Menjajal Taiwan HSR

Kesempatan memang terkadang datang tanpa dinyana dan tak terduga. Hanya dalam kurun waktu setahun setelah saya menuntaskan salah satu obsesi saya sebagai seorang self-proclaimed railfan, kini saya juga mampu mencoret satu lagi bucket list di dunia perkeretaapian. Sabtu lalu akhirnya saya berkesempatan menjajal kecepatan super Taiwan High Speed Rail (THSR) dari Stasiun Zuoying di pinggir Kota Kaohsiung menuju Hsinchu, kota tempat tinggal saya selama dua bulan belakangan. THSR berbeda dari bullet train-bullet train di negara-negara lain karena ini adalah ekspansi perdana sistem operasional beserta electric multiple units (EMU) Shinkansen, sang pionir teknologi bullet train, ke luar Jepang. Bisa dibilang menumpangi THSR 99% serupa dengan menumpang Shinkansen. Yang berbeda cuma lokasinya doang.

Wacana pembangunan bullet train di Indonesia sempat marak sebulan belakangan, meskipun kemudian berakhir secara anti klimaks. Rencana pembangunan bullet train Jakarta-Bandung diperebutkan oleh Tiongkok dan Jepang namun berujung pada kekecewaan karena pemerintah hanya mau proyek ini bersifat B-to-B, tanpa adanya pendanaan dari pemerintah. Di satu sisi, pembatalan ini bisa dimaklumi karena rute Jakarta-Bandung terlalu pendek bagi sebuah kereta cepat untuk menunjukkan performa puncaknya. Belum ditambah dengan beberapa pemberhentian di tengah-tengah rute yang membuat jarak tempuh Jakarta-Bandung dengan bullet train cuma unggul tipis dari perjalanan via Tol Cipularang. Tapi di sisi lain, pembatalan ini juga membuyarkan impian sebagian orang, termasuk saya, untuk mencicipi layanan kereta cepat di tanah air sendiri. Membangun jaringan bullet train memang bukan perkara yang murah (dan mudah) karena harus dibangun di jalur dedicated yang steril dari persilangan dengan jalan raya atau gangguan lainnya. Bayangkan berapa biaya yang dibutuhkan jika dari Jakarta-Surabaya terbentang ratusan kilometer jalan layang khusus untuk kereta ini menyusuri pantai utara Pulau Jawa. Belum ditambah pembangunan fasilitas pendukung seperti stasiun, depo, dan jaringan kelistrikan. Jadi mungkin keputusan pemerintah sudah tepat (untuk saat ini) dan semoga jika terlontar wacana serupa di masa mendatang bukan lagi sekadar PHP seperti sekarang.

Kembali ke THSR, jaringan kereta cepat ini terbentang dari ibukota Taipei di utara Pulau Formosa hingga Kaohsiung di ujung selatan. Well, technically speaking, tepatnya bukan di Kota Kaohsiung sih, tapi di distrik Zuoying, kawasan sub urban utara Kaohsiung. Perjalanan saya lakukan setelah melakukan trip seharian keliling Kaohsiung. Lokasi Stasiun HSR Zuoying nempel dengan Stasiun MRT dan Stasiun TRA (kereta api reguler) yang juga bernama sama. Stasiun ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari salah satu objek wisata terpopuler di Kaohsiung: Lotus Pond dengan pagoda kembarnya. Cuma memang agak jauh, sekitar 2 km-an atau bahkan lebih. Tapi sangat mudah ditemukan, cukup ikuti jalur pedestrian sepanjang rel kereta api.

IMG_20150919_145621791

Mendekati Stasiun HSR Zuoying

IMG_20150919_145748844_HDR

Stasiun terminus yang cukup besar, terdiri dari 3 lantai dengan peron yang terletak di lantai dasar

IMG_20150919_150137940

Masuk melalui Entrance/Exit 3. Jika keluar melalui pintu ini, akan langsung bisa dijumpai deretan bus Kenting Express terparkir di seberang jalan yang siap mengantar ke Kenting National Park.

Di setiap stasiun HSR di Taiwan tersedia dua macam metode pembelian tiket: (1) langsung melalui kounter penjualan, dan (2) melalui vending machine. Penjualan tiket di kounter biasanya selalu diwarnai antrian panjang karena juga melayani penukaran tiket yang telah dipesan via internet/convenience store maupun tiket untuk kelompok besar. Sedangkan vending machine biasanya lebih sepi, mungkin salah satunya karena banyak orang yang enggan (baca: takut) melakukan transaksi bernominal besar melalui mesin tersebut.

IMG_20150919_150706439

Deretan ticketing vending machine di Stasiun HSR Zuoying. Ada yang hanya menerima pembayaran non tunai melalui kartu debet dan kredit, ada juga yang menerima tunai dan non tunai.

IMG_20150919_150717842_HDR

Navigasi cara pembelian tiket THSR melalui vending machine terhitung sangat mudah. Jika sudah terbiasa membeli tiket single trip MRT pasti akan piawai menggunakannya.

IMG_20150919_150757690

Tiket non-reserved seat jurusan Zuoying-Hsinchu, dengan tempat duduk di gerbong 10 hingga 12 seharga TWD 1270 (TWD 1 = Rp 440) yang cukup menguras isi dompet. Tidak ada nomor bangku di tiket ini karena emang sifatnya non-reserved (secara lebih murah, huhu). Juga tidak ada nomor kereta dan jadwal keberangkatan. Valid selama digunakan pada tanggal pembelian.

