Tentang Taiwan

Sejak awal Agustus ini saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah training yang diselenggarakan Kementerian Perekonomian Taiwan. Penugasan dari kantor ini rupanya gak sebentar, hampir dua bulan. Biasanya yang namanya international training durasinya gak nyampe dua minggu, atau mentok-mentok sebulan. Tapi buat saya yang kebetulan belum pernah menempuh studi di luar negeri, kesempatan dua bulan di negara orang ini udah lumayan banget buat nambah pengalaman. Apalagi di program training ini pesertanya gak cuma para PNS Taiwan tapi juga ada partisipan dari 10 negara lainnya (termasuk Indonesia, tentu saja). Bisa melatih kemampuan berbahasa Inggris yang tak seberapa dan juga merasakan hidup sebagai global citizen (ciee gitu).

Kota tempat program training ini berlangsung (sayangnya) bukan di Taipei, melainkan di Hsinchu, kota kecil berjarak 1 jam perjalanan dari ibukota. Kota yang mungkin masih sangat asing namanya bagi orang Indonesia tapi cukup populer di kalangan orang Taiwan sendiri karena keberadaan 2 universitas negeri favorit: National Tsing Hua University (NTHU) dan National Chao Tung University (NCTU). Iya, Hsinchu ini bisa dibilang semacam kota pelajarnya Taiwan. Mungkin itu juga yang membuat Kementerian Perekonomian Taiwan membangun pusdiklatnya di sini. Hsinchu juga dikenal sebagai Sillicon Valley-nya Taiwan akibat keberadaan mayoritas perusahaan-perusahaan ICT terkemuka asal negara tersebut yang berkantor dan memiliki industri manufaktur di kota ini.

Hampir satu bulan mengenyam pendidikan di Hsinchu membuat saya  merasa cukup menyelami seluk beluk kehidupan sehari-hari warga Taiwan (*tsaelah*). Secara umum, karakter orang Taiwan itu salah satu yang paling baik di dunia. They’re not just really nice, but like GENUINELY NICE people. Mungkin kendala utama mereka hanya masalah bahasa karena jarang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar sehingga kadang ada juga yang menjaga jarak dengan orang asing. But, once the language barrier removed, they will try their best to be your close friend.

Jika karakter manusia dianggap sebagai suatu hal yang subjektif dan tidak bisa merepresentasikan gambaran umum masyarakat Taiwan secara keseluruhan, maka berikut saya rangkum beberapa fakta tentang Taiwan yang didapat dari hasil ngobrol dan observasi pribadi selama sebulan ini:

1) Seperti halnya di Korea Selatan, Israel, atau Singapura, para pemuda Taiwan (pemudi excluded) diwajibkan untuk mengikuti satu tahun wajib militer (atau di sini disebutnya “military service”). Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, peserta  wajib militer ini rupanya tidak harus berdiam di barak dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan terkait angkatan perang selama masa bakti satu tahun tersebut. Beberapa ditempatkan di sekolah, kantor pemerintahan, dinas sosial, dsb. Semacam magang aja jadinya. Seperti salah satu officer yang ditugaskan di pusdiklat sini yang bertugas sebagai semacam liaison officer bagi para partisipan asing. Kebetulan karena dia juga sangat fasih berbahasa Inggris (pemegang paspor AS dan Taiwan) jadi diuntungkan dengan kemampuannya tersebut dan dapat slot khusus dalam penempatannya. Sedangkan buat yang tidak memiliki talenta khusus, nasib penempatannya ditentukan dengan cara diundi. Kalo lagi apes ya kedapatan bertugas di perbatasan dan garis depan setiap uji coba militer. Sometimes life just isn’t fair :)

