7 lagu religi paling menyayat hati according to me (hey it rhymes!) (not really)

Bulan ramadhan adalah waktu ketika telinga manusia-manusia Indonesia akan terpapar lagu religi secara brutal. Di mall, di TV, di radio, di kendaraan umum, dsb. Semua berlomba-lomba memperdengarkan lagu religi sebagai soundtrack bulan suci ini. Iya, lagu religi. Bukan lagu rohani. Still don’t know what’s the difference? Nih:

Lagu religi: Opick – Tombo Ati

Lagu rohani: Nikita – Bapa Engkau Sungguh Baik

Hehehe.. Segregasi antara ‘lagu rohani’ dengan ‘lagu religi’ ini entah sejak kapan tercipta. Yang pasti memang sekarang lagu religi identik dengan ‘lagu Islami’. Sulit mencari CD/DVD lagu religi di Pondok Pujian misalnya, sebagaimana sulitnya mencari album-album lagu rohani di pelataran masjid ba’da sholat jumat.. #yakali

Akan tetapi, selayaknya kualitas musik pop mainstream Indonesia yang terus menurun, kualitas lagu-lagu religi yang dibawakan musisi Indonesia juga mengalami penurunan. Setidaknya menurut pendapat subjektif saya. Yang jamak terjadi dewasa ini adalah lirik-lirik yang didominasi sebutan nama Tuhan. Gak ada masalah sih sebenarnya, tapi menurut saya sebuah lagu yang memuji kebesaran Tuhan tidak harus selalu dihiasi dengan lirik yang bertaburan kata-kata “Ya Allah”. Terlalu eksplisit, jadi kesannya dangkal. Padahal, sekali lagi menurut saya, lagu religi yang bagus itu seharusnya bersifat universal. Meskipun diciptakan dan dinyanyikan oleh kalangan muslim, tapi bisa juga dinikmati dan dihayati oleh mereka yang berbeda keyakinan. Lagu Bimbo yang “Tuhan”, misalnya. Itu contoh yang bagus untuk sebuah lagu religi yang bersifat universal. Tapi lagu-lagu religi lain yang sangat ‘Islami’ juga banyak yang mencerminkan universalisme Islam dan gak preachy nan cheesy dengan penggunaan kalimat-kalimat pujian klise yang overload. Seperti beberapa lagu religi favorit saya ini:

1. Sheila Majid – Ku Mohon

Lagu yang baru-baru ini di-recycle sama Afgan layak mendapat kehormatan untuk berada dalam daftar. Liriknya bagus dan menyentuh, meski banyak kata-kata dalam bahasa Melayu yang cukup asing di telinga (“cabaran”? “mencabar”?). Ya meskipun emang struktur kalimatnya khas Malaysia banget, tapi masih bisa dimengerti lah. Dan kayaknya, lagu ini cuma cocok dibawain sama Sheila Majid seorang (sori Gan.. :beer:beer:)

2. Rita Effendy – Maha Meliat Maha Mendengar

Oke, mau jujur dikit: dua lagu pertama ini begitu nyantol di telinga dan hati saya (tsaelah) kayaknya karena kebiasaan pas masih sering-seringnya dengerin radio ketika bulan puasa dulu. Di i-radio (kalo gak salah inget), lagu Sheila Majid tadi jadi lagu wajib beberapa menit setelah adzan Maghrib, sedangkan lagu Rita Effendy ini jadi penanda waktu imsak (atau menjelang adzan subuh). Dua-duanya punya lirik yang kuat dan powerful sih. Lagipula, dua-duanya juga bisa menggambarkan kebesaran Tuhan tanpa keseringan mengumbar asma Allah dalam liriknya (take note, Pasha Ungu!).

3. Bimbo – Sajadah Panjang

Dari begitu banyak lagu Bimbo, ini menjadi lagu yang paling mengusik sanubari buat saya. Setiap dengerin ini bawaannya merinding. Susah buat diungkapkan lah pokoknya. Mungkin cara pembawaan lagunya yang sedikit merintih lirih itu turut membuat pendegarnya larut dalam penghayatan. Mungkin. Plus ditambah kata ganti orang pertama di sini yang pake kata “hamba” dalam berkomunikasi dengan Tuhan… Dan ditambah juga empat kalimat pertama dalam lirik… *mbrebes mili*

4. Opick – Ya Robbana (feat. Ust. Jefry Al Buchory)

Yang membuat lagu ini spesial kayaknya adalah suara alm. Uje. Am not a big fan of him, tapi harus diakui suara dia ketika melantunkan ayat suci atau kalimat-kalimat pujian emang bagus dan ‘megah’. Lagipula, lirik lagunya juga pas: menggambarkan kerendahan hati seorang manusia dalam memohon di hadapan penciptanya.

5. Haddad Alwi – Sebuah Pengakuan (I’tiraf)

Sulit menentukan yang mana yang lebih menyayat: versi aslinya yang berbahasa Arab atau yang versi terjemahan Bahasa Indonesia ini. Saya sih suka dua-duanya. Untuk yang berbahasa Arab lebih banyak lagi yang bawain, salah sat yang cukup populer adalah yang dibawain alm. Gus Dur. Eksotis karena rada-rada bernuansa nJawani dikit pelafalannya. Untuk yang versi bahasa Indonesia, versi Haddad Alwi ini masih yang terbaik.

6. Chrisye – Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Lirik yang digubah Taufik Ismail dan terinspirasi dari terjemahan beberapa ayat di surah Yaasin cukup untuk membuat lagu ini punya karakter yang kuat. Apalagi ditambah pembawaan suara alm. Chrisye yang… ah, menjiwai banget. Salah satu lagu yang juga konsisten bikin merinding tiap didengerin. Dan rasanya kalo tiap abis dengerin lagu ini bawaannya selalu inget tentang nasib jiwa berlumur dosa ini di alam barzakh kelak… :'(

7. GIGI – Akhirnya

GIGI termasuk salah satu band yang cukup produktif menghasilkan lagu religi musiman tiap Ramadhan (yang biasanya juga lagu recycle-an). Di antara sekian banyak karya mereka, yang paling nyantol di kuping saya cuma lagu ini. Sederhana dan mudah diingat. Mungkin karena akustikan ya.. Lagu yang pas diputer buat mereka yang berniat taubatan nasuha setiap memasuki Ramadhan (untuk kemudian dilupakan ketika sudah masuk Syawal :D)

Advertisements

4 thoughts on “7 lagu religi paling menyayat hati according to me (hey it rhymes!) (not really)

  1. Pingback: [mixtape] Merdeka Bung! | kehendakbaru[dot]wordpress[dot]com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s