Bekasi: Myths Debunked

Hal yang paling mainstream di jagad media sosial NKRI seminggu belakangan adalah mencela-cela Bekasi. Bekasi, kota terkutuk yang nun jauh di galaksi lain, penuh polutan, lapisan ozonnya bolong, kering kerontang, kumuh-alay-katro-you name it. Semua predikat buruk seolah layak disematkan pada Kota Patriot ini. Mending kalo yang mengolok-olok adalah warga DKI Jakarta yang memang selevel di atas Bekasi, lah warga suburb lain yang sebenernya kondisi kotanya 11-12 sama Bekasi juga pada ikutan pekan bully nasional ini. Entahlah, mungkin di daerah mereka tidak tersedia cermin. Atau mungkin karena memang penderita rabun dekat sehingga gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan bisa kelihatan.. *kok jadi serius gini yak huhu*

Kota tempat Parto, Akri, dan Eko ngelaba

Kota tempat Parto, Akri, dan Eko ngelaba.. #itupatrio #diperjelas

Apa memang benar Bekasi seburuk itu? Bukankah daerah penyangga ibukota lain juga punya problematika sejenis tapi tidak terekspos gila-gilaan layaknya Bekasi? Tidakkah ada secuil rasa empati untuk warga Bekasi yang tercabik hatinya melihat tempat tinggalnya diperolok sedemikian rupa? Dimana keadilan??? (di Mahkamah Agung RI Jl. Medan Merdeka Utara No. 9 -13, Jakarta Pusat 10110)

Tiga hal yang jadi poin utama puluhan meme hiperbolis tentang Bekasi adalah jauh, panas, dan macet (susah diakses). Panas dan macet sebenernya karakteristik yang juga melekat ke Jakarta sih, entah kenapa cuma Bekasi yang dibesar-besarkan. Untuk jauh juga relatif: apakah Parung terhitung dekat dari ibukota? Sawangan? Serpong? Karawaci? Rasanya semua juga gak dekat-dekat amat. Sebagai warga Bekasi yang berbudi luhur dan bersendikan Pancasila + UUD ’45, rasanya perlu untuk meluruskan persepsi publik terhadap kota langganan banjir ini (hey folks, you forget about this!). Tentunya penjelasan akan menggunakan referensi yang dapat dirujuk ulang dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah (atau anggap saja begitu). Ini memang blog amatiran, tapi bukan website pkspiyungan.

Mitos #1: Bekasi Jauh

Fakta: Mungkin perlu diluruskan dulu target pem-bully-an ini sebenarnya merujuk ke Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, atau keduanya? Bekasi rada mirip dengan Tangerang dan Bogor dalam hal ini: namanya digunakan untuk dua jenis wilayah administratif yang berbeda. Jika yang dimaksud adalah Kabupaten Bekasi maka sudah jelas. Memang jauh dari Jakarta. Pake banget. Tapi kalo Kota Bekasi? Itu mah masih nempel Jakarta.

Gak segitunya juga kali..

Gak segitunya juga kali..

Ungkapan ‘jauh’ itu relatif. Yang mutlak adalah berapa jarak atau waktu tempuh yang dibutuhkan dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk membandingkan Bekasi dan daerah suburb lain, di tulisan ini digunakan jarak/waktu tempuh dari stasiun KA utama di masing-masing wilayah ke titik nol kilometer Jakarta di Monumen Nasional. Perjalanan menggunakan kereta dipilih sebagai patokan karena terjadwal dan terhindar dari resiko terkena macet. Data diperoleh dari Google Maps. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Bekasi über alles

Bekasi über alles

Dari masing-masing wilayah suburb: Bekasi, Depok, dan Serpong, ternyata waktu tempuh paling singkat ke Monas ‘dimenangkan’ oleh Bekasi. Cuma 52 menit dengan KRL + jalan kaki. Depok membutuhkan waktu 1 jam 4 menit, dan Serpong 1 jam 21 menit karena harus transit 2x. Tangerang sengaja gak dimasukin ke perbandingan karena pasti ga jauh beda kayak Serpong yang harus 2x transit. Apalagi Bogor yang lokasinya jauh di selatan Depok. Buat native Bekasians (atau Bekasi-ers?) ini sih gak aneh, udah fakta yang dijalani sehari-hari. Gak tau kalo penduduk kota lain sadar atau nggak akan hal ini. Dari Bekasi ke jantung ibukota cuma kurang dari satu jam. Lo gak harus naik roket dan jalan dari kemaren lusa. Isn’t it amazing?

Mitos #2: Bekasi Panas

Fakta: Bekasi memang panas. Semacam simulasi neraka di muka bumi. Tapi masa iya suhu udara antara Jakarta dan area sekelilingnya (yang cuma berjarak belasan kilometer) bisa berbeda jauh? Pastinya kalo Bekasi panas, temperatur di Jakarta gak mungkin sejuk kayak di Puncak dong? Dengan pengecualian Bogor, hal serupa juga diduga terjadi di area suburb lainnya macam Tangsel, Depok, dan Tangerang.

Iyain aja..

Iyain aja..

Mencari data suhu rata-rata kota-kota tersebut di website BMKG ternyata berjung pada kesia-siaan. Nggak ada aja gitu! Untungnya internet adalah gudang pengetahuan yang tak terbatas. World Weather Online menyediakan data rataan temperatur bulanan untuk beberapa kota di Indonesia, termasuk untuk Jakarta dan kota-kota satelitnya. Dari data WWO tersebut diperoleh komparasi berikut:

Ternyata... tidak jauh berbeda.

