Kutukan Three Lions?

Football is a simple game; 22 men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win. – Gary Lineker

Gary Lineker gak salah. Buktinya Jerman keluar sebagai juara dunia (lagi) tahun 2014 ini. Tapi mungkin kutipan di atas, yang lahir pasca kemenangan Jerman Barat atas Inggris di semifinal Piala Dunia 1990, sekarang perlu ditambah satu kalimat lagi: “and the English always lose.”

Terakhir kali timnas Inggris menjadi juara dunia sepakbola adalah pada tahun 1966. Itu pun ketika turnamen digelar di negara mereka sendiri dan diwarnai kontroversi ‘gol hantu’ di laga final. Setelah 1966, langkah terbaik mereka adalah mencapai semifinal di Italia 1990, kalah dari Jerman (Barat) yang akhirnya menjadi juara dan melahirkan kutipan terkenal Gary Lineker di atas. Dalam empat perhelatan piala dunia terakhir, Three Lions selalu kandas bahkan sebelum mencapai babak semifinal: mentok di perempat final di Korea-Jepang 2002 dan Jerman 2006, 16 besar di Afsel 2010, dan yang paling terbaru, pada babak penyisihan grup di Brasil 2014. Reputasi yang cukup memalukan untuk ukuran sebuah negara yang selalu membanggakan diri sebagai tempat lahirnya olahraga terpopuler sejagat raya ini.

Berbagai analisis tentang penyebab kegagalan Inggris di piala dunia selalu bermunculan sesaat setelah mereka dipastikan harus mengepak koper terlebih dahulu dan meninggalkan negara penyelenggara lebih awal. Mayoritas mempersoalkan minimnya kohesi antar 23 pemain dalam skuad yang dibawa, cedera pemain kunci yang menurunkan performa tim secara keseluruhan, kelelahan akibat jadwal kompetisi domestik dan Eropa yang teramat padat, hingga isu tentang dominannya pemain asing dalam liga domestik yang mengakibatkan minimnya kesempatan bagi pemain lokal untuk berkembang. Tapi apakah benar hal-hal tersebut menjadi penyebab utama impotennya timnas Inggris di ajang internasional? Bab pertama dalam buku Soccernomics dengan judul “Why England Loses and Others Win” mencoba untuk menjawab pertanyaan abadi tersebut.

Yup, another per-chapter review of the book in this blog, hehe. Kuper dan Szymanski, duo penulis Soccernomics, membuka bab ini secara satir dengan mengungkapkan tujuh fase yang akan dilalui timnas Inggris setiap perhelatan Piala Dunia (dan terus berulang setiap empat tahunnya). Bagi kedua penulis, pertanyaan tentang “mengapa Inggris selalu kalah setiap Piala Dunia” mempunyai kemiripan dengan isu utama di studi Ekonomi Pembangunan, yaitu “mengapa satu negara bisa lebih miskin (less productive) dibandingkan dengan negara yang lain?”. Tiga jawaban yang umum diterima atas pertanyan di atas adalah (1) terlalu banyaknya pemain asing yang bermain di Liga Inggris, (2) dominasi kelas sosial tertentu dalam persepakbolaan Inggris, dan (3) ‘keterkucilan’ Inggris dari Eropa daratan, pusat industri sepakbola dunia.

Berlimpahnya pemain asing di Liga Inggris sudah sangat sering dijadikan kambing hitam terkait dengan kemunduran prestasi The Three Lions. Merujuk ke konteks ilmu ekonomi, Ingris dinilai tidak menerapkan kebijakan ‘import substitution’ dalam industri sepakbolanya, dan cenderung mengagungkan kredo ‘export promotion’ ketika mengelola kompetisi domestiknya. Keterbatasan jam terbang merumput pemain asli Inggris karena jatahnya digunakan oleh pemain asing diduga menjadi penyebab minimnya bakat-bakat pribumi baru yang terdeteksi. Terdengar masuk di akal? Ternyata Kuper dan Szymanski  berpendapat lain. Justru menurut mereka, jumlah 37% pemain asli Inggris yang bermain di (arguably) liga terbaik di dunia sudah merupakan hal yang bagus. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari, misalnya, Rusia dan Kroasia yang para pemain nasionalnya mungkin hanya 5% yang mampu mencicipi atmosfer kompetisi terketat di dunia tersebut. Ironisnya, dengan hanya 5% komponen tim yang terpapar gemerlap EPL tersebut, kedua negara tadi justru mampu mengangkangi Inggris untuk lolos ke Piala Eropa Swiss-Austria 2008.

