Monumen Pancasila Sakti

It’s a random weekend. Sabtu kemarin tadinya hanya berniat nuker tiket KA di Gambir (lagi) dan ke Erasmus Huis buat nengok pameran The History of Indonesian Railways (sebagai roker aku tidak boleh merasa gagal). Tapi karena setelah beres dari situ ternyata masih terlalu siang untuk balik ke Bekasi, timbul ide untuk mengunjungi salah satu landmark khas yang kerap hadir setiap bulan Oktober di Indonesia: Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Ide ini muncul karena ternyata letak Kedutaan Besar Belanda berdekatan dengan halte busway Kuningan Barat. Lagipula, seumur-umur saya belum pernah ke sana dan juga belum pernah naik bus TransJakarta koridor IX ke arah timur (UKI, Cawang, and beyond), jadi sekalian aja lah. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

 

How to get there?

Sebenarnya komplek monumen (dan museum) ini cukup mudah dijangkau, jauh dari bayangan saya sebelumnya kalo ini letaknya di tempat antah berantah di ujung aspal Pondok Gede. Jika dari pusat kota Jakarta, tinggal naik aja bus TransJakarta koridor IX Pluit-Pinang Ranti ke arah pemberhentian akhir di Terminal Pinang Ranti, Jakarta Timur. Now this is the tricky part: ternyata gak semua bus TJ di koridor ini bertujuan akhir di Pinang Ranti. Sebagian (besar) hanya sampai di halte Pusat Grosir Cililitan (PGC), termasuk bus yang saya tumpangi. Saya gak tau gimana caranya ngebedain bus yang cuma mentok di PGC sama yang mentoknya di Pinang Ranti kecuali dengan nanya ke petugas. Yang jelas, kalo ternyata salah naik bus yang cuma mentok sampe PGC lebih baik gak ngelanjutin dengan naik TJ lagi untuk ke Pinang Rantinya. Selain karena harus keluar duit buat beli tiket lagi (haltenya terpisah), nunggu bus TJ yang ke arah Pinang Ranti sepertinya juga cukup lama. Lebih baik nyebrang jalan dan naik kendaraan umum apapun yang melewati Jalan Raya Pondok Gede. Saran saya, naik aja angkot KWK T-04 jurusan Cililitan (PGC) – Pondok Gede. Nanti tinggal bilang ke supirnya untuk berhenti di Lubang Buaya (Monumen Pancasila Sakti).

Total kerugian:

  • Tiket TransJakarta: Rp 3500
  • Ongkos angkot PGC-Lubang Buaya: Rp 4000

 

What’s inside?

Dari depan jalan raya untuk masuk ke area komplek monumen harus menempuh jarak sejauh +/- 800 m. Gak begitu berasa capek sih karena di kiri kanan jalan banyak pohon-pohon rindang. Tiket masuk untuk yang tidak bawa kendaraan sebesar Rp 2500. Untuk yang bawa mobil/motor sepertinya harus membayar sedikit lebih mahal. Begitu sampai di ujung jalan, akan disambut semacam alun-alun yang dikelilingi bangunan museum dan kantor pengelola.

IMAG0790Pintu gerbang masuk komplek monumen/museum dilihat dari Jl. Raya Pondok Gede

IMAG0785‘Alun-alun’ komplek monumen/museum

IMAG0776As obvious as it gets

Begitu nyampe area ‘alun-alun’, sebaiknya langsung ke arah monumennya aja dulu. Yang ke museumnya bisa setelah itu. Untuk bisa ke monumen harus menuruni tangga dan jalan kaki lagi melewati pinggiran lapangan yang sepertinya digunakan untuk upacara setiap tanggal 1 Oktober. Tinggal ikuti aja petunjuknya dan Monumen Pancasila Sakti terletak di penghujung rute perjalanan.

IMAG0775From here, go downstairs

IMAG0759And here they are…

IMAG0760Tampak samping

IMAG0762 IMAG0763 IMAG0764

Yang di atas ini adalah gambar diorama di bawah patung tujuh jenderal yang…. ampun dah, pencitraan Soeharto banget! Ini difoto dari kiri ke kanan. Gambar pertama bercerita seolah-olah Bung Karno lah penyebab semua ini (di deketnya banyak massa PKI, dan BK sendiri megang buku bertuliskan “Nasakom”). Di tengah adalah reka ulang peristiwa di tanggal 1 Oktober 1965 dini hari versi Orde Baru (jenderal disilet-silet anggota PKI, kader Gerwani nari erotis, dan pembuangan mayat para jenderal ke dalam sumur). Yang terakhir adalah gambar Soeharto yang seolah-olah bilang “Let me get this shit”. Dialah pahlawan yang berhasil menumpas pemberontakan dan menyelamatkan negara dari kehancuran dan rakyat pun bertempik sorak! (yeah right..) Belum cukup sampai di situ, di bawah diorama tersebut juga ada prasasti ini:

