Hereditary (2018)

“Sakit!” “Bangsat!” “Gila!” “Cape banget nontonnya sumpah!”

Jika di-search di Twitter dengan menggunakan kata kunci “nonton Hereditary”, maka kata-kata penuh sumpah serapah tersebut yang mayoritas muncul sebagai ulasan singkat dari mereka yang telah menonton. Kalo saya yang diminta menyimpulkan film ini dalam satu kata, maka kata yang tepat adalah: depresif.

Posternya aja udah bernuansa gak enak

Susah untuk tidak depresi menyaksikan kisah keluarga di film ini yang begitu tragis dan membayangkan berada di posisi Bu Annie (diperankan oleh Toni Collette, bukan ibu yang di Cikeas itu) yang tak kunjung henti didera kenestapaan. Omong-omong, akting Toni Collette di Hereditary sangat mengesankan sehingga rasanya sangat pantas untuk minimal masuk nominasi Aktris Terbaik di Academy Awards tahun depan. Bahkan mungkin juga, mengingat Get Out saja tahun lalu bisa jadi nomine Film Terbaik, film ini bisa masuk ke dalam jajaran nominasi Best Picture Oscars 2019.

Sepertinya sudah banyak yang bilang kalau Hereditary bukan jenis film horor mainstream. Ketika ada yang nanya ke saya apakah film ini layak ditonton apa nggak, maka jawaban yang saya berikan adalah: “Pernah nonton The Witch dan suka apa nggak? Kalo suka, dan menganggap The Witch itu serem, maka Hereditary hukumnya fardhu ‘ain untuk ditonton.” Keduanya punya feel (dan after taste) yang sama: menawarkan kengerian yang dibangun pelan-pelan dengan ending yang menyesakkan. Kebetulan juga Hereditary dan The Witch lahir dari rumah produksi yang sama (A24), jadi mungkin ada beberapa kesamaan dalam mengangkat ide yang gak biasa untuk dituangkan ke layar lebar.

Hereditary dimulai dengan layar hitam bertuliskan obituari atas kematian sang nenek (Ellen), yang kemudian disambung dengan zoom-in ke miniatur rumah yang kemudian bertransformasi menjadi kamar si anak laki-laki (Peter). Dari situ, adegan berjalan lambat yang bercerita tentang dinamika kehidupan keluarga pasca kematian sang nenek, dengan fokus yang lebih banyak kepada si anak perempuan (Charlie). Sampai tiba saatnya pada adegan “itu” sekitar 45 menit film berjalan. Hening nan mencekam dan diikuti dengan tatapan kosong dari Peter dan teriakan pilu si Ibu yang bikin hati tercabik-cabik. Ditambah lagi setelah itu ada adegan close up yang lumayan bikin nempel di otak sampe sekarang huhuhu.

Hereditary spoiler without context

Dari titik itu, film ini makin bertambah level ke-sakit-annya, dan makin menjadi-jadi pada 30 menit terakhir. Beberapa bagian dari film ini sedikit mengingatkan saya pada Pengabdi Setan-nya Joko Anwar, tentunya dengan kearifan lokal Amerika sana, Ada beberapa adegan yang sampai sekarang masih terekam dengan sangat kuat di memori saya (yang tentunya bukan memori yang layak diingat) dan cukup membuat parno kalo lagi di tempat gelap dan pandangan tak sengaja tertuju ke sudut ruangan (atau langit-langit).

ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM. LAA TA’KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM

Buat yang (((masa muda))) nya sering ngebaca Forum Supranatural Kaskus atau Majalah Misteri, tema besar Hereditary ini pasti sangat familiar. Hanya saja, sutradara Ari Aster mampu mengemas film ini dengan apik sehingga penonton-penonton sotoy kayak saya gak bisa-bisa menerka mau dibawa ke mana film ini pada akhirnya. Salah satu tips berfaedah untuk bisa ‘menikmati’ Hereditary adalah perhatikan setiap detail yang ada: keset, kalung, bias cahaya, miniatur rumah, mainannya Charlie, cokelat, kue cokelat, tiang listrik, dan masih banyak lagi. Niscaya setelah menyelesaikan film ini dan (pasti bakal) googling “Hereditary ending explained” bisa lebih paham tentang jalinan cerita dan bisa menjawab beberapa pertanyaan yang muncul sepanjang nonton.

Hereditary di Indonesia hanya tayang di jaringan bioskop non 21 Cineplex (CGV, Cinemaxx, dan Flix). Sangat dianjurkan untuk ditonton di bioskop karena kapan lagi bisa sukarela membayar untuk penyiksaan jiwa lahir batin? Jadi, selamat menonton dan selamat menyiksa diri.

Advertisements

Jump on the Bandwagon

So here’s a thing increasingly popular right now: #30daysmusicchallenge. Never heard about it before? Check this one out:

cx_swmruqaes5cx-jpg-large

Interesting. Gonna make my version of it. But instead of posting it one by one each day (which no one would care) (and too lazy to do it), i’ll wrap it up in one post and make a YouTube playlist out of it. So here it is:

  1. Day 1: Efek Rumah Kaca – Putih
  2. Day 2: Nena – 99 Luftballons
  3. Day 3: Jimmy Cliff – I Can See Clearly Now
  4. Day 4: Oasis – Don’t Look Back in Anger
  5. Day 5: Seringai – Akselerasi Maksimum
  6. Day 6: Mansyur S. & Elvy Sukaesih – Gadis Atau Janda
  7. Day 7: Float – Pulang
  8. Day 8: Slank – Poppies Lane Memory
  9. Day 9: Beastie Boys – Intergalactic
  10. Day 10: Rama – Bertahan *ini sedih banget ya rabb :”(*
  11. Day 11: The Trees and The Wild – Berlin
  12. Day 12: Green Day – When I Come Around
  13. Day 13: John Williams – Star Wars Main Theme
  14. Day 14: Edwin McCain – I Could Not Ask For More
  15. Day 15: Destiny’s Child – Emotion
  16. Day 16: UEFA – UEFA Champions League Anthem
  17. Day 17: Yana Julio & Lita Zein – Emosi Jiwa
  18. Day 18: Toto -Africa (yang penting lagu tahun 1980-an lah.. :D)
  19. Day 19: Five For Fighting – 100 Years
  20. Day 20: Iwan Fals – Belum Ada Judul
  21. Day 21: Weezer – Jamie
  22. Day 22: Coldplay – Fix You
  23. Day 23: Benyamin S. – Seriosa
  24. Day 24: ST12 – S.K.J.
  25. Day 25: Chrisye – Merpati Putih
  26. Day 26: Payung Teduh – Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
  27. Day 27: Fadly – Anak Jalanan #lawas
  28. Day 28: Yuna – Decorate
  29. Day 29: Fajar Bahari – Game Watch (atau bahasa bekasinya “Gimbot”)
  30. Day 30: The Milo – Dunia Semu

Kapok Berurusan dengan CIMB Niaga

Apa reaksi anda ketika tiba-tiba sekonyong-konyong out of the blue menerima email dari bank dengan judul “Your E-Statement for Month xxxx”, padahal anda bukan nasabah bank tersebut dan gak pernah berurusan dengannya sebelumnya?

Yang jelas reaksi pertama pasti gak jauh-jauh dari melontarkan ekspresi kaget seraya tak lupa berseru “apa-apaan we-te-ef nih??!” Setidaknya itu yang saya lakukan ketika saya tiba-tiba menerima email dari CIMB Niaga, memberitahukan bahwa ada billing statement terlampir yang ditujukan untuk saya (yang bukan nasabah mereka). Bukan tanpa alasan tentunya, mengingat sudah sering terdengar berita orang-orang yang tiba-tiba menerima tagihan kartu kredit dari sejumlah bank padahal tidak pernah mengajukan aplikasi sama sekali. Saya awalnya berpikir kali ini mendapatkan giliran apes tersebut. Terlebih setelah lampiran file e-statement yang ada di email tidak bisa dibuka meskipun sudah dimasukkan password yang diambil dari 6 digit tanggal lahir saya. “Your password is incorrect” katanya. Hebat betul CIMB Niaga sampai bisa lebih mengetahui tanggal lahir saya yang ‘asli’. Kecurigaan menjadi makin memuncak karena di bayangan saya si marketing kartu kredit/produk tabungan nakal itu dengan sengaja menginput tanggal lahir saya secara asal-asalan demi memenuhi target mereka.

