu setengah menit terakhir “Ada” menurut saya merupakan bagian terbaik dari “Putih”, baik dari segi musik maupun lirik.

Saya tidak dapat menepis kesan kalau Putih sangat mirip dengan Satu Satu dari Iwan Fals. Tentunya mirip di sini bukan dalam hal karya produksi, tapi kesamaan pesan yang disampaikan kedua lagu. Tentang kematian dan kehidupan yang hadir di saat yang bersamaan. Tentang kehilangan dan kedatangan. Tentang keniscayaan. Keikhlasan. Dan sebagainya. Keduanya luar biasa dalam caranya masing-masing.

Oh btw, single Putih ini memang dirilis di Soundcloud dan bisa langsung diunduh di sana. Gratis. Tapi sepertinya album ketiga ERK ini layak mendapat apresiasi lebih. Mungkin rilisan fisiknya patut dipertimbangkan untuk dimiliki begitu keluar nanti.

 

*ngomong ke diri sendiri*

Sanctuary

Karena saya orangnya bukan otaku-otaku banget, jumlah manga yang pernah saya tamatkan dengan membacanya di medium online bisa dihitung pake jari sebelah tangan. Tercatat cuma Death Note, Monster, sama Eyeshield 21 doang yang pernah dikhatamkan. Tentunya ini mengecualikan riwayat membaca komik-komik Jepang terbitan Elex Media Komputindo yang sudah lebih dulu bercokol di tanah air macam Doraemon, Kungfu Boy, Dragon Ball, dan teman-temannya. Kalo itu juga diitung, koleksi khataman cergam jejepangan saya otomatis bertambah. Tapi, teteup, bisa dihitung cukup dengan jari tangan sendiri (itu pun masih nyisa).

Manga online, terutama seri-seri populer masa kini kayak One Piece, Bleach, dan Naruto, buat saya kurang begitu menarik untuk diikuti karena gak tertarik sama ceritanya, sifat kejar tayangnya yang ‘memaksa’ untuk terus ngikutin, dan tentunya karena aksesnya yang semakin susah (terima kasih InternetPositif Kemenkominfo dan proxy internet kantor!). Nyari manga yang  enak dibaca lumayan susah karena mayoritas cerita-cerita di manga yang ada sekarang kurang memancing interest saya. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah rekomendasi dari teman atau para senpai berselera bagus yang bertebaran di dunia maya.

Syahdan, mata saya tertumbuk pada suatu rekomendasi singkat di Ask.fm (btw, ini platform socmed yang menghibur dan informatif banget *dengan catatan: mem-follow orang-orang yang tepat*, meskipun cuma bikin akun untuk jadi silent reader semata) tentang manga yang mengangkat isu sosial-politik. Tersebutlah satu judul: Sanctuary. Manga yang terbit pada awal dekade 1990-an ini mengambil kisah utama yang berlatar belakang dunia organisasi mafia underground Jepang (a.k.a. yakuza) dan dinamika sistem politik domestik Jepang. Rekomendasi singkat yang cukup memantik rasa penasaran dan, okenya lagi, manganya juga udah tamat jadi bisa dikhatamkan dengan segera tanpa harus nunggu-nunggu edisi terbaru.

Screenshot_2015-07-26-22-46-47

Adalah dua sahabat: Akira Hojo dan Chiaki Asami yang menjadi tokoh utama dalam manga ini. Keduanya menempuh jalan hidup yang berbeda: Hojo menjadi anggota yakuza dan Asami berkecimpung di dunia politik. Dalam manga ini dikisahkan bagaimana keduanya terus merangsek naik dalam ‘karir’nya masing-masing hingga menjadi the rising star. Hojo menjadi don (semacam kepala geng) yakuza wilayah Kanto (mencakup Tokyo dan sekitarnya), sedangkan Asami menjelma menjadi anggota diet (parlemen Jepang) muda yang karir politiknya moncer.

Pose menerawang ala pre wed

Hanya itu? Nggak dong tentunya… Banyak intrik yang terjadi dalam proses mobilitas vertikal tersebut, termasuk yang melibatkan love, sex (spoiler: a lot of sex scenes :D) and violence. Cukup wajar mengingat cerita dibangun seputar dunia organisasi kriminal bawah tanah dan dunia politik yang (katanya) kotor. Pewatakan yang dituangkan di manga ini tidaklah hitam-putih. Bahkan dua tokoh utamanya pun tidak bisa sepenuhnya disebut sebagai karakter protagonis. Asami, misalnya. Kiprahnya di dunia politik mirip-mirip Frank Underwood di House of Cards. Licin, cerdik, lihai dalam berpolitik dan sedikit culas, semua mendukung peningkatan karirnya yang sangat mulus. Sedangkan karakter Hojo, yang tentunya bukan karakter ‘baik-baik’,  mampu mendekonstruksi sosok seorang kepala mafioso yang biasanya sangar dan ga enak diliat (hint: Hercules van Tenabang), juga dengan pemikirannya yang visioner dalam mengembangkan sebuah organisasi kriminal.

Para pemerhati sistem politik di negara lain (wabilkhusus Jepang) dijamin akan sangat menikmati Sanctuary. Gimana nggak, di sini bakal bisa lebih paham konstelasi ideologi dan kekuatan partai-partai utama Jepang, mekanisme suksesi pemerintahan parlementer di Jepang, perjuangan para kader partai untuk menjadi anggota Diet, dinamika koalisi untuk membentuk pemerintahan, hingga pengaruh lobbyist dan presssure groups (termasuk, tentunya, Yakuza) terhadap jalannya pemerintahan. Semacam paket komplit Japan Politics 101 yang dihadirkan dalam bentuk komik. Hal itu ditambah dengan kualitas grafis yang memukau, beda dengan komik-komik Jepang mainstream pada umumnya.

Dengan jumlah volume yang hanya belasan, dengan tiap volume berisi +/- 200 halaman, Sanctuary cocok untuk dikhatamkan dalam waktu singkat. Cerita yang lebih banyak berputar di dua tokoh utama (sehingga tidak memunculkan banyak karakter minor yang gak penting) rasanya juga mempermudah pembaca untuk menamatkan. Satu hal yang mungkin agak mengganggu hanya latar cerita komik yang terjadi di era awal 90-an sehingga tampilan dan kemasan tokoh-tokoh di Sanctuary ini macam di film Catatan Si Boy II atau Rini Tomboy yang…. yagitudeh. Selebihnya, gak ada kelemahan mendasar dari komik ini. Feelingnya seperti campuran antara nonton The Godfather dan The Departed (dan Lupus era Ryan Hidayat) #halah #teteup. Very recommended (if you have the same taste with me).

