EuroTrip (part 1)

Salah satu keuntungan menjadi abdi negara di unit saya adalah besarnya kesempatan untuk melancong ke negeri seberang. Suatu keuntungan yang menjadi penyeimbang beban kerja yang oh-so-dreadful. Meskipun tidak sepenuhnya bersifat leisure trip karena proporsi kerja beneran vs senang-senang rata-rata masih berkisar di angka 70-30, tapi tetap saja naluri untuk beranjangsana melepas kepenatan dan devisa negara selalu menyala-nyala (bahkan terkadang menjadi yang utama).

Awal bulan ini saya akhirnya ketiban pulung. Kesempatan yang memang seharusnya sudah sah menjadi hak sejak terlepas dari satu tahun masa probation. Namun kesempatan itu datang begitu mendadak, dan juga menantang. Saya yang sebelumnya tidak pernah meninggalkan batas wilayah kedaulatan NKRI ternyata harus ikut dalam rombongan VVIP di kantor menempuh separuh jarak rotasi bumi menuju daratan benua biru: Eropa. Pertama, ini bukan sekadar ikut dalam artian nebeng trus do nothing. Ini kunjungan orang nomor wahid di kantor saya, dan kami (saya + dua orang bos) bertanggung jawab menyusun substansi pertemuan yang bakal diadakan di sana. We’re the main scapegoats if the mission turns into failure. Kedua, …it’s frikkin Europe! Kawan-kawan seangkatan yang sudah berkesempatan tugas ke LN rata-rata dapet negara-negara sekitaran ASEAN yang iklimnya masih bisa ditoleransi (dan juga gak jauh-jauh amat). Seketika terbayang sosok Melayu ini akan meringkuk kedinginan terpapar cuaca belahan utara bumi di akhir musim semi dan kelaparan karena perut akan jarang bertemu nasi dalam jangka waktu seminggu. To make it worse, saya bahkan belum punya paspor waktu itu dan dalam waktu kurang dari seminggu dituntut harus udah punya. Untungnya ada alternatif canggih bernama paspor biru yang bisa diurus begitu cepat (asal bayarannya tepat). Sangkuriang and Bandung Bondowoso must be jealous.

The Preparation

Entah kebetulan atau tidak, beberapa minggu sebelumnya saya baru saja menonton film Up In The Air. Dalam film ini, George Clooney memberi beberapa inspirasi tentang light (and smart) packing untuk perjalanan udara jarak jauh. Untuk perjalanan ke benua biru, semua orang di kantor berpesan kepada saya agar membawa koper yang berukuran rada gedean. Alasan utamanya tentu karena jenis pakaian yang berbeda daripada bepergian ke negara tropis sehingga butuh volume penyimpanan lebih besar. You know, stuff like longjohn, coat, vest,thick jacket, mantel bulu, etc. yang gak pernah ada dalam daftar pakaian yang saya punya (we’re in a tropical country anyway..). Alasan lainnya tentu saja untuk menampung oleh-oleh segambreng yang udah dipesenin jauh-jauh hari. Tapi, bisa jadi juga mereka berpesan seperti itu karena track record saya yang selalu cuma bermodal backpack setiap perjalanan dinas.. :D

Oke, sepertinya realistis. Saya memang mau gak mau harus pake koper yang rada gedean (menurut saya). Kalo George Clooney aja bisa, kenapa saya nggak? *komparasi yang ngawur* Mulailah menjelajah beberapa tips tentang smart packing lainnya di Youtube dan saya sampai pada satu titik kesimpulan: sebenernya gak perlu koper segede gaban kok. Kuncinya cuma pada pemanfaatan maksimal ruang kosong, cara melipat (lebih tepatnya: menggulung) yang benar, dan trik baju bertumpuk buat mengakali udara dingin. Keputusan yang membuat saya di-bully habis-habisan di kantor pas hari H karena bawaan saya ke Eropa gak jauh beda kayak (katanya) bawaan kalo mau ke Bogor. :))

The Flight (plus The Airports)

Setelah proses administrasi dan penyusunan bahan pertemuan yang ultra-melelahkan, tanah air pun kami tinggalkan dengan rute CGK-SIN-ZRH-BRU-ZRH-SIN-CGK. Maskapai yang digunakan adalah SQ dan LX. Ini pengalaman pertama saya naik maskapai asing dan tentunya akan menjadi pengalaman pertama menginjakkan kaki di bandara luar negeri. Ini juga akan menjadi kesempatan untuk menilai seberapa buruknya Soetta dibandingkan bandara-bandara lainnya. Kebetulan beberapa waktu belakangan saya sering mengunjungi Indonesia Skyscrapers Forum, dan banyak baca diskusi di sub forum infrastruktur transportasi massal jadi bisa membuktikan semua obrolan disana.