Penasaran dengan hal ini, saya pun memutuskan untuk segera menghubungi 14041, layanan Customer Service CIMB Niaga. Petugas call centre tidak begitu banyak menolong. Malah menambah kesan bahwa kasus seperti ini pernah (atau sering?) terjadi sebelumnya. Setelah melalui hold yang super lama (untuk mereka yang pernah berprofesi serupa, hal ini salah satu tabu utama yang pantang dilakukan kepada pelanggan :D) akhirnya saya disarankan untuk melaporkan keluhannya via email agar bisa lebih detail menyampaikan persoalannya.

Dalam email ke 14041(at)cimbniaga(dot)co(dot)id, selain melampirkan screenshot email e-statement yang dipermasalahkan, saya menyampaikan permintaan saya agar CIMB Niaga bisa menjelaskan isi dalam e-statement (yang tidak bisa saya buka) dan kenapa saya bisa dikirimkan email tersebut. Sederhana sebenarnya, tapi jawaban yang didapat cukup di luar dugaan: CIMB Niaga membutuhkan waktu sebanyak 2 hari kerja untuk melakukan penanganan. Ini hal pertama yang bikin ilfil. Di tahun 2016 ini ternyata masih ada contact centre suatu perusahaan jasa berskala nasional (internasional malah) yang jam kerjanya dibatasi weekdays. Nggak available 24/7. Padahal konsumen (dan juga non-konsumen) bisa mengalami masalah kapan saja. Jadi kalo ngelaporin masalahnya hari Sabtu, paling cepet Selasa baru bisa ditangani. Wow.

Tapi okelah, mungkin SOP yang dibuat CIMB Niaga untuk penanganan masalah via email masih menggunakan produk keluaran tahun 1999. Mau gak mau saya harus sabar menunggu hingga dua hari kerja ke depan. Namun email balasan ternyata baru diterima sehari sesudah tenggat waktu yang telah mereka tetapkan tersebut, dan isinya cukup gak penting: meminta agar di-forward email yang dipermasalahkan, tidak hanya sekadar screenshot. Ini ke-ilfil-an nomor 2. Ngeforward nya sih ga masalah, tapi di bayangan saya: bukannya email itu pasti ada juga di sent item mereka? Tinggal difilter berdasarkan penerima, masukin alamat email saya, dan seharusnya langsung ketemu itu barang. Simpel, cuma mungkin mereka butuh bukti kalau saya memang benar-benar menerima email e-statement tersebut, bukan cuma sekadar kompetitor yang berpura-pura komplain buat menjatuhkan pesaing usaha. Oke fine, saya forward emailnya, sambil tak lupa mengirimkan email konfirmasi telah memforward emailnya.

Hal ilfil nomor tiga terjadi tepat keesokan harinya. CIMB Niaga kembali mengirimkan email yang meminta agar di-forward email yang dipermasalahkan. Ini petugas customer care-nya pada ngecek inbox dulu gak si sebelum ngirim email?? :'(( Susah payah saya menjelaskan dalam email balasan kalau mereka telah mengirimkan email serupa kemarin dan saya langsung forward saat itu juga sambil tak lupa konfirmasi via email lagi. Keluhan (lebih berupa curhatan) panjang lebar tentang betapa kurang telitinya CIMB Niaga, ketidakprofesionalan mereka dalam melayani (bukan) pelanggan, hingga mengingatkan kembali inti masalah tentang billing statement gak jelas itu rupanya cuma dibalas (lagi-lagi) pake auto-generated email yang ujungnya bisa ditebak: harus ditunggu lagi 2-3 hari kerja.

Ya Rabb... Tabahkan hamba

Ya Rabb… Tabahkan hamba

Setelah lewat seminggu diombang-ambingkan perasaaan CIMB Niaga, balasan baru datang lagi, dengan isi pesan yang bawaannya pengen banting henpon sebagai berikut:

untitled

Teori Relativitas Waktu dalam Perspektif Layanan Perbankan: Studi Kasus CIMB Niaga

I lost count of those ilfilnesses coming from CIMB Niaga. I HAD ENOUGH!!! *marah ceritanya* Untuk masalah sesederhana ini aja butuh waktu lama banget buat ditanganin. Gimana kalo hal yang lebih ribet dan complicated seperti penerbitan right issue untuk obligasi korporat yang tenornya satu semester dan jatuh tempo akhir kuartal tahun fiskal ini????!!! (ini ngarang, saya juga ga tau maksudnya apa)

Tapi beneran, pada saat itu saya udah otomatis hilang kepercayaan sama CIMB Niaga. Sudah dipastikan bank ini akan masuk black list dalam preferensi personal saya untuk segala produk perbankan dan finansial. Saya tidak akan mau menjadi nasabah dari bank yang lambat menangani masalah sepele dan hanya membutuhkan klarifikasi. Pengalaman saya sebagai outsider ketika (terpaksa) berurusan dengan mereka cukup membuat kapok dan tobat.

Hingga tibalah hari ini. Siang tadi saya iseng nelepon lagi ke 14041 untuk nanyain status komplain saya berhubung hari ini seharusnya tenggat waktu untuk hasil ‘investigasi’ mereka. Setelah kembali di-hold cukup lama, petugas call centre memberi tahu saya kalau (this is literally what she told me) hasil ‘investigasi’nya adalah “… telah menghubungi nasabah pemilik rekening untuk melakukan pembaharuan alamat email dan juga mengkonfirmasikan ke cabang pembuka rekening nasabah untuk pengecekan lebih lanjut.

Wait, what?

Jadi kesimpulannya adalah: (1) e-statement yang dikirimkan ke email saya itu salah alamat karena mestinya ditujukan ke orang yang bernama sama (sial, nama lengkap saya ternyata pasaran juga) dan beralamat email yang mirip-mirip (cuma beda 1 karakter) yang berarti kekeliruan ada di pihak CIMB Niaga; (2) CIMB Niaga memilih untuk tidak memberi tahu hal ini ke saya terlebih dahulu sebagai pihak pelapor, tapi lebih memilih menginformasikannya ke nasabah dan cabang (yang mungkin tidak tahu apa-apa tentang masalah ini kalo saya gak komplain); (3) CIMB Niaga tidak proaktif menginformasikan hasil ‘investigasi’ apalah-apalah itu yang ternyata telah diselesaikan kepada saya yang telah berhari-hari menunggu. Bisa jadi kalo saya hari ini gak menghubungi ke 14041 mungkin harus menunggu lebih lama supaya tahu duduk persoalannya.

Oke, layanan pelanggan CIMB Niaga ternyata memang benar-benar tidak mencerminkan kualitas perusahaannya yang masuk Top 10 bank umum nasional di Indonesia. Sub-standar banget! Selama 15 hari menunggu klarifikasi dari keluhan yang saya layangkan, tidak sekalipun pihak CIMB Niaga menghubungi via telepon untuk menjelaskan perkembangan keluhan saya ataupun menginformasikan bahwa masalah sudah selesai dengan hasil investigasi berupa ini ini ini. Itu padahal hal yang sangat standar yang biasa dilakukan oleh contact centre mana pun untuk menghargai konsumen (maupun non-konsumen)nya yang telah berpayah-payah melaporkan celah di sistem mereka. Mungkin CIMB Niaga merasa toh pada akhirnya saya tidak dirugikan karena e-statement tadi cuma nyasar doang ke email saya jadi ga usah diwaro lah ini orang, nasabah juga bukan. Mungkin. *(uhuk) nelepon 14041 juga ngabisin pulsa kali (uhuk)* Yang pasti persepsi akan brand CIMB Niaga di mata saya kini sudah berada di level terendah. Level ampas. Mudah-mudahan hal serupa tidak dialami oleh mereka yang telah atau hendak menjadi nasabah bank ini.

Raden Mandasia

“Anjing betul!”

Setiap kali menonton Game of Thrones, saya tak pernah berhenti berpikir kalo seharusnya ada kisah asli Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan kuno yang bisa dibikin sekeren ini. Intrik-intrik dari khasanah kearifan lokal Nusantara di era Majapahit atau Singosari mestinya gak kalah menarik dibandingkan kisah-kisah dari Westeros dan Essos. Kisah tragis Perang Bubat seharusnya bisa dibikin seciamik Red Wedding misalnya. Juga peristiwa yang menyusul pemotongan telinga utusan Kubilai Khan oleh Kertanegara. Atau mungkin cerita tentang Ken Arok dan Ken Dedes yang bikin geger. Asal dikemas dengan baik, gak kayak sinetron-sinetron laga Indosiar, rasanya bisa membuat masyarakat kembali dekat dengan cerita-cerita era kerajaan kuno Nusantara seperti ketika Saur Sepuh dan Tutur Tinular berjaya.

