Jumatan di Masjid Niujie

Beijing, 27 Maret 2015

Hari itu hari Jumat, hari terakhir lawatan RI-1 ke Beijing, RRT. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 GMT+8. Kalo di Jakarta ini udah waktunya keluar dari tempat kerja menuju masjid buat jumatan. Tapi ini lagi +/- 4700 km di utara Jakarta. Adzan dzuhur di sini pun masih pukul 12.22 WB (Waktu Beijing). Dapat kabar bahwa di hotel tempat rombongan RI-1 menginap bakal diadain shalat jumat, meminjam salah satu ruangan, dengan imam dan khatib orang Indonesia tentunya. Cih, masa jauh-jauh ke sini jumatannya rasa Indonesia juga? Meskipun shalatnya bakalan sama presiden sekalipun, rasanya sayang banget kalo gak dipake buat ngerasain pengalaman ibadah bareng sama warga setempat. Kesempatan free time terbebas dari kerjaan ini akhirnya membulatkan tekad saya buat kelayapan secara syar’i untuk menuju Masjid Niujie, masjid tertua di ibukota Tiongkok.

Bisa dibilang ini masjid tertua yang pernah saya kunjungi. Masjid Niujie didirikan pertama kali pada tahun 996 M! 300-an tahun setelah kehadiran Rasulullah SAW. Tahun segitu leluhur saya mungkin masih pada nyembah pohon kali. Sempat hancur karena serbuan pasukan Genghis Khan, masjid ini kemudian dibangun kembali pada masa Dinasti Ming, dan mampu melewati masa-masa kelam Revolusi Kebudayaan untuk bisa bertahan hingga sekarang. Di Indonesia pun rasanya gak ada masjid yang setua dan sebanding dengan nilai historis Masjid Niujie ini mengingat Islam baru masuk Nusantara abad 13-an. #cmiiw

Menuju Masjid Niujie dengan ngeteng naik kendaraan umum sebenernya gampang-gampang susah. Lokasinya masih tergolong di pusat kota (Niujie Rd), letaknya pas di pinggir jalan, tapi aksesnya dari stasiun MRT terdekat yang rada jauh. Ada dua Stasiun Beijing MRT yang paling berdekatan dengan masjid ini: Changchunjie (Line 2) dan Caishikou (Line 4). Kalo dari Changchunjie, Masjid Niujie tinggal lurus aja ke arah selatan sekitar 1,5 km dan  masjidnya akan keliatan di sisi kiri jalan, sedangkan kalo dari Caishikou tinggal keluar dari exit yang mengarah ke Guanganmen Inner St. lalu belok kiri mengikuti Niujie Rd. Jaraknya kira-kira sama dengan rute pertama. Pada dasarnya selalu ada opsi untuk naik bus dari stasiun MRT ke masjid tersebut (terutama rute Changchunjie yang tinggal lurus doang), namun mengingat ini Tiongkok, di mana 90% penduduknya gak bisa bahasa Inggris dan saya juga gak tau sistem per-bus-an di Beijing kayak gimana, akhirnya saya memilih opsi praktis nan murah tapi gempor: jalan kaki. Untungnya waktu itu hawa Beijing masih basian winter menuju spring, jadi jalan kaki sejauh apa pun rasanya nyaman-nyaman aja dan tidak membuat deodoran bekerja ekstra keras.

Baik turun di Changchunjie atau Caishikou dan dilanjut jalan kaki sama aja jauhnya. Tapi rute Changchunjie lebih banyak pemandangan dan suasananya lebih dinamis. Rute Caishikou berasa kayak jalan kaki di trotoar Gatsu.

