Football vs Football

On any given Sunday any team in our league can beat any other team.

Awal bulan ini rakyat Amerika Serikat (AS) ‘merayakan’ event tahunan yang boleh dibilang sangat khas Amerika. Mungkin cuma Thanksgiving yang bisa mengalahkan ke-Amerika-an event ini. Yup, tak lain dan tak bukan adalah Super Bowl. Pertandingan final liga American Football nasional (NFL) yang, bagi orang AS, merupakan ajang final suatu kompetisi/turnamen olahraga paling spektakuler di dunia ini. Glorifikasi yang terasa berlebihan memang, namun fakta berupa rating TV tertinggi sepanjang sejarah dapat menjadi justifikasi mereka untuk sedikit membusungkan dada (meskipun kita semua tau kalo rating dan hype itu hanya terjadi di negara mereka saja.. Oh Murica!)

Saingan terberat Super Bowl yang berkarakteristik sama (sebuah final turnamen olahraga tahunan yang mengundang atensi sedemikian banyak) tentu saja adalah malam final UEFA Champions League. All German final musim lalu antara FC Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund mencatatkan rekor 150 juta penonton TV. Memang gak begitu jomplang bedanya sama jumlah pemirsa Denver Broncos vs Seattle Seahawks tahun ini yang berada di kisaran 115 juta pemirsa, tapi dari segi persebaran populasi final UCL jauuuuuuh lebih unggul (“u”-nya ada 6). Hype dan euforia final UCL lebih mengglobal, tidak hanya terkonsentrasi di satu negara saja. Lagipula, saya yakin para pemirsa final UCL ini memang tujuannya semata untuk menonton pertandingan yang akan berlangsung. Tidak seperti Super Bowl yang ada half time entertainment show, yang mampu mengundang pirsawan pirsawati non fans olahraga tersebut untuk turut duduk manis di depan TV menyaksikan acara itu. Belum lagi parade iklan-iklan bombastis yang kemunculannya selalu ditunggu-tunggu. Penonton banyak? Oke, tapi emang pada ngerti dan niatnya cuma buat nonton pertandingan? Pffftt…

Sikap holier-than-thou yang ditunjukkan mayoritas fans sepakbola ini emang sangat jamak ditunjukkan untuk cabang olahraga favorit orang Amerika tadi haha.. Biasanya yang jadi persoalan utama adalah masalah penyebutan nama olahraga tersebut. Fans sepakbola umumnya paling anti kalo olahraga favorit mereka ini disebut sebagai “Soccer” dan menggugat habis penamaan “Football” di American Football. “Soccer” dianggap sebagai nama yang derogatory, tidak sesuai khittahnya sebagai olahraga yang memainkan bola dengan kaki (meskipun nama “soccer” sendiri berasal dari kata “association football”) dan tak lupa mencemooh logika berpikir orang Amerika sana yang bisa-bisanya menamakan olahraga yang memainkan bola (itu pun kalo bisa disebut sebagai bola dengan pengertian yang umum) dengan tangan sebagai “(American) Football”.

ImageFootball no, handegg yes :D

Sebagai fans sepakbola yang berdedikasi (cieeh..) saya pun tentu ikut dalam arus utama tersebut. Meskipun kerap terpapar budaya pop AS yang banyak berlatar American Football, saya tetep gak bisa menemukan asiknya nonton olahraga yang kesannya kayak sruduk-srudukan doang ini. Ngerti pun paling dikit-dikit, sebatas tau istilah touchdown dan quarterback doang. Tapi untuk sistem skor, aturan main, format kompetisi, dll nol besar. Mungkin minimnya akses ke pertandingan live olahraga ini di TV juga sedikit banyak mempengaruhi antipati dan minimnya pengetahuan saya tentang handegg… eh football. Lagipula seperti kata pepatah: tak kenal maka Tata Young, bukan? (plesetan ini masih jaman gak sih?)

Bigotry dan fanatisme sempit dalam hal apapun sepertinya emang gak baik. Sedikit-sedikit saya mulai coba mengikis antipati terhadap American football biar bisa ngerti dikit apa yang ada di balik obsesi para warga AS terhadap olahraga ini, salah satunya dengan memaksakan diri nonton pertandingan di TV tiap ada kesempatan (dan itu hanya bisa dilakukan tiap nginep atas biaya kantor di hotel yang ada pay TV-nya. Cheap bastard.. :p). Teman saya menyarankan untuk membaca manga Eyeshield 21 yang ceritanya tentang klub ekskul American Football di sebuah SMA di Jepang. Manga yang bagus dan lucu meskipun rada hiperbolis (namanya juga Jepang), namun menurut saya jauh lebih bagus daripada komik-komik spakbola bikinan Jepang macam Captain Tsubasa, Kickoff atau Offside (emang bukan selera saya sih). Di manga ini, premis bahwa American Football adalah olahraga yang hanya menguntungkan pemain dengan kondisi fisik tertentu (tinggi-gede-intimidatif) dimentahkan oleh sang tokoh utama. Mungkin analoginya kayak Lionel Messi tiba-tiba join NFL. Ngebayanginnya pasti dalam sekejab tubuh dia udah habis tercabik-cabik terjangan pemain-pemain yang bobotnya rata-rata di atas 100 kg, tapi kalo di manga ini diceritakannya ya bisa-bisa aja tuh… (namanya juga komik). Kalo untuk pengantar yang singkat dan padat untuk lebih mengenal American Football mungkin bisa dimulai dengan menonton ini:

