Tentang KL

Dulu saya beranggapan Kuala Lumpur itu kota yang segala-galanya jauh melebihi Jakarta. Kira-kira mirip kayak Singapura versi KW lah. Entah dari segi kebersihan, tata kota, transportasi umum, atau gaya hidup penduduknya. Setelah awal April lalu berkesempatan untuk merasakan satu setengah hari di sana, saya nampaknya perlu merevisi anggapan tersebut.

Untuk satu hal dulu deh: kebersihan. Begini, saya aja sempet syok ketika menyadari bahwa Singapura, negara-kota yang katanya terobsesi sama sterilitas dan kebersihan itu, ternyata gak bersih-bersih amat. Di daerah-daerah sekitar Merlion Park dan sepanjang Connaught Drive hingga War Memorial Park masih banyak dijumpai gelas-gelas styrofoam kosong yang dibuang sembarangan. Puntung rokok, tisu, dan sampah plastik juga sesekali terlihat. Seketika ekspektasi saya terhadap KL juga turun. Singapura yang segini maju aja masih ada budaya nyampah (yang mungkin dilakukan para turis, bukan oleh penduduk lokal, tapi seharusnya cepat dibersihin dong?), apalagi KL?? Dan ternyata memang demikian adanya. Secara umum, Jakarta pasti lebih jorok sih.. Tapi ada beberapa tempat di KL yang bikin saya mikir “ini kayaknya Jakarta banget”. Air limbah yang tergenang di jalanan, tumpukan sampah non organik, dan ceceran tanah dan puing sisa proyek pekerjaan umum yang terbengkalai dapat dijumpai di beberapa tempat. Yang saya inget itu di daerah sekitar Jalan Petaling, area Jalan Alor-Bukit Bintang kalo malem, dan jembatan penghubung Stesen LRT Plaza Rakyat-Terminal Pudu Sentral (kalo yang ini jembatan pengubung halte TJ Dukuh Atas I-Dukuh Atas II masih lebih kinclong kayaknya).

Untuk tata kota oke lah, KL bisa dibilang unggul jauh dari Jakarta. Konturnya yang berbukit-bukit ditambah banyaknya pohon rindang sepanjang jalan cukup menjadi pembeda yang signifikan (teriknya sih tetep sama, tapi kadar polusi udara beda jauh nampaknya). Belum lagi jalur pedestrian yang lebar-lebar dan adem (meski, kembali, ada satu lagi ‘jakarta moment’ terjadi waktu saya ngeliat ada motor ngelawan arus naik ke atas trotoar di dekat Masjid Negara :D). Pusat kota tampaknya memang diperuntukkan sebagai kawasan pusat bisnis dan ekonomi, sementara kawasan pemukiman (yang mayoritas udah menganut sistem hunian vertikal) rata-rata terletak di kawasan sub-urban. Terlebih karena pusat pemerintahan Malaysia sekarang udah pindah ke Putrajaya jadinya lumayan jarang dijumpai kemacetan di sini.

Sepi kan? Padahal jam makan siang dan hari kerja pula

Sepi kan? Padahal jam makan siang dan hari kerja pula

Kalo untuk transportasi umum, KL emang gak seciamik Singapura, tapi yang pasti mereka sedang menuju ke arah sana. Yang agak mengejutkan buat saya adalah ternyata di KL belum ada MRT! Proyek pembangunan jalur MRT yang cukup intensif bisa diliat di area Bukit Bintang. Udah sampe tahap ngegali terowongan segala dan nutup separo lebar jalanan. Jadi, untuk hal MRT, Jakarta ternyata gak ketinggalan jauh-jauh amat hehehe..

Meskipun belum punya MRT, KL udah cukup komplit sih sebenernya untuk hal pilihan moda transportasi umum yang tersedia. Untuk area dalam kota udah ada jaringan kereta LRT (yang sebagian jalurnya pun udah underground) dan KL Monorail. Untuk daerah sub-urban ke kota ada KTM Komuter. Dari bandara ke pusat kota ada dua pilihan tipe kereta: KLIA Ekspres sama KLIA Transit. Belum lagi jaringan bus Rapid KL yang hampir menyamai standar kualitas SBS Transit & SMRT Bus-nya Singapura. Jakarta? TransJakarta aja sistemnya masih amburadul, KRL Commuter Line yang menghubungkan kawasan sub-urban ke pusat kota pun belum punya dedicated line sendiri (masih barengan sama KA jarak jauh), monorel masih wacana, MRT baru mulai pengerjaan fisik, KA Bandara masih pembebasan lahan, dst. dst. -_-

