Mencoblos di Negeri Orang

Ikut pemilu Indonesia ketika berada di luar negeri gak pernah kepikiran sebelumnya. Apalagi saya tidak belum beruntung untuk bisa menjadi mahasiswa rantau di luar negeri yang masa studinya bertepatan dengan penyelenggaraan pemilu. Pengalaman yang beberapa hari lalu saya alami sebenernya lebih berupa kebetulan: kebetulan pemilu di Singapura digelar 3 hari sebelum di Indonesia, kebetulan saya ada di sana pas pemilu dihelat, dan kebetulan juga lagi punya niat buat gak golput tahun ini hahaha…

Perjalanan (baca: liburan ala gembel) ke Singapura (dan Malaysia) ini udah direncanakan jauh-jauh hari mengingat tiket diskonan AirAsia yang hanya tersedia untuk periode perjalanan hampir setengah tahun setelah pemesanan. Masalahnya, waktu menentukan tanggal perjalanan sama sekali gak kepikiran kalo akan bertepatan dengan jadwal pemilu legislatif. Rencananya baru akan tiba kembali di Jakarta pada tanggal 9 April sore dan tentunya TPS udah pada tutup. Ini baru disadari pas udah deket-deket hari-H. Awalnya lebih condong ke perasaan pasrah untuk terpaksa gak ikut pemilu tahun ini, namun kabar bahwa pemilu di LN ternyata dilakukan terlebih dahulu dari tanah air (dan biasanya pas weekend) memunculkan secercah harapan. Untuk jadwal pemungutan suara di Singapura setelah dicek ternyata jatuh pada Ahad tanggal 6 April 2014. Sip, cocok! Tanggal tersebut memang pas dengan jadwal ketibaan di negeri singa dan rasanya meluangkan waktu sebentar ke KBRI untuk mencoblos tidak akan terlalu mengganggu rencana perjalanan.

Korespondensi dengan pihak PPLN Singapura pun dilakukan via email untuk mengetahui prosedur mencoblos bagi pengunjung temporer macam kami ini. Ternyata yang dibutuhkan hanya paspor dan formulir pindah TPS (Form A5) yang bisa diminta di PPS asal. Karena PPS tingkat terbawah di tanah air biasanya bermarkas di kantor kelurahan, maka form A5 biasanya juga tersedia di kelurahan. Pengurusannya sangat cepat, gak sampe 5 menit. Cuma nunjukin KTP sama KK sebagai bukti bahwa memang warga kelurahan tersebut, dan akan lebih baik jika udah tau telah terdaftar di TPS berapa (bisa dicek di website KPU). Form A5 bisa diurus maksimal 3 hari sebelum tanggal pemungutan suara. Jadi buat yang pas pemilu legislatif kemarin gagal mencoblos karena tidak terdaftar di TPS terdekat karena sedang dinas/kos/dll, bisa dicoba untuk bikin form A5 di daerah asalnya (konon bisa diwakilkan) untuk pemilu presiden nanti.

Masalah selanjutnya adalah mencari letak KBRI Singapura. Untungnya negara kota itu sangat mumpuni dalam hal transportasi massalnya, jadi hanya dengan bermodal Google Maps langsung bisa ketauan mesti naik apa/turun dimana untuk menuju ke sana (bahkan untuk orang yang baru pertama kali berkunjung ke sana kayak saya). Kalo dari Changi tinggal naik MRT ke arah Tanah Merah, lalu pindah ke EW Line arah Joo Koon dan turun di Stasiun Outram Park. Dari sana tinggal nyeberang jalan lalu naik bus nomor 75 dan turun di halte Lucky Tower, patokannya sebelum persimpangan Grange Road dan Chatsworth Road. Dari situ tinggal jalan lurus +/- 200 meter menyusuri Chatsworth Road dan gedung KBRI akan terlihat di kiri jalan. Sialnya, setelah capek browsing sana-sini buat mengumpulkan info petunjuk arah pelengkap Google Maps, ternyata kalo buka website KBRI Singapura udah ada lengkap semua rute untuk menuju ke sana untuk segala jenis moda transportasi.. -_-