Pilihan Paket Roaming Data Internasional Terbaik

Dulu setiap kali mendapat kesempatan bepergian melewati batas teritorial NKRI, saya selalu berpikir bahwa menggunakan SIM card lokal di negara tujuan untuk keperluan internetan adalah pilihan terbaik. Koneksi via wi-fi di lokasi tujuan sepertinya tidak bisa diandalkan untuk saya yang kemana-mana selalu mengandalkan Google Maps untuk kelayapan. Juga tidak mendukung jalur komunikasi via beragam messenger apps karena sifatnya yang gak mobile. Pilihan menggunakan paket roaming data dari operator Indonesia juga hampir tidak pernah masuk hitungan karena di bayangan saya yang namanya layanan roaming (baik voice maupun data) itu pasti sudah dijamin mahal. Biayanya sudah pasti tak bersahabat bagi kantong kaum proletar.

Namun setelah beberapa kali berkesempatan menjejakkan kaki di tanah negara lain (ciee gitu), anggapan saya tersebut perlahan terkikis. Menggunakan SIM card lokal ternyata tidak selalu lebih menguntungkan daripada menggunakan layanan roaming operator Indonesia. Satu hal yang pasti: mengakses data dengan menggunakan SIM card asal Indonesia tidak seribet jika dibandingkan dengan beli SIM card di negara tujuan dan kemudian mengaktifkan paket datanya. Pertama harus cari tahu terlebih dahulu tawaran operator mana yang paling menguntungkan, kemudian harus tahu cara mengaktifkan paket datanya secara benar, lengkap dengan berbagai syarat dan ketentuannya, lalu juga mencari tempat penjual SIM card yang diminati setelah research singkat tesebut, serta printilan-printilan lainnya (potong SIM card jadi micro SIM, nyopot/masang SIM card yang sudah lama bersemayam di hape, isi pulsa, dll). Terlebih jika waktu kunjungannya hanya singkat (tidak lebih dari satu minggu). Pemakaian roaming data dari SIM card asal Indonesia dikombinasikan dengan maksimalisasi fasilitas wifi gratisan dapat menjadi solusi yang efektif (juga murah) dan unggul secara komparatif untuk mengatasi masalah sakaw internetan di luar negeri.

Mengingat hampir semua smartphone Android (sorry iPhone users..) saat ini memiliki fitur dual SIM card, maka ber-roaming data ria ketika plesiran ke luar Indonesia makin dimudahkan mengingat ada dua pilihan paket roaming data yang bisa digunakan secara bergantian. Kalo yang satu pulsanya abis, bisa pake yang satunya lagi. Atau jika tarif di kartu yang satu kemahalan, selalu ada opsi pake kartu kedua yang tarifnya lebih rendah. Untuk bisa menentukan strategi yang tepat guna menekan pengeluaran (guna menyukseskan gerakan nasional low-end living yang dicanangkan pemerintah), tentunya harus diketahui terlebih dahulu pilihan-pilihan yang tersedia. 4 besar provider GSM Indonesia: Telkomsel, Indosat, XL, dan Tri, rupanya punya beragam promo menarik dengan tarif berbeda-beda terkait roaming data internasional ini, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berikut ulasan singkatnya:

 

1. Telkomsel

Pelanggan Telkomsel (simPATI, KartuHalo, Kartu As, dan Loop) dapat menikmati layanan roaming data internasional di 70 negara. Secara umum, Telkomsel menerapkan tarif yang paling mahal jika dibandingkan operator-operator lainnya. Sebuah hal yang tidak mengherankan mengingat tarifnya di dalam negeri pun memang yang tertinggi di antara lainnya, sepadan dengan kualitas dan jangkauannya yang paling luas.

Telkomsel menerapkan sistem zonasi untuk pentarifan paket roaming data internasionalnya ini. Zona 1 terdiri dari 25 negara yang mayoritas adalah negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik dengan tarif Rp 150.000/hari. Zona 2 terdiri dari 15 negara berupa negara-negara di benua Amerika + Afrika Selatan dikenakan tarif Rp 200.000/hari. Zona 3 yang paling mahal terdiri dari 29 negara, semuanya adalah negara-negara Eropa, dibandrol dengan harga Rp 250.000/hari. Akan tetapi, khusus untuk Arab Saudi, Telkomsel menerapkan tarif khusus sebesar Rp 35.000/hari. Cukup kompetitif untuk para jamaah haji dan umroh Indonesia yang hendak bertolak ke Saudi.

Saya mengasumsikan paket ini sifatnya unlimited, tidak ada batas kuota pemakaian karena hitungannya per hari (meski tidak disebutkan jelas di dalam website-nya). Namun, selain paket yang disebut dengan nama “capped data roaming” tersebut, Telkomsel juga punya pilihan lainnya yang lebih njelimet dengan masa aktif yang tidak dihitung per hari. Untuk paket yang ini juga dibeda-bedakan dengan sistem zonasi dengan tarif termurah Rp 150.000 untuk 1 hari di Asia dan Australia hingga Rp 1.100.000 untuk 7 hari di Eropa(!). It’s a bit confusing i must say. Lebih lengkapnya bisa dilihat sendiri di sini atau di sini.

 

2.  Indosat

Indosat (Matrix, Mentari, dan IM3) menawarkan paket roaming data internasional yang lebih simpel. Rata-rata penggunaan internet dengan menggunakan jaringan mitra roaming Indosat di luar negeri dibandrol seharga Rp 79.000/hari. Tapi tidak semua negara mendapatkan tarif ini. Berhubung di website Indosat tidak tersedia tabel daftar negara beserta tarifnya, maka tarif yang berlaku per negara harus dicari secara manual dengan mengetikkannya di search box. Dari yang saya telusuri, semua negara ASEAN dikenakan tarif Rp 79.000/hari. Demikian juga di Jepang dan RRT. Hasil pencarian random menunjukkan kalo roaming data internasional menggunakan kartu Indosat di Mesir akan terkena Rp 249.000/hari, di AS sebesar Rp 169.000/hari, sama seperti di Perancis dan Inggris, serta di Australia sebesar Rp 79.000/hari. Khusus untuk Arab Saudi, Indosat menetapkan tarif Rp 35.000/hari. Nampaknya para operator GSM Indonesia saling berlomba memberikan tarif termurah untuk jamaah Indonesia di Tanah Suci.

Kebetulan saya sudah pernah mencoba layanan roaming data internasional dari Indosat ini di RRT, Kamboja, dan Thailand. Semuanya dikenakan tarif Rp 79.000/hari. Tidak perlu registrasi sama sekali, begitu terhubung dengan jaringan mitra roaming Indosat di sana dan digunakan untuk akses internet, selama pulsa masih mencukupi, akan bisa digunakan dengan lancar. Paket dari Indosat ini (sepertinya) unlimited, tidak ada batas pemakaian (meskipun tidak tertera dengan jelas di syarat dan ketentuannya). Untuk lebih jelasnya bisa ditelusuri di mari.

