I Am Zlatan

Umumnya buku (oto)biografi memiliki alur cerita yang berjalan secara linear. Dimulai dari masa kecil si penulis (atau bahkan sebelum kelahirannya), masa sekolah dan remaja, hingga masa dewasa yang seringnya menjadi inti dari buku tersebut. Tapi tidak demikian halnya dengan otobiografi Zlatan Ibrahimovic ini. Di bab pertama, Zlatan langsung berkisah secara frontal tentang ketidaksukaannya terhadap Josep ‘Pep’ Guardiola, pelatih FC Barcelona kala itu (sekaligus klub profesional kelima yang dibelanya dalam kurun waktu 10 tahun). Pep dinilai sebagai sosok yang pengecut, pecundang kelas berat, dan tidak becus menangani pemain bintang. Barca di bawah asuhan Guardiola, menurut Zlatan, tak ubahnya seperti tim sekolah dasar yang menekankan konformitas dan kepatuhan terhadap otoritas serta dihuni pemain-pemain berkelakuan manis layaknya Messi, Xavi, dan Iniesta. Sebuah hal yang tak mengherankan karena tiga pemain kunci ini memang didikan La Masia, akademi sepakbola Barca, yang telah terbiasa dengan kultur di dalam klub tersebut. Namun bagi Zlatan, situasi ini terhitung konyol. Terlebih karena ia sebelumnya lima tahun bermain di Italia yang begitu mendewakan pemain bintang. Cerita di bab pertama yang diakhiri dengan kisruh di kamar ganti setelah kegagalan Barca lolos ke final Liga Champions 2009-2010, kalah selisih gol dari Inter-nya Mourinho, ini menjadi pembuka ideal yang mampu mengikat para pembaca untuk terus mengikuti kisah biografi ini hingga tuntas.

Selain sebagai strategi untuk mencuri perhatian pembaca, penempatan episode karir singkatnya di Barca sebagai pembuka cerita bisa jadi juga merupakan medium Zlatan untuk mengungkap tabir di balik karir singkat tersebut dari versi dia. Tidak banyak yang tahu tentang alasan pasti berpisahnya Zlatan dengan Barca meski baru bermain setahun. Kisah perseteruan dengan Guardiola yang diberitakan media mayoritas sumir, tidak dielaborasi dengan dalam dan menyisakan banyak tanda tanya. Dibeli oleh klub juara Eropa dengan harga yang begitu mahal dari Inter pada musim panas 2009, bersamaan dengan pembelian gila-gilaan Real Madrid atas Kaka dan Cristiano Ronaldo, Zlatan hanya bertahan satu musim untuk kemudian dilepas dengan harga murah ke klub spesialis penampung pemain murah, gratisan, dan free transfer: AC Milan. Hingga saat ini, Barca menjadi klub dengan masa bakti tersingkat bagi seorang Zlatan di dalam karir sepakbolanya, dan Zlatan menyatakan bahwa Guardiola adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sebuah penuturan yang mungkin bisa membuat para pembaca mengubah persepsinya selama ini terhadap sosok seorang Pep Guardiola.

Sosok Zlatan Ibrahimovic memang mengundang banyak perhatian. Pemain yang dikenal sebagai si bengal pembuat onar dan arogan (tapi dengan kemampuan mengolah bola yang mumpuni) memang lebih mudah dieksploitasi media untuk menaikkan oplahnya. Tak mengherankan ketika Zlatan merilis buku otobiografinya (meskipun saya gak yakin ini bisa dibilang “otobiografi” karena ditulis oleh David Lagercrantz), perhatian terhadap buku ini cukup besar dan banyak pihak yang menasbihkannya sebagai salah satu buku biografi sepakbola terbaik yang pernah ada. Cara bertutur Zlatan yang blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling (duh bahasanya!) ketika menceritakan orang-orang yang berpengaruh dalam kehidupannya enak untuk dibaca dan sesekali mampu mengundang tawa. Selazimnya otobiografi lainnya, penggunaan kata ganti orang pertama di buku ini juga mampu mengakrabkan pembaca dengan sosok Zlatan karena seolah ia sendiri yang sedang berkisah dalam buku ini.

Stands out in the (blurry) crowd

Stands out in the (blurry) crowd

Setelah diawali dengan bab pertama yang bombastis, alur cerita dalam buku ini barulah mengikuti pakem yang umum: mengalir secara runut dari masa kecil hingga awal karir dan seterusnya. Zlatan kecil hidup di area suburb Rosengard (keren ya, kayak di Middle Earth..) pinggiran kota Malmo di Swedia. Latar belakang kedua orang tuanya yang imigran, beda etnis dan agama, lalu kemudian bercerai membuat pelarian ke sepakbola menjadi hal yang lumrah. Ini kayaknya pola umum yang dialami beberapa bintang sepakbola dunia: tumbuh di keluarga yang disfungsional, menemukan sepakbola sebagai satu-satunya pelarian dari masalah dan ajang pembuktian eksistensi diri, hingga dilirik oleh pemandu bakat klub-klub terkenal. Sayangnya saya gak begitu tertarik sama kisah personal Zlatan sebelum nyemplung di dunia sepakbola profesional, jadi pas baca beberapa bab tentang ini cuma selintas lalu doang. Meskipun ada beberapa fakta menarik yang terungkap, salah satunya tentang bagaimana dulu Arsene Wenger pernah hampir menarik Zlatan ke Arsenal. Beberapa bab yang gak terlalu menarik memang, tapi minimal jadi tau gimana interaksi sosial antar etnis (native vs imigran) di Swedia sana.

