Melintas Batas

Bulan Mei lalu saya berkesempatan melakukan perjalanan darat, sekaligus melintasi perbatasan, di tiga negara Indochina: Viet Nam-Kamboja-Thailand. Sendirian. Sebuah kondisi yang membuat ketika tiba kembali di tanah air (rata-rata, tapi ga semua) disambut dengan tatapan penuh iba. Berlibur sendirian ternyata memang masih menjadi hal yang dianggap menyedihkan bagi sebagian besar orang Indonesia. Gak asik, mana seru, garing, aneh, konyol, sok-sok’an, ntar yang motoin siapa (ini komen paling ‘yaelah’), dan beragam komentar miring lainnya mampir ke kuping (dan layar hape) saya. Yah namanya juga idup. Di Indonesia pula yang orang-orangnya demen banget ngejadiin standar kebahagiaan dia sebagai standar mutlak yang berlaku buat orang lain.. :)

Anyway, it’s a fun journey overall. Sesuai ekspektasi tentang jalan-jalan ke luar negeri sendirian, termasuk yang pait-paitnya :D. Ini sebenarnya bukan pertama kalinya melintasi perbatasan darat antara dua negara. Sebelumnya pernah ngalamin di border antara Swiss dan Liechtenstein tepat di atas Sungai Rhine. Tapi di sana ga ada pemeriksaan paspor dan security screening sama sekali (bahkan ga harus turun dari bus). Kurang afdol. Juga pernah di Woodlands CIQ (Singapura) dan Johor Bahru CIQ (Malaysia) yang sejatinya dibatasi oleh laut. Untuk yang satu ini, meskipun mengikuti prosedur melintasi perbatasan pada umumnya, tapi entah kenapa berasa standar-standar aja kesannya (mungkin karena di Singapura, dan Malaysia :p). Justru yang belum pernah itu ke perbatasan darat NKRI dengan negara-negara jiran lainnya, macam di Entikong, Sebatik, Skouw, atau Atambua. Entah kapan bisa terwujud (mudah-mudahan dalam waktu dekat).

Perjalanan mengambil rute Jakarta-Kuala Lumpur-Ho Chi Minh City-Phnom Penh-Siem Reap-Bangkok-Kuala Lumpur-Jakarta. Ditempuh selama (hampir) seminggu, menggunakan kombinasi moda transportasi pesawat dan bus. Setelah menghabiskan sehari semalam di HCMC (yang menurut saya overrated), akhirnya saya memutuskan untuk bertolak menuju Kamboja. Lebih cepat dari rencana semula, salah satunya karena ga dapet overnight bus menuju Phnom Penh dan Siem Reap. Alhasil, bus pagi menuju Phnom Penh (untuk kemudian berganti bus menuju Siem Reap) menjadi pilihan. Estimasi awal durasi perjalanan HCMC-Phnom Penh 6 jam dan Phnom Penh-Siem Reap 6 jam juga. Teorinya total 12 jam menteposkan pantat di dalam bus. Karena saya berangkat pukul 8 pagi, jadinya estimasi tiba di tujuan akhir di Siem Reap adalah pukul 8 malam. *tepok tangan*

Ticket to ride

Ticket to ride

Estimasi tersebut ternyata berantakan :) Perjalanan dari HCMC menuju Moc Bai (kota perbatasan Vietnam-Kamboja di sisi Viet Nam) memang berjalan mulus, hanya sedikit terhambat ketika hendak keluar dari kota HCMC yang macet gara-gara lautan motor bebek yang membanjiri jalanan. Sekitar pukul 11.30 bus sudah masuk ke halaman kantor imigrasi di Moc Bai dan tak lama semua penumpang sudah mendapat cap keluar Viet Nam. Proses pencapan paspor dilakukan secara kolektif oleh awak bus jadi tidak perlu mengantri lama.