 

3. XL

Serupa seperti Telkomsel, XL (prabayar dan paskabayar) juga menerapkan sistem zonasi untuk pentarifan paket roaming data internasionalnya. Sama-sama punya 3 zona utama dengan tarif yang berbeda-beda. Zona 1 terdiri dari 9 negara, di antaranya adalah Malaysia, Singapura, dan Jepang, dikenakan tarif Rp 75.000/hari. Zona 2 terdiri dari 19 negara, mulai dari negara ASEAN seperti Thailand dan Viet Nam hingga negara Eropa kayak Inggris, Perancis, dan Italia, terkena tarif Rp 100.000/hari. Zona 2 ini juga mencakup AS, RRT, dan Turki. Random banget emang ni pembagiannya. Nah, Zona 3 dengan jumlah negara paling banyak dikenakan tarif Rp 200.000/hari. Dari negara ‘populer’ kayak India, Afrika Selatan, Rusia, sampe negara antah berantah macam Fiji dan Liechtenstein masuk zona ini. Bagaimana dengan Arab Saudi? XL ternyata menawarkan harga termurah untuk negara ini (Zona 4) dengan biaya hanya Rp 25.000/hari. Wow.

Info lebih lengkap sila kunjungi tautan ini.

 

4. Tri

Berbeda dengan senior-seniornya, Tri menawarkan semacam pahe (paket hemat) roaming data internasional sebagai paket dasarnya. Pengguna Tri Prabayar dan Paskabayar bisa internetan di luar negeri tanpa membongkar pasang SIM card mereka dengan tarif Rp 50.000/hari untuk pemakaian hingga 20 MB (selebihnya dikenakan tarif Rp 30.000/10 MB). Highlight paket roaming data Tri ini adalah kuota 20 MB. Memang awalnya terkesan paling murah, namun dengan kuota data yang diberikan cuma segitu, dibandingkan kompetitor lainnya yang menawarkan akses data unlimited, rasanya kurang menjanjikan untuk dijadikan andalan.

Pahe Tri ini sudah beberapa kali saya jajal mengingat Tri adalah nomor utama saya. Dan hasilnya? Selalu ‘kebobolan’ :)) Kuota yang hanya 20 MB saat ini udah ga ada artinya. Jangan pernah berpikir konsumsi data hanya terjadi ketika membuka browser/mengakses aplikasi medsos di hape, karena justru yang paling banyak menguras kuota adalah proses sinkronisasi dan update data yang terjadi tanpa disadari. Itulah mengapa saya tidak merekomendasikan menggunakan Tri sebagai provider utama untuk roaming data di luar negeri (kecuali anda benar-benar piawai mengatur arus keluar-masuk kilobyte demi kilobyte data yang akan diakses).

Namun, di samping ‘paket utama’ roaming data internasional ini, Tri juga memiliki paket promo lainnya yang tak kalah menarik. Lagi-lagi promo ini tidak bersifat unlimited, tapi dibatasi kuota data yang bisa diakses, meskipun kali ini kuota yang ditawarkan cukup reasonable. Terbagi menjadi 2: Paket Internet Roaming Asia, Amerika, Kanada, dan Eropa Zona 1 dan Paket Internet Roaming Australia, Selandia Baru, dan Eropa Zona 2. Paket Internet Roaming Asia, Amerika, Kanada, dan Eropa Zona 1 bisa digunakan untuk negara-negara kayak AS, Hong Kong, India, Jepang, dan Malaysia dengan skema tarif Paket 150 MB berlaku 1 hari seharga Rp 149.000 dan Paket 250 MB berlaku 3 hari seharga Rp 249.000. Sedangkan untuk Paket Internet Roaming Australia, Selandia Baru, dan Eropa Zona 2 bisa digunakan di negara-negara yang juga memiliki provider GSM dengan brand “3” seperti Australia, Denmark, Inggris, Irlandia, dan Italia (inilah keuntungan sebuah brand internasional). Di negara-negara ini, pilihannya adalah Paket 1 GB berlaku 5 hari seharga Rp 149.000 dan Paket 1,5 GB berlaku 7 hari seharga Rp 249.000. Meskipun tidak bersifat unlimited, pilihan paket ini terbilang sangat menjanjikan mengingat kalo di-break down jadi hitungan per hari jatuhnya jadi lebih murah dan kuota yang disediakan juga sesuai dengan pemakaian wajar sehari-hari.

Untuk promo roaming data di Arab Saudi, Tri juga (kembali) menerapkan sistem paket dengan kuota data. Tersedia 2 pilihan paket: Internet Roaming 2 GB dengan masa aktif 9 Hari senilai Rp 77.000 dan Internet Roaming 3 GB dengan masa aktif 30 Hari seharga Rp 149.000. Kembali, jika di-break down jadi hitungan per hari , pilihan paket roaming data internasional dari Tri ini terhitung yang paling kompetitif dari segi harga dibandingkan provider-provider lainnya. Pas dengan kebutuhan mengingat masa aktif disesuaikan dengan durasi ibadah (Paket 9 hari pas untuk umroh dan Paket 30 hari cocok untuk haji). Lebih lengkapnya tentang pilihan yang disediakan Tri bisa ditengok di sini.

 

Verdict:

Saya coba untuk merangkum perbandingan tarif dan benefit yang ditawarkan masing-masing provider untuk paket data roaming internasionalnya di beberapa negara tujuan utama plesiran/dinas luar negeri penduduk NKRI ke dalam tabel berikut:

 

Dari tabel di atas, tidak ada provider yang unggul mutlak dalam persaingan tawaran paket roaming data internasional ini. Yang ada hanyalah beberapa provider unggul di negara tertentu dan provider lainnya unggul di negara yang lain (ini semata dalam konteks tarif yang ditawarkan, bukan dari segi kualitas layanannya ya). Telkomsel, seperti dugaan sebelumnya, menawarkan tarif yang paling tidak bersahabat untuk kalangan kelas menengah ngehe sok kaya tapi perhitungan. Untuk yang sifatnya unlimited, XL mendominasi predikat tarif roaming data termurah. Roaming data di Malaysia, Singapura, Jepang, dan Hong Kong mutlak lebih murah pake XL. Untuk Thailand dan Tiongkok diambil alih oleh Indosat. Arab Saudi (kalo hitungannya unlimited termurah per hari) kembali dikuasai XL. Tapi kuda hitam sesungguhnya adalah Tri. meskipun tidak menawarkan paket unlimited, penawaran dari Tri untuk beberapa negara cukup menggiurkan. Hal ini juga didukung dengan ketentuan fair usage yang cukup masuk akal. Untuk Inggris misalnya, hanya Rp 149.000 untuk 1 GB yang berlaku selama 5 hari. Sekitar Rp 30.000/hari! dan rasanya kuota segitu mencukupi untuk mobile selama 5 hari (sisanya numpang wifi gratisan). Hal yang sama juga berlaku untuk Australia dan Selandia Baru. Semakin menggila kalo liat yang untuk Arab Saudi yang dengan hanya Rp 77.000 bisa dapat kuota 2 GB untuk 9 hari. Cuma perlu Rp 8.500/hari untuk menunjang aktivitas komunikasi mobile dan (ini yang penting) narsisme selama umroh! Allahu Akbar!

