Tentang pembuatan paspor online di Kanim Bekasi

Jika Anda (1) berdomisili di Bekasi, (2) ingin bepergian ke luar batas teritori NKRI tapi belum memiliki paspor, dan (3) melek internet, maka pilihan terbaik yang dimiliki adalah membuat paspor secara online di Kantor Imigrasi Kelas III Bekasi. Memang pengalaman saya membuat paspor ini tidak semulus waktu ngurus pencairan dana JHT Jamsostek lalu (hal yang mendapat mafhum berhubung kali ini saya harus berurusan dengan the real deal: birokrasi dan standar pelayanan PNS, bukan lagi BUMN), namun sangat layak dicoba ketimbang menyerahkannya pada biro-biro jasa/calo yang jauh lebih mahal biayanya.

Step 1: Upload all the documents!

Langkah pertama membuat paspor secara online adalah dengan mengunggah beberapa salinan berkas yang dibutuhkan ke laman ini. Beberapa dokumen yang MUTLAK dilampirkan adalah (1) KTP (cukup yang bagian yang ada fotonya aja), (2) Kartu Keluarga, dan (3) Akte Kelahiran. Akte kelahiran bisa juga diganti ijazah sebenernya, fungsinya lebih sebagai pengecek ejaan nama lengkap kayaknya. Untuk yang sudah menikah juga (nampaknya) harus mencantumkan buku nikah, dan untuk yang sudah bekerja melampirkan surat rekomendasi/keterangan dari perusahaan/instansi tempat bekerja (meskipun kenyataannya gak diminta waktu verifikasi tapi lebih baik bikin buat jaga-jaga). Semua berkas harus dalam format .jpg, grayscale, dan berukuran kecil (waktu itu saya resize semua berkas ke kisaran ukuran < 200 kb biar lebih mudah diunggah dengan koneksi internet busuk sekalipun). Setelah diunggah nanti tinggal pilih untuk diurus di kantor imigrasi (Kanim) Bekasi dan tanggal berapa (jeda waktu satu minggu sesudahnya). Beres memilih akan muncul bukti pra-permohonan 2 lembar dalam bentuk PDF (masing-masing untuk pemohon/bank dan petugas). Simpan lalu cetak.

Step 2: To the nearest BNI branch we go

Setelah selesai mengunggah berkas, maka akan muncul bukti pra-permohonan dimana di dalamnya tercantum pernyataan untuk segera membayar biaya permohonan ke cabang BNI manapun sebelum hari H yang telah dipilih. Berhubung sistem pembayaran via BNI ini belum lama diimplementasikan (baru pertengahan November lalu) dan sepertinya masih belum sempurna, akan lebih baik jika lebih cepat membayarnya agar bukti pembayaran dari sistem bank bisa dengan cepat dikonsolidasikan dengan pihak imigrasinya (dan sebaiknya disetor paling maksimal sebelum H-1). Pembayarannya bisa di cabang BNI mana aja. Waktu itu saya pun ngebayarnya di BNI UI Depok meskipun ngurusnya nanti di Kanim Bekasi. Cukup ambil nomor antrian buat ke teller sambil gak lupa bawa bukti pra permohonan yang udah dicetak. Oiya, meskipun di bukti tersebut tertera biaya yang harus dibayarkan untuk paspor biasa 48 halaman adalah Rp 255.000 (Rp 200.000 untuk biaya pembuatan, Rp 55.000 untuk biaya biometrik), namun ternyata yang harus disetorkan adalah Rp 260.000 (BNI memungut biaya administrasi Rp 5.000). Setelah bayar di teller dan nerima bukti pembayaran dari BNI, tinggal disimpan untuk dibawa pas hari H.

Step 3: Where the hell is Kanim Bekasi???

Pada dasarnya Kanim Bekasi cukup keren sih, udah punya akun twitter sendiri loh! :D Isi timeline-nya pun cukup informatif, meskipun untuk satu hal yang menurut saya sangat penting mereka kurang ngasih info yang jelas: sebenernya lokasi persisnya Kanim Bekasi dimana sih??! Ancer-ancer yang diberikan gak begitu jelas. Akan lebih baik sebenarnya jika mereka ngasih info berupa koordinat longitude-latitude yang bisa dicek di Google Maps. Jadi info yang kayak begini mah gak cukup:

Setelah akhirnya berkunjung ke sono, lokasi tempat berdirinya Kanim Bekasi kalo di Google Maps dapat diliat di sini:

