Putih: Cara Syahdu Mengingat Kematian

Ketika saya menulis postingan ini, entah sudah berapa puluh kali saya memutar lagu dari Efek Rumah Kaca berjudul Putih. Lagu sepanjang hampir 10 menit yang hanya bisa diungkapkan dengan dua kata: luar biasa.

Sejatinya Putih terdiri dari dua fragmen: “Tiada (untuk Adi Amir Zainun)” dan “Ada (untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)”. “Tiada” bercerita tentang kematian, garis finish hidup seorang manusia di dunia yang fana, sebelum masuk fase kekekalan abadi. “Ada” sebaliknya, berkisah tentang lahirnya kehidupan baru, siap mengarungi bahtera kehidupan yang penuh hal tak terduga.

Hal paling mencolok selama “Tiada” adalah kehadiran narator yang seolah berperan sebagai si almarhum yang kisah akhir hidupnya sedang dinyanyikan oleh Cholil. Sangat sulit untuk tidak merinding ketika mendengarkan bagian-bagian awal “Tiada” dinarasikan. Untuk kemudian ‘ditampar’ oleh lirik berikut:

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan

Damn, “Tiada” bisa menjadi lagu pengingat kematian paling powerful menggantikan posisi Bila Waktu T’lah Berakhir-nya Opick yang tak henti-hentinya dimainkan infotainment setiap ada selebritis Indonesia yang meninggal. Tapi sayang kemungkinannya kecil, karena “Tiada” lebih bernuansa keikhlasan menerima kematian yang merupakan kodratnya manusia. Lebih nrimo. Tidak memiliki pretensi untuk bersesal-sesal atas datangnya hari-H itu karena amalan yang (dirasa) belum cukup dan kesepian abadi yang menanti di dalam kubur karenanya. Sebuah kesan yang sulit diterima oleh mayoritas masyarakat NKRI yang ultra-religius ini.

Lalu kemudian tiba saatnya “Ada” menggantikan “Tiada”. Gugur satu, tumbuh seribu. Mereka yang pergi digantikan oleh generasi baru, menandakan sebuah harapan tentang kehidupan. “Ada” mampu memainkan emosi: di satu sisi menyiratkan asa dan optimisme akan hadirnya hidup baru, di sisi lain juga berbicara tentang kekhawatiran soal kehidupan yang akan dijalani nantinya. Satu setengah menit terakhir “Ada” menurut saya merupakan bagian terbaik dari “Putih”, baik dari segi musik maupun lirik.

Saya tidak dapat menepis kesan kalau Putih sangat mirip dengan Satu Satu dari Iwan Fals. Tentunya mirip di sini bukan dalam hal karya produksi, tapi kesamaan pesan yang disampaikan kedua lagu. Tentang kematian dan kehidupan yang hadir di saat yang bersamaan. Tentang kehilangan dan kedatangan. Tentang keniscayaan. Keikhlasan. Dan sebagainya. Keduanya luar biasa dalam caranya masing-masing.

Oh btw, single Putih ini memang dirilis di Soundcloud dan bisa langsung diunduh di sana. Gratis. Tapi sepertinya album ketiga ERK ini layak mendapat apresiasi lebih. Mungkin rilisan fisiknya patut dipertimbangkan untuk dimiliki begitu keluar nanti.

 

*ngomong ke diri sendiri*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s