Sayangnya, mayoritas tarif yang ditawarkan provider-provider GSM Indonesia ini berlabel “promo” sehingga bisa saja berubah sewaktu-waktu. Tapi paling nggak informasi yang ada di sini bisa dijadikan patokan sekiranya hendak menambah stempel imigrasi di paspor dalam waktu dekat. Mudah-mudahan tarifnya ga naik secara drastis atau malah ada tambahan promo tarif ciamik lainnya. Setidaknya, setelah bikin tulisan ini, kini saya tau satu hal dengan pasti: jika hendak menunaikan ibadah umroh atau haji di tanah suci, lupakan keribetan mencari nomor lokal. Pake SIM card Indonesia ternyata jauh lebih murah! :))

Whiplash (2014)

Selama ini saya selalu menganggap La Vita e Bella (Life Is Beautiful) (1997) sebagai film terbaik dalam urusan bercerita tentang father-son relation. Namun, Whiplash yang baru hari ini saya tonton (cukup telat memang) ternyata juga tidak kalah mengesankannya dibanding Life Is Beautiful. Bahkan bisa dibilang lebih: karena dalam Whiplash terdapat dua kisah father-son relation. Atau lebih tepatnya: satu kisah father-son relation dan satu kisah ‘father-son’ relation.

Cerita tentang pasang surut hubungan antara Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) dan ayah kandungnya memang hanya menjadi sub-plot di film ini, namun tidak menjadikannya sebagai alur cerita minor yang layak dilupakan. Kisah tentang bagaimana seorang ayah yang meskipun kurang sreg dengan pilihan hidup anaknya sebagai musisi namun selalu berusaha suportif di setiap kesempatan ini buat saya cukup menyentuh dan tak kalah memorable dibanding kisah Roberto Benigni dan anaknya yang menjadi cerita utama di Life Is Beautiful.

Namun tentu, yang menjadi pusat perhatian di film ini adalah bagaimana hubungan antara Andrew Neiman dan ‘ayah’-nya di lingkungan akademis, yaitu dosen musik super killer bernama Terrence Fletcher yang dimainkan dengan sempurna oleh J.K. Simmons. Simmons bahkan diganjar Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik berkat aktingnya di Whiplash ini. Sebuah penghargaan yang sangat sangat layak karena sejak akting Christoph Waltz sebagai Kolonel Hans Landa di Inglourious Basterds rasanya tidak ada lagi aktor pemeran pendukung film Hollywood yang berakting sebaik (dan sesadis) Simmons.

Pasang surut dalam hubungan antara Neiman dan Fletcher ini jauh lebih dinamis dan mendominasi dibandingkan Neiman dan ayah kandungnya sendiri. Bahkan, saking dinamisnya, nonton Whiplash berasa seperti nonton film thriller. Kebengisan Fletcher dalam memimpin band jazz andalan Shaffer Conservatory membuatnya menjadi villain utama dalam film dan musuh bersama para penonton. Bahkan ketika penonton seolah telah diajak percaya kalau seorang Fletcher telah tobat dari sifat iblisnya itu, ia seakan membanting imaji tersebut untuk hancur berkeping-keping di penghujung film. *ups spoiler :p*

Sebagai suatu tontonan yang berlabel nomine Film Terbaik Oscar, Whiplash tergolong cukup ringan dan sangat mudah dinikmati, bahkan untuk orang yang buta nada sekalipun (kayak saya huhuhu). Menonton Whiplash mungkin sensasinya akan sama kayak mennton Tabula Rasa: meningkatkan kembali awareness dan sensitivitas kita terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang “sehari-hari” dan biasa banget. Jika di Tabula Rasa objeknya adalah masakan (Padang), di Whiplash objeknya adalah musik (jazz). Minimal persepsi saya bahwa lagu jazz itu tak lebih cuma sebuah hasil dari suatu jam session yang tak terstruktur dan lebih mengandalkan spontanitas kini jadi termentahkan. Jazz itu ternyata (sangat) serius! Setiap alat musik memiliki peran besarnya masing-masing dalam membangun struktur sebuah lagu, dan drummer, bapak ibu sekalian, drummer itu perannya juga sangat penting dalam mengisi rhythm. Dan solo drum itu ternyata bisa seciamik permainan solo guitar yang udah kadung mainstream, seperti yang ditunjukkan si Andrew di 10 menit terakhir film (yang sukses membuat satu teater hening sesenyap-senyapnya). Mungkin karena selama ini cuma pernah denger permainan solo drumnya Jelly Tobing (jiaah #lawas..) yang rada old-school haha. Pokoknya pas keluar dari teater pasti bawaannya langsung jadi audiophile wannabe gitu hahaha

*sembah*

Whiplash mungkin akan jadi satu-satunya film musikal favorit saya. Selama ini genre tersebut seakan terlalu didominasi dan diidentikkan dengan film-film seperti Moulin Rouge, Chicago, atau Dreamgirls yang sama sekali gak menarik minat saya buat ditonton. Sempat ada film-film macam August Rush atau School of Rock, tapi belum ada yang eksekusinya sekeren (dan sesederhana) Whiplash ini. Basian nonton Whiplash mungkin juga bakal sama layaknya basian nonton Guardians of the Galaxy: langsung menjadikan lagu-lagu dalam OST film tersebut sebagai playlist utama untuk minimal seminggu ke depan :)) Mungkin jika ada satu-satunya kekurangan Whiplash adalah seperti yang telah tersebut dalam ulasan yang terpajang di poster resmi film ini: “Whiplash’ will have audience cheering and begging for an encore“. Yep, an encore would be perfect to bring an end to this movie *kentang sih, semacam coitus interruptus* :))  Selebihnya gak ada kekurangan dari Whiplash. 4.5/5. Very recommended.

P.S.: Satu quote dari Terrence Fletcher di dalam film ini nampaknya akan menjadi salah satu quote film legendaris. Sayangnya, quote yang kalo direnungi memang layak mendapat pembenaran itu otomatis membuat alm. Pak Tino Sidin seolah jadi the biggest asshole in the world huhu.

Semua Untuk Hindia

Semua Untuk Hindia adalah pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (d/h Khatulistiwa Literary Award) 2014 untuk kategori prosa. Prestasi ini menyejajarkan karya ini dengan beberapa pemenang sebelumnya, seperti Pulang-nya Leila S. Chudori dan Bilangan Fu milik Ayu Utami. Yang membedakan Semua Untuk Hindia dengan beberapa pendahulunya yang telah populer adalah bentuknya: buku ini merupakan kumpulan cerpen, bukan sebuah novel.

Semua untuk koloni Kerajaan Belanda di Nusantara

Semua untuk koloni Kerajaan Belanda di Nusantara

Iksaka Banu, sang penulis buku ini, bertutur dalam 13 cerita pendek yang (hampir) semuanya menggunakan sudut pandang orang Belanda/setengah Belanda yang sedang berada di Hindia Timur. Sebuah tantangan tersendiri bagi seorang penulis pribumi untuk menuliskan penokohan yang bukan berasal dari budayanya (dan juga zamannya) sendiri. Tapi Iksaka Banu mampu melakukannya dengan baik, dan hasilnya cukup mengesankan.

