Wadjda

Nama event-nya: Europe On Screen 2014, judul filmnya: Wadjda. Di buku panduannya tertulis film dari Jerman.

Tapi kok pemain, sutradara, sama bahasa filmnya Arab semua??

Ternyata film ini memang diproduseri dan diproduksi dengan biaya yang mayoritas berasal dari Jerman. Yah cukup untuk memenuhi kriteria untuk disebut sebagai film Eropa lah.. Yang bikin unik adalah setting film ini sepenuhnya berada di Riyadh, ibukota Arab Saudi.

Iya, Saudi yang ultra konservatif itu.

Dan memang ini adalah film pertama Saudi yang diedarkan ke seluruh dunia setelah bertahun-tahun tidak berproduksi dan film pertama yang disutradarai oleh sutradara perempuan Arab Saudi. Terlebih lagi, ini film yang juga berkisah tentang perempuan. Tingkat monumentalnya tinggi banget, mungkin setara dengan kalo misalnya Korea Utara memproduksi film drama non-propaganda untuk konsumsi internasional.

Untuk ceritanya sebenarnya sederhana, mirip-mirip gabungan cerita film Iran Children of Heaven dan A Separation. Kisah seorang anak perempuan bernama Wadjda untuk bisa membeli sepeda yang bakal ia gunakan untuk balapan sama temannya bernama Abdullah. Masalahnya, di Saudi anak perempuan hukumnya harom untuk menaiki sepeda. Tapi dasar si Wadjda ini jiwanya rebel, dia tetep kekeuh ngumpulin duit dan mencari peruntungan biar bisa kebeli itu sepeda, salah satunya dengan mengikuti lomba MTQ (di film istilahnya bukan ini sih :D) di sekolahnya. Di sini letak sedikit kemiripan dengan Children of Heaven yang pemeran utamanya bertujuan untuk membeli sepatu. Nah, side story dari film ini yang mirip A Separation adalah kisah retaknya rumah tangga orangtua si Wadjda karena sang ibu tak kunjung bisa memberi keturunan anak laki-laki (yang sangat diutamakan di masyarakat Arab yang patriarki abis) sehingga suaminya dipaksa oleh keluarga untuk menikah lagi. Selebihnya tonton aja sendiri yah hehe..

Meskipun cerita dasarnya sederhana, tapi justru printilan-printilannya yang menarik. Ini film tentang Saudi gitu! Yang lumayan tertutup dari dunia luar untuk masalah kehidupan sehari-hari, apalagi yang menyangkut perempuan. Dulu, kisah-kisah tentang kehidupan di Saudi dan bagaimana besarnya tekanan hidup perempuan di sana cuma sebatas rumor yang beredar di antara masyarakat Indonesia. Kisah tentang gimana pervert-nya cowok-cowok Saudi karena gak pernah liat cewek dalam wujud aslinya, cewe-cewe Saudi yang di balik abayanya ternyata dandan menor dan stylish, penerapan hukum syariah yang super ketat (dan banyaknya penyimpangan pelaksanaannya di kalangan warganya sendiri), budaya patriarki yang mengurat akar, sampe kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan pemukiman warga biasa Riyadh semuanya ada di sini. Komplit! Beberapa cukup bikin geleng-geleng sih, misalnya pas adegan Wadjda dan teman-teman sekolahnya dilarang bicara dan ketawa cekikikan karena suara dan tertawanya perempuan adalah sumber fitnah dan kemaksiatan (mampus gak tuh? :D) sama waktu guru memberi selamat kepada teman sekelas Wadjda yang baru aja menikah…. padahal dia masih (kira-kira) kelas 5 SD :/

Yang cukup mengganjal bagi saya di film ini waktu pas si Wadjda awal-awal dites baca Quran dan kemudian agak terbata-bata membacanya.. Is that possible? Kitab itu ditulis dalam bahasa ibu dia gitu, dan sehari-hari menggunakan bahasa yang sama pula. Tapi gak berapa lama udah fasih sih, dan bahkan udah bisa dilagukan segala pula.. :D Bener-bener membuktikan bahwa masyarakat Arab (bahkan sebelum munculnya Islam) adalah masyarakat yang sangat menjunjung budaya lisan. Gak ada yang mampu menyaingi keindahan pendarasan ayat-ayat suci di dalam Quran selain penutur aslinya, penduduk Arab yang bermukim di Kerajaan Arab Saudi. Seandainya saya bukan muslim pun kayaknya pasti bakal tergerak dengan keindahan lantunannya.

Setelah beberapa kali terekspos sama budaya dan praktek Islam Syiah di film-film Iran (misalnya: bersumpah atas nama imam), di Wadjda ini barulah saya bisa melihat budaya Islam puritan sesungguhnya: Islam mazhab Wahabbi. Gak begitu kelihatan sih, cuma dalam praktik sholat dan adab membaca Quran, tapi cukup sebagai insight bagaimana penerapan aliran itu di tempat lahirnya. Dari film ini juga keliatan kalo penduduk Saudi gak konservatif-konservatif amat, tapi kayaknya itu cuma berlaku di kalangan kelas menengahnya. Tingkat adaptasi mereka terhadap budaya barat dan teknologi modern sangat tinggi. Mungkin salah satunya karena negara mereka juga emang pada dasarnya kaya (gak kayak Korea Utara). Kayaknya tinggal nunggu mereka dapat raja yang berpikiran progresif (kayak sheikh di kerajaan tetangganya: UEA) untuk bisa ngeliat perkembangan Saudi dari negara yang ultra-ortodoks serta serba membatasi perilaku warganya menjadi sedikit lebih terbuka dan gak katro-katro amat dalam hal pemahaman beragama.

Yeah, unfortunately you can’t bring back all Islamic historical sites from Rasulullah era that already destroyed in the name of greed and capitalism…

Anyway, here’s the trailer of the movie:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s