Yang menarik adalah ketika bus mulai meninggalkan HCMC dan masuk jalan raya menuju Phnom Penh, si pramugara (sebut saja demikian) bus yang berasal dari Kamboja mengumpulkan paspor penumpang sembari menawarkan jasa visa on arrival Kamboja bagi turis asing yang belum punya dengan sambutan kayak gini: “Due to massive corruption in our country, the fare for Cambodian visa is USD 25, but you must pay USD 30 to bribe the officer …“. Jujur banget! :D Untungnya warga ASEAN bebas visa, jadi ga kena todong begitu haha. Kata sambutan tersebut sudah tentu menuai reaksi keras dari beberapa bule kere yang kritis. Mulai dari mempertanyakan “kenapa negara lu yang banyak koruptor gua yang kena imbasnya??”, ngomel-ngomel “this country is so fucked up!”, sampe menolak diurusin secara kolektif dan milih ngurus sendiri (meskipun udah diingetin kalo itu berpotensi memperlambat perjalanan dan merugikan penumpang lainnya). Pada akhirnya si 2 bule ini emang beneran ngurusin sendiri (ngantri di jalur biasa) dan bisa mendapatkan VoA-nya dalam waktu yang gak terlalu lama. Senyum kemenangan seakan berkata “I told you so” nampak ketika mereka menaiki bus kembali.

Welcome to Cambodia. We’re so fuckin’ proud of Angkor Wat so we put it everywhere (flag, arrival card, etc.)

Selepas Moc Bai, bus pun tiba di Bavet, kota perbatasan Kamboja-Viet Nam di sisi Kamboja. Perbedaan signifikan antara Moc Bai dan Bavet hanya terletak pada penggunaan aksara Khmer yang menggantikan huruf latin beraksen khas Viet Nam di setiap penjuru. Selebihnya sama: sama-sama gersang, panas, dan sepi. Tapi secara umum, dibandingkan daerah-daerah Viet Nam yang dilewati sepanjang jalan, daerah di Kamboja ini terkesan lebih gersang. Bangunan di sekitar pos perbatasan pun hanya berupa hotel-hotel kelas melati dan kasino. Entah kenapa keberadaan kasino selalu menjadi fitur utama di perbatasan negara-negara Indochina ini (di perbatasan Kamboja-Thailand juga banyak). Mungkin pajaknya lebih rendah kalo didirikan di perbatasan, atau mungkin juga regulasinya memang mengatur demikian.

Berbeda dengan pemandangan jalan sepanjang HCMC-Moc Bai yang kiri kanan dihiasi sawah menguning (menjelaskan kenapa Viet Nam adalah lumbung padi Asia Tenggara), pemandangan sepanjang Bavet-Phnom Penh lebih banyak berupa hamparan tanah kosong tidak produktif yang terhampar luas hingga ufuk horison. Saya gak tau ini emang karena bukan musim tanam atau gimana, tapi sejauh mata memandang jarang terlihat lahan yang dalam kondisi digarap. Cuma sesekali terlihat sapi-sapi kurus leyeh-leyeh di bekas ladang dan kubangan. Juga pohon lontar dimana-mana (saking banyaknya saya sempat mengira bus ini masuk wormhole dan keluar di NTT). Sepertinya memang Kamboja tidak memiliki sistem irigasi yang handal dan hanya mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Padahal ada sungai sebesar Sungai Mekong yang rasanya debit airnya sangat mencukupi jika didistribusikan ke lahan pertanian di seluruh negeri.

Speaking of Sungai Mekong, hingga beberapa bulan lalu jalur perjalanan dari HCMC menuju Phnom Penh harus menggunakan kapal ferry untuk menyeberangi salah satu sungai terpanjang (dan terlebar) di Asia ini. Tapi pas saya ke sana ternyata jembatan yang menghubungkan dua wilayah yang terpisah oleh Sungai Mekong telah dioperasikan. Masih brand new dan kinyis-kinyis. Juga masih menjadi objek foto-foto paling hype di sana, terlihat dari banyaknya warga yang memarkir motornya di Jembatan dan ber-selfie ria, meskipun pas tengah hari bolong.