Kuper dan Szymanski berargumen bahwa dengan tingkat persaingan yang amat tinggi di EPL tiap pekannya, di mana 37% pemainnya adalah pemain asli Inggris, peak performance para pemain timnas Inggris justru telah terjadi ketika bermain di level klub. Walhasil, setiap dihelatnya turnamen internasional di musim panas, permainan yang disuguhkan menjadi ala kadarnya. Belum lagi menghitung imbas cedera dan kelelahan fisik yang didapatkan selama musim kompetisi berjalan, suatu hal yang sangat umum didapatkan ketika bermain di EPL yang mengutamakan speed + power ketimbang teknik. Jadi, permasalahannya bukan di banyaknya pemain asing yang mendominasi liga, akan tetapi bagaimana caranya agar pemain Inggris dapat ‘diekspor’ ke liga-liga lain yang tingkat kompetisinya tidak seketat EPL. Jika mengingat pemenang empat Piala Dunia terakhir yang anggota skuadnya tidak didominasi oleh pemain yang bermain di Liga Inggris (Brasil 2002, Italia 2006, Spanyol 2010, dan Jerman 2014), argumen tersebut cukup bisa diterima.

Lalu bagaimana tentang anggapan bahwa pemain sepakbola di Inggris terlalu didominasi kelas sosial tertentu? Kelas pekerja di Inggris saat ini memang menjadi penyumbang utama pemain sepakbola di negeri tersebut. Di sisi lain, keberadaan pemain yang berasal dari keluarga kelas menengah kian jarang ditemui. Padahal saat ini kelas menengah, yang indikatornya adalah mampu mengenyam pendidikan tinggi dan tidak berprofesi sebagai ‘pekerja kasar’, adalah golongan sosial mayoritas di Inggris, jauh melebihi kalangan kelas pekerja yang semakin menyusut. Akibatnya, populasi pesepakbola yang memiliki talenta bagus juga kian menyusut seiring dengan menurunnya jumlah kontributor utamanya. Selain itu, minimnya edukasi yang dimiliki pemain-pemain dari kelas pekerja ini (ini emang terlalu menggeneralisir sih..) menyebabkan sulitnya menyesuaikan diri terhadap perkembangan taktik sepakbola yang makin menekankan pada intelijensia dan kematangan mental pemain. Jadi alih-alih memberlakukan restriksi yang lebih ketat terhadap keberadaan pemain asing, industri sepakbola Inggris seyogyanya bisa mempertimbangkan cara untuk dapat menarik lebih banyak pemain dari kelas menengah.

Untuk faktor ‘keterkucilan’ Inggris dari pusat industri sepakbola dunia di Eropa daratan, tentunya sekilas terkesan masalah geografis menjadi penyebab utama. Inggris yang terpisahkan dari Eropa daratan dianggap sebagai periferi dalam peta besar Eropa. Negara-negara di jantung Eropa seperti Jerman, Perancis,Spanyol, Belanda, dan Italia, memiliki keuntungan tersendiri dalam hal mudahnya konektivitas dan membangun jejaring yang mampu meningkatkan produktivitas. Tidak heran jika negara-negara tersebut mampu berprestasi lebih baik ketimbang Inggris dalam hal sepakbola. Namun ternyata masalah Inggris lebih dari itu. Persepakbolaan Inggris telah terlalu lama menganut paham isolasionisme, meskipun sekarang sudah mulai ada upaya untuk lebih membuka diri. Hingga pertengahan 90-an, pola kick and rush yang telah usang masih mendominasi strategi klub-klub Inggris. Komersialisasi EPL dan makin menguatnya peran Uni Eropa dalam integrasi ekonomi benua birulah yang kemudian mampu mendobrak konservatisme ini. Akan tetapi, ketertinggalan Inggris masih tercermin pada minimnya pelatih-pelatih lokal yang menangani klub-klub besar. Bahkan selama beberapa tahun pun timnas Inggris terpaksa mengimpor pelatih dari Swedia dan Italia karena dianggap lebih mumpuni daripada pelatih-pelatih lokal sendiri. Inggris sebagai recovering isolasionist dianggap masih membutuhkan campur tangan Eropa daratan di industri sepakbolanya dan sebaiknya mengikis gengsi tingginya sebagai tempat lahirnya sepakbola.

To sum up: Hal-hal yang perlu dilakukan Inggris untuk lebih berprestasi di turnamen-turnamen internasional adalah (1) berhenti mengkhawatirkan pengaruh buruk keberadaan pemain asing di liga domestik, (2) mengupayakan agar kelas menengah tertarik untuk berkarir di sepakbola, dan (3) terus membuka diri terhadap ide, perspektif, dan paradigma baru terkait sepakbola yang datangnya dari Eropa daratan. Dari tiga hal tersebut, rasa-rasanya poin nomor dua yang paling susah. Sepakbola di Inggris sudah kadung dianggap sebagai olahraga kelas pekerja yang memarjinalkan peran kelas menengah. Entahlah. Mungkin di sana juga menganut sinisme khas yang sama kayak di Indonesia: sekolah tinggi-tinggi kok malah jadi pemain bola. Atau: “Sekolah yang tinggi, biar gak jadi pemain bola”.

Atau jangan-jangan, selayaknya nasib Indonesia di kancah ASEAN, udah takdir Inggris jadi Indonesia-nya Eropa dalam hal prestasi sepakbola? Wallahualam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s