Ternyata… tidak jauh berbeda.

Ada yang aneh? Gak ada, karena memang tidak ada disparitas yang terlalu jauh dalam hal temperatur antara Bekasi, Jakarta, dan Tangerang sebagai salah satu daerah suburb pembanding selain Bekasi. Suhu rata-rata maksimal pada siang hari berkisar antara 31-33 derajat celsius. Mementahkan opini publik yang sesat menyesatkan bahwa Bekasi adalah benda langit terdekat ke Matahari, bukannya Merkurius.

Tapi tunggu, bisa jadi yang menyebabkan Bekasi terkesan lebih panas daripada tetangga sekitarnya adalah karena minimnya ruang terbuka hijau (RTH). Kesepakatan umum yang dianut para pakar tentang RTH ideal suatu kota adalah 30% dari luas wilayah kota tersebut. Dalam tautan ini disebutkan bahwa Bekasi hanya memiliki 14% RTH dari total wilayahnya. Terlihat sedikit? Nggak juga ternyata. DKI Jakarta hingga saat ini baru memiliki 9 persen RTH dari luas wilayahnya. Bahkan RTH di Depok hanya tersisa 5 persen and nobody seems give a shit about it. Terlepas dari kesahihan data yang dikutip, sekali lagi ini membuktikan bahwa Bekasi justru bukanlah yang terburuk.

Panasnya Bekasi bisa jadi lebih disebabkan karena kontur geografisnya yang dataran rendah landai dan terletak di pesisir. Selain itu, maraknya pusat industri berskala besar di wilayah Kota Bekasi juga menyumbang polutan dalam jumlah besar yang bisa jadi berkontribusi pada makin menipisnya lapisan ozon di langit Bekasi. Bekasi memang panas, but we’re not alone ;)

Mitos #3: Bekasi Macet dan Susah Diakses

Fakta: Macet sudah lama menjadi salah satu trade mark Bekasi. Koasi (baca: angkot) di Bekasi memang kebangetan: suka lama ngetem, berhenti sembarangan, dan ugal-ugalan. Populasi sepeda motor di Greater Bekasi juga kemungkinan yang terbesar dibandingkan area suburb Jakarta lainnya (untuk yang ini saya males nyari data-datanya lebih lanjut untuk dilakukan komparasi :p). Kombinasi dua hal tadi menyumbang kemacetan parah di jam-jam berangkat dan pulang kerja. Tapi.. bukankah selalu ada pilihan? Jika terkena macet di jalan biasa, bisa masuk ke jalan tol (yang ternyata juga macet). Atau jika udah kesel, bisa beralih ke moda transportasi berbasis rel seperti KRL yang bebas macet. Semua tersedia di Bekasi.

...dan di sini letak Bekasi, kandidat ibukota NKRI masa depan.

…dan di sini letak Bekasi, kandidat ibukota NKRI masa depan.

Sulit mencari indikator untuk mengukur tingkat kemacetan, jadinya lebih baik membahas isu yang satunya lagi: Bekasi susah diakses. Yang melontarkan opini ini mungkin belum pernah ke Bekasi atau masuk Bekasi di jam dan lewat jalan yang salah. FYI ada setidaknya 6 jalan utama yang bisa digunakan warga Bekasi untuk menuju Jakarta: Jl. Raya Bekasi, Jl. I Gusti Ngurah Rai, Jl. Kolonel Sugiono (Arteri BKT), Jl. K.H. Noer Ali (d/h Jl. Raya Kalimalang), Tol Jakarta-Cikampek, dan JORR Seksi Timur (Cikunir). Belum ditambah armada KRL Bekasi-Jakarta yang cepat dan efisien yang kedepannya akan beroperasi maksimal berkat DDT. Juga rencana pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) dan Monorel Bekasi-Cawang-Kuningan. Bandingkan dengan Depok yang hanya bisa mengandalkan ruas Margonda-Lenteng Agung-Pasar Minggu atau Sawangan-Lebak Bulus dan Tol Jagorawi + KRL. Juga Tangerang dengan Tol Merak dan Daan Mogotnya. Masalah akses ke/dari Bekasi itu sebenarnya terbilang ‘mewah’ karena banyak pilihannya. Haters gonna hate.

Ketiga mitos yang terwakili dalam meme-meme pembully Bekasi itu sudah terjawab. Panas dan macet sulit terbantahkan, tapi tidak untuk jauh dan susah diakses. Sialnya, dua yang terakhir ini yang paling sering dijadikan objek meme potensial.. :)) Padahal kalo mau digali, masih banyakhal-hal lain yang sangat khas Bekasi yang bisa dijadikan objek cela-celaan yang sulit di-counter. Soal tingkat ke-alay-an penghuninya, misalnya. :p

Semestinya fenomena pembullyan massal ini juga ditanggapi serius oleh Pemkot Bekasi. Bukan dengan klarifikasi gak penting di media massa dan menuntut pembully dengan UU ITE (karena Bekasi tidak seistimewa Jogja.. #eh), tapi dengan peningkatan kinerja pembangunan infrastruktur dan kelengkapannya untuk membuktikan kalo para haterz itu keliru dalam memandang Kota Bekasi. Permintaan warga Bekasi cuma satu kok: jadikan kota ini lebih layak huni. Itu saja.

(dan semoga kota lain juga dapet gilran untuk di-bully… Depok, anyone? :p)

 

Advertisements

One thought on “Bekasi: Myths Debunked

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s