About to cross Cambodian Golden Gate

About to cross Cambodian Golden Gate

The majestic Mekong River from the bridge

The majestic Mekong River from the bridge

Terminal bayangan di Phnom Penh. 11-12 sama Kampung Melayu

Terminal bayangan di Phnom Penh. 11-12 sama Kampung Melayu

Karena diselingi berhenti makan siang dan insiden 2 bule kere yang ogah rugi ngurus VoA sendiri, lama perjalanan dari HCMC ke Phnom Penh molor jadi tujuh jam. Sekitar pukul 15 bus tiba di pemberhentian akhir, semacam pool untuk bus-bus dari PO Sorya Transport, perusahaan bus yang saya tumpangi. Saya yang memang tidak berniat menghabiskan malam di kota Phnom Penh harus menunggu sekitar 1 jam untuk menunggu kedatangan bus yang akan membawa saya ke Siem Reap. Agak menyesal waktu itu tidak mengaktifkan roaming data karena setelah dicek di Google Maps ternyata lokasinya tepat di pusat kota dan deket banget sama Phnom Penh Central Market. Lumayan padahal satu jam bisa ngelayap sebentar. Akibat buta orientasi arah, saya terpaksa cuma nongkrong di sekitaran terminal sambil mengamati keseharian penduduk di sana. Salah satu hal yang cukup ekstrem waktu melihat kulkas dua pintu (!) dimasukin ke dalam bagasi bus :D Di minimarket dekat terminal mendapati beberapa produk Indonesia dijual dan akhirnya beli teh botol Sosro + biskuit produksi Mayora buat teman perjalanan. Lumayan, daripada sepanjang jalan makanin sate nanas (cuma nanas biasa yang ditusuk pake bambu tipis) terus-terusan, atau ngemil biji teratai yang saya ga berani cobain.

Ini makannya gimana?

Ini makannya gimana?

Ketika bus mulai berjalan meninggalkan Phnom Penh, saya sudah sadar kalo paling cepet nyampe ke Siem Reap mungkin pukul 10-an. Tapi ternyata dugaan itu kembali meleset :p Dalam perjalanan Phnom Penh-Siem Reap, bus sekali terhenti rombongan pejabat Kamboja yang mau lewat, dua kali berhenti untuk makan, dan berkali-kali tertahan karena kondisi jalan yang suram abis. Berbeda dengan bus HCMC-Phnom Penh yang didominasi turis, bus Phnom Penh lebih banyak diisi warga lokal. Turis asing hanya segelintir. Tentu saja hal itu membuat suasana di dalam bus lebih rame dan jauh lebih semerbak karena bawaan penumpang yang eksotis (ada yang bawa ikan asin satu keranjang hahaha). Meskipun rute dari Phnom Penh ke Siem Reap mengambil jalan yang berlabel “National Highway No. 6”, pada kenyataannya tidak seperti jalan bebas hambatan (jalan tol) yang biasa ditemui di Indonesia. Pada dasarnya ini hanya jalan nasional biasa, semacam jalur Pantura, dengan lajur yang tak terlalu besar tanpa adanya median jalan. Bahkan di sebagian ruas jalan masih berupa tanah merah yang belum diaspal dan harus dilewati secara bergantian. Juga sama sekali tidak ada penerangan jalan umum. Semua cahaya di sepanjang jalan hanya berasal dari lampu kendaraan dan rumah-rumah penduduk.

Ada yang cukup unik ketika malam tiba di jalur antara Phnom Penh dan Siem Reap. Puluhan lampu neon yang berpijar terang nampak ditegakkan di halaman rumah-rumah dan dikitari jaring semacam kelambu. Saya menduga itu untuk menjaring serangga malam untuk kemudian dijual sebagai snack bercitarasa eksotis. Tapi ini banyak banget sehingga kayaknya juga untuk diekspor ke negara tetangga (atau mungkin juga buat dikonsumsi sendiri). Warga Kamboja secara fisik mirip banget dengan orang Indonesia, dan, menurut pendapat subjektif saya, lebih ramah daripada orang Viet Nam. Penguasaan bahasa Inggris mereka pun rata-rata lebih bagus, dengan logat yang gak terlalu medok. Meskipun, memang, secara kondisi ekonomi, warga Kamboja setingkat di bawah warga Viet Nam.