Ketika hari-H tiba, eksekusi atas rencana ini pun segera dilakukan. Dari Changi naik MRT langsung bablas ke Outram Park, bukannya turun di Raffles Place dan lanjut ke Merlion Park seperti yang biasa dilakukan pelancong Indonesia di Singapura lainnya. Tidak sulit menemukan halte bus tempat menunggu bus 75 yang menuju ke arah KBRI. Letaknya persis di seberang stasiun agak jalan dikit, bisa nyeberang pake jembatan penyeberangan atau zebra cross biasa. Begitu mendekati halte, sayup-sayup terdengar obrolan dalam logat Jawa ngapak. Benar saja, di sana telah berkumpul banyak buruh migran Indonesia (BMI) yang mayoritas perempuan yang hendak bertolak menuju KBRI untuk menunaikan hak pilihnya. Okesip, berarti gak salah tempat. Lucunya, waktu bus nomor 75 datang, ada seorang mbak-mbak BMI yang bertanya ke saya (yang jelas-jelas lagi ngegembol backpack dan agak clueless tentang peta Singapura) apa benar bus ini rutenya menuju ke KBRI. Rupanya selama ini banyak BMI kalo pergi ke KBRI selalu berombongan dan rame-rame naik taksi sehingga gak tau rute kendaraan umum yang bisa diambil jika ingin ke sana.

Walhasil dalam bus 75 yang tadinya kosong itu kini terisi penuh oleh orang Indonesia yang mayoritas mulutnya gak pernah bisa mingkem :D Si mbak-mbak BMI yang tadi pun ngajakin saya ngobrol dan cerita tanpa diminta kalo dia betah tinggal di Singapura yang rapi, bersih, dan disiplin (gak kayak di Cilacap tempat assalnya), betah sama bosnya yang baik (pas tanggal 6 tersebut sebenernya bentrok sama outing di perusahaan tempat dia bekerja ke Sentosa, namun oleh si bos mbak-mbak tadi ‘dipaksa’ harus ikut pemilu aja demi masa depan negaranya), terakhir ke KBRI nyaris 3 tahun lalu pas ngurus perceraian dia dan suaminya (ini #kode atau apa sih maksudnya? :)) dan harapannya akan pemilu ini agar bisa memperbaiki nasib bangsa. Teman seperjalanan saya yang kebetulan lagi pake batik (karena dikiranya masuk KBRI harus pake baju formal :D) langsung dengan mudah diidentifikasi sama BMI-BMI yang lain dengan celetukan: “Wah, iki yo pasti orang Indo iki. Nganggo batik!!” dan langsung disambut derai tawa mayoritas penumpang bus. Ah, ciri khas orang Indonesia. Selalu guyub dan mudah akrab dengan sesama saudara sebangsanya ketika di negeri orang. Seketika saya tidak merasa sedang di dalam SMRT bus, tapi suasananya lebih kayak bus-bus AKAP lintas Pantura. Kebisingan dan ‘ketidakberadaban’ yang sedikit mengundang tatapan heran menjurus sinis dari penumpang bus lainnya yang merupakan penduduk lokal. Tapi peduli amat. Inilah kami, orang Indon dengan segala kenorakan dan ketidakberadabannya yang sedang merayakan pesta demokrasi (yang tidak akan mungkin kalian rasakan hahahaha… *tertawa jumawa*)