Waktu di KL kebetulan sempat nyobain semua moda transportasi tersebut kecuali monorel (KLIA Ekspres/Transit juga sik..). Tapi di antara semuanya, transportasi umum yang paling membantu selama di KL itu adalah shuttle bus gratis GoKL. Pertama tentunya karena gratis (have i told you i’m a cheap bastard?), selain itu mungkin juga karena rutenya sengaja dibikin untuk singgah di pusat-pusat lokasi perlancongan. Alasan lain juga karena minimnya informasi tentang rute & tarif bus umum di KL. Memang ada kartu Touch ‘n Go serupa EZ-Link di Singapura, tapi sepertinya lebih ditujukan untuk penduduk lokal aja (baca: gak tau belinya di mana). Konsep shuttle bus gratis ini udah diadopsi sama Pemprov DKI Jakarta belum lama ini, tapi kayaknya kurang bermanfaat buat para turis ya.. (secara armadanya masih dikit dan yang naik juga malah kebanyakan warga setempat). Untuk bisa nemuin halte-halte tempat bus GoKL ini berhenti cukup bermodal Google Maps sama peta rutenya aja sebenernya, tapi awal-awal mungkin bakal kesulitan mengkombinasikan kedua informasi itu (kayak saya yang abis satu jam jalan kaki muter-muter cuma buat nyari haltenya :D). Edan lah pokoknya GoKL ini.. Muter-muter hop on-hop off sampe muntah juga bisa, dan tetep gak ditarik ongkos. Bahkan jam 11 malem waktu sana pun ini bus masih beroperasi :D

GO-KL-bus-with-monoraiGO-KL-bus-with-monorail

In GoKL buses we trust (pic from backpackingmalaysia.com)

Superioritas sarana dan prasarana transportasi umum di KL dibanding Jakarta gak berhenti di situ. Stasiun-stasiun dan terminal busnya menang mutlak. Janganlah dibandingin Gambir sama KL Sentral.. kebanting abis dalam hal interkoneksi, fasilitas, dan aksesibilitas. Stasiun-stasiun lain yang tergolong kecil juga bersih dan rapih (kalo ini PT KAI udah mulai mengejar ketertinggalan). Tapi yang paling jomplang itu emang terminal busnya. Dua terminal bus yang sempat saya singgahi itu Terminal Pudu Sentral dan Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Kalo Pudu mah so-so yah, bangunannya sih bagus, mungkin nanti Terminal Terpadu Pulo Gebang bakal kayak gini jadinya. Kekurangannya cuma masih banyak calo tiket yang terang-terangan beroperasi. Tapi kalo TBS udah another level. Terminal di selatan KL ini buat saya terminal bus paling top yang pernah saya liat (so far). Rasanya bandara-bandara di beberapa kota di Indonesia aja kalah mentereng sama ini terminal. Baru di sini saya ngeliat terminal bus pake papan kenyataan (baca: information board :p) tentang jadwal kedatangan/keberangkatan, dan baru di sini juga beli tiket bus jarak jauh pake general ticketing machine (!) + pake proses check in dan boarding segala. Hidup di Indonesia tiba-tiba terasa tertinggal satu abad dalam hal peradaban.

Main-hall-TBS

Ini main hall-nya TBS. Kalo kata orang Bekasi mah “Hetdah, kinclong dan lega beud kayak emol.. ” (pic from travelfish.org)

Tiket TBS

Beli tiket bus ke Melaka pake GTM. Bisa milih jadwal keberangkatan yang paling dekat atau berdasarkan operator busnya. Bebas antrian di loket dan kekinian banget.

Untuk perihal gaya hidup dan budaya di sana ini cukup menarik. Ternyata musik populer Indonesia (atau lebih tepatnya: musik yang biasa menghiasi layar kaca Indonesia di waktu pagi) masih merajai playlist di radio-radio di KL :D Gak cuma di radio, pengamen jalanan pun masih sering membawakan lagu-lagu tanah air. Bahkan (ini di Melaka sih) ada tukang becak yang nyetel lagu Poco-Poco pake loudspeaker XD Entah kemana perginya lagu-lagu Yuna atau Zee Avi yang seharusnya lebih layak mereka putar berulang-ulang.. Satu hal lagi, kayaknya di sini segregasi antar ras masih terasa kuat ya. Malay only get along with Malay, Indian with Indian, Chinese with Chinese. Sampe dimana-mana bisa ditemui banner dan materi propaganda dengan jargon 1Malaysia :D (dan terkadang lebih baik ngomong bahasa Inggris sama orang Malaysia, bahkan yang Melayu sekalipun, daripada kebingungan sendiri menebak-nebak makna setiap kalimat :p)