Tapi mungkin sudah takdirnya di Indonesia kalo yang tadinya keren di medium lain, begitu diangkat ke layar lebar/kaca hasil adaptasinya menjadi gak sebanding dengan ekspektasi awal. Saur Sepuh dan Tutur Tinular pun sebenarnya melegenda lebih pada bentuk aslinya sebagai sandiwara radio. Begitu diangkat ke layar lebar, meskipun tetap populer, namun yang paling diingat adalah rajawali tunggangan Brama Kumbara yang letoy dan bentuknya gak karuan serta adegan pertarungan one-on-one yang banyak bertaburan bubuk-bubuk putih. Juga demikian dengan Wiro Sableng, misalnya, yang lebih memikat dalam bentuknya sebagai novel silat. Eksekusi selalu menjadi PR besar di sini, yang masalahnya cukup kompleks meliputi modal yang cekak, selera produser yang ala kadarnya, sampe kemampuan penulis skenario + sutradaranya sendiri yang memang semenjana. Mimpi untuk menyaksikan TV series sehandal Game of Thrones (yang sebenernya juga hasil adaptasi dari novel) hasil karya anak bangsa pun tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika dikerjakan oleh sineas-sineas di Hollywood sana (itu pun kalau mereka tertarik).

Jika ada karya seni kontemporer Indonesia yang mengambil latar era kerajaan-kerajaan kuno Nusantara yang layak untuk diadaptasi menjadi film/series oleh studio besar Hollywood, maka saya menominasikan buku Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi untuk mendapat kehormatan tersebut. Novel (sang penulis, Yusi Avianto Pareanom, lebih suka merujuknya sebagai dongeng) setebal 448 halaman ini amat sangat layak untuk dijadikan suguhan visual yang epic. Tanpa diangkat ke layar lebar/kaca pun sebenarnya pengalaman membaca Raden Mandasia terasa tak ubahnya seperti sedang menonton sebuah tontonan yang dikemas dengan apik. Menegangkan dan penuh detail.

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah menuju Gerbang Agung

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah perjalanan menuju Gerbang Agung

Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum mulai membaca buku ini adalah.. jangan terkecoh dengan judulnya! :)) Judulnya memang “Raden Mandasia”, tapi yang menjadi tokoh utama sekaligus penutur kisah dalam dongeng ini adalah (Raden) Sungu Lembu, seorang ‘pelarian’ dari Banjaran Waru yang memiliki dendam kesumat terhadap Lord Watugunung, King of the Andals and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm Gilingwesi, kerajaan paling adikuasa pada zamannya. Bisa dibilang kisah dalam buku ini mirip dengan film Kill Bill, di mana Sungu Lembu bertindak sebagai Uma Thurman yang sedang menunaikan misi untuk membalaskan dendamnya. Perjalanan berliku untuk menuntaskan dendamnya ini yang bikin menarik, salah satunya adalah karena Raden Mandasia, si teman seperjalanan Sungu Lembu, tak lain dan tak bukan adalah salah satu anak dari Watugunung. Bukan, ini bukan spoiler, karena informasi tentang hal ini akan segera dijumpai di awal kisah.

IMG_20160422_110446661

Salah satu bab terpanjang dalam Raden Mandasia

Alur cerita dalam Raden Mandasia enak banget buat diikutin. Flashback cuma sesekali, sisanya berjalan secara linear dengan sedikit twist minor di akhir cerita. Mengundang untuk terus membuka halaman demi halaman hingga tak terasa semua sudah tuntas dibaca. Saya cuma membutuhkan waktu 3 hari buat menyelesaikan buku ini. Itu pun karena lebih banyak dihabiskan untuk tersesat di belantara internet sehabis googling beberapa kosakata baru yang saya temui di sini serta beberapa hal menarik lainnya, seperti macam-macam racun organik, anatomi perahu tradisional, silsilah raja-raja Jawa, peta daerah kekuasaan Majapahit vs Mataram, sampe yang ini:

Sumpah, kalian pasti juga bakal penasaran sama hal ini :)

Sumpah, ini ada di buku. Pasti juga bakal penasaran (dan dibikin ngiler) sama  ini :) (Pic from hovenfarms.com)

Hal menyenangkan lainnya dalam Raden Mandasia adalah karena konsepnya sebagai ‘dongeng’ yang membuat sang penulis leluasa seenak hati mencampuraduk berbagai tokoh/latar/setting ke dalam cerita. Beberapa kali saya sibuk menerka-nerka padanan lokasi-lokasi yang menjadi setting di Raden Mandasia dengan ‘lokasi beneran’nya. Seperti apakah Gilingwesi itu adalah Majapahit, Gerbang Agung terletak di Baghdad, Banjaran Waru = Gresik/Surabaya, Goparashtra = Gujarat, hingga apakah Kelapa = Sunda Kelapa/Batavia (well, this one is quite obvious). Beberapa nama, seperti Negeri Atas Angin, sudah pernah digunakan di Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sehingga tidak sulit diidentifikasi. Lainnya seperti Swarnadwipa dan Barunai juga mudah dikenali karena telah umum digunakan. Akibat latar waktu yang tak jelas, hingga hampir separuh jalan membaca pun saya masih belum yakin apakah Gilingwesi itu merujuk pada Sriwijaya, Majapahit, atau Mataram (pengetahuan sejarah saya masih secetek itu). Tidak seperti kisah-kisah tentang kerajaan kuno Nusantara lainnya, di Raden Mandasia latarnya juga tidak hanya seputar wilayah kerajaan atau Nusantara, tapi juga menyeberang lautan hingga ke kerajaan-kerajaan mancanegara. Raden Mandasia dan Sungu Lembu itu traveler sejati yang melampaui zamannya. They were backpackers before it was cool. Even Sungu Lembu was a travel blogger :D Dan adakah kisah yang lebih menarik dari petualangan di negeri asing berikut interaksinya dengan warga setempat?

Seperti halnya Game of Thrones, Raden Mandasia juga bercerita tentang perang. Perang besar yang melibatkan dua kerajaan besar dengan strategi perang yang paling advanced pada masanya dan deskripsi jatuhnya korban yang bikin ngilu. Selain itu, kesamaan keduanya  juga terletak pada melimpahnya adegan-adegan yang untuk ukuran moral adiluhung yang dianut mayoritas masyarakat NKRI sekarang tentunya akan dianggap sebagai tindakan amoral nan dimurkai Allah: sex-violence-alcohol-LGBT-swear words. A lot of swear words. Sungu Lembu sangat gemar mengumpat, dan umpatannya kadang bukan jenis umpatan yang umum dijumpai sekarang (dan ternyata mengumpat itu memang enak. Anjing memang :)))

Raden Mandasia mengubah persepsi kalo cerita-cerita sejenis harus selalu menggunakan kosakata-kosakata yang tergolong mainstream di genrenya, seperti “kisanak” (sebagai sapaan), “depa” (untuk menggambarkan jarak), “bedebah” (untuk mengumpat), dan “Ciattt!!” (oke, ini hanya cocok digunakan oleh Mantili atau Arya Kamandanu). Jika ada satu hal yang mengganggu dalam membaca buku ini adalah ketika penulis menyelipkan kata seasing “mezzanine” ketika menggambarkan suatu tempat di rumah dadu Nyai Manggis. Seharusnya ada kosakata yang lebih tepat sekaligus lebih membumi untuk menggambarkannya agar bisa lebih nge-blend dengan keseluruhan tulisan yang banyak menggunakan kosakata-kosakata ‘ajaib’ yang ternyata ada di KBBI. Tapi ya cuma itu. Paling kekurangan lainnya hanya minimnya ketersediaan buku ini di jaringan toko buku konvensional karena sepertinya hanya diedarkan secara independen (saya pun dapetnya beli online). Yang pasti, Raden Mandasia memberikan satu lagi motivasi untuk lebih giat bikin postingan di blog, karena seperti yang dibilang Loki Tua ke Sungu Lembu:

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih.

