Whiplash (2014)

Selama ini saya selalu menganggap La Vita e Bella (Life Is Beautiful) (1997) sebagai film terbaik dalam urusan bercerita tentang father-son relation. Namun, Whiplash yang baru hari ini saya tonton (cukup telat memang) ternyata juga tidak kalah mengesankannya dibanding Life Is Beautiful. Bahkan bisa dibilang lebih: karena dalam Whiplash terdapat dua kisah father-son relation. Atau lebih tepatnya: satu kisah father-son relation dan satu kisah ‘father-son’ relation.

Cerita tentang pasang surut hubungan antara Andrew Neiman (diperankan oleh Miles Teller) dan ayah kandungnya memang hanya menjadi sub-plot di film ini, namun tidak menjadikannya sebagai alur cerita minor yang layak dilupakan. Kisah tentang bagaimana seorang ayah yang meskipun kurang sreg dengan pilihan hidup anaknya sebagai musisi namun selalu berusaha suportif di setiap kesempatan ini buat saya cukup menyentuh dan tak kalah memorable dibanding kisah Roberto Benigni dan anaknya yang menjadi cerita utama di Life Is Beautiful.

Namun tentu, yang menjadi pusat perhatian di film ini adalah bagaimana hubungan antara Andrew Neiman dan ‘ayah’-nya di lingkungan akademis, yaitu dosen musik super killer bernama Terrence Fletcher yang dimainkan dengan sempurna oleh J.K. Simmons. Simmons bahkan diganjar Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik berkat aktingnya di Whiplash ini. Sebuah penghargaan yang sangat sangat layak karena sejak akting Christoph Waltz sebagai Kolonel Hans Landa di Inglourious Basterds rasanya tidak ada lagi aktor pemeran pendukung film Hollywood yang berakting sebaik (dan sesadis) Simmons.

Pasang surut dalam hubungan antara Neiman dan Fletcher ini jauh lebih dinamis dan mendominasi dibandingkan Neiman dan ayah kandungnya sendiri. Bahkan, saking dinamisnya, nonton Whiplash berasa seperti nonton film thriller. Kebengisan Fletcher dalam memimpin band jazz andalan Shaffer Conservatory membuatnya menjadi villain utama dalam film dan musuh bersama para penonton. Bahkan ketika penonton seolah telah diajak percaya kalau seorang Fletcher telah tobat dari sifat iblisnya itu, ia seakan membanting imaji tersebut untuk hancur berkeping-keping di penghujung film. *ups spoiler :p*

Sebagai suatu tontonan yang berlabel nomine Film Terbaik Oscar, Whiplash tergolong cukup ringan dan sangat mudah dinikmati, bahkan untuk orang yang buta nada sekalipun (kayak saya huhuhu). Menonton Whiplash mungkin sensasinya akan sama kayak mennton Tabula Rasa: meningkatkan kembali awareness dan sensitivitas kita terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang “sehari-hari” dan biasa banget. Jika di Tabula Rasa objeknya adalah masakan (Padang), di Whiplash objeknya adalah musik (jazz). Minimal persepsi saya bahwa lagu jazz itu tak lebih cuma sebuah hasil dari suatu jam session yang tak terstruktur dan lebih mengandalkan spontanitas kini jadi termentahkan. Jazz itu ternyata (sangat) serius! Setiap alat musik memiliki peran besarnya masing-masing dalam membangun struktur sebuah lagu, dan drummer, bapak ibu sekalian, drummer itu perannya juga sangat penting dalam mengisi rhythm. Dan solo drum itu ternyata bisa seciamik permainan solo guitar yang udah kadung mainstream, seperti yang ditunjukkan si Andrew di 10 menit terakhir film (yang sukses membuat satu teater hening sesenyap-senyapnya). Mungkin karena selama ini cuma pernah denger permainan solo drumnya Jelly Tobing (jiaah #lawas..) yang rada old-school haha. Pokoknya pas keluar dari teater pasti bawaannya langsung jadi audiophile wannabe gitu hahaha

*sembah*

Whiplash mungkin akan jadi satu-satunya film musikal favorit saya. Selama ini genre tersebut seakan terlalu didominasi dan diidentikkan dengan film-film seperti Moulin Rouge, Chicago, atau Dreamgirls yang sama sekali gak menarik minat saya buat ditonton. Sempat ada film-film macam August Rush atau School of Rock, tapi belum ada yang eksekusinya sekeren (dan sesederhana) Whiplash ini. Basian nonton Whiplash mungkin juga bakal sama layaknya basian nonton Guardians of the Galaxy: langsung menjadikan lagu-lagu dalam OST film tersebut sebagai playlist utama untuk minimal seminggu ke depan :)) Mungkin jika ada satu-satunya kekurangan Whiplash adalah seperti yang telah tersebut dalam ulasan yang terpajang di poster resmi film ini: “Whiplash’ will have audience cheering and begging for an encore“. Yep, an encore would be perfect to bring an end to this movie *kentang sih, semacam coitus interruptus* :))  Selebihnya gak ada kekurangan dari Whiplash. 4.5/5. Very recommended.

P.S.: Satu quote dari Terrence Fletcher di dalam film ini nampaknya akan menjadi salah satu quote film legendaris. Sayangnya, quote yang kalo direnungi memang layak mendapat pembenaran itu otomatis membuat alm. Pak Tino Sidin seolah jadi the biggest asshole in the world huhu.

Advertisements

3 thoughts on “Whiplash (2014)

  1. sebagai sesama tuna nada, gue jg nggak ngerti kenapa Terrence marah bgt waktu Andrew nggak tepat tempo. “Are you a dragger or a pusher?” hey, buat kuping gue, dia udah bener. 😄😄

  2. Pingback: “Ter-” 2015 | kehendakbaru[dot]wordpress[dot]com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s