Does size matter?

Ini bukan postingan tentang Mak Erot. Bukan. Ini adalah review tentang salah satu chapter di buku Soccernomics: Why England Loses, Why Germany and Brazil Win, and Why the US, Japan, Australia, Turkey – and Even Iraq – Are Destined to Become the Kings of the World’s Most Popular Sport karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Buku yang tentu saja hanya akan disebut tanpa sub judulnya yang subhanallah panjangnya itu terlalu sulit untuk direview sebagai suatu kesatuan utuh. Ini dikarenakan tiap-tiap bab di dalamnya bisa berdiri sendiri dan terlalu menarik untuk dilewatkan dalam suatu ulasan singkat. Seperti halnya pada bab ketujuh dari buku ini dengan judul “The Suburban Newsagent: City Sizes and Soccer Prizes”.

Pernah gak kepikiran untuk merhatiin daftar juara liga domestik negara-negara besar sepakbola Eropa, atau daftar juara UEFA Champions League sepanjang masa? Coba cek klub-klub mana aja yang jadi penguasa sejarah. Di Inggris itu adalah Manchester United dan Liverpool, di Italia Juventus dan dua klub Milano bersaudara, di Jerman tentunya klub Bavaria dari kota Muenchen, dan di Perancis dipastikan bukan klub asal kota Paris. Kesamaan dari klub-klub tersebut? Semuanya adalah bukan klub yang berasal dari ibukota negara. Kedigdayaan klub-klub non-ibukota ini berlanjut hingga tataran Eropa. AC Milan, dan bukan AS Roma atau Lazio, adalah pengoleksi trofi Liga Champions terbanyak untuk Italia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Liverpool untuk Inggris dan bukan oleh klub-klub London. Di Jerman lagi-lagi klub Bavaria dari kota Muenchen yang jadi jawaranya, bukan klub asal Berlin atau Bonn (ketika belum reunifikasi). Bahkan di Belanda juga sebenarnya Ajax bisa saja dihitung bukan sebagai klub ibukota, yang semestinya dinisbatkan kepada ADO Den Haag. Atau tiga serangkai asal Istanbul: Galatasaray, Fenerbahce dan Besiktas, bukannya klub-klub Ankara, yang merajai kompetisi domestik Turki (meski dulunya Istanbul a.k.a Konstantinopel pernah juga jadi ibukota Ottoman). Tentu saja ada pengecualian bernama Real Madrid yang menjadi raja Spanyol di La Liga maupun tingkat tertinggi Eropa, tapi Kuper dan Szymanski punya penjelasan tentang hal ini.

Kuper dan Szymanski lebih menitikberatkan analisisnya terhadap fenomena yang terjadi di kancah kompetisi antar klub Eropa, meskipun menurut saya sebenarnya bisa juga untuk menjelaskan kenapa klub-klub luar ibukota ini mampu mendominasi ajang domestik. Mungkin biar lebih memperjelas konteksnya bisa liat daftar pemenang Liga Champions Eropa sejak pertama kali bergulir di sini. Dari situ bisa diliat bahwa tujuh area metropolitan terbesar di Eropa: Istanbul, Paris, Moskow, London (note: buku ini dibuat sebelum Chelsea menjuarai UCL tahun 2012), St. Petersburg, Berlin, dan Athena belum sekalipun menempatkan klubnya sebagai kampiun benua biru. Sebaliknya, kota-kota gurem macam Birmingham (Aston Villa, 1982), Glasgow (Celtic, 1967), Dortmund (Borussia Dortmund, 1997), Rotterdam (Feyenoord, 1970), atau Nottingham (Nottingham Forest, 1979-1980) pernah mendapat penghargaan tertinggi sepakbola antar klub Eropa ini.

