Sepenggal Sejarah Itu Bernama Melaka

Bandar Malaka telah nampak sayup-sayup di hadapan Gugusan-II. Tak nampak ada satu kapal Portugis pun. Nampaknya Gugusan-I terlambat memberikan isyarat. Tapi tidak, peluru-peluru cetbang daripadanya mulai beterbangan di udara dan meledak merupakan bungaapi dan gumpalan asap. Warna merah membelah langit: juga di sebelah utara sana tak ada nampak kapal Portugis. Gugusan-II menjawab dengan tembakan ke udara pula: juga di sebelah selatan tak ada nampak kapal Portugis.

 Arus Balik – Pramoedya Ananta Toer

 

Saya berdiri setengah termangu di pinggir pantai itu. Pantai di muara sungai Melaka yang pada tahun 1511 menjadi saksi bisu kedatangan armada Portugis pimpinan Alfonso d’Alberqueque, tonggak awal mula sejarah kolonialisme Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropa. Tepat di hadapan saya berdiri terhampar lautan biru yang menyatu dengan cakrawala di kejauhan. Inilah salah satu wilayah perairan terpadat dan tersibuk di dunia: Selat Malaka. Seketika saya terbayang setiap fragmen pertempuran Malaka antara pasukan gabungan kerajaan-kerajaan Nusantara di bawah komando Adipati Unus dengan bala tentara Portugis yang dikisahkan dengan apik oleh Pramoedya Ananta Toer di novel Arus Balik. Kejayaan kota pelabuhan di masa silam yang kini perlahan-lahan mulai lenyap.

Dan nun jauh di seberang sana adalah Riau..

Bandar Melaka (setidaknya di kawasan kota tuanya) kini tidak lagi menjadi pusat perdagangan rempah-rempah Nusantara. Pelabuhan di mulut Sungai Melaka kini hanya jadi tempat bersandar ferry-ferry lintas negara tujuan Dumai dan Bengkalis. Melaka modern adalah kota yang mengandalkan sektor pariwisatanya sebagai sumber pemasukan utama. Terlebih dengan status situs warisan budaya dunia dari UNESCO yang disandangnya. Tapi tentu, dengan segala kekayaan sejarahnya, wisata historis menjadi jualan paling utama kota ini.

Pemandangan Selat Malaka dari atas bukit. Bangunan menjulang di tengah adalah Menara Taming Sari

Kami berangkat dari hostel di kawasan Tengkat Tong Shin dekat Bukit Bintang sekitar jam 9 pagi (yang sebenarnya secara de facto masih jam 8.. Blame Malaysia and their bizarre GMT+8 time policy) dan berjalan kaki menuju stasiun LRT Plaza Rakyat di belakang Terminal Pudu Sentral (d/h Terminal Puduraya). Meskipun disediakan sarapan berupa roti di hostel namun dua insan pecinta nasi ini lebih memilih nyari tukang jualan nasi lemak di pinggir jalan :D Untungnya ketemu gak begitu jauh dari terminal, cukup dengan RM 5 bisa sarapan dengan nasi lemak + ikan bilis + sambal belacan dan… ayam goreeeng! *suara Ipin-Upin* Lanjut naik LRT Ampang Line untuk turun di stasiun Bandar Tasik Selatan. Stasiun ini terintegrasi dengan Terminal Bersepadu Selatan (TBS) jadi tinggal nyeberang pake skybridge aja udah nyampe ke terminalnya. Keberangkatan semua bus tujuan selatan KL (Melaka, Negeri Sembilan, Johor, dan Singapura) memang dipusatkan di TBS, tidak bisa dari Pudu Sentral yang berfungsi sebagai hub untuk bus-bus tujuan utara (Penang, Butterworth, dll.). Perjalanan menuju Melaka dapat ditempuh dalam waktu +/- 2 jam dari KL dengan menggunakan bus.