Ah, ternyata ia tak hanya piawai memasak babi panggang utuh :)

Orang Bijak

Ada satu kegiatan rutin tahunan tiap Maret yang konon bisa menjadi indikator seberapa bijak suatu individu warga negara Indonesia. Kegiatan itu adalah mengisi SPT Tahunan untuk melaporkan pajak penghasilan yang telah dibayarkan selama setahun yang telah lewat. Thanks to the old-and-everlasting slogan of Direktorat Jenderal Pajak (DJP): “Orang Bijak Taat Pajak”.

Indonesia memang menganut sistem self assessment dalam hal pelaporan pajak penghasilan. Jadi si wajib pajak lah yang punya tanggung jawab buat ngitung pajak terutang/pajak yang udah dipotong sama institusi tempat dia bekerja. Dulu perkara isi mengisi SPT PPh ini ribetnya bukan main, apalagi untuk yang masih awam istilah-istilah perpajakan. Untungnya sudah dua tahun belakangan pelaporan SPT di tempat saya bekerja wajib dilakukan via e-filing (online) yang cukup memudahkan. Tidak lagi harus mengisi form-nya secara manual, melampirkan bukti potong, lalu menyetorkannya ke KPP terdekat. Kini semua dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Praktis.

Tapi ada satu hal yang cukup menggelitik hati saya tahun ini. Setelah mengisi form 1770SS (iya, penghasilan setahun saya belum memadai untuk bisa mengisi form 1770S *hiks*) yang pada dasarnya tinggal nyocokin aja sama data di bukti potong dari bendahara dan bertujuan mencapai hasil “nihil”, ternyata untuk tahun ini saya tidak perlu membayar pajak penghasilan. Nol. Tidak ada sepeser rupiah pun.

Ternyata tahun ini penghasilan tahunan saya masih di bawah treshold Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Tapi ini tak mungkin. Tahun lalu saya masih bisa memberi sumbangsih ke kas negara dengan jumlah yang cukup lumayan (menurut ukuran saya). Apa sekarang negara sudah tidak butuh kontribusi fiskal (meskipun, memang, hanya recehan) dari PNS golongan ala kadarnya macam saya ini? Di satu sisi harga diri ini bak tercabik, tapi di sisi lain ada rasa senengnya juga penghasilan tetep utuh (oh the hypocrisy).

Faktanya adalah pemerintah ternyata telah menaikkan PTKP untuk tahun pajak 2015 melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 122 Tahun 2015. Untuk wajib pajak yang belum memiliki tanggungan, PTKP naik menjadi Rp 36.000.000 dari sebelumnya ‘cuma’ Rp 24.300.000. Jadi untuk yang penghasilan tahunannya di bawah Rp 36 juta, itu artinya negara don’t give a shit about your income tax anymore. The state won’t impose tax on your income because your personal wealth is not significant enough for the well-being of the country. Dengan kata lain yang lebih sederhana: I’m officially poor :”) Apalagi setelah tau kalo salah satu alasan menaikkan PTKP adalah untuk menyesuaikan dengan kenaikan UMP di beberapa provinsi (meskipun ini sebenarnya tidak apple-to-apple karena PTKP bersifat nasional, sedangkan UMP/K bersifat regional). Hitung punya hitung, UMP DKI Jakarta saja saat ini sebesar Rp 3,1 juta/bulan, yang kalau diakumulasikan selama setahun menjadi Rp 37,2 juta, telah melebihi PTKP sehingga layak menjadi objek pajak. Jadi kalo ada abdi negara yang penghasilan tahunannya bahkan masih di bawah PTKP, itu berarti……..

…pengabdian kepada bangsa dan negara itu memang tak ternilai harganya :) *diplomatis*

Jujur, awalnya rada aneh pas nyadar kalo pemerintah udah naikin PTKP lewat PMK 122/2015. Bukannya pemerintah sekarang lagi giat-giatnya naikin penerimaan negara dari pajak? Naiknya PTKP kan otomatis membuat potensi penerimaan negara dari Pajak Penghasilan jadi berkurang karena banyak yang sebelumnya penghasilannya wajib dipajakin trus sekarang jadi gak harus bayar pajak lagi? Tapi ternyata jika dilihat dari perspektif lainnya, kenaikan PTKP ini dampaknya gak terlalu signifikan pada penerimaan negara dan justru bisa menaikkan potensi penerimaan. Seperti dikutip dari rilis resmi Kementerian Keuangan terkait PMK ini:

Ada beberapa pertimbangan pokok penyesuaian besaran PTKP di tahun ini. Pertama,untuk menjaga daya beli masyarakat. Sebagaimana diketahui dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergerakan harga  kebutuhan pokok yang cukup signifikan, khususnya di tahun 2013 dan 2014 sebagai dampak dari kebijakan penyesuaian harga BBM. Kedua, dalam beberapa tahun terakhir terjadi penyesuaian Upah Minimum Propinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di hampir semua daerah. Ketiga, terkait kondisi perekonomian terakhir yang menunjukkan tren perlambatan ekonomi, khususnya terlihat pada Q1 2015 yang hanya tumbuh sebesar 4,7%, terutama akibat dampak perlambatan ekonomi global, khususnya mitra dagang utama Indonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah sedang berupaya keras untuk mendorong naiknya kembali laju pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini melalui naiknya permintaan domestik dengan tetap mendorong daya beli masyarakat. Pemerintah menyadari bahwa saat ini kita tidak bisa mengandalkan sisi eksternal untuk mendorong kinerja ekonomi, sehingga Pemerintah mencoba mendorong permintaan domestik melalui investasi maupun konsumsi masyarakat. Kinerja investasi diharapkan dapat terdorong melalui belanja infrastruktur yang meningkat besar, sementara itu konsumsi masyarakat dapat terungkit melalui kebijakan penyesuaian PTKP dan berbagai program bantuan sosial. Dengan demikian diharapakan keduanya dapat menahan melemahnya kinerja sisi eksternal (perdagangan internasional).

Jadi, kenaikan PTKP ini justru dipandang sebagai upaya untuk memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi dengan cara mendorong masyarakat (yang penghasilannya kini terbebas dari pajak) untuk mengkonsumsi lebih banyak. Penurunan penerimaan pajak akibat kenaikan PTKP dapat dikompensasi dengan kenaikan penerimaan PPN akibat konsumsi masyarakat yang meningkat. Pendapatan yang ‘utuh’ akan mendorong belanja masyarakat sehingga pada gilirannya akan mendorong permintaan agregat baik melalui konsumsi rumah tangga maupun investasi. Salah satu rahasia Indonesia bisa bertahan di tengah kelesuan ekonomi global pasca 2008 itu salah satunya karena postur ekonominya yang gak terlalu mengandalkan pemasukan dari ekspor, tapi dari tingginya konsumsi domestik (secara populasi keempat terbesar di dunia gitu). Pemerintah tampaknya sadar akan hal ini dan ketika ada gejala ekonomi melemah karena turunnya konsumsi, dicarilah cara agar masyarakat memperoleh insentif untuk mau membelanjakan uangnya kembali sekaligus menggerakkan roda perekonomian, salah satunya ya dengan cara ‘pembebasan pajak’ bagi penghasilan kelas menengah yang belum tergolong mapvin ini. Man, I got my degree in economics not for nothing. *nyombong*

Meskipun buat saya pribadi ‘strategi’ pemerintah ini gak begitu ngaruh (karena setelah penghasilan tidak dikenakan pajak toh konsumsi saya rasanya tetep gini-gini aja), tapi tentu harapan saya asumsi pemerintah bahwa turunnya penerimaan PPh akan mampu ditutup penerimaan PPN akibat meningkatnya konsumsi dapat terwujud. Mudah-mudahan perekonomian NKRI mampu rebound dan terus tumbuh di tahun-tahun berikutnya. Pertanyaannya sekarang adalah: kalo treshold PTKP dinaikin dan penghasilan jadi tidak dikenakan pajak, yang otomatis membuat ‘tidak taat pajak’, masihkah orang-orang kayak kami ini berkesempatan menjadi ‘orang bijak’? :D

Mengenang Euro 2000

Jika dilihat dari perspektif waktu, 2016 adalah tahun yang cukup ‘mengerikan’. Terhitung sejak tahun ini, jarak ke tahun 2030 lebih dekat daripada jarak ke tahun 2000. Padahal tahun 2000, yang sering di-salah kaprah-i sebagai awal milenium baru, terasa masih sangat dekat. Tidak terasa 16 tahun telah berlalu sejak dunia dilanda kecemasan akan bug Y2K (yang akhirnya tak pernah terjadi), Ian Thorpe merajai gelanggang renang di Olimpiade Sydney 2000, dan Didier Deschamps mengangkat trofi Henry Delaunay di Stadion De Kuip, Rotterdam.

