“Ter-” 2015

Karena penghujung tahun ini lagi musim-musimnya semua hal dibikinin kaleidoskop, maka tak ada salahnya mencoba bikin kilas balik versi personal untuk beberapa ((( PENCAPAIAN ))) di tahun yang akan berlalu ini. Here’s the list:

Album Tersering Didengar 2015

Tahun ini gak ada album artis asing satu pun di Top 5. Lebih suka karya anak bangsa™

Sebenernya gak perlu melongok statistik Last.fm untuk hal ini karena dengan kesadaran penuh saya haqqul yakin album Rasuk dari The Trees & The Wild akan jadi pemuncaknya. Bisa dibilang saya telat (banget) mengenal band asal Bekasi ini. Pada dasarnya saya bukan tipe pendengar musik yang telaten mendengar lagu album per album. Lebih suka memainkan secara acak dari semua koleksi lagu yang ada. Tapi album keluaran tahun 2009 ini isinya enak-enak semua dari awal sampe akhir. Jadi tidak mengundang untuk sering men-skip lagu. Selain album-album The Best Of, gak banyak album yang memiliki karakter yang sama. Masalahnya adalah Rasuk ini (versi digitalnya) susah banget didengar secara legal. Hampir semua situs music streaming berbayar kenamaan tidak memiliki Rasuk dalam koleksinya. Setau saya di iTunes pun juga tidak dijajakan. Walhasil, karena CD-nya pun sudah jadi barang langka yang bernilai tinggi, saya terpaksa menikmatinya dengan cara ilegal (maap ya Remedy dkk.). Mudah-mudahan mereka secepatnya ngerilis album kedua biar bisa mengapresiasi karyanya secara halalan thayyiban.

Buku Terfavorit 2015

Goodreads menyatakan bahwa tahun ini saya telah mengkhatamkan 15 buah buku. Buku pertama yang selesai dibaca pada tahun 2015 (dan hingga kini ulasannya masih terserak di draft post blog ini) adalah What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions karya Randall Munroe. Buku yang sangat menghibur untuk pengamat hal-hal gak penting macam saya ini. Ada juga Physics of the Future-nya Michio Kaku yang mencoba meneropong keseharian kehidupan manusia 100 tahun mendatang. Dari ranah domestik ada Adhitya Mulya – Sabtu Bersama Bapak dan Iksaka Banu – Semua Untuk Hindia. Tapi buku terfavorit 2015 versi saya hanyalah ini:

Beauty Is A Wound. #barunyampe #newbook #marimembaca #ngabuburit

A post shared by Wisnu Widiyantoro (@_wisnu) on

Cantik Itu Luka adalah buku Eka Kurniawan kedua yang saya baca setelah Lelaki Harimau. Tapi berhubung Lelaki Harimau itu wujudnya e-book, maka ini jadi rilisan fisik Eka Kurniawan pertama yang saya punya. Dibeli ketika bulan puasa, diniatkan buat teman ngabuburit (di saat yang lain pada sibuk ODOJ) dan mampu dikhatamkan pada bulan yang sama. Buku setebal 500 halaman lebih, spasi yang sangat rapat dengan font size mungil, puluhan nama karakter yang ajaib (Kamerad Kliwon! Edi Idiot! Maman Gendeng!), dan rentang waktu di cerita yang sangat panjang dari era kolonial hingga Orba tidak menyurutkan niat untuk melahap setiap kalimat dalam buku ini. Cantik Itu Luka memudahkan saya untuk menobatkan Eka Kurniawan sebagai penulis fiksi kontemporer Indonesia yang karya-karyanya di masa mendatang pasti akan saya beli.

Film Terfavorit 2015

Short-listed candidates: Inside Out, Mad Max: Fury Road, Kingsman: The Secret Service, Ant-Man, Star Wars Episode VII: The Force Awakens.

and the award goes to… Whiplash! :D Meskipun dirilis di AS akhir 2014, tapi Whiplash baru masuk ke sini awal tahun 2015. Film yang ketika selesai saya tonton langsung kepikiran “gua harus bikin review-nya nih!” Beruntunglah orang-orang yang sempat menonton film ini di bioskop, karena feel-nya bakal beda banget kalo ditonton ulang di TV/komputer.