Sebagian dari cerpen-cerpen yang ada di Semua Untuk Hindia pernah dimuat di Koran Tempo edisi hari Minggu. Itulah mengapa ada beberapa tulisan yang familiar bagi saya. Terasa deja vu malah, karena sebelumnya ternyata pernah saya baca dan waktu itu membuat terkagum-kagum. Yang paling diingat adalah Penunjuk Jalan, kisah seorang juru medis Kerajaan Belanda yang diutus ke Batavia yang bertemu dengan sang “Pangeran Kebatinan” yang merupakan salah satu tokoh sejarah perjuangan lokal (i’m trying not to give spoiler here, hehe), dan Di Ujung Belati karena kehadiran “Tuan Besar Guntur” (again, no spoiler given :p but he’s quite a famous figure tho) dalam cerita.

Beberapa momen historis dalam perjalanan sejarah bangsa dapat ditemui sebagai latar dalam cerita-cerita yang ada di buku ini. Beberapa malah jadi bagian inheren dalam cerita seperti pengasingan Pangeran Diponegoro setelah ‘tertangkap’ di Pollux, pembantaian warga Tionghoa di Batavia di Mawar di Kanal Macan, Puputan Margarana di Semua Untuk Hindia, hingga pemberontakan rakyat Banten di Tangan Ratu Adil. Namun, tidak semua tulisan di sini berangkat dari suatu peristiwa sejarah spesifik. Banyak juga yang terlepas dari kaitan suatu peristiwa historis seperti Racun Untuk Tuan, Gudang Nomor 12B, dan Keringat Dan Susu. Meskipun demikian, semuanya punya ciri yang sama: mampu berkisah dengan apik, meski singkat, tentang kondisi masyarakat pada masa itu dan fokusnya yang konsisten terhadap sisi humanis si tokoh utama, baik orang Belanda tulen maupun Indo-Peranakan.

Satu-satunya kelemahan (itu pun kalo bisa disebut kelemahan) buku ini adalah urutan berceritanya yang berjalan mundur: dari masa revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan di dekade 40-an hingga masa penjelajahan samudera menuju Nusantara oleh Cornelis de Houtman. Menurut saya akan lebih baik kalo ceritanya dimulai dari persentuhan pertama Belanda dengan Nusantara, baru dilanjut sampe akhir kekuasaan mereka di sini. Gaya yang mainstream memang, tapi mengingat cerita-cerita seru dalam buku ini lebih banyak yang terjadi di era keemasan VOC, rasanya itu lebih baik untuk membangun intimitas pembaca. *ini rada subjektif sih :p*

Satu lagi: seandainya aja buku ini dibikin dalam bentuk novel, tentunya akan jauh lebih menarik lagi :D Meskipun gak semua dari 13 cerpen ini potensial untuk dijadikan novel, tapi membayangkan adanya lanjutan cerita-cerita yang mendahului/mengakhiri fragmen-fragmen dalam Pollux, Racun Untuk Tuan, Penabur Benih, maupun Semua Untuk Hindia sendiri (those are my personal favourites btw) cukup buat saya untuk memastikan akan membelinya sekiranya ada :D

Untuk menyimpulkan: meskipun hanya setebal 153 halaman, dan mungkin akan habis dibaca dalam hitungan jam, bukan hari, buku ini sangat layak dibaca, terutama bagi pecinta dan pemerhati sejarah Indonesia jaman kolonial. Jika merasa berat membaca novel-novel bertema sejenis, buku ini dapat berperan sebagai appetizer yang menggugah selera.

Yang Tersisa dari Interstellar

Ah, Interstellar… Satu-satunya film yang saya tunggu kehadirannya di tahun ini. Christoper Nolan + eksplorasi antar galaksi. Tentu sangat layak dinantikan. Juga sekaligus ingin ‘membalaskan dendam’ karena waktu Inception tayang gak sempet nonton di bioskop. Sekitar tiga jam tersedot ke dalam lubang hitam dan merasakan sendiri fenomena dilatasi waktu mini ketika waktu di dalam teater bergerak lebih lambat daripada di luar. Tiga jam yang hampir tak terasa. Tapi ketika semua usai dan credit title mulai ditayangkan terasa ada yang mengganjal. Pertanyaan demi pertanyaan hinggap di benak, menyisakan keingintahuan untuk googling lebih banyak :))

Tema tentang angkasa luar dan penjelajahan antariksa selalu menarik minat saya dari dulu: dari mulai era Star Trek: The Next Generation dengan awak USS Enterprise-nya yang tersohor itu hingga serial dokumenter Cosmos: A Spacetime Odyssey yang tayang belum lama ini. Semua karena keyakinan saya kalo alam semesta yang teramat luas ini rasanya sangat mubazir kalo hanya dihuni oleh umat manusia semata. Pasti ada suatu bentuk kehidupan lain nun jauh di sana, entah dalam bentuk paling primitif berupa bakteri dan protozoa (udah lama kan ga denger kata ini?) atau entitas dengan peradaban tingkat tinggi macam Autobots dan Decepticons.

Pertanyaan-pertanyaan yang tersisa paska nonton Interstellar akhirnya membuat saya terdampar di Youtube dan menemukan dokumenter The Science of Interstellar. Ini bukan sebuah feature behind the scene yang lazim diluncurkan bersamaan dengan rilisnya suatu film, tapi lebih berupa penjelasan-penjelasan ilmiah tentang fenomena-fenomena yang ada di film Interstellar. Sebuah tontonan yang sebenarnya tidak menawarkan pemahaman baru (karena di 13 episode Cosmos udah dikaji secara komprehensif), tapi mungkin cukup membantu bagi yang awam istilah-istilah dunia astrofisika. Ini juga versi yang lebih mudah dicerna daripada penjelasan dalam buku berjudul sama karangan Kip Thorne, fisikawan di balik pembuatan cerita Interstellar, yang sampai saat ini masih berupaya saya khatamkan. E-book berformat epub-nya bisa diunduh di sini.

Beberapa pertanyaan mendasar (seperti kenapa Cooper masih bisa hidup dan badannya utuh setelah terlontar dari pesawatnya dan masuk ke Gargantua, keberadaan worm hole yang masih hipotetikal, alternatif-alternatif planet pengganti bumi yang riskan karena mengorbit black hole, dsb.) memang masih belum terjawab setelah baca buku itu, namun bisa jadi jawabannya ada di bab-bab yang belum sempat saya baca. Postingan ini memang tidak dimaksudkan untuk mengulas film tersebut, tapi cuma ingin membagi kegelisahan yang sama dan nyoba mencari tahu jawabannya bareng-bareng juga untuk memenuhi target satu postingan per bulan. :))

Sebagai penutup, sebuah mixtape yang berisi lagu-lagu bertema/berjudul/berlirik seputar luar angkasa dan printilannya berikut kiranya bisa dijadikan teman membaca buku Kip Thorne tadi kalo udah diunduh. Idenya muncul waktu abis nonton Gravity tapi baru terealisasi sekarang (yah mumpung temanya masih sebelas-dua belas…). Introducing the songs from Lighthouse Family, Beastie Boys, Incubus, and many more.

 

*maafkan postingan sapu jagad yang nyampah gak jelas gini :))*

 

Kutukan Three Lions?