Kebetulan pas ke sana saya nyoba kedua rute tersebut *emang kurang kerjaan*. Berangkat buat jumatan di Niujie pake rute pertama. Naik MRT dari stasiun terdekat dari hotel, Stasiun Jianguomen, menuju Stasiun Changchunjie yang kebetulan sama-sama di Line 2. Tiket Beijing MRT untuk semua destinasi sekali jaan 4 yuan dan bisa dibeli melalui self service ticketing machine yang ada di semua stasiun. Dari situ tinggal keluar dan jalan kaki menuju arah selatan sampe ketemu ini:

Ini bukan kelenteng. Ini bagian depannya Masjid Niujie  :)

Begitu memasuki Niujie Rd. atmosfer Islami sudah mulai terasa. Banyak toko-toko yang memiliki papan nama bilingual: dalam bahasa Mandarin dan Arab. Supermarket halal ada di beberapa titik, dan penjual makanan berbahan dasar lamb dan mutton tersebar sepanjang jalan. Tidak susah mengidentifikasi keberadaan Masjid Niujie. Akan banyak kerumunan orang yang berkumpul di satu titik dan ada banyak penjagaan polisi juga. Entah ini hanya terjadi setiap hari Jumat saja atau memang setiap hari. Kurang nyaman juga ngeliat penjagaan ketat dan polisi yang berjumlah cukup banyak nongkrong di sana. Tapi mungkin bisa dimaklumi kalo mengingat setiap jumat akan ada konsentrasi umat Islam asal Xinjiang (Uighurstan) yang rawan isu separatisme ngumpul di sini.

IMG_20150327_140840864_HDR

Masuk ke dalam

IMG_20150327_140646885_HDR

Lebih dalam…

Batas suci.

Batas suci.

IMG_20150327_123627625_HDR

Karpet tambahannya belom pada digelar. Benda putih di sebelah kanan itu nampaknya adalah jam matahari, mungkin buat nentuin waktu shalat (tapi saya ga ngerti bacanya gimana)

IMG_20150327_123354971_HDR

Jadi inget menara Masjid Kudus

Saya tiba di Niujie sekitar pukul 12.15. Awalnya kebingungan nyari tempat wudhu, tapi begitu melihat semua jamah tidak ada yang bertelanjang kaki akhirnya jadi ikutan tayamum doang dan pake kaos kaki untuk shalat. Tidak beberapa lama dikumandangkan adzan dengan pelafalan logat Cina Tiongkok yang medok. Saya tadinya mikir bakalan sama prosesinya kayak di tanah air: 1) khotbah pertama 15-20 menitan, 2) khotbah kedua + doa 5 menitan, 3) shalat jumat 2 rakaat. Ternyata beda. Sehabis adzan, ternyata ada semacam tadarusan: masing-masing jamaah di shaf terdepan (ini kayaknya dedengkot-dedengkotnya) membacakan surah-surah pendek Juz ‘Amma secara  bergantian. Terkadang diselingi juga anak kecil yang membacakannya dengan tajwid ala kadarnya.

Dan itu lama….

Mungkin sekitar 45 menit tadarusan baru nongol sang khatib yang kemudian langsung membawakan khotbah dengan menggebu-gebu dan penuh semangat ’49 (tahun revolusi pembentukan RRT -red.) dalam bahasa Mandarin.

"Sidang Jum'ah yang berbahagia..."

“Sidang Jum’ah yang berbahagia…”

Si khotib pertama ini pun cukup lama membawakan materinya. Ada kali setengah jam sendiri. Begitu udahan, saya kaget. KOK JAMA’AH PADA BERDIRI YA?? Awalnya saya pikir ini udah waktunya shalat jumat ‘beneran’ jadi ikutan pasang kuda-kuda. Tapi ini ga ada iqomat dan titah dari sang imam yang biasanya berbunyi: “rapatkan dan luruskan shaf-nya” (dalam bahasa Mandarin pastinya, yang tentu saja saya tidak paham). Rupanya orang-orang ini tengah menunaikan shalat sunah 4 raka’at (entah apa) di antara dua khotbah. Belum pernah ngeliat ini di tempat lain sih. Memang benar kata pepatah, lain lubuk lain ilalang (atau belalang ya?)…

Setelah pada duduk kembali, muncullah sang khatib yang satunya lagi. Semacam tag team gitu, karena biasanya kalo di Indonesia khotah pertama dan kedua dibawakan oleh orang yang sama. Ekspektasi awal khotbahnya singkat dong, cuma formalitas doang dan dilanjut doa menjelang dimulainya shalat jumat. Tapi ini beda. Ini makan waktu juga, dan kali ini semua materi khutbah (juga doa-doanya tentu) dibawakan dalam bahasa Arab. Ciamik tenan para sesepuh muslim Tiongkok ini, bilingual semua :)

"...demikian khutbah yang singkat ini..."