Bicara tentang tahun 2000 bagi saya tidak akan terpisahkan dari kenangan perihal Euro 2000 Belanda-Belgia. Turnamen sepakbola antar negara-negara Eropa tersebut merupakan turnamen kedua yang saya ikuti setelah Coupe du Monde France 98. Bedanya, France 98 diikuti lebih karena euforia meskipun waktu itu belum bener-bener paham bola (bahkan belum ngerti kriteria offside itu kek gimana), sedangkan Euro 2000 diikuti dalam kondisi sudah dibaptis sebagai fans layar kaca sepakbola. Sudah paham bedanya kompetisi sama turnamen, kompleksitas liga domestik dan tingkat kontinental, pemetaan posisi dalam skema permainan, dan, tentu saja, bagaimana perangkap offside bekerja. :D

Euro 2000 juga akan selamanya berada dalam top list turnamen sepakbola internasional terbaik yang pernah saya ikuti bersama dengan Piala Dunia 2006 dan Piala Dunia 1998. Salah satu alasan utamanya: Zinedine Zidane in his prime. Zizou adalah Maradona/Pele/CR7/Messi-nya generasi 90-an. Bener-bener ga ada lawan di posisi alaminya dan merupakan kemewahan tersendiri bisa menjadi saksi hidup (meskipun hanya sebagai fans layar kaca) bagaimana sang legenda ini setiap pekannya memamerkan skill di kancah Serie A bersama Juventus. Ketika Piala Dunia 98, peran Zizou, meskipun mencetak 2 gol di final, tidaklah sevital perannya di Euro 2000. Euro 2000 adalah turnamen terbaik Zidane sepanjang masa sebagaimana dunia mengenang gol volley-nya untuk Madrid di Hampden Park 2002 sebagai gol terbaik final UCL.

2 Milanese vs 1 His Majesty

2 Milanese vs 1 His Majesty

Euro 2000 dihelat di dua negara bertetangga: Belanda dan Belgia, pada tanggal 10 Juni hingga 2 Juli 2000. Ini pertama kalinya sebuah turnamen sepakbola internasional digelar di dua negara dan seolah menjadi proyek percontohan bagaimana seharusnya pergelaran Piala Dunia yang juga akan digelar di dua negara: Korea dan Jepang, berlangsung dua tahun setelahnya. Sebulan sebelum pembukaan Euro 2000 berlangsung, versi U-21 Euro 2000 telah lebih dulu diselesaikan di Slovakia dan menghasilkan Italia sebagai juaranya dengan Andrea Pirlo sebagai Player of the Tournament. Namun, tim senior Italia justru bukan unggulan utama di Euro 2000. Terlebih hanya beberapa saat sebelum turnamen dimulai, kiper utama mereka Gianluigi Buffon mengalami cedera tangan pada laga uji coba dan terpaksa absen dari turnamen. Bursa prediksi tim juara Euro 2000 waktu itu dipuncaki oleh Belanda. Selain sebagai tuan rumah, timnas Oranye yang ketika itu dilatih oleh Frank Rijkaard juga tengah berada di masa emasnya setelah mampu menembus semifinal France 98. Unggulan berikutnya tentu saja Perancis, sang juara dunia. Berikutnya adalah Spanyol, yang didominasi pemain-pemain Real Madrid dan Valencia sebagai 2 finalis Liga Champions 2000, dan Portugal yang generasi emasnya tengah memasuki usia emas. Negara-negara tradisional seperti Jerman, Inggris, dan Italia tidak terlalu dianggap sebagai unggulan dalam turnamen ini mengingat performa buruk mereka di turnamen besar terdahulu dua tahun sebelumnya: Piala Dunia Perancis 98. Pun demikian dengan Belgia sebagai negara tuan rumah lainnya yang dianggap tidak memiliki kekuatan mumpuni untuk bersaing. Untuk urusan logo, Euro 2000 tampil sedehana dengan cuma menampilkan siluet orang yang sedang menggiring bola dengan bendera Belanda dan Belgia sebagai ornamennya. Halaman karikatur Tabloid Bola pernah memparodikan logo ini menjadi Rama Aiphama yang sedang menggiring bola (dan sialnya, yang keinget sampe sekarang selalu itu :D)

Emang mirip sih… :p

Turnamen diikuti oleh 16 tim dengan Slovenia dan Norwegia menjadi debutan. Hal yang cukup mengejutkan adalah ketiadaan Kroasia, sang semifinalis Piala Dunia dua tahun sebelumnya, di daftar kontestan. Juga tidak ada negara-negara pecahan Uni Soviet. 16 tim tersebut dibagi menjadi 4 grup di mana juara dan runner-up grup mendapat tiket ke perempat final, format yang menurut saya sudah sangat ideal namun sayangnya diubah UEFA untuk Euro 2016 dan seterusnya dengan alasan pemerataan kesempatan berpartisipasi bagi negara-negara ‘kecil’. Pembukaan Euro 2000 dilakukan di Roi Baudoin Stadium di Brussels yang lebih dikenal dengan nama lainnya: Heysel. Di stadion bersejarah (dan berdarah) itu Belgia berhasil menundukkan Swedia 2-1, meskipun di akhir kualifikasi grup Belgia tidak mampu lolos ke perempat final. Di grup B tempat Belgia bercokol yang terus melaju ke perempat final adalah Italia dan Turki. Grup C diwakili oleh Spanyol dan Yugoslavia, dan Grup D diwakili oleh Belanda dan Perancis. Kejutan terbesar terjadi di Grup A, tempat 2 (mantan) juara dunia: Jerman dan Inggris bercokol. Kedua negara kekuatan tradisional sepakbola itu harus angkat koper lebih awal karena kalah bersaing dengan Portugal dan Romania. Dari keduanya, nasib paling mengenaskan dialami oleh juara bertahan Jerman yang harus menyudahi turnamen tanpa sekalipun mencicipi kemenangan + harus menelan kekalahan dari musuh bebuyutannya: The Three Lions Inggris. Gol semata wayang Alan Shearer membuat Inggris mampu membalaskan dendam di semifinal Piala Eropa di Wembley empat tahun sebelumnya (meskipun tidak berarti apa-apa bagi nasib Inggris dalam turnamen). Keterpurukan Jerman sendiri sudah diprediksi sebelumnya mengingat skuad yang uzur (note: Lotthar Matthaeus yang sudah berumur 39 tahun masih diikutkan dalam skuad. Darah muda skuad Jerman hanya Michael Ballack dan Sebastian Deisler dan mereka pun jarang jadi starting eleven), pelatih yang kurang meyakinkan (Erich Ribbeck), dan kemampuan pemain yang semenjana (tengok saja andalan di lini depan: Oliver Bierhoff dan Carsten Jancker).

Salah satu partai klasik yang terjadi di Charleroi (Belgia)

Kualifikasi grup menghasilkan tiga tim dengan nilai sempurna 9 dari 3 kali kemenangan, masing-masing Portugal, Italia, dan Belanda. Perempatfinal pun menyajikan satu partai menarik ketika Perancis bertemu dengan Spanyol. Kembali, Zizou menunjukkan tajinya dengan mencetak satu gol dan mengantar Perancis lolos ke semifinal untuk bertemu Portugal. Di perempat final lainnya, tuan rumah Belanda mencukur Yugoslavia 6-1 (diwarnai dengan hattrick Patrick Kluivert) dan makin mengukuhkan posisinya sebagai unggulan utama dalam turnamen. Portugal dan Italia menang meyakinkan dengan skor 2-0, masing-masing terhadap Turki dan Romania. Semifinal pun telah dipastikan. Perancis akan bertemu Portugal, sedangkan tuan rumah Belanda bertemu Italia.