Bus yang kami tumpangi menuju Melaka adalah bus bernama Metrobus dengan tarif RM 10/pax. Sebenernya bisa naik bus apa aja yang bertujuan akhir Melaka dengan tarif yang gak beda jauh, tapi karena mengejar waktu keberangkatan paling cepat akhirnya pilih bus itu. Perjalanan selama dua jam mayoritas dihabiskan di lebuhraya (a.k.a jalan tol) yang pemandangan kiri kanannya cuma perkebunan kelapa sawit. Lebih keren Jagorawi kemana-mana deh, apalagi gak ada tukang gemblong dan kacang bawang di pintu tol pula. Bus mengakhiri perjalanan di Terminal Bus Melaka Sentral dan dari situ tinggal nyambung bus Panorama no. 17 yang ngelewatin Dutch Square/Bangunan Merah. Di Melaka Sentral ini baru tersadar ada satu lagi budaya Indonesia yang juga diklaim Malaysia: bus ngetem nunggu penumpang penuh sampe 15 menit! X))

Bus Panorama di Melaka Sentral

Dari terminal ke kawasan kota tua di Dutch Square hanya ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Pas nyampe di sini bus yang semula penuh sesak hampir kosong karena penumpangnya yang didominasi turis asing pada turun semua :D Kesan pertama saya begitu menjejakkan kaki di Dutch Square: “lah, luasnya segini doang?” Bayangan saya tadinya seluas Taman Fatahillah + area sekelilingnya. Ternyata luas area ‘alun-alun’ kota tua Melaka ini kecil dan cukup sempit.

Dutch Square yang berukuran mini

Dutch Square yang berukuran mini

Still wondering why it's called "Dutch Square"? :)

Still wondering why it’s called “Dutch Square”? :)

Salah satu ikon khas Melaka

Salah satu ikon khas Melaka

Mirip menara syahbandar Batavia gak sih?

Mirip menara syahbandar Batavia gak sih?

Ternyata bangunan-bangunan bernuansa merah di Dutch Square ini hanya sekelumit dari puluhan bangunan bersejarah yang dimiliki Melaka. Masih banyak yang bisa dijelajahi setelah melihat peta wisata yang bisa diambil di Tourism Information Centre (TIC) yang terletak di kawasan yang sama. Berhubung nyampe Melaka pas tengah hari bolong dan pas masuk waktu dzuhur juga, kami pun memutuskan untuk ngadem dan sholat dzuhur dulu di surau di atas bangunan TIC. Lagipula waktu check in di hostel masih jam 3, jadi mending ngider-ngider dulu semampunya.

Kami memutuskan untuk menyusuri Sungai Melaka sampe mentok ke Selat Malaka yang ada di awal postingan tadi. Sepanjang sungai ini banyak terdapat bangunan-bangunan tua yang kini dialihfungsikan menjadi museum atau tempat usaha. Muzium Kastam misalnya, menempati bangunan yang mirip dengan Museum Bahari di Jakarta. Gak heran sih mengingat yang ngebangun juga sama-sama orang Belanda. Trus ada Muzium Maritim yang mengambil bentuk kapal Portugis abad 16. Sayangnya gak sempat menjelajahi sisi seberangnya (sejajar Hotel Casa del Rio). Jalan lurus terus ngelewatin bangunan yang sepertinya museum ketentaraan dan Menara Taming Sari hingga berujung ke pantai di muara sungai yang menghadap Selat Malaka. Gempor udah pasti, tapi yang paling jelas terlihat adalah muka dan sekujur badan yang terpapar matahari jadi gosong :D Oh iya, sepanjang jalan setapak menuju pantai ini unik. Bukannya burung camar yang banyak seliweran, ini malah burung gagak. :/

Kincir air yang cuma jadi pajangan

Lupa ini namanya reruntuhan benteng apa..

Muzium Maritim Melaka. Buat masuk kudu bayar RM 6 jadi mending dari luar aja potonya… #irit

Menara Taming Sari. Sepertinya bangunan tertinggi di Melaka. Jangan tanya tiket masuk buat naik ke atasnya berapa.. Bikin sakit hati pelancong kere.