Begitu tiba di halte Lucky Tower agak terkesiap dengan ramainya suasana di sana. Padahal itu masih cukup jauh dari KBRI loh! Tampak antrian mobil ke arah Chatsworth Road mengular sampai depan halte yang terletak di Grange Road, kemacetan pertama yang saya liat sejak menjejakkan kaki di Singapura. Di dekat halte ada kertas bertuliskan “shuttle bus” dan memang sedang ada bus yang lagi nongkrong di sana. Nampaknya memang bertugas bolak-balik membawa WNI yang ingin mencoblos dari halte Lucky Tower ke KBRI, meskipun sebenarnya gak jauh-jauh amat kalo ditempuh dengan jalan kaki. Ketika berjalan ke arah Chatsworth Road kami sering berpapasan dengan rombongan WNI yang sudah menunaikan hak pilihnya. Bener-bener rame dan suasananya udah kayak bubaran sholat ied. Semakin mendekati gedung KBRI makin banyak terlihat WNI-WNI yang didominasi BMI lagi ngampar di pinggir jalan pada ngobrol sambil makan (serta tak lupa sampah dibuang sembarangan :p)

IMAG1193

Ngaso dolo gan…

Di dalam gedung KBRI kepadatan massa lebih menggila lagi. Bahkan pihak kedutaan sampai harus membuat pintu masuk dan pintu keluar khusus secara terpisah untuk mengakomodasi ribuan orang yang hendak memilih. KBRI Singapura sendiri memang termasuk salah satu perwakilan RI di luar negeri yang memiliki DPT terbanyak, bersama dengan KBRI Kuala Lumpur, KJRI Hong Kong, dan Jeddah. WNI yang hendak mencoblos sampai harus dibagi ke dalam 5 jalur antrean dengan jalur terakhir (jalur 5) dikhususkan untuk calon pemilih yang ‘bermasalah’.

IMAG1181

Antrean calon pemilih yang mengular dan terbagi menjadi 5 jalur

Bermasalah? Iya, kami ini juga termasuk salah satu yang bermasalah. Orang-orang yang tidak masuk DPT digolongkan sebagai ‘pemilih bermasalah’ dan harus mengantre di jalur 5 untuk mendapat ‘perlakuan khusus’. Turis yang memiliki itikad baik untuk mencoblos meskipun sedang melancong kayak kami ini otomatis tidak terdaftar di DPT yang dirilis KBRI Singapura, namun ada juga yang bermasalah karena tidak membawa paspor dan surat undangan pemilih namun hanya membawa IC (identity card mungkin ya maksudnya?). Trus ada juga yang bermasalah karena sudah dikirim surat suara via pos namun tidak menggunakannya dan memilih untuk datang langsung ke TPS pada hari pencoblosan (mungkin biar dapet hype jari ungu kali.. :p). Untuk kasus kayak gini, sebenernya si pemilih harus membawa serta surat suara yang udah dikirim PPLN ke alamat dia untuk dicoblos di TPS. Tapi biasanya yang dateng gak tau tentang hal ini dan akhirnya harus mengantre di jalur khusus.

Lalu bagaimana dengan calon pemilih yang tidak bermasalah? PPLN Singapura merupakan satu-satunya yang menggunakan sistem barcode dalam mengirimkan surat undangan memilih ke WNI yang berdomisili di Singapura. Jadi ketika datang ke TPS, calon pemilih tinggal menunjukkan surat undangan yang mereka terima, kemudian petugas registrasi ulang di TPS memindai barcode untuk mengecek keabsahan data di sistem dan kemudian langsung diberikan bukti verifikasi yang dapat ditukar dengan surat suara di TPS. Prosesnya sangat cepat dan efisien, cocok diterapkan untuk meminimalisir antrean dan layak dijadikan benchmark untuk pelaksanaan pemilu di tempat-tempat lainnya di Indonesia.

