Plesiran ke Malang dan Batu

Semua berawal dari promo September Ceria PT KAI. Promo yang dimaksudkan sebagai perayaan HUT PT KAI ke-68 dengan menyebar ribuan tiket KA harga diskonan untuk pemberangkatan di bulan September 2013. Gak tanggung-tanggung, KA jarak jauh kelas Eksekutif dijual hanya Rp 100.000, sedangkan Bisnis dan Ekonomi AC antara Rp 50.000 s/d Rp 75.000. Lumayan banget, dan mengundang konsumen & railfan pra-sejahtera seperti saya ini untuk turut mengadu peruntungan (meskipun waktu itu belum ada ide mau kemana). Rencana awal adalah untuk sekadar mencicipi layanan (arguably) KA terbaik di Indonesia: KA Argo Bromo Anggrek Jakarta-Surabaya p.p. Ini kurang kerjaan banget sih emang, tapi kalo dipikir-pikir karena harga tiket normal kereta itu yang kebangetan mahalnya, maka rencana kurang kerjaan ini sepertinya cukup worth to try.

Sayang, rencana tidak berjalan semulus yang diharapkan. Perjuangan untuk berebut seat yang sangat terbatas di tanggal yang diinginkan harus takluk pada internet yang lemot. Karena gak mau rugi udah melek sampe malem buat nungguin beginian, setelah cek-cek harga tiket promo rute lain akhirnya mutusin buat beli 2 tiket Argo Parahyangan yang waktu itu dibandrol cuma Rp 20.000 per orang. Lumayan buat mengobati kekecewaan. Tapi, entah kemasukan setan apa, malam itu juga berakhir dengan beli tiket one way Jakarta-Malang naik KA Matarmaja. Iya, KA Ekonomi yang gak kena harga promo. Tiket one way pula. Gak jelas banget :))

Waktu itu mungkin mikir kalo pun gak jadi berangkat, gak bakal berasa rugi-rugi amat.. *sok kaya* Tiket KA Matarmaja as of September 2013 dipatok seharga Rp 65.000, naik Rp 14.000 dari saat terakhir naik kereta yang sama Maret lalu. Itu pun sebenernya udah penurunan dari tarif yang sempat naik hingga sekitar Rp 150 ribuan yang kemudian menjadi turun kembali karena subsidi public service obligation (PSO) dari Kementerian Perhubungan. Setelah browsing sana-sini nyari apa aja yang bisa dikunjungin di Malang, termasuk beberapa tempat yang belum sempat didatengin waktu singgah di sini sebelum ke Bromo beberapa bulan lalu, akhirnya setelah nonton ini jadi bertekad untuk pergi ke Kota Batu, gak jauh dari Malang. Keliatannya menarik dan masih belum banyak dikunjungin orang Jakarta :))

Sempet mikir: “akhirnya jadi juga pertama kali solo travelling!”, namun kembali kandas karena ternyata ada dua temen kampus yang mau ikutan… :)))) Salah saya sendiri juga sih kelepasan ngomong waktu pada ngobrol tentang tiket promo KAI, hehehe.. Jadilah formasi travellers mahasiswa dhuafa ini menjadi bertiga, dengan dua orang diantaranya belum pernah sekalipun ke Malang dan menumpang KA Ekonomi. Gonna be one unforgettable experience for them i assume. Itung-itung liburan dan pelipur lara karena gagal ke Belanda.

Itinerary pun disusun. Guna menyiasati adanya jadwal kuliah Senin siang, maka perjalanan balik ke Jakarta pun dialihkan melalui Surabaya. Itu karena kalo naik Matarmaja baru akan sampai di Jakarta pukul 9.30, belum termasuk potensi telatnya. Jadi, untuk pulang ke Jakarta kita akan naik KA Kertajaya yang, kalo menurut jadwalnya, bakal sampai di Jakarta senin dini hari. Cukup lah buat istirahat sejenak sebelum ngampus. Walhasil, beginilah kira-kira rencana perjalanan kami: Jumat siang berangkat dari Jakarta, Sabtu pagi tiba di Malang, siangnya lanjut ke Batu dan stay 1 malam di sana, Minggu pagi bertolak dari Batu menuju Malang lanjut Surabaya, dan bertolak menuju Jakarta kembali pada Minggu sore dan tiba di ibukota Senin dini hari. Singkat, padat, dan sepertinya bakal melelahkan! :D

