World War Z (the book, not the movie)

Kapan terakhir kali tergugah untuk beli buku setelah nonton suatu film yang terinspirasi dari buku tersebut?

Waktu Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring pertama keluar awalnya saya penasaran pengen beli trilogi novel JRR Tolkien yg mendasari film itu, semata karena gak sabaran menunggu dua film lanjutannya. Tapi setelah melihat penampakan bukunya (edisi terjemahan bahasa Indonesia), langsung mundur teratur. Tebel dan kurang menggugah untuk dibaca karena kebanyakan nama tokoh Middle Earth yang susah dihapal. Kayaknya mending nunggu filmnya aja deh hehehe..

LoTR memang nampaknya pengecualian dalam hal adaptasi novel menjadi film (atau film yang terinspirasi dari novel. Same thing). Biasanya kan yang udah pernah baca suatu novel kemudian nonton film adaptasinya pasti langsung bereaksi negatif. Kurang dapet feel-nya lah, ceritanya disiingkat-singkat lah, castingnya gak cocok, dsb. Tapi sejauh ini saya nggak (baca: jarang) mendengar ada keluhan dari para pembaca terhadap adaptasi yang dilakukan oleh Peter Jackson. Seringnya malah dibilang melebihi ekspektasi dan mampu mewujudkan imajinasi dalam buku ke layar lebar.

Yang teranyar dengan kasus serupa kayak LoTR mungkin Life of Pi. Sisanya rata-rata pada bilang film adaptasi novel pasti lebih kacrut dibanding buku aslinya. Below expectation guaranteed. Eragon, Harry Potter (yang film-film awal pas masih dipegang Chris Columbus), Da Vinci Code, atau… Twilight (mungkin.. belom pernah baca & nonton soalnya :D) adalah contohnya. Dan korban kritikisme (halah, “criticism” padanannya apa ya?) paling mutakhir soal novel-jadi-film ini adalah World War Z. Secara umum, film ini cukup sukses di pasaran sih, bahkan sekarang udah jadi pemecah rekor pemasukan untuk film bergenre zombie. Saya pun udah nonton dan memvonis film ini bagus dan layak ditonton. Cuma buat orang yang udah pernah baca novelnya, cerita film ini dianggap terlalu menyimpang. Hanya mengambil tema besarnya saja tanpa mengikuti alur cerita yang disuguhkan oleh novelnya.

Saking penasarannya sama novel World War Z yang dibilang jauh lebih kompleks ceritanya daripada di film, saya akhirnya terhasut buat beli juga. Di toko-toko buku online rata-rata gak nemu ini buku, mungkin karena memang belum ada edisi terjemahan bahasa Indonesianya jadi cukup susah dicari. Apalagi di Gramedia yang isinya cuma buku-buku Dahlan Iskan/Jokowi/SuJu/One Direction/selebtwit.. Dipastikan gak ada. Tapi setelah browsing-browsing lagi, ternyata di Periplus Online bukunya ada dan, ini di luar perkiraan, tergolong murah untuk ukuran buku impor (gak nyampe 100 ribu).

ImageJangan tertipu penampakannya karena aslinya buku ini cukup mungil

World War Z: An Oral History of the Zombie War karya Max Brooks akhirnya tiba ke haribaan ibu pertiwi setelah ditebus dengan harga Rp 85.000 ++ dan menunggu 4 hari kerja. Sayangnya buku yang saya terima ini udah yang terbitan terbaru, covernya pake poster film World War Z, bukan yang versi orisinil. Jadi terkesan baru dibeli cuma karena termakan hype semata (haha, sisi hipster saya sedikit terusik :p). Bukunya ringkas dan mungil, cukup tebal (420 halaman), dan, kalo udah selesai dibaca, akan menjadi buku fiksi berbahasa Inggris kedua yang saya tamatkan setelah Dracula-nya Bram Stoker jaman SMA dulu.

Buku ini terdiri dari 8 chapter dengan diawali semacam introduction yang menceritakan asal muasal ‘hadirnya’ buku ini. Max Brooks sebagai penulis disini ceritanya berperan sebagai petugas penyusun UN Postwar Commission Report, sebuah komisi PBB yang dibentuk paska terjadinya perang dunia akibat merebaknya virus zombie. Alkisah, draft laporan awal yang disusun penulis ditolak untuk menjadi laporan akhir Komisi karena dianggap terlalu personal dan tidak layak untuk dijadikan suatu laporan resmi. Chairperson Komisi kemudian menyarankan agar kisah-kisah yang dihimpun penulis selama ia bertugas, yang  tidak mungkin dijadikan laporan akhir Komisi, sebaiknya dibukukan untuk menjadi dokumentasi alternatif yang lebih humanis. And the rest is history.