Bus dari Phnom Penh akhirnya tiba di Siem Reap pada pukul 23.30. Total perjalanan dari HCMC ke Siem Reap ternyata mencapai hampir 16 jam! Beberapa hal yang bikin perjalanan jadi molor sedemikian rupa adalah kondisi jalanan di sana yang cukup mengenaskan, bus yang beberapa kali berhenti buat cari makan (padahal yang makan cuma dikit), dan beberapa kali nurunin penumpang (yang bawaannya seabrek-abrek) di tengah jalan. Yang bikin ngeselin emang pas rehat buat makan itu. Pertama karena sebenernya ga penting-penting amat turun makan sampe 2 kali, trus juga karena ga ada yang bisa dimakan (sama saya) di sana. Karena merasa tidak yakin dengan menu dalam tulisan Khmer yang seolah semuanya bertuliskan “Mengandung Babi”, terpaksa saya mengurungkan niat untuk mengisi perut. Lagipula, di Kamboja transaksi lebih banyak pake dollar ketimbang riel. Eman-eman..

Cukup satu setengah hari di Siem Reap dan saya pun bertolak menuju Bangkok. Melintas batas lagi. Bedanya dengan pas HCMC-Phnom Penh-Siem Reap, perjalanan dari Siem Reap ke Bangkok tidak sepenuhnya menggunakan bus karena setelah memasuki teritori Thailand di Aranyaprathet, penumpang menuju Bangkok akan dibawa dengan menggunakan minivan sejenis dengan mobil-mobil travel shuttle Jakarta-Bandung. Dari Siem Reap menuju Poi Pet, kota terakhir Kamboja sebelum memasuki Thailand, memakan waktu sekitar 3 jam dengan kondisi jalanan yang lurus terus menerus dan berkualitas jauh lebih baik daripada jalur Phnom Penh-Siem Reap. Aspal hotmix mulus sepanjang jalan, dengan pemandangan yang (kembali) didominasi lahan tak produktif, sapi-sapi kurus yang sedang merumput, dan pohon lontar dimana-mana.

Another ticket to ride

Another ticket to ride

Kantor imigrasi Kamboja di Poi Pet bentuknya kayak loket puskesmas, bertempat di bangunan semenjana di tepi jalan. Meskipun begitu, proses pengambilan data biometrik di sini komplit abis. Semua sidik jari di setiap jari di tangan dipindai, bahkan lebih komprehensif dari prosedur imigrasi di Moc Bai dan  Aranyaprathet. Kebetulan saya bertemu dengan sesama pejalan solo asal Indonesia di sini dan sempat ngobrol-ngobrol gak penting tentang kondisi di sini. Termasuk tentang kenapa setelah lewat perbatasan harus berganti moda transportasi. Jawabnya ada di ujung langit kita ke sana dengan seorang anak adalah (setidaknya yang bisa kami simpulkan): karena Thailand dan Kamboja menganut dua sistem kemudi yang berbeda. Kamboja setir kiri, Thailand setir kanan. Kalo dipaksain pake kendaraan yang sama dengan yang ditumpangi dari Kamboja begitu masuk jalanan Thailand yang ada supirnya kagok :D Diskusi ga penting (tapi menurut saya ini penting) lainnya adalah kenapa turis-turis bule ini lebih milih negara-negara macam Viet Nam-Kamboja-Thailand ketimbang Indonesia sebagai tempat berwisata. Teman baru saya ini berpendapat kalo ini lebih ke soal kepraktisan dari sisi geografis: karena Indonesia tidak berada di mainland Asia Tenggara. Jadi ongkosnya jatuhnya lebih mahal. Sedangkan saya mikirnya karena Indonesia kurang ‘eksotis’, dalam pengertian Indonesia mayoritas penduduknya muslim, bukan Buddha yang kadung dianggap sebagai “agama Timur yang eksotis”. Mereka, si bule-bule ini, pergi berlibur ke Asia pengen melihat sesuatu yang mereka anggap berciri ketimuran, dan Islam sepertinya tidak masuk hitungan (ini juga menjelaskan kenapa Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, menjadi tujuan wisata utama di Indonesia). Ngobrol ngalor ngidul yang lumayan mencerahkan.