***

Jumat siang tanggal 20 September 2013 adalah saatnya eksekusi rencana yang telah kami susun. Wujud Stasiun Pasar Senen ternyata udah berubah total! Sampe sempet bingung sendiri nyari-nyari ATM dan minimarket sebelum berangkat. KA Matarmaja-nya sendiri agak delay 10 menitan, tapi dalam waktu 1 jam udah nyampe Cikampek dan dua jam kemudian tiba di Cirebon. Cukup sesuai jadwal. Isi kereta masih tetap sama seperti ketika terakhir saya naikin: masih dipenuhi anak-anak gunung yang (sepertinya) mau ke Semeru. Mungkin masih terbawa euforia film 5 Cm. Mungkin. Soalnya ada beberapa orang yang dandanannya terlalu heboh jika bener tujuannya mau naik gunung.

Kereta tiba di Stasiun Malang Kota Baru pukul 8 kurang dikit. Telat satu jam dari jadwal. Masih cukup familiar sama penampakan stasiun ini, termasuk soal ramenya toilet stasiun sesaat setelah kereta nyampe. Buat yang gak mau ngantri di sini, di luar stasiun juga ada toilet + kamar mandi umum, tepatnya di sebelah kiri setelah pintu keluar stasiun. Cuma ya nggak gratis, hehehe.. Tujuan pertama setelah keluar stasiun adalah… MAKAN! Dari rekomendasi di internet, tempat makan paling populer dan (konon) enak di deket-deket Stasiun Malang adalah Depot Nasi Buk Matirah, semacam warung nasi rames khas Madura gitu. Kalo diliat dari location tag di Google Maps, setelah keluar stasiun langsung belok kiri susurin jalan terus. Ternyata salah besar! :D Tempatnya ada di sebelah kanan dari pintu keluar stasiun, gak begitu jauh. Karena udah terlanjur jalan ke arah yang berlawanan dan males puter balik, begitu nemu warung sejenis langsung berhenti di situ. Kisaran harga di sana antara Rp 10.000 – Rp 15.000 sekali makan. Rasanya? Untuk ukuran orang yang terakhir makan berat 7 jam sebelumnya mah enak-enak aja..

Setelah makan dan nunggu nasi turun dari kerongkongan ke perut *Indonesia banget*, lanjut jalan kaki ke tujuan pertama sekaligus ikon Kota Malang: Alun-alun Tugu. Letaknya kira-kira cuma 300 meter dari stasiun, begitu keluar stasiun bisa langsung nyebrang jalan di depannya dan jalan lurus aja. Tempatnya berbentuk monumen yang dikelilingin kolam berisi bunga teratai. Ciamik banget. Apalagi ditambah lansekap bangunan-bangunan di sekitarnya (Kantor DPRD dan Balaikota, SMAN 1, Hotel Tugu), dan pohon-pohon trembesi (?) yang luar biasa guedhe dan kayaknya udah tua banget.

Image

Alun-alun Tugu – MLG

Image

Kolam teratai dan tempat nongkrong (tempat duduk sih lebih tepatnya)

Dari Alun-alun Tugu, kami lanjut jalan kaki ke Alun-alun Kota Malang. A bit confusing, eh? Malang emang punya dua alun-alun. Yang pertama yang bentuknya bulet dan ada tugunya tadi, yang kedua yang bentuknya kotak (hence, “town square”) dan relatif lebih luas. Alun-alun yang kedua ini udah pernah saya kunjungin sebelumnya, tapi berhubung karena ada dua newbie yang baru kali ini menginjakkan kaki di Malang, maka mau gak mau harus jadi tour guide dadakan.

Alokasi menghabiskan waktu di Alun-alun Kota ini gak begitu lama karena udah pada pengen cabut ke destinasi berikutnya: Toko Oen Malang yang termasyhur dengan es krim dan sejarahnya. Kembali ditempuh dengan berjalan kaki karena lokasinya sangat dekat, terletak di sisi utara Alun-alun. Berhubung (lagi-lagi) saya juga udah pernah kesini sedangkan yang dua lainnya belum, maka di saat yang lain nyicipin es krim, saya cuman mesen es teh manis dan numpang ngecas hape… (took the word “ngirit” to a whole new level :p)