Setelah menggosongkan diri dan makan siang di RM Padang dekat pelabuhan ferry (iya, jauh-jauh ke negeri seberang makannya di RM Padang juga sodara-sodara…) akhirnya kami berbalik arah menuju hostel buat naro backpack yang semakin lama semakin terasa membebani hidup. Sesuai rekomendasi dari banyak blog pelancong Indonesia, saya memilih hostel ini sebagai tempat bermalam. Per kepala hitungannya cuma RM 15 per malam dan lokasinya sangat strategis, tepat berada di pinggir Sungai Melaka dan hanya 3 menit jalan kaki dari Dutch Square. Value for money banget dengan fasilitas yang sepadan dengan harganya, plus owner yang sangat helpful.

Penjelajahan kota tua Melaka tahap kedua pun dimulai. Jika tadi dari Dutch Square tinggal jalan lurus menyusuri sungai, kali ini kami berbelok ke arah kiri dari ‘alun-alun’ kota. Karena udah agak sorean, beberapa museum yang masuknya gratisan udah pada tutup jadinya gak bisa masuk. Walhasil, langkah kaki diayunkan ke St. John Hill tempat bertenggernya gereja yang satu ini:

Lupa ini namanya apa, yang pasti ini gereja katolik peninggalan Portugis sih..

...karena ada ini nih: patung Fransiscus Xaverius. Misionaris yang cukup termasyhur pada zamannya.

…karena ada ini nih: patung Fransiscus Xaverius. Misionaris yang cukup termasyhur pada zamannya.

Dan di bawahnya ada ini: Porta da Santiago, satu-satunya yang masih tersisa dari Benteng A Famosa

Pemandangan dari atas Bukit St. John sungguh ciamik. Gak nyesel harus naik tangga dengan kemiringan yang cukup ekstrem untuk mencapai tempat ini. Lepas dari sini maksudnya pengen ke Istana Kesultanan Melaka yang tepat berada di bawahnya tapi udah tutup. Muzium Filateli juga udah tutup. Muzium Peradaban Islam tutup. Muzium Pemerintahan Demokrasi (saking langkanya demokrasi di sana sampe harus dibikin museum :D) tutup. Akhirnya daripada mati gaya, kami pun duduk ngaso sambil ngeliat hilir mudik becak hias yang mengangkut turis-turis bule :D (ini terhitung mati gaya juga sih)

"Sorry, we're closed" - Istana Kesultanan Melaka

“Sorry, we’re closed” – Istana Kesultanan Melaka

"The same with us" - entah gedung apa

“The same with us” – entah gedung apa

“Ours too” – Muzium Filateli (nampaknya)

"No luck, mate" - gedung antah berantah

“No luck, mate” – gedung antah berantah

"Tunggu pemilu berikutnya" - Muzium UMNO Melaka

“Tunggu pemilu berikutnya” – Muzium UMNO Melaka

"Menurut loh??!" - Muzium Seni Budaya Malaysia

“Menurut loh??!” – Muzium Seni Bina Malaysia

"I'm free and available!" - Abang tukang becak hias

“I’m free and available!” – Abang tukang becak hias

Btw abang-abang tukang becak hias ini muterin lagunya Tegar yang “Aku Yang Dulu Bukan Aku Yang Sekarang” pake speaker kondangan loh.. #respect #GNFI

Udah jam 5 lewat di Melaka tapi belum ada tanda-tanda matahari bakal terbenam. Gara-gara pake GMT+8 padahal lokasi geografisnya GMT+6,5 sih.. (here we go again). Awalnya pengen naik lagi ke St. John Hill buat ngeliat sunset dari situ, tapi berhubung masih kelamaan nunggunya akhirnya mending balik lagi ke arah hostel sambil menjelajah area sekitarnya.

Gapura depan Jonker Street

Masjid Kg Hulu

Masjid Kg Hulu

Masjid Kg Kling

Masjid Kg Kling

Pedestrian walk pinggir kali yang caem banget

Pedestrian walk pinggir kali yang caem banget

Ada konser Slam!!!