Di buku Soccernomics juga ada satu bab yang didedikasikan khusus untuk menelaah perbandingan antara sepakbola dengan ‘football’. Bab kedelapan dengan judul “Football Versus Football” ini awalnya memberi penjelasan kenapa sepakbola lebih bisa mendunia dibandingkan dengan football. Rupanya ini disebabkan karena sifat yang cukup bertolakbelakang dari dua negara yang pernah/sedang menjadi kekuatan utama dunia: Inggris dan Amerika Serikat. Di masa kejayaan imperium Britania Raya pada abad 19 hingga awal abad 20, pedagang dan pengusaha-pengusaha Inggris adalah pihak yang paling berjasa dalam menyebarkan nilai-nilai ke-Inggris-an ke seluruh dunia, salah satunya adalah sepakbola. Ini juga yang bisa menjelaskan kenapa sepakbola justru kurang populer di koloni resmi Inggris sendiri (India dan Australia misalnya, karena memiliki resistensi akibat dicap sebagai ‘budaya kolonial’), namun berkembang pesat di negara-negara yang banyak berbisnis dengan soft power Inggris (kekuatan dagangnya) seperti Brasil dan Argentina. Di lain pihak, AS sebagai kekuatan utama dunia sejak awal abad 20 tidak pernah berniat  untuk ‘menguasai’ dunia dengan kolonisasi dan menciptakan imperium seperti halnya Inggris. “Go in, do the job, get out” adalah prinsip utama politik luar negeri AS ketika terlibat dalam suatu konflik di negara lain. Budaya-budaya khas Amerika, termasuk dalam bentuk cabang olahraga favorit, dengan demikian tidak memiliki pondasi yang kuat untuk berkembang di luar AS.

Di Amerika, sepakbola menjadi olahraga yang marjinal, kalah bersaing dengan olahraga-olahraga yang ‘lebih Amerika’ seperti American football, baseball, bola basket, hingga hoki es. Sepakbola rata-rata hanya dimainkan oleh anak usia sekolah dan dianggap kurang ‘manly’. Tapi justru posisi yang marjinal ini telah berjasa menjadikan sepakbola sebagai olahraga terbesar di kalangan anak sekolah di AS mengalahkan jumlah gabungan pemain keempat cabang olahraga tersebut. Minimnya popularitas kompetisi sepakbola profesional di AS (MLS) dibanding NFL, MLB, NBA atau NHL justru dianggap menguntungkan bagi orang tua yang tidak ingin anak-anaknya di masa depan menjadi atlet profesional. Sifat sepakbola yang less violent, less money-involved, dan less black (nigga ain’t gonna like this) menjadikan dasar pertimbangan utama para orang tua (mayoritas) kulit putih untuk memilih sepakbola sebagai olahraga yang pas bagi anak-anak mereka di masa sekolah.

Di bagian selanjutnya dari bab ini lebih berisi analisis ekonometri untuk membuktikan apakah kompetisi American Football (NFL) lebih equal dibandingkan dengan kompetisi sepakbola (BPL). Perimbangan kekuatan di antara klub-klub NFL, seperti yang termaktub dalam slogan yang di-quote di awal tulisan, seringkali menjadi hal yang dibanggakan para peminat American Football karena kekuatan yang terlalu dominan di suatu kompetisi dalam jangka waktu yang lama dianggap  membosankan dan tidak menarik minat karena kurang unsur kejutannya. Ternyata secara empiris anggapan itu salah dalam dua hal. Pertama, NFL tidaklah se-equal yang digembar-gemborkan. Kedua, ternyata fans tidak menganggap inequality of power di suatu kompetisi sebagai hal yang dapat membuat mereka berhenti menonton kompetisi tersebut. Fans ternyata lebih menyukai kondisi yang memungkinkan adanya situasi David vs Goliath, entah klub favorit mereka bertindak sebagai si David atau Goliath-nya, ketimbang suatu kompetisi yang sama rata sama rasa ala sosialis.

Ketiadaan inequality of power dan klub yang dominan ini juga yang dinilai menyebabkan MLS sebagai kompetisi sepakbola profesional di AS dianggap kurang memiliki daya pikat setara dengan liga-liga di Eropa. Seperti halnya kompetisi olahraga lain di AS, MLS juga menerapkan sistem salary cap yang membuat mustahil klub-klub disana menarik pemain-pemain terbaik dunia untuk bermain di AS. Selain itu, sistem franchise klub yang berlaku di MLS (dan juga NBA, NFL, dll) masih sangat asing dan mengundang resistensi bagi fans sepakbola di luar AS. Gak kebayang misalnya kalo AC Milan tiba-tiba bubar karena pemilik klubnya mendapat tawaran yang lebih menggiurkan dari Pemerintah Kota Roma untuk memindahkan basis klubnya ke ibukota (jadi AC Roma dong..). Belum lagi ketiadaan sistem promosi-degradasi yang membuat persaingan menjadi kurang menarik. Semua ini berkontribusi pada rendahnya feasibilitas MLS (maupun NFL yang punya sistem sejenis) untuk mengembangkan sayap pengaruhnya ke luar AS.

Jadi apakah Super Bowl punya kans untuk menjadi perhatian global tahun-tahun ke depan? Sepertinya tidak. Terlebih setelah  final UCL berpindah ke Sabtu malam waktu Eropa (sebelum tahun 2010 masih digelar Rabu malam) untuk mengakomodasi audiens yang lebih besar. Our Super Saturday is bigger than your Super Sunday. :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s