Beres makan esgrim citarasa londo (btw, di Toko Oen emang banyak banget turis dari negeri kincir angin), maka tuntas sudah persinggahan singkat di kotanya Arema ini. Perjalanan bakal dilanjutkan ke Batu, dan untuk itu harus ngangkot terlebih dahulu ke Terminal Landungsari untuk kemudian lanjut ke Batu. Di rencana perjalanan awal, saya mengasumsikan kita harus balik lagi ke arah Alun-alun Tugu untuk naik angkot AL atau ADL dari sana. Tapi ternyata setelah nanya sama mas-mas pinggir jalan, kita gak perlu balik arah. Cukup melanjutkan jalan kaki menyusuri sisi barat Alun-alun kota (Jl Merdeka Barat) dan lanjut ke Jalan Kauman sampe nemu pertigaan. Dari situ bisa naik angkot LDG (lupa-lupa inget kode angkotnya, tapi kalo udah nyampe pertigaan ini cari aja angkot yang mengandung huruf “L”) yang menuju Terminal Landungsari.

Screenshot from 2013-09-27 12:06:04Rute “Short Tour de Malang on Foot”. Kurang lebih jaraknya 1,5 km lah. Start dari depan stasiun dan finish di pertigaan Jalan Kauman. Melewati beberapa main attractions kota seperti Alun-alun (both Tugu and Kota), Pasar Burung (literally), Gereja-gereja kuno (ada yang Katolik dan Protestan, dua-duanya punya bangunan keren), Toko Oen, dan Masjid Jami’.

Tarif angkot sampai ke Landungsari Rp 3500, dan melewati beberapa daerah yang sepertinya merupakan sentra pendidikan. Beberapa kampus universitas ternama di Malang kayak Unibraw, UM, dan UMM dilewatin rute angkot ini. Begitu sampe di Terminal Landungsari, biasanya bakal  banyak calo yang nanyain mau ke mana, dan biasanya juga, begitu dibilang mau ke Batu langsung diarahin naik angkot yang warna pink. Jangan terkecoh! (udah lama gak make kata “terkecoh”) Kalo emang bertujuan mau ke Jatim Park 2, mending langsung naik angkot BJL warna kuning karena nantinya bakal turun langsung di depannya. Angkot yang pink emang sama-sama bertujuan ke Batu, tapi bakal langsung ke Terminal Batu-nya, dan untuk mencapai Jatim Park 2 terpaksa harus ngangkot lagi.

Perjalanan menuju Jatim Park 2 gak begitu lama, kurang dari 45 menit udah sampai dengan tarif Rp 4500 per orang. Dari depan udah keliatan kalo komplek theme park ini gede dan luas banget, sepertinya gak bakal cukup dieksplorasi cuma dalam waktu 3-4 jam seperti yang telah direncanakan semula. Jatim Park 2 sendiri terbagi menjadi 3 lokasi utama: Secret Zoo, Museum Satwa, dan Eco Green Park, plus satu hotel Pohon Inn. Karena keterbatasan waktu dan budget, dan juga rekomendasi dari internet yang rata-rata bilang Eco Green Park bisa di-skip jika cuma punya waktu terbatas (baca: not too interesting), kami mengambil tiket terusan Secret Zoo dan Museum Satwa seharga Rp 90.000 per orang (harga weekend).

IMAG2482Jatim Park 2. Kalo Jatim Park 1 (deket-deket sini juga) konon lebih kayak TMII-nya Jawa Timur plus waterboom plus themepark juga.

Image

Dari loket harus melewati depan hotel Pohon Inn untuk menuju Batu Secret Zoo. Rate nginep disini yang pasti jauh di atas ambang toleransi budget traveller.

Image

Kalo Secret Zoo di sisi kanan, Museum Satwa ini letaknya di sisi kiri dari loket pembelian tiket masuk (jika dalam posisi menghadap ke loketnya)

Believe me folks, Batu Secret Zoo is the BEST zoo in NKRI. Gonna say it again: the best! Pengelolaannya keren: dari segi desain, aksesibilitas, koleksi satwa, pemeliharaan fasilitas, maupun kesejahteraan satwanya. Jadi dari pintu masuk, kita udah diarahin pake penunjuk rute bakal kemana-mana aja dan rutenya itu bakal nganter kita untuk bisa ngeliat seluruh koleksi yang ada, tanpa satu pun yang terlewat (kecuali gak mau nurut sama rute yang dikasih). Jadi gak ada ceritanya muter-muter gak tentu arah, trus balik lagi ke tempat yang udah dikunjungin sambil nyeletuk “Loh, kayaknya tadi kita udah kesini deh..”

