Tentang Ubuntu

Bulan April lalu, Ubuntu ngeluarin versinya yang paling anyar: Ubuntu 12.04 Precise Pangolin. Ini adalah versi Long Time Support (LTS) terbaru ngegantiin Ubuntu 10.04 Lucid Lynx yang udah berumur dua tahun. Dua tahun kemarin itu juga, saya mengambil keputusan (bisa dibilang) nekat untuk menggunakan OS ini sepenuhnya (bukan dual-boot) di benda termahal yang pernah saya beli waktu itu: HP Mini Notebook 110.

Ubuntu, saat ini adalah distro Linux terpopuler, menjadi penghuni tunggal netbook sejak pertama kali dibeli. Waktu itu emang sengaja beli yang kosongan mengingat beda harga yang cukup jauh dengan yang sudah pre-installed Windows 7 Starter. Memang ada opsi untuk menginstal sendiri Windows secara ilegal a.k.a. bajakan, namun saya dari awal udah punya niat ngejadiin benda ini sebagai bahan eksperimen untuk menguji OS open source yang satu ini (beuuuh.. sok kaya :p). Lagipula, ini bukan untuk pertama kalinya saya membenamkan Ubuntu di komputer saya. Sebelumnya, Ubuntu 9.10 Karmic Koala telah berdampingan dengan rukun dengan WIndows XP di PC. Hanya saja karena dual boot jadi performanya gak maksimal sehingga muncullah pemikiran: kalo nanti beli netbook, harus instal Ubuntu doang. For the sake of memuaskan rasa penasaran. #halah 

Karmic

CD Ubuntu Karmic hasil pesen gratisan di ShipIt. Pertama kali dapet kiriman pos dari luar negeri! :D

Ubuntudesktop

Penampakan pertama Ubuntu 9.10 yang diinstal dual boot di PC busuk saya. Kurang dagdigdug karena cuma nginstal dari Wubi Installer. Suspensnya baru berasa pas nginstal Lucid di netbook.

Ubuntulucid

Disini drama baru terasa. Pertama harus buat bootable flashdrive dulu karena di netbook gak ada CD ROM drive. Trus sempat dibuat bingung dengan DOS command default netbook dan terpaksa ubek-ubek internet buat tau gimana proses instalasi Ubuntu 10.04 dari flashdrive from scratch.

Jujur, kalo bukan dari Twitter, saya mungkin gak pernah tahu tentang Ubuntu (dan Linux) sampe sekarang. Dulu pas kuliah pernah ke salah satu warnet di bilangan Margonda yang ternyata make Linux (waktu itu gak merhatiin distronya apa. heck, i don’t even know what is “linux distro” back then). Kesan pertama tentang Linux terbentuk di situ, dan kesannya negatif. Waktu itu saya mikir Linux itu cheap immitator-nya Microsoft mengingat tampilan antarmukanya yang hampir sama persis kayak Windows, cuma nama menu dan icon-iconnya aja yang dibedain. Pokoknya waktu itu kepikirannya yang make Linux pointless banget, karena ada alternatif arus utama berupa Windows yang lebih familiar, lebih mudah, dan sama-sama gratis (karena pake yang bajakan).

Nah, orang-orang pertama yang saya follow di Twitter-lah yang berhasil mengubah persepsi negatif itu. Yang saya inget, @hielmy dan @tuxer adalah dua orang yang sering mengunggah tampilan desktop Linux-nya masing-masing ke timeline, dan kebetulan dua-duanya pake Ubuntu. Mereka lumayan sukses meracuni saya dengan skrinsyut-skrinsyutnya yang menjungkirbalikkan pendapat awam kalo Linux itu gak user friendly dan tampilannya jelek. Karena penasaran akhirnya pesanlah satu CD Ubuntu 9.04 lewat layanan ShipIt (yang sekarang udah almarhum). Itung-itung iseng-iseng berhadiah karena toh gratisan. Begitu kiriman dari Breda telah nyampe langsung coba nginstal, and the rest is history.

Macbuntu
Macbuntuosxlion
Rhythmbox

Ada masanya ketika saya menyalahi kodrat Ubuntu sebagai distro Linux menjadi ke-Apple-Apple-an. Sempet pake theme Mac OS X segala biar mirip. Maklum, hasrat untuk memiliki paling tidak satu produk apel gerowak hingga kini masih belum terpenuhi. Istilahnya kasih modal tak sampai.

 

Why use Ubuntu?