Bagian ketika Zlatan bergabung dengan Malmo FF, klub profesional pertamanya, juga biasa-biasa aja. Minim konflik dan cerita behind the scene yang menarik. Cerita baru mulai menarik lagi ketika telah memasuki episode dijual ke Ajax. Pertama karena Zlatan (akhirnya) menyadari kalo agen pertamanya ngibulin dia (dijual sebagai pemain termahal di klub lama tapi dengan gaji terendah di klub barunya :D) dan berikutnya karena di Ajax juga dia nemuin musuh(-musuh) besarnya (Louis Van Gaal dan Rafael Van der Vaart) dan dua orang yang dihormati (Leo Beenhakker dan Maxwell). Maxwell sendiri malah jadi BFF Zlatan: ngikut terus dari Ajax, Inter, Barca, hingga PSG sekarang. Kedatangan Zlatan ke Ajax bersamaan juga dengan datangnya Mido Hossam, pemain asal Mesir. Ini yang masih saya inget sampe sekarang karena dulu, ketika masih sering beli Tabloid Bola, foto kedua pemain baru Ajax ini berdampingan dengan dua pemain anyar Milan, yaitu Rui Costa dan Pippo Inzaghi. Waktu itu beritanya terkait dengan penyelenggaraan Turnamen Amsterdam, sebuah turnamen pra musim yang diikuti antara lain oleh Ajax, Milan, dan Liverpool  yang juga diceritakan dalam buku ini. Di Ajax, Zlatan mewarisi nomor punggung 9 yang pernah dipakai Marco Van Basten dan sejak itu sering digadang-gadang sebagai “The New Van Basten” berkat kemiripan postur, posisi, dan cara bermain.

Belajar dari pengalaman ditipu agen ketika pindah dari Malmo ke Ajax, Zlatan kemudian menemukan sosok agen pemain yang ideal dan kompatibel dengan karakternya pada seorang Mino Raiola. Cukup banyak interaksi antara Zlatan dan Raiola yang diceritakan di buku ini. Yang paling intens tentunya pada saat berkisah tentang proses transfer Zlatan ke Juventus, Inter, Barca, hingga Milan. Banyak kisah-kisah behind the scene yang terungkap di buku ini seputar proses-proses transfer tersebut, yang semuanya tak terlepas dari kelicinan Raiola dalam bernegosiasi. Satu yang paling menyesakkan buat saya sebagai seorang fans layar kaca Milan adalah ketika Zlatan bercerita bagaimana ia tinggal selangkah lagi bergabung dengan I Rossoneri setelah Juve terdegradasi ke Serie B tahun 2006, namun kemudian di injury time Massimo Moratti mengintervensi sehingga ia berlabuh ke sisi kota Milano yang lain.

Yang menarik dari seorang Zlatan Ibrahimovic adalah ia selalu berhasil mempersembahkan gelar juara liga domestik ke klub yang dibelanya, terhitung sejak Ajax musim 2002-2003 (dengan pengecualian Milan di musim keduanya). Setiap momen menentukan dalam perjalanan meraih juara liga terdokumentasikan dengan apik di sini. Dua gelar back-to-back bersama Juve, tiga gelar beruntun bersama Inter dan masing-masing satu gelar untuk Barca dan Milan menjadi lumbung cerita yang mendominasi dua pertiga akhir buku ini. Mulai dari kekagumannya terhadap sosok Fabio Capello, hormatnya kepada Jose Mourinho, perseteruannya dengan rekan setim (Zebina di Juve, Mihajlovic di Inter, dan Onyewu di Milan), drama di laga-laga penentuan gelar juara, perebutan capocannonieri, hingga gol-gol spektakuler yang dicetaknya.

Ya, bicara tentang Zlatan pasti tidak lepas dari gol-gol yang spektakuler dan out of the box. Beberapa gol terindah yang pernah dibuatnya mendapat porsi khusus untuk diceritakan di sini. Sayangnya memang buku ini sudah selesai ditulis ketika Zlatan mencetak gol luar biasa kala Swedia menjamu Inggris tahun 2012 lalu, tapi beberapa gol indah lainnya dikisahkan dengan lengkap di sini (dengan nada pongah karena hampir setiap tahun selalu memenangi gelar gol terbaik pilihan pemirsa :p). Gol Zlatan ketika masih berseragam Juve melawan Roma yang berkesudahan 4-0, ‘gol kungfu’ waktu Euro 2004 ketika Swedia berhadapan dengan Italia, gol aneh bin ajaib ketika membela Inter melawan Bologna, gol-gol ketika El Clasico dan Barca vs Arsenal di Liga Champions, serta tentunya gol terakhir dia sewaktu membela Ajax ke gawang NAC Breda berikut:

Kekurangan buku ini cuma satu: keterbatasan masa bercerita. Buku ini cuma mentok di akhir musim pertama Zlatan bersama Milan. Sedangkan musim kedua, ketika akhirnya setelah sekian lama Zlatan tidak menghasilkan gelar juara liga untuk klub yang tengah dibelanya, tidak tercover dalam cerita. Begitu pun dengan lanjutan kisah Zlatan ketika pindah ke PSG dan dilatih oleh pelatih hebat lainnya: Carlo Ancelotti. Selebihnya sulit mencari kekurangan buku ini. Sebagai perbandingan, ketika saya membaca buku otobiografi Andrea Pirlo setelah baca I Am Zlatan ini, baru bab pertama aja udah ngerasa bosen karena gaya bertuturnya yang terlalu bertele-tele dan kurang makjleb. Kembali ke karakter pribadi sih emang, tapi secara keseluruhan bukunya Zlatan ini emang lebih enak dibaca. Karena saya adalah insan yang menjunjung tinggi HKI (yeah right..), link download e-book buku ini tidak saya sertakan di tulisan ini. Bisa didonlot sendiri via torrent, tinggal search aja “I Am Zlatan”.

Mari membajak. #eh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s