Di awal-awal masuk mungkin bakal bosen karena koleksinya cuman tikus terbesar di dunia, primata kecil, lemur, another lemur, civet (musang), more lemurs, and more civets… Tapi semakin ke dalam koleksinya makin menggila! Bakal bisa ngeliat bedanya llama sama alpaca; beaver, otter sama capibara (beda banget yang terakhir ini sih); jaguar sama puma; wombat, wallaby, dan binatang marsupial lainnya; binatang-binatang albino (uler, kangguru, burung, you name it), dan banyak lagi binatang non mainstream lainnya. Ada reptile garden + aquarium + padang savanna nya pulak (ada wildebeest)! Mungkin kekurangannya cuma pada beberapa unsur dekorasi berupa patung-patung karakter kartun Disney & Pixar yang kadar kemiripannya patut dipertanyakan (dan entah gimana dengan urusan HKI-nya, karena ada banyak banget!)

collageIni cuma sebagian kecil dari koleksi satwa Batu Secret Zoo. Aslinya jauh lebih banyak yang gak sempet kefoto.

Di penghujung rute yang memajang koleksi-koleksi satwa, pengunjung Secret Zoo bakal disambut themepark yang cukup luas dan berisi aneka wahana yang bisa dimainin… *drum rolls* …GRATIS! Ada rumah hantu segala, semacam gelanggang samudera yang punya atraksi anjing laut, roller coaster, dan buaaaanyaaaak lagi yang lain.. *cape ngetik* Yang paling recommended menurut saya (dan kami udah coba juga) adalah Safari Farm. Bayangin aja suasana kayak tur di film Jurassic Park, bedanya di sini ada pemandunya dan bisa ngasih makan hewan-hewan yang disinggahin. Siap-siap aja di sini bakal dicium onta/kuda poni/bison :D Yang pasti buat puas nikmatin semua fasilitas Secret Zoo kayaknya emang harus seharian penuh di sini. Tempatnya buka setiap hari dari jam 10 pagi sampai 6 sore btw.

Begitu keluar dari area Secret Zoo, kita bakal disambut pintu masuk Museum Satwa. Bangunannya sumpah gede banget dan langit-langitnya tingginya gak wajar. Pertanyaan katro saya kalo tiap liat bangunan segede dan seluas gini tetep sama: ntar nyapunya gimana? bersihin sawang gimana? kalo ganti bohlam gimana? (just can’t help to ask it :p) Melangkahkan kaki ke dalam, pengunjung bakal disambut sangkar burung raksasa, entah ini mengambil ide dari video klip Tato yang Satu Senyum Saja atau Nafa Urbach yang Hatiku Bagai di Sangkar Emas.. #lawas

IMAG0675

Rangka T-Rex dan dinosaurus lain di tengah-tengah museum. Sepertinya sih imitasi. FYI, tempat ini juga pernah jadi lokasi video klip lagu The Virgin yang Belahan Jiwa *maklum, sini sahabat dahSyat, jadi tau urusan beginian*

Masuk agak lebih ke dalam bakal nemu yang di atas ini: replika fosil rangka beberapa jenis dinosaurus. Ini kayaknya emang yang jadi ikon Museum Satwa, selain sama yang di bawah ini juga:

IMAG0677Cicek rumah yang direndem minyak tanah satu kilang selama satu dekade

Kadar excitement di Museum Satwa ini buat saya gak setinggi ketika di Secret Zoo. Mungkin ini karena (1) isinya binatang awetan (yaiyalah, secara museum, bukan kebon binatang) dan (2) udah ngeliat yang aslinya beberapa saat yang lalu. Jadi pas disini itu ya cuman jalan selintas, liat-liat dikit, bergumam “oooo”, “mmmm”, dan ujung-ujungnya ngomong “ini ga ada shortcut langsung ke pintu keluarnya ya?” :)) Mungkin kalo mau dapet pengalaman berbeda, bisa dicoba untuk ngunjungin Museum Satwa dulu baru sesudah itu ke Secret Zoo.

IMAG0678

Lorong-lorong di dalam museum yang berisi diorama satwa-satwa liar di habitat aslinya. Karena baru aja ngeliat yang beneran di Secret Zoo, ngeliat yang disini jadi kurang greget.

