EuroTrip (part 2)

Ini adalah lanjutan tulisan tentang EuroTrip bagian pertama yang sudah diposting beberapa waktu lalu. Ternyata mengumpulkan niat dan kemauan untuk mengetik itu memang susah banget… :) 

 

The Journey: Zurich

Setelah melewatkan dua setengah hari yang melelahkan di Belgia, kami pun bertolak ke Zurich untuk kemudian kembali ke Jakarta. Awalnya memang rencana di Zurich hanya untuk menunggu waktu transit (karena kami mengambil rute BRU-ZRH-CGK), namun karena waktu yang tersedia cukup lama, jadilah dimanfaatkan dengan melampiaskan hasrat berpelesir yang gagal terpenuhi selama di Brussels.

Kami tiba di Zurich pukul 22.30 malam waktu setempat. Sempat khawatir juga tidak mendapat kendaraan menuju hotel yang telah dipesan sebelumnya, berhubung kami hanya mengandalkan trem untuk menuju ke sana. Ternyata, kendaraan umum di Zurich beroperasi hingga pukul 12 malam dan saat kami menunggu di halte pun masih banyak orang disana: rata-rata kelihatannya sesama turis dengan koper dan ransel yang cukup besar. Selain tersedia di area halte, tiket trem juga tersedia di banyak lokasi seperti minimarket, hotel, atau tempat-tempat umum lainnya. Kami, misalnya, membeli tiket di Pusat Informasi Bandara, dan validasinya bisa dilakukan di semacam vending machine di area halte. Oiya, tiket ini gak menjadi syarat untuk bisa naik ke dalam trem dan di dalam trem sendiri gak ada petugas yang ngider untuk mengecek ada penumpang gelap atau nggak karena penduduk Zurich (atau Swiss secara umum) terkenal sangat jujur dan punya integritas tinggi. Jadi sebenarnya kalo punya niat jadi penumpang gelap di sini sangat mudah, cuma kalo ketauan ya dendanya cukup tinggi plus bikin malu bangsa dan negara juga.

2012-05-26_22

Tiket trem di Zurich seharga CHF 6.40 (atau kalo dirupiahin menjadi… Rp 62.000 aja dulu!). Sebenernya ini bisa berlaku untuk semua moda transportasi umum di hari yang sama (ferry, trem, bus) asalkan gak keluar dari zonanya, tapi karena cuma dipake buat single trip jadinya berasa mahal banget. Bentuknya simple, dari kertas karton. Mengingatkan pada karcis KRL Jabotabek jaman baheula yang bentuknya kayak kartu gaple.

Img_20120505_082711

Suasana dalam trem. Seperti lazimnya di negara-negara beradab lainnya, di setiap gerbong ada display tentang nama stasiun yang disinggahi dan estimasi waktu berapa lama sampai di tujuan akhir. Di stasiun sendiri ada informasi tentang waktu tibanya trem berikutnya disertai countdown timer. Jadi ketika trem sudah tiba tapi countdown masih nyisa 20 detik, pintu baru dibuka kalo angkanya udah menunjukkan 0. Presisi yang mengagumkan.

Img_20120504_0602152012-05-05_082012-05-05_08

Zurich di pagi hari dari balkon hotel. Kebetulan dapet hotel murah di Leonhardstrasse, cuman tinggal ngesot aja ke pusat kota dan stasiun utama. Di sampingnya ada satu gereja yang sebenarnya jadi salah satu atraksi wisata, tapi sayang gak sempet masuk dan liat-liat. Cuaca di Zurich lebih bersahabat daripada Brussels, pagi-pagi aja udah dapet 15 derajat dan siangnya matahari nongol dengan pedenya.

Img_20120504_085603

Duduk ngaso di depan stasiun utama sambil ngeliatin lalu lalang penduduk lokal. Di depan saya ada beberapa taksi mangkal, tapi kayaknya gak ada yang minat naik mengingat transportasi umumnya udah sangat handal. Supir taksinya rata-rata imigran, dari Asia Selatan dan Afrika. Yang persis di depan saya orang Yahudi Ortodoks yang nungguin penumpang sambil manggut-manggut baca Talmud/Torah. Trus kalo diperhatiin mobil yang digunakan sepertinya milik pribadi yang dialihfungsikan (soalnya gak seragam). 