IMG_20150515_122604935_HDR

Meskipun kayak warung remang-remang, tapi imigrasi Kamboja di Poi Pet ini menerapkan sistem identifikasi full biometric. *don’t judge a book by its cover*

ASEAN 10 Community di tengah kegersangan

ASEAN 10 Community di tengah kegersangan

10 langkahan kaki menuju Thailand

500 meter menuju Thailand

Welcome to Thailand

Welcome to Thailand (ngambilnya dari jauh takut ditangkep kalo moto pas di imigrasinya :p)

Hanya berjalan sekitar 100 meter melintasi jembatan kecil sampailah saya di kantor imigrasi Thailand. Di kantor imigrasi Aranyaprathet ini saya baru tersadar kalo selama perjalanan melintas batas darat dari Viet Nam ke Kamboja dan Kamboja ke Thailand ini sama sekali gak pernah ada pemeriksaan barang bawaan pake mesin X-ray! Bebas aja gitu melenggang kangkung masuk negara orang bawa bawaan apapun. Padahal bisa jadi ada yang bawa narkoba, mayat, budak belian, dan barang-barang haram lainnya. Bukannya negara-negara ini masuk daftar hitam penyelundupan narkoba dunia ya? Juga (mungkin) human trafficking asal Kamboja ke Thailand mencari penghidupan yang lebih baik?

Terlepas dari hal itu, pelayanan imigrasi di Thailand terhitung cepat dan efisien (dan AC-nya adem :D). Selama perjalanan dari Aranyaprathet ke Bangkok, terlihat hampir semua kendaraan besar sejenis truk sudah menggunakan gas sebagai bahan bakarnya. Juga dengan mobil-mobil yang lebih kecil, hampir semuanya tidak lagi menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Thailand rupanya sudah beberapa langkah lebih maju dalam hal pemanfaatan energi terbarukan, sedangkan NKRI yang justru punya sumber daya alam gas yang melimpah malah… yagitudeh. Serupa seperti di Kamboja dan Viet Nam, jalan yang ditempuh menuju Bangkok mayoritas masih berupa jalan nasional biasa, bukan jalan tol. Minivan baru masuk jalan tol setelah melewati area sekitar Bandara Suvarnabhumi. Meskipun demikian, kondisi jalan sangat ciamik dan memungkinkan kendaraan untuk dipacu kencang layaknya di jalan tol Indonesia.

Sebuah perjalanan, mau sendiri atau rame-rame, selalu memberikan kesan dan pelajaran tersendiri buat saya. Apalagi karena emang udah bawaan dari sononya selalu susah tidur selama perjalanan dan sukanya menengok ke luar jendela terus. Berlibur sendirian ternyata tidak seburuk yang tadinya saya bayangkan (meskipun orang lain tetap beranggapan seburuk yang mereka bayangkan). Karena dari perjalanan ini saya juga tersadar: melintas batas kemampuan diri sendiri terkadang lebih besar maknanya dari sekadar melintasi batas geografis :)

 

*bisa aja dah ngepas-pasinnya*

Advertisements

5 thoughts on “Melintas Batas

  1. Mas wisnu dines di kementrian opo toh?

    Baidewei ini salah satu blog yg paling gw demen bacanya secara gaya penulisannya gothic absurd halusinogenia (gokil)

    #ForzaSulleyMuntari

      • Hahaha siapp, ndak setiap saat saya nemu yg sama2 aparatur negara sama2 di bekasi dan sama2 milanisti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s