The Great (Fire)Wall of China

Empat hari di Republik Rakyat Tiongkok membuat saya tersadar kalo ciri utama pemerintahan yang menganut asas komunisme ternyata bukan antipatinya terhadap agama. Kebalikan dari persepsi umum di Indonesia yang mengidentikkan komunisme dengan atheisme, di Tiongkok (lebih tepatnya: Beijing) ternyata cukup mudah dijumpai tempat ibadah berbagai agama, dan hampir semuanya berfungsi dengan normal. Masjid, gereja, atau kuil bukan sesuatu yang haram didirikan dan para penganut agama di sana pun bebas menjalani ibadah (meski mungkin ada penjagaan dari aparat). Seakan tidak terlihat ada perbedaan signifikan antara sebuah negara komunis dan negara ‘normal’. Tapi semua itu berubah ketika saya mencoba mengakses internet di sana.

Di Tiongkok rupanya tidak dikenal istilah “googling”.

Bayangkan situasi ini: sebelum berangkat ke Tiongkok, semua file penting telah diunggah ke Dropbox dan Google Drive. Kalo pun ada yang kelewatan, jejak-jejaknya masih bisa dicari di tumpukan attachment di inbox Gmail, juga histori korespondensi via email yang sewaktu-waktu bisa dibutuhkan. Terus kalo ada beberapa bahan penting dalam bahasa Inggris yang harus dibuat on the spot, Google Translate (seharusnya) selalu bisa diandalkan. Buat modal navigasi dan nyari-nyari alamat selama di sana juga tinggal pake Google Maps. Semua mengandalkan layanan Google Sang Maha Pemurah dan Tahu Segala.

Lalu tiba-tiba semuanya terblokir tidak bisa diakses di sana.

Ini cukup mengejutkan karena dari yang saya tau sebelumnya cuma situs-situs medsos macam Twitter dan Facebook yang diblokir oleh pemerintah Tiongkok. Tidak terpikir kalo situs tempat menggantungkan hajat hidup orang banyak seperti Google dan beragam layanannya juga diblok. Pun demikian dengan situs cloud storage macam Dropbox. Yang paling esensial dengan kerjaan saya tentunya perkara Gmail yang gak bisa dibuka. Jalur komunikasi jadi tersendat dan arsip-arsip convo penting dalam email jadi tertutup aksesnya. Tapi anehnya, situs-situs Microsoft hampir semua bisa diakses dengan normal di sana. Walhasil selama di Beijing saya harus mengandalkan Bing buat googling (eh gimana?). Juga terpaksa menggunakan Bing Translator dan Bing Maps yang semuanya menyajikan hasil bak bumi dan langit dengan kualitas layanan produk-produk Google. Bill Gates kayaknya harus dikasih tau kalo produk-produk internetnya butut dan cuma jadi pilihan kalo dalam kondisi terpaksa.

Bing sucks! (there i said it) #TeamGoogle

Pemblokiran, atau dalam bahasa yang lebih halus: penyaringan, informasi mungkin jadi fitur utama di setiap negara sosialis-komunis. Contoh paling ekstrem tentunya adalah apa yang terjadi di Republik Rakyat Demokratik Korea a.k.a. Korea Utara. Juga di Kuba dan (mungkin) Vietnam. Ekspektasi awal saya dunia perinternetan Tiongkok tidak setertutup rekan-rekan sejawatnya, namun rupanya ekspektasi saya masih ketinggian. Untuk bisa menggunakan internet dengan ‘normal’ di RRT, seseorang atau suatu lembaga harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk berlangganan jasa VPN yang menjamur di sana. Itu pun terkadang koneksi ke ‘dunia luar’ masih suka putus nyambung. Ini sepertinya praktik umum di sana dan sedikit memantik rasa penasaran saya: kalo penggunaan VPN ini sudah sebegitu lumrah, apakah hal ini tergolong tindakan ilegal yang melanggar hukum? Kalo internet diblokir tapi penyedia jasa VPN melimpah ruah (dan tidak ada sanksi bagi penyedia dan pengguna jasa), what’s the point of pemblokiran? Entahlah.

Yang bikin tambah nyebelin, jasa VPN yang biasa saya pake di Indonesia dan telah terinstal di hape & laptop (Tunnel Bear dan Zenmate) ternyata juga tidak bisa dipake di Tiongkok :D Satu-satunya cara untuk bisa menikmati kebebasan berselancar di dunia maya selayaknya di Indonesia hanya dengan menggunakan jaringan hasil tethering operator GSM Indonesia yang telah aktif layanan data roaming internasionalnya. Selebihnya, jika hanya bertumpu pada wifi hotel atau jaringan SIM card operator sana, ucapkanlah selamat tinggal untuk sementara pada gegap gempita media sosial :). Twitter, Facebook, Instagram, WordPress, Blogspot, Tumblr, Youtube, Google+ semuanya diblok. Saya gak tau kalo Path karena emang ga punya, tapi kalo Ask.fm masih bisa dibuka pake jaringan sana. Swarm dan Foursquare juga masih bisa diakses.

Mungkin ada sisi baiknya juga banyak situs media sosial yang diblokir begitu. Warga Tiongkok jadi berkurang derajat kekepoan dan narsisnya *padahal mah tetep di Weibo kali* Juga bisa lebih fokus ke kerjaan dan waktunya gak tersita banyak untuk mantengin media sosial. Atau bisa juga maksudnya untuk mengurangi derajat kekepoan dan (terutama) narsisme juga hasrat menggebu untuk pamer milik turis-turis NKRI yang berkunjung ke sana hehe.. Yang pasti, pengalaman merasakan sendiri bagaimana negara bisa mengatur asupan informasi yang bisa diterima rakyatnya ini cukup membuka mata. Baru berasa kalo pemblokiran situs (yang berguna) emang bisa bikin senewen. Cukuplah Kementerian Kominfo stick with their internet positif atau apalah itu namanya yang cuma buat ngeblokir situs bokep, situs pendukung terorisme, ISIS, dan sebangsanya. Jangan sampe tiba-tiba Google diblok karena dianggap “menumbuhkan rasa ingin tahu dan mendorong masyarakat jadi berpikiran liberal”.. :)

…or worse: Google diblok, dan segenap tumpah darah Indonesia diwajibkan pake Bing.

Advertisements

2 thoughts on “The Great (Fire)Wall of China

  1. gue dulu ke Beijing 2010 kok bisa ngetwit ya? lupa apakah waktu itu blm diblokir atau hotelnya bisa lolos. yg jelas sih FB diblokir, tp Redtube enggak. asikkk. *eh lho

    • Bisa jadi hotelnya langganan VPN. Saya roaming data pake nomor 3/Indosat juga masih bisa ngetwit sih, cuma ga ngaktifin di semua hari pas lagi ada di sana.. *mahal* *curcol*

      Wooo, redtube ga diblok ya? Bagaimana dengan tube8?? *loh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s