Zurich_hb_9

Zurich Hauptbahnhof (Zurich HB) atau Zurich Main Station. Bentuknya mengingatkan pada Stasiun Beos karena sama-sama jadi ujung (jalurnya buntu) rel kereta untuk wilayah Zurich dan daerah Swiss lainnya. Selain kereta komuter jarak dekat (ke St. Gallen misalnya), Zurich HB juga jadi tempat mangkalnya kereta-kereta AKACAN (antar kota-antar canton-antar negara) *maksa*

Zurich adalah kota yang terkenal dengan danaunya, sebelas-dua belas dengan Jenewa. Bedanya, jika Jenewa terkesan terlalu formal karena disesaki oleh kantor pusat organisasi-organisasi internasional, Zurich lebih santai dengan statusnya sebagai kota universitas dan pusat jasa keuangan Swiss, terutama perusahaan asuransi seperti Winterthur dan… Zurich (sungguh pemilihan brand yang sangat kreatif!). Bedanya lagi, Jenewa itu penduduknya Francophonie, sedangkan Zurich hampir 100% Deutch sprechen. Saya belum pernah ke Jenewa, tapi saya yakin gak akan jauh beda dari Zurich dalam hal kemampuan kota tersebut untuk memanusiakan manusia, kota yang tidak menciptakan fenomena homo homini lupus, seperti layaknya *sigh* Jakarta.

Dscn0110
Dscn0113Dscn0111Dscn0112

Pemandangan sekitar kanal di kota Zurich yang bermuara ke danau. Siapapun yang bisa membuat Ciliwung jadi kayak gini, layak jadi Gubernur DKI seumur hidup.

City tour kami pilih sebagai sarana menikmati Zurich dari dekat. Meskipun menghalangi kebebasan untuk menjelajah sesuai keinginan sendiri, pilihan ini akhirnya diambil karena ketersediaan waktu yang terbatas dan demi alasan kepraktisan. Ada banyak opsi city tour di Zurich, namun pilihan akhinya jatuh ke sini karena salah satu jualan utama mereka: berkunjung ke Liechtenstein. Kami juga berkesempatan mengunjungi Rapperswil, kota tua satu jam perjalanan dari Zurich. Terletak di ujung Danau Zurich, Rapperswil berbentuk semi-pulau dan menjadi atraksi utama turisme karena tergolong salah satu pemukiman tertua di Swiss. Sebagai turis Melayu yang baik, tentunya kesempatan untuk mendalami sejarah tempat ini dilewatkan begitu saja dan digantikan sesi berfoto yang memakan memori SD card secara masif.

Dscn0126Dscn0127Dscn0129Dscn0138Dscn0140Dscn0141Dscn01442012-05-04_13

Rapperswil, the medieval city in pictures

 

The Journey: Vaduz

And here we are: Furstentum Liechtenstein. The Principality of Liechtenstein! Liechtenstein dan Swiss cuma dipisahkan oleh aliran Sungai Rheine dan perbatasan antara keduanya hanya ditandai dengan keberadaan bendera Swiss dan Liechtenstein di tengah-tengah jembatan. Gak ada pemeriksaan imigrasi di perbatasan dan mata uang yang digunakan juga masih franc Swiss (CHF). Liechtenstein, bersama Vatican, Monaco, San Marino, Andorra, dan Luksemburg menjadi negara-negara terkecil di Eropa yang keberadaannya masih awet sampe sekarang. Luas wilayah Liechtenstein cuma 160 km persegi, bandingin dengan luas Kotamadya Jakarta Timur sebesar 187,7 km persegi. Dari luas segitupun yang dihuni gak nyampe sepertiganya, sisanya adalah lanskap berupa pegunungan dengan salju abadi yang berbatasan dengan Austria.

Saya cukup familiar dengan Liechtenstein karena beberapa waktu belakangan ini lagi banyak disibukkan dengan EFTA, blok perdagangan bebas semacam Uni Eropa, yang beranggotakan Swiss, Norwegia, Islandia, dan tentunya, Liechtenstein. Liechtenstein sendiri merupakan negara berbentuk Principality, yang jika dibahasa Indonesiakan menjadi “Keharyapatihan”. Ini disebabkan karena negara ini dipimpin oleh keturunan dari seorang pangeran, sisa-sisa Knighthood abad pertengahan di Eropa, yang berkat kegigihan dan ke-solitaire-annya, berhasil menjaga wilayah kekuasaannya tetap berdaulat meskipun cuma berukuran mini. Liechtenstein sendiri, jika ukurannya adalah pendapatan per kapita, tergolong sangat makmur. Gak heran jika mengingat pendapatan negara dari sektor jasa yang besar berbanding dengan jumlah penduduk yang cuma seupil.