IMAG1182

Proses verifikasi pemilih yang menggunakan sistem scan barcode

Saya sendiri ketika tiba gilirannya untuk diverifikasi data oleh petugas TPS ternyata tidak diminta form A5-nya. Petugas hanya meminta paspor untuk difotokopi di sana dan di fotokopiannya itu nanti ditulis alamat saya di Indonesia. Tau gitu gak usah repot-repot ngurus form A5 segala deh.. :D Setelah bukti verifikasi diterima, calon pemilih dipersilakanuntuk menuju ke TPS yang jumlahnya ada… 30-an lebih! Iya, 3o-an lebih TPS di dalam satu tempat (lapangan) di lingkungan KBRI Singapura. Untuk menentukan TPS mana yang akan kita gunakan pun cukup unik. Di tiap-tiap TPS ada relawan yang mengacungkan signboard nomor TPS-nya dan akan diangkat tinggi-tinggi ketika TPS tempat dia berada sedang lowong. Jadi bebas aja nentuin bilik suara mana yang kita tuju, selama memang kondisinya sedang kosong. Yang membuat proses ini berjalan cepat dan lancar kemungkinan juga karena di luar negeri pemilih hanya menggunakan hak suaranya untuk calon anggota DPR RI saja. Di sini juga aturan untuk tidak membawa hape ke bilik suara diterapkan dengan ketat dimana setiap hape yang dibawa calon pemilih harus dititipkan ke petugas TPS.

Yang membuat saya kagum bercampur bangga adalah kerja profesional para relawan/petugas PPLN Singapura yang luar biasa. Hari itu sebenernya panas banget di sana, tapi mereka tetap bekerja dengan tulus dan melayani dengan ramah. Mayoritas dari relawan di sini adalah para mahasiswa/pelajar, dan banyak dari mereka adalah warga keturunan. Kelompok masyarakat yang sering mendapat stigma negatif jika berbicara tentang nasionalisme. Di sini lagi-lagi dibuktikan bahwa nasionalisme tidak mengenal ras, suku, agama, ataupun faktor primordial lainnya. Atmosfer kebanggaan berbangsa terasa kuat. Semua merasa sebagai pemegang saham sah republik ini dan berdedikasi total terhadap peristiwa penting dalam kehidupan bernegara dan kelangsungan demokrasi di Indonesia.

Yang juga patut diacungi jempol adalah antusiasme mayoritas WNI yang berupa BMI untuk menunaikan haknya sebagai warga negara. Meskipun di negaranya sendiri mereka kerap diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, keinginan untuk memberi sumbangsih bagi masa depan negara yang lebih baik terpancar kuat. Sempat mencuri dengar celetukan dari mereka: “Lha iya, saya kan masih orang Indonesia. Masak iya gak ikut pemilu?” Celetukan yang datang dari mereka yang memakai pakaian terbaik dan menghias diri sebaik mungkin untuk pergi ke tempat pencoblosan. Tak hanya BMI, WNI dari kalangan lain pun terlihat sangat antusias memberikan suara. Banyak pelajar yang datang berombongan sama teman-temannya bahkan ada seorang nenek yang duduk di kursi roda turut mengantre panas-panasan demi menggunakan suaranya.

Hari itu lebih terkesan sebagai reuni akbar warga negara Indonesia di Singapura. Rasanya hanya dua peristiwa yang bisa menyatukan seluruh WNI di luar negeri yang bukan merupakan acara keagamaan: Peringatan 17 Agustusan dan Pemilu. Bedanya yang pertama diadakan setiap tahun, sedangkan yang kedua ini lima tahun sekali sehingga suasananya agak berbeda. Setelah menunaikan hak pilihnya, para pemilih dapat menuju ke area food bazaar yang menyediakan makanan-makanan khas Indonesia kayak bakso, ayam penyet, ayam kremes, somay, hingga penganan kecil kayak lemper dan kue-kue basah. Harganya lumayan mahal sih, mungkin karena monopoli. Sekotak nasi dengan lauk ayam penyet, potongan timun, sambel, dan air mineral 300 ml harus ditebus dengan harga SGD 6. Tapi karena bisa dimakan di area sekitar KBRI sambil lesehan di rerumputan bersama ribuan lesehers lainnya, harga itu sangat sepadan. Nikmat banget makan siang rame-rame bareng saudara sebangsa di perantauan. Dan tentunya setelah selesai makan, spanduk ucapan terima kasih di dekat pintu keluar KBRI menjadi tempat berfoto terfavorit bagi khalayak (sambil tak lupa memamerkan kelingking yang kini menghitam).

IMAG1185

Selfie di bawah spanduk

Sebuah pengalaman yang menyenangkan dan menumbuhkan harapan. :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s