Ini pertanyaan yang sering mampir ke telinga tiap kali ada orang baru yang ngeliat wujud netbook saya. Pertanyaan yang jawabannya gampang gampang susah. Alasan utama yang sering saya sampaikan adalah karena gak mampu beli Mac kebebasan yang ditawarkan Linux dibanding kalo saya jadi pengguna Windows. Kebebasan? Yang paling utama aja: bebas dari segala macem virus, you name it. Disini saya bebas gak harus nginstal SMADAV, sang antivirus sejuta umat yang suka ngeselin, atau antivirus-antivirus buatan bule lainnya. Gak ada rasa takut nyolokin flashdisk orang tanpa harus di-scan dulu. Virus komputer rata-rata emang dibuat untuk OS Windows, dan sampe sekarang belum ada (baca: sangat jarang) orang iseng yang bikin virus buat Linux. 

Itu versi saya. Di web resmi Ubuntu sendiri ada tujuh alasan kenapa harus nyoba dan make Ubuntu. Ini alasan-alasannya beserta tanggapan saya: 

1. Ubuntu is easy to use

Screenshot-4

Tanggapan: ya dan tidak. Ya karena hampir semua d
i Ubuntu sifatnya plug and play. Gak perlu ada driver-driver tambahan. Untuk konektivitas dengan perangkat-perangkat lain mayoritas udah working out of the box. Software Centre-nya juga ngebantu banget, sama kayak iTunes atau Google Play lah. Tidak karena mengingat Ubuntu itu open source, tidak semua ekstensi file langsung bisa dimainkan setelah fresh installation. Untuk ekstensi-ekstensi file berlisensi (seperti .MP3 dan beberapa file video, misalnya) harus ada tambahan instalasi codec-codec tertentu. Untuk pengguna baru ini bisa membuat frustrasi. Saran saya, kalo mau versi Linux yang udah tinggal langsung pake, lebih baik coba Linux Mint.

2. It’s easy to trial and install

Screenshot-5

Bener banget. Kalo untuk sekadar nyoba, bisa pake Live CD-nya dulu. Ini juga yang saya praktekin sebelum mutusin untuk menginstal. Instalasi pun, jika masih belum bisa melepas ketergantungan dari Windows, bisa dilakukan alongside existing OS. Kalo mau uninstal cukup via Control Panel terus Add/Remove Program. Sesederhana itu. Kalo mau full installation juga lebih gampang daripada instal Windows. Pilih yang opsi default aja, biar gak perlu ribet mikirin ukuran partisi dsb. *saran newbie amatiran, jangan diikuti*

3. It’s beautiful, stylish and fast

Screenshot-6

I have no objection whatsoever. Prove it yourself. It IS beautiful, stylish and fast. It’s so fast and flawless that sometimes make you hate working with WIndows. Oh, another thing: customization all the way! Make your desktop more stylish never been this easy.

4. Our thriving community

You’ll never walk alone. Di ubuntuforums.org ada terlalu banyak thread dan post yang bisa membantu apapun kendala yang dihadapi terkait OS ini. Saya sendiri banyak mendapat pengetahuan baru di sini. Dan gak sebatas disini aja, di forum-forum internet lain juga banyak thread untuk Linux users.

5. It’s free and open source

Ilmu dan pengetahuan itu (seharusnya) gratis. Daripada ngebajak OS jendela yang satu itu dan jadi pengguna ilegal, gak ada salahnya sesekali jadi pengguna OS yang legal (meskipun isi HDD saya tetep aja mayoritas dari hasil membajak sih…) Tapi terkadang yang gratis dan open source gak selalu lebih baik dari yang bayar. Untuk office application misalnya, saya lebih suka make MS Office ketimbang Open/Libre Office semata karena kompatibilitas ketika diedit di OS yang berbeda dan tampilan antarmuka yang kurang familiar. It’s free and open source, but take it at your own risk.

6. No viruses

No need for further explanation. 

7. It’s up-to-date

Ubuntu ngeluarin rilis versi terbarunya setiap 6 bulan sekali. Biasanya, di Update Manager selalu ada info tentang itu dan bisa langsung diupgrade. Selain upgrade versi enam-bulanan, setiap kali ada update-an untuk package dan aplikasi yang udah diinstal juga akan ada notifikasi mau di-upgrade atau nggak. Buat yang pernah pake Android tau lah kayak gimana, secara robot ijo juga berakar dari Linux. 

Masih kurang? Saya punya satu alasan pamungkas kenapa saya menggunakan Linux, terutama Ubuntu. Memakai Linux menuntut kita terus menerus belajar karena setiap hari kita akan menemukan hal baru trus ‘dipaksa’ merumuskan inti masalahnya dan mencari tau sendiri gimana solusinya. Linux secara tidak langsung telah membentuk sosok manusia pembelajar, gak terkondisikan untuk selalu taken for granted. Lagipula, using Windows is too mainstream…. it’s cool to be different you know. ;) 

 

Too poor to be a hipster ;)

Screenshot-3

Setelah sekian lama mengutak-atik, akhirnya tampilan desktop kembali lagi ke khittah-nya. Ternyata, menyalahi kodrat itu emang lama-lama aneh rasanya :p. (wallpaper by: simpledesktops.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s