The Big Short (2015)

Saya membayangkan skenario begini:

Tahun 1995. Tepat 50 tahun perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Optimisme publik sedang tinggi-tingginya. Indonesia digadang-gadang akan segera lepas landas menjadi negara maju. Semua berkat jasa sang Bapak Pembangunan yang berhasil menciptakan kondisi politik dan perekonomian yang stabil. Tingkat inflasi rendah, pertumbuhan PDB terus meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap USD stabil di kisaran Rp 2000/dollar. Semua terlihat sempurna. Tapi saya tidak melihat demikian. Saya yakin betul di balik semua kecemerlangan ini ada sisi busuk yang ditutup-tutupi. Korupsi-kolusi-nepotisme merajalela di setiap lapis pemerintahan, sistem perbankan yang rapuh, kendali moneter yang lemah, dan seterusnya. Tapi tidak ada yang berani bersuara karena ancamannya adalah hilangnya nyawa. Kondisi ideal ini pasti tidak akan bertahan lama. Saya mulai berpikir untuk mencari aman sekaligus meraup keuntungan bagi diri sendiri. Maka mulailah saya menimbun dollar dengan setiap rupiah yang saya punya, meskipun pasti ditertawakan karena apa untungnya investasi valas macam itu di saat kondisi perekonomian yang sebegini stabil. Tetapi bodo amat. Saya yakin dollar adalah pegangan paling aman, di saat stabil maupun krisis. Agak berbau spekulasi memang, tapi, sekali lagi, bodo amat. Dan dua tahun kemudian terbukti. 16 bank nasional dilikuidasi. Kepercayaan publik terhempas ke level terendah. Nilai tukar rupiah terhadap USD turun drastis hingga menyentuh Rp 17.000/dollar. Inflasi merajalela. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena PHK massal dan kaburnya investor asing ke luar negeri. Negara chaos, nyaris di ambang bubar. Tapi saya tetap aman. Bahkan lebih dari itu: kekayaan saya melonjak tak terhingga. Aset saya meningkat nyaris 800% akibat depresiasi rupiah. Kasarnya saya ini sedang tertawa di atas penderitaan banyak orang: saudara sebangsa sendiri, di negara sendiri yang nyaris kolaps. Tapi peduli setan. “That’s how capitalism works,” ujar saya dalam hati. Salah sendiri tidak sigap menangkap peluang dan dengan mudahnya dibuai kenyamanan semu.

Kurang lebih pesan itu yang coba disampaikan film The Big Short (meskipun analogi yang saya gunakan mungkin kelewat sederhana). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini mengambil latar belakang krisis ekonomi global yang bermula dari krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat. Mengambil cerita dari tiga sudut pandang berbeda, The Big Short mencoba mengulas beberapa orang yang cukup jeli melihat rapuhnya pondasi sistem finansial di AS akibat pemberian kredit yang dilakukan dengan serampangan, dan mengambil untung besar dari kondisi tersebut. Meskipun itu berarti mereka harus bersenang-senang di atas derita orang banyak.

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Di poster sih terkesan ada 4 timeline cerita, tapi menurut saya timeline-nya Steve Carell sama Ryan Gosling itu jadi satu

Christian Bale berperan sebagai Dr. Michael Burry, seorang ilmuwan fisika berjiwa metal yang banting setir jadi fund manager di perusahaan Scion Capital dan menjadi yang pertama mengendus bobroknya sistem financing kredit kepemilikan rumah di AS. Steve Carell menjadi Mark Baum, bos FrontPoint Capital, yang bekerja sama dengan Jared Vennett (Ryan Gosling), account officer Deutsche Bank, yang terinspirasi dari tindakan Burry dan mencoba berkolaborasi bersama Baum untuk meraup untung besar dari kondisi ini. Brad Pitt berperan sebagai pensiunan bankir Ben Rickert yang menjadi mentor bagi 2 manajer investasi kecil amatiran yang juga mencoba mendapat benefit dari kebobrokan yang tak diketahui orang banyak ini. Timeline ketiganya tidak saling berkait namun punya kesamaan: semua menjadi bahan cibiran, olok-olok, dan cemoohan ketika melontarkan ide bahwa sistem finansial AS ternyata dibangun di atas pondasi yang sangat rapuh, yang sarat dengan fraud dan tipu-tipu.