Wilayah Liechtenstein yang kami singgahi cuma ibukotanya: Vaduz. Vaduz terletak di sepanjang jalan utama selepas jembatan di atas Sungai Rheine yang menghubungkan Swiss dengan Liechtenstein. Saking kecilnya kota ini, semua tempat penting kayak gedung parlemen, kantor pos nasional, dan museum nasional semuanya bisa dijangkau cukup dengan berjalan kaki. Cuma kastil pangeran aja yang tempatnya agak nyempil, di perbukitan atas kota Vaduz.

2012-05-04_15

Beginilah pemandangan standar selama perjalanan menuju Liechtenstein. Seperti menatap wallpaper default Windows XP raksasa versi 3D.

Img_20120504_160706

Bukti sahih telah menjejakkan kaki di tanah Liechtenstein. Pihak Liechtenstein (Tourism Office-nya, bukan Immigration :D) memungut CHF 3 untuk setiap pengunjung yang mau dicap paspornya. Kalo kata guide-nya: “untuk sedekah buat si Pangeran” :)). Sempet beli kartu pos juga buat dikirim ke Jakarta, tapi sampe detik ini belum juga nyampe. Mungkin karena pake prangko yang paling murah.. :))

Img_20120504_161434

Kantong kresek belanjaan dari souvenir shop Vaduz. Enaknya dimari CHF, EUR, atau USD semua diterima. Agak terkejut juga karena disini penjaganya banyak yang bisa bahasa Indonesia, minimal “terima kasih”. Berkurang sedikit deh eksklusifitas singgah di sini, karena ternyata sebelumnya udah banyak orang Indo yang mampir dimari. Oh iya, karena dirasa lebih bisa mengapresiasi pencapaian singgah di Liechtenstein, rata-rata barang yang dibeli di sini diprioritaskan jadi oleh-oleh teman-teman sekantor. Jatuhnya jadi collectible items.. :)) 

Vaduz_castle_liechtenstein

Ni dia kastil si pangeran Liechtenstein yang nangkring di bukit tepat di atas pusat kota Vaduz. Kalo kata guide-nya, jika bendera sedang berkibar di depan kastil artinya sang pangeran lagi ada di dalem, begitu pun sebaliknya, dan kebetulan pas kami dateng lagi ada benderanya (gak ngaruh juga sih). Gambar ini diambil dari Google Images search karena pada saat itu batere hape dan kamera sama-sama sekarat.

 

Miscellaneous

Sebagai orang yang pernah tiga tahun berkecimpung di dunia telco, ini jadi kesempatan pertama saya untuk merasakan layanan provider GSM luar negeri yang konon lebih segala-galanya dari produk lokal. Di Belgia saya menggunakan Proximus dengan starter packnya seharga EUR 10 yang sudah berisi pulsa sebanyak nominal tersebut. Proximus sepertinya bukan penyedia layanan seluler nomor 1 di Belgia, namun saya cukup puas dengan layanannya. Karena kemudahan membaca instruksi di kemasannya, saya akhirnya bisa menggunakan paket data 25 MB yang dipotong EUR 3 dari pulsa. Kelemahannya cuma satu: tidak ada setting layanan data over the air (OTA), jadi terpaksa diatur manual dengan menggunakan jasa baik om Google.

Untuk di Swiss, saya sebenarnya bermaksud memilih Orange atau Swiss Telecom yang namanya familiar. Hanya saja, karena keberadaannya susah didapat, LycaMobile akhirnya menjadi pilihan pamungkas. Awalnya saya merasa skeptis karena dalam starter pack seharga CHF 10 ini hanya berisi promo telepon murah ke sejumlah negara dunia ketiga di Afrika dan Karibia (dan tampaknya itu daya saing utamanya). Akan tetapi, kekhawatiran itu sedikit terobati ketika medapat setting data OTA. Setidaknya gak harus diatur manual. Keanehan baru muncul ketika handheld tetap tidak bisa terhubung ke internet padahal pengaturannya sudah benar. Usut punya usut, ternyata internet baru bisa jalan kalo saya melakukan un-check di menu pengaturan “activate data package when roaming”. Agak aneh memang karena yang saya khawatirkan pulsa akan terpotong mengikuti tarif data roaming, namun kalo diinget kartunya hanya dipake sehari abis itu dibuang, internetan tetep jalan terus.

2012-05-04_22

Proximus dan LycaMobile, dua provider GSM yang saya gunakan selama perjalanan di Eropa. Gak pernah sekalipun dapet sinyal EDGE di sana. HSDPA nya pun beneran, bukan EDGE plus-plus

 

Demikianlah cerita dari seorang newbie yang baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang (itupun pake uang negara). Akhirul kalam…

I-dont-always-go-abroad-but-when-i-do-four-countries

Bragging rights: earned and executed. :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s