Belanda berada dalam posisi yang sangat diunggulkan ketika bertemu Italia, apalagi sehabis mereka menunjukkan kedigdayaannya ketika menghabisi Yugoslavia 6-1. Berlaga di kandang sendiri, Amsterdam Arena, didukung puluhan ribu suporter Oranje, dan memiliki skuad terbaik dengan kekuatan merata di semua lini rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat Belanda melaju ke laga puncak menyingkirkan Italia. Hal itu makin mendekati kenyataan ketika di babak pertama Gli Azzurri sudah harus bermain dengan 10 orang akibat espulso yang diterima Gianluca Zambrotta dan hadiah penalti yang sayangnya berhasil ditepis Francesco Toldo. Pengaruh sang allenatore Dino Zoff sebagai benteng terakhir sistem catenaccio Italia yang berhasil memenangkan Piala Dunia 1982 terlihat ketika 10 pemain Azzurri bisa membendung Belanda tanpa gol hingga akhir waktu normal dan memaksa adanya adu penalti. Di babak penentuan ini, Toldo (yang menjadi kiper utama hanya karena absennya Buffon) kembali menunjukkan kemampuannya dengan menepis penalti Paul Bosvelt dan mengantarkan Italia ke final. Meskipun demikian, yang paling diingat dari ajang adu penalti Italia-Belanda di Euro 2000 itu bukanlah aksi penyelamatan Toldo, namun panenka dari Francesco Totti yang mampu menipu Edwin Van der Sar. Penalti Totti ini kelak akan menjadi highlight utama karirnya sebagai algojo tendangan penalti selain penalti penentuan lawan Australia di perdelapan final Germany 2006.

A cheeky penalty kick

Pada laga semifinal lainnya, Perancis, sang juara dunia, bertemu Portugal yang diperkuat para alumni Piala Dunia U-20 tahun 1991 macam Fernando Couto, Luis Figo, Rui Costa, dan Sergio Conceicao. Sebelum kemunculan CR7, tim ini dianggap sebagai tim terkuat yang pernah dimiliki Portugal sejak 1966. Dibandingkan partai semifinal lainnya antara Italia dan Belanda yang tidak seimbang dan monoton, laga ini jelas lebih seru dan menegangkan. Setelah di waktu normal berakhir imbang 1-1 akibat gol Nuno Gomes dan Thierry Henry, laga berlanjut ke perpanjangan waktu yang ketika itu masih berformat golden goal (gol yang tercipta selama masa 2×15 menit itu akan otomatis menghentikan pertandingan). Ketika laga mendekati akhir, terjadilah insiden hands ball yang dilakukan oleh Abel Xavier yang menepis dengan sengaja bola tendangan Sylvain Wiltord yang 90% masuk ke gawang Vitor Baia. Insiden ini sangat mirip dengan kejadian di Piala Dunia 2010 ketika Luis Suarez dengan sengaja menghalangi dengan tangan bola hasil sepakan pemain Ghana yang 99,99% menjadi gol. Kelakuan Xavier tersebut berbuah hadiah penalti bagi Perancis dan berhasil dikonversi Zidane untuk mengantar Perancis ke final Piala Eropa pertama sejak 1984.

Final Euro 2000 merupakan ulangan perdelapan final France 98 dua tahun sebelumnya. Dua tim biru: Perancis dan Italia bertemu di Stadion Feijenoord (De Kuip) Rotterdam pada 2 Juli 2000. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, kali ini Perancis yang berhak memakai seragam Les Bleus kebesarannya dan Italia terpaksa menggunakan jersey away putih. Perancis dan Italia sama-sama mencoba meraih gelar juara Eropa mereka yang kedua. Bagi Perancis, keberhasilan di Rotterdam akan mengulangi sukses tahun 1984 yang ditorehkan Michel Platini dkk. Sedangkan untuk Italia, gelar juara akan menjadi pemuas dahaga yang hakiki karena terakhir kali mereka juara adalah pada tahun 1968 bersama legenda-legenda macam Facchetti, Mazzola, dan Rivera. Di tim Perancis, formasi pemain di laga final tidak berubah banyak dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Gawang tetap dijaga oleh Fabien Barthez. Lini belakang tetap dijaga oleh kuartet Blanc-Desailly-Lizarazu-Thuram (dan Blanc tetap setia mencium kepala Barthez sebelum pertandingan dimulai :D). Deschamps-Vieira-Djorkaeff-Zidane mengisi lini tengah, dan Henry-Dugarry menjadi ujung tombak. Skuad Perancis di Euro 2000 ini terbilang lebih ‘mewah’ daripada waktu France 98. Setidaknya terlihat di kualitas pemain utama dan pemain cadangan yang tidak berbeda jauh. Lebih-lebih di sektor gelandang dan pemain depan. Cadangannya Henry-Dugarry adalah Wiltord-Anelka-Trezeguet. Sedangkan di lini tengah juga masih ada Robert Pires, Christian Karembeu, dan Emmanuel Petit. Untuk Italia, trio bek terbaik dunia (menurut saya): Maldini-Nesta-Cannavaro menjaga lini belakang bersama Francesco Toldo dan Mark Iuliano. Demetrio Albertini menjadi jangkar, diapit oleh Luigi Di Biagio dan Gianluca Pessotto. Lini serang dihuni oleh Stefano Fiore dan duo AS Roma: Francesco Totti & Marco Delvecchio. Masuknya Delvecchio di daftar starter cukup mengejutkan karena striker pilihan Dino Zoff di pertandingan-pertandingan sebelumnya biasanya adalah Filippo Inzaghi. Tapi yang paling sensasional adalah keberhasilan Stefano Fiore, pemain semenjana asal Udinese, yang berhasil menyingkirkan nama besar seperti Alessandro Del Piero untuk mengisi starter, thanks to performa yang konsisten sepanjang turnamen.

Starting formation di laga final

Starting formation di laga final

Impian Italia untuk merengkuh trofi juara Eropa nyaris terwujud ketika Marco Delvecchio mampu menjebol gawang Barthez di babak pertama. Semua upaya gempuran Perancis seakan menemui karang kokoh di hadapan Maldini-Nesta-Cannavaro bahkan hingga menit-menit injury time. Masih teringat jelas di benak saya bagaimana para penghuni bangku cadangan Italia sudah berangkulan sambil berbaris rapi, menunggu peluit panjang ditiup untuk segera menghambur ke dalam lapangan. Namun petaka itu datang dari para pemain pengganti Perancis ketika Robert Pires memberi assist ke Sylvain Wiltord yang mampu menceploskan bola ke gawang Toldo di detik-detik terakhir pertandingan (suspense at its best). Pertandingan di waktu normal terpaksa berlanjut ke perpanjangan waktu yang benar-benar membawa mimpi buruk bagi Italia. Pemain pengganti Perancis lainnya, David Trezeguet (yang di kemudian hari menjadi pemain asing pencetak gol terbanyak untuk Juventus), berhasil menjebol gawang Italia yang otomatis menghentikan pertandingan dan menghasilkan Perancis sebagai kampiun Eropa baru. Ini adalah golden goal terakhir di final turnamen besar karena setelah Euro 2000, FIFA kembali ke jalan berpikir yang normal dengan mengembalikan kesempatan bagi tim yang tertinggal di perpanjangan waktu hingga usainya waktu 2×15 menit.

Kekalahan Italia di final Euro 2000 terasa menyakitkan karena inilah final terakhir Paolo Maldini sebagai kapten Gli Azzurri. Pada Piala Dunia 2002, harapan Maldini untuk setidaknya melaju ke final dipupuskan oleh wasit Byron Moreno dan tim Korea asuhan Guus Hiddink. Dengan demikian, pupuslah sudah impian fans Italia (terutama fans Milan) untuk melihat Maldini mengangkat trofi internasional bersama negaranya (karena bersama klub sudah terlalu mainstreamuntuk dirinya). Bagi Perancis sendiri, kemenangan di Euro 2000 menjadi akhir sebuah era. Ketergantungan yang semakin besar terhadap sosok Zinedine Zidane menjadi bumerang bagi tim nasional Perancis. Ini terlihat jelas ketika upaya Perancis mempertahankan gelar juara dunia di Korea-Jepang hancur berantakan di babak kualifikasi grup akibat cederanya sang pemain terpenting. Hal yang kemudian berlanjut di Portugal 2004. Perancis (dan juga Italia) akhirnya kembali merasakan berada di final turnamen besar di Piala Dunia Jerman 2006. Kedua tim masih diperkuat beberapa pemain yang turut berlaga di final Euro 2000. Bedanya, pada kesempatan ini Italia lah yang berhasil membalaskan dendamnya, sekaligus membuat Zizou menutup karirnya dengan kenangan teramat pahit. Tandukan Zidane kepada Materazzi berbuah kartu merah dan Perancis yang terpaksa bermain dengan 10 pemain harus keluar sebagai pecundang setelah kalah adu penalti di Berlin.