Screenshot from 2013-12-20 08:23:19

Yup, that’s the place. The one with a pinned balloon. Kalo datang dari arah Kranji (mengasumsikan kalo naik kendaraan umum) bisa turun di pertigaan yang sebelum flyover Summarecon. Tinggal nyebrang dan jalan lurus +/- 300 meter. Yang dari Kranji atau dari arah Stasiun Bekasi bisa juga turun di kantor Samsat Bekasi trus nyebrang jalan Ahmad Yani dan jalan lurus masuk ke dalam komplek GOR, atau (kalo males nyebrang jalan yang rame banget) bisa turun di jembatan penyeberangan RS Mitra Keluarga, nyebrang pake jembatan trus tinggal jalan ke arah SMAN 2, lalu belok kanan sampe nemu tempat yang banyak mobil parkir di depannya.

Step 4: Judgement Day

Waktu Hari-H, pastikan membawa semua fotokopian berkas-berkas yang telah diunggah sebelumnya beserta berkas aslinya. Untuk fotokopi KTP gak usah digunting sesuai ukuran aslinya, biarin aja dalam bentuk selembar kertas A4. Bawa juga bukti pra permohonan yang telah dicetak dan bukti pembayaran dari BNI. Meskipun waktu buka kantor resminya pukul 08.00, jangan heran kalo liat banyak orang yang udah bela-belain datang dari subuh di situ. Kalo untuk yang daftar online gak perlu sepagi itu datangnya karena mayoritas yang datang sejak pagi buta adalah yang mau daftar manual atau yang mau foto + wawancara (juga karena daftarnya manual). Datang antara pukul 07.00 sampe 07.30 udah cukup pas sebenernya.

Begitu masuk halaman gedung Kanim Bekasi, langkahkan kaki ke gedung yang terdekat dari gerbang. Kanim Bekasi punya dua gedung: Gedung I untuk loket pembuatan paspor online, kasir, serta foto + wawancara, dan Gedung II yang khusus untuk tahapan awal pembuatan paspor non-online (manual). Antrian di dua bangunan ini sama banyaknya meskipun masih pagi. Di Gedung I langsung aja mendekat ke dekat meja yang lagi dirubungin, bilang kalo daftar online (karena nanti bakal dipisah sama yang daftar manual) dan kasih lembar bukti pra permohonan untuk petugas, lalu minta form surat pernyataan belum pernah memiliki paspor untuk diisi di tempat (Note: untuk yang udah punya paspor biru (paspor dinas) tetap dianggap belum memiliki paspor karena paspor dinas dikeluarkan oleh Kemlu, sedangkan paspor WNI oleh Kemekumham). Kalo bisa mending bawa materai sendiri dari rumah karena kisaran harga materai Rp 6000 di sana adalah Rp 8000. Isi surat pernyataan, tempel materai, tanda tangan, dan tunggu petugas ngebagiin nomor antrian sesuai urutan kedatangan sekitar jam 8 kurang. Nanti berkas-berkas fotokopian + surat pernyataannya dikasih barengan pas petugas ngasihin nomor antrian. Untuk pendaftar online nomor antriannya adalah “11xx”, jadi kalo dapet nomor 1104 misalnya berarti Anda adalah pemohon paspor online keempat yang datang pada hari itu.

Setelah dapat nomor antrian, para pemohon paspor sekarang dapat masuk ke dalam ruang tunggu yang (syukurlah) ada AC-nya. Tempat duduk yang terbatas, pemohon yang membludak, TV yang cuma nayangin B Channel dan gak ada suaranya (Nih ya jadwal B Channel seharian (sampe apal): pagi video klip barat disambung acara2 online shop jualan produk perontok daki, siangnya nayangin drama Korea berjudul “Sayangku Seo Yeung”, dan sorenya film kartun. Berterimakasihlah B Channel pada Kanim Bekasi karena berkat mereka rating kalian naik drastis), serta kondisi WC yang…. (ntar liat aja sendiri) agak bikin suasana nunggu yang gak nyaman. Paling bener kalo ke sini bawa buku/bacaan dan hape/powerbank yang baterenya terisi penuh karena bakal seharian penuh di tempat ini. Dengerin musik pake earphone di music player tidak dianjurkan karena dikhawatirkan panggilan nomor antrian jadi gak kedengeran.

