Nostalgia Musika Dahulu Kala

Jon Secada – If You Go

Pulang dari sekolah, langsung nonton Supermarket Sweep buat ngeliat kalkun-kalkun beku yang mahal itu diangkut ke troli. Dana Iswara dan Buletin Siang-nya sebelumnya telah menyapa. Tidur siang bentaran biar sore nanti bisa main dan nonton The Simpsons. Sebelum beranjak tiba-tiba ada video klip lagu ini. Ini Romario Faria? Yang abis menang Piala Dunia itu?? Tapi kayaknya bukan. Lumayan penyegaran nih, biasanya cuma ada video All 4 One yang I Swear atau Bon Jovi-Always. Tapi saya gak ngerti arti lagunya. Kenapa dia lari-lari terus? Kenapa nyanyinya ngotot? Kenapa gak bikin lagu yang mudah dicerna kayak Tiffany-If Love Is Blind? Lagu barat emang aneh.. Mendingan Album Minggu kemana-mana… Ada Manis Manja Grup dan Santa Hoki yang lagi naik daun. Udah ah, tidur dulu. Ntar malem baru ngerjain LKS Kunti (Tekun dan Teliti) sambil disambi nonton Layar Emas. Katanya filmnya bagus: The Bodyguard From Beijing.

Natalie Imbruglia – Torn

Di parkiran — sekaligus lapangan — sekolah. Nongkrong (literally) bareng sambil makan cilok dan batagor di kemasan plastik biar bumbu kacangnya bisa diseruput jelang penghabisan. Lengkap dengan celana pendek biru yang kerap ditarik-tarik biar menutupi dengkul. Temen ada yang pamer motor barunya: Yamaha F1ZR biru. Keren euy! Di saat yang lain cuma bawa Suzuki Tornado GS/GX atau Kawasaki Kaze R atau paling banter Honda Grand Astrea punya bokap (Supra belum keluar). Saya aja sepeda gak punya *loh kok curcol* Suasana abis ujian cawu 2, lagi class meeting. Rame. Tiba-tiba dari speaker butut yang biasa muterin lagu SKJ ’96 tiap jumat terdengar lagu ini. Ini pasti kakak kelas gaul yang lagi show off selera musik dia. Ini katanya penyanyi baru dari Australia. Konon pacarnya vokalis Silverchair. Lagunya bagus. Penyegaran, soalnya bosen liat/denger Nadila nyanyi Salahkan Aku mulu. Mencoba ngikutin liriknya meski dengan kemampuan english yang pas-pasan sampe kalimat “… lying naked on the floor”. Lalu ada yang nanya: “ngapain dia bugil di ubin?”. Entahlah. Masih menjadi misteri. Makanya dijawab “Auk ah gelap!”. Dan tawa pun berderai.

Suede – Trash

Buatlah mixtape. Ambil kaset bekas yang masih layak putar, mungkin album Ria Enes + Susan atau Trio Kwek Kwek yang kini tak berguna. Timpa dengan lagu-lagu yang bisa didapat secara gratis dari radio. Request aja di Mustang, telepon ke sana pake telepon koin di warung sebelah. Pastikan suara penyiarnya gak ikutan kerekam (makanya kadang intronya sering kepotong). Mixtape-nya tematis dong! Lagu-lagu indies britpop ajah.. Track pertama Pulp – Disco 2000. Track 2 Supergrass – Alright. Track 3 The Wannadies – You and Me Song. Oasis ga usah, kita kan #TeamBlur.. *tsah* Nah jangan lupa masukin lagu ini nih.. Beautiful Ones kan udah mainstream tuh.. *bibit-bibit hipster telah tertanam sejak dini* Brett Anderson dkk (juga band-band ‘indies’ lainnya) emang bersuara sengau dan gak manly, tapi lagunya enak-enak. Ntar jangan lupa tambahin lagu-lagu The Cure, Inspiral Carpet, Ash, Catatonia, sama Lightning Seeds yak.. “Besok di kelas jam istirahat kedua tukeran sama kaset mixtape guah. Tenang, guah bawa walkman kok!” ujar seorang teman yang hobi pake topi mancing ala Reni  The Stone Roses.

The Mighty Mighty Bosstones – The Impression That I Get

“Bisa main trombone gak? Atau saxophone gitu? Biar bisa gabung jadi brass section” Halah, boro-boro mz.. Saya aja niup suling Yamaha cuma bisa bawain Ibu Kita Kartini dan Syukur. Itu pun dengan ludah bercucuran. Waktu itu tiba-tiba jadi banyak yang pake topi pet. Trus bawa-bawa peluit. Pulang sekolah pake baju Hawaii. Virus apa ini? Tiba-tiba juga teman sebangku jadi sering gambar pria-pria berjas lengkap dengan pose seperti lagi lari di bukunya. Kemudian motif kotak-kotak putih-item ada dimana-mana. Situ mau jadi pecalang? Atau pengibar chequered flag di garis finish sirkuit F1?? Lalu band-band lokal bernama obvious pun bermunculan: Skalie, Ketupat Skayur, Toska, dll. Why so obvious?? “Tapi  band ini lagunya enak-enak nu, dengerin deh” Bener juga sih. Lebih ngebas dan manly dibanding britpop :D Lalu kemudian diperdengarkan Less Than Jake, Save Ferris, Goldfinger, Buck-O-Nine, Kemuri (wuih.. Jepang nih!), The Specials, dll. Tapi.. tapi.. tapi.. lama-lama kok monoton yah di kuping saya. Semua terdengar sama. Mungkin saya tidak berbakat jadi rudeboys :(

Robbie Williams – It’s Only Us

Senin pagi. Sambil membentuk barisan upacara, kami saling bertukar sapa: “Gimana tuh Juve? Lawan Perugia aja kalah hahaha” // “Eh Inter diem ye, ga masuk Liga Champions aje lu” // “Milan cemennn!” // “Alah, kayak Roma kagak, kalahan mulu”. Perdebatan yang tiada berujung. Serie A adalah segalanya waktu itu. Rayana Djakasuria lebih terkenal daripada Dubes RI di Roma. Ulasan Bung Kusnaeni di Tabloid Bola adalah sabda. Sudah mau selesai musim kompetisi. Bentar lagi Euro 2000 di Belgia-Belanda. RCTI yang mau nayangin berulang kali nayangin lagu ini sebagai promo berhubung jadi salah satu lagu resmi turnamen tersebut [citation needed]. Solusi terbaik dari perdebatan tentang klub jagoan masing-masing adalah dengan menyelesaikannya di arena rental PS. Tentu saja PS generasi pertama, dengan game andalan Winning Eleven 4 dan Pro Evolution Soccer. Tak lupa dengan nama pemain yang ngaco karena Konami gak bayar lisensi ke FIFA. Taro Roberto Carlos jadi striker, gunakan one-two secara intensif, dan dekatkan stik ke badan ketika mengambil tendangan penalti agar tidak diintip lawan. Niscaya akan menang. Kalo kalah, tinggal kasih alasan “stiknya gak enak”.

 

 

*tanda-tanda penuaan* :(

Advertisements

2 thoughts on “Nostalgia Musika Dahulu Kala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s