Sunday Writing Assignment

 

Maksud hati ingin ngerjain tugas kantor di hari Minggu (ya, hari yang seharusnya menjadi hari yang tepat untuk plesiran + beranjangsana, memperbaiki kualitas hablum-minan-nass yang terampas selama lima hari ke belakang, atau untuk sekadar leyeh-leyeh menikmati penggalan waktu peninggalan almanak Romawi ketika mereka mendedikasikan hari untuk memuja dewa-dewi pagan) pagi nan mendung ini, apa daya distraksi internet terlalu kuat untuk dicegah. Distraksi yang memaksa saya melongok kembali blog yang terbengkalai ini karena ternyata ada yang baca (!) dan mengutarakan reaksi-untungnya positif-nya. *fuck_yea.jpg*

Ada masanya ketika saya pernah berniat nge-update blog minimal sekali dalam sebulan, tapi kemudian target itu menguap entah kemana seiring beban kerja yang semakin jijay bajay dan najis tralala (proud 90s kid!). Jadilah target itu dipenuhi dengan mencomot sana-sini hal-hal yang keren yang didapat dari internet untuk ditaro di blog. Jadi kayak Tumblr? Biarin lah, toh cepat atau lambat Posterous juga bakal tutup warung dan blog ini kemungkinan besar bakal migrasi ke sana.. (even though i’m not hipster enough to have a Tumblr :p)

Jadi, ada lagu dari Homicide berjudul “Puritan (Godblessed Fascists)” yang beberapa hari ini nyantol di kuping saya. Sebenernya baru minggu-minggu ini saya dengerin lagunya secara utuh, karena dulu-dulu cuma tau dalam bentuk quote yang bertebaran di linimasa ketika terjadi aksi kekerasan oleh, well, para fasis bertabir primordialisme kesukuan atau agama, misalnya “Persetan dengan surga sejak parameter pahala diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa” atau yang paling terkenal: “Fasis yang baik adalah fasis yang mati!“. Cadas? Awalnya saya juga mikir ini band hard core, tapi ternyata adalah grup (atau solo?) hiphop, genre yang selama ini kerap saya asosiasikan dengan segala hal hedonis. Begitu dibaca lirik keseluruhannya, barulah tersadar makna utuh dari lagunya. Very very explicit content (and brilliant as well). Biar lebih lengkap dikasih lagunya juga (buat didenger aja, kalo donlot jangan dimari yak… di 4hared aja :p). *bersiap menghadapi tuntutan copyright infringement*

Adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya:
“tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya”
pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta
supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma
persetan dengan Surga® sejak parameter pahala
diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa
kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa
target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala
karena aku adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah
selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah
melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola
penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera
para manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa
paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K
B-A-K-I-N tak pernah bubar,
mewujud dalam nafas kultural
persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar
partai bisa ular, belukar liberal
Gengis Khan mana yang coba definisikan moral
persetankan argumentasi membakar bara masalah
dengan kunci pembuka anti dialektika komprehensi satu bahasa
instruksi air raksa mereduksi puisi hingga level yang paling fatal
kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi
wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal
distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai

Untuk setiap kebenaran dan keagungan yang kau bela dengan dakwah dan membuat orang lain mati bersamamu. Untuk setiap ide yang kalian berangus atas nama surga yang kalian harapkan.

Aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar
dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar
jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral
sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal
batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah
menipiskan batas antara kotbah dengan gundukan sampah
jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah
lawan api dengan api dan biarkan semua rata dengan tanah
lubang tai sejarah, memang dunia adalah
kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak ludah
jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir
berikan bendera dan seragammu, kan kubakar sampai arang terakhir
sratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita
seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda
untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian
tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan
mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi
propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi
jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap
maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap

Fasis yang baik adalah fasis yang mati!
fasis yang baik adalah fasis yang mati!
fasis yang baik adalah fasis yang mati!

Tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami

Kultum dasamuka, dengan atau tanpa label agama, fasis tetaplah fasis

Apakah kita akan diam saja melihat polah iblis ini? Apakah kita akan diam saja menyaksikan mereka diam-diam menanamkan bibit-bibit fasis pada anak-anak kita? Kita harus memusnahkan mereka sampai ke akar-akarnya. Mereka itu hanyalah sampah masyarakat yang tak pernah layak untuk hidup di bumi Indonesia. Mereka hanyalah orang-orang yang tak pernah diberi izin untuk hidup oleh tuhannya dan hanya layak dilenyapkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s