Panggilan pertama adalah untuk verifikasi berkas. Prosesnya cukup singkat cuma ngasih unjuk berkas-berkas asli ke petugas di Loket 1, tapi sayangnya suara petugas yang ngelayanin pelaaa…an banget (atau mungkin sayanya yang budeg :p). Setelah oke lalu diarahkan untuk menuju petugas yang tadi ngebagiin nomor untuk minta nomor antrian verifikasi pembayaran di Loket 2. Yak, benar sodara-sodara! Meskipun udah bayar biaya pembuatannya di BNI, kita masih harus tetep ngantri buat nunjukin bukti pembayarannya ke petugas Imigrasi. Entah apa gunanya kerjasama sistem pembayaran dengan BNI jika gak bisa ngecek langsung di sistem cukup dengan meng-input nomor registrasi. To make it worse, antrian untuk pemohon online ternyata digabung dengan antrian pemohon manual, jadi misalnya saya yang tadinya untuk verifikasi berkas dapat nomor urut 4, pas antri untuk verifikasi pembayaran ini dapetnya nomor urut… 113. To make it EVEN worse, loket kasir (Loket 2) ini juga berfungsi tidak hanya untuk pembayaran paspor, tapi juga pembayaran layanan untuk WNA (KITAS, izin masuk, dll.). Jadi kebayang lah yang udah ngantri selama itu masih harus diselak sama rombongan dan wakil perusahaan TKC (Tenaga Kerja Cina) & TKK (Tenaga Kerja Korea) yang banyak bertebaran di seputar kawasan industri Kabupaten Bekasi.

IMAG0998Loket 1 kalo pagi khusus untuk pengurusan paspor online, siangnya buat loket pengambilan paspor. Di sebelah kirinya adalah Loket 2 yang berfungsi sebagai lokasi verifikasi pembayaran.

Jika beruntung, pemohon online bisa beranjak ke Loket 2 sebelum istirahat (pukul 12.00-13.00). Setelah dari situ, pemohon akan mendapat bukti lunas dari Imigrasi dan masih harus menggunakan nomor antrian yang tadi untuk menunggu foto & wawancara. Ini kayaknya proses yang paling unpredictable waktu nunggunya. Anggaplah satu pemohon bisa menghabiskan waktu 10 menit di dalam ruangan, maka dalam 1 jam hanya akan dipanggil 6 pemohon. Itu pun belom pasti kalo setiap orang cuma nyita waktu segitu. Gilanya lagi, hari gini masih ada aja orang yang nyelak antrian dan main masuk ke dalam ruangan foto-wawancara untuk minta didahulukan (ini kejadian nyata pas saya ada di sana: pelakunya suami-istri berdandan necis gak tau malu. Kenapa saya tau mereka nyelak? Karena sejak dari awal nomor antrian dibagikan, kita udah tau  dan jadi apal urutan orang-orang sebelum/sesudah kita, dan dua orang barbar ini gak ada dalam urutan). Meskipun di dalam gedung bertebaran selebaran berisi layanan pengaduan jika menemukan orang yang tidak punya nomor antrian dilayani di ruangan foto-wawancara, saya males ngelaporin karena biasanya yang kena sanksi adalah petugasnya. Saya pengennya yang kena sanksi si penyelak antrian itu, bisa dalam bentuk dibatalkan permohonannya atau di-black list oleh Imigrasi (lagian kalo ngelapornya pas kejadian itu, bisa-bisa malah paspor saya yang dipersulit urusannya sama oknum Kanim).

Proses rekam data biometrik dan wawancara berlangsung lancar. Hal yang cukup penting untuk diperhatikan: di sini cuma disediain cermin, tanpa sisir :D Jadi gak heran kalo foto paspor orang Indonesia rata-rata pada kuyu dan berantakan gitu: udah nunggunya kelamaan, perabotan grooming-nya (tsah..) juga kurang memadai. Setelah foto langsung dilanjut dengan pengambilan sidik jari, mirip-mirip proses rekam biometrik e-KTP (minus data retina). Wawancaranya juga singkat: cuma nanya tujuannya ke mana, dalam rangka apa, kerja di mana, dst. Keuntungan daftar online untuk pemohon (dan juga bagi petugas) baru keliatan di tahap ini. Karena sebelumnya udah ngisi biodata secara mandiri waktu proses unggah berkas dokumen, di tahap ini petugas hanya tinggal ngasih liat data yang udah tertera di sistem untuk diverifikasi keakuratannya. Asalkan waktu ngisi dulu gak ada typo, proses ini gak nyampe semenit. Abis itu tinggal tanda tangan beberapa kali dan terima tanda bukti untuk ambil paspor 3 hari kerja kemudian. Keseluruhan proses pembuatan paspor online ini memakan waktu hampir 10 jam (!). Beda signifikan dengan pembuatan secara manual hanya terletak pada frekuensi kedatangan ke Kanim. Kalo manual harus 3 kali datang (setor berkas, verifikasi pembayaran+foto-wawancara, ambil paspor), sedangkan online cukup 2 kali datang (verifikasi pembayaran+foto-wawancara, ambil paspor). Ekspektasi saya seharusnya gak perlu ngabisin waktu seharian di sini sih, kurang berasa gitu keuntungan bikin online dibanding manual. Ini PR buat Ditjen Imigrasi gimana bisa bikin insentif lebih untuk para pemohon paspor agar mengurusnya secara online (dan tentunya disinsentif untuk pembuatan secara manual).