Episode Series Terfavorit 2015

Selama dua season terakhir saya rutin tiap pekan nungguin kelanjutan cerita sinetron Babad Tanah Westeros (a.k.a. Game of Thrones), setelah 3 season pendahulunya ditamatkan dengan cara marathon. Untuk season kelima tahun ini memang banyak yang bilang cukup membosankan. Apalagi di episode-episode awal. Meskipun Khalessi udah berjumpa dengan Tyrion sekalipun plotnya dirasa masih datar-datar aja. Tapi semuanya berubah di episode ke-8:Hardhome.

GoT S05E08 berhasil mementahkan asumsi awam bahwa episode ke-9 adalah episode ter-epic setiap seasonnya. Winter has finally coming, brutally. Pada akhirnya pemirsa ditunjukkan dengan gamblang bahwa ancaman terbesar bagi penduduk Seven Kingdoms bukanlah soal perebutan tahta di King’s Landing, namun berupa datangnya musim dingin tak berkesudahan yang turut membawa serta para white walkers. Setengah bagian terakhir episode ini rasa-rasanya bukan lagi TV material, tapi berkualitas sinema dan layak diputar di bioskop. Buat saya sendiri, episode Hardhome ini setingkat lebih baik daripada episode Red Wedding (terutama karena udah dapet banyak spoiler sih, hehe).

Most Overheard Song 2015

I don’t know if you guys agree with this, but for me, my ears has been exposed to this song too frikkin’ much this year. It’s like played… anywhere & everywhere. (P.S.: Tahun kemarin titel ini jadi jatahnya Magic! – Rude)

Terbuang 2015

Di tengah meningkatnya kesadaran saya dalam mengkonsumsi karya seni secara legal, sangat disayangkan Rdio harus tutup buku di tahun ini. Rdio menjadi satu-satunya layanan paid music streaming yang pernah saya subscribe. Alasannya: murah! Biaya bulanan dimulai dari Rp 10 ribu saja. Udah dapat layanan unlimited streaming dengan koleksi cukup lengkap dan bisa didengarkan offline + sinkronisasi di semua device, tanpa harus diganggu iklan yang nyempil tiap beberapa lagu layaknya penyedia layanan lainnya (terutama yang gratisan). Mungkin karena biaya berlangganannya yang (ke)murah(an) itu yang akhirnya membuat Rdio terpaksa tutup buku. Sungguh amat sangat disayangkan sekali sodara-sodara…

Terlupakan 2015

Dan saya sungguh bersyukur kepada Tuhan YME yang satu ini tidak lagi ngetren sekarang: batu akik. Pada masanya, kerumunan bapak-bapak dan para pemuda yang lagi jongkok mengelilingi mesin gerinda dan tumpukan batu dapat ditemui di tiap sudut ibukota dan suburb. Varian-varian akik pun begitu familiar di telinga: bacan, kalimaya, black opal, dan puluhan jenis bebatuan lain yang tak satu pun saya paham beda dan nilai estetikanya. Sulit dipahami bagaimana cincin batu akik pernah begitu mendominasi gaya kekinian remaja putra NKRI (dari sebelumnya hanya milik bapak-bapak old school dan Tessy Srimulat). Entah bagaimana menjelaskan fenomena ini pada generasi mendatang.

Penemuan Terbaik 2015

Satu kata: Go-jek.

Best Experience 2015

Tak dapat disangkal adalah dua hal ini: kelayapan sendirian selama seminggu melintasi tiga negara Indochina dan mencicipi dua bulan training di Taiwan. Memperluas cakrawala berpikir, mengajarkan kemandirian, memupuk keberanian, meningkatkan survival skill di tempat yang asing sama sekali, memperlancar bahasa Inggris (dan non-Inggris :p), membangun jaringan pertemanan baru, melatih perspektif yang berbeda, mencicipi kemajuan negara maju sekaligus merasakan kekurangan negara miskin, melihat keseharian yang berbeda, mengasah kepekaan dalam berinteraksi dengan sesama, menapaktilasi sejarah, melihat langsung apa yang selama ini cuma bisa ditengok di layar kaca, dan sebagainya, dan seterusnya.

IMG_20151230_181344422

Memento(es)

Selamat tahun baru 2016. May the Force be with us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s