No no, i love Bekasi more :p

No no, i love Bekasi more :p

KL (dan Malaysia secara umum) nampaknya memang sangat menganakemaskan sektor pariwisata. Di seluruh penjuru kota dapat ditemui muka-muka bule megang peta dan manyandang ransel. Kalo turis Asia biasanya datangnya berombongan dalam bus-bus gede. Saking banyaknya turis asing yang ada di KL terkadang bikin saya mikir: mereka ini ke sini nyari apaan sih? Indonesia padahal punya 1000x lebih banyak daripada yang ditawarkan Malaysia. Sampai akhirnya saya menarik kesimpulan kalo semuanya berujung ke infrastruktur. Turis-turis itu mayoritas pengen ngerasain sensasi berada di negara Asia yang menawarkan suasana ‘eksotis’ tapi gak pengen direpotkan dengan transportasi yang buruk dan fasilitas wisata yang ala kadarnya, pokoknya minimal mendekati kondisi di negara mereka. Malaysia menyediakan itu semua. Ditambah lagi, mereka gak mungkin ngandelin pelancong domestik karena populasinya yang minim. Jadi segala sumber daya dikerahkan untuk membuat turis mancanegara rela berlama-lama menghabiskan devisa di sini. Indonesia itu, dengan segala kekurangannya, menurut saya cuma cocok untuk turis-turis berjiwa petualang. Tapi faktanya gak semua turis bule itu berjiwa petualang, yang rela melancong bermodal backpack dan duit sekadarnya, yang rela bersusah payah menuju satu destinasi wisata, dan gak keberatan dengan kondisi fasilitas wisata/akomodasi yang memprihatinkan. Ada ceruk pasar yang menawarkan pendapatan negara lebih besar kalo aja promosi wisata dilakukan secara benar dan tentunya, yang paling penting, infrastruktur sektor pariwisata dibangun dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, murni, dan konsekuen.

*ceileh, berasa orang bener..*

Tapi feeling saya sih, dengan potensi konsumsi domestik di sektor pariwisata yang masih sangat besar, kayaknya pemerintah masih bakal setengah hati ngebangun infrastruktur yang ditujukan untuk memanjakan turis-turis asing. Pelancong domestik biasanya gak rewel-rewel amat soal fasilitas dan mampu memaklumi kebobrokan pemerintahnya sendiri hahaha

Anywaaay, meskipun baru sekali ke sana rasanya saya ogah kalo ke KL lagi pake duit sendiri :D Hampir semua destinasi utamanya udah dikunjungin. Paling yang belum cuma tempat-tempat perayaan konsumerisme kayak mall-mall sepanjang Bukit Bintang atau Genting Highland yang gak menarik minat saya. Sekalinya masuk ke mall pun gak sengaja karena rute jalan kaki pas malem-malem ke Petronas Twin Tower kudu lewat Suria KLCC (yang 11-12 sama mall-mall Jakarta). Btw, pedestrian skywalk ber-AC yang panjang banget dari Pavilion ke KLCC mesti dibangun di Jakarta tuh.. Kalo harus ke Malaysia lagi nampaknya sudah jelas pilihan ke KL bakal di-skip, lebih milih ke Penang atau kota-kota lainnya yang less metropolis.

No pic = hoax. Therefore, this pic is semi hoax :)

Advertisements

12 thoughts on “Tentang KL

  1. Hi cheap bastard haha
    I ‘ve been stalking you for two days!! Really like your blog. Can’t stop scrolling arrrggghh
    You will make a great writer someday. Insha allah
    May I have your email address, please?
    Yes, yes for research purpose only :p

  2. hi…welcome to MALAYSIA
    Every country must have their weaknesses, but we will always strive to keep ahead. I am still proud that the malaysia government has provided many jobs to reduce the number of people going to other countries to work. Kalau saya ada rezeki dan peluang saya harap dapat menjelajah negara anda. thank u

    • Well, you should proud of Malaysia, especially KL. Even i admit in my post that KL is miles ahead of Jakarta. It’s hard for us to catch up, even for the next 10-20 years. But yeah, every city (and country) has its own character. Come and visit us to experience the difference :D

      • I seriously respect you, u are tht one person who always take the benefit and positive rather then the negative.. Well I don’t know wht to say, thnks for visiting Malaysia.. I know its normal for human to travel and adventure something new.. 😅 I really wish could visit Jakarta in the future, and I really wish ur country will become extra developed then wht it is now.. Well it actually will developed EVENTUALLY! hehehe 😅.. Salam Dari Malaysia sahabat serumpun.. Good luck in life.. ✌

  3. Thank you for your good and bad comments about Malaysia especially KL. Yes just like us we are not 100% perfect. Well in term of Public Transportation i think Malaysia is among the best in the world. In KL we already have ERL, LRT, Monorail and Komuter. Soon 51km KVMRT from Sg Buloh to Kajang and when this project completed, the travelling time will be faster and efficient and Malaysian should be proud to have the high end and most advance transport system in South East Asia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s