Step 5: Picking up

Setelah menunggu 3 hari kerja, paspor yang telah jadi sudah bisa diambil. Loket pengambilan adalah Loket 1 yang baru dibuka pukul 13.30 (pada kenyataannya baru efektif beroperasi setengah jam sesudahnya). Yang paling epic sih sistem pengambilan paspor di sini: bukan “first come, first serve”, tapi “first found, first serve”!! :)) Memang pas sampe di loket kita tinggal nancepin bukti pengambilan ke dalam tumpukan bukti-bukti pengambilan pemohon lainnya. Dalam kondisi normal kan mestinya tumpukan itu diambil, dibalik, dan dipanggil satu-satu sesuai urutan nancepinnya. Ini mah nggak. Random aja gitu dipanggil seketemunya paspor si pemohon sama petugas.. :D Sampe ada kejadian orang yang udah nunggu dari jam 1 belom kepanggil-panggil hingga jam 3, sedangkan orang yang baru dateng jam setengah 3-an langsung dapet paspornya dalam hitungan menit hahaha.. What a system! :D

Jika paspor udah ‘ditemukan’, cukup tanda tangan bukti penerimaan dan selesai. Di luar Kanim suka ada penjaja sarung paspor seharga cebanan yang bisa dibeli kalo mau. Overall, saya gak punya keluhan sama sikap para pegawai di sini. Semuanya proporsional: ramahnya pas, tegasnya pas, dan ada willingness to help. Yang menjadi masalah justru di sistem/alur kerja pengurusannya sih. Dari awal masuk lingkungan Kanim mestinya harus udah ada rambu-rambu petunjuk yang jelas untuk memandu para pemohon agar jelas mereka harus ke bagian mana terlebih dahulu. Lalu sebaiknya loket kasir untuk pengurusan dokumen WNI dan WNA dipisah (dan kalo bisa petugasnya gak cuma satu). Trus mekanisme pengambilan paspor yang udah jadi juga mutlak diperbaiki: mestinya disiapin dulu paspor-paspor yang jadwal pengambilannya jatuh pada hari itu, diurutin secara alfabetis kek biar gampang dicari, dsb. Terakhir, akan lebih baik jika ada diskriminasi (dalam artian positif) untuk para pemohon online agar bisa dilayani lebih cepat daripada pemohon non-online. Untuk calo saya gak ngeliat ada yang keliaran, rata-rata pemohon ngurus untuk dirinya sendiri (kecuali untuk orang-orang utusan perusahaan asing di Bekasi yang ngurusin dokumen para pekerja asingnya. Kalo itu beda perkara). Cuma yang masih ada itu satu-dua pemohon yang gak beradab dengan nyelak antrian dan (sialnya) masih mau dilayani sama petugas. Budaya terabas yang masih jamak dilakukan sebagian orang Indonesia dan, dari pengamatan saya, selalu dilakukan oleh orang-orang berciri OKB yang agak berumur. Shame on you, o filthy nouveaux riches!

Ah akhirnya punya paspor ijo juga. Kini sudah bisa melanglang buana ke negeri seberang tanpa ditanggung negara hehe.. Kelapa Gading, Pluit, PIK… Aku datang! :p

IMAG0999Punya dua paspor tapi sayangnya masih satu kewarganegaraan :D

Advertisements

3 thoughts on “Tentang pembuatan paspor online di Kanim Bekasi

  1. Hari INI urus online di bekasi dpt no urut 3.. utk verifikasi pembayaran sdh lebih cepat..sampai pk 11 (aku Sdh selesai) utk verifikasi sdh lebih Dr 150 number Dan foto sdh 105 ada sktr 10an orang dilewatin krn TDK ada ditempat wkt dipanggil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s