Hasta La Vista (Come As You Are)

Kalau saya nggak baca nukilan sinopsisnya, mungkin saya bakal salah mengira film ini sebagai film dokumenter tentang Nirvana (atau Kurt Cobain). Bukan, film Belgia yang judul aslinya “Hasta La Vista” ini ternyata sama sekali gak nyinggung tentang Nirvana atau Cobain. Ini lebih ke road trip movie, tapi bukan sekadar road trip movie biasa karena para pelaku road trip-nya juga bukan ‘orang-orang biasa’.

caya

Tersebutlah tiga sekawan asal Flemish (daerah berbahasa Belanda di Belgia) yang memiliki disabilitas: Jozef yang 90% buta, Philip yang punya penyakit sama kayak Stephen Hawking (entah apa namanya), dan Lars yang lumpuh karena tumor otak akut dan harus menggunakan kursi roda. Keterbatasan yang mereka miliki tidak menghalangi untuk menghalangi mimpi terbesar mereka: to not die as a virgin. :D Untuk tujuan ‘mulia’ itu, mereka akhirnya nekad kabur dari rumah untuk memulai perjalanan ke Spanyol di mana terdapat rumah bordil ‘khusus’ buat penyandang disabilitas. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dalam perjalanan itu dan apakah  akhirnya semua berhasil membuat ‘itu’-nya gak cuma dipake buat ngencing? I’m too lazy to write the spoiler so go see it yourself. :))

Tapi kalo mau nonton sekarang mungkin cuma bisa donlot di internet karena festival film Europe On Screen 2013, tempat dimana film ini diputar, sudah berakhir Ahad lalu. Sabtu kemarin jadi pengalaman pertama saya nonton di Goethe Haus (yang ternyata deket banget sama Stasiun Gondangdia.. terima kasih Google Maps!) dan ternyata pusat kebudayaan Jerman itu punya auditorium yang gede dan representatif banget buat nonton film. Enaknya di sini dibandingin Erasmus Huis, yang sama-sama punya tempat pertunjukan yang bagus, mungkin lebih karena gak berada di dalam komplek Kedubes, jadi akses masuknya gak ribet. Itung-itung pengobat kekecewaan karena gagal nonton film  The King: Jari Litmanen seminggu sebelumnya di tempat yang sama.

Kembali ke film HVL/CAYA, film ini cukup mengingatkan saya pada film Fanboys, terutama bagian perjalanan dan ide dasarnya tentang ngewujudin obsesi yang udah lama terpendam. Sama satu lagi kemiripan: adanya satu peserta road trip yang sebenarnya lagi mendekati ajal tapi ngotot pengen ikutan. Dan endingnya juga… ah sudahlah, ntar spoiler hehehe… Ada juga sisi ke-American Pie-annya dikit kalo diamat-amatin sih..

Beberapa lesson learned dari film ini adalah pantai-pantai di Eropa Barat yang luar biasa jeleknya (bersyukurlah kita hidup di negara tropis), eksistensi dua bahasa utama di Belgia: Flemish dan Perancis, stereotip tentang orang Belanda yang pelitnya kebangetan, kekinya orang Belgia sama orang Belanda (mungkin kayak orang Indonesia vs orang Malaysia :D), kerennya aksesibilitas dan kebijakan non-diskriminatif buat kaum difabel di Belgia, sampe pentingnya kemampuan untuk mentertawakan diri sendiri. Cuma di film ini kayaknya kita bisa mentertawakan kekurangan orang difabel tanpa merasa ada beban moral (coz they asked for it :D). Overall, film yang cukup menghibur (seisi auditorium sering banget ngakak) dengan diselingi beberapa adegan mengharukan. Eye opener juga buat mulai memperhatikan hak-hak kaum difabel yang masih termarjinalkan banget di Indonesia. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s