Football is a simple game; 22 men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win. – Gary Lineker

Gary Lineker gak salah. Buktinya Jerman keluar sebagai juara dunia (lagi) tahun 2014 ini. Tapi mungkin kutipan di atas, yang lahir pasca kemenangan Jerman Barat atas Inggris di semifinal Piala Dunia 1990, sekarang perlu ditambah satu kalimat lagi: “and the English always lose.”

Terakhir kali timnas Inggris menjadi juara dunia sepakbola adalah pada tahun 1966. Itu pun ketika turnamen digelar di negara mereka sendiri dan diwarnai kontroversi ‘gol hantu’ di laga final. Setelah 1966, langkah terbaik mereka adalah mencapai semifinal di Italia 1990, kalah dari Jerman (Barat) yang akhirnya menjadi juara dan melahirkan kutipan terkenal Gary Lineker di atas. Dalam empat perhelatan piala dunia terakhir, Three Lions selalu kandas bahkan sebelum mencapai babak semifinal: mentok di perempat final di Korea-Jepang 2002 dan Jerman 2006, 16 besar di Afsel 2010, dan yang paling terbaru, pada babak penyisihan grup di Brasil 2014. Reputasi yang cukup memalukan untuk ukuran sebuah negara yang selalu membanggakan diri sebagai tempat lahirnya olahraga terpopuler sejagat raya ini.

Berbagai analisis tentang penyebab kegagalan Inggris di piala dunia selalu bermunculan sesaat setelah mereka dipastikan harus mengepak koper terlebih dahulu dan meninggalkan negara penyelenggara lebih awal. Mayoritas mempersoalkan minimnya kohesi antar 23 pemain dalam skuad yang dibawa, cedera pemain kunci yang menurunkan performa tim secara keseluruhan, kelelahan akibat jadwal kompetisi domestik dan Eropa yang teramat padat, hingga isu tentang dominannya pemain asing dalam liga domestik yang mengakibatkan minimnya kesempatan bagi pemain lokal untuk berkembang. Tapi apakah benar hal-hal tersebut menjadi penyebab utama impotennya timnas Inggris di ajang internasional? Bab pertama dalam buku Soccernomics dengan judul “Why England Loses and Others Win” mencoba untuk menjawab pertanyaan abadi tersebut.

Yup, another per-chapter review of the book in this blog, hehe. Kuper dan Szymanski, duo penulis Soccernomics, membuka bab ini secara satir dengan mengungkapkan tujuh fase yang akan dilalui timnas Inggris setiap perhelatan Piala Dunia (dan terus berulang setiap empat tahunnya). Bagi kedua penulis, pertanyaan tentang “mengapa Inggris selalu kalah setiap Piala Dunia” mempunyai kemiripan dengan isu utama di studi Ekonomi Pembangunan, yaitu “mengapa satu negara bisa lebih miskin (less productive) dibandingkan dengan negara yang lain?”. Tiga jawaban yang umum diterima atas pertanyan di atas adalah (1) terlalu banyaknya pemain asing yang bermain di Liga Inggris, (2) dominasi kelas sosial tertentu dalam persepakbolaan Inggris, dan (3) ‘keterkucilan’ Inggris dari Eropa daratan, pusat industri sepakbola dunia.

Berlimpahnya pemain asing di Liga Inggris sudah sangat sering dijadikan kambing hitam terkait dengan kemunduran prestasi The Three Lions. Merujuk ke konteks ilmu ekonomi, Ingris dinilai tidak menerapkan kebijakan ‘import substitution’ dalam industri sepakbolanya, dan cenderung mengagungkan kredo ‘export promotion’ ketika mengelola kompetisi domestiknya. Keterbatasan jam terbang merumput pemain asli Inggris karena jatahnya digunakan oleh pemain asing diduga menjadi penyebab minimnya bakat-bakat pribumi baru yang terdeteksi. Terdengar masuk di akal? Ternyata Kuper dan Szymanski  berpendapat lain. Justru menurut mereka, jumlah 37% pemain asli Inggris yang bermain di (arguably) liga terbaik di dunia sudah merupakan hal yang bagus. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari, misalnya, Rusia dan Kroasia yang para pemain nasionalnya mungkin hanya 5% yang mampu mencicipi atmosfer kompetisi terketat di dunia tersebut. Ironisnya, dengan hanya 5% komponen tim yang terpapar gemerlap EPL tersebut, kedua negara tadi justru mampu mengangkangi Inggris untuk lolos ke Piala Eropa Swiss-Austria 2008.

Kuper dan Szymanski berargumen bahwa dengan tingkat persaingan yang amat tinggi di EPL tiap pekannya, di mana 37% pemainnya adalah pemain asli Inggris, peak performance para pemain timnas Inggris justru telah terjadi ketika bermain di level klub. Walhasil, setiap dihelatnya turnamen internasional di musim panas, permainan yang disuguhkan menjadi ala kadarnya. Belum lagi menghitung imbas cedera dan kelelahan fisik yang didapatkan selama musim kompetisi berjalan, suatu hal yang sangat umum didapatkan ketika bermain di EPL yang mengutamakan speed + power ketimbang teknik. Jadi, permasalahannya bukan di banyaknya pemain asing yang mendominasi liga, akan tetapi bagaimana caranya agar pemain Inggris dapat ‘diekspor’ ke liga-liga lain yang tingkat kompetisinya tidak seketat EPL. Jika mengingat pemenang empat Piala Dunia terakhir yang anggota skuadnya tidak didominasi oleh pemain yang bermain di Liga Inggris (Brasil 2002, Italia 2006, Spanyol 2010, dan Jerman 2014), argumen tersebut cukup bisa diterima.

Lalu bagaimana tentang anggapan bahwa pemain sepakbola di Inggris terlalu didominasi kelas sosial tertentu? Kelas pekerja di Inggris saat ini memang menjadi penyumbang utama pemain sepakbola di negeri tersebut. Di sisi lain, keberadaan pemain yang berasal dari keluarga kelas menengah kian jarang ditemui. Padahal saat ini kelas menengah, yang indikatornya adalah mampu mengenyam pendidikan tinggi dan tidak berprofesi sebagai ‘pekerja kasar’, adalah golongan sosial mayoritas di Inggris, jauh melebihi kalangan kelas pekerja yang semakin menyusut. Akibatnya, populasi pesepakbola yang memiliki talenta bagus juga kian menyusut seiring dengan menurunnya jumlah kontributor utamanya. Selain itu, minimnya edukasi yang dimiliki pemain-pemain dari kelas pekerja ini (ini emang terlalu menggeneralisir sih..) menyebabkan sulitnya menyesuaikan diri terhadap perkembangan taktik sepakbola yang makin menekankan pada intelijensia dan kematangan mental pemain. Jadi alih-alih memberlakukan restriksi yang lebih ketat terhadap keberadaan pemain asing, industri sepakbola Inggris seyogyanya bisa mempertimbangkan cara untuk dapat menarik lebih banyak pemain dari kelas menengah.