2) Di Taiwan, jarang sekali warganya menyebut RRT dengan nama resminya: People’s Republic of China. Mungkin karena memang masih merasa sebagai pemilik klaim sah atas penamaan “Republic of China” yang telah berdiri sejak tahun 1911 dulu. Istilah yang umum digunakan di sini untuk merujuk tetangga sekaligus saudaranya itu adalah “Mainland (China)”. Tidak berhenti pada keengganan penyebutan nama, orang-orang di sini juga mayoritas antipati terhadap segala hal yang berbau Tiongkok daratan, terutama turis-turisnya yang konon OKB tapi jorok dan ndeso. Selera warga Taiwan lebih berkiblat ke Jepang, suatu hal yang mungkin dipengaruhi akibat cukup lamanya menjadi koloni negara tersebut (awal abad 20 s/d 1945). Sulit ditemui orang Taiwan yang menggunakan produk-produk (elektronik, ICT, kendaraan bermotor, you name it) Made In China. Bahkan tahun lalu para mahasiswa di sana sampe menduduki gedung parlemen untuk menolak penandatanganan FTA antara RRT dan Taiwan. Emang bukan cuma karena rasa antipati doang sih, lebih karena mereka merasa FTA tersebut akan merugikan Taiwan secara ekonomi, tapi bisa menggambarkan gimana sensitifnya hubungan antara Taiwan dengan negara jirannya itu. Googling aja Sunflower Student Movement atau bisa dilihat di sini.

3) Negara ini terhitung cukup hipster karena menolak penggunaan sistem penanggalan internasional. Saat ini di Taiwan masih tahun 104, dihitung dari pendirian Republik Tiongkok pada tahun 1911 oleh Dr. Sun Yat Sen yang mengakhiri berabad-abad kekuasaan monarki di sana. Cuma tahun aja sih yang beda, tanggal dan bulan masih menggunakan kaidah mainstream yang digunakan di belahan dunia lainnya. Jadi inget jama’ah Gereja Maradona di Argentina yang menggunakan tahun kelahiran Diego Maradona sebagai awal penanggalannya :)) (atau juga, ga usah jauh-jauh, sistem penanggalan Hijriah).

2015 Masehi = 104 Tahun Taiwan (TT) *singkatannya ga enak*

2015 Masehi = 104 Tahun Taiwan (TT) *singkatannya ga enak*

4) Meskipun hampir tiada hari tanpa babi di menu sehari-hari orang Taiwan, tapi ternyata makanan nasional mereka adalah hidangan yang (bisa dibilang) halalan toyyiban. Beef Noodle kerap dianggap sebagai duta besar kuliner Taiwan. Kalo di Indonesia mungkin semacam soto mi: isinya mi dicampur tauge dan potongan-potongan daging sapi lalu disiram kuah kaldu sapi yang pekat karena bumbu di dalam mangkok gede dan dihidangkan bersama acar. Porsinya kuli banget dan rasanya emang enak (tapi tergantung yang masak juga sih). Jika berkantong pas-pasan, beef noodle juga banyak tersedia dalam bentuk kemasan instan dengan rasa yang tidak jauh berbeda. Rata-rata dijual seharga NTD 40-50 (sekitar 16-20 ribu rupiah).

Solusi Beef Noodle murah meriah

Solusi Beef Noodle murah meriah

5) Kalo untuk minuman nasional, rasanya semua akan sepakat untuk menobatkan bubble tea drinks. Keberadaan kedai bubble tea di Taiwan bisa dibandingkan dengan warung rokok di Indonesia: tiap 100 meter ada. Beragam franchise dengan beragam pilihan isian dan kombinasi rasa tersedia. Konon  varian minuman ini memang diciptakan pertama kali di Taiwan. Menjamurnya kedai bubble tea ini juga didukung kebiasaan warga sini yang (sepertinya) ogah kalo minumannya polos macam akuwa dan sebangsanya. Jadinya di tiap keramaian selalu terlihat orang-orang pada megang gelas gede berembun dengan sedotan gede ala pop ice. Cukup mengintimidasi buat turis-turis berbudget minimalis seperti saya yang cuma bermodal botol air mineral kosong dan kemana-mana nyari drinking water dispenser buat isi ulang :(

Kedai bubble tea macam ini menjamur hingga pelosok. Tapi gak cuma jualan teh doang, kadang juga jus buah, kopi, dan minuman panas

