Membaca Pramoedya

 

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran,

 apalagi dalam perbuatan.”

 

Sebelum dicela, saya akan mengakui hal ini dulu: Ya, saya sangat telat. Ketika orang lain sudah mengkhatamkan Tetralogi Buru (atau bahkan mungkin berkali-kali) sejak bertahun-tahun lalu, saya baru sekarang ini berkesempatan membaca mahakarya Pramoedya Ananta Toer yang membuatnya berkali-kali dinominasikan menjadi peraih Nobel Sastra. Padahal beberapa dari buku ini dulu bertebaran dimana-mana: di kosan temen, di bazaar buku murah kampus, di toko2 buku sekitaran Kober (yang pastinya bajakan), dll., tapi entah kenapa dulu gak ada minat buat ngebaca, minjem, atau beli (hmm.. beli? i don’t think it’s an option back then… :p) 

Screenshot-6

I guess the second one :p

Persentuhan pertama saya dengan karya Pramoedya adalah buku pertama dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia. Belinya pun tanpa direncanakan, dibeli pas mampir di Gramedia Malioboro Mall. Mungkin aura Jogja sebagai kota pelajar berhasil menggerakkan hati saya untuk membeli buku ini. Bumi Manusia pun menjadi buku termahal yang pernah saya beli. Saya memang punya apresiasi yang rendah terhadap buku, meskipun pada dasarnya suka banget mbaca. Jadilah harga Rp 90.000 yang digunakan untuk menebus buku ini terasa sangat berlebihan untuk ambang batas harga wajar yang saya anut bagi sebuah buku (yaitu… gocap. #krik). Pembuktian kembali keabsahan Teori Relativitas Uang: di tempat lain (baca: mall dan tempat perayaan konsumerisme lainnya) uang 90 ribu bisa terasa sangat kurang, di toko buku terasa sangat berlebihan.

Pengorbanan itu terbayar tuntas. Saya yang sebelumnya mulai lupa tentang apa enaknya baca buku dalam bentuk fisik (bukan ebook berformat .pdf atau .epub) menjadi tersedot sedemikian rupa ke alam pikiran Bung Pram. Kemana saja saya selama ini??? Buku terakhir yang bisa membuat saya terlarut macam begini itu Rahasia Meede karya E.S. Ito, dan ia pun disebut-sebut orang sebagai “Pramoedya Baru”. Aneh juga waktu itu bisa-bisanya saya gak tergerak buat nyari karya Pram buat sekadar melakukan komparasi. Jika “Pramoedya Baru” aja bisa membuat saya terkesima, apalagi kalo Pramoedya beneran?

Ketekunan mengikuti kisah Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, dkk. membuat saya bisa mengkhatamkan Bumi Manusia dalam waktu kurang dari seminggu. Sebuah prestasi jika mengingat minimnya waktu yang tersedia untuk bisa membuka buku ini kecuali di dalam KRL sepulang kerja atau pas weekend. Sialnya, ketika hasrat untuk menyelesaikan tetralogi ini sampai tuntas masih menggebu-gebu, ternyata ketersediaan buku lanjutannya di toko buku mainstream sangat terbatas. Walhasil, solusi berupa pembelian online pun menjadi obat penawar yang cukup memuaskan. Meskipun ternyata harga paket Tetralogi Buru yang sudah di-bundling lebih murah daripada beli ketengan… *nasib*

Img_20120526_225251

Totally worth the price!

Pembacaan terhadap keempat karya Pramoedya yang lahir semasa kegetiran penahanan tanpa pengadilan di pulau Buru membuat saya berada di posisi yang sulit untuk menentukan mana karya terbaiknya. Awalnya, saya menempatkan Bumi Manusia di urutan teratas mengingat suspense yang dibangun, cerita yang mengalir tanpa putus, dan mungkin juga karena waktu itu belum ada perbandingan dengan tiga buku lainnya (fyi, saya membaca tetralogi ini secara linear, sesuai urutannya gak melompat-lompat). Namun, buku terakhir, Rumah Kaca, meninggalkan kesan yang serupa dengan kesan saya terhadap Bumi Manusia. Rumah Kaca menawarkan sudut pandang baru untuk melihat tiga rangkaian cerita sebelumnya, memiliki bahasa yang lebih sinis dan getir, serta menyuguhkan lebih banyak fakta sejarah yang bisa dirujuk ulang. It’s a close call between Bumi Manusia and Rumah Kaca , but i tend to rate the last a bit higher. Yang pasti, dari keempat buku ini, bisa dibilang yang agak membosankan cuma Jejak Langkah. Di samping menjadi yang paling tebal, Jejak Langkah juga lebih banyak berisi monolog pergumulan ide Minke yang membuat mata malas berlama-lama membaca. Untuk Anak Semua Bangsa ya bisa dibilang rata-rata air.. Nggak “meh”, tapi juga nggak “wow”.