Cerita dalam World War Z dikemas dengan sangat runut, bermula dari chapter “Warnings” yang mengulas cikal bakal munculnya virus zombie. Dikisahkan kalau semua ini berawal dari Patient Zero, penderita pertama yang tercatat dalam rekam medis, yang ada di RRC (disini letak perbedaan pertama dengan versi film yang menyebutkan bahwa asal muasal virusnya dari Korea Selatan). Kisah bertutur dalam penggalan-penggalan wawancara Brooks dengan tokoh-tokoh terkait. Jadi buku ini semacam kumpulan sudut pandang dari berbagai macam orang dan profesi (ada kali 30-an lebih) yang tersebar di seluruh dunia. Enjoyable banget sih, apalagi 3 bab awal (“Warnings”, “Blame”, sama “The Great Panic”). Mungkin salah satu faktornya karena saya selalu penasaran sama situasi sebelum kondisi post-acopalyptic terjadi. Itu kan yang jarang dijelaskan dalam banyak cerita zombie populer (sebut saja: The Walking Dead). Film/TV series yang telah ada rata-rata lebih banyak bercerita tentang situasi setelah merebaknya virus dan penanggulangannya, bukan pada saat-saat awal kemunculannya.

Fantasi Brooks cukup liar. Disini dia menuturkan kalo paska Perang Dunia Z, waktu latar ketika ia melakukan wawancara, konstelasi politik global sudah berubah total. RRC telah menjadi United Federation of China, Federasi Rusia menjadi Holy Russian Empire, Lasha di Tibet jadi kota terpadat di dunia, sampe Israel yang mundur ke garis batas pra-1967. Bicara tentang Israel, mungkin satu-satunya yang konsisten antara kisah di buku dengan di film adalah bahwa Israel menjadi negara pertama yang menyadari ancaman global ini dan langsung menerapkan isolationist policy. Brooks juga  bisa membuat orang yang baca buku ini sadar kalo bahaya penyebaran virus mematikan ini, yang awalnya disebut “rabies Afrika”, tidak hanya bisa terjadi via cara-cara konvensional  seperti kontak fisik. Perdagangan ilegal organ tubuh ternyata juga bisa jadi medium yang ampuh buat menyebarkan wabah ke seluruh dunia! Di chapter-chapter awal ini Indonesia juga sempet sekali disebut tapi lupa di bagian mana. Yang pasti kita diceritakan udah gagal mencegah outbreak (why we don’t surprised, eh?).

Selepas chapter “The Great Panic”, tensi ketegangan mulai turun karena fokusnya sekarang beralih ke strategi negara-negara dunia untuk mengatasi penyebaran virus ini sekaligus mencegah kepunahan umat manusia. Buat saya chapter “Turning the Tide” sama “Home Front USA” rada monoton dan membosankan sih.. Bahasannya tentang Amerika melulu dan bahasa yang digunakan kebanyakan pake jargon-jargon khas G.I. yang nggak umum atau dialek American redneck hillbilly. Cerita baru mulai menarik lagi ketika masuk ke chapter “Around the World, and Above”. Isinya seputar gerakan resistensi dari pelbagai negara buat membebaskan wilyah mereka dari the undead. Yang paling saya inget dan jadi favorit saya adalah yang cerita di Jepang, yang tokoh utamanya otaku anti-sosial kelas berat. Terus juga yang testimoni penjaga DMZ Korut-Korsel. Dan yang paling epic: laporan pandangan mata dari Stasiun Luar Angkasa ISS ketika zombie outbreak terjadi dan selama World War Z. Ada juga kisah tentang segerombolan desertir militer RRC dan keluarganya di kapal selam nuklir yang bertahan hidup di kedalaman Pasifik. Lengkap semua sudut pandang dari segala penjuru bumi ada di sini: atas, bawah, timur, barat, utara, selatan (ada yang di Antartika juga).

Dua chapter tersisa: “The Total War” sama “Good-Byes” rasanya kayak tinggal untuk menggugurkan kewajiban aja hehe.. Gak minat lagi dibaca serius karena yang seru-serunya udah lewat. Setelah tuntas dibaca, rasanya keputusan untuk memfilmkan hanya sepenggal dari kisah asli yang tertera dalam buku cukup masuk akal. Karena kalo dibikin sama persis plek kayak yang di buku, durasi filmnya mungkin bisa mencapai 5 jam. Overall, buku ini menarik buat dibaca karena akan memberi banyak pengetahuan baru (oh so cliché..) dan cukup memberikan gambaran buruk menjurus traumatis kalo hal ini benar-benar kejadian di dunia nyata. Bayangin kalo tiba-tiba kasus flu babi/flu burung/SARS nongol lagi, dan kali ini merebaknya lebih cepat karena udah bisa human-to-human infection.. Bisa jadi apa yang dikhayalkan Max Brooks dalam buku ini kejadian beneran, dan itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun tetep, virus zombie itu bener-bener berada di level yang berbeda dari penyakit-penyakit tadi, karena seperti dikutip dalam salah satu fragmen di buku ini:

“All armies, be they mechanized or mountain guerilla, have to abide three basic restrictions: they have to be bred, fed, and led. … Bred, fed, and led; and none of these restrictions applied to the living dead.”

Yep, unlike those who suffers from SARS/AI who can only end up dead, zombie virus infection will end up initiated massive numbers of living dead, reanimated shortly after their death. And they can create ‘army’ of their own. And they will hunt you, me, and us. And that’s what scary about them.

So, let’s all together cancelling the apocalypse! *manasin jaeger* *salah film*

Advertisements

2 thoughts on “World War Z (the book, not the movie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s