IMAG0761

Masuk ke sini rasanya seperti masuk ke tempat pencucian otak. Gak kebayang kalo saya pergi ke sini sewaktu Soeharto masih berkuasa, ketika cuma ada kebenaran tunggal: kebenaran versi Orde Baru. Propaganda bahaya komunisme, kekejaman PKI, ‘ketidakbermoralan’ mereka, semuanya diwujudkan dalam diorama dan alat peraga yang dibuat sedemikian rupa, padahal intinya cuma buat sarana legitimasi dan melanggengkan kekuasaan. I’m not a fan of communism either, tapi di sini pembentukan opini terlihat sangat tidak berimbang. History is written by the winners indeed.

Bergeser sedikit dari arah monumen, dapat ditemui (konon) bekas sumur tempat dibuangnya mayat para jenderal. Dikasih bangunan bercungkup dan diberi efek pencahayaan yang dramatis seolah-olah masih ada sisa darah di situ :))

IMAG0771Bloody hell hole

Masih di komplek bangunan sekitar monumen, akan banyak ditemui rumah-rumah jadul yang masih dipertahankan bentuk aslinya. Rumah-rumah ini konon dulunya adalah tempat perumusan rencana G30S, dapur umum, dan tempat eksekusi para jenderal. Rumahnya bisa dimasukin, dan masih ada beberapa perabotan kayak lemari dan tempat tidur. Suasananya jangan ditanya lagi… Mistis! X)) *kayak bisa ngeliat aje*

IMAG0772Salah satu rumahnya. Khas rumah-rumah perkampungan pinggir Jakarta jaman dulu.

IMAG0773Ini juga

Dan ini yang jadi highlight-nya: rekonstruksi penyiksaan dan interogasi para jendral oleh pasukan Tjakrabirawa dan kader PKI di salah satu rumah. Untuk lebih mendramatisir, ada rekaman narasi yang diperdengarkan tentang peristiwa ini disertai suara-suara jeritan, bentakan ketika interogasi, letusan, tembakan, lagu “Gugur Bunga”, macem-macem dah pokoknya.. #horor

IMAG0768“Kowe orang tau dimana letak itu si Pitung sembunyi?”

IMAG0766Kebayang kalo malem-malem ada di sini, patungnya jadi bernyawa semua.. -_-

Setelah puas ngelilingin komplek monumen, sekarang saatnya berpindah ke dalam museum. Jangan khawatir keringetan karena jalan cukup jauh dari monumen ke sini karena (sepertinya fitur utama di sini) AC nya adem banget! Jadi selain buat ngeliat-liat koleksi museum, bisa juga buat tempat ngadem. Museum Pengkhianatan PKI (yeah, i know..) ini sendiri terbagi menjadi dua bagian utama. Di bagian awal akan ditemui berbagai dokumentasi pemberontakan/kekerasan yang didalangi PKI sebelum tahun 1965 seperti di Madiun 1948, Tanjung Morawa, Delanggu (Klaten), Bandar Betsy, Lebak, dll. Beberapa diorama yang ada di sini cukup gore karena mengandung kekerasan, nudity, dan darah dimana-mana, kayak yang ini:

IMAG0780Ini bukan cuplikan film produksi Vivid Entertainment

Di bagian selanjutnya dari museum ini barulah berisi semua dokumentasi/koleksi seputar G30S. Beberapa foto tentang suasana penumpasan PKI, evakuasi mayat para jenderal, pemakaman, senjata yang ditemukan di Lubang Buaya, sampe ada ruang tersendiri yang dinamakan “Ruang Pakaian dan Bekas Darah” (like, for real?!) yang isinya koleksi pakaian penuh bercak darah yang dikenakan para jenderal ketika dicokok ke tempat ini 48 tahun silam. Warning: ada banyak disturbing pictures/images/figures di sini. Prepare your self. :p

IMAG0789Yeah, it’s kinda creepy i know

Tadinya saya pikir museum ini bakal selesai dikelilingin dalam waktu kurang dari 30 menit. Ternyata salah. Bentuk ruangan di sini seperti labirin dan ada cukup banyak lorong/ruangan yang letaknya tersembunyi. Di dekat pintu keluar ada tulisan-tulisan gede yang mengingatkan bahaya laten komunisme. Propaganda at its best!

IMAG0788Iya.

Jadi kalo lagi nggak ada kerjaan dan pengen ngerasain sensasi dicuci otaknya sama propaganda yang banal, bisa loh dicoba mampir ke sini. Pembunuhan para jenderal TNI ketika itu adalah sebuah fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Namun, dalang sesungguhnya di balik peristiwa ini masih jadi misteri. The truth is out there.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s