Bagi yang kurang familiar dengan dunia perbankan dan finansial (atau kurang paham bagaimana dahsyatnya krisis ekonomi global 2008), mungkin film ini akan sangat memusingkan (dan super membosankan). Masalahnya, penyebab krisis yang bermula di AS itu bukan berasal dari mismanajemen produk-produk investasi konvensional, tapi udah level turunan (derivatives) dari produk-produk tersebut. Bahkan derivatives-nya bukan cuma satu tingkat, tapi dua tingkat dari produk sesungguhnya. Saya aja ga yakin produk-produk investasi semacam itu udah ada di Indonesia apa belum karena saking njelimetnya (di sini mah ngejelasin unit link atau reksadana itu makhluk sejenis apa aja udah ribet, apalagi investasi derivatives kek gini?) Begitu banyak jargon-jargon ‘ajaib’ di film ini, kayak sub-prime mortgage, collateralized debt obligation (CDO), dan credit default swap,  yang terkadang harus mengundang beberapa figur terkenal untuk menjelaskan versi sederhananya dengan analogi-analogi yang bisa diterima akal sehat (atau bisa juga membaca artikel TIME ini untuk jadi bekal sebelum menonton). Tapi secara keseluruhan film ini asik sih, gaya pengambilan gambarnya ala-ala mockumentary yang bergerak dinamis. Pun demikian dengan tingkah para aktornya yang sesekali mendobrak dimensi keempat dengan berbicara kepada penonton. Juga sedikit bumbu-bumbu komedi yang cukup menghibur di sela-sela keseriusan. Film ini juga tentunya bebas spoiler karena berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi sehingga udah ketebak endingnya bakal kayak gimana.

Dalam film Capitalism: A Love Story, Michael Moore pernah bilang kalau berkat instrumen investasi berupa derivatives, saat ini Wall Street bukan lagi sekadar bursa saham, tapi lebih berupa kasino raksasa tempat para fund manager berjudi menggunakan dana masyarakat di produk-produk yang terlihat prospektif tapi artifisial, tanpa menghiraukan dampak negatif perilaku tersebut pada perekonomian secara keseluruhan. “Greed is good”. Rasanya semua orang yang penghasilannya terkait dengan aktivitas di Wall Street setuju dengan kredo tersebut. Namun di film Big Short ini, diperlihatkan bahwa juga terdapat pertentangan batin yang dialami para pemeran utama. Di satu sisi mereka sangat mengharapkan aksi nekad mereka untuk mempertaruhkan modal dengan jumlah begitu besar untuk peristiwa yang ketika itu dianggap probabilitasnya nol dapat berbuah manis, namun di sisi lain mereka paham bahwa pengetahuan dini mereka akan bobroknya sistem finansial AS seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya resesi besar-besaran di kemudian hari. Ini terlihat jelas dalam salah satu dialog ketika Rickert ilfil melihat dua orang ‘anak asuh’ nya kegirangan ketika membayangkan untung besar yang akan diraih jika analisis dan prediksi mereka menemui kenyataan:

If we’re right, people lose homes. People lose jobs. People lose retirement savings, people lose pensions. You know what I hate about fucking banking? It reduces people to numbers. Here’s a number – every 1% unemployment goes up, 40,000 people die, did you know that?

The Big Short meraih nominasi Oscar 2016 untuk film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor pendukung terbaik untuk Christian Bale dalam perannya sebagai Dr. Michael Burry. Padahal kalo menurut saya Steve Carell juga berhak (atau malah lebih pantas) dinominasikan untuk penghargaan tersebut. Berperan sebagai Mark Baum, si bos yang emosian, Carell rasanya mampu mengubah umpatan orang “Ni orang cepet-cepet mati kek” menjadi rasa simpati selama berjalannya film, terutama ketika ia mulai terjun langsung menginvestigasi berbagai tindakan curang dan penuh keseleboran yang dilakukan pihak perbankan dalam mengucurkan kredit dan rating agencies dalam memeringkat tingkat keamanan berinvestasi. Instrumen investasi yang selama ini disebut-sebut sebagai pilihan teraman ternyata luar biasa busuknya dan sangat berpotensi menjerumuskan banyak orang menjadi jatuh miskin dan kehilangan tempat tinggal. Kebenaran yang terlambat untuk terkuak dan terlanjur menimbulkan banyak korban.
“Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry.”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s