Dibuang sayang

Sebelum kenal Posterous dan WordPress, ternyata pernah nulis beginian di masa silam bhahahak.. :malu:malu: Pindahin ke sini aja lah ya:

 

Tentang Nama dan Hal-hal Gak Penting Lainnya

 

What’s in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet.

William Shakespeare sepertinya tidak sepenuhnya benar. Nama “Alfiansyah” mungkin tidak akan menjadi personal branding yang moncer untuk seorang komedian, beda halnya dengan “Komeng” yang akhirnya lebih populer daripada nama aslinya tersebut. Alfiansyah terdengar sangat standar, sangat so-so, sangat familiar dengan keseharian. Sementara Komeng.. nama “Komeng” itu menawarkan sesuatu yang baru, yang jarang ditemuin orang kebanyakan, dan bisa jadi sudah terdengar lucu dari awal didengar. Nama membentuk persepsi, dan juga ekspektasi. Nama yang out of the box seringkali membuat kita berharap si pemilik nama memiliki sesuatu yang, paling tidak, di luar batas kewajaran juga. Seorang Ainur Rokhimah dari Pasuruan, jika tetap berkeras menggunakan nama aslinya, mungkin akan membuat para pirsawan-pirsawati dangdut mengalami disorientasi: sebenarnya mereka berada di pentas dangdut atau MTQ? Untuk itulah diciptakan nama bombastis yang memenuhi ekspektasi serta persepsi. Hence, “Inul Daratista”. And the rest is history.

Kata orang, nama adalah harapan. Saya sendiri gak pernah tau arti nama saya apa. Dari penjelasan sepihak yang saya terima, ide nama itu terlintas begitu saja. Spontan. Meskipun agak di luar akal sehat, saya cukup menerima penjelasan tentang spontanitas ide itu. Paling tidak, itu bisa memberi justifikasi buat saya buat namain anak nanti yang mungkin akan menggunakan pola yang sama: last minute unplanned naming. Kelak kalo ditanya apa artinya, saya juga bisa bilang: “Gak ada. Spontan aja. Karena gak semua hal perlu ada artinya.” Rupanya dari lahir saya sudah dikenalkan prinsip nihilisme. :D

Ada masanya ketika saya merasa gak nyaman dengan nama saya. Pertama karena nama ini identik sama agama tertentu. Waktu SD, konformitas adalah suatu hal yang sangat penting, dan menjadi liyan (the others) sangat dihindari. Jadi, bisa dibayangkan muka saya kalo ada orang baru yang bilang “Loh, ternyata kamu (agamanya) xxxxx??” Muka meme you don’t say lah kira-kira. Selain itu, hal kedua yang lumayan mengganggu adalah seringnya orang salah menyebut jadi “Wahyu”. Saya rasa itu permasalahan identik yang dialami smua orang Indonesia yang bernama sama kayak saya. I mean, what’s the problem, people? “Wahyu” is a unisex name. It can be applied for both men and women. While my name is dedicated to one gender only. Jadi semestinya lebih gampang diingat, meskipun emang patut diakui nama “Wahyu” lebih umum.

Tapi itu masih mending. Belakangan ini muncul tren untuk mengganti nama seseorang dalam suatu percakapan menjadi kata ganti yang menggeneralisir, yang mereduksi keunikan tiap-tiap individu untuk dijadikan satu identitas tunggal: bos, bro, bray, gan, cuy, nyet, jing, dsb. Dari semuanya, saya paling gak suka dipanggil “bos” dan, vice versa, gak akan memanggil orang dengan kata ganti “bos” juga. Saya gak suka dianggap superior oleh orang lain atau memandang inferior kepada orang lain dengan menggunakan kata panggilan itu. Mungkin orang lain memandang saya berlebihan dengan punya opini seperti itu, tapi buat saya kata panggilan “bos” itu menyiratkan sisa-sisa kejayaan feodalisme ketika orang sibuk meninggikan diri dengan panggilan macam Duli Sri Paduka Yang Maha Mulia Tuan Besar Yang Dipertuan Agung tai kucing. Biar akrab? Bagi saya “bos” itu kata ganti yang merendahkan. Merendahkan diri saya sebagai penganut egaliterianisme bau kencur, dan merendahkan diri si pemanggil yang secara tidak langsung memandang dirinya sebagai kacung. Kalo mau akrab dan tetap setara, gunakan “Bung” selayaknya para pendiri bangsa ini. Itu baru bener.

Dengan logika yang sama, seharusnya saya juga menolak dipanggil “(a)gan”, kependekan dari “Juragan”. Namun resistensi itu tidak sebesar “bos”, karena “gan” lebih banyak dipakai dalam bahasa tulisan, bukan lisan. Dan memang, penggunaannya juga tidak ada tendensi untuk merendahkan diri ketika berkomunikasi dengan sesama karena awalnya itu hanya lingo yang digunakan di kalangan terbatas. Mungkin itu juga yang berada di benak para pengguna “bos” dan para defender-nya, tapi entah mengapa dari dulu resistensi saya sangat kuat jika dipanggil seperti itu.

Ada juga “bro”. Yang ini mengganggu lebih karena adanya semacam persepsi bahwa tingkat kemachoan, tingkat kelelakian, atau kadar testosteron seseorang akan meningkat dua kali lipat jika menggunakan “bro” jika berkomunikasi dengan sesamanya. Lebih mendapat pembenaran ketika sapaan ini dieksploitasi secara maksimal dalam lingkungan komunitas yang (konon) laki banget, kayak klub motor, klub mobil, klub Harley Davidson (ini motor juga), dsb. Tidak ada lagi yang peduli dengan nama tiap-tiap individu karena semuanya sudah terakomodasi dalam satu nama: “bro”. Imbuhkan “bro” di setiap akhir kalimat dan, wow, efeknya luar biasa! Buat saya ini lucu karena justru semakin terlihat ke-insecure-an mereka atas kelelakian diri mereka sendiri. Sama kayak orang yang mengkompensasikan kekurangan atas diri mereka dengan menunggangi motor gede plus knalpot bersuara cempreng. Trying to cover up the obvious.

Kalo sekarang beda lagi. Dulu saya paling anti dipanggil “mas”. Emang gua kuning?! (ya, saya tau itu lawakan jadul). Meskipun saya berasal dari etnis yang mengharuskan saya mengakrabkan diri dengan panggilan tersebut, tetep aja ada penolakan yang kuat untuk dipanggil dengan kata sandang tersebut dan lebih bahagia jika dipanggil hanya dengan nama saja. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah dipanggil “mas” beribu kali lebih menyenangkan dibandingkan jika disapa dengan panggilan “pak”. Fase denial itu telah berganti menjadi fase accceptance. Fase menjadi mas-mas… *oh god why*

Ah, tulisan yang awalnya tentang nama jadi ngelantur ke mana-mana. Beruntunglah Rihanna yang lupa sama namanya sendiri.. (lho?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s