Maka benarlah adanya yang disampaikan Benyamin S. dalam lagu “Sariosa”:

Romantika kehidupan berputar-putar.

Seperti roda, roda gerobak.

Begitulah selamanya.

The Big Short (2015)

Saya membayangkan skenario begini:

Tahun 1995. Tepat 50 tahun perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Optimisme publik sedang tinggi-tingginya. Indonesia digadang-gadang akan segera lepas landas menjadi negara maju. Semua berkat jasa sang Bapak Pembangunan yang berhasil menciptakan kondisi politik dan perekonomian yang stabil. Tingkat inflasi rendah, pertumbuhan PDB terus meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap USD stabil di kisaran Rp 2000/dollar. Semua terlihat sempurna. Tapi saya tidak melihat demikian. Saya yakin betul di balik semua kecemerlangan ini ada sisi busuk yang ditutup-tutupi. Korupsi-kolusi-nepotisme merajalela di setiap lapis pemerintahan, sistem perbankan yang rapuh, kendali moneter yang lemah, dan seterusnya. Tapi tidak ada yang berani bersuara karena ancamannya adalah hilangnya nyawa. Kondisi ideal ini pasti tidak akan bertahan lama. Saya mulai berpikir untuk mencari aman sekaligus meraup keuntungan bagi diri sendiri. Maka mulailah saya menimbun dollar dengan setiap rupiah yang saya punya, meskipun pasti ditertawakan karena apa untungnya investasi valas macam itu di saat kondisi perekonomian yang sebegini stabil. Tetapi bodo amat. Saya yakin dollar adalah pegangan paling aman, di saat stabil maupun krisis. Agak berbau spekulasi memang, tapi, sekali lagi, bodo amat. Dan dua tahun kemudian terbukti. 16 bank nasional dilikuidasi. Kepercayaan publik terhempas ke level terendah. Nilai tukar rupiah terhadap USD turun drastis hingga menyentuh Rp 17.000/dollar. Inflasi merajalela. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena PHK massal dan kaburnya investor asing ke luar negeri. Negara chaos, nyaris di ambang bubar. Tapi saya tetap aman. Bahkan lebih dari itu: kekayaan saya melonjak tak terhingga. Aset saya meningkat nyaris 800% akibat depresiasi rupiah. Kasarnya saya ini sedang tertawa di atas penderitaan banyak orang: saudara sebangsa sendiri, di negara sendiri yang nyaris kolaps. Tapi peduli setan. “That’s how capitalism works,” ujar saya dalam hati. Salah sendiri tidak sigap menangkap peluang dan dengan mudahnya dibuai kenyamanan semu.

Kurang lebih pesan itu yang coba disampaikan film The Big Short (meskipun analogi yang saya gunakan mungkin kelewat sederhana). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini mengambil latar belakang krisis ekonomi global yang bermula dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat. Mengambil cerita dari tiga sudut pandang berbeda, The Big Short mencoba mengulas beberapa orang yang cukup jeli melihat rapuhnya pondasi sistem finansial di AS akibat pemberian kredit yang dilakukan dengan serampangan, dan mengambil untung besar dari kondisi tersebut. Meskipun itu berarti mereka harus bersenang-senang di atas derita orang banyak.

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Christian Bale berperan sebagai Dr. Michael Burry, seorang ilmuwan fisika berjiwa metal yang banting setir jadi fund manager di perusahaan Scion Capital dan menjadi yang pertama mengendus bobroknya sistem financing kredit kepemilikan rumah di AS. Steve Carell menjadi Mark Baum, bos FrontPoint Capital, yang bekerja sama dengan Jared Vennett (Ryan Gosling), account officer Deutsche Bank, yang terinspirasi dari tindakan Burry dan mencoba berkolaborasi bersama Baum untuk meraup untung besar dari kondisi ini. Brad Pitt berperan sebagai pensiunan bankir Ben Rickert yang menjadi mentor bagi 2 manajer investasi kecil amatiran yang juga mencoba mendapat benefit dari kebobrokan yang tak diketahui orang banyak ini. Timeline ketiganya tidak saling berkait namun punya kesamaan: semua menjadi bahan cibiran, olok-olok, dan cemoohan ketika melontarkan ide bahwa sistem finansial AS ternyata dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh, yang sarat dengan fraud dan tipu-tipu.

Bagi yang kurang familiar dengan dunia perbankan dan finansial (atau kurang paham bagaimana dahsyatnya krisis ekonomi global 2008), mungkin film ini akan sangat memusingkan (dan super membosankan). Masalahnya, penyebab krisis yang bermula di AS itu bukan berasal dari mismanajemen produk-produk investasi konvensional, tapi udah level turunan (derivatives) dari produk-produk tersebut. Bahkan derivatives-nya bukan cuma satu tingkat, tapi dua tingkat dari produk sesungguhnya. Saya aja ga yakin produk-produk investasi semacam itu udah ada di Indonesia apa belum karena saking njelimetnya (di sini mah ngejelasin unit link atau reksadana itu makhluk sejenis apa aja udah ribet, apalagi investasi derivatives kek gini?) Begitu banyak jargon-jargon ‘ajaib’ di film ini, kayak sub-prime mortgage, collateralized debt obligation (CDO), dan credit default swap,  yang terkadang harus mengundang beberapa figur terkenal untuk menjelaskan versi sederhananya dengan analogi-analogi yang bisa diterima akal sehat (atau bisa juga membaca artikel TIME ini untuk jadi bekal sebelum menonton). Tapi secara keseluruhan film ini asik sih, gaya pengambilan gambarnya ala-ala mockumentary yang bergerak dinamis. Pun demikian dengan tingkah para aktornya yang sesekali mendobrak dimensi keempat dengan berbicara kepada penonton. Juga sedikit bumbu-bumbu komedi yang cukup menghibur di sela-sela keseriusan. Film ini juga tentunya bebas spoiler karena berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi sehingga udah ketebak endingnya bakal kayak gimana.

Dalam film Capitalism: A Love Story, Michael Moore pernah bilang kalau berkat instrumen investasi berupa derivatives, saat ini Wall Street bukan lagi sekadar bursa saham, tapi lebih berupa kasino raksasa tempat para fund manager berjudi menggunakan dana masyarakat di produk-produk yang terlihat prospektif tapi artifisial, tanpa menghiraukan dampak negatif perilaku tersebut pada perekonomian secara keseluruhan. “Greed is good”. Rasanya semua orang yang penghasilannya terkait dengan aktivitas di Wall Street setuju dengan kredo tersebut. Namun di film Big Short ini, diperlihatkan bahwa juga terdapat pertentangan batin yang dialami para pemeran utama. Di satu sisi mereka sangat mengharapkan aksi nekad mereka untuk mempertaruhkan modal dengan jumlah begitu besar untuk peristiwa yang ketika itu dianggap probabilitasnya nol dapat berbuah manis, namun di sisi lain mereka paham bahwa pengetahuan dini mereka akan bobroknya sistem finansial AS seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya resesi besar-besaran di kemudian hari. Ini terlihat jelas dalam salah satu dialog ketika Rickert ilfil melihat dua orang ‘anak asuh’ nya kegirangan ketika membayangkan untung besar yang akan diraih jika analisis dan prediksi mereka menemui kenyataan:

If we’re right, people lose homes. People lose jobs. People lose retirement savings, people lose pensions. You know what I hate about fucking banking? It reduces people to numbers. Here’s a number – every 1% unemployment goes up, 40,000 people die, did you know that?

The Big Short meraih nominasi Oscar 2016 untuk film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor pendukung terbaik untuk Christian Bale dalam perannya sebagai Dr. Michael Burry. Padahal kalo menurut saya Steve Carell juga berhak (atau malah lebih pantas) dinominasikan untuk penghargaan tersebut. Berperan sebagai Mark Baum, si bos yang emosian, Carell rasanya mampu mengubah umpatan orang “Ni orang cepet-cepet mati kek” menjadi rasa simpati selama berjalannya film, terutama ketika ia mulai terjun langsung menginvestigasi berbagai tindakan curang dan penuh keseleboran yang dilakukan pihak perbankan dalam mengucurkan kredit dan rating agencies dalam memeringkat tingkat keamanan berinvestasi. Instrumen investasi yang selama ini disebut-sebut sebagai pilihan teraman ternyata luar biasa busuknya dan sangat berpotensi menjerumuskan banyak orang menjadi jatuh miskin dan kehilangan tempat tinggal. Kebenaran yang terlambat untuk terkuak dan terlanjur menimbulkan banyak korban.
“Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry.”

