Top 7 Dangdut Songs of Mine

Sebenernya sudah lama berniat bikin post ala On The Spot TRANS|7 ini (tujuh blablabla terbaik, sepuluh blablabla terpopuler, sembilan belas blablabla teraneh, dsb.), namun baru terpantik niatnya setelah membaca ini. Awalnya berniat bikin daftar film-film terbaik versi saya, namun sepertinya ulasan seorang pecinta film kacangan yang cuma bermodal DVD-DVD bajakan dari ITC Kuningan dan donlotan file-file .mkv dari MediaFire kurang mumpuni untuk dijadikan panduan dan pedoman khalayak dunia maya. Jadinya lebih baik membuat daftar teratas untuk yang benar-benar dikuasai/diminati saja.

Dan kenapa dangdut? Masa kecil saya dihabiskan di sebuah kampung becek samping rel di pinggiran timur ibukota. Aroma marjinal terasa kuat disana, dan tak ada yang lebih identik dengan kehidupan kaum marjinal sub-urban Jakarta selain kecintaan mereka terhadap dangdut. Jika musik adalah bahasa universal, maka lagu-lagu yang berasal dari stasiun radio Muara, Elgangga, atau CBB adalah lingua franca masyarakat di sini (kecuali ada satu-dua tetangga dekat yang non-mainstream, playlist-nya didominasi lagu-lagu Iwan Fals dan slow rock Malaysia 90-an). Belum ditambah jika ada hajatan yang suguhan utamanya dapat dipastikan berupa pertunjukan orkes melayu (sebutan formal untuk grup dangdut).

Hidup dan besar bersama komunitas pecinta genre ini membuat saya merasa memiliki sense of dangdutness yang cukup baik (halah), makanya kadang suka kesel kalo ada acara kumpul-kumpul yang ada sesi dangdutannya, lagu yang dibawakan selalu Kopi Dangdut atau Terajana. Seolah-olah itulah mahakarya, magnum opus dari genre ini. Mentok-mentok lagu dangdut post-modern yang syairnya cuma berupa repetisi miskin makna macam Ayu Tingting, Trio Macan, dkk. Padahal itu tidak mewakili creme de la creme genre dangdut nasional. It’s not even the best dangdut songs of all time, yet the most representative to this whole genre. Itu bukan dangdut yang saya kenal ketika tumbuh, dimana orang bisa joget random free style tanpa pola sampe trance dan irama tidak didominasi oleh gendang koplo atau synthesizer. For me, Kopi Dangdut and Terajana are for posers, dan tujuh lagu berikut inilah yang menurut saya lebih representatif untuk mewakili genre dangdut ketimbang lagu-lagu mainstream bagi non-dangduters tadi:

1. Jaja Miharja – Cinta Sabun Mandi

Jaja Miharja dengan Kuis Dangdut TPI-nya adalah legenda musik dangdut Indonesia. “Cinta Sabun Mandi” adalah hal lain yang mengukuhkan status tersebut. Lirik “Kujual baju celana ~ Itu semua demi nyai ~ Aku kerja jadi kuli, demi nyai~~” itu ikonik banget, sama kayak penyebutan “Marilyn Monroe”-nya Jaja Miharja dalam lagu ini. “Walaupun Madonna cantik, Marilyn Monroe juga cantik, tetapi bagiku lebih cantik nyai~~”. Flirting dengan menggunakan komparasi dua ikon budaya pop dunia. Siapa bilang dangdut kampungan? :)

2. Elvy Sukaesih dan Mansyur S. – Gadis Atau Janda

Jika di ranah musik pop Indonesia ada Jangan Ada Dusta Diantara Kita-nya Broery Marantika & Dewi Yull, maka lagu ini adalah ekuivalennya di genre dangdut, setidaknya dari indikator frekuensi dibawakan dalam acara kawinan. Biasanya, duet pembawa lagu ini akan berimprovisasi dan berpanjang-panjang pas bagian dialog di sepertiga akhir lagu (dan tidak jarang diisi dialog yang mengarah ngeres :p) untuk kemudian ditutup dengan lantunan “Sesungguhnya diriku, oh memang sudah janda..” *penonton kecewa*

