Mencoba Spotify

Saat ini pilihan untuk layanan music streaming di Indonesia sudah cukup beragam. Mulai dari pemain lokal kayak Ohdio dan Langit Musik hingga penyedia layanan dari luar negeri macam Rdio, Guvera, dan Deezer. Khusus untuk yang pemain internasional, ketiga nama terakhir cukup mumpuni untuk memenuhi dahaga para pecandu musik tanah air yang melek tehnolohi. Masing-masing punya keunggulannya sendiri-sendiri, seperti Guvera yang menyediakan beragam editor picked playlist (salah satu yang epic adalah playlist Musik di Mini Market :D), Rdio yang biaya langganannya paling murah (Rp 20.000 per bulan untuk unlimited access dan sync offline), dan Deezer yang koleksi lagunya lumayan komplit.

Tapi cuma satu penyedia layanan yang ditunggu-tunggu dari dulu kehadiran resminya di Indonesia: Spotify. Mungkin selain faktor nama besar dan reputasinya sebagai garda terdepan layanan music streaming sejagad, faktor lain yang membuat Spotify ditunggu-tunggu kehadirannya adalah karena cuma ini yang menawarkan layanan free dalam artian sebenarnya. Guvera, Rdio, dan Deezer memang (awalnya) juga gratis, tapi setelah melewati masa free trial maka untuk menikmati layanan yang fitur-fiturnya sama seperti pada masa free trial harus berlangganan dengan nominal tertentu. Sedangkan Spotify itu… gratis! Beneran gratis dan ga ada masa free trial. Hanya saja memang ‘kegratisan’nya itu harus ditebus dengan kerelaan mendengarkan 30 detik iklan setiap selesai beberapa lagu, juga adanya suggested song yang ganggu karena nongol tiba-tiba, dan keterbatasan dalam nge-skip lagu dan dengerin lagu tanpa harus nge-shuffle satu album. Semua gangguan itu pada dasarnya bisa dihilangkan jika berlangganan fitur premium (bisa aje nyari duitnye..), tapi tanpa berlangganan pun sebenernya udah lumayan banget buat kaum miskin papa yang fakir gratisan.

Sayangnya emang sampai sekarang Spotify belum masuk di Indonesia. Kalo ngakses website-nya aja selalu di-direct ke page yang ada tulisan “Kami belum tiba di Indonesia!”. Pun demikian jika membukanya di Google Play Store (untuk pengguna Android ya, ga tau apa kalo di app store iOS dan Windows Phone juga sama). Bakalan ada notifikasi kalo this item is not available in your country. Cih.. Kurang apa NKRI padahal? Emangnya kami negara dunia ketiga? *emang…*

Meh!

Bukan orang Indonesia namanya kalo gak bisa ngakalin segala peraturan dan larangan untuk kepentingan pribadinya. Ternyata bisa-bisa aja untuk menggunakan layanan Spotify di wilayah kedaulatan NKRI, baik di desktop ataupun di handset.. #telat. Modal utamanya tentunya adalah virtual private network (VPN) yang berfungsi sebagai alat penyamaran bagi WNI-WNI bandel agar seolah-olah tampak sebagai pengguna dari negara lain yang sudah memiliki akses ke Spotify. Dulunya saya mikir kalo VPN ini harus diaktifin setiap kali membuka aplikasinya, tapi ternyata hanya cukup menggunakannya ketika mengunduh, menginstal, dan proses registrasi. Selebihnya, meski tetap menggunakan identitas asli sebagai pengguna internet dari Indonesia namun semuanya berjalan lancar-lancar saja tak kurang sesuatu pun.

Untuk yang mau menapaktilasi pengalaman saya mencoba Spotify (khususnya bagi pengguna robot ijo), pertama pastikan dulu menginstal aplikasi VPN. Saya menggunakan aplikasi TunnelBear, meskipun tersedia banyak pilihan aplikasi sejenis lainnya. Alasannya lebih karena tampilan antarmukanya yang sederhana dan mudah digunakan oleh saya yang sebelumnya buta tentang VPN-VPN-an ini. Begitu sudah diinstal di handset, pilih negaranya AS, dan nyalakan VPN-nya.

Tell the bear to wake up

Tell the bear to wake up

Jika sudah aktif sebagai (pura-puranya) pengguna internet di negeri Paman Sam, tinggal lanjut ke Play Store nya aja. Waktu itu saya coba buka melalui aplikasi di hape ternyata masih not available in your country, jadinya saya aksesnya melalui Play Store di website play.google.com. Di situ langsung search aja Spotify Music dan tinggal klik untuk diinstal ke handset. Setelah terinstal dengan sempurna, jangan langsung uninstal aplikasi TunnelBear-nya. Lanjut registrasi dulu dan coba dites aja dengerin satu-dua lagu. Kalo udah oke semua baru dinonaktifkan VPN-nya dan bisa juga sekaligus di-uninstal aplikasi VPN-nya tadi (meskipun ada juga yang bilang kalo sesekali harus tetep sign in pake VPN untuk tetap mengelabui sistem). Untuk di desktop (kebetulan saya pake Ubuntu, tapi rasanya di Windows juga sama prosesnya) pada prinsipnya juga sama dengan proses instalasi di handset tadi: instal aplikasi VPN-aktifkan VPN-instal Spotify-non aktifkan VPN-streaming musik seenak jidat. Hanya saja keunggulan aplikasi Spotify di desktop adalah bisa maenin setiap lagu tanpa harus nge-shuffle dan format share ke socmed-nya juga lebih memadai ketimbang aplikasi di hape. Kini udah satu minggu lebih saya menggunakan jasa baik Spotify di hape dan desktop saya dan rasanya sekarang kuota internet semakin ga ada artinya: cepet banget abis karena keseringan dipake striming. Ini memang benar-benar pemiskinan yang terstruktur, sistematis, dan masif!

...tapi sepadan lah :)) #asolole

…tapi sepadan lah :)) #asolole

Advertisements

4 thoughts on “Mencoba Spotify

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s