Raden Mandasia

“Anjing betul!”

Setiap kali menonton Game of Thrones, saya tak pernah berhenti berpikir kalo seharusnya ada kisah asli Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan kuno yang bisa dibikin sekeren ini. Intrik-intrik dari khasanah kearifan lokal Nusantara di era Majapahit atau Singosari mestinya gak kalah menarik dibandingkan kisah-kisah dari Westeros dan Essos. Kisah tragis Perang Bubat seharusnya bisa dibikin seciamik Red Wedding misalnya. Juga peristiwa yang menyusul pemotongan telinga utusan Kubilai Khan oleh Kertanegara. Atau mungkin cerita tentang Ken Arok dan Ken Dedes yang bikin geger. Asal dikemas dengan baik, gak kayak sinetron-sinetron laga Indosiar, rasanya bisa membuat masyarakat kembali dekat dengan cerita-cerita era kerajaan kuno Nusantara seperti ketika Saur Sepuh dan Tutur Tinular berjaya.

Tapi mungkin sudah takdirnya di Indonesia kalo yang tadinya keren di medium lain, begitu diangkat ke layar lebar/kaca hasil adaptasinya menjadi gak sebanding dengan ekspektasi awal. Saur Sepuh dan Tutur Tinular pun sebenarnya melegenda lebih pada bentuk aslinya sebagai sandiwara radio. Begitu diangkat ke layar lebar, meskipun tetap populer, namun yang paling diingat adalah rajawali tunggangan Brama Kumbara yang letoy dan bentuknya gak karuan serta adegan pertarungan one-on-one yang banyak bertaburan bubuk-bubuk putih. Juga demikian dengan Wiro Sableng, misalnya, yang lebih memikat dalam bentuknya sebagai novel silat. Eksekusi selalu menjadi PR besar di sini, yang masalahnya cukup kompleks meliputi modal yang cekak, selera produser yang ala kadarnya, sampe kemampuan penulis skenario + sutradaranya sendiri yang memang semenjana. Mimpi untuk menyaksikan TV series sehandal Game of Thrones (yang sebenernya juga hasil adaptasi dari novel) hasil karya anak bangsa pun tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Mungkin hasilnya akan lebih baik jika dikerjakan oleh sineas-sineas di Hollywood sana (itu pun kalau mereka tertarik).

Jika ada karya seni kontemporer Indonesia yang mengambil latar era kerajaan-kerajaan kuno Nusantara yang layak untuk diadaptasi menjadi film/series oleh studio besar Hollywood, maka saya menominasikan buku Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi untuk mendapat kehormatan tersebut. Novel (sang penulis, Yusi Avianto Pareanom, lebih suka merujuknya sebagai dongeng) setebal 448 halaman ini amat sangat layak untuk dijadikan suguhan visual yang epic. Tanpa diangkat ke layar lebar/kaca pun sebenarnya pengalaman membaca Raden Mandasia terasa tak ubahnya seperti sedang menonton sebuah tontonan yang dikemas dengan apik. Menegangkan dan penuh detail.

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah menuju Gerbang Agung

Cover yang minimalis menggambarkan sebuah adegan di dalam kisah perjalanan menuju Gerbang Agung

Hal pertama yang harus diperhatikan sebelum mulai membaca buku ini adalah.. jangan terkecoh dengan judulnya! :)) Judulnya memang “Raden Mandasia”, tapi yang menjadi tokoh utama sekaligus penutur kisah dalam dongeng ini adalah (Raden) Sungu Lembu, seorang ‘pelarian’ dari Banjaran Waru yang memiliki dendam kesumat terhadap Lord Watugunung, King of the Andals and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm Gilingwesi, kerajaan paling adikuasa pada zamannya. Bisa dibilang kisah dalam buku ini mirip dengan film Kill Bill, di mana Sungu Lembu bertindak sebagai Uma Thurman yang sedang menunaikan misi untuk membalaskan dendamnya. Perjalanan berliku untuk menuntaskan dendamnya ini yang bikin menarik, salah satunya adalah karena Raden Mandasia, si teman seperjalanan Sungu Lembu, tak lain dan tak bukan adalah salah satu anak dari Watugunung. Bukan, ini bukan spoiler, karena informasi tentang hal ini akan segera dijumpai di awal kisah.