IMG_20150919_150805202

Stasiun HSR Zuoying yang cukup ramai di kala wiken

Tiket THSR berbentuk kartu tipis ber-magnetic stripe yang cukup diselipkan di mesin pembaca di tiap-tiap gate in untuk diambil kembali setelah melewatinya. Nanti di stasiun tujuan kembali ulangi langkah yang sama dan tiketnya bisa disimpan, alih-alih ditelan oleh mesin di gate out. Tidak ada pemeriksaan tiket di dalam kereta. Yang ada cuma penjaja makanan resmi yang mondar-mandir ke tiap gerbong, itu pun lebih banyak berupa minuman dingin maupun panas (tidak ada nasgor sayangnya).

IMG_20150919_151248115

Turun ke peron di lantai dasar….

...dan nemu ini. Dua! :)

…dan nemu ini. Dua! :)

IMG_20150919_151052973_HDR

Sayangnya masih verbodden. Lagi dibersihin.

Di dalam gerbong non-reserved seat. Formasi tempat duduk 3-2. Terhitung sepi, jadi bisa seenaknya pilih tempat duduk yang dipengenin.

Ada vending machine di tiap sambungan antar gerbong

Ada beverages vending machine di beberapa sambungan antar gerbong

Denah rangkaian kereta

Denah rangkaian kereta. 12 gerbong: 1 gerbong kelas bisnis, 8 gerbong standar reserved seat, 3 gerbong standar non-reserved seat.

Sayangnya tidak ada colokan, jadilah power bank menggantikan fungsinya. Juga tidak ada wi-fi on-board, padahal di beberapa review dibilangnya ada. Mungkin cuma untuk kelas bisnis.

Sayangnya tidak ada colokan, jadilah power bank menggantikan fungsinya. Juga tidak ada wi-fi on-board, padahal di beberapa review dibilangnya ada. Mungkin cuma untuk kelas bisnis.

Perjalanan dari ujung ke ujung (Zuoying – Taipei) konon mampu ditempuh hanya dalam waktu 90 menit. Tapi ternyata itu dengan ketentuan: kereta yang dinaiki adalah yang hanya berhenti di dua pemberhentian: Taichung (kota terbesar ketiga di Taiwan) dan Taoyuan (C.K.S. International Airport). Jadi hanya berlaku untuk THSR ‘versi ekspres’ yang jadwal keberangkatannya terhitung lebih banyak. Sedangkan untuk THSR ‘versi reguler’ yang singgah di lebih banyak pemberhentian (termasuk di Hsinchu), otomatis waktu tempuhnya menjadi lebih molor. Kayak kereta yang saya tumpangi yang menempuh 1 jam 20 menit dari Zuoying ke Hsinchu. Frekuensinya pun relatif lebih jarang, bisa cuma 1 jam sekali.

Untuk soal kecepatan tentu tidak diragukan lagi. Saya merasakan sendiri akselerasi dari sesaat setelah berlepas dari stasiun hingga mencapai kecepatan penuh. Sungguh takjub melihat tiang-tiang penyuplai aliran listrik di sisi rel yang tadinya tegak berdiri perlahan terlihat makin doyong seiring percepatan laju kereta. Semua terjadi nyaris tanpa suara bising dan goncangan yang signifikan. Ilustrasinya bisa dilihat pada video berikut yang diambil beberapa saat setelah kereta meninggalkan Stasiun Chiayi menuju Taichung:

 

Lalu bandingkan dengan video yang diambil waktu kereta (sepertinya) mencapai kecepatan penuh) ini:

 

Dengan top speed berkisar 300 km/jam, maka tidak mengherankan jika jarak Zuoying ke Taipei bisa ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam. Sebagai perbandingan, jarak yang sama jika ditempuh menggunakan bus yang berjalan di atas jalan bebas hambatan akan memakan waktu sekitar 5 jam. Jika diaplikasikan di Indonesia (Pulau Jawa khususnya), maka jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu hanya sekitar 3 jam. Saat ini, bahkan dengan Argo Bromo Anggrek, kereta tercepat yang dimiliki PT KAI, waktu tempuh 3 jam hanya mampu menempuh jarak dari Jakarta ke Cirebon. Sungguh akan menjadi kompetitor berat para maskapai penerbangan tanah air di masa mendatang.

IMG_20150919_170116290_HDR

Tepat pukul 17.00 kereta memasuki Stasiun HSR Hsinchu. Pemberhentian terakhir di Taipei hanya berjarak dua stasiun lagi.

Naik kereta sleeper class lintas negara udah, Shinkansen (meskipun cuma versi KW super) juga udah.. (#riya) Yang belum kesampean berarti tinggal naik Trans Siberia dari Vladivostok ke Moskow. Untuk yang satu ini kayaknya emang obsesi yang ketinggian :)) Mungkin perlu direvisi menjadi ‘hanya’ menempuh jarak dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, yaitu dari Merak ke Banyuwangi. Atau, berhubung telah merasakan kecepatan 300 km/jam, mungkin kini saatnya meningkatkan level bucket list ke tingkatan yang lebih tinggi: menjajal maglev (magnetic levitation) train yang memiliki kecepatan hingga lebih dari 600 km/jam (mampus gak tuh..) di Eropa atau Jepang sana. Semoga bukan angan yang ketinggian. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s