“Ter-” 2015

Karena penghujung tahun ini lagi musim-musimnya semua hal dibikinin kaleidoskop, maka tak ada salahnya mencoba bikin kilas balik versi personal untuk beberapa ((( PENCAPAIAN ))) di tahun yang akan berlalu ini. Here’s the list:

Album Tersering Didengar 2015

Tahun ini gak ada album artis asing satu pun di Top 5. Lebih suka karya anak bangsa™

Sebenernya gak perlu melongok statistik Last.fm untuk hal ini karena dengan kesadaran penuh saya haqqul yakin album Rasuk dari The Trees & The Wild akan jadi pemuncaknya. Bisa dibilang saya telat (banget) mengenal band asal Bekasi ini. Pada dasarnya saya bukan tipe pendengar musik yang telaten mendengar lagu album per album. Lebih suka memainkan secara acak dari semua koleksi lagu yang ada. Tapi album keluaran tahun 2009 ini isinya enak-enak semua dari awal sampe akhir. Jadi tidak mengundang untuk sering men-skip lagu. Selain album-album The Best Of, gak banyak album yang memiliki karakter yang sama. Masalahnya adalah Rasuk ini (versi digitalnya) susah banget didengar secara legal. Hampir semua situs music streaming berbayar kenamaan tidak memiliki Rasuk dalam koleksinya. Setau saya di iTunes pun juga tidak dijajakan. Walhasil, karena CD-nya pun sudah jadi barang langka yang bernilai tinggi, saya terpaksa menikmatinya dengan cara ilegal (maap ya Remedy dkk.). Mudah-mudahan mereka secepatnya ngerilis album kedua biar bisa mengapresiasi karyanya secara halalan thayyiban.

Buku Terfavorit 2015

Goodreads menyatakan bahwa tahun ini saya telah mengkhatamkan 15 buah buku. Buku pertama yang selesai dibaca pada tahun 2015 (dan hingga kini ulasannya masih terserak di draft post blog ini) adalah What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions karya Randall Munroe. Buku yang sangat menghibur untuk pengamat hal-hal gak penting macam saya ini. Ada juga Physics of the Future-nya Michio Kaku yang mencoba meneropong keseharian kehidupan manusia 100 tahun mendatang. Dari ranah domestik ada Adhitya Mulya – Sabtu Bersama Bapak dan Iksaka Banu – Semua Untuk Hindia. Tapi buku terfavorit 2015 versi saya hanyalah ini:

Beauty Is A Wound. #barunyampe #newbook #marimembaca #ngabuburit

A post shared by وسن (@_wisnu) on

Cantik Itu Luka adalah buku Eka Kurniawan kedua yang saya baca setelah Lelaki Harimau. Tapi berhubung Lelaki Harimau itu wujudnya e-book, maka ini jadi rilisan fisik Eka Kurniawan pertama yang saya punya. Dibeli ketika bulan puasa, diniatkan buat teman ngabuburit (di saat yang lain pada sibuk ODOJ) dan mampu dikhatamkan pada bulan yang sama. Buku setebal 500 halaman lebih, spasi yang sangat rapat dengan font size mungil, puluhan nama karakter yang ajaib (Kamerad Kliwon! Edi Idiot! Maman Gendeng!), dan rentang waktu di cerita yang sangat panjang dari era kolonial hingga Orba tidak menyurutkan niat untuk melahap setiap kalimat dalam buku ini. Cantik Itu Luka memudahkan saya untuk menobatkan Eka Kurniawan sebagai penulis fiksi kontemporer Indonesia yang karya-karyanya di masa mendatang pasti akan saya beli.

Film Terfavorit 2015

Short-listed candidates: Inside Out, Mad Max: Fury Road, Kingsman: The Secret Service, Ant-Man, Star Wars Episode VII: The Force Awakens.

and the award goes to… Whiplash! :D Meskipun dirilis di AS akhir 2014, tapi Whiplash baru masuk ke sini awal tahun 2015. Film yang ketika selesai saya tonton langsung kepikiran “gua harus bikin review-nya nih!” Beruntunglah orang-orang yang sempat menonton film ini di bioskop, karena feel-nya bakal beda banget kalo ditonton ulang di TV/komputer.

Episode Series Terfavorit 2015

Selama dua season terakhir saya rutin tiap pekan nungguin kelanjutan cerita sinetron Babad Tanah Westeros (a.k.a. Game of Thrones), setelah 3 season pendahulunya ditamatkan dengan cara marathon. Untuk season kelima tahun ini memang banyak yang bilang cukup membosankan. Apalagi di episode-episode awal. Meskipun Khalessi udah berjumpa dengan Tyrion sekalipun plotnya dirasa masih datar-datar aja. Tapi semuanya berubah di episode ke-8:Hardhome.

GoT S05E08 berhasil mementahkan asumsi awam bahwa episode ke-9 adalah episode ter-epic setiap seasonnya. Winter has finally coming, brutally. Pada akhirnya pemirsa ditunjukkan dengan gamblang bahwa ancaman terbesar bagi penduduk Seven Kingdoms bukanlah soal perebutan tahta di King’s Landing, namun berupa datangnya musim dingin tak berkesudahan yang turut membawa serta para white walkers. Setengah bagian terakhir episode ini rasa-rasanya bukan lagi TV material, tapi berkualitas sinema dan layak diputar di bioskop. Buat saya sendiri, episode Hardhome ini setingkat lebih baik daripada episode Red Wedding (terutama karena udah dapet banyak spoiler sih, hehe).

Most Overheard Song 2015

I don’t know if you guys agree with this, but for me, my ears has been exposed to this song too frikkin’ much this year. It’s like played… anywhere & everywhere. (P.S.: Tahun kemarin titel ini jadi jatahnya Magic! – Rude)

Terbuang 2015

Di tengah meningkatnya kesadaran saya dalam mengkonsumsi karya seni secara legal, sangat disayangkan Rdio harus tutup buku di tahun ini. Rdio menjadi satu-satunya layanan paid music streaming yang pernah saya subscribe. Alasannya: murah! Biaya bulanan dimulai dari Rp 10 ribu saja. Udah dapat layanan unlimited streaming dengan koleksi cukup lengkap dan bisa didengarkan offline + sinkronisasi di semua device, tanpa harus diganggu iklan yang nyempil tiap beberapa lagu layaknya penyedia layanan lainnya (terutama yang gratisan). Mungkin karena biaya berlangganannya yang (ke)murah(an) itu yang akhirnya membuat Rdio terpaksa tutup buku. Sungguh amat sangat disayangkan sekali sodara-sodara…

Terlupakan 2015

Dan saya sungguh bersyukur kepada Tuhan YME yang satu ini tidak lagi ngetren sekarang: batu akik. Pada masanya, kerumunan bapak-bapak dan para pemuda yang lagi jongkok mengelilingi mesin gerinda dan tumpukan batu dapat ditemui di tiap sudut ibukota dan suburb. Varian-varian akik pun begitu familiar di telinga: bacan, kalimaya, black opal, dan puluhan jenis bebatuan lain yang tak satu pun saya paham beda dan nilai estetikanya. Sulit dipahami bagaimana cincin batu akik pernah begitu mendominasi gaya kekinian remaja putra NKRI (dari sebelumnya hanya milik bapak-bapak old school dan Tessy Srimulat). Entah bagaimana menjelaskan fenomena ini pada generasi mendatang.

Penemuan Terbaik 2015

Satu kata: Go-jek.

Best Experience 2015

Tak dapat disangkal adalah dua hal ini: kelayapan sendirian selama seminggu melintasi tiga negara Indochina dan mencicipi dua bulan training di Taiwan. Memperluas cakrawala berpikir, mengajarkan kemandirian, memupuk keberanian, meningkatkan survival skill di tempat yang asing sama sekali, memperlancar bahasa Inggris (dan non-Inggris :p), membangun jaringan pertemanan baru, melatih perspektif yang berbeda, mencicipi kemajuan negara maju sekaligus merasakan kekurangan negara miskin, melihat keseharian yang berbeda, mengasah kepekaan dalam berinteraksi dengan sesama, menapaktilasi sejarah, melihat langsung apa yang selama ini cuma bisa ditengok di layar kaca, dan sebagainya, dan seterusnya.

IMG_20151230_181344422

Memento(es)

Selamat tahun baru 2016. May the Force be with us.