IMG_20160422_110446661

Salah satu bab terpanjang dalam Raden Mandasia

Alur cerita dalam Raden Mandasia enak banget buat diikutin. Flashback cuma sesekali, sisanya berjalan secara linear dengan sedikit twist minor di akhir cerita. Mengundang untuk terus membuka halaman demi halaman hingga tak terasa semua sudah tuntas dibaca. Saya cuma membutuhkan waktu 3 hari buat menyelesaikan buku ini. Itu pun karena lebih banyak dihabiskan untuk tersesat di belantara internet sehabis googling beberapa kosakata baru yang saya temui di sini serta beberapa hal menarik lainnya, seperti macam-macam racun organik, anatomi perahu tradisional, silsilah raja-raja Jawa, peta daerah kekuasaan Majapahit vs Mataram, sampe yang ini:

Sumpah, kalian pasti juga bakal penasaran sama hal ini :)

Sumpah, ini ada di buku. Pasti juga bakal penasaran (dan dibikin ngiler) sama  ini :) (Pic from hovenfarms.com)

Hal menyenangkan lainnya dalam Raden Mandasia adalah karena konsepnya sebagai ‘dongeng’ yang membuat sang penulis leluasa seenak hati mencampuraduk berbagai tokoh/latar/setting ke dalam cerita. Beberapa kali saya sibuk menerka-nerka padanan lokasi-lokasi yang menjadi setting di Raden Mandasia dengan ‘lokasi beneran’nya. Seperti apakah Gilingwesi itu adalah Majapahit, Gerbang Agung terletak di Baghdad, Banjaran Waru = Gresik/Surabaya, Goparashtra = Gujarat, hingga apakah Kelapa = Sunda Kelapa/Batavia (well, this one is quite obvious). Beberapa nama, seperti Negeri Atas Angin, sudah pernah digunakan di Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer sehingga tidak sulit diidentifikasi. Lainnya seperti Swarnadwipa dan Barunai juga mudah dikenali karena telah umum digunakan. Akibat latar waktu yang tak jelas, hingga hampir separuh jalan membaca pun saya masih belum yakin apakah Gilingwesi itu merujuk pada Sriwijaya, Majapahit, atau Mataram (pengetahuan sejarah saya masih secetek itu). Tidak seperti kisah-kisah tentang kerajaan kuno Nusantara lainnya, di Raden Mandasia latarnya juga tidak hanya seputar wilayah kerajaan atau Nusantara, tapi juga menyeberang lautan hingga ke kerajaan-kerajaan mancanegara. Raden Mandasia dan Sungu Lembu itu traveler sejati yang melampaui zamannya. They were backpackers before it was cool. Even Sungu Lembu was a travel blogger :D Dan adakah kisah yang lebih menarik dari petualangan di negeri asing berikut interaksinya dengan warga setempat?

Seperti halnya Game of Thrones, Raden Mandasia juga bercerita tentang perang. Perang besar yang melibatkan dua kerajaan besar dengan strategi perang yang paling advanced pada masanya dan deskripsi jatuhnya korban yang bikin ngilu. Selain itu, kesamaan keduanya  juga terletak pada melimpahnya adegan-adegan yang untuk ukuran moral adiluhung yang dianut mayoritas masyarakat NKRI sekarang tentunya akan dianggap sebagai tindakan amoral nan dimurkai Allah: sex-violence-alcohol-LGBT-swear words. A lot of swear words. Sungu Lembu sangat gemar mengumpat, dan umpatannya kadang bukan jenis umpatan yang umum dijumpai sekarang (dan ternyata mengumpat itu memang enak. Anjing memang :)))

Raden Mandasia mengubah persepsi kalo cerita-cerita sejenis harus selalu menggunakan kosakata-kosakata yang tergolong mainstream di genrenya, seperti “kisanak” (sebagai sapaan), “depa” (untuk menggambarkan jarak), “bedebah” (untuk mengumpat), dan “Ciattt!!” (oke, ini hanya cocok digunakan oleh Mantili atau Arya Kamandanu). Jika ada satu hal yang mengganggu dalam membaca buku ini adalah ketika penulis menyelipkan kata seasing “mezzanine” ketika menggambarkan suatu tempat di rumah dadu Nyai Manggis. Seharusnya ada kosakata yang lebih tepat sekaligus lebih membumi untuk menggambarkannya agar bisa lebih nge-blend dengan keseluruhan tulisan yang banyak menggunakan kosakata-kosakata ‘ajaib’ yang ternyata ada di KBBI. Tapi ya cuma itu. Paling kekurangan lainnya hanya minimnya ketersediaan buku ini di jaringan toko buku konvensional karena sepertinya hanya diedarkan secara independen (saya pun dapetnya beli online). Yang pasti, Raden Mandasia memberikan satu lagi motivasi untuk lebih giat bikin postingan di blog, karena seperti yang dibilang Loki Tua ke Sungu Lembu:

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan minum sebelum disembelih.

Ah, ternyata ia tak hanya piawai memasak babi panggang utuh :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s