Terminal Keberangkatan 2D, yang baru pertama saya jejaki, buat saya gak jauh beda kayak 2F, sang terminal langganan. Secara pencahayaan, ruang check-in cukup memadai. Memberi kesan terang dan lega. Perjalanan ke ruang boarding pun masih didominasi warna merah bata yang suram kayak di 2F, bedanya di sini ada Lotte Duty Free dan lebih banyak kios penjual cenderamata Indonesia. Boarding room nyaris gak ada beda sama terminal domestik, cuma lebih banyak muka Kaukasoid aja. Begitu masuk pesawat, garbarata yang digunakan terkesan dekil dan agak rombeng.

Mata terbuka lebar ketika tiba di Changi untuk transit. Saya seperti Kabayan yang baru pertama kali masuk kota dan tiba-tiba jadi sangat mengerti dengan orang-orang Indonesia yang bersungut-sungut soal kondisi Soetta. Bandara di ibukota memang seharusnya jadi etalase sebuah negara, tempat pelancong membentuk persepsi dan ekspektasi terhadap negara yang akan mereka kunjungi, dan menurut saya, Soetta telah gagal untuk memenuhi hal tersebut. Gak usah ngomongin sistem transportasi massal terintegrasi dari pusat kota ke bandara dulu deh. Untuk yang lebih mikro kayak  perpindahan antar-terminal, SkyTrain sudah seharusnya jadi moda transportasi utama, seperti di Changi. Atmosfer bandara juga harus lebih cerah dan modern. Penumpang transit juga harus dimanja dengan kenyamanan ketika menunggu pesawat berikutnya. Secara visual, Changi memang sangat flawless. Nyaris tanpa cela. Oh wait, mungkin celanya cuma satu: dibilangnya sih free wifi, tapi kenyataannya mesti bayar atau jadi subscriber M1. #pret

Hal yang sama juga terjadi di Zurich Flughafen. Sama seperti di Changi, SkyTrain tanpa masinis yang cuma bergerak maju-mundur masih menjadi andalan untuk berpindah terminal. Bedanya, di sini dinding terowongannya dihias serentetan gambar-gambar tentang lanskap Swiss yang kalo diliat dalam kecepatan tinggi seperti film yang hidup *plus suara lenguhan sapi :))*. Persis kayak cara bikin film kartun jaman dulu.

Zurichskytrain

Suasana di SkyTrain Zurich Flughafen. Bangku yang cuma ada di ujung depan sama belakang ternyata bangku buat penyandang difabel sama orang jompo. Berhubung gak ada orangnya dan bawaan banyak, ya didudukin deh.. *pembelaan*

Zurich_airport

Bright, modern and comfortable. Zurich Flughafen buat saya akan terkenang sebagai bandara dengan eskalator paling curam (dan panjang)

2012-05-01_10

Iseng motoin pesawat LX yang baru landing dari ruang tunggu. Kalo gak salah di Zurich Flughafen juga ada paket tur untuk melihat operasional bandara dari dekat. Bisa diliat di kejauhan ada orang-orang yang berdiri di ‘balkon’ sambil berwisata. 

Gak jauh beda dengan apa yang saya liat di Brussels-Zaventem. Bandaranya sama-sama modern dan chrome-ish sih, but I still rate Zurich higher karena… gimana y
ah, rasanya tempatnya kurang intim buat pengunjung baru (halah!). Kesan di bandara ini gak banyak karena ini memang jadi destinasi akhir kami, bukan tempat transit kayak Changi atau Zurich. Mungkin yang sempet bikin saya terkesan adalah karena baru disini saya tau kalo Thomas Cook (yang sempet jadi sponsor utama Man. City) itu adalah nama maskapai penerbangan… :)

Tentang flight-nya sendiri, buat saya flight attendant Garuda masih jadi yang terbaik. Keunggulan pertama dari sisi seragam. Nothing can beat kebaya on slim bodies with kain batik and sanggul keong. Trus, entah karena emang satu budaya atau bukan, tapi pelayanan crew GA terasa lebih dekat ke hati (yaiyalah, bahasanya sama). Saya sih ngerasa kalo keramahan crew SQ itu artifisial (padahal mungkin semuanya juga gitu kali yak?). Hal lain yang bikin ganggu adalah logat Singlish-nya yang teramat medok tiap kali nawarin makan, yang selalu aja ada unsur ibabnya. “Do you want scrambled egg with bacon or roasted pork with potato, Sir? *pas bagian pork-nya selalu terucap po’ :))* Meskipun demikian, KrisWorld-nya tetep juara lah dibandingin sama GA… (penonton berseru: “ya iyalah!!!”)