Next stop: Alun-alun Kota Wisata Batu! Untuk menuju kesini dari Jatim Park II tinggal naik angkot kuning BJL yang tadi aja sampe Terminal Batu. Dari situ bisa naik angkot warna ijo yang ke arah Songgoriti atau angkot apapun yang ngelewatin Alun-alun. Alun-alun Batu sendiri sebenernya gak begitu luas, tapi biarpun begitu, tempat ini layak banget untuk dikunjungin. Malah, ini pandangan subjektif, lebih layak dan menarik dari Alun-alun Malang sendiri. Salah satu yang bikin Alun-alun Batu berbeda dengan yang lain adalah keberadaan ferris wheel di tengah-tengah situ yang bisa dinaikin sama siapa aja. Harus kudu wajib nyoba naik ini sih. Tarif Rp 3000/pax dan ferris wheel ini muternya non-stop (meskipun pelan) meskipun ketika posisi di bawah untuk mengambil penumpang. Jadi pas naik, penumpang harus setengah melompat biar gak ketinggalan :D

IMAG0689

Ferris wheel di tengah alun-alun! Batu Eye atau Batu Flyers? :D

Image

 Kalo apel yang ini pake iOS berapa ya?

IMAG0691Keren lah pokoknya.. Anginnya semriwing lagi.

IMAG0683Kota Batu dari atas ferris wheel

Kalo nggak inget waktu bisa tiga jam kali duduk bengong nikmatin suasana di sini. Enak banget, angin pegunungan sepoi-sepoi, gemericik air mancur, pemandangan ciamik, sesekali terkena kibasan sayap burung dara yang bebas bermain di situ (selama gak diberakin yaa), dan alunan musik Top 40 artis-artis Nagaswara/Trinity Optima Records yang entah berasal dari plaza deket situ atau kantor pengelola. Di sini juga ada wahana dancing fountain yang saat itu sedang digunakan anak-anak kecil buat mandi sore.. -_-

Sebenernya kami juga berencana ke Selecta, tapi setelah sempat terlibat konversasi yang menggugah dan kontemplatif dengan bapak supir angkot waktu menuju ke Alun-alun, terpaksa rencana itu dibatalkan. Alasannya karena lokasinya yang tergolong jauh (5 km dari Alun-alun) dan juga waktu yang udah kesorean. Sebagai info, angkot di Batu rata-rata hanya beroperasi hingga pukul 17.30. Selebihnya bisa dikatakan beruntung jika nemu angkot yang masih mau narik. Daripada nyampe sana ternyata udah tutup dan harus keluar duit lebih buat balik ke kota mending gak usah. Kalo mau ke Selecta sebenernya tinggal jalan kaki dikit ke arah barat dari Alun-alun sampai nemu persimpangan jalan dan lanjut naik angkot warna oranye ke arah Selecta.

Setelah makan di Bakso Cak No di utara Alun-alun (udah dicek, nama lengkap pemiliknya bukan Cak Noris), kami pun akhirnya memutuskan untuk ke penginapan yang udah dibooking beberapa minggu sebelumnya. Sebuah homestay yang bisa disewa per kamar dan lokasinya gak jauh dari BNS. Emang sih gak jauh, cuma 800 meter, tapi karena posisinya di kaki gunung jadi untuk menuju ke sana jalanannya nanjak. PR banget kalo mau jalan kaki :D Tempatnya terhitung bagus dan luas untuk ukuran harga yang jatuhnya kami cuma cukup patungan Rp 50.000 per orang buat nginep semalam. Ada dapur + kompor gas buat masak pula, plus kamar mandi ber-water heater. Pelayanannya juga memuaskan. Recommended lah..

IMAG0707Lokasi penginapan kami di Desa Oro-oro Ombo, berada di jalan menuju Coban Rais, salah satu air terjun di Batu. Diambil pas pagi-pagi keesokan harinya.

Bermalam di Batu gak lengkap tanpa pergi ke Batu Night Spectacular (BNS). BNS itu semacam pasar malam, tapi dengan skala lebih besar dan atraksi yang lebih banyak. Yang paling hits disini adalah Lampion Garden-nya, cocok buat yang demen narsis dan foto-foto. Selain itu juga ada wahana-wahana macam di Dufan, arena balap gokart, dan rumah hantu. Wahana andalan di theme park BNS sepertinya sepeda udara yang bisa digowes di atas rel layang sambil ngeliat city lights Malang nun jauh di bawah sana. HTM BNS sebesar Rp 20.000, tapi itu bukan dalam bentuk tiket terusan. Untuk bisa menikmati wahana-wahana lain harus membayar tiket masuk lain yang berbeda-beda tiap tempatnya. Jadi gunakan waktu dan uang anda dengan bijak dan selektif di sini :D

IMAG2550Pintu masuk Batu Night Spectacular (BNS)

IMAG0696

Lautan massa yang berjejal sepanjang jalanan di dalam BNS. Mayoritas turis domestik sih, gak keliatan ada tampang-tampang Kaukasoid berseliweran.