Karena ilmu ekonomi pada dasarnya bisa dibilang sebagai ilmu yang mencari korelasi antar dua fenomena, Kuper dan Szymanski mencoba mencari hubungan antara ukuran sebuah kota di Eropa dengan kesuksesan dalam hal prestasi sepakbola. Untuk tujuan tersebut, kedua penulis membagi sejarah kompetisi kata tertinggi antarklub Eropa menjadi tiga periode. Periode pertama terbentang sejak pertama kali Piala/Liga Champions bergulir di tahun 1956 hingga akhir dekade 1960-an. Pada tujuh perhelatan awal, klub juara Eropa selalu berasal dari ibukota negara yang dikuasai rezim fasis-otoriter: Real Madrid (Madrid – Jenderal Franco, 1956-1960) dan Benfica (Lisbon – Antonio Salazar, 1961-1962). Ini tentunya tidak mengherankan jika melongok lebih jauh ke sejarah pada Piala Dunia 1934 dan 1938 yang dimenangi oleh Italia yang kala itu berada di bawah kekuasaan Benito Mussolini. Rezim fasis selalu bersifat sentralistik, berorientasi pada pemusatan kekuasaan di pusat pemerintahan. Dalam konteks sepakbola ini terwakili dalam terpusatnya pemain-pemain terbaik negara fasis tersebut di klub ibukotanya yang tentunya tak lepas dari intervensi rezim yang berkuasa kala itu. Hal inilah yang mempermudah dominasi klub-klub ibukota di kompetisi internasional dan, yang jauh lebih vulgar, di kompetisi domestik. Setelah Benfica dua kali menjadi jawara Eropa di awal 1960-an, klub ini mampu menjadi runner up di tiga perhelatan selanjutnya (meskipun tidak berturut-turut), sedangkan Madrid menjuarai sekali (1966) dan runner up dua kali.

Kemunduran rezim fasis di Spanyol dan Portugal pada awal dekade 1970-an juga tercermin pada peralihan dominasi juara antarklub Eropa dari klub-klub ibukota, dimulai dari kemenangan Feyenoord dari Rotterdam di tahun 1970. Ajax dari Amsterdam memang menjuarai tiga perhelatan kompetisi ini berturut-turut di awal 1970-an, tapi perlu diingat bahwa sebenarnya ‘ibukota sejati’ Belanda, tempat monarki dan parlemen bertahta, terletak di Den Haag, bukan Amsterdam. Setelah Ajax, muncullah Bayern Muenchen yang juga menjuarai tiga kali beruntun, lalu Liverpool (2x berturut-turut), dan Nottingham Forest (2x berturut-turut juga). Klub dari ibukota negara baru muncul menjadi juara lagi pada tahun 1986 (Steaua Bucuresti – Romania) dan Red Star Belgrade dari Yugoslavia di tahun 1991. Tentu semua mafhum bahwa dua negara tersebut ketika Steaua dan Red Star menjadi juara masih dikuasai rezim komunis yang sebelas-dua belas otoriter dan sentralistiknya kayak rezim fasis Spanyol dan Portugal era Franco dan Salazar.

Kuper dan Szymanski melihat bahwa periode kedua sejarah juara Piala/Liga Champions Eropa ini dimulai tepat ketika Feyenoord menjuarainya pada tahun 1970. Kali ini giliran klub-klub dari kota-kota industri yang merajai, menyingkirkan dominasi klub-klub ibukota. Selama periode ini, finalis Piala Champions lebih banyak diisi oleh klub-klub kota industri seperti Liverpool, Amsterdam, Muenchen, dan Rotterdam yang semuanya berakhir sebagai juara, dan klub-klub dari kota (tergolong) kecil macam St. Etienne (Perancis), Moenchengladbach (Jerman), Malmo (Swedia), Leeds (Inggris), dan bahkan Brugges (Belgia) yang harus puas menjadi runner-up. Peiode kedua ini mencapai akhirnya pada awal dekade 1980-an ketika liga-liga Eropa telah mengenal kontrak TV dan dimulainya era komersialisasi sepakbola, ditandai dengan terpecahkannya rekor transfer pesepakbola oleh Trevor Francis dari Birmingham City ke Nottingham Forest sebesar 1 juta poundsterling.