Itu tentang SQ, kalo tentang LX lain lagi. Perjalanan dari ZRH ke BRU ditempuh dengan pesawat Fokker yang kira-kira sekelas dengan rute-rute yang dikuasai Merpati. Ingat Fokker, saya selalu teringat dengan Anthony Fokker, Belanda totok pendiri pabrikan pesawat ini yang numpang lahir di Blitar. Mengingatkan saya pada kisah Minke dkk. yang jadi bacaan selama perjalanan ke Eropah. Flight attendant di LX cuma satu dan makanan yang dikasih hanya sandwich pake roti baguette + drink + coklat murahan berlogo LX. Topping-nya sih daging, tapi gak tau daging apaan. Prinsipnya don’t ask, don’t tell. Yang penting baca bismillah. Sekiranya itu daging ibab, paling nggak saya bisa memberi kesaksian kalo benda haram itu emang enak hahahaha. Yang bikin unik lagi adalah co-pilotnya turut ngebantuin bagi-bagi makanan ke penumpang. Gak tau ini karena kurang sumber daya atau emang keramahan berlebihan. But so far, LX (or Swiss Int’l Airlines, if you wondering) is good.

The Journey: Bruxelles

Bisa dibilang, saya gak sempat merasakan Brussels. Karena padatnya jadwal, kami bahkan gak sempet ke Grand Place (Grote Markt) dan liat Manneken Pis. Kira-kira level dosanya sama kayak ke Jakarta tapi gak ke Monas atau ke Jogja tapi gak ke Malioboro. Kesempatan buat belanja merchandise Tintin dan Smurf pun lenyap. Namun setidaknya saya sempat berkunjung ke kantor Komisi Eropa dan mencicipi makanan khas Brussels yaitu fritters (yang tak lain tak bukan hanyalah seonggok gorengan belaka!). Oiya, disini baru kebukti kalo persepsi lidah Melayu sama lidah Eropa akan chilli sauce itu berbeda 180 derajat. Jadi waktu ditawarin chilli sauce sama yang jual, mata kami berbinar membayangkan gorengan kentang ini bisa dicocol saos pedes nan memerah, tapi ternyata yang datang lebih berupa mayonaise yang bertabur serpihan cabe kering… Oh well.

Fritters

Kios fritters paling laris di deket Hotel Sofitel, Place Jourdan. Gak sempet beli disana karena antriannya panjang banget. Mungkin karena murah, sekitar EUR 1 udah dapet serauk.

Img_20120502_163406

Sekretariat Jenderal PBB-nya orang-orang Eropa di Barlaymont. Kota Brussels sebenernya terletak di wilayah Flanders yang seharusnya mayoritas berbahasa Flemish (Belanda logat Flanders). Pada kenyataannya, ternyata lebih banyak yang pake bahasa Perancis buat percakapan sehari-hari.

Img_20120503_181036

Kincir angin tua di depan Sodehotel-Woluwe, hotel tempat kami bermalam yang berjarak gak jauh dari KBRI Brussels. Sayang gak sempet liat itu molen dari deket. Suhu di Brussels waktu itu 10-12 derajat celsius di tengah hari bolong (!), tergolong anomali untuk waktu yang sudah mendekati summer kata orang-orang sono.

Selain Brussels, kota Belgia lain yang dikunjungi adalah Brugge. Mungkin lebih tepatnya singgah sih karena tujuan utamanya ke Pelabuhan Zebrugge, sedikit di luar kota. Zeebrugge ini konon adalah pelabuhan laut tersibuk kedua di Eropa setelah Rotterdam, unggul tipis di atas Hamburg. Sebelum terkenal karena film In Bruges (yang ada Colin Farrel-nya), saya terlebih dahulu mengenal Brugge lewat klub bola mereka yang berkostum mirip Inter: Club Brugge. Mungkin Liverpool, yang sama-sama kota pelabuhan, mirip karakternya sama Brugge ini: banyak bangunan tua, berangin, dan banyak burung camar yang nyasar main sampai ke kota. Kunjungan sang bos besar ke Pelabuhan Zeebrugge sendiri dimaksudkan untuk menjajaki kerjasama agar wacana membangun Indonesian Hub di pelabuhan Eropa dapat terwujud. Jadi nantinya komoditas ekspor Indonesia bisa langsung dikapalkan di Eropa, tanpa transshipment di S’pore seperti yg elama ini terjadi misalnya, dan mendapat treatment processing dan pakaging di area pelabuhan biar jadi value added goods yang nilainya lebih tinggi di pasar Eropa. *wow materi kerjaan dibawa ke ranah blog*

Img_20120503_095507

The city of Brugge. Well, actually Zeebrugge. “Zee” means “Sea” in Flemish, so Zeebrugge = “Brugge at the sea”.

 

To be continued in part 2. *kalo sempet* 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s