“…demikian khutbah yang singkat ini…” ((( SINGKAT )))

Akhirnya baru sekitar pukul 14.15 shalat jumatnya resmi dimulai dengan takbiratul ihram. Jumatan dengan durasi terlama yang pernah saya ikuti sebagai makmum (yakali gua pernah jadi imam shalat jumat..) :D Sekitar pukul 14.30, jamaah mulai keluar satu persatu dari Masjid Niujie menuju tempat aktivitasnya kembali. Dari pengamatan sekilas, cukup banyak wajah-wajah Kaukasoid  yang ikut dalam jumatan kali ini. Saya menduga itu dari korps diplomatik negara-negara Asia Tengah yang mayoritas beragama Islam, mengingat pakaiannya pada resmi berjas semua gitu. Tampang Asia Selatan dan Timur Tengah juga ada segelintir. Muka Melayu cuma 1-2, itu pun orang Malaysia (ketahuan dari logatnya). Sisanya adalah muka-muka Mongoloid yang tidak bisa saya bedakan mana etnis Han, Hui, Uighur, atau lainnya.

IMG_20150327_140456519

Bubaran jumatan #1 feat. bapak-bapak pose pengen pipis membelakangi kamera

IMG_20150327_123932261

Bubaran jumatan #2 feat. bapak-bapak fotogenic sadar kamera

IMG_20150327_140519773_HDR

Bubaran jumatan #3 feat. jamaah masbuk

Total ditambah perjalanan pergi pulang saya menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam buat numpang jumatan di Masjid Niujie :D Cukup impresif mengingat kalo di tanah air di atas satu jam (atau bahkan 45 menit) udah bisa bikin para jamaah blingsatan. Mungkin di sini orang-orang pada makan siang dulu baru jumatan. Sedikit menjelaskan kenapa kios-kios makanan halal di sepanjang Niujie Rd. rame banget menjelang siang (dan makanannya udah pada abis pas bubaran jumatan). Alhasil karena melewatkan waktu makan siang, pas perjalanan pulang menuju hotel langkah kaki terasa berat dan rada sempoyongan hehe.. (sampe hampir salah naik line MRT segala). Belakangan saya baru tau kalo Masjid Niujie ini juga jadi salah satu lokasi suting film Assalamualaikum Beijing yang cukup populer baru-baru ini. Lumayan lah, bisa menjejakkan kaki di salah satu ikon wisata Beijing yang belum begitu populer. Jadi jika berkesempatan ke Beijing, selain Forbidden City, Tiannanmen Square, Temple of Heaven, Bird Nest Stadium, atau Great Wall, sempatkan juga mampir ke Masjid Niujie ini. Tempat yang kaya nilai historis, memuaskan secara estetika, dan terbuka untuk semua golongan (untuk teman-teman yang tidak beragama Islam mungkin sebatas pelataran masjidnya saja).

0:43 & 2:22. Been there, done that.

Advertisements

2 thoughts on “Jumatan di Masjid Niujie

  1. bagus banget masjidnya. btw, soal penjagaan polisi itu mungkin jd ngerasain ya kalo sodara2 kita yg Kristen mau misa Natal pake penjagaan Brimob dan Gegana segala. :|

    • Kesan pertama juga gitu: jadi inget gereja2 yg dijagain polisi tiap malam natal. Tapi curiganya di sana semua tempat ibadah emang diawasi polisi gini, secara negara komunis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s