6) Sikap warga Taiwan terhadap ‘bencana alam’ typhoon yang kerap mendera mungkin sama kayak sikap warga Kampung Pulo terhadap banjir. Saking seringnya jadi udah terbiasa dan dianggap angin lalu. Gak ada persiapan khusus untuk menyambut datangnya angin topan, paling cuma wanti-wanti kalo nanti mungkin bakal mati listrik sebentar. Seperti awal Agustus lalu ketika Typhoon Soudelor, topan berkekuatan terbesar dunia tahun ini, menghantam Taiwan. Kita-kita para peserta asing yang seumur hidup belom pernah ngerasain typhoon  parnonya setengah mampus, sampe nyetok makanan banyak-banyak seolah-olah besok kiamat. Ketika topan menghantam Hsinchu malam hingga dini hari pada gak bisa tidur karena (menurut kami) angin berhembus begitu kencang dan berputar-putar di atas gedung dormitory *takut gentengnya pada copot*.  Eh para Taiwanese classmates pas diceritain malah pada ngakak ngetawain kenorakan kami. Di Taipei sendiri yang kerusakannya lebih parah, 2 buah bus surat yang jadi doyong karena typhoon malah jadi objek wisata baru… -_-

2B3A5AD100000578-0-image-a-5_1439198634054

Taiwanese… Why??

2B399F4F00000578-0-image-a-44_1439200831214

7) Satu hal yang menurut saya sangat menarik di Taiwan adalah ihwal “English name”. Jadi di Taiwan bukanlah hal yang aneh jika seseorang mengadopsi ‘nama Inggris’ sebagai nama depannya sebagai alias atas ‘nama Cina’-nya. Contohnya para personel F4 lah: Jerry Yan, Vannes Wu, Vic Zhou, dan satu lagi saya lupa :p. Biasanya ini digunakan karena tuntutan pekerjaan (kantornya banyak berhubungan dengan warga negara asing yang sulit menghapal nama-nama asli mereka) atau emang karena pengen aja biar terkesan G4UL, penuh nuansa modernitas dan sangat kekinian. Tapi yang saya baru tau setelah berada di sini adalah: pemilihan nama Inggris untuk diadopsi sebagai nama depan itu sifatnya random abis. Suka-suka dia aja, yang sekiranya dianggap cool, keren, dan cocok. Tanpa ada pola tertentu berdasarkan kemiripan pelafalan kayak di Indonesia (Liem Sioe Liong = Sudono Salim, Tan Oei Hok = Tanoto something, dsb.) Bahkan temen saya bilang dia bebas aja nanti kalo mau ganti nama Inggris dia sekiranya udah bosen (atau sudah tidak trendy dan kekinian lagi), karena toh segala dokumen kependudukan dan identitas pribadi dia menggunakan nama asli  yang mana daripada itu merupakan nama khas Tiongkok. Jadi bisa aja sekarang dia minta dipanggil “Kevin”, tapi tahun depan ganti jadi “Richard”. Lah ngapah bisa gitu yaaakkk… :)))

8) Warga Taiwan secara umum sangat meneladani slogan Haornas era Menpora Hayono Isman: Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga. Orang-orangnya sporty-sporty banget, jarang ditemui orang Taiwan yang overweight apalagi obesitas. Tidak cukup hanya jogging di pagi hari, mereka juga melakukannya di sore hingga malam hari dan terkadang disambung olahraga lain macam basket atau pingpong. Heran, kapasitas paru-parunya berapa cc dah? Oh iya, sepakbola sangat tidak populer di sini. Bola basket dan baseball adalah cabang olahraga utama yang digilai penduduk Taiwan. Perbandingan orang-orang yang make jersey NBA vs jersey klub-klub liga ternama Eropa di tempat-tempat keramaian sepertinya 10:1. TV-TV lokal maupun satelit di sini pun gak ada yang nyiarin liga-liga Eropa tiap weekend. Gak ada yang bisa diajak ngobrol seputar isu lapangan hijau maupun si kulit bundar (ala-ala editorial Harian TopSkor). Saking butanya terhadap kancah belantika persepakbolaan dunia, pernah saya ke kelas pake jersey Milan yang bersponsor Fly Emirates lalu ditanya: “Itu kaos didapat karena pernah terbang pake Emirates ya??” *cry*