Apa yang membuat Tetralogi Buru begitu memukau? Secara subjektif saya bisa berpendapat kalo Pram berbagi keresahan yang sama terhadap saya sebagai sesama orang Jawa yang muak dengan praktik-praktik feodalisme yang masih jamak terjadi di sekitar lingkungan. Saya bisa begitu mudahnya mengidentifikasi diri pada sosok Minke, sebagaimana Pram telah melakukannya terlebih dahulu. Kebencian Minke (yang notabene adalah seorang priyayi) atas praktik feodalisme priyayi Jawa yang kebangetan pada jamannya terangkum dalam fragmen di Bumi Manusia sebagai berikut:

Sungguh, teman-teman sekolah akan mentertawakan aku sekenyangnya melihat sandiwara bagai mana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang harus berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-nenek moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?           

  Atau ini:

Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang anthusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi ummat manusia. Dan entah berapa kali lagi aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah–pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.                                                             

Tetralogi Buru juga suatu karya yang sangat menggugah rasa nasionalisme yang gak klise. Nasionalisme yang dimiliki oleh para pendiri bangsa: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, dkk. Mengingatkan saya bahwa sesuatu yang awalnya terlihat utopis, jika diperjuangkan sungguh-sungguh niscaya akan berhasil, sebagaimana kemerdekaan Indonesia, atau lebih mendasar lagi, mampunya penduduk Hindia untuk memerintah diri sendiri, berdiri mandiri terlepas dari kuasa Kerajaan Belanda. Sebagai penggemar dan pemerhati sejarah kolonial juga rasanya sangat terpuaskan dengan deskripsi Pram atas suasana ko
ta-kota di Hindia Belanda pada saat itu. Misalnya yang paling saya inget di awal Jejak Langkah ketika Minke baru tiba di Batavia dan naik trem menuju STOVIA. Membuat saya teringat kembali lamunan setiap kali naik Kopaja P-20 dari Senen ke arah Kuningan yang melewati banyak situs-situs bersejarah zaman Hindia Belanda — dari Waterlooplein, Katholiekskerk, Willemskerk, Koningsplein, dst.

Alasan lainnya untuk menyukai buku ini adalah rasanya semua kalimat di buku-buku ini bisa dijadikan quote trus di +1-in, seperti beberapa yang dinukilkan di bawah ini:

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.” – Bumi Manusia

“Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusans etiap orang yang berpikir.” – Anak Semua Bangsa

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri” – Anak Semua Bangsa

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Anak Semua Bangsa

“Apa bisa diharapkan dari mereka yang hanya bercita-cita jadi pejabat negeri, sebagai apapun, yang hidupnya hanya penantian datangnya gaji?” – Jejak Langkah

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” – Rumah Kaca

“Seorang tanpa prinsip adalah sehina-hina orang manusia. Setengik-tengiknya.” – Rumah Kaca

Yang jadi pertanyaan saya sampe sekarang, dimanakah nilai-nilai Komunisme/Marxisme/Leninisme yang dituduhkan rezim Orba terhadap rangkaian buku ini sehingga dilarang beredar? Memang ada beberapa bagian yang menampilkan tentang Sneevliet dan Semaoen, tapi rasanya gak signifikan terhadap bangun cerita yang disusun. Dari awal membaca hingga tuntas pun gak ada sekalipun kalimat Pram yang secara spesifik menyebutkan kata-kata sakral tentang komunisme dan teman-temannya. Yang paling mendekati menurut saya cuma ini:

Sahaya hanya ingin jadi manusia bebas, tidak diperintah, tidak memerintah, Bunda. (Minke – Bumi Manusia)

Hmmm… “manusia bebas”, “tidak diperintah, tidak memerintah”… ini sih lebih deket ke Anarkisme, bukan sama rata-sama rasa-nya Komunisme… Tapi rada mirip juga sama konsepsi masyarakat tanpa kelas.. Mungkin Orba waktu itu ngelarang peredaran buku-buku ini karena merasa kegeeran, seolah-olah sosok Gubermen lalim yang diceritakan disini adalah mereka. Atau bisa juga buku-buku ini dikhawatirkan bisa memantik kesadaran rakyat untuk melawan ketidakadilan, membuat rakyat menjadi terbuka pikirannya dan berbalik melawan otoritas. Wallahualam bisshawab.

Jadi, adakah alasan untuk tidak membaca buku-buku ini? Tidak ada, dan akan lebih afdhol lagi jika dibeli. Selain bermanfaat menjadi jendela dunia, setelah selesai dibaca buku-buku ini cukup mumpuni untuk dijadikan bahan pajangan di rak buku guna menunjukkan intellectual snobbery di depan tamu *seperti yang juga akan saya lakukan hehe..*. Kalau untuk saya sendiri, paling tidak saya bisa mewariskan salah satu (atau salah empat?) karya sastra terbaik bangsa yang telah diakui dunia kepada anak cucu kelak. Mudah-mudahan mereka dapat lebih awal mengenal karya Pram ini daripada leluhurnya, sehingga pemahaman atas nilai kebangsaan dan perjuangan kebangkitan nasional dapat tertanam lebih dini.

 

Deposuit potentes de sede et exaltavat humiles. Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikkan mereka yang terhina.

Advertisements

2 thoughts on “Membaca Pramoedya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s