3. Manis Manja Group – Aduh Buyung

Manis Manja Group ini seperti Destiny’s Child-nya Indonesia, sama-sama gak keurus karena ditinggal solo para personilnya, namun cuma satu yang sukses. Disana Beyonce Knowles, dimari Ine Cinthya. Waktu kemunculannya, Manis Manja Group dengan Aduh Buyung-nya sekakan memperkokoh anggapan bahwa untuk sukses di kancah belantika dunia hiburan Indonesia pada waktu itu, harus mengusung sesuatu yang berbau Minangkabau. Ini karena single ini muncul tak lama setelah kesuksesan sinetron Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat di TVRI.

4. Asep Irama – Kembalikanlah Dia

Sebelum saya tau tentang Stevie Wonder, Asep Irama adalah objek untuk main kata-kataan yang menyangkut fisik paling favorit pada jamannya (maap ya kang Asep, maklum anak SD). Jadi dulu lawakan kayak ” Eh mau liburan ke Bali gak? Gratis loh, tapi supirnya Asep Irama..” sangat populer. Begitu juga dengan liriknya di dalam lagu ini yang gini nih: “Kalau memang dia telah matiiiiii, tunjukkan padakuuuu, dimana kuburnyaaaaaa…” *sambil nunjuk anak lain yang lagi jadi objek ledekan*

5. Rhoma Irama – Saleha

Mustahil membicarakan dangdut tanpa kehadiran sang raja. Lagu ini berkesan karena dulu film yang mempopulerkan lagu ini sangat sering diputer di layar tancep deket tempat saya tinggal. Jadi lagu ini memang OST dari film yang dibintangi oleh Ida Iasha dan Kak Rhoma. Ida Iasha di film ini digambarkan sempurna banget: udah cantiknya kebangetan, salehah lagi! (cuman ngomongnya di-dubbing, jadi rada gak singkron gerak bibir sama dialog) Mungkin kalo Kak Rhoma di dunia nyata bisa memperistri Ida Iasha, kebiasaan poligami dia udah ilang dari kapan tau. It’s fuckin’ Ida Iasha! *literally*

6. Mansyur S. – Zubaedah

Ada masanya ketika Mansyur S., Meggy Z., dan Imam S. Arifin layak diebut sebagai triumvirat musik dangdut nusantara. Lagu-lagu mereka silih berganti menduduki kasta tertinggi Top 40 dan menguasai airplay radio-radio dangdut papan atas. Zubaedah adalah salah satu lagu Mansyur S. yang bisa menggambarkan karakter lagu dangdut sejati: gombal, cheesy to the bone, tapi nempel terus di kuping karena cengkoknya yang khas. Tengok pas bagian ini “Percayalah sayang, aku masih bujangan. Langit dan bumi yang menjadi saksinya.” Dan lanjutannya: “Ku pantang berdusta, walau ada maunya, pacar pun tak punya, hanya dirimu saja”. Don Juan De Markum, indeed.

7. Evie Tamala – Rembulan Malam

Nah, kalo lagu Evie Tamala ini layak jadi representasi mayoritas lagu dangdut yang dinyanyikan oleh biduanita: suram, sendu, galau (before it was cool!), penuh harap dan penantian, dan terkadang bercerita tentang jeritan batin yang teraniaya (halah). Muka Evie Tamalanya juga mendukung lagi, sayu-sayu sendu gimana gitu. Mampu memberi jiwa pada lagu yang dibawakan.

Bagi kalangan penggemar dangdut sejati, tujuh lagu tadi termasuk mainstream banget, gak ada hipster-hipsternya acan. Tapi seenggaknya ini bisa memberi referensi bagi masyarakat awam kalo genre dangdut lebih dari sekadar Terajana atau Kopi Dangdut atau Iwak Peyek. and 90s songs still the best among all! :))

Advertisements

One thought on “Top 7 Dangdut Songs of Mine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s