9) Skuter matic adalah andalan warga Taiwan dalam beraktivitas sehari-hari. Gak ada tuh namanya jenis-jenis motor lain macam motor bebek dan moge sporty. 90% isi jalanan di Taiwan didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua jenis ini. Merek-merek yang umum digunakan umumnya adalah Kymco (ini pemimpin pasar di sini) dan SYM yang semuanya merupakan buatan lokal. Dari mahasiswa sampe ibu-ibu hampir semuanya menggunakan jenis motor yang sama. Parkirnya pun di pinggir jalan, di atas trotoar malah. Tapi ya entah kenapa lebih civilized, terutama dibandingkan sama tingkah polah emak-emak penunggang matic di Indonesia. Di sini juga tidak ditemui parkir meter, juga tanpa keberadaan kang parkir yang secara misterius tiba-tiba muncul minta selembar duarebuan. Petugas dari dinas perparkiran setempat selalu stand by di lokasi-lokasi parkir (pinggir jalan sekalipun) untuk mengambil record setiap kendaraan yang terparkir dan menyerahkan tanda buktinya kepada sang pengemudi. Pembayaran pun tidak dilakukan langsung kepada si petugas, tapi ke rekening pemda setempat dan bisa dibayar via mobile/internet banking atau di convenience store seperti 7-11 dan Family Mart. Mudah dan nyaman.

Pemandangan yang sangat jamak di Taiwan

Pemandangan yang sangat jamak di Taiwan

10) Ini kayaknya hal terunik di Taiwan dan tidak akan ditemui di mana pun (cmiiw), juga mungkin suara yang paling memorable dan ngangenin dari Taiwan: singing garbage truck. Truk sampah (di Indonesia) kerap diidentikkan dengan kendaraan yang luar biasa jorok, bau sampah (yaiyalah..), penuh belatung, dengan air sisa limbah yang berceceran menetes sepanjang jalan. Tapi di Taiwan, truk sampahnya steril, bersih, kawaii, dan yang paling penting: bisa bernyanyi! Pas pertama saya di sini, ta’ pikir itu mobil es krim yang setiap sore lewat komplek. Rupanya suara ‘bernyanyi’ itu dimaksudkan sebagai tanda bagi para penduduk untuk membuang sampah rumah tangga mereka langsung ke truk sampah yang ngider ke pemukiman warga setiap harinya. Mungkin karena di Taiwan gak ada iuran sampah RT. Sebelum dikumpulkan di truk sampah, sampah-sampah masyarakat rumah tangga ini telah dipilah-pilah terlebih dahulu sehingga mepermudah proses daur ulang. Konon tiap hari juga ada jadwalnya: hari ini sampah kertas yang dikumpulin ke truk sampah, besok sampah organik, besoknya lagi sampah beling/kaca, dan seterusnya.

Taiwanese singing garbage truck en route to Bantar Gebang

Sementara segitu dulu yang bisa saya share tentang (ke)hidup(an) di Taiwan. Kalo ada yang keingetan akan saya tambahin. Sampai jumpa di episode On The Spot Trans|7 yang membahas 10 hal terunik yang bisa kamu temui di negara-negara lainnya (video courtesy of YouTube).

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Taiwan

  1. waaah enaknya training sampe 2 bulan. udah pas lah itu. dibanding sekolah 1-2 tahun kerasanya lama banget. :))
    ngomong2 soal nama Inggris, di Mainland jg polanya sama. orang2 yg berhubungan sama orang asing biasanya punya nama Barat. sebenarnya trennya udah dimulai dr The Last Emperor Pu Yi yang punya nama Barat Henry.

    • Wah bener mz, 2 bulan udah cukup haha.. Sekarang aja udah homesick sama tanah air Bekasi :)) Untungnya banyak komunitas Indonesia di sini, jadi ga susah cari makan

  2. Pingback: Tentang Taiwan (2) | kehendakbaru[dot]wordpress[dot]com

  3. Pingback: Tentang Taiwan (2) | kehendakbaru[dot]wordpress[dot]com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s