IMAG2552Cinema 4D yang lebih dulu ada daripada Blitzmegaplex :p

IMAG0697Taman lampion yang konon jadi atraksi utama BNS

IMAG2551Pengen naik carrousel tapi malu sama umur yang 22 my age.. :p

IMAG0704#YOLO

Untuk urusan mengisi perut sehabis gempor ngiterin BNS lebih baik jangan di dalam. Keluar dikit dari situ bakal banyak nemuin tukang jajanan pada mangkal, salah satu yang paling rame adalah para pedagang sate kelinci. Gak jauh dari pintu keluar BNS juga ada Rumah Sosis Bandung (iya, jauh-jauh ke Batu nemunya makanan Bandung juga :p). Atau jika mau sah dan meyakinkan pernah berkunjung ke Batu, harus nyoba makan ketan di deket Alun-alun sekalian nikmatin suasana Alun-alun di malam hari. Sayangnya karena udah gak ada kendaraan umum lagi yang melintas jam segitu, ritual wajib ini terpaksa diurungkan. Petualangan di Batu pun berakhir di sini.

***

Keesokan paginya kami bersiap untuk kembali ke Malang dan lanjut ke Surabaya. Sekitar pukul 08.45 angkot BJL warna kuning sudah mengangkut kami ke Terminal Landungsari. Dari Landungsari tinggl naik angkot AL menuju Terminal Arjosari. Rute angkot ini mirip-mirip rute TJ Koridor I deh: melewati bangunan-bangunan dan jalan-jalan utama Kota Malang. Sempet lewat Jalan Ijen (Sunset Boulevard-nya Malang) yang abis bubaran CFD, pasar kaget mingguan di Jalan Semeru deket Stadion Gajayana (basian CFD juga), Bunderan Tugu, Stasiun, Bakso President di Jl Batanghari (konon bakso paling tersohor di sini), dan berakhir di Terminal Arjosari. Untuk menuju Surabaya, kami naik bus patas AC PO Kalisari dengan tiket Rp 25.000. Sebenernya ada opsi lebih murah dengan naik bus AC tarif biasa (PO Restu yang busnya ber-livery gambar panda), tapi karena basic-nya itu bus ekonomi yang bisa naikin/nurunin penumpang di sembarang tempat dan bikin waktu tempuh molor akhirnya lebih memilih bayar lebih mahal untuk tiba lebih awal.

IMG-20130922-WA0001

Suasana dalam bus. Sepanjang perjalanan MLG-SBY diiringi rintihan sendu Nia Daniaty dan terkadang juga pekikan lantang Nike Ardilla

Sayangnya bus ini gak ngelewatin Porong karena langsung ngambil masuk tol sebelum masuk wilayah Sidoarjo. Padahal pengen ngeliat langsung lautan lumpur buah karya perusahaan Ical Bakrie yang termasyhur itu. Perjalanan MLG-SBY ditempuh dalam waktu +/- 2 jam dan sekitar pukul 12, waktu matahari Surabaya membelah diri jadi lima biji, tibalah kami di Terminal Bungurasih (Purabaya). Terminal yang keren dan cukup tertata rapi. Di Jakarta aja masih belum ada terminal bus yang teratur kek begini (mungkin nanti kalo Terminal Pulo Gebang udah jadi). Di tempat keberangkatan bus dalam kota juga saya baru nemuin sisi unik bus kota di Surabaya: suka ada tempelan stiker “10/15/20 menit berangkat” di bodi bus yang mengindikasikan batas waktu ngetem di terminal. Bus kotanya sendiri gak bagus-bagus amat, perlu peremajaan malah. Mirip-mirip kayak kondisi mengenaskan bus Damri di Bandung. Akhirnya naik bus no. 5 rute Bungurasih-J.M.P. (hasil gugling singkat: JMP = Jembatan Merah Plaza) yang katanya bakal ngelewatin Stasiun Pasar Turi.