Untuk faktor ‘keterkucilan’ Inggris dari pusat industri sepakbola dunia di Eropa daratan, tentunya sekilas terkesan masalah geografis menjadi penyebab utama. Inggris yang terpisahkan dari Eropa daratan dianggap sebagai periferi dalam peta besar Eropa. Negara-negara di jantung Eropa seperti Jerman, Perancis,Spanyol, Belanda, dan Italia, memiliki keuntungan tersendiri dalam hal mudahnya konektivitas dan membangun jejaring yang mampu meningkatkan produktivitas. Tidak heran jika negara-negara tersebut mampu berprestasi lebih baik ketimbang Inggris dalam hal sepakbola. Namun ternyata masalah Inggris lebih dari itu. Persepakbolaan Inggris telah terlalu lama menganut paham isolasionisme, meskipun sekarang sudah mulai ada upaya untuk lebih membuka diri. Hingga pertengahan 90-an, pola kick and rush yang telah usang masih mendominasi strategi klub-klub Inggris. Komersialisasi EPL dan makin menguatnya peran Uni Eropa dalam integrasi ekonomi benua birulah yang kemudian mampu mendobrak konservatisme ini. Akan tetapi, ketertinggalan Inggris masih tercermin pada minimnya pelatih-pelatih lokal yang menangani klub-klub besar. Bahkan selama beberapa tahun pun timnas Inggris terpaksa mengimpor pelatih dari Swedia dan Italia karena dianggap lebih mumpuni daripada pelatih-pelatih lokal sendiri. Inggris sebagai recovering isolasionist dianggap masih membutuhkan campur tangan Eropa daratan di industri sepakbolanya dan sebaiknya mengikis gengsi tingginya sebagai tempat lahirnya sepakbola.

To sum up: Hal-hal yang perlu dilakukan Inggris untuk lebih berprestasi di turnamen-turnamen internasional adalah (1) berhenti mengkhawatirkan pengaruh buruk keberadaan pemain asing di liga domestik, (2) mengupayakan agar kelas menengah tertarik untuk berkarir di sepakbola, dan (3) terus membuka diri terhadap ide, perspektif, dan paradigma baru terkait sepakbola yang datangnya dari Eropa daratan. Dari tiga hal tersebut, rasa-rasanya poin nomor dua yang paling susah. Sepakbola di Inggris sudah kadung dianggap sebagai olahraga kelas pekerja yang memarjinalkan peran kelas menengah. Entahlah. Mungkin di sana juga menganut sinisme khas yang sama kayak di Indonesia: sekolah tinggi-tinggi kok malah jadi pemain bola. Atau: “Sekolah yang tinggi, biar gak jadi pemain bola”.

Atau jangan-jangan, selayaknya nasib Indonesia di kancah ASEAN, udah takdir Inggris jadi Indonesia-nya Eropa dalam hal prestasi sepakbola? Wallahualam bishawab.

I Am Zlatan

Umumnya buku (oto)biografi memiliki alur cerita yang berjalan secara linear. Dimulai dari masa kecil si penulis (atau bahkan sebelum kelahirannya), masa sekolah dan remaja, hingga masa dewasa yang seringnya menjadi inti dari buku tersebut. Tapi tidak demikian halnya dengan otobiografi Zlatan Ibrahimovic ini. Di bab pertama, Zlatan langsung berkisah secara frontal tentang ketidaksukaannya terhadap Josep ‘Pep’ Guardiola, pelatih FC Barcelona kala itu (sekaligus klub profesional kelima yang dibelanya dalam kurun waktu 10 tahun). Pep dinilai sebagai sosok yang pengecut, pecundang kelas berat, dan tidak becus menangani pemain bintang. Barca di bawah asuhan Guardiola, menurut Zlatan, tak ubahnya seperti tim sekolah dasar yang menekankan konformitas dan kepatuhan terhadap otoritas serta dihuni pemain-pemain berkelakuan manis layaknya Messi, Xavi, dan Iniesta. Sebuah hal yang tak mengherankan karena tiga pemain kunci ini memang didikan La Masia, akademi sepakbola Barca, yang telah terbiasa dengan kultur di dalam klub tersebut. Namun bagi Zlatan, situasi ini terhitung konyol. Terlebih karena ia sebelumnya lima tahun bermain di Italia yang begitu mendewakan pemain bintang. Cerita di bab pertama yang diakhiri dengan kisruh di kamar ganti setelah kegagalan Barca lolos ke final Liga Champions 2009-2010, kalah selisih gol dari Inter-nya Mourinho, ini menjadi pembuka ideal yang mampu mengikat para pembaca untuk terus mengikuti kisah biografi ini hingga tuntas.

Selain sebagai strategi untuk mencuri perhatian pembaca, penempatan episode karir singkatnya di Barca sebagai pembuka cerita bisa jadi juga merupakan medium Zlatan untuk mengungkap tabir di balik karir singkat tersebut dari versi dia. Tidak banyak yang tahu tentang alasan pasti berpisahnya Zlatan dengan Barca meski baru bermain setahun. Kisah perseteruan dengan Guardiola yang diberitakan media mayoritas sumir, tidak dielaborasi dengan dalam dan menyisakan banyak tanda tanya. Dibeli oleh klub juara Eropa dengan harga yang begitu mahal dari Inter pada musim panas 2009, bersamaan dengan pembelian gila-gilaan Real Madrid atas Kaka dan Cristiano Ronaldo, Zlatan hanya bertahan satu musim untuk kemudian dilepas dengan harga murah ke klub spesialis penampung pemain murah, gratisan, dan free transfer: AC Milan. Hingga saat ini, Barca menjadi klub dengan masa bakti tersingkat bagi seorang Zlatan di dalam karir sepakbolanya, dan Zlatan menyatakan bahwa Guardiola adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sebuah penuturan yang mungkin bisa membuat para pembaca mengubah persepsinya selama ini terhadap sosok seorang Pep Guardiola.

Sosok Zlatan Ibrahimovic memang mengundang banyak perhatian. Pemain yang dikenal sebagai si bengal pembuat onar dan arogan (tapi dengan kemampuan mengolah bola yang mumpuni) memang lebih mudah dieksploitasi media untuk menaikkan oplahnya. Tak mengherankan ketika Zlatan merilis buku otobiografinya (meskipun saya gak yakin ini bisa dibilang “otobiografi” karena ditulis oleh David Lagercrantz), perhatian terhadap buku ini cukup besar dan banyak pihak yang menasbihkannya sebagai salah satu buku biografi sepakbola terbaik yang pernah ada. Cara bertutur Zlatan yang blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling (duh bahasanya!) ketika menceritakan orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupannya enak untuk dibaca dan sesekali mampu mengundang tawa. Selazimnya otobiografi lainnya, penggunaan kata ganti orang pertama di buku ini juga mampu mengakrabkan pembaca dengan sosok Zlatan karena seolah ia sendiri yang sedang berkisah dalam buku ini.