Mengapa klub-klub dari kota industri dapat melebihi prestasi klub-klub ibukota pada masa itu (bahkan hingga sekarang)? Penjelasan akan hal ini dapat ditarik jauh hingga ke awal Revolusi Industri. Di awal revolusi industri di Eropa, pusat-pusat aktivitas ekonomi tidak terjadi di ibukota, melainkan di kota-kota industri baru yang mayoritas dihuni oleh para imigran. Tersebutlah kota pelabuhan + industri macam Liverpool dan Manchester di Inggris yang dipenuhi imigran asal Irlandia, kota pusat industri otomotif Italia di Turin yang menjadi tujuan utama imigran asal Sisilia dan Napoli ataupun kota pusat bisnis di Milano, dan kota pusat ekonomi Jerman di Muenchen. Imigran-imigran ini meninggalkan identitas asal mereka dan mencoba meleburkan diri ke identitas baru dimana tempat mereka berdiam kini. They need something to root for and something to belong to. Sesuatu yang dapat memberi identitas pada mereka, menjadi kebanggaan kota tempat tinggal mereka, dan lepas dari bayang-bayang kebesaran nama ibukota. Pada kondisi inilah sepakbola menjadi tempat pelarian paling mumpuni. Suporter yang fanatik dan loyal, pemain lokal yang rela berdarah-darah untuk klub kebanggaan kotanya, dan dukungan finansial tanpa batas (dan nyaris tanpa syarat) dari pengusaha setempat menjadi aset fantastis bagi klub-klub kota industri ini, jauh melebihi apa yang dimiliki klub-klub ibukota dimana sepakbola bukanlah kebanggaan dan hal paling utama di mata warga mereka.

Dominasi klub-klub kota industri Eropa masih bertahan di era sepakbola komersial yang dimulai sejak pertengahan dekade 1980-an hingga sekarang. Namun bedanya dengan periode sebelumnya, kali ini mulai terlihat pola dominasi oleh klub-klub tertentu yang sebelumnya juga sudah pernah menjuarai Piala/Liga Champions. Pada periode ketiga ini, juara akan lebih cenderung jatuh kepada klub-klub asal kota industri yang relatif lebih besar dan lebih kaya, menyisakan sedikit kesempatan pada klub-klub semenjana dari kota yang lebih kecil. Meski diselingi dengan kemenangan FC Porto (1987), PSV Eindhoven (1988), Olympique Marseille (1993), dan Borussia Dortmund (1997) yang tergolong medium size industrial cities, namun klub-klub asal kota industri/pusat ekonomi besar Eropa tetap lebih unggul dalam hal prestasi. AC Milan, Real Madrid, Bayern Muenchen, Juventus, Manchester United, dan FC Barcelona bergantian mengisi pentas final Liga Champions dekade 1990-an dan 2000-an. Madrid kembali menjadi anomali karena menjadi satu-satunya klub asal ibukota yang berjaya di periode ini, namun hal ini bisa dijelaskan sebagai legacy kebesaran Real yang telah ada sejak era Jenderal Franco.

Lalu apakah tidak ada peluang bagi klub-klub ibukota/kota metropolitan Eropa untuk menyamai, atau bahkan mengungguli, prestasi klub-klub non-ibukota? Kuper dan Szymanski mengutip Hukum Zipf tentang aturan pertumbuhan proporsional untuk memprediksi bahwa kota-kota seperti London, Moskow, Paris, dan Istanbul cepat atau lambat akan memiliki klub yang menjuarai Liga Champions. Kali ini sumber kekuatannya bukan dari bekingan rezim fasis seperti era Franco dan Salazar, namun lebih ke mekanisme pasar bebas. Dalam era globalisasi sepakbola ini, pemilik modal akan menyasar klub yang memiliki brand awareness tinggi serta sumber daya yang memadai, dan itu dimiliki oleh klub-klub asal ibukota. Melihat fenomena ekspansi bisnis Roman Abramovich di Chelsea dan Sheikh Maktoum di Paris Saint-Germain, keyakinan akan munculnya dominasi klub-klub ibukota di kancah Eropa mulai menunjukkan buktinya. Nubuat Kuper dan Szymanski semakin mendekati kenyataan setelah Arsenal dan Chelsea menjadi finalis di tahun 2006 dan 2008, dan akhirnya mewujud dalam kemenangan Chelsea di tahun 2012. So does (city) size matter for European football’s silverware? Currently yes, in term of money and investment involved.

*now Mak Erot should give me incentive for this free endorsement*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s