Pacific Rim

I’m not a Japanese and barely know about Hideo Kojima before. Rentetan twit ini saya ketahui dari RT-an seseorang di timeline twitter saya awal Juli lalu. Sebuah endorsement, bahkan bernuansa hasutan, untuk menonton Pacific Rim. Twitter sebenarnya bukan lagi tempat yang terpercaya untuk sebuah review atau endorsement atas suatu produk/karya seperti film. Terlalu banyak buzzer yang mendistorsi selera awam dengan kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Namun, dari yang saya baca, Hideo Kojima terkesan sangat tulus dalam menyampaikan opininya. Orang dengan reputasi seperti Kojima, yang ternyata adalah VP Konami Digital Entertainment dan kreator seri game populer Metal Gear, rasanya tidak akan mempertaruhkan namanya untuk memberikan testimoni yang terlalu positif atas film ini, dan saya pun percaya. Pacific Rim memang digadang-gadang dari awal tahun sebagai film termegah tahun ini dan, berkat endorsement Kojima, saya pun makin tak sabar untuk menontonnya (dan akhirnya berbalas manis).

Image

Saya bukanlah reviewer handal yang bisa mengkritisi aspek teknis, logika, atau estetika suatu karya film dengan bahasa dewanya lengkap dengan segala pretensi untuk terlihat smart dan insightful. Saya bahkan bukan movie goer rutin yang rajin menyambangi bioskop setiap ada film baru dan bisa dibilang agak perhitungan (baca: pelit) untuk menseleksi film mana yang layak ditonton di layar lebar (sisanya? serahkan ke kickasstorrents dan mekanisme pasar bursa tukar menukar HDD di kampus). Sekadar penikmat film biasa yang menyandarkan infonya pada IMDb, sering colongan buka spoiler full plot di Wikipedia, dan rada gak percaya sama Rotten Tomatoes. Jadi mungkin review ini tidak bisa dijadikan rujukan yang memadai sebagai panduan untuk memilih tontonan anda.

Review singkat saya terhadap film ini: KEREN! Pacific Rim sukses bikin saya cengo sepanjang film. Tepat ketika film berakhir, saya sudah meyakini kalau film ini tidak hanya cukup ditonton sekali (dan akhirnya saya sukses nonton film ini untuk kedua kalinya dalam jangka waktu satu minggu hehe..). Tidak hanya menawarkan sesuatu yang megah dan mematok benchmark yang teramat tinggi untuk film-film bergenre sejenis, sisi artistik Pacific Rim juga terjalin dengan rapi tanpa diselingi adegan-adegan cheesy nan corny macam seri Transformers (well, setelah ditonton kedua kalinya ada sih beberapa dialog yang bisa bikin facepalm. Tapi setidaknya, gak ada penampakan dua jaeger mini tengil bergigi tonggos). Suguhan visual yang setara dengan Avatar, Lord of the Rings series, dan Jurassic Park ketika pertama kali saya tonton. Yang saya suka dari film ini dibanding Transformers adalah keberadaan robot-robot (atau lebih tepatnya “mech” yang disebut Jaeger) yang bukan merupakan alien dari planet lain, tapi lebih berupa produk kecerdasan manusia dan sepenuhnya dikendalikan oleh manusia juga. Terlepas dari cerita tentang keberadaan kaiju dan portal antar dimensi yang membawa mereka ke bumi, pengembangan jaeger sebagai alutsista (tsaelah..) buat saya tidak sepenuhnya kisah fiktif karena bisa jadi, selaras dengan perkembangan iptek dan imtaq, hal itu dapat terwujud di masa depan.

Image

Klimaks Battle of Hong Kong ini bikin mata gak ngedip

Memang, tak ada karya yang sempurna. Plot hole disana sini, adegan-adegan yang kurang logis (jaeger sebesar ribuan ton bisa diangkut hanya dengan 4 helikopter? Kaiju beranak? Ada bajaj di Hong Kong? Ledakan nuklir di dasar laut efeknya hanya begitu? dst.), akting yang kurang greget (kecuali Idris Elba dan pemeran Mako Mori kecil) adalah beberapa diantaranya. Tapi apa yang bisa diharapkan dari summer movies macam begini? Mau alur cerita ala Inception atau pendalaman sisi humanis karakter ala film-film Christoper Nolan? Nggak lah, ini film emang tujuannya untuk menghibur kok. Peduli setan dengan akting yang kurang maksimal atau jalan cerita yang mudah ditebak. Buat saya film ini sangat menghibur, dan saya rasa, tanpa bermaksud bias gender, ini adalah film impian setiap anak laki-laki kelahiran dekade 1980-an yang tumbuh besar dengan tontonan kartun-kartun robot Jepang.

Sayangnya, film semonumental ini tidak berdaya di jajaran box office domestik AS, kalah dari Despicable Me 2 dan (ini yang menyedihkan) Grown Ups 2. Kondisi yang menyebabkan warga amrik jadi bulan-bulanan dan bahan meme potensial di pelbagai forum internet (“Faith to humanity: not restored”, misalnya). Tampaknya peluang Warner Bros dan Legendary Pictures untuk balik modal cuma dari pendapatan di luar negeri yang semoga bisa menutup ongkos produksi. Oiya, saya nonton film ini di layar 2D dan 3D. Dapat disimpulkan kalau Pacific Rim cukup ditonton di 2D saja karena efek 3D-nya tidak terlalu banyak dan hanya muncul di awal-awal. Tapi saran saya, jika memungkinkan, tontonlah di layar terbesar dengan sound system paling maksimal yang ada. If it only possible in IMAX… be it! Ini salah satu dari sedikit film yang wajib ditonton di layar lebar, jangan nunggu keluar di Ganool (atau yang lebih parah: keliru mengunduh Atlantic Rim). Jangan sia-siakan hidup anda dengan menontonnya di layar 10/11/14 inchi di pangkuan anda. Go watch how they cancelling the apocalypse only in the big screen.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s