Stands out in the (blurry) crowd

Stands out in the (blurry) crowd

Setelah diawali dengan bab pertama yang bombastis, alur cerita dalam buku ini barulah mengikuti pakem yang umum: mengalir secara runut dari masa kecil hingga awal karir dan seterusnya. Zlatan kecil hidup di area suburb Rosengard (keren ya, kayak di Middle Earth..) pinggiran kota Malmo di Swedia. Latar belakang kedua orang tuanya yang imigran, beda etnis dan agama, lalu kemudian bercerai membuat pelarian ke sepakbola menjadi hal yang lumrah. Ini kayaknya pola umum yang dialami beberapa bintang sepakbola dunia: tumbuh di keluarga yang disfungsional, menemukan sepakbola sebagai satu-satunya pelarian dari masalah dan ajang pembuktian eksistensi diri, hingga dilirik oleh pemandu bakat klub-klub terkenal. Sayangnya saya gak begitu tertarik sama kisah personal Zlatan sebelum nyemplung di dunia sepakbola profesional, jadi pas baca beberapa bab tentang ini cuma selintas lalu doang. Meskipun ada beberapa fakta menarik yang terungkap, salah satunya tentang bagaimana dulu Arsene Wenger pernah hampir menarik Zlatan ke Arsenal. Beberapa bab yang gak terlalu menarik memang, tapi minimal jadi tau gimana interaksi sosial antar etnis (native vs imigran) di Swedia sana.

Bagian ketika Zlatan bergabung dengan Malmo FF, klub profesional pertamanya, juga biasa-biasa aja. Minim konflik dan cerita behind the scene yang menarik. Cerita baru mulai menarik lagi ketika telah memasuki episode dijual ke Ajax. Pertama karena Zlatan (akhirnya) menyadari kalo agen pertamanya ngibulin dia (dijual sebagai pemain termahal di klub lama tapi dengan gaji terendah di klub barunya :D) dan berikutnya karena di Ajax juga dia nemuin musuh(-musuh) besarnya (Louis Van Gaal dan Rafael Van der Vaart) dan dua orang yang dihormati (Leo Beenhakker dan Maxwell). Maxwell sendiri malah jadi BFF Zlatan: ngikut terus dari Ajax, Inter, Barca, hingga PSG sekarang. Kedatangan Zlatan ke Ajax bersamaan juga dengan datangnya Mido Hossam, pemain asal Mesir. Ini yang masih saya inget sampe sekarang karena dulu, ketika masih sering beli Tabloid Bola, foto kedua pemain baru Ajax ini berdampingan dengan dua pemain anyar Milan, yaitu Rui Costa dan Pippo Inzaghi. Waktu itu beritanya terkait dengan penyelenggaraan Turnamen Amsterdam, sebuah turnamen pra musim yang diikuti antara lain oleh Ajax, Milan, dan Liverpool  yang juga diceritakan dalam buku ini. Di Ajax, Zlatan mewarisi nomor punggung 9 yang pernah dipakai Marco Van Basten dan sejak itu sering digadang-gadang sebagai “The New Van Basten” berkat kemiripan postur, posisi, dan cara bermain.

Belajar dari pengalaman ditipu agen ketika pindah dari Malmo ke Ajax, Zlatan kemudian menemukan sosok agen pemain yang ideal dan kompatibel dengan karakternya pada seorang Mino Raiola. Cukup banyak interaksi antara Zlatan dan Raiola yang diceritakan di buku ini. Yang paling intens tentunya pada saat berkisah tentang proses transfer Zlatan ke Juventus, Inter, Barca, hingga Milan. Banyak kisah-kisah behind the scene yang terungkap di buku ini seputar proses-proses transfer tersebut, yang semuanya tak terlepas dari kelicinan Raiola dalam bernegosiasi. Satu yang paling menyesakkan buat saya sebagai seorang fans layar kaca Milan adalah ketika Zlatan bercerita bagaimana ia tinggal selangkah lagi bergabung dengan I Rossoneri setelah Juve terdegradasi ke Serie B tahun 2006, namun kemudian di injury time Massimo Moratti mengintervensi sehingga ia berlabuh ke sisi kota Milano yang lain.

Yang menarik dari seorang Zlatan Ibrahimovic adalah ia selalu berhasil mempersembahkan gelar juara liga domestik ke klub yang dibelanya, terhitung sejak Ajax musim 2002-2003 (dengan pengecualian Milan di musim keduanya). Setiap momen menentukan dalam perjalanan meraih juara liga terdokumentasikan dengan apik di sini. Dua gelar back-to-back bersama Juve, tiga gelar beruntun bersama Inter dan masing-masing satu gelar untuk Barca dan Milan menjadi lumbung cerita yang mendominasi dua pertiga akhir buku ini. Mulai dari kekagumannya terhadap sosok Fabio Capello, hormatnya kepada Jose Mourinho, perseteruannya dengan rekan setim (Zebina di Juve, Mihajlovic di Inter, dan Onyewu di Milan), drama di laga-laga penentuan gelar juara, perebutan capocannonieri, hingga gol-gol spektakuler yang dicetaknya.

Ya, bicara tentang Zlatan pasti tidak lepas dari gol-gol yang spektakuler dan out of the box. Beberapa gol terindah yang pernah dibuatnya mendapat porsi khusus untuk diceritakan di sini. Sayangnya memang buku ini sudah selesai ditulis ketika Zlatan mencetak gol luar biasa kala Swedia menjamu Inggris tahun 2012 lalu, tapi beberapa gol indah lainnya dikisahkan dengan lengkap di sini (dengan nada pongah karena hampir setiap tahun selalu memenangi gelar gol terbaik pilihan pemirsa :p). Gol Zlatan ketika masih berseragam Juve melawan Roma yang berkesudahan 4-0, ‘gol kungfu’ waktu Euro 2004 ketika Swedia berhadapan dengan Italia, gol aneh bin ajaib ketika membela Inter melawan Bologna, gol-gol ketika El Clasico dan Barca vs Arsenal di Liga Champions, serta tentunya gol terakhir dia sewaktu membela Ajax ke gawang NAC Breda berikut:

Kekurangan buku ini cuma satu: keterbatasan masa bercerita. Buku ini cuma mentok di akhir musim pertama Zlatan bersama Milan. Sedangkan musim kedua, ketika akhirnya setelah sekian lama Zlatan tidak menghasilkan gelar juara liga untuk klub yang tengah dibelanya, tidak tercover dalam cerita. Begitu pun dengan lanjutan kisah Zlatan ketika pindah ke PSG dan dilatih oleh pelatih hebat lainnya: Carlo Ancelotti. Selebihnya sulit mencari kekurangan buku ini. Sebagai perbandingan, ketika saya membaca buku otobiografi Andrea Pirlo setelah baca I Am Zlatan ini, baru bab pertama aja udah ngerasa bosen karena gaya bertuturnya yang terlalu bertele-tele dan kurang makjleb. Kembali ke karakter pribadi sih emang, tapi secara keseluruhan bukunya Zlatan ini emang lebih enak dibaca. Karena saya adalah insan yang menjunjung tinggi HKI (yeah right..), link download e-book buku ini tidak saya sertakan di tulisan ini. Bisa didonlot sendiri via torrent, tinggal search aja “I Am Zlatan”.

Mari membajak. #eh