Awalnya saya berniat mau turun sebentar di deket KBS buat foto-foto di depan tugu Sura-Buaya, atau minimal mampir ke Tugu Pahlawan yang lokasinya, kalo liat-liat di Gugel Maps, masih deket-deket Stasiun Pasar Turi. Tapi karena cuaca Surabaya yang siang itu mataharinya ada lima, dan kebetulan juga udah mepet-mepet waktu keberangkatan KA Kertajaya pukul 15.00, akhirnya semua rencana tersebut dibatalkan. Ya sudahlah, langsung ke stasiun sahaja. Buat yang mau makan siang sebelum naik kereta mending dilakukan sebelum masuk stasiun karena di dalam stasiun sepertinya ga ada warung makan (kecuali gerai mungil Dunkin’ Donuts)

IMAG0709Stasiun Surabaya Pasar Turi yang bersih banget peronnya. Akhirnya kesampean mengunjungi/meninggalkan Surabaya tanpa naik pesawat :)

Hal yang tak terduga saya temukan ketika masuk ke kereta. Ada colokan! Kereta yang tiketnya Rp 50.000 udah dapet colokan dan AC lumayan banget bukan? Tepat pukul 15.00 KA Kertajaya pun bertolak ke arah barat menuju Jekardah. Pengalaman pertama saya melewati jalur KA sepanjang pantura Jawa Timur ini. Waktu tempuhnya memang jauh lebih singkat dibandingkan dengan kalo berangkat dari Malang. Pas perjalanan pulang ini juga berbarengan dengan final AFF U-19. Nyesel banget gak bisa nonton (meski menangnya juga pake adu penalti) dan walhasil sepanjang pertandingan cuma mantengin livetwit dari timeline Twitter (mau striming MNC TV tapi nampaknya server mereka jebol malam itu :D).

Liburan singkat yang menyenangkan (dan melelahkan) :)

Note: some photos in this post are courtesy of my fellow travel mates, Desi and Sri. I found it extremely difficult to find good photos without their face on it :D

*itu bedanya cewe sama cowo kalo ngambil foto dokumentasi :p*

Advertisements

48 thoughts on “Plesiran ke Malang dan Batu

      • Haha, tapi beneran the best. Pernah ke zoo di Singapore gak? Kalo aku bilang sih, Batu Secret Zoo itu udah hampir mendekati Singapore Zoo, dengan konsep penataan yang mirip, cuma dalam skala yang lebih kecil.

    • Hai Okta(via), tengkyu atas kunjungan + komennya yah.. :D Much appreciated. Usul akan dipertimbangkan untuk postingan-postingan selanjutnya.. :) *mudah-mudahan inget*

    • Kalo mau yg murah meriah, cari aja di sekitaran Desa Oro-Oro Ombo. Lokasi strategis di deket BNS & Jatim Park 2. Untuk penginapan yg waktu itu saya gunakan udah disebutin kok di dalam tulisan di atas (klik aja link-nya)

  1. Sumpah artikel ini keren masbro! It really helps for newbies (like me) getting their first travel to Malang/Batu. Info ttg transportnya sangat bantu eike waktu ke Batu kemarin. Brava!!

  2. makasih infonya,,, seru ceritanya,, serasa udah di batu,,
    mau tanya juga nich,,,dari pohon inn ke bns, jauh gakk
    andaikan mau ke bns pulang malam,,

    • Jaraknya gak nyampe 1 km, lumayan deket (kalo menurut saya). Di jalanan antara BNS-Jatim Park 2 meskipun malem kayaknya tetep rame, jadi seandainya mau ditempuh dengan jalan kaki kayaknya ga ada masalah.

  3. Waahhhh makasi infonya. Sedang merencanakan perjalanan Jakarta-Malang-Bromo-Batu-Surabaya-Jakarta. Dan sangat terbantu dg artikel ini. Infonya sangat berguna :D

  4. Seriously artikelnya keren n informatif bgt, penyampaiannya asik, tulisannya kocak..hahaha
    Rencananya sih november ini mau ngebolang kesana. Btw, mau nanya dong, kalo dr terminal landungsari mau ke Museum Angkut naik angkot yg mana ya,tau gak? Trus dr situ ke BNS naik apa? Thanks alot

    • Waktu ke sana, Museum Angkut belum jadi. Jadinya ga tau mesti naik apa. Tapi kalo saya liat di Google Maps sih yg penting nyampe Terminal Batu aja (naik angkot pink/kuning dari Landungsari), trus mungkin naik yg ke arah Songgoriti (atau tanya warga sekitar). Kalo ke BNS dari Terminal Batu naik angkot kuning yg ke arah Landungsari.

      • Trus kalo misalnya dr museum angkut kmlman ga ada ankot lg kira2 ada taksi atau ojeg gituh gak ya? Klo ada, tarifnya brp kira2 ke BNS, biar ga diboongin gituh..hehe

      • Nah kalo itu saya ga tau hahaha.. Pengamatan sekilas taksi jarang ya di Batu. Paling ojeg. Mungkin sekitar 20ribuan ya. Museum Angkut itu masih deket pusat kota, kalo BNS itu emang agak di pinggir. Jadi kayaknya harga segitu sepadan kok.

  5. artikelnya komplit bgt, pas bgt bwt panduan coz rncana jg mo ke kota Batu naik transportasi umum,,kyknya jg nnti mo nginep di situ jg he he,,yg punya homestay musti makasih nih ma artikel ini he he

  6. mksh bngt buat arah arahannya , liburan skolah nti rencana mau jalan2 ke batu dengan anak , pakai transportasi umum , dah pesan kamar di homestay alpukat jg , smoga yg buat artikel ini dpat pahala , aamiin …

  7. aq rencana sm suami 22 nov ni ke malang,, trims ya utk tulisany smg bermanfaat,, jatim park 1 & 2 jauh ga? museum angkut dmnY? kl cm b2 stay brp ya smlm,, buget itiny krg lengkap gan

  8. Gan, numpang ngeshare kmaren ane k museum angkut dimari boleh ya gan, maklum ane ga punya blog.. haha (klo ga blh apus aja gpp kok 😁)
    Dimulai dr bandara Juanda, naik damri ke Bungurasih (20rb, udh naik taripnya tnyata), trus lanjut naik bus ke Arjosari (bus AC 20rb lewat tol, ga lewat tol 13rb, agak nyebelin org2 dsini, main gandeng2 aja bikin sesat), dari Arjosari naik ankot biru ke Landungsari (6rb, ini lumayan jauh gan, lupa brp mnit perjalanan sambil merem melek ngantuk soalnya..hehe), sampe Landungsari lanjut naik ankot ungu klo mau lgsg ke Batu tp kalo mau lewat BNS naik yg kuning jurusan Batu jg (ongkos 3500), trus dr Batu naik ojeg bilang aja Museum Angkut (gada angkot kesana, ga jauh sih, bayar ojeg 5rb), sampe deh..
    Tiket Museum 50rb weekdays, 75rb weekend, klo mau ke Museum Topengnya jg jd 85rb. Di sana ada pasar apung jg, banyak jual makanan, cemilan, ama souvenir.
    Dari situ kalo mau ke BNS naik ojeg aja 10rb soalnya gada angkot, kalo mau ke Jatim Park 1 or 2 harusnya sih lebih murah karna lebih deket.
    Udah sih segitu aja ngeshare nya, makasi loh gan buat lapaknya.. ciaobella 🙈

  9. Bro penginapan di desa oro oro ombo nama penginapannya apa n bokingnya lewat apa? Aku rencana mau ke malang dari bali tp masih bingung rute ke tempat wisatanya sama penginapannya. Bisa bantu?

  10. gaya penulisannya menarik…informatif, anak muda, tapi ga alay.
    Saya baru mau ke Batu minggu depan. Jadi ingin membandingkan kebun binatangnya. Kebetulan saya sudah pernah ke Taman Safari, Kebun binatang Bandung, Gembiraloka Jogja, kebun binatang Semarang, dan Lampung. tampak sering ke kebun binatang ya hehehe

  11. informatif sekali artikelnyaa. bln juni nsyaallah mau main ke batu. ketlg bgt utk angkot & homestay nyaa. liat foto2 nya jg seru jd pgn cpt2 kesana. cant hardly wait till june ☺☺

  12. artikelnya seru banget dibacanya :D
    wah sepertinya perlu dicoba nih mbolang ke malang naik kereta sama angkot. soalnya kalo ke malang sama batu seringnya sih pake mobil, aku dari surabaya :D

  13. Jd tambah semangat besok mlm berangkat, ayoo nulis lagi utk tempat2 yg lain yaa, ditunggu..ⓣⓗⓐⓝⓚ ⓨⓞⓤ

  14. Waaahhh infonya menarik, aku juga bacanya ga bosen..aku tahun ini baru masuk kuliah di unibraw..jd lagi cari tau informasi malang..kebetulan baca ini aku jd tau jalan ke arah unibraw sekalian wisata dulu….terimakasih kakak artikelnya bagus ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s