Ada konser Slam!!! *start humming: kusangka kan panas berpanjangan…*

Kapal Melaka River Cruise lagi lewat

Kapal Melaka River Cruise lagi lewat

Emang mirip suasana BKT... #yakeleus

Emang mirip suasana BKT… #yakeleus

dan petang pun menjelang

dan petang pun menjelang

Sungai Melaka ketika malam

Sungai Melaka ketika malam

Masjid-masjid kuno, kelenteng, kuil hindu, kios-kios antik, dan rumah-rumah berarsitektur Tionghoa Peranakan mendominasi lingkungan sekitar Jonker Street dan Lorong Hang Jebat. Kios-kios makanan yang menjual chicken rice, chendol, onde-onde (yang sebenernya adalah klepon! Camkan itu wahai warga Melaka!) bertebaran di segala penjuru jalan. Jonker Street kalo malam konon adalah sentra kuliner Melaka. Sayangnya, karena didominasi oleh  populasi Tionghoa, mencari makanan halal di sini bukan perkara yang mudah. Halal dalam artian saklek loh ya, bukan cuma sekadar “no pork, no lard”. Penjual makanan Melayu (yang dijamin halal) dapat dijumpai di seberang Muzium Maritim atau, jika kurang kerjaan (kayak kami), bisa menyusuri Sungai Melaka sampe mentok di Jembatan Hang Tuah. Di dekat situ ada sekumpulan warung tenda yang menjual masakan-masakan khas Melayu, salah satu yang must try adalah hidangan bernama Asam Pedas. Berasa kayak sarden sih tapi asem dan pedas (yaiyalah..), tapi yang paling utama adalah porsinya banyak dan pake nasi. #HidupNasi

Kekurangkerjaan kami menyusuri aliran Sungai Melaka malam-malam ternyata membuahkan kegunaan lain ketika keesokan harinya hendak bertolak menuju LCCT. Bus Panorama 17 yang menuju arah Melaka Sentral pada pagi hari tergolong jarang frekuensi kedatangannya. Terlebih lagi rute perjalanannya yang muterin kota dulu sebelum menuju terminal (karena banyak laluan sehala (one way street) di Melaka). Jadi, alih-alih menunggu bus sampe lumutan di Dutch Square, kami pun menuju Jembatan Hang Tuah lagi dan menunggu bus di halte dekat sana. Tips ini diberikan oleh sang owner hostel tempat kami bermalam dan terbukti tokcer. Tanpa harus menunggu lama, kami pun sudah terangkut di dalam bus kota yang hampir semuanya menuju arah Melaka Sentral.

Melaka… Kota pelabuhan yang pusat kegiatannya berada di sepanjang sungai ini sangat mengingatkan saya pada Batavia tempo doeloe. Stadthuys dan Christ Church di Dutch Square, mirip sama bangunan-bangunan yang ada di sekitaran Taman Fatahillah. Sungai Melaka yang jadi urat nadi perdagangan sama persis kayak Kali Besar (Molenvliet). Bahkan masih mending Jakarta yang mampu mempertahankan wujud dan fungsi Pelabuhan Sunda Kelapa kayak jaman kolonial. Kawasan Kota Tua Jakarta seharusnya bisa menyamai jejak Melaka dalam menggarap potensi wisatanya, bahkan kalo bisa melebihi. Sayangnya hingga kini rencana revitalisasi Kota Tua masih sepotong-sepotong, sehingga kesannya cuma tambal sulam. Seandainya saja Kali Besar bisa lebih bersih dan gak berbau busuk kayak sekarang, area dari Beos sampai Sunda Kelapa dibikin jalur pedestrian dan bebas dari kendaraan bermotor, bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan-jalan yang bernama rempah itu dipugar dan dialihfungsikan jadi cagar budaya semua, dan ada koridor wisata dari Kota Tua-Petak Sembilan… Rasanya layak jadi situs warisan budaya dunia selanjutnya dan mampu membayang-bayangi Melaka sebagai destinasi wisata historis utama di Asia Tenggara.

Ah, saya memang terlalu sering berandai-andai.. :(

Advertisements

One thought on “Sepenggal Sejarah Itu Bernama Melaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s