Museum Katedral Jakarta

Ada masanya di hidup saya ketika persinggungan saya dengan konten agama lain dianggap hal yang tabu dan haram jadah. Contoh paling gamblang tentang hal ini adalah setiap kali tidak sengaja menonton Penyegaran Rohani Agama Kristen tayang di RCTI Minggu jam 12.30 (masih apal euy!). Jadi dulu ketika di tivi mulai terdengar suara TOTETTOTETTETOTETTOTETTOTET (intro acaranya), sontak akan terdengar suara orang rumah: “MATI’IIIIIIN!” atau “GANTIIII! BURUAN GANTIII!”. Lebih-lebih kalau udah terdengar pembacaan kabar baik nan menggebu-gebu dari Gilbert Lumoundong. Tuntutan massa untuk mengganti saluran televisi menjadi semakin agresif.

Begitulah, cuma dengan menonton acara tentang agama lain pun dulu dianggap dapat menggerus iman yang saya yakini. Padahal rasa penasaran tentang sesuatu yang berbeda, termasuk ajaran agama, selalu ada, tapi upaya untuk mengatasi rasa penasaran itu selalu dianggap sebagai indikasi awal minat untuk berganti akidah. Buku (dan belakangan internet) akhirnya jadi sarana pelampiasan untuk memenuhi keingintahuan ini. Kegiatan yang justru, menurut saya, mempertebal iman yang telah diwariskan kepada saya sejak lahir, dan di sisi lain makin menghormati mereka yang berbeda keyakinan dengan saya.

Jika kedapatan menonton acara agama lain saja reaksinya sudah seperti itu (dan ini kayaknya reaksi umum di keluarga-keluarga Indonesia), apalagi jika sampai menginjakkan kaki ke tempat ibadah agama lain? Mungkin jika saya ketauan ngelakuinnya pas masih kecil dulu udah nggak diaku anak sama orang tua hehe.. Sampai saat ini alhamdulillah udah pernah berkunjung ke semua tempat ibadah agama-agama lain yang diakui NKRI: gereja, kelenteng, pura, dan wihara (anggap aja Borobudur itu wihara raksasa ya.. *iyain aja*). Gereja Kristen Pasundan di deket Stasiun Cakung jadi tempat touchdown pertama saya ke rumah ibadah umat lain. Waktu itu masih SD sih dan cuma sempet melongok-longok sebentar. Reaksi standar “ooo jadi begini toh…” adalah yang terjadi setelah itu.

Kalo untuk gereja Katolik, persinggahan pertama adalah St. Peterskirche di Zurich (tssahhh, kesannya keren banget kan guwehh??). Gereja Katolik yang kabarnya punya menara jam terbesar di Eropa. Tapi untuk yang di tanah air, kesempatan itu baru terjadi beberapa hari lalu, langsung di gereja Katolik paling terkenal setanah air: Gereja Katedral Jakarta. Kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya karena awalnya hanya berniat ngurus JHT Jamsostek di Kebon Sirih (a post about this will come up soon) dan nuker tiket KA di Gambir. Karena ternyata semua urusan udah selesai sebelum jam 10, dan waktu sholat jumat masih lama, daripada luntang-lantung gak jelas mampirlah ke sana.

Saya sendiri juga baru tau belum lama kalo Katedral Jakarta punya sejenis museum yang berlokasi di lantai atas bangunan tersebut. Museum ini buka setiap Senin, Rabu dan Jumat pukul 10.00 hingga 12.00, dan, yang paling penting, museum ini FREE dan terbuka untuk umum. Jadi berbekal info itu meluncurlah saya ke bangunan yang persis berada di seberang Masjid Istiqlal itu. Begitu menginjakkan kaki di halaman luar agak waswas juga sih. Pintu masuknya lewat mana? Apa nanti ada semacam sensus penduduk dulu? Apa boleh foto-foto di dalam? dsb. Kebetulan pas mendekati pintu masuk utama gereja, ada seorang suster dan temannya sedang foto-foto di luar. Saya udah apal mati lanjutan situasi ini dan benar saja: saya diminta untuk moto mereka berdua dengan latar belakang Katedral. :)) Setelah menunaikan tugas sebagai fotografer dadakan, saya langsung nanya letak museum dan disuruh masuk lewat pintu utama aja (waktu itu emang lagi kebuka lebar). Seraya tak lupa mengucap basmalah, masuklah saya ke dalam Katedral.

IMAG0620Tampak luar

IMAG0619

Patung Maria di pintu utama

IMAG0618

Prasasti dalam bahasa Latin (?)

Kesan pertama: megah. Langit-langit bangunan sepertinya tinggi banget dan jarak dari bangku paling belakang ke altar di depan keliatannya cukup jauh. Katedral Jakarta tidak terlalu banyak menggunakan unsur dekorasi berupa patung-patung karena, seperti tertera di brosurnya, gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur Neo-Gotik (tuh buat inspirasi penyanyi dangdut). Saya gak berani (baca: merasa kurang pantas) melangkahkan kaki sampe ke deretan bangku di tengah atau depan dan lebih memilih untuk langsung naik ke lantai atas tempat museumnya. Jadi kalo masuk dari pintu utama, tangga kayu ini letaknya di sebelah kiri. Di bagian bawahnya ada palungan yang dikasih kaca gitu.

IMAG0616Ruang misa

Begitu nyampe di atas akan ada ibu-ibu penjaga yang menyuruh kita mengisi buku tamu. Di situ juga ada beberapa brosur tentang Katedral yang bisa diambil. Museum Katedral ini sendiri konon dulunya adalah tempat para choir menyanyikan kidung gerejawi yang kemudian dialihfungsikan. Ada dua ruangan utama museum jika dilihat dari arah pintu masuk: di sebelah kiri sama sebelah kanan yang dihubungkan dengan ruangan kecil dimana pengunjung bisa melihat suasana dalam katedral dari atas. Di ruangan penghubung ini benda yang dipajang mayoritas berupa buku-buku lama, dokumentasi kunjungan Paus Yohannes Paulus II ke Jakarta tahun 1989 (termasuk surat kaleng misterius yang mengancam kedatangan Paus, lengkap dengan amplop yang masih berprangko foto Soeharto), sama orgel pipe guede yang sepertinya sudah dipensiunkan.

IMAG0608Pemandangan dari atas

IMAG0605

Mosaik di jendela

Benda-benda koleksi yang menarik sepertinya lebih terkonsentrasi di sisi kiri. Mulai dari dekat pintu masuk sudah disuguhkan foto-foto jadul gedung Katedral dan sejarah pendiriannya. Di pojok kanan atas, masih dekat pintu masuk dan area penghubung sisi kanan dan kiri, dapat ditemui lukisan besar gedung katedral yang dibuat dari pelepah pisang karya Kusni Kasdut, penjahat besar tahun 1960-an yang dibaptis sebagai Katolik menjelang eksekusi mati. Melangkah lebih dalam akan ditemui koleksi jubah-jubah uskup agung (istilahnya “kasula”. Ingat, bukan “Kasela”), tongkat gembala, perkakas buat ritus-ritus keagamaan, dan di tembok bagian atas berjejer foto-foto uskup agung Jakarta dari jaman londo. DI ruangan sisi kanan sendiri, koleksi yang cukup menarik perhatian cuma patung Bunda Maria berkonde yang diperuntukkan untuk misi Katolik di Jawa dan patung seorang pastor yang lagi mengayuh sampan. Ada keterangannya di situ tapi lupa, intinya sih sedang menyelamatkan diri. Berasa banget sih bedanya sisi kiri sama kanan. Yang kiri terasa lebih terawat sedangkan yang kanan udah koleksinya lebih dikit, kondisinya jauh lebih berdebu dan kurang terurus.

IMAG0614

Sisi kiri museum

IMAG0610

Koleksi buku-buku jadul

IMAG0604

Informasi sejarah Katedral

Kondisi di dalam museum cukup gerah. Entah emang karena sayanya yang abis jalan kaki cukup jauh atau emang karena udara di sana panas. Tapi ada banyak kipas angin blower di beberapa sudut ruangan di sana kok, lumayan buat bikin adem. Di dalam sini juga cukup banyak burung gereja hilir mudik. Mungkin ini yang menyebabkan mereka dinamakan demikian (meskipun di dalam Istiqlal juga banyak sih… :|). Oh satu lagi, aroma di dalam museum cukup unik, kayak bau kompor minyak tanah yang dimatiin dengan cara dikepret air (maafkan referensi katro saya ini). Mungkin ini bau dari lilin-lilin yang banyak dibakar di bawah kali ya? Entahlah. Kunjungan ke Katedral ini pun berakhir ketika jam telah mendekati waktu sholat Jumat dan saya pun tinggal nyebrang jalan menuju masjid terbesar di Asia Tenggara. Yang pasti dari awal masuk sampe udahan, saya gak pernah mengungkap identitas pribadi sebagai Muslim karena emang gak pernah ditanya juga sama penjaga gereja dan museumnya. Jadi kesimpulannya Katedral ini, termasuk museumnya, benar-benar terbuka untuk umum, selama dikunjungi pada waktu yang telah ditentukan. Ini juga yang bikin saya bertanya dalam hati: apakah ketika umat lain ingin mengunjungi masjid akan mendapat perlakuan yang sama? Seharusnya sih juga terbuka untuk semua kalangan, regardless of his/her religion, bahkan untuk yang tak beragama sekalipun. Andai aja ada masjid bersejarah dan punya koleksi benda-benda historis yang ditata apik dalam museum di dalamnya dan terbuka untuk umum kan nantinya juga bisa berguna buat syiar Islam.

Intinya sih jangan takut untuk mengeksplorasi hal-hal baru, termasuk dalam hal mengenal ajaran agama lain dan mengunjungi tempat peribadatannya. Mengenal agama lain bukan berarti berminat untuk berpindah keyakinan. Tidak sesederhana itu. Minimal butuh sekardus Indomie.. #ehh

Bercanda deng…. Kenalilah agama lain. Niscaya kamu akan makin mengenali agamamu sendiri.

 

 

Museum Katedral Jakarta. Opens every Mon, Wed, and Fri at 10 AM until 12 PM. To go there, you can (a) take TJ to Juanda bus shelter and walk +/- 300 m, (b) take Commuter Line to Juanda station and walk +/- 500 m, or (c) take MetroMini P-15 heading to Senen and ask the kenek to stop at Khatedral (Dishub DKI spells this way) bus stop. No entry fee required and free access to all believers.

Advertisements

3 thoughts on “Museum Katedral Jakarta

  1. Hai, saya merasakan hal yg sama, namun orang2 di sekitar seolah menentang saya utk mengeksplor keingintahuan saya. Saya pernah ajak teman saya utk berkunjung kesana, mereka blg “MAU NGAPAIN LO HAH? ORANG GILA!” dan yah.. ekspresinya sama kaya yg sdh dijelaskan diatas kalo lg liat acara kerohanian di rcti itu ._. Sampai saat ini saya blm pernah memasuki tempat ibadah apapun kecuali masjid ): tetapi terima kasih, tulisan ini membantu (:

    • Berprasangka baik aja, mungkin orang2 terdekat cuma berniat menjaga akidah kita dari hal2 yg dianggap mampu melunturkan keyakinan/menggerus iman (meskipun kita sendiri tau kalo